Kilat penentu ialah persimpangan yang harus dipilih dengan menepis bayang ragu. Dalam detik itu segenap kesadaran dan raga bergerak dalam satu konklusi. Mengoyak persepsi dan mengambil risiko yang tersirat. Inilah masa intuisi berkata, napas berpacu, dan bibir ini membeku.

Cipta dan Sirna

By: Koyuki17

Boboiboy © Monsta Studio

Chapter 6: Limit

Kedua remaja putri yang baru saja datang ke rumah Boboiboy pun kontan terheran-heran ketika mendapati keadaan ruang tamu. Berhiaskan balon beraneka warna yang tertempel di dinding, ruang tamu telah disulap mirip dengan acara ulang tahun anak-anak. Fang dan Gopal yang duduk santai di kursi pun menyapa kedua gadis itu sekedarnya.

"Kalian ngapain sih? Lagi buat pesta sebelum misi?" tanya Ying dengan nada lelah.

"Anggap saja begitu lah…" tak mau ambil pusing, Fang pun menjawab dan kembali membaca majalah yang ada di tangannya.

"Boboiboy ada di mana ngomong-ngomong?" Yaya pun mengamati sekeliling ruangan namun nihil.

"Tuh di sana," telunjuk Gopal mengarah pada teman bertopi mereka yang sedang duduk di pojok dekat tangga.

".. meletus… balonnya…" terdengar sesekali Boboiboy menggumamkan kata-kata itu dengan wajah sangat terpukul.

Baik Yaya maupun Ying mengamati baik-baik lantai dan mendapati bekas-bekas balon pecah berserakan. Tak perlu bertanya lagi dan mereka langsung meyimpulkan, Keduanya langsung melirik kembali para tersangka yang sama-sama memalingkan muka dan melongos hendak kabur.

"Gopal, Fang, selasa minggu depan kalian harus membersihkan kelas!" ujar Yaya, tangannya dengan gesit mengeluarkan pulpen dan catatan mungil andalannya.

"Yaya, ini bukan di sekolah lah!" protes Gopal dan Fang bersamaan.

-CdS-

Tanpa terasa, petang terlanjur menyapa kelima remaja itu, yang masih setia menunggu kabar dari Ochobot. Jelaslah kelimanya gelisah, namun lama menanti membuat semangat mereka perlahan turun.

Tepat sebelum temaram menjemput, sebuah peringatan yang mereka tunggu itu akhirnya tiba. Sorot merah dari semua arloji menjadi pertanda distorsi telah terjadi, diikuti oleh sebuah pesan singkat dari Ochobot.

Distorsi terdeteksi. Lokasinya ada di dekat taman balai kota, sekitar 2 kilometer dari lokasi kalian. Semoga sukses.

.

.

.

Setelah menaiki bus, tibalah mereka di balai kota. Malam minggu membuat suasana di sana sangat ramai, baik oleh orang-orang yang masih ingin menikmati sisa waktu libur hingga larut malam. Banyak juga anak muda sebaya mereka, yang sekedar duduk-duduk, mengobrol, atau menikmati makanan dan minuman hangat dari pedagang kaki lima di sana.

Sebuah panggilan masuk dan suara Ochobot pun terdengar oleh kelima remaja itu begitu alat komunikasi mereka dipasang.

"Portalnya sangat dekat dengan posisi kalian sekarang,"ujar Ochobot "Dua Pelahap ingatan keluar dari portal tak lama sebelum kalian sampai. Mereka bergerak sangat cepat menjauhi portal. Cepat temukan portalnya. Semoga kalian berhasil!"

Tanpa sadar, perut Gopal malah berkeriut karena aroma makanan. Segera saja remaja itu mengelus perutnya dan memberikan tatapan 'boleh makan dulu?'.

"Kita ke sini bukan piknik, jadi kondisikan itu perutmu!" Boboiboy menarik jaket Gopal tanpa kompromi. Ketiga teman mereka telah berpencar untuk mencari portal.

"Di sini! Portal Matranya ada di sini!" Yaya pun melambaikan tangan setelah ia mencermati patung kuda yang terletak di sudut taman.

Sebuah portal berwujud pusaran hitam itu nyaris setinggi satu meter, membuatnya tersamar dalam bayangan patung dan tidak disadari oleh orang-orang di sana. Jika lima orang remaja berkumpul di sana dan menghilang bersamaan entah ke mana, tentunya orang-orang akan curiga. Setelah memastikan tak ada orang yang lewat, mereka masuk secara bergantian.

Pergantian antara suasana temaram di dunia nyata dan suasana siang di dalam Matra membuat remaja-remaja itu mengerjap. Setelah terbiasa dengan cahaya di sana, dimensi yang mereka masuki membuat mereka terkejut. Sebuah musik khas bernada riang bergema ke seluruh penjuru tempat itu.

"Taman hiburan?! Keren lah!"

Siapa lagi kalau bukan Boboiboy dan Gopal tentunya yang bersorak kegirangan barusan. Dengan mata berbinar, dua sahabat dekat itu berlari dan melihat-lihat wahana apa saja yang ada di sana. Ada bianglala, komedi putar, roller coaster, dan masih banyak lagi.

