Di antara napas yang memburu. Akar dari gemuruh dalam dada. Satu persimpangan tiba, kala intuisi membunyikan pertanda ancaman. Inilah masa untuk mengesampingkan gagu dan kelu. Untuk satu kesempatan. Untuk satu pertaruhan.
Cipta dan Sirna
By: Koyuki17
Boboiboy © Monsta Studio
Chapter 11: Pertaruhan
Malam biasanya tak pernah gagal membuat Boboiboy untuk rebah dan menjemput mimpi. Namun tidak kali ini, hingga yang ia lakukan adalah meringkuk di kasur dan tak lama bangun kembali. Lalu iris hazelnya akan menatap nanar ke arah jendela yang tersembunyi di balik tirai putih. Pikiran Boboiboy kembali berkelana pada Matra ketiga, yang masih belum juga terbuka portalnya.
"Sudah enam jam... ya?" melirik ke arah Fang, Boboiboy menanti tanggapan.
Fang bahkan tak menoleh. Memunggungi Boboiboy, ia sibuk mengaduk-aduk isi laci kayu besar di bagian bawah lemari.
"Gopal dan Ying... menurutmu mereka baik-baik saja?" Boboiboy menelan ludah, pahit terasa. Ia tak bisa melepaskan diri dari kebiasaannya yang satu itu.
Helaan napas Fang kini menyahut. Ia sudah lelah mendengar pertanyaan itu kembali meluncur dari mulut Boboiboy. Setelah Ochobot ikut membujuk Boboiboy, ia rupanya masih saja khawatir. Gelisah karena belum bisa berbuat apa-apa. Fang tahu bahwa sekedar kata-kata itu masih kurang mempan.
"Nih!" Fang melemparkan sesuatu ke arah Boboiboy, yang segera ditangkap pemuda bertopi itu.
Rupanya sebuah headlamp bertali hitam dan merah. Kening Boboiboy yang semula berkerut kini mulai mengendur. Walau kelihatan tak acuh, Fang masih mempersiapkan segala sesuatu untuk misi mereka.
"Setidaknya mereka nggak akan kelaparan." Fang kembali buka suara. Ia menginspeksi dan mencoba menyalakan headlamp lain yang berhasil ia temukan. Namun dengan sengaja Fang mengarahkan lampu pada wajah Boboiboy. "Sip, masih nyala."
Fang yang terkekeh membuat Boboiboy lupa apa yang membuatnya cemas. Lalu ketukan membuat keduanya menoleh pada sumber suara. Fang yang berada paling dekat dengan pintu pun beranjak dan meraih kenop. Yaya berdiri dari balik pintu, menatap dengan isyarat meminta izin untuk masuk ke dalam.
"Masuk saja," ucap Fang singkat. Lalu ia kembali mengaduk isi laci besar itu, berharap menemukan benda lain yang bisa mereka gunakan nanti.
"Kau bisa tidur, Yaya?" Boboiboy menyambut Yaya begitu sang gadis mengambil posisi di atas kursi kayu di sisi yang berseberangan dengan kasur. Hanya tempat itulah yang bisa ia duduki alih-alih kasur para pemuda itu.
Yaya menggelengkan kepala. "Aku terus kepikiran Ying dan Gopal."
"Karena nggak ada yang bisa tidur..." Fang menyodorkan headlamp terakhir pada Yaya sebelum duduk di tepi kasurnya. "... kita bicarakan strategi untuk kesempatan kedua ini."
Boboiboy dan Yaya mengangguk bisu, raut wajah mereka berubah. Mereka mulai menganalisa bagaimana lawan mereka di sektor ketiga. Begitupun kemungkinan tempat dimana portal menuju pilar Matra berada. Namun dibandingkan kedua misi sebelumnya, mereka minim petunjuk. Baik itu tentang keberadaan Nukleus ataupun karakteristik musuh.
"Kita harus melakukan sesuatu dengan si Jubah Hitam!" ujar Yaya, lugas menusuk ke inti masalah.
