Tanpa kusadari, persona yang kumiliki terpencar menuju penjuru yang berlainan. Satu waktu serupa cuaca cerah. Terpampang senyuman lebarku, menyapa siapa saja. Di lain waktu serupa kelabu yang pecah belah. Tidakkah kau lihat amarah yang sebentar lagi membuncah?

Cipta dan Sirna

By: Koyuki17

Boboiboy © Monsta Studio

Chapter 9: Pemecah

"Jadi, barusan ada apa?"

Masih dengan sodet dalam genggaman tangan kanan, Tok Aba berdiri di ambang pintu kamar cucunya. Dengan tatapan tajam dan rahang yang mengeras, ia menuntut sebuah penerangan atas kegaduhan barusan. Mengantisipasi situasi ini, Taufan yang membukakan pintu segera memulai aktingnya.

"Tok! Tadi itu, ya," Taufan mulai bertutur dengan suara heboh. "Tiba-tiba ada tikus. Gede banget!"

"Tikus?"

"Iya! Baru aja aku bangun, dia lompat ke kasur!" suara Taufan begitu lantang dan antusias. "Aku kaget sampai jatuh tadi!"

Di dalam lemari, Halilintar menampar kening dengan gemas. Intuisinya benar barusan. Seharusnya ia saja yang keluar tadi, bukan si idiot ini. Lalu, jangan bilang kalau ia disamakan dengan hewan pengerat itu!

"Lalu, tikusnya ke mana sekarang?" masih dengan kening berkerut, Tok Aba lanjut bertanya.

"Tikusnya aku tangkap," Taufan memperagakan seolah ia menangkap hewan pengerat yang kurang lebih sebesar kepalan tangan. "Terus kulempar ke luar jendela, wuuus! Pokonya sekarang sudah aman!"

Kita yang nggak aman, bego!

Tangan kanan Tok Aba pun menyentuh kening Taufan, mengecek suhu lewat reseptor panas di telapak tangan.

Tok Aba menggaruk belakang lehernya. "Kepalamu nggak terbentur keras tadi?"

"Tenang, kepalaku kan tahan banting, Tok!" Taufan berdalih asal sembari membusungkan dada.

Ada jeda sunyi sebelum Tok Aba menggelengkan kepala dan berbalik menuju pintu. "Cepat mandi sana! sarapan sudah siap di bawah."

"Siap, Tok!"

Pintu kembali tertutup dan Taufan beranjak ke depan lemari baju. Dari dalam, sepasang bola mata rubi menatapnya tajam. Ingin Halilintar berteriak, tapi ia hanya bisa menyentak sambil setengah berbisik. "Apa-apaan tingkahmu barusan, hah?!"

"Tapi hasilnya, aman kan? Siapa dulu dong~" Taufan cengar-cengir sambil meraih satu setel seragam tepat di samping Halilintar. "Whoa!"

Taufan menghindar dari sergapan Halilintar. Ia lantas mendorong Halilintar. Mencegah elemental petir itu meyembul dari tirai-tirai baju dan melayangkan tinju ke wajahnya.

"Sabar dong Hali! kau tinggal tunggu sampai Tok Aba pergi ke kedai, kan?" ucap Taufan enteng. "Kalau kau keluar sekarang, habislah kita!"

"Tsk! Awas kau, ya!" walau masih belum meluapkan amarahnya, Halilintar terpaksa mundur lagi dan duduk di sudut lemari.

"Sore nanti, pokoknya kita ketemu lagi di sekolah~" tersenyum lebar, Taufan pun menepuk bahu Halilintar.

.

.

.

Senandung riang Taufan mengiringi setiap langkah kaki yang menuruni undak tangga kayu. Dengan gestur santai dan tanpa bebannya, pemuda itu mendekati meja makan. Disandarkanlah tas dan skateboard kesayangan yang barusan dijinjing pada kaki meja.

"Kau mau bawa itu ke sekolah? Tumben." Menyodorkan piring, Tok Aba pun berkomentar.

"Daripada jadi pajangan di kamar, mending Boboiboy bawa!" Taufan segera mengambil satu telur dadar ke piring dan mulai melahapnya dengan cepat.

"Asalkan jangan kau mainkan nanti di kelas." Tok Aba menyeruput kopi, tak ambil pusing.

Tak ada lagi percakapan antara kakek dan cucu di meja makan selama beberapa menit. Taufan fokus pada makanan di piring, melahapnya sampai tandas. Tok Aba memulai kebiasaannya membaca koran.

"Oiya, atok ke kedai jam berapa?" seusai meneguk habis susu cokelatnya, Taufan iseng bertanya.

"Lah, kan kemarin atok bilang hari ini kedai tutup." Tok Aba mengangkat sebelah alisnya. "Memang pelupa ya, cucu atok ini."

"Hehehe, maaf Tok." Taufan pun mengambil tas dan skateboard dengan tergesa sebelum berlari ke arah pintu. "Boboiboy berangkat dulu!"

Terus gimana nih?

Taufan tak ingin membayangkan rupa Halilintar saat mereka bisa bertemu sore nanti.

Tapi, yah. Nanti Hali bisa menanganinya lah~

-CdS-

Keseharian yang semakin padat mulai membuat Fang berangkat sekolah lebih lambat dari biasanya. Seusai misi, tubuh remaja itu seolah dihantam badak. Remuk dengan otot-otot yang menjerit saat bangun tidur. Pagi ini sekalipun, Fang setengah menyeret tubuhnya di antara rombongan siswa yang berjalan menuju gerbang sekolah.