"Wiih, ayo kita main sepuasnya!" seru Gopal.

"Kalian bahkan sudah lupa misi!" Ying menepuk jidatnya.

"Lagian tempat ini sepi, nggak ada yang mengoperasikan wahananya juga," komentar Fang.

Seketika semangat Boboiboy maupun Gopal surut mendengar komentar yang ada benarnya juga. Dibandingkan taman hiburan yang ramai, tak ada seorang pun di sini. Tak ada satu wahana pun yang berjalan, hingga tak aneh jika tempat ini menyerupai taman hiburan yang ditinggalkan. Awan kelabu yang menghalangi cahaya matahari turut melengkapi.

"Sudah, ayo cari pilarnya!" akhirnya Yaya ikut menimpali.

KRAKK!

Segera saja semua orang di sana melirik ke arah sumber suara, yaitu sebuah terowongan berbentuk kepala badut. Terowongan seram itu berada dalam salah satu puncak lintasan roller coaster, membuatnya menjadi sulit diraih. Pilar bersama retakan matra jelas berasal dari atas sana.

"Di sana ya," gumam Ying sambil menelan ludah.

"Kalian awasi portal, kita akan masuk ke dalam pilar!" ujar Boboiboy sembari mulai berlalri ke arah portal itu.

"Oke!"

Lalu mereka pun kembali berpecah menjadi dua regu seperti pada simulasi. Sebelum Boboiboy dan Fang memasuki portal menuju pilar (setelah mereka menggunakan elang bayang Fang untuk naik), sebuah suara membuat mereka menyimak sekilas. Pengeras suara di taman itu hidup dan menyampaikan pengumuman ke seluruh penjuru taman bermain.

"Para pengunjung sekalian. Taman hiburan akan tutup dalam sepuluh menit. Silakan-"

"SEPULUH MENIT?!" semua langsung memprotes karena batas waktu yang di luar perkiraan mereka.

Ini akan menjadi misi yang lebih keras dari simulasi tempo hari.

-CdS-

Boboiboy tercengang setelah elang bayang milik Fang membawa mereka masuk ke dalam pilar pertama di Matra. Ia awalnya mengira bahwa di dalam pilar, mereka akan menemukan tempat yang berbeda seperti simulasi tempo hari. Alih-alih demikian, bagian taman hiburan masih dikenali dalam pilar itu.

Sebuah lintasan roller coaster terbentang di sana, jauh lebih panjang dan lebih tinggi dari yang tadi mereka lihat. Tak nampak wahana lain, namun terdapat petak-petak granit besar dengan penanda huruf dan angka yang berjarak cukup renggang. Menjadi pijakan-pijakan sementara permukaan tanah berjarak sekitar empat hingga dua meter di bawah sana.

"Cuacanya buruk sekali," komentar Fang. Elang bayang miliknya berusaha untuk tetap terbang dengan stabil di tengah terpaan angin kencang.

Awan berwarna kelabu pekat menggulung-gulung di angkasa, mengisyaratkan badai akan segera datang. Melihat percikan-percikan cahaya diantara awan-awan itu, Boboiboy mulai menebak bahaya yang akan datang. Kilat di angkasa, siapa yang tak gentar jika menghadapinya tanpa atap untuk berlindung?

"Fang, bagaimana kalau kita turun?" dan tepat setelah pertanyaan itu terlontar, kilat cahaya membelah langit. Suara petir yang lantang nyaris menulikan telinga kedua remaja itu, yang berada cukup tinggi di atas punggung elang bayang.

Tanpa membuang waktu, Fang membuat elang bayang menukik turun. Keduanya pun memilih untuk mendarat tepat di atas lintasan roller coaster yang rendah. Baru saja keduanya turun dan mengawasi sekeliling untuk mencari Nukleus Matra, kilat cahaya turun dan nyaris menghantam kedua remaja itu.

"LOMPAT!"

Baik Fang maupun Boboiboy langsung melompat turun menuju satu petak granit yang ada di bawah lintasan. Keduanya lantas melirik kembali tempat mereka berpijak barusan, yang kini berwarna legam karena tersambar petir. Mereka menelan ludah, tak akan mudah mencari Nukleus sementara sambaran petir mengancam mereka dari angkasa.

.

.

.

Di luar pilar, tiga remaja itu mendapat peringatan dari Ochobot tentang Pelahap ingatan yang semakin mendekat. Yaya dan Ying telah bersiap dan menunggu sosok yang akan kembali lewat portal. Gopal berdiri agak ke belakang dari temannya, berusaha untuk tidak menjadi sasaran empuk bagi lawan mereka itu.

"Ying!" seru Yaya sebagai sebuah isyarat, tepat ketika dua bayangan melompat secepat kilat dari portal.

"Perlahankan Masa!"

Pergerakan kedua pelahap ingatan pun terjegal dalam kekuatan Ying. Mereka yang semula melesat seperti kini hanya diam di tempat. Tanpa membuang kesempatan itu, Yaya pun maju, melancarkan pukulan kerasnya. Dalam waktu satu menit, sosok berjubah yang terkapar di atas tanah mulai menghilang.