"Apa mereka punya kelamahan, Fang?" tanya Boboiboy.
"Dengar dulu, ya..." Fang mendecakkan lidah, matanya melirik tajam ke arah Boboiboy, "... jangan anggap aku perpustakaan berjalan, lah!"
"Aku cuma bertanya saja, lah!" Boboiboy menyesal sudah bertanya barusan. "Kalau tertangkap, bisa saja keberadaan kita sampai dihapus, bukan?"
Seperti kakakmu. Sepasang kata-kata itu tak berhasil keluar dari mulut Boboiboy. Tercekat oleh nuraninya.
"Apa yang harus diantisipasi selalu sama. Kita tak boleh tertangkap." Fang menyahut dengan nada teramat serius. Keningnya bertautan. "Mereka punya pola pikir yang berbeda dari Jubah Abu. Kalau pergerakan Jubah Abu seperti dikomando oleh sesuatu dan polanya tetap, Jubah Hitam seperti punya watak sendiri. "
Penuturan Fang selanjutnya membuat Boboiboy dan Yaya menahan napas.
.
.
.
Ketiga arloji itu mengeluarkan pendar sinar kemerahan. Berselisih tipis dengan pesan singkat dari sang robot kuning. Dengan sigap, ketiga remaja mempersiapkan diri untuk menyelinap. Kepalan tangan yang mengencang mendesak gemetar dari tangan Boboiboy. Yaya memejamkan mata sejenak, mulutnya membisikkan doa singkat. Fang mengambil beberapa kunci dan memandu jalan ke bawah.
Suara dengkuran ayah Fang terdengar jelas di sana. Pastilah ia kelelahan setelah mengantar keluarga kecil itu ke rumah sakit. Mengendap-endap, ketiga remaja itu melintasi ruang tamu dan membuka pintu dengan hati-hati. Semoga saja mereka bisa pulang tanpa ketahuan nantinya.
"Semua siap?"
"Tentu!"
-CdS-
Tiga siluet kini berada di ujung tebing, saling berpegangan tangan dengan erat. Setelah aba-aba singkat dari Boboiboy, mereka melompat bersamaan ke dalam portal. Jeda sepuluh detik perjalanan portal kini terasa begitu lama. Begitu mereka melompat keluar dan mendarat di bentangan tanah lembap gua, ketiganya segera mengambil posisi siaga dan mengawasi setiap sisi. Bersiap-siap jika si Jubah Hitam muncul mendadak.
"Tidak ada di sini... ya?" Yaya mengelus dadanya, mencoba menenangkan debaran keras di balik tulang rusuknya.
"Bagaimana dengan Ying dan Gopal?" lidah Boboiboy nyaris tergigit saking gugupnya. "Apa sekarang kau bisa mendeteksi mereka sekarang, Ochobot?"
"Aku sedang memindai area di sekitar sana. Tunggu sebentar."
Pemindaian Ochobot tak pernah berlangsung hingga satu menit. Mereka telah sepakat untuk memastikan dulu kehadiran kedua kawan mereka yang terjebak itu sebelum mulai bergerak.
"Ada! Sinyal dari arloji Gopal dan Ying berhasil dideteksi!"
Kabar itu membuat kaki Boboiboy dan Yaya lemas dalam sekejap. Jika tidak berada di tengah-tengah area musuh, mereka barangkali bisa jatuh pada kedua lutut dan mengatur napas barang sejenak.
"Lalu posisi mereka?" Fang lantas bertanya.
"Koneksiku masih terbatas. Tapi sinyal samar mereka ada di bagian bawah gua."
"Komunikasi kita tak tersambung, bagaimana ini?" Yaya tak bisa menyembunyikan tangannya yang gemetar seusai mengotak atik arlojinya.
Fang menggigit bibir, tak ada informasi perubahan posisi sebelum mereka terpisah karena lubang sialan itu. Apalagi lantai yang sebagian besar adalah bebatuan solid tanpa tanda-tanda lubang menganga. Jatuhnya kedua kawan mereka jelas adalah perbuatan si Jubah Hitam. Itulah satu-satunya jalan masuk.
"Aku akan mencoba menyambungkan ulang komunikasi dengan mereka berdua!" bunyi jemari mekanis yang beradu dengan papan ketik segera menyusul.
"Kalau begitu kita akan mulai bergerak, Ochobot!" Boboiboy segera mengambil keputusan. "Waktu kami nggak banyak kan?"
"Tiga puluh menit." Ochobot menambahkan. "Semoga misi kali ini berhasil. Hati-hati semuanya!"
Tak hanya menemukan Nukleus, mereka harus menemukan kedua kawan mereka yang tertinggal. Menurut prediksi Fang, Jubah Hitam yang dihadapi kali ini kemungkinan ingin mempermainkan mereka lebih lama lagi. Ochobot juga menjelaskan catatan Jubah Hitam terdahulu, yang seringkali memiliki motivasi lain dan juga strategi tersendiri.
Boboiboy pun memecah dirinya menjadi kedua elementalnya: Halilintar dan Taufan. Sesuai strategi yang telah dirundingkan, mereka membentuk dua tim untuk mencegah semua orang selain Boboiboy masuk ke dalam jebakan. Yaya dengan Halilintar, sementara Fang bersama dengan Taufan.
"Apapun yang terjadi, kita harus memancing Jubah Hitam memunculkan lubang itu dan jatuh ke dalamnya bersamaan. Dia hanya membuat jebakan untuk dua orang, atau mungkin satu sekarang, supaya kita terpencar." Fang menatap kedua elemental Boboiboy. "Kecuali kalian berdua."
"Nukleus berarti ada di bawah. Jelas Boboiboy tak akan dibiarkan jatuh ke sana!" Yaya segera menangkap maksud dari musuh.
Bunyi gemuruh tiba-tiba terdengar. Seisi gua tiba-tiba bergetar hebat seperti terjadi gempa. Keremangan di sekitar tak bisa menyembunyikan retakan-retakan yang tercipta dari Matra yang tak stabil dari Boboiboy. Waktu mereka kali ini tak banyak dan mereka harus mendapatkan Nukleus sekaligus menjemput Gopal dan Ying.
-CdS-
"Katamu dia bakalan keluar kalau kita berpencar? Kok gak keluar-keluar sih, Fang?" ledek Taufan, yang mulutnya menganggur terlalu lalu. "Daan, jalannya buntu lagi."
Fang bungkam dan mulai berjalan kembali ke jalan yang baru saja mereka lewati. Ia melempar pandangan ke sekitar tanpa niat menoleh sumber suara barusan. Lampu senter Fang turut menyapu bagian dinding gua, berharap menemukan petunjuk di manapun itu.
"Jadi, kita perlu memanggil si Jubah Hitam itu keluar?" Taufan berlari-lari kecil mengejar teman setimnya itu.
"Hnnn." Fang mengiyakan dengan enggan. Lima menit dengan Taufan sudah hampir menguras kesabarannya.
Taufan pun nyengir dan menunjukkan deretan giginya. "Serahkan padaku kalau masalah enteng seperti ini!"
Fang secepat kilat melirik ke arah Taufan. Tepat ketika Taufan menarik napas dan mulutnya terbuka lebar-lebar.
"Woi, Pak tua HITAAAM!"
Fang membiarkan rahangnya terjun bebas. Matanya membelalak dan tubuhnya mematung di sebelah sumber teriakan barusan. Seberapa gegabah dan kurang rasionalkah elemental Boboiboy yang satu ini?
"Loh, kok nggak dijawab sih?" Taufan menggaruk-garuk kepalanya.
"Woi! Kenapa lah kau malah-" Fang sayangnya kurang cepat dari ancang-ancang teriakan Taufan berikutnya. "Oi, Tunggu!"
"Di sini!" langkah Taufan begitu leluasa seolah ia beada di rumah sendiri. "OOOOOIIII!"
Kepalan tangan Fang meninju kepala Taufan sekuat tenaga. "Bego, kalau dia langsung datang gimana?!"
Mereka memiliki waktu terbatas, dan musuh yang luar biasa berbahaya. Gegabah bukan pilihan yang baik.
"Ya, bagus kan?" cengiran Taufan disambut wajah masam Fang.
Gerakan cepat di belakang membuat Fang tersentak. Sebuah bayangan hitam menyelinap di belakang Taufan. Fang melompat mundur sambil menyeret Taufan dan melemparnya ke belakang. Ayunan pisau barusan batal menebas tubuh sang elemental angin. Si Jubah Hitam berdiri tegak, postur tubuhnya melewati tinggi Papa Zola mengintimidasi bisu. Wajahnya tersembunyi sepenuhnya di balik tudung.
"Buset! Beneran datang lah!" pekik Taufan.
"Waktunya tanggung jawab atau aku akan mengumpankanmu sekalian," ancam Fang. Kekuatan bayang langsung menyelimuti tangan dan bayangan tubuhnya pada lantai gua.
"Duh, kau ketularan Hali, ya?"
"Diam. Harimau bayang!" binatang bayang itu muncul di hadapan Fang dengan mata merah menyalanya. "Serang!"
Harimau bayang Fang berlari dan melompat, hendak menerkam si Jubah Hitam. Hanya memiliki pisau sebagai senjata, musuh pun membentengi bagian tubuhnya dengan menyilangkan tangan. Satu tangannya mengunci rahang si harimau, lalu ia menumpukan tenaganya pada kedua kakinya sebelum mengempaskan hewan itu ke dinding gua.
Seringaian yang terlihat akibat tudung yang sedikit tersibak memberikan firasat buruk pada Fang. Dan benar saja, Jubah Hitam itu tiba-tiba saja menghilang. Jelas bukan karena regenerasi, tapi sengaja menghilang.
"Sial, dia hilang ke mana?!" umpat Taufan sembari menengok ke area sekelilingnya dengan panik.
Fang mendecakkan lidah. Mereka harus mempersingkat pertarungan dan memaksa musuh mengeluarkan jebakan. Tak ada waktu untuk dipermainkan musuh seperti ini.
"Di belakang!" teriakan peringatan Taufan membuat jantung Fang melompat.
Menyadari ancaman di belakang, Fang membalikkan badan dan membentuk kepompong bayang. Tebasan musuh kali ini bisa merobek pertahanan Fang. Namun Taufan di belakangnya telah bersiaga dan siap menyerang.
"Pusaran Taufan!"
Angin kencang menghantam perut musuh, membuatnya terempas ke belakang dan menabrak dinding gua. Serangan barusan bahkan tak menghentikan pergerakan sosok itu. Jelas ia memiliki ketahanan tubuh lebih tinggi dari Jubah Abu. Suara tawa janggal yang keluar dari sosok itu mengingatkan keduanya pada orang-orang yang kurang waras.
"Cepat lari!" seru Fang. Mereka hanya akan dirugikan jika terus bertarung sekarang.
Tempat berpijak Fang tiba-tiba runtuh, menjadi lubang jebakan selebar satu meter yang segera melahapnya. Inilah kesempatan yang ia tunggu. Di tengah kepanikan itu, Fang segera mengonsentrasikan kekuatannya pada uluran tangangannya. Ia tak boleh jatuh seorang diri.
"Tangan bayang!"
Tangan bayang Fang melesat dan menangkap bagian depan baju Taufan. Sang elemental angin pun ditarik sekuat mungkin, dibantu oleh gravitasi yang menarik Fang jatuh. Tepat sebelum lubang jebakan itu ditutup paksa, Taufan pun berhasil masuk.
"Taufan! Sekarang!" teriak Fang lantang. Ia tak bisa mengeluarkan elang bayang di tempat yang sekecil ini.
"Oke!"
Lalu kejatuhan mereka berhasil diredam oleh kekuatan angin Taufan yang menubruk dasar jebakan. Keduanya sempat terempas tak begitu jauh ke atas sebelum mendarat