"Hoaaaaam, pagi Fang!"

Sapaan pemuda bertubuh gempal di samping nyaris membuat Fang terlonjak. Bola mata kemerahan itu melirik sumber suara barusan. Keningnya tertaut, masih belum terbiasa bahwa ada orang yang mengajaknya bicara di sekolah.

"Apa sih? Setidaknya balas sapaanku, kek!" Gopal berkomentar pedas, bibirnya cemberut.

"Oh, pagi." Fang menyapa setengah hati, lantas ia membuang muka.

Gopal hanya memutar bola mata, bosan melihat tingkah satu orang yang sulit bersahabat ini. Namun kerumunan di lapangan sekolah segera menarik perhatian keduanya. Hal yang tidak biasa ketika pagi hari tanpa event apapun. Sorak sorai bercampur kasak-kusuk menyambut kedua orang yang segera melebur dalam kerumunan, masih dengan tatapan keheranan.

"Wah, keren lah!"

"Memangnya sejak kapan sekolah kita ada ekskul skateboard, ya?"

Mendengar sekilas percakapan itu, Gopal maupun Fang saling bertatapan seolah memastikan sesuatu. Tak banyak siswa sekolah mereka yang memiliki skateboard. Mendesak barisan siswa, keduanya akhirnya berada pada barisan terdepan.

"Ah, kalian baru datang rupanya." Ying menyapa dua pemuda itu. Tangan sang gadis bersedekap dada. "Coba lihat kawan kalian, tuh!"

Di hadapan mereka, sahabat bertopi jingga mereka tengah asyik melakukan trik-trik skateboard. Ada dua orang lain yang ikut bermain, seolah tak ingin kalah dalam adu kemampuan memainkan papan itu. Sorak sorai semakin menjadi saat satu lagi trik disuguhkan, dan Boboiboy tersenyum semakin lebar. Tangannya melambai pada penonton.

"Hebat sekali kau, bro!" salah satu siswa yang bermain skateboard merangkul bahu pemuda bertopi itu selayaknya teman akrab.

"Tentu dong, mau kuajari triknya?" Boboiboy Taufan balas merangkul bahu teman barunya itu. Cengiran lebar menghiasi wajahnya.

Sepasang manik mata safir hanya bisa dilihat ketiga orang itu. Sosok di sana bukanlah sekadar Boboiboy, tapi elemental baru yang menjadi pusat perhatian nyaris seisi sekolah.

"Harusnya dia nggak bertindak semencolok ini," Fang menampar dahi.

"Kamu nggak mau kalah dalam hal menonjol, itu alasanmu bukan?" celetuk Ying sambil menyipitkan mata.

"Boboiboy!" Gopal berteriak lantang, tak mau kalah. "Jangan bilang kau melupakan kawan baikmu ini, dey!"

Kerumunan itu hanya bertahan sampai bel sekolah berbunyi. Yaya bersama anggota OSIS lantas membubarkan kerumunan siswa. Terheran-heran dengan manik mata Boboiboy, Yaya pun melirik para pejuang Matra yang berkumpul lengkap di sana. Ya, babak kedua integrasi Boboiboy telah dimulai.

.

.

.

Unjuk gigi di depan seisi sekolah rupanya belum memuaskan elemental baru Boboiboy itu. Sepanjang kelas, ia kembali membuat ulah. Sikap Boboiboy yang satu ini terbilang ceria dari hobi cengar cengir. Hal yang kontan membuat beberapa pasang mata tertuju padanya dengan tatapan penuh selidik.

Seorang gadis berkuncir ekor kuda di sebelah Boboiboy sempat melirik pemuda itu. Tahu dirinya sedang diamati, Boboiboy justru membalas pandangan itu. Kedua mata mereka bertemu, dan Boboiboy langsung menebar senyumannya sambil melambaikan tangan. Yang mendapat salam pun buru-buru membuang muka, kuping yang dipulas merah padam cukup menjelaskan salah paham atas keisengan barusan.

'Dih, kenapa malah disenyumin balik!'

'Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini?'

'Tolong diam dan jangan bertingkah aneh-aneh, apa susahnya?!'

Pemandangan ini tentunya mendapat sorotan dari keempat remaja itu. Kalau saja sekarang tidak ada guru yang sedang mengoceh di depan kelas. Mereka mungkin sudah menghambur dan menyeret kawan mereka. Sebelum salah paham ini membengkak menjadi satu drama kelas. Atau teman mereka akan dicap berkepribadian ganda.

Setelah menunggu dengan tak sabar, jam istirahat yang ditunggu pun akhirnya tiba.

Remaja putri yang diisengi Boboiboy mencoba menyapa dengan malu-malu. "Anu..." terbata-bata, ia mencoba menatap lawan bicaranya itu. "Boboi-"

Namun Gopal dan Ying bergerak cepat dan langsung menyeret Boboiboy. "Boboiboy! Kau tadi dipanggil, tuh!" seru Ying.

"Sama siapa tadi tuh, yang bareng main di lapangan loh!" Gopal pun berimprovisasi. "Kenalkan juga ke sahabat baikmu ini, dong!"

"Mungkin lain kali, ya." Yaya tersenyum dan mengangguk pelan, lalu mengekori teman-temannya.

Jika mencari tempat yang tak banyak dilalui oleh warga sekolah, para remaja itu secara otomatis akan melangkah ke koridor lantai empat sekolah. Tempat di mana mereka menemukan pintu menuju Matra.

"Jadi, kau ini elemental baru, kan?" Fang membuka percakapan, bersandar di tembok dengan gaya bersedekap dada seperti biasanya.

"Yup!" sang elemental baru itu menyahut.

"Kekuatan elemental barumu apa, Boboiboy?" Gopal bertanya dengan semangat.

"Angin! Dan kalian bisa memanggilku Taufan!" Kedua manik mata safir itu begitu cemerlang, seiring dengan wataknya yang periang.

"Taufan, ya. Hmmm... Baiklah."

Agak aneh memanggil kawan lama mereka dengan sebutan bermacam-macam. Mungkin lama-lama mereka akan terbiasa. Apalagi Boboiboy akan memiliki tujuh elemental yang berarti tujuh nama yang berbeda-beda sepaket dengan perangai yang berlainan pula.

"Lalu, Tok Aba menyadari tingkah norakmu itu?" tanya Fang dengan nada sarkasnya.

"Harusnya nggak sih..." kening Taufan sedikit berkerut, mencoba mengingat-ingat sesuatu. "Semoga Hali juga nggak ketahuan dan bisa menyusul ke sini!"

"Halilintar...? maksudmu elemental pertama?!" Kebingungan, Yaya menautkan alis.

"Iya dong! Aku penasaran dia sedang apa yaaaa~" Taufan tertawa-tawa.

.

.

.

"Huatchi!"

Walau sudah menempelkan tangan di mulut, serangan gatal di hidung Halilintar berujung bersin yang tak teredam. Gebrakan pintu kamar yang dibuka seketika membuat jantung Halilintar copot. Bagai tikus terjepit, ia tak bisa bergerak ke mana pun. Tak habis akal, ia memungut seprai berwarna gelap dan menyelimuti tubuhnya dengan kalap. Beberapa baju pun ditumpuk agar siluet tubuhnya tersamarkan.

Pintu lemari yang kini terbuka dengan pelan, dan sosok kakek itu berdiri di baliknya. Halilintar tak melihat apapun, tapi ia bisa membayangkan tatapan tajam yang menulusuri setiap sudut lemari. Menahan napas, elemental petir itu membatin. Jangan sampai kamuflasenya terbongkar.

"Berantakan sekali!" komentar Tok Aba sambil menutup lemari. "Pulang nanti, anak itu harus beres-beres!"

Suara langkah kaki yang semakin jauh membuat Halilintar melanjutkan napas.

"Awas kau, Taufaaaan!"

.

.

.

"Sudah kuduga." Fang menghela napas panjang.

"Maksudmu apa sih, Fang?" Ying tak pernah memahami arah pikiran orang yang satu ini.

"Tipe porosnya." Fang bertutur singkat. "Mulai sekarang, dia bakal membelah diri macam amuba."

"Hah?"

-CdS-

Menemukan elemental pertama Boboiboy sore itu terbilang cukup mudah. Begitu bunyi bel penghujung menggema di sekolah, para pemilik kekuatan itu lantas memulai pencarian ke sekitar sekolah. Tak sampai lima menit, mereka menemukan elemental petir itu tengah menunggu dalam bisu.

Seorang pemuda berjaket hitam-merah berdiri mematung tak jauh dari halte bus yang dekat dengan sekolah. Kepalanya tertunduk, kedua manik mata rubi tersamar di bawah bayang topi hitam yang dikenakan. Ekspresi wajahnya terlihat sangat gusar. Aura penuh amarah yang memancar pun membuat siswa lain yang berjalan melewatinya begidik dan buru-buru menjauh.

"Yo, Hali! Sudah nunggu lama?" hanyalah Taufan yang menyapa, bersama lambaian tangan. Lugas tanpa rasa bersalah tersirat.

"Kau sengaja ya..."

Halilintar tentunya masih ingat jelas bagaimana ia harus menunggu berjam-jam dalam lemari. Pasalnya Tok Aba baru pergi berbelanja tigapuluh menit yang lalu. Dan dalam interval itu, beberapa kali sang atok mengecek kamar. Memberikan ronde-ronde penuh ketegangan. Belum lagi pintu depan yang terkunci membuat Halilintar harus melompat keluar dari jendela seperti maling.

"Tapi aku punya firasat Hali bisa lah~" Taufan mundur selangkah, berupaya menjaga jarak. "Buktinya kau ada di sini kan sekarang?"

"Ya, tapi aku baru lega kalau setidaknya bisa memberimu satu pelajaran!"

Halilintar menerjang ke depan, kepalan tangannya membidik sisi kiri Taufan. Elemental angin itu mengelak ke kanan, mata safirnya mengikuti tinju yang melintas. Kaki Taufan pun melompat ke samping, sebelum mengambil ancang-ancang dan berlari menjauh.

"Hei, berhenti kau!" Halilintar berteriak murka dan berlari mengejar, meninggalkan keempat orang yang sedari tadi menyaksikan mereka.

"Boboiboy beneran jadi ada dua..." Yaya nyaris tak berkedip memandangi kejar-kejaran itu.

"Yang penting," Ying menepuk bahu dua kawannya. "Gopal, Fang! cepat kejar kawan kalian itu!"

.

.

.

Layar besar yang tersekat di belakang sang robot kuning seperti biasa dipenuhi oleh gambar-gambar rekaman dari berbagai tempat yang mereka kenali. Namun kali ini, muncul layar-layar hologram dan papan-papan ketik di sisi kanan dan kiri bawah layar. Sang robot nampaknya tengah sibuk hingga tak menjawab pesan mereka sejak pagi.

"Kalian! Aku sudah menunggu dari tadi." Ochobot menyambut dengan suara yang terdengar lebih ceria dari biasanya. "Aku punya kabar baik, nih!"

"Sori, tadi mereka main kejar-kejaran dulu." Fang menunjuk dua Boboiboy yang akhirnya berhasil mereka seret menuju koridor lantai tiga hingga masuk ke Matra barusan.

"Wah wah! Tipe Porosmu 'Pemecah' ya!" sayap mekanis sang robot membawanya tepat di antara Halilintar dan Taufan yang berdiri agak berjauhan. Robot itu melakukan scan pada kedua elemental itu lewat pendar sinar biru.

"Pemecah? cocok sekali nama itu," komentar Gopal.

"Ini terbilang tipe poros yang langka loh~" Ochobot pun kembali pada papan ketik dan satu layar hologram. Memproses data yang baru ia dapatkan.

"Masa?!"

Kedua elemental yang semula tak sudi saling berpandangan pun melontarkan seruan yang sama. Kontan keduanya saling melirik, sebelum akhirnya membuang muka dengan ekspresi kecut. Halilintar bersedekap dada, sementara Taufan beranjak mendekati sang robot kuning.

"Tapi kenapa kita masih terpisah seperti ini, Ochobot?" Taufan bertanya. "Integrasi kedua harusnya sudah selesai kan."

"Karena tipemu itu pemecah, kau baru bisa kembali seperti semula jika ke pilar Matra di sektor yang baru."

"Tunggu! Jadi nanti beneran bakal ada tujuh Boboiboy di saat yang bersamaan dong?!" Ying berseru lantang, matanya terbelalak.

"Kan kubilang apa," celetuk Fang bersama helaan napasnya.

"Pokoknya kita selesaikan integrasi ini supaya Boboiboy bisa kembali seperti semula," tukas Yaya.

"Aku setuju, kalian bikin pusing soalnya!" Ying memijat keningnya.

-CdS-

Seperti kali pertama, Ochobot menyiapkan tempat untuk membuka portal. Taufan pun maju ke depan, tangan Taufan yang terjulur pada dinding logam dan memunculkan sinar biru cerah yang singkat. Embus angin yang cukup kencang menerjang dari dalam portal yang terbuka.

"Yuk masuk!" ajak Taufan sambil melompat ke dalam terlebih dulu.

Lima remaja dan satu robot itu melompat ke dalam portal. Menyambut lanskap padang pasir dan puing-puing rumah untuk kali kedua. Suasana masih tetap sama dari saat mereka masuk ke sana. Sepi tanpa ada tanda-tanda kehidupan, hanyalah desir angin yang menyelingi sunyi.

"Pilar Matra itu... bangunan yang tinggi di sana?!"

Atensi Ying dan Yaya langsung terpaut pada menara besar yang menjulang tanpa ada yang menyaingi.

"Betul! Baru lihat pertama kan?" Gopal pun berdeham-deham. "Waktu itu kalian ke mana sih~"

Tak ada yang bisa menahan rasa takjub saat bangunan tinggi itu ada di hadapan mata. Menghiraukan keempat temannya yang masih mengagumi pemandangan ini, Taufan pun mendekati bagunan putih pucat itu. Dengan enggan, Halilintar mengikuti dari belakang.

Taufan menjulurkan tangannya, namun sesuatu menahannya. Ragu, ia melirik sang elemental petir yang berdiri di belakangnya. Suara pelan pun bertanya, "benar begini kan ya?"

"Tsk, tunggu apa lagi!" Halilintar mengambil tangan Taufan dan mendorongnya untuk menyentuh pilar itu.

Sinar benderang pun menyelubungi Taufan dan Halilintar. Dalam sekedip mata, kedua sosok elemental telah melebur kembali menjadi satu. Boboiboy pun menatap kedua tangannya, sebelum melirik ke arah teman-temannya yang berlarian menghampiri.

"Wah! Kau kembali lagi seperti semula, Boboiboy!" Yaya pun tersenyum lebar.

"Hehe... maafkan tadi aku merepotkan kalian." Boboiboy menggaruk lehernya.

.

.

.

Puas melihat pemandangan di sektor kedua Matra, mereka setuju untuk lekas pulang. Kelima remaja itu kini kembali menerobos hamparan pasir. Langkah yang sesekali terperosok membuat perjalanan menuju portal agak lambat.

Yaya menyadari bahwa seseorang menghilang dari rombongan mereka. Ia segera melirik ke belakang, mencari sosok yang ternyata tertinggal cukup jauh.

"Boboiboy...?"

Orang yang dimaksud menghentikan langkahnya, atensinya tertuju pada sebuah puing-puing rumah berdinding biru lautan yang telah kusam. Seperti orang kena sihir, tatapan Boboiboy kosong. Masih membisu, pemuda bertopi itu memutar arah dan mendekati rumah yang ditatapnya itu.

Suara yang memanggil semakin samar dan Boboiboy masih tak menggubris. Langkah kakinya membawa pemuda bertopi itu melintasi ambang pintu. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya, seperti sayup-sayup deru angin. Magnet yang menawannya dalam keingintahuan.

BRAKK!

Bunyi pintu yang tertutup kencang membuat Boboiboy kembali tersadar. Ia menoleh ke belakang dalam satu sentakan, jantungnya berdegup kecang. Pemandangan di balik jendela dekat pintu telah lain, memampangkan sebuah jalan setapak berbatu yang masih apik. Terdengar samar suara-suara dari rumah yang ada di sebrang pintu. Pertanda bahwa ada kehidupan di sana.

"Loh?"

Atensi Boboiboy bergulir ke depan, dimana ruangan yang ia masuki berbeda dari yang diingatnya barusan. Ruangan yang semula dihampari oleh pasir, kini bersih dan memiliki lantai keramik yang tersusun seperti mosaik. Perabotan di ruangan itu lengkap, bebas dari debu dan dalam pemeliharaan yang baik.

Kepanikan membuat Boboiboy berlari menuju pintu. Namun sebuah suara familier dari belakang mencegatnya.

"Kau tak akan pergi sebelum menyapaku dulu, eh?"

Membalikkan badan, Boboiboy menemukan Taufan tengah berdiri di ruangan yang lebih dalam. Seolah telah menunggu kehadirannya sejak lama.

"Tau...fan?"

Mendengar panggilan itu, sang elemental angin tersenyum lebar. Namun sebuah sirat sendu ada pada sorot mata safirnya. Taufan pun mendekati Boboiboy.

"Kau bisa berjanji satu hal, Boboiboy?"

Boboiboy memiringkan kepala, kebingungan terpampang pada wajahnya.

"Apapun yang terjadi nantinya." Taufan mengubur wajahnya pada bahu kanan Boboiboy. Kedua tangan itu menggamit pangkal lengan Boboiboy begitu erat. "Kau tetap akan menjadi dirimu sendiri."

Tangan Boboiboy secara otomatis meraih punggung elemental barunya itu. Jemarinya mencoba menepuk punggung Taufan, Namun dalam sekejap, ia seperti disedot ke belakang. Dunia kembali berputar dalam perspektif Boboiboy. Kala ia membuka mata, semua orang meliriknya dengan tatapan keheranan atau khawatir.

"Lah, malah bengong lagi kau, Boboiboy!" celetuk Gopal.

Mata Boboiboy masih membelalak untuk beberapa saat, namun kemudian ia menggelengkan kepala. Menepis kabut yang membuat pikirannya macet.

"Tiba-tiba ada yang sakit?" nada khawatir terdengar dari Yaya.

"Bukan... bukan apa-apa." Tak lagi limbung, Boboiboy menyusul teman-temannya itu.

Setelah integrasi pertamanya, Boboiboy mengingat samar bagaimana kesadarannya ditarik entah ke mana. Ia tak bisa mengingatnya waktu itu. Tapi kini, Boboiboy bisa menyesapi jejak-jejak pertemuannya dengan seseorang.

Tetaplah menjadi dirimu sendiri.

Frasa itulah yang masih tersisa dalam benak Boboiboy. Berasal dari sosok yang terasa seperti seorang kawan lama.

.

.

.

Boboiboy mendapat ceramah panjang dari Ochobot terkait tipe porosnya. Tipe pemecah membuatnya bisa memecah diri sesuai banyaknya kekuatan elemental yang ia punya. Namun itu berarti ingatan yang terintegrasi dan kekuatannya akan terbagi-bagi. Berlainan dengan tipe poros tunggal, yang tetap satu dan memiliki kekuatan terpusat. Kakak Fang adalah salah satu poros yang memiliki tipe poros yang satu ini.

"Besok, kau harus berlatih untuk memunculkan elementalmu itu dan kembali seperti semula!" akhirnya ceramah Ochobot mengirimkan tanda-tanda segera usai.

"Baiklah, tak sabar aku ingin melatih elemental baruku!" Boboiboy tak bisa menyembunyikan nada riang. Ia melirik Fang, yang hanya bisa mendecakkan lidah.

"Jadi, kabar baik apa yang tadi ingin kau sampaikan Ochobot?" Pemuda berkacamata itu mengalihkan topik.

Pertanyaan Fang pun membuat sang robot terlonjak dan mulai mendekati layar-layar hologram dan papan ketik seraya berteriak."Aih! Hampir aku lupa!"

"Karena kalian sudah berhasil mengambil alih dua sektor, aku bisa melakukan ini!"

Layar besar pun menunjukkan sebuah peta dengan dua titik. Titik berwarna biru menunjukkan lokasi mereka saat ini. Sementara itu, titik berwarna merah menunjukkan tempat yang lain tepat di arah utara dari kota. Di pojok kanan atas layar, terdapat sederet angka yang berkedip-kedip. Angka yang menunjukkan sebuah hitung mundur selama enam belas hari.

"Tunggu! Jangan bilang..."

"Yup! Aku sekarang bisa mendeteksi titik distorsi selanjutnya dan kapan distorsi itu akan terjadi."Ochobot pun menunjukkan titik merah pada peta. "Berdasarkan hasil analisa, lokasi distorsi selanjutnya ada di sini."

"Di daerah sana? Jauhnya!" Ying membenarkan kacamata bulatnya yang merosot.

"Dekat sama gunung ya," Yaya ikut berkomentar.

"Wilayah sana, toh." Fang menimpali.

"Kau memang pernah ke sana, Fang?" tanya Boboiboy.

"Keluargaku punya vila di sekitar situ." Fang berucap dengan enteng.

Keheningan membuat atensi Fang beralih. Ia terlonjak mendapati wajah-wajah tidak percaya tertuju padanya. Dalam sekejap, empat pasang mata dengan ekspresi penuh harap membuat Fang menyesal atas perkataannya barusan.

-CdS-

Tersisa empat hari menuju distorsi (dan piknik). Kelima remaja itu telah mengantongi izin untuk menginap di vila keluarga Fang. Beruntung ayah Fang bersedia untuk ikut dan meyakinkan para orang tua. Terutama ibu Ying dan Yaya yang terkenal cukup bawel. Dengan ini, mereka tinggal mempersiapkan diri dan kembali pada rutinitas berlatih selepas pulang sekolah.

"Kok aku jadi khawatir dengan misi kita selanjutnya ya." Yaya menghela napas.

Yaya dan Ying memutuskan untuk istirahat sejenak setelah selesai melakukan latihan bertarung dengan lawan-lawan hologram yang Ochobot programkan untuk mereka.

"Entah kenapa aku juga begitu," balas Ying, menopang dagu. "Mungkin karena mereka bertiga seperti ini ya?"

"Bukannya sekarang ada empat?"

Kedua remaja putri itu melirik Fang, yang berlatih di ruangan paling dekat.

"Masih belum cukup!" kembali, seruan itu lagi keluar dari mulut Fang.

Fang masih saja membatin selepas misi kedua. Kalau saja waktu itu ia bisa mengeluarkan dua bayangan sekaligus dan stabil wujudnya. Maka tangan bayang Fang bisa meraih burung sialan itu, walau harus memanjang beberapa belas meter. Tapi usaha maksimalnya kemarin hanyalah membuat pijakan untuk Boboiboy. Itu pun harus dari jarak yang cukup dekat dengan Boboiboy. Fang menggigit sudut bibirnya. Kemampuannya masih belum cukup.

"Sekali lagi!"

Kadang keduanya lupa bahwa obsesi orang yang satu ini tak mengenal batas.

"Dan Gopal..." Helaan napas Ying kini terdengar. "Aku sudah nggak bisa berkomentar."

Di ruangan lain, Gopal membentuk senapan jari andalannya. Begitu beberapa objek hologram terlihat, ia menembakkan sinar hijaunya. "Tukaran makanan!"

Walau Ochobot sudah bolak-balik memberitahu Gopal untuk mengubah benda menjadi objek lain yang lebih beragam, rupanya remaja tambun itu telah otomatis mengubah semua hal menjadi makanan. Perkembangan yang mandeg total.

"Terus Boboiboy..." Ying menampar dahi. Dengan enggan ia melirik ke ruangan latihan yang paling luas di sana.

Boboiboy telah menguasai bagaimana memunculkan elemental barunya dan memecah diri menjadi dua. Namun perkara lain muncul.

"Jangan sombong kau, ya!" Pedang Halilintar teracung pada sang elemental angin.

"Faktanya? Kalau soal pertarungan di udara, aku lebih unggul!" Taufan memunculkan hooverboard-nya. Kaki lincah itu melompat naik pada papan berwarna putih biru tua yang senada dengan rompi yang dikenakan.

"Kau tak bisa melakukan ini bukan?" Tancap gas, Taufan pun melakukan manuver dan sesekali mendekati Halilintar. Sebuah ledekan yang segera membuat sang elementar petir itu naik darah.

Kilat merah kembali memecah udara. Bunyi guntur pun membuat hampir semua orang menutup kuping. Fang yang kembali gagal menciptakan dua hewan bayang sekaligus akhirnya melirik ke arah luar. Gopal yang sedang mengunyah wafer cokelat tersedak dan mulai terbatuk-batuk keras.

Keempat remaja pun keluar dan berkumpul tepat di depan ruangan tempat Boboiboy berlatih. Menyaksikan bagaimana kedua elemental itu saling berseteru siapa yang paling hebat. Untuk entah keberapa kalinya minggu ini.

"Petir dan angin."

"Mereka beneran combo badai ya."

"Setuju. Ributnya persis sama."

.

.

.

Halilintar dan Taufan akhirnya diseret Yaya dengan kekuatan gravitasinya, hingga mereka pun berdiri berhadapan. Kedua pasang manik mata mereka bertemu, saling bertukar raut wajah yang masih keruh. Taufan-lah yang pertama kali menjulurkan tangan kanan sementara tangan yang satu menggaruk-garuk leher. Menghela napas, ia membuka percakapan.

"Oke, lain kali kau jujur saja dong, Hali! Akui saja, kan selesai." Bersebrangan dengan uluran tangannya, kata-kata Taufan memicu amarah Hali kembali.

"Taufan!"

"Hoo, kalau itu yang kau minta." Tersenyum lebar, Halilintar pun ikut mengulurkan tangan. Kilat-kilat petir lantas menyelimuti telapak tangannya. Gemuruh dan sambaran listrik penuh ancaman akan jadi bonus salaman mereka. Taufan menelan ludah. Mampus.

"Hali!"

"Tch!"

Diiringi pelototan dua orang gadis temannya, elemental petir dan angin itu akhirnya melakukan gencatan senjata. Ochobot datang tak lama setelahnya, mengumumkan bahwa sesi latihan hari itu telah selesai.

"Bagaimana rasanya bertengkar dengan dirimu sendiri, Bung?" Gopal melongok pada Boboiboy yang terkapar di lantai.

Boboiboy mengangkat jempolnya seraya menyahut singkat, "Terbaik. Capek!"

"Semoga mereka akur pas misi nanti." Memencet batang hidungnya, Ying ikut berkomentar.

"Iya, harus itu!" Yaya menimpali.

"Huh, menyusahkan saja." Fang mendengus sambil bersedekap dada. "Ini baru dua. Kebayang nanti kalau udah tujuh, terus begini semua?"

-CdS-

Sebuah siang hari yang terik mengantar kepergian Boboiboy dan keempat kawannya menuju vila, seolah merestui perjalanan mereka. Kedai Tok Aba menjadi titik berkumpul mereka. Tok Aba bersikeras ingin berterima kasih pada ayah Fang yang mau direpotkan dan mentraktir barang satu gelas cokelat panas. Dan tentu saja, kakek yang satu ini tak ingin ketinggalan menceramahi muda mudi yang akan menginap di tempat yang cukup jauh.

Sebuah mobil berwarna abu-abu akhirnya parkir di dekat taman, dan tak lama Fang datang dan melompat turun dari mobil itu. Menyusul Fang, seorang pria berkumis dengan warna rambut senada dengan Fang pun turun dan menyapa mereka dengan ramah. Tok Aba segera menyambut ayah Fang dan mereka mulai mengobrol santai.

Tak ada yang pernah bertemu dengan ayah Fang sebelumnya. Boboiboy, Yaya, Ying, maupun Gopal tak bisa berhenti membandingkan ayah dan anak itu.

"Itu ayahmu Fang? Kau beneran mirip dengannya, ya..." ujar Gopal.

"Namanya juga ayah dan anak bukan?" Ying menimpali.

"Kakakku lebih mirip dengan ayah." Fang menjeda ucapannya barusan. "Ups, aku harusnya nggak bilang begini di dekatnya."

Boboiboy tak berkomentar, iris hazelnya tertuju pada ekspresi Fang saat mengatakan hal yang barusan. Datar, seolah hal barusan bukanlah hal yang penting lagi. Pemuda bertopi itu melirik ayah Fang kembali. Walau ayah Fang memiliki ekspresi wajah yang tegas dan penuh kharisma, ekspresi itu melunak ketika melirik sang anak.

Sudah bertahun-tahun kakak Fang menghilang tanpa diingat oleh siapapun selain Fang. Ayah Fang jelas adalah seorang ayah yang baik, dan ia sangat memperhatikan Fang. Namun seperti apa rasanya jika seorang ayah sekalipun melupakan anaknya? Bagaimana Fang harus menghadapi orang tuanya selama ini?

Boboiboy ingin sekali mengetahuinya.

.

.

.

Senandung lagu lawas mengiringi perjalanan keenam orang penumpang di dalam mobil. Sudah dua jam berlalu sejak mereka tancap gas dari kokotiam Tok Aba. Di luar sana, jalanan yang semakin jauh dari kota. Pepohonan yang cukup rapat mengepung di sisi kiri dan kanan jalan yang berkelok-kelok.

"Masih jauh ini?"siku Gopal menyodok Boboiboy, yang duduk di sampingya di kursi paling belakang.

"Kayaknya sih," balas Boboiboy

"Cepatlah sampai, pengen buru-buru makan nih!"

"Hush! Mana sopan santunmu Gopal!" hardik Yaya.

"Camilan yang tadi apaan dong?"

"Buat dia mah angin," Fang ikut berceletuk dari kursi paling depan.

Ayah Fang tertawa dari kursi sopir. "Sebentar lagi sampai kok," Tangannya memutar setir, dan mobil pun memasuki jalan yang lebih sempit lagi. "Nah, itu sudah keliatan!"

Mereka tak bisa menahan rasa takjub begitu melihat bangunan vila minimalis dengan dua lantai. Warna dindingnya krem, diselingi jendela-jendela kaca tinggi yang ditutupi tirai-tirai putih di dalam. Sebuah balkon di lantai dua terlihat begitu nyaman dengan sepasang kursi kayu untuk bersantai.

"Wah, luasnyaaaa!"

Tak ada yang tak tergoda untuk menjelajahi halaman yang cukup luas, yang dihampari rumput dan tumbuhan perdu. Bunga-bunga berwarna ungu pucat bermekaran, beberapa kelopak ringannya berjatuhan karena tertiup angin. Boboiboy dan Gopal bukan main senangnya, berlarian layaknya anak laki-laki. Yaya dan Ying berusaha untuk terlihat sopan, mengagumi vila dan berusaha menenangkan dua teman mereka yang terlampau kegirangan.

Ayah Fang tersenyum puas sebelum memanggil para remaja itu untuk masuk dan membawa barang-barang mereka ke dalam. Dengan patuh, mereka pun mengambil tas-tas yang disimpan di bagasi dan mengekori pria itu memasuki vila. Dan di sana sekalipun, Boboiboy dan ketiga temannya tak bisa menahan rasa girang mendapati ruangan yang begitu luas menyambut mereka.

"Kalian boleh pakai kamar atas, ada dua kamar yang cukup besar."

Suara dering ponsel membuat ayah Fang berhenti berbicara, tangan besarnya meraba saku celananya. Sebuah panggilan masuk dan dari reaksi ayah Fang, itu nampaknya panggilan yang penting. Fang membaca situasi dan mengangguk pada sang ayah.

"Biar aku tunjukkan," ucap Fang singkat.

Sang ayah pun tersenyum pada Fang. Tangannya sempat mengelus kepala Fang sebelum beranjak keluar sambil mengangkat telepon barusan. Fang memberi isyarat untuk mengikutinya, menaiki tangga yang cukup lebar menuju lantai kedua.

.

.

.

Arloji menunjukkan delapan belas menit menuju tengah malam. Rasa kantuk yang tak kunjung datang membuat Boboiboy menyerah untuk memejamkan mata. Selimut tebal ia singkapkan, membiarkan udara dingin mulai membasuh kulit. Turun dari kasur, kedua kakinya menjejak lantai kayu dengan hati-hati. Boboiboy memakai kembali topi jingganya, lalu ia pun beranjak mendekati pintu kamar.

Manik hazel Boboiboy sempat melirik Gopal, yang tengah ngorok di kasurnya. Lalu ia pun beralih pada kasur paling pojok yang sama sekali belum tersentuh. Bahkan selimutnya masih terlipat rapi. Boboiboy memutar kenop pintu lalu menyelinap keluar.

Hampir semua lampu di vila itu telah padam, menyisakan keremangan yang lebih dari cukup untuk bagi Boboiboy untuk melintasi ruangan tanpa tersandung kaki meja. Tangannya kini menyusup dari tepi tirai, menggeser pintu kaca yang mengarah pada balkon lantai dua.

'Pasti dia ada di sini,' pikir Boboiboy.

Sergapan angin membuat tirai tebal itu berayun. Menyibak bayangan seseorang yang tengah duduk di kursi balkon membelakangi Boboiboy. Dua buah lampu menggantung agak rendah, memendarkan cahaya putih hangat pada sosok remaja berkacamata itu. Posisi tubuh yang duduk bersandar sembari menopang dagu sungguh familier bagi Boboiboy. Tersenyum, ia langsung teringat pemandangan akrab dari bangku sebelahnya itu di sekolah.

"Ngapain kau?" tanya Fang ketus. Netra merah itu melirik tajam Boboiboy, yang mengambil posisi duduk di sampingnya.

"Ikut duduk di sini doang, boleh kan?" Boboiboy pun menerima gumaman tak jelas dari Fang, yang ia terjemahkan sebagai 'iya'.

Disambut dengan kesunyian yang cukup lama, kedua kawan sekaligus rival itu sama-sama termenung. Pandangan keduanya tertuju pada bentangan langit kelam dengan ornamen-ornamen mungilnya yang berserakan. Pendaran cahaya-cahaya itu, juga semilir angin menciptakan atmosfer segar sekaligus tenang.

"Ayahmu sangat peduli padamu, ya." Masih terdengar canggung, Boboiboy membuka percakapan. Netranya menatap lurus Fang, mengharapkan kembali sebuah jawaban.

"Lebih seperti waswas menurutku," Fang menghela napas. "Kalau-kalau aku meracau lagi."

Boboiboy termenung, mengingat-ngingat kembali pria paruh baya yang mereka bicarakan itu. Bagaimana beliau menatap Fang, menyiapkan segala sesuatu untuk acara mereka. Semuanya adalah ketulusan dan kasih sayang tanpa syarat milik seorang ayah. Tapi semua kata-kata itu tertahan di tenggorokan, bisa runyam kalau ia salah bicara soal topik sensitif ini.

"Aku pernah marah pada mereka karena tak ingat apapun soal kakak."

Pernyataan itu membuat atensi Boboiboy mengarah pada Fang semata.

"Tapi kalau misi kita berhasil, kita bisa membuat mereka ingat lagi bukan?"

Fang akhirnya melirik Boboiboy sebelum menyahut pelan, "mungkin..."

"Kalau begitu, kita sama-sama berjuang menyelesaikan ini secepat mungkin!"

"Kalau kau sebagai Poros gagal melaksanakan misi penting ini-" Fang pun berdiri dari kursi, menghadapkan badan pada Boboiboy. "Aku takkan pernah memaafkanmu."

Boboiboy ikut bangkit, mengarahkan kepalan tangannya pada bahu kiri Fang. "Aku takkan gagal, kau tahu?"

Tangan kanan Fang menangkap pergelangan tangan Boboiboy. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman langka yang baru dilihat sang rival.

"Yang barusan, akan kutagih nanti."

.

.

.

Berlanjut pada chapter 10: Labirin

A/N:

Dua bulan yang luar biasa sekali, dan akhirnya chapter ini rampung ^^

Terima kasih bagi yang sempat mampir, dan sampai jumpa lagi~