"Waktu regenerasi pelahap ingatan dua menit! Kalian jangan sampai lengah!" Ochobot mengingatkan.

"Ying, fokus saja menghentikan mereka. Biar aku dan Gopal yang menyerang!" tutur Yaya.

"Oke," sahut Ying sembari mengacungkan jempol.

"Ikut nonton saja boleh?" celetuk Gopal. Lalu lirikan penuh amarah membuatnya menggumam minta maaf.

Dengan menggunakan strategi sederhana itu, ketiga remaja itu mencoba meredam serangan kedua. Ying menguras banyak tenaganya dan mulai meneteskan peluh. Dua pelahap ingatan itu tak berkutik dalam pengaruh kekuatan Ying, dan Yaya sontak menyerang keduanya dengan pukulan gravitasi super beratnya itu.

Kedua musuh mereka terhempas cukup jauh hingga menjebol dinding sebuah kios makanan. Namun alih-alih menghilang seperti barusan, satu dari dua musuh mereka itu malah bangkit dan mengambil ancang-ancang. Tangan kurus panjang itu mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya.

"Mereka belum kalah lah!"

Yaya pun segera terbang melesat ke arah lawan, pukulannya mengarah telak pada sosok berjubah itu. Namun kedua tangan itu lebih gesit dan menyilangkan dua buah pisau pendek dan meredam pukulan Yaya. Membuat sang gadis terpukul mundur dan kehilangan momentum untuk menyerang.

"Yaya, AWAS!" teriak Ying.

"Tukaran makanan!"

Dua pisau pendek yang dilemparkan ke arah Yaya pun seketika berubah menjadi cokelat batang. Nyaris saja serangan itu mengenainya.

"Tendangan laju!" tepat saat musuh mereka lengah, Ying maju ke depan dan menendang satu Pelahap ingatan yang tersisa.

Kini sosok berjubah itu pun lenyap, menandakan keberhasilan mereka menahan serangan untuk kali kedua.

"Terima kasih Gopal."

"Tidak ada masalah! Se-" ucapan Gopal terpenggal oleh pekikan Yaya ketika sang gadis melirik ke belakangnya.

"Tunggu, portalnya akan menutup lah!" pekik Yaya tepat ketika matanya melirik ke arah portal masuk.

"Boboiboy, Fang, cepat kembali!" dalam sambungan komunikasi mereka, Ying berseru lantang.

Pengumuman di taman bermain Matra itu kembali berkumandang, menunjukkan hanya beberapa saat sebelum taman itu ditutup. Walaupun belum ada Nukleus di tangan, mereka harus cepat-cepat keluar atau mereka akan terjebak di sana.

-CdS-

Kelima remaja itu memutuskan untuk mengisi perut mereka sebelum distorsi kembali terjadi. Malam semakin pekat, dan suasana malah semakin ramai. Dengan memakai berapapun uang yang terbawa di saku, mereka bisa membeli beberapa makanan untuk sekedar mengganjal perut.

Tepat ketika Gopal hendak mengambil satu suapan besar, arloji kembali berpendar merah. Dengan sigap, semua orang (kecuali Gopal) menyelesaikan suapan makanan atau meneguk habis minuman lalu mulai bangkit dari kursi panjang tempat mereka duduk.

"Belum habis juga lah! Lima menit lagi," Gopal yang baru saja memesan porsi kedua nasi gorengnya pun memprotes.

"Keburu habis lah waktu kita! Ayo!" Fang pun menyeret kawannya yang satu itu.

Pada kesempatan kedua, Boboiboy dan Fang menyadari kembali petak-petak granit hitam yang memiliki simbol berbeda dan berwarna keemasan. Mereka sempat mencermatinya sebelum elang bayang berhenti terbang memutari lintasan dan mulai menukik turun.

"Hmm, pastilah simbol-simbol itu petunjuknya," gumam Fang, lalu ia melirik rivalnya itu. "Mau ke mana kau hei?!"

"Kalau kita lihat dari atas lagi, mungkin simbol-simbol itu adalah petunjuk bukan?" cetus Boboiboy.

"Terlalu berbahaya lah!"

Namun Boboiboy tak menggubris ujaran Fang dan melompat naik ke lintasan wahana itu. Baru saja ia mengambil tiga langkah ke depan, satu kilat besar membelah angkasa kembali. Serabut cahaya terarah pada Boboiboy, yang saat itu sedang kurang awas karena titian di lintasan. Namun lesatan cahaya itu meleset sekitar setengah meter dan menyambar tanah. Gemuruh pun menulikan kedua remaja itu untuk sesaat.

"Ha…hampir saja…" Boboiboy berusaha untuk tidak jatuh terjungkal kendati seluruh tubuhnya lemas.

"Kan sudah kubilang apa!" teriak Fang marah.

Setelah insiden itu, petir semakin menjadi dan membuat mereka kerepotan untuk menghindar. Sekali cahaya itu meluncur dari awan kelabu, maka mereka langsung melompat ke petak granit yang lain. Retakan Matra di pilar itu nyaris tak terlihat karena petir-petir yang menyerupainya.

"Mundur! Waktunya habis!" seruan Yaya membuat kedua menghentikan pencarian Nukleus itu.

"Iya, iya. Kalian keluar saja duluan!" balas Fang sambil berdecak kesal. "Elang bayang!"

Fang pun melompat pada punggung elang bayangnya, diikuti oleh Boboiboy. Mereka harus menelan kembali pil pahit dan segera keluar dari Matra. Waktu yang terbatas merintangi mereka untuk menemukan petunjuk di mana Nukleus berada. Terlebih retakan Matra yang tersamar dalam langit yang dipenuhi oleh ganasnya petir.

.

.

.

Di kesempatan ketiga

Ying mulai kehabisan tenaga, hingga ia hanya bisa menahan musuh selama lima detik. Yaya dibantu dengan Gopal berusaha mengalahkan Pelahap ingatan di tengah gerakan mereka yang semakin tidak terhentikan. Gopal berulangkali mengubah lontaran pisau-pisau itu menjadi makanan ringan. Sementara Yaya semakin kewalahan mengimbangi musuh yang kelihatan semakin kebal terhadap serangannya.

"Graviti pemberat!"

Sang gadis berkerudung pink itu segera menggantikan posisi Ying dan menghambat gerakan musuh. Lalu dengan tenaga yang tersisa, Ying kembali melancarkan tendangan mautnya dan mengakhiri satu lagi babak pertarungan mereka.

"Akhirnya kalah juga mereka," ujar Gopal sambil mengelus dada.

"Ya, tapi kita nampaknya nggak bisa berlama-lama dengan misi ini." Yaya memandangi sektor Matra itu, yang kini semakin berubah.

Di dalam Matra, taman hiburan itu menunjukkan perubahan yang membuat ketiganya merinding. Tempat yang semula sangat sepi tanpa ada tanda-tanda kehidupan itu tiba-tiba semarak dengan kembali nyalanya lampu-lampu warna-warni yang berkedip. Beberapa wahana bahkan mulai bergerak sendiri. Namun yang paling merisaukan mereka adalah retakan Matra yang semakin hebat di sana, seolah dimensi itu sebentar lagi akan hancur berkeping-keping.

Suara pengumuman tutupnya taman hiburan disambut helaan napas dari ketiganya. "Kita mundur lagi kalau begitu," ucap Ying.

Senang tak senang, mereka harus menunggu kesempatan yang lain.

.

.

.

"Aku ingin tahu pendapat kalian soal petunjuk yang ada di pilar sana."

Segera setelah mereka berkumpul kembali di kursi panjang taman, Fang mengajak keempat orang itu untuk merundingkan sesuatu.

Fang menuliskan simbol-simbol yang ada pada batu granit itu dalam secarik kertas. Mereka mengamati semua simbol acak mulai dari huruf alfabet, angka, hingga huruf lain seperti aksara yunani yang mereka temukan dalam pelajaran fisika dan matematika.

"Aku bahkan cuma ingat huruf a, y, g dan alfa," komentar Boboiboy. Ia tak begitu fokus dengan simbol-simbol itu dan bersikeras mencari pertanda Nukleus.

"Kalau ini beneran kode, aku menyerah!" ujar Fang, yang notabene cukup cakap dalam pelajaran.

"Kalian kan jago yang ada rumus-rumusnya kan di sekolah? Pastilah ada petunjuk apa gitu," celetuk Gopal sambil melirik Yaya dan Ying. Kedua gadis itu tengah mengerutkan kening sejak melihat aksara-aksara acak itu.

"Jangan samakan ini dengan pelajaran dong!" ujar Ying dengan nada ketus.

"Tapi kalau tidak salah nggak ada rumus yang seperti ini," Yaya mencoba mengingat tapi ia tak bisa menangkap rumus yang bisa menjadi petunjuk.

"Kalau menurutmu bagaimana Ochobot?" tanya Boboiboy dengan penuh harap.

"Hmm.. aku mencoba menganalisa beberapa huruf itu. Tapi mereka sangat acak dan tak membentuk satu kata bermakna sekalipun." Ochobot bahkan berkata demikian.

"Jadi, tak ada petunjuk…?"

.

.

.

Di kesempatan keempat

Boboiboy merasa mereka tetap menjumpai jalan buntu. Ia memandangi serabut-serabut kilat yang tanpa henti menjalari langit dan menghantam lintasan tanpa ampun. Beberapa kilat kini bahkan menyambar petak-petak granit. Tak ada tempat aman lagi bagi mereka.

Sepuluh menit bergulir seolah secepat dengan kedipan mata. Dan kembali, mereka harus mundur dan memikirkan kembali strategi dan petunjuk apa saja yang berhasil mereka temukan setiap kali masuk ke sana.

"Apakah tidak ada tanda-tanda sama sekali?"

"Kita harus cepat menyelesaikan misi. Semakin lama kondisi Matra semakin parah. Bahkan lawan pun semakin kuat." Ying bergumam sambil tetap duduk bersandar. Suaranya terdengar agak serak.

"Setidaknya, situasi nggak bisa lebih buruk dari ini bukan?" ucap Gopal.

"Hush! Jangan bilang begitu lah Gopal!" tukas Yaya.

Pemuda bertopi itu memandangi semua kawannya itu, semburat rasa kecewa segera memenuhi lubuk hatinya. Mengalahkan semua peluh sejak ia keluar masuk pilar Matra sekalipun. Ying dan Yaya terlihat paling kelelahan, mereka pastilah terus mengerahkan kekuatan dan nyaris sampai pada batasnya. Dan misi ini sangat tergantung pada dirinya.

Lamunan Boboiboy sayangnya terputus karena ponselnya berdering. "Tok, ada apa menelpon?"

"Ini, atok sekarang-" sahutan Tok Aba terpotong karena bising yang tiba-tiba menginterupsi percakapan telepon itu.

Suara musik keras di belakang membuat Boboiboy terlonjak. Tak berselang lama di jalanan depan lewatlah pawai kendaraan yang ribut, berikut nyala klakson yang nyaring. Boboiboy lupa menutup telepon, membuat sang atok mendengar semua hal barusan.

"Boboiboy! Atok tahu kamu sedang main di luar ya sekarang?" walau tak ada nada menyentak, anak itu tahu bahwa atoknya pastilah marah.

"Ma.. maaf tok," gumam Boboiboy.

"Kita ada tugas kelompok…. buat mewawancarai komunitas yang ada di alun-alun kota Tok!" Gopal merebut ponsel Boboiboy dan menjawab demikian.

"Ya wawancaranya pas pagi atau siang, jangan malam," tukas sang atok.

"Tapi tok… mmm.. komunitas yang mau kami wawancarai jadwal kumpulnya malam." Boboiboy menambahkan seadanya.

"Komunitas apa itu?" terdengar nada ragu dari balik telepon. "Pokoknya sekarang kalian pulang! Nggak ada tapi-tapi."

"Baiklah tok." Boboiboy kini mencoba mengalihkan topik karena terdengar pula suara ribut di balik telepon. "Atok sekarang ada di jalan juga? Kok ramai seperti di sini."

"Teman atok ternyata pergi ke rumah anaknya di kota, jadi atok sekarang pulang naik bis. Jangan sampai kalian masih keluyuran saat atok datang nanti."

Panggilan itu pun berakhir setelah sang atok memberi salam, Keringat dingin mulai mengucur dan mereka saling berpandangan. Mereka harus menyelesaikan misi mereka secepat mungkin.

-CdS-

"Kalian harus tetap fokus. Nukleus pasti ada di sana." Ochobot berupaya menyemangati mereka lewat saluran komunikasi mereka.

"Ck, gimana bisa fokus ke Nukleus kalau petir itu terus mengganggu," sahut Fang sambil cemberut.

Celetukan Fang membuat Boboiboy terdiam dan berpikir. Mereka tak bisa menentukan posisi Nukleus karena selalu terdistraksi oleh sambaran petir yang tak berhenti mengincar mereka. Tapi selama ini, mereka terus menghindari petir itu. Walau ia nyaris tersambar petir, tapi arah petir itu tiba-tiba membelok dengan cepat kalau ia ingat-ingat lagi.

Apa mungkin?

.

.

.

Yaya merasa ada yang aneh dengan salah satu Pelahap ingatan yang mereka hadapi saat ini. Satu sosok berjubah itu kembali menyerang mereka, tapi satu temannya itu hanya berdiri mematung di sana. Tapi sang gadis tetap menyerang dan mendekati musuh bersenjata itu. Ying telah kehabisan tenaga barusan dan ia harus menyelesaikan ronde ini dengan cepat.

"Tumbukan padu!"

Mengeluarkan hampir seluruh tenaganya, pukulan sang gadis bisa melontarkan satu musuh mereka sebelum sempat menyabetkan benda tajam miliknya itu. Yaya hendak menerukan serangan sebelum sebuah lingkaran hitam melingkupi tanah di mana ia dan musuhnya itu berada.

Seketika Yaya dan satu musuh itu menghilang ditelan oleh lingkaran itu.

"YAYA!"

"Itu kekuatan teleportasi!" seru sang robot kuning dengan panik. "Sekarang Yaya ada di dunia kalian!"

"Apa?! Tapi di sana…"

Mereka tak bisa mengeluarkan kekuatan dari arloji.

"Yaya, apa kau mendengarku? Yaya!" Ochobot kini semakin panik dan berupaya menjangkau sang gadis.

Yaya berusaha untuk tetap menjaga jarak dengan sosok Pelahap ingatan itu. Tapi semakin lama ia mengelak, maka semakin cepat sosok itu bergerak. Ia tak punya banyak tenaga tersisa, dan kekuatannya tak keluar sama sekali. Sang gadis berusaha mengelak dan berlari ke arah kiri, namun gerakannya itu terbaca. Sosok berjubah itu bergerak ke arah yang sama.

"Siapapun… tolong…!" walau pelan, suara Yaya yang tercekat membuat semua yang ada di sana berharap bisa membantu Yaya.

"Yaya! Cepatlah lari!" tak ada yang bisa diperbuat ketika mereka berada jauh dari sang gadis berkerudung itu.

Yaya merasakan bayangan kelam dan uluran tangan itu semakin dekat untuk menangkapnya. Sang gadis hampir saja memasrahkan diri jika ingatannya akan diambil.

Dalam sepersekian detik itu, Boboiboy memikirkan sebuah taruhan gila. Kedua iris hazel itu melebar, jantungnya berdegup kencang. Tanpa pikir panjang, Boboiboy melompat menuju lintasan roller coaster. Ia berlari sekuat tenaga mencapai puncak lintasan di antara gemuruh petir.

"BOBOIBOY!" teriakan Fang nyaris membuat semua orang yang terhubung dalam satu komunikasi itu tuli.

"Astaga, ada apa Fa-?!"

Bunyi yang sangat keras dan menyerupai ledakan nyaris memutus komunikasi yang ada. Meninggalkan semua orang selain Fang dan Boboiboy dalam sebuah tanda tanya besar. Apakah mereka gagal? Apakah sesuatu yang buruk terjadi pada nama yang tadi diserukan lantang?

Sebelum imajinasi semua orang merambah semakin liar, sambungan komunikasi kembali normal. Segera saja suara Ochobot terdengar untuk memastikan situasi. "Fang, Boboiboy! Apa yang terjadi di dalam sana?!"

"… si bodoh itu," dengan napas yang berat oleh amarah, suara Fang yang gemetar itu sama sekali tak menjelaskan apapun soal Boboiboy.

"Yaya, cepat kembali ke rumahku! Kalau atok sudah datang, coba tahan dulu sampai kita kembali!"

Suara Boboiboy yang kembali masuk ke jalur komunikasi mereka membuat hampir semua orang terkejut sedetik lalu menghela napas lega di satu detik berikutnya. Gopal dan Ying menyadari waktu yang berhenti setelah mengamati sekeliling mereka dengan teliti. Keduanya saling berpandangan sebelum akhirnya melompat kegirangan. Misi pertama mereka telah berhasil!

Hanya Fang yang bisa mengetahui apa yang terjadi dan membuat jantungnya nyaris copot barusan. Sejak satu sambaran petir yang dahsyat itu menghantam dan membutakan mata, membuat remaja berkacamata itu menahan napas sejenak. Di bagian lintasan roller coaster yang mencuat paling tinggi itu, Boboiboy berdiri sambil mengacungkan satu tangannya. Dalam genggaman tangan pemuda itu, kilatan bola kuning berisikan Nukleus pertama telah berhasil diamankan.

-CdS-

Yang diketahui Yaya adalah Pelahap Ingatan yang membawanya ke dunia nyata pun berhenti bergerak lalu hilang. Seketika lutut sang gadis lemas dan jatuh ke tanah, perlahan ia mengembuskan napas panjang setelah lama ditahannya. Lalu sang gadis lekas berlari menuju rumah Boboiboy, yang untungnya tidak terlalu jauh dari posisinya sekarang.

Apa arti teriakan Fang barusan? Bahkan komunikasi mereka sempat terputus setelah itu. Jujur saja Yaya masih cemas soal keempat temannya. Sebelum sang gadis berkerudung itu sampai, ia berpapasan dengan Tok Aba tepat di depan gerbang. Seketika wajah Yaya sedikit memucat, tak tahu harus berkata apa.

"Yaya, kenapa kau ada di luar? Yang lain dimana?" Tanya Tok Aba dengan tak sabarnya.

Suara gaduh dari lantai kedua membuat kedua orang itu melirik jendela kamar Boboiboy di atas. Boboiboy pastilah membuka portal ke kamarnya. Bisa dibayangkan kekalutan mereka untuk keluar dari portal setelah pertarungan mereka di Matra barusan.

'Kami sudah di kamar Yaya!' bisik Boboiboy lewat handsfree.

Seketika Yaya menarik napas lega diam-diam sebelum terseyum manis seperti biasanya dan menjawab pertanyaan sang atok. "Semuanya ada di atas tok, setelah atok menelpon kami bergegas pulang!"

"Kenapa mereka gaduh begitu?!" Tok Aba berlari masuk ke dalam, wajahnya menunjukkan waswas jikalau langit-langit rumahnya jebol karena suara keras barusan.

Namun ketika sang atok membuka pintu kamar Boboiboy, yang didapatinya ialah para remaja yang tengah duduk melingkar di atas karpet. Fang nampak menyibukkan diri dengan mencatat asal di buku tulis, Ying, Gopal, dan Boboiboy membuka-buka buku dan berusaha terlihat seperti sedang berdiskusi. Melihat sang Atok, Boboiboy lekas berdiri dan menyambut sang kakek dengan raut wajah cemas.

"Tok, maaf tadi kita keluar," tutur Boboiboy dengan nada bersalah. "Atok nggak marah kan sekarang?"

"Atok sebenarnya nggak akan marah kalau kalian bilang dulu," ujar Tok Aba meluruskan. "Lain kali jangan begitu ya?"

"Baik tok," sambil menunduk canggung, kelima remaja itu mengiyakan.

"Tapi tugas kalian sudah selesai?"

"Sudah tok! Ini kami lanjut belajar bersama lagi," ujar Ying sambil menujukkan buku paket matematika milik Boboiboy di tangannya.

"Kalau begitu, belajarnya jangan sampai terlalu larut." Itulah pesan yang meluncur dari mulut Tok Aba, yang disambut oleh embusan napas lega kelima remaja itu.

Baru saja Tok Aba beranjak tiga langkah dan hendak membuka pintu, ia membalikkan badan. Seketika kelima remaja itu kembali kaku, menahan napas dan menunggu apapun sabda sang atok.

"Gopal," panggil Tok Aba serius.

"A.. ada apa tok?!" Gopal terperanjat begitu namanya dipanggil.

"Bukumu terbalik" Tok Aba menutup pintu, terdengar suara langkah kaki yang menuruni tangga.

Kelima remaja itu menelan ludah, jelas sudah Tok Aba mencurigai mereka. Setelah susah-susah mereka pulang lewat portal yang tersambung ke pintu lemari kamar Boboiboy yang cukup sempit itu. Akan sulit jika mereka mencari alasan ketika mengalami situasi seperti ini lagi nanti.

"Oiya, tadi gimana ceritanya sampai kalian berhasil, Boboiboy?" setelah keadaan aman kembali, Ying membuka percakapan.

"Aku sudah mengira bakal tertangkap tadi…" Yaya mengelus dadanya.

Boboiboy pun menyeka keringat yang sedari tadi membanjiri dahinya lalu menyahut, "tadi aku-"

Fang pun menyetop mulut sang rival bersama sebuah seruan keras. "KAU CARI MATI HAH?!"

"Eh…?" Yaya dan Ying langsung terkejut sekaligus kebingungan.

"Habisnya, aku penasaran kenapa petirnya nggak pernah mengenai kita! Jadi-" perkataan Boboiboy sayangnya harus terpotong kembali.

"Terus kau melompat dan naik ke atas lintasan tanpa pikir panjang untuk disambar gledek? Logis sekali!" tangan Fang mengguncang Boboiboy sebanyak emosi yang ditumpahkannya saat itu juga. "Aku nggak percaya orang sepertimu yang jadi Poros!"

Boboiboy tak tinggal diam, diraihnya pergelangan tangan Fang lalu ia kembali berdalih. "Apa boleh buat, Yaya posisinya dalam bahaya!"

"Berisik! Sekali lagi kau barbar seperti itu, aku akan paksa Ochobot untuk tukar posisi!"

"Yang tadi darurat! Dan aku ujung-ujungnya bisa mendapatkan Nukleusnya kan?" Lalu keduanya larut dalam adu argumen klasik mereka. Ketiga teman mereka hanya menyimak dan menyadari sesuatu.

'Syukurlah, Fang ternyata begitu…' pikir Yaya dan Ying sembari tersenyum memaklumi.

'Pffft… ujung-ujungnya dia peduli juga' Gopal sementara itu berusaha untuk menahan tawanya.

-CdS-

"Jadi, apa yang harus kita lakukan dengan benda itu?"

Hanya ada Boboiboy, Gopal, dan Fang di kamar itu. Lampu kamar dimatikan, namun mereka masih tak bisa terlelap. Jangankan mengantuk, mereka bahkan masih mencoba meredakan adrenalin yang masih belum sirna selepas misi pertama mereka usai. Entah apa jadinya jika mereka terlambat menuntaskan misi barusan.

"Ochobot belum kasih tahu, apa kita harus ke Matra? Ochobot sama sekali nggak bisa dihubungi soalnya." Boboiboy pun sama kebingungannya.

"Dan menunggu sampai besok? Aku penasaran lah!" protes Gopal.

"Ck, yang harus kau lakukan hanya membuka kunci dan memasangkannya." Fang akhirnya buka suara dengan nada gemas.

"Maksudnya semuanya? Nggak kekecilan apa?" timpal Boboiboy dengan sarkas.

"Bukan yang itu lah! Tapi chip yang ada di dalamnya." Fang meluruskan. "Kau tinggal memasukkannya ke arloji."

"Dan kuncinya ada di mana?"

"Noh, di sini."

Fang menunjukkan sebuah bagian bola yang memiliki warna yang lebih pudar. Jari Boboiboy segera menyentuhnya dan telunjuknya pun menekan sebuah tombol rahasia. Bola berwarna kuning jernih itu mulai mengeluarkan bunyi gemeletak, atau seperti roda-roda bergigi yang berputar secara beruntun. Bola itu terbelah menjadi tujuh kepingan dan salah satunya menjadi tempat melekatnya chip. Jemari Boboiboy segera mencomot chip berwarna merah itu dan memandanginya dengan tidak percaya.

"Tunggu apa lagi? Pasang lah!" seru Gopal.

Tangan Boboiboy sedikit tremor ketika ia memasukkan chip itu pada salah satu selot yang ada pada arlojinya. Setelah terdengar bunyi klik, arloji Boboiboy memproyeksikan layar-layar mungil dengan deretan huruf dan angka yang tak ia pahami. Lalu Boboiboy pun panik karena cahaya benderang membutakan mereka dan menghapus kegelapan kamar.

Seiring pendar cahaya itu meredup, Boboiboy merasa bahwa suara kedua temannya itu semakin menjauh. Ia tak bisa mengindrai lagi suasana kamar di sekitarnya. Udara yang dihirupnya begitu hangat, namun embus angin segera meredamnya. Kini ia berada di sebuah ruangan asing yang nyaris kosong. Temaram mulai bisa dipilah oleh kedua matanya.

"Ini... di mana?!" teriaknya dengan panik.

Remaja bertopi jingga itu tak mengenali sebuah ruangan yang dijejaki oleh kedua kakinya. Sebuah ruangan yang nyaris kosong, hanya ada sebuah sofa merah yang hanya muat diduduki satu orang. Tembok yang ada di sebrang sofa itu jebol pada sudut atasnya, memunculkan penggalan angkasa yang dipenuhi oleh gemintang.

Siluet seseorang ditangkap oleh ekor mata Boboiboy. Seorang pemuda yang persis seperti dirinya tengah berdiri dan bersandar di tembok. Kedua tangannya disilangkan sebagai isyarat bahwa ia telah lama menunggu. Sorot matanya begitu tajam, raut wajahnya begitu serius.

"Akhirnya kau datang juga," ucap sosok itu.

"Kau…?"

"Aneh sekali jika kau belum pernah bertemu dengan salah satu dari 'kami'. Tak kecuali tempat ini, seharusnya kau tahu."

"Aku rasa aku pernah ke sini, tapi aku nggak yakin." Mimpi yang dulu dilihatnya perlahan menyeruak bersama sirat deja vu. Namun lama Boboiboy melamun hanya mampu memanggil bayang-bayang tipis.

Sepasang iris rubi itu menatapnya dengan ekspresi datar dan ia lanjut berucap. "Masa soal begini pun malah bingung? Kau yang membuatnya sendiri. Sepetak Matra milikmu sendiri."

"Matra yang aku buat?! Memangnya aku pernah ke tempat ini ya?" Boboiboy pun menopang dagu.

"Memangnya kau bisa memunculkan sebuah tempat yang bahkan belum pernah kau pikirkan?"

Boboiboy menggelengkan kepalanya. Namun ia tak mendapat pencerahan atas tempat yang kini disimpanginya itu. Tak ditemukannya makna dari ruangan yang sebagian besar dindingnya itu hancur. Walau langit di luar sana tak salah lagi adalah sebuah pemandangan yang paling disukai olehnya lebih dari apapun.

"Supaya lebih cepat lagi, langsung saja ya."

Gurat-gurat kilat merah muncul mengikis temaram, disusul oleh gemuruh yang merengkuh keduanya dalam geraman lantangnya. Tangan itu terulur pada Boboiboy, lalu ia akhirnya memperlihatkan senyuman yang cukup bersahabat. Boboiboy meragu, langkahnya sempat terjegal sebelum akhirnya mengambil satu langkah ke belakang.

"Apa kau takut? Setelah menghadapi yang besar itu sekalipun?"

Boboiboy menyadari helaan napas dari lawan bicaranya, dan ia mengumpulkan semua nyalinya untuk menyambut uluran tangan itu. Ketika kulit mereka bertemu, sensasi rasa kesemutan mulai menjalar dari telapak tangannya. Lalu kilat-kilat merah semakin banyak dan menginterupsi lebih lama lagi. Percikan kilat kini mulai tenang, tak lagi menggurat-gurat dengan acak namun mulai menyelubungi keduanya.

"Kau bisa menyebutku Halilintar." Bibir itu akhirnya memunculkan sebuah senyuman tipis. "Aku bagian dari dirimu, menandai pilar pertama yang kau rebut dan elemental petir yang kau genapkan."

Seketika atensi pemuda itu beralih pada arlojinya, di mana sebuah simbol petir berwarna merah itu pun muncul.

.

.

Berlanjut pada chapter 7: Desir

A/N:

Akhirnya satu lagi chapter rampung, terima kasih sudah mampir~

Terima kasih juga untuk review dari kak Valkyrie Ai (yang selalu semangat melebihi saya yang menulis. Mohon sabar ya kak, poin-poin itu nanti pun akan diungkapkan), juga tak lupa dari Kak Moguri-san.

Saya jadi penasaran, kira-kira berapa di sini yang juga membaca Einn atau Proved me Wrong. Terima kasih bagi yang telah membaca dan mereview karya saya yang lain :)

Karena bulan Mei akan berakhir, maka saya harus kembali ke rutinitas seperti biasa. Liburan telah selesai :')

Chapter selanjutnya kemungkinan membutuhkan waktu lebih lama, jadi mohon dimaklumi m(_ _)m. Tapi akan saya usahakan tetap ada chapter baru setiap bulannya.

Akhir kata, sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya ^^