Memiliki hal yang benar-benar ingin dilindungi sudah lebih dari cukup untuk memantik nyala api sukma. Mendorong raga untuk melakukan apa saja, seiring diri yang ditarik dari kelambu ragu. Satu kesempatan mungkin peranan itu kan berubah, berlusin persimpangan akan menyesatkan diri dalam kabutnya. Di saat itulah kepercayaanmu diuji. Apakah kau pantas untuk menjadi perisai bagi mereka?
Cipta dan Sirna
By: Koyuki17
Boboiboy © Monsta Studio
Chapter 10: Labirin
"Kenapa jadi begini ya..." Boboiboy menengadah pada jalinan dahan dan dedaunan yang memayunginya dari terik mentari tengah hari.
Tangan Boboiboy masih bertautan dengan tangan mungil seorang anak perempuan. Wajah sang anak masih basah dan kacau karena tangis yang tak kunjung reda. Sementara itu bersandar pada punggungnya, seorang anak laki-laki masih mengaduh dan menahan sakit di perutnya.
"Hiks... hiks..." Anak perempuan itu masih saja terisak. "Kapan... hiks... kita sampai kak?"
"Se... sebentar lagi!" Sedikit gagu, Boboiboy menjawab. "Kakak ingat kok tadi lewat sini!"
"Jadi sebentar lagi kita sampai di rumah kak?" anak perempuan itu mengulangi pertanyaan barusan.
Boboiboy dalam hati merutuki kenapa ia tak pandai berbohong. Jika ia adalah tipe orang yang penuh persiapan, semua tentu akan berbeda. Misal, seperti orang yang bisa menemukan kunci di tempat biasa ia menyimpannya. Atau orang yang menyiapkan payung sebelum bepergian sehingga tak perlu cemas jika hari mendadak mendung.
Sayangnya, ia bukan kedua tipe orang di atas.
-CdS-
Satu jam sebelumnya.
"Apa? Mancing?" Ying mengulangi kata-kata yang baru saja masuk ke kupingnya, satu alisnya terangkat.
"Iya, tahu kan mancing itu apa?" tanya Fang, setengah gusar. Tangannya sibuk memilah tongkat pancing dan memasukkan tiga buah ke dalam tas pancing kelabu.
"Ey, bukan soal itu lah!" kilah Ying.
"Apa aman kalau kalian mancing di saat seperti ini? Maksudku, tinggal beberapa jam lagi dari distorsi bukan?" kali ini Yaya meluruskan maksud teman berkacamatanya itu.
"Dekat sini kok, kalau ada apa-apa kita tinggal saling menghubungi bukan?" Fang menyentuh kupingnya, tempat dimana handsfree bertengger setiap misi mereka di Matra.
"Iya nih, bosan kalau sepanjang hari kita cuma menunggu di kamar!" Gopal menambahkan. Ia baru saja mengeluh karena tak ada konsol game di vila ataupun permainan lain yang menarik dan bisa membunuh waktu mereka. Boboiboy tentunya ikut kecewa, tapi ajakan memancing segera mengalihkan perhatiannya.
"Huh, ya sudah! Aku dan Yaya juga mau pergi kok!"
"Ke mana?" tanya Boboiboy.
"Ada tempat peneropongan bintang di sekitar sini, kita sudah sepakat ingin mencarinya!"
"Ah, memang lumayan dekat dari sini." Fang selesai mengemas peralatan memancing dan tak banyak berkomentar setelahnya.
"Jadi, semua setuju untuk mengabari begitu distorsi dimulai?" Yaya melirik semua kawan-kawannya.
"Setuju!"
.
.
.
Boboiboy telah beberapa kali mengamati badan air, namun ia selalu dibuat bengong jika sudah berada di hadapan berkubik-kubik air. Danau mungil itu seperti sebuah cermin yang merefleksikan sebentang langit berawan di atasnya. Angin sesekali melintas dan menciptakan riak air yang menepi. Suasana tenang yang berbanding jauh dengan kesibukan kota.
Danau mungil ini mereka capai setelah berjalan empat puluh lima menit dari vila. Hamparan rumput yang empuk menjadi alas bagi ketiga remaja itu, yang duduk bersila. Atensi mereka sesekali tertuju pada tongkat pancing yang bergeming, kendati hanya ada mereka bertiga yang memancing saat ini.
Dehaman Boboiboy memecah kecanggungan di antara mereka. Sejak mereka berangkat, sebuah pertanyaan menggelitik pikirannya. "Jadi, apa ada hal yang ingin kau bicarakan sampai kita harus ke sini, eh?"
Kening Fang berkerut, bola mata kemerahannya mendelik sang rival. "Nggak ada yang mau aku sampaikan, kok."
"Beneran nih?"
"Aku hanya berpikir bagaimana supaya kita tak mengganggu ayahku yang sebentar lagi virtual meeting. Itu saja."
"Ooooh," baik Boboiboy dan Gopal menyahut bersamaan.
"Tapi, apa ayahmu akan baik-baik saja, Fang?"
Saat mereka meminta izin untuk memancing, ayah Fang tengah sibuk dengan beberapa berkas yang tertumpuk di meja kerja. Ponsel kembali berdering, memunculkan sebuah nama yang berkaitan dengan kantor. Laptop yang terbuka memampangkan beberapa berkas dan folder-folder yang memenuhi layar. Pria itu hanya bisa berpesan hati-hati dan menunggu mereka di waktu makan siang nanti. Ada ekspresi bersalah dari pria itu.
"Oh, sudah biasa sih." Fang sekali lagi menarik tali pancing dan melemparkan kailnya lebih jauh lagi. "Bahkan hari libur pun dia selalu sibuk."
"Yang penting nanti malam kita barbeque! Tak sabar lah!" Gopal tiba-tiba bangkit dan bersorak nyaring.
"Hush! Ikannya pada kabur lah kalau kau teriak-teriak!" hardik Fang.
"Suaramu juga ga kalah berisiknya deh." Boboiboy menimpali.
Pada akhirnya, tiga pasang mata pada akhirnya memandangi ember biru yang menampung hasil pancingan mereka selama hampir empat jam. Hanya ada dua ikan yang tersangkut di kail pancing milik Gopal dan Fang. Ukuran keduanya pun tak lebih besar dari jari kelingking.
"Rasanya jadi nggak tega." Telunjuk Boboiboy menyodok dua ikan yang berenang berputar-putar di dalam ember. "Lepasin saja, nih?"
"Aku nggak kepikiran untuk memasak mereka." Ungkapan Fang membuat Boboiboy mengangkat ember dan mendekati ujung danau.
"Yuk pulang, dah lapar iniiiii." Perut Gopal memulai orkestranya, membuat Boboiboy dan Fang setuju tanpa lanjut berdebat.
.
.
.
Sudah sepuluh menit ketiga pemuda itu menelusuri jalan setapak. Berjalan beriringan laiknya anak itik. Dengan perut kelaparan dan tangan kosong, mereka setengah menyeret kaki menerobos jalanan yang penuh dengan kerikil. Jalur yang kini menanjak membuat Gopal tertinggal agak jauh, mulutnya megap-megap.
"Istirahat dulu dong!" teriak Gopal sambil melambaikan tangan. Hanya dia yang belum menaklukkan puncak bukit.
Baik Boboiboy dan Fang saling berpandangan sebelum menghela napas panjang.
"Ya sudah, kita istirahat dulu di sini." Fang merubuhkan diri dan duduk di tanah. Ia melirik sang rival yang justru berjalan menjauh. "Kau mau ke mana?"
"Nyari air, barangkali ada di sekitar sini." Boboiboy menunjuk Gopal yang terkapar setelah berhasil menyusul. Melihat kawannya itu malah membuatnya ikut kehausan.
Sayangnya Boboiboy tak bisa menemukan sungai kecil setelah menuruni satu dua lereng landai. Pemuda bertopi itu baru saja akan memutuskan untuk kembali, namun sesuatu menghentikan langkahnya. Walau sedikit jauh, Boboiboy bisa mendengar suara itu. Suara seseorang yang meminta tolong.
Boboiboy memutar tumit kaki, kembali pada arah di mana ia mencari air barusan. Mata hazel pun berkelana menyelusuri kembali hutan di belakangnya. Tak berselang lama ia kembali mendengar suara itu.
"Suara... anak kecil?!" Boboiboy memacu langkahnya, walau ia nyaris terperosok karena pijakan tanah yang kurang stabil.
Berbekal naluri dan suara anak kecil itu, Boboiboy menerobos semak belukar. Semakin dalam ia menembus jantung hutan. Tak lagi menggubris waktu, Boboiboy terus mengejar suara anak itu, yang untungnya semakin jelas terdengar.
Sumber suara itu ternyata berasal dari seorang anak perempuan dengan rambut berkuncir dua yang segera menggabruk Boboiboy. Anak itu menangis sejadi-jadinya. Kebingungan, Boboiboy lantas mengelus punggung sang anak, berupaya menenangkannya. Umur anak itu tak lebih dari enam tahun menurut tebakan Boboiboy.
"Cup cup. Sekarang ada kakak di sini." Sembari berkata demikian, Boboiboy mencuri pandang pada anak laki-laki yang berbaring miring di tanah. Dugaannya adalah kakak dari anak perempuan itu. Penyebab dari teriakan minta tolong barusan.
Tak lama anak perempuan itu melepaskan pelukannya, dan Boboiboy kontan menghampiri anak yang satu lagi. Telapak tangan Boboiboy meraba kening anak lelaki itu, kulitnya langsung diserang rasa panas. Anak itu demam tinggi. Boboiboy mencoba memanggil sang anak, namun yang didapatkan hanyalah erangan pelan. Anak itu memegangi bagian bawah perutnya.
"Kakak! Kakak!" sang adik perempuan itu memanggil saudaranya, pun tak ada jawaban.
Tanpa bertanya lagi, Boboiboy mencoba menggendong anak lelaki itu di punggungnya. Anak itu jelas-jelas perlu diperiksa oleh dokter secepat mungkin.
"Namamu siapa, dik?" Boboiboy yang masih berjongkok pun melirik sang adik perempuan.
"Hiks... Ana."
"Ana ya, kamu bisa berdiri?" Boboiboy menjulurkan tangan. Ana pun menyambutnya sambil berdiri dibantu oleh Boboiboy.
"Ayo kita cari orang tua kalian!"
Baru saja Boboiboy bangkit, ia teringat satu hal yang penting. Keringat dingin mengucur deras saat ia memandangi hutan yang mengepungnya saat ini. Tadi... dia datang dari arah mana ya?
-CdS-
"Aku rasanya tadi bilang kita mancing itu supaya nggak mengganggu ayahku." Fang memijat-mijat keningnya, ingin ia menangis saja dengan masalah baru ini.
"Yup, kau memang bilang begitu." Gopal menjawab sambil bersiul santai.
"Kenapa malah jadi begini?!" Teriakan Fang membuat beberapa bajing melompat kabur ke pohon lain. "Dan kenapa pula dia malah menyimpan ponselnya di tas mancing!"
Remaja berkacamata itu seharusnya tahu, bahwa ia tak boleh membiarkan Boboiboy berjalan berkeluyuran seorang diri. Jika mereka berada di taman hiburan, cukuplah memasang pengumuman anak hilang. Di daerah gunung yang jarang-jarang ada penduduk lokal, mereka tak bisa bertanya pada siapa-siapa.
"Dih, Fang! Sabar sedikit kenapa!" Gopal menutup sebelah kupingnya karena teriakan barusan. "Berilah waktu sebentar, dia bakalan pulang lah~"
Gopal tiba-tiba teringat sesuatu dan siulannya pun berhenti. "Yah... mungkin," nada ragu begitu kentara dalam frasa barusan.
Keduanya kini menunggu di tepi jalan mungil yang dilapisi aspal. Setelah melapor pada ayah Fang, mereka diminta untuk diam di sana sampai bala bantuan tiba dari vila. Tak sampai dua menit berselang, mobil abu-abu pun muncul dari ujung jalan. Pintu kaca bagian penumpang meluncur turun, menampakkan wajah Yaya dan Ying. Mereka telah kembali ke vila rupanya.
Begitu mobil diparkirkan di badan jalan, kedua remaja putri itu pun turun dengan ributnya. Menghampiri kedua remaja yang mencoba mengelakkan mata dari mereka.
"Hei kalian, kok Boboiboy bisa hilang sih?!" Ying bertanya dengan ekspresi tidak percaya.
"Ish, dia bukan lagi anak TK yang harus kita lihatin lah!" tampik Gopal.
"Terakhir dia bilang mau ke mana?" Yaya mencoba membelokkan arah pembicaraan pada jalan yang benar.
"Dia bilang mau cari air," dumel Fang sambil masih bersedekap dada.
"Di daerah sini nggak ada sungai," ayah Fang pun ikut ke dalam pembicaraan, mencoba memikirkan kemungkinan. "Pasti dia berjalan lebih jauh lagi untuk mencari."
Agar pencarian berjalan lebih optimal, mereka memecah menjadi tiga regu. Setelah memastikan memiliki ponsel yang aktif dan bisa dipakai menghubungi, pencarian dadakan itu pun dimulai. Tepat ketika gerombolan awan kelabu mulai digiring oleh angin, menutupi surya yang semula bersinar terik di puncak kepala.
Kilat petir membuncah, membelah langit dalam sepersekian detik. Satu demi satu tetes air hujan membasahi tanah, beberapa meluncur menuruni helaian daun. Kelabu menambahkan nuansa mencekam di siang hari itu.
.
.
.
Perubahan cuaca membuat Boboiboy semakin waswas. Ia tahu persis seberapa bahayanya daerah gunung jika hujan lebat turun. Sudah hampir setengah jam ia berjalan, namun mereka masih belum mencapai jalan raya. Jalan setapak yang sesekali ia temukan membawanya pada jalan-jalan buntu yang dipagari lereng-lereng bukit di satu sisinya.
"Ana masih kuat berjalan?" tanya Boboiboy sambil membenarkan posisi gendongannya yang merosot.
"Uhm!," sang anak menganggukkan kepala dan berusaha untuk menyusul Boboiboy dari belakang.
Mereka hendak menjauh dari daerah lereng itu dan mencari jalan lain keluar dari hutan. Namun belum jauh mereka berjalan, langkah kaki Ana yang kini berjalan di depan Boboiboy pun tersandung akar-akar pepohonan yang mencuat. Seketika oleng ke arah lereng, sang anak pun memekik panik.
"AWAS!"
Walau tangannya masih menopang sang anak laki-laki, Boboiboy refleks menjulurkan tangan kanan. Dengan sekuat tenaga, ia meraih punggung sang anak perempuan dan menariknya kembali ke belakang.
"Hup! Hampir saja..." Boboiboy mengembuskan napas lega begitu sang anak pun jatuh terduduk di depannya.
Sang anak kembali menangis keras. Ia sempat memandang lereng yang cukup dalam saat nyaris terjatuh, ketakutan bukan main. Boboiboy kini berusaha untuk meyakinkan sang anak bahwa sekarang ia sudah aman. Pemuda bertopi itu nyaris tidak mendengar sayup-sayup suara yang mendekatinya.
"Boboiboy!"
"Dia di sini! Cepat kabari yang lain, Fang!"
Dua siluet akrab itu langsung Boboiboy kenali dengan pasti.
"Syu... syukurlaaah," lutut Boboiboy seketika lemas. Pemuda bertopi itu pun menjatuhkan lututnya ke tanah. Kedua tangannya masih menopang anak laki-laki yang ia gendong. Perlahan, Boboiboy mulai membaringkan tubuh sang anak laki-laki di tanah. Kepala sang anak ia sangga dengan topi jingganya.
"Siapa anak ini?!" Gopal melotot, memandangi kedua anak itu bergantian.
"Ah, aku lupa nggak menanyakannya." Boboiboy menyeka peluh yang telah lama membasahi kening dan lehernya hingga basah kuyup. "Tapi dia dan Ana adalah kakak beradik."
"Kau nggak menculik mereka kan?" Fang menopang dagu saat melirik sosok anak perempuan yang terlampau belia.
"Hush! Kau pikir aku apaan sih?!" Boboiboy marah besar kali ini, tak ingin disamakan dengan orang pedofil.
"Fang! Gopal!" Suara remaja putri pun membuat mereka menoleh ke arah yang bersamaan, arah kemunculan Fang dan Gopal barusan.
Namun ada orang asing yang mengekori Yaya, Ying, dan ayah Fang. Seorang wanita dewasa berambut panjang tergerai. Jaket tebal yang menutupi sebagian tubuhnya menyamarkan perawakan tinggi dan kurus. Boboiboy menebak bahwa dialah ibu dari kedua anak itu. Ia pasti berpapasan dengan kedua temannya dan mencari mereka bersama-sama.
"Ana! Aran!" wanita itu lantas menggabruk putrinya, memberikan pelukan hangat sebelum mengecek kondisi anak tertua.
Manik hazel itu menatap pertemuan keluarga itu dengan seruak rasa syukur di dada. Namun empat bayangan yang mengepungnya membuat ia sadar atas hal yang ia lupakan. Boboiboy dikelilingi oleh keempat sahabatnya dalam sebuah sidang dadakan. Tanpa sempat mengucapkan maaf, kini semua secara bergantian melepaskan isi hati.
"Ke mana saja kau, heh!"
"Bikin khawatir, tahu! Bisa nggak sih kau tidak terlibat masalah barang sekali?!"
"Sudah, yang penting sekarang sudah ketemu kan?" Ayah Fang tertawa-tawa menyaksikan kelima anak muda itu.
Namun suasana hangat itu tak bertahan lama. Ibu dari kedua anak itu kini terus memanggil anak tertua. Tubuh sang anak laki-laki itu disandarkan pada dekapan sang ibu. Namun sang anak tak merespon apapun. Matanya terpejam dan peluh masih mengucur deras dari pelipis.
"Demamnya tinggi sekali." Ayah Fang mendekati keluarga mungil itu dengan rasa khawatir tersirat.
"Suami saya mendadak harus menjemput kerabat kami. Mohon maaf, Tuan. Apa anda bisa mengantar kami ke rumah sakit?" Suara sang ibu begitu kentara dengan rasa cemas, bahunya gemetar hebat.
"Tentu saja, bu." Ayah Fang menyanggupi, dan memberi isyarat agar sang ibu terlebih dulu membawa sang anak menuju mobil. Atensi pria itu beralih pada sang anak dan kawan-kawannya. "Kalian akan ikut?"
Saling bertukar pandang, kelima remaja itu mencoba merangkai alasan. Tersisa kurang dari satu jam lagi hingga distorsi Matra akan terjadi. Mereka tak bisa membuang waktu.
"Kami akan pulang dan menunggu." Fang pun mencoba meyakinkan sang ayah. "Tinggal menyelusuri jalan ini sampai ke vila kan, Yah?"
Pria paruh baya itu pun tersenyum lebar dan mengacak rambut Fang seraya berkata, "Jaga temanmu baik-baik, ya!"
-CdS-
Marah besar. Itu adalah kesan yang Boboiboy tangkap dari keempat temannya begitu mereka menyumpal mulutnya dengan roti gandum. Nyaris saja ia kehabisan napas. Mulutnya sibuk menguyah dan menelan. Belum lagi ia tersedak dan celingukan mencari botol air minum.
"Kita nggak bisa kembali ke vila sekarang, jadi ganjal perutmu dengan itu!" dumel Fang.
"Hohee (Okee)..." ingin sekali Boboiboy memperotes, tapi ia hampir membahayakan misi mereka dengan sempat-sempatnya tersasar di hutan.
"Di mana letak distorsinya, Ochobot?" dengan handsfree terpasang, kini Yaya membuka jalur komunikasi dengan sang robot kuning.
'Tak jauh dari posisi kalian, tinggal bergerak sekitar 300 meter ke utara.'
"Utara yang mana ya?" Gopal menggaruk belakang kepalanya.
"Lihat posisi matahari, lah! Tuh ke sana!" telunjuk Ying pun memandu temannya yang kebingungan itu.
"Ayo kita jalan lagi!" selesai dengan makan siang kilatnya, Boboiboy mengajak kawan-kawannya untuk bergerak.
Mereka pun menyelusuri jalan yang tadi Boboiboy lewati, namun memotong hutan dan menemukan jalan setapak lainnya. Berjalan beberapa meter pun membawa mereka pada ujung jalan yang terputus. Pemuda bertopi itu mendekati tepian tebing itu dan memicingkan mata. Ia terbelalak begitu menemukan apa yang tengah dicari.
"Di sini! Portalnya ada di sini!" seruan Boboiboy memanggil.
Mereka kini memastikan posisi portal yang sebentar lagi terbuka, yang tepat ada di bawah kaki mereka. Ada jarak sekitar lima meter turun untuk sampai pada portal itu.
"Tolong ada yang bilang kalau ini bohongan," Gopal berusaha untuk mundur sejauh mungkin. Tangan Fang lebih sayangnya lebih cepat mencegat.
"Jadi, kita lompat barengan?" melihat ukuran portal yang kini membesar dan cukup untuk memuat mereka semua, Ying bertanya.
"Dalam hitungan tiga!" Tak ada yang menyanggah ucapan Boboiboy, kecuali Gopal yang masih komat kamit. Mereka saling mencengkeram pergelangan tangan agar saat melompat tidak ada yang tertinggal.
"Satu... dua... TIGA!"
Kelima remaja itu berlari kencang sebelum melompat sejauh mungkin. Gravitasi lantas menarik mereka membumi. Namun tubuh mereka seketika menghilang dilumat pusaran kelam itu.
.
.
.
Sektor ketiga Matra adalah bentangan gua yang gelap gulita. Berdasarkan besarnya, gua itu bisa jadi bercabang-cabang, dinaungi bebatuan yang tingginya sekitar satu meter dari puncak kepala. Tak adanya penerangan membuat Fang dan Ying menjadi dua orang pertama yang menyalakan flash dari ponsel.
"Berapa waktu yang kita punya Ochobot?" tanya Fang. Suaranya memantul-mantul karena terbentur dinding gua.
'Sekitar empatpuluh tiga menit enam belas detik' jawab Ochobot dengan tangkas.
"Lebih cepat lah dari yang kemarin!" seruan Gopal mendapat tamparan punggung dari Boboiboy dengan percuma.
"Jangan protes melulu, masih untung bukan lima menit kan?" timpal Boboiboy.
'Aneh, aku belum mendeteksi adanya pelahap ingatan di sana.' bunyi jari mekanis yang mengetik pun terdengar dari sambungan komunikasi.
"Apa karena di luar nggak banyak orang di luar distorsi Matra?" tebak Boboiboy.
'Mungkin. Ada Pelahap Ingatan yang memang tak bisa atau tak ingin keluar dari Matra.'
"Berarti, tidak usah ada penjaga portal?" Ying menautkan alis.
"Nah, kita bertiga bisa ikut membantu kalian mencari portal kedua dulu kan?" tanya Yaya, sorot mata berwarna gelapnya melirik penuh harap.
'Tapi kalian harus bersiap jika pelahap ingatan mulai muncul dan hendak keluar!' Ochobot kembali memperingatkan.
"Tentu saja!" Ying sambil nyengir. "Lagipula, mencari satu lubang portal di gua akan lebih mudah kalau banyak yang mencari bukan?"
'Baiklah kalau begitu," Boboiboy tak menolak sebuah bantuan tentunya.
"Ayo jalan!" Fang segera mengambil posisi pemandu jalan.
Lima menit menyelusuri gua membawa mereka dalam perjalanan yang terlampau sunyi. Hingga suara sol sepatu yang menjejak kerikil terlampau jelas. Bahkan samar-samar suara air yang menetes-netes dari bagian gua yang lebih jauh dalam.
"Rasanya aneh, terlalu tenang untuk distorsi kali ini." Boboiboy masih mengedarkan pandangan mata, kuping yang ia pasang baik-baik tak menangkap bunyi lain.
Tak ada bunyi retakan yang menjadi ciri khas distorsi. Bahkan sekeliling mereka yang didominasi oleh gulita atau keremangan, tak banyak membantu. Atensinya sekilas mengagumi stalakmit dan stalagmit menghiasi tepian goa. Andaikan mereka tengah berwisata, mungkin mereka akan mengambil satu dua gambar sebagai kenang-kenangan. Tapi, berada di tempat antah berantah dengan sosok berjubah perampas ingatan sewaktu-waktu menyembul dari kegelapan takkan bisa membuat mereka rileks.
Akhirnya pada ujung jalan, muncul dua lubang yang saling berhadapan. Kelima remaja itu pun tahu bahwa penulusuran dengan tim utuh pun berakhir di sini.
"Kita ke arah sini." Fang menunjuk lubang gua yang berada di sebelah kiri.
"Oke, kalau begitu kita ke sana." Ying diikuti oleh Yaya pun beranjak menuju arah berlawanan.
Kedua kelompok kecil itu mulai meretas bagian dalam gua, berjalan semakin jauh dan jauh lagi. Kelompok para lelaki tak menemui apapun, diwarnai dengan omelan Gopal, kekhawatiran Boboiboy, dan komentar sinis Fang. Namun bahaya rupanya mengintai kedua remaja putri di bagian gua yang lain.
"Ying! Di samping-" Yaya terlambat sepersekian detik untuk memperingatkan sahabatnya itu.
Baru saja remaja putri berkacamata itu melirik ke arah yang dimaksud, menyadari sebuah pisau pendek diarahkan untuk menebas batang lehernya. Di saat-saat terakhir, kekuatan sang gadis pun aktif.
"Perlahankan masa!" sinar dari arloji Ying menyelimuti musuh dan memperlambat pergerakannya.
Saat sang gadis berkacamata menoleh pada sosok jangkung di belakangnya, Yaya menghambur maju dengan kepalan tangannya."Pukulan padu!"
Namun sosok berjubah gelap itu hanya membelalakkan mata sebelum wujud fisiknya itu seolah berubah menjadi asap hitam dan menghilang di udara. Pukulan Yaya menembusnya, mendarat pada dinding gua yang membuatnya sedikit retak.
Kedua remaja putri itu saling berpandangan, bahu keduanya gemetaran. Mereka ingat betul jubah kelam yang dikenakan sang pelahap ingatan. Sosok itu benar-benar seperti sergapan hantu yang keluar dari mimpi buruk.
-CdS-
"Loh, kalian?"
"Hah, kok bisa begini?!"
Dua kelompok yang semula memisahkan diri untuk menelusuri jalan yang berlainan pun kini bertemu kembali. Jalan panjang itu malah mengantarkan mereka pada titik yang sama.
"Loh, ini bukannya ini menuju tempat masuk kita tadi ya?" tangan Gopal meraba sebuah tanda silang iseng yang ia buat dengan pisau lipat yang terbawa di saku celananya.
"Tsk, kita hanya membuang waktu saja kalau begini!" Fang menendang sebuah kerikil sebagai pelampiasan kekesalannya. Pasalnya, mereka hanya memiliki sekitar lima menit tersisa.
"Apa kita harus coba sekali lagi ke dalam?" Boboiboy melirik kedua gadis temannya, ingin meminta pendapat. Namun wajah yang sedikit pucat dan sirat rasa takut terlihat dari kedua gadis itu.
"Kalian diserang?" Boboiboy bertanya dengan nada pelan.
"Iya, dan serangan balik Yaya tadi tak mempan," tutur Ying.
"Ada satu berarti lawan kita?" Gopal bersiul.
'Aku hanya sempat mendeteksi pelahap ingatan itu, tapi dia langsung menghilang dari radar'
"Jadi, kali ini jubah abu yang seperti apa?" tanya Fang.
"Bukan. Dia bukan jubah abu-abu." Yaya menelan ludah. "Hitam, tak salah lagi."
'Jubah hitam?! Kalian harus... '
Teriakan Gopal memutus ucapan sang robot kuning."Hiiiii! Di... di sanaaaa!"
Dari kejauhan, sepasang mata bersinar dengan aura penuh seorang pembunuh. Nyaris sama seperti kali pertama mereka masuk ke Matra, sosok itu bergerak begitu cepat menuju mereka. Sebilah pisau tajam terhunus dalam genggaman tangan besar itu, tertuju pada Boboiboy.
"Boboiboy Halilintar!" pemuda bertopi pun berganti menjadi elemental petirnya. Pedang Halilintar langsung menangkis tusukan pisau, mendorong dengan seluruh tumpuan tubuhnya hingga musuh terempas cukup jauh.
"Semuanya, MUNDUR!" teriakan lantang Boboiboy lantas membuat lima pasang kaki pun melesat menuju portal.
Dalam kepanikan itu, tak ada yang memprotes. Fokus hanya untuk meraih portal, tinggal melewati satu lubang dan mereka akan sampai. Seharusnya seperti itu. Gopal dan Ying yang berlari dekat dengan sisi kiri gua menjejak tanah yang tiba-tiba amblas. Sebuah lubang selebar dua meter pun menelan keduanya.
"UWAAAAAAAAAAAAA!" teriakan Gopal dan pekikan panik Ying saling beresonansi.
Ying melirik bagian dasar lubang yang sepertinya tak memiliki apapun untuk meredam kejatuhan mereka. Ia tentunya tak ingin menginjakkan kaki di sana jika itu membuatnya mematahkan satu atau dua tulang.
"Gopal, cepat pakai kekuatanmu itu!" perintah Ying.
"Tu... tukaran makanan!"
Sinar kehijauan dari arloji Gopal menyulap hamparan batu keras di bawah sana menjadi marshmallow raksasa. Kedua remaja itu menghantam kudapan empuk itu dan mendarat tanpa cedera. Gopal meraung-raung, mengingat bagaimana ia hampir mati barusan.
"Yang benar saja, kita jatuh sedalam ini..." Tengadah Ying membawa sang gadis menemukan ujung lubang yang kini sebesar bola basket.
"Bagaimana ini... aku nggak ingin berakhir di sini lah!" Gopal mengguncang bahu Ying dan sukses membuat sang gadis jengkel. "Boboiboy! Tolong kami!"
"YING! GOPAL!" Di atas sana Boboiboy membalikkan badan. Sekuat tenaga ia berlari menyusul. "Boboiboy Taufan!"
'Satu menit lagi portal akan menutup!'
Dalam kepanikan Fang mengendus bahwa ada yang tidak beres. Lawan mereka ini memiliki strategi yang bagus. Fang sejenak berpikir, lalu matanya terbelalak begitu sebuah pemikiran melintas dalam otaknya.
"Berhenti! Ini jebakan!" Teriak Fang dengan lantangnya. Ia menarik bahu Boboiboy dan menghadangnya untuk berlari lebih jauh lagi.
"Kita nggak punya waktu lagi, Boboiboy!" Yaya ikut menimpali. Sejalan pemikirannya dengan Fang.
Boboiboy kembali pada sosoknya semula, menatap nanar lubang perangkap itu dari kejauhan. Tidak, tidak seperti ini seharunya. Ia semestinya bisa menolong mereka. Boboiboy hampir saja lolos Fang tak lebih sigap dan menangkap bahunya.
"Pergi! Cepat!"
Suara serak Ying adalah hal yang terakhir Boboiboy dengar sebelum deru angin melumatnya bersama kegelapan portal. Tak memberi kesempatan untuk suaranya lepas, ataupun gapaian tangannya 'tuk tuntas.
-CdS-
Portal terbuka pada arah yang lain, membuat ketiga remaja yang melompat keluar dari pusaran kelam itu terjun ke bagian bawah tebing. Jarak sekitar dua meter dari portal ke tanah membuat ketiganya mendarat dengan aman. Tak ada yang berani untuk saling menatap satu sama lain.
"Gopal..." Yaya menatap nanar, menengadah ke arah portal yang telah menghilang tanpa jejak. "Ying..."
Andai ada yang berkata bahwa detik ini adalah sebuah mimpi buruk. Berkata bahwa sebentar lagi mereka barulah membuka mata dan menghadapi dunia yang sebenarnya. Tapi sebentang langit senja yang persis sama dengan yang mengantar mereka pada misi ketiga ini terlalu nyata. Begitupun dengan gaung teriakan Ying dan Gopal yang masih tersisa.
Mereka pernah merasakan kegagalan menuntaskan misi di kesempatan pertama saat merebut sektor pertama Matra. Tapi untuk kali ini, terasa berkali lipat lebih getir. Seolah situasi tak bisa lebih buruk lagi.
"Mau bagaimana lagi, ini kan skenario terburuk yang pernah kita pelajari." Fang akhirnya buka suara, berusaha untuk tetap terlihat tegar walau masih menggigit bibir.
Boboiboy tak menggubris. Ochobot memang pernah menjelaskan apa yang harus dilakukan saat mereka terkurung dalam Matra setelah misi yang gagal dan portal terlanjur ditutup. Ochobot belum bisa mengakses sektor Matra yang baru, sehingga komunikasi otomatis terputus.
Dan apa yang bisa dilakukan saat terjebak dalam Matra adalah bersembunyi sebaik mungkin. Musuh takkan seagresif ketika distorsi terjadi dan portal terbuka. Tapi bukan berarti musuh berhenti mencari kesempatan untuk mendapatkan ingatan tanpa keluar lewat distorsi. Melawan pun kurang dianjurkan karena musuh akan terus beregenerasi sementara tak ada yang tahu kapan portal kembali terbuka.
"Harusnya aku sadar kalau itu jebakan..." Boboiboy bergumam pelan, menunduk semakin dalam.
"Semua salah kita yang belum siap, jadi diamlah," ucap Fang dingin, tanpa melirik lawan bicaranya.
Boboiboy mengangkat muka seraya menoleh pada sang rival. "Seharusnya bisa, setidaknya kalau aku sempat-"
"Tetap saja itu percuma!" potong Fang.
"Sedikit lagi, Fang!" Boboiboy kini berteriak lantang. "Kita bisa menolong Gopal dan Ying!"
"Harus berapa kali kuulangi, hah?!" Kehabisan kesabaran, rahang Fang mengeras. Kedua tangannya menarik bagian depan rompi Boboiboy.
"Fang, berhen-" Yaya mencoba melerai, namun kedua temannya itu sudah terlanjur panas.
"Pikir sekali lagi!" Fang mengerahkan seluruh tenaganya dan melempar Boboiboy ke samping. Pemuda bertopi itu seketika jatuh tersungkur tanpa perlawanan. "Jika kau yang terperangkap di sana, kau hanya akan tertangkap! TAMAT SUDAH MISI KITA!"
Sentakan terakhir menguras seluruh napas Fang, hingga ia terengah-engah selama beberapa detik. Mata kemerahannya masih mendelik tajam ke bawah. Tak lain pada Boboiboy yang perlahan bangkit dan duduk bersila. Fang menunggu sebuah jawaban, tapi perkataannya barusan tak mendapat sahutan lagi. Ia menggertakkan giginya dengan gusar.
"Dinginkan kepalamu, dasar bodoh!" seru Fang sebelum berbalik pergi.
Boboiboy sementara itu masih mematung, iris hazelnya terbelalak. Alih-alih mengejar dan balik menyerang kawannya itu, ia malah membisu. Kata-kata barusan masih menggema dalam pikirannya. Di misi ini, memang perannya adalah yang paling vital.
'Boboiboy, aku tahu kau pasti sangat kesal. Tapi perkataan Fang itu benar.' Ochobot akhirnya muncul lewat komunikasi nirkabel mereka. 'Jika kau terjebak, pelahap ingatan akan dengan mudah mendeteksi keberadaan jam kekuatanmu itu.'
"Aku tahu," sahut Boboiboy dengan segera. Ia menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir kata-kata yang hendak dimuntahkannya.
Pemuda bertopi itu tak ingin mengakuinya, namun perkataan Fang memang benar. Tindakan gegabahnya hanya akan membawa petaka lain. Ia tak boleh tertangkap dan membiarkan seluruh kekuatan dan ingatannya dirampas. Tapi itu tak cukup membenarkannya untuk meninggalkan kedua temannya.
"Boboiboy," panggil Yaya. Ia berjongkok di samping kawannya itu. "Kau nggak terluka kan?"
Yaya ingin bertanya apa Boboiboy baik-baik saja, tapi jawabannya pastilah tidak. "Ini semua bukan salahmu, kita yang memang kurang pengalaman." Benak Yaya sibuk menyeleksi kata-kata yang tepat.
"Tapi Yaya, tugasku juga untuk melindungi kalian bukan?" Boboiboy masih memungkiri. "Aku bisa memecah diri sekarang, harusnya-"
"Boboiboy!" Sentakan itu akhirnya membuat Boboiboy menatap sang gadis berkerudung merah muda.
"Walaupun sedikit, percayalah pada kami!" seru Yaya, kepalan tangannya bersandar pada dadanya. "Kami ada di sini bukan untuk diam, tapi untuk bertarung bersama!"
Terkadang Boboiboy lupa atas sifat tegas kawannya yang satu ini.
"Kita sudah tahu risikonya, jadi berhenti berpikir seperti itu." Yaya menambahkan, ekspresi wajahnya begitu teguh, hal yang membuat Boboiboy sedikit malu.
"Baiklah, maaf untuk yang barusan." Pemuda bertopi itu pun berdiri dan menepuk tanah dan debu yang menempel pada celananya. "Ayo kita kembali ke vila."
-CdS-
"Loh, yang lain sudah pada tidur, Fang?"
Ayah Fang yang pulang pada jam sembilan malam pun keheranan ketika mendapati sang anak dan teman bertopinya saja yang berada di ruang santai di lantai dua. Dengan sebuah papan permainan terhampar di karpet, keduanya berkompromi dan berusaha untuk terlihat biasa-biasa saja.
"Iya, barbeque-nya bisa besok kan? Ayah pasti lelah." Fang menyarankan demikian, menjadi sebuah alasan agar acara mereka yang satu itu ditunda.
Anggukan pelan menjadi jawaban dari pertanyaan Fang barusan. "Kalian sudah makan?"
"Sudah pak, hehehe." Kini Boboiboy yang menyahut, berusaha terdengar senormal mungkin.
Keringat dingin pun berhenti keluar saat ayah Fang memutuskan untuk beranjak ke kamar. Hanya ada Yaya selain kedua pemuda itu, namun ayah Fang tak menaruh curiga ataupun ingin memeriksa satu persatu kamar mereka. Hal yang membuat mereka bisa menarik napas lega.
"Oh ya Boboiboy. Hampir saja lupa!" ujar Ayah Fang tiba-tiba.
"Ada apa, pak?" Boboiboy tersentak kaget begitu ayah Fang menghampirinya kembali.
"Katanya kalau kau menemukan mereka lebih lama lagi, kondisi sang kakak mungkin takkan tertolong. Dia terkena radang usus buntu."
Hati Boboiboy mencelos mendengar hal yang barusan. Situasi sang anak ternyata separah itu rupanya.
"Untunglah kau sempat menemukannya, Boboiboy." Tangan besar itu kini menepuk-nepuk bahu Boboiboy. Remaja bertopi itu menangkap jelas sebuah senyuman dari ayah Fang.
"Syukurlah kalau begitu." Boboiboy hanya membalas sekenanya saja. Ia masih terpikir nasib kedua temannya itu.
"Oh ya, tadi ada yang bilang ingin menelponmu!" Tangan pria itu merogoh kantong mungil di pinggang dan menarik keluar ponselnya.
Boboiboy pun menerima ponsel ayah Fang dengan canggung sebelum mulai mendekatkan alat itu pada kuping kanan. Dari sambungan telepon itu, ia langsung mengenali suara seorang anak perempuan yang belum lama ini menangis sambil ia tuntun.
"Terima kasih, kak!"
Ungkapan yang begitu sederhana, namun menebarkan rasa hangat hingga ujung-ujung jemarinya yang semula dingin dan kaku. Kelopak matanya bergetar, menahan riak air yang nyaris saja tumpah dari netranya. Baru beberapa saat yang lalu ia menganggap bahwa ia gagal dalam melindungi kedua temannya, yang kabarnya kini menjadi simpang siur. Ia lupa soal kakak beradik yang ia temui siang tadi.
Masih ada yang bisa dia lakukan, yang dihadapinya sekarang bukanlah sebuah jalan buntu. Ia sekarang harus melepasnya dan percaya. Kedua temannya akan baik-baik saja sebelum mereka bisa menyusul ke Matra kembali.
.
.
.
Berlanjut pada chapter 11: Pertaruhan
A/N:
Sebuah rekor saya bisa menulis secepat ini! Semua berkat teman-teman dekat yang saling menyemangati dan meluangkan waktu bersama-sama untuk menulis hampir setiap hari.
Terima kasih kepada Mogurisan yang sudah mereview di chapter kemarin. Jujur, saya sempat ragu apa karya saya ini masih dibaca :')
Saya akan berusaha menjaga pace ini untuk chapter selanjutnya ^^
Salam hangat dan sampai jumpa di chapter selanjutnyaa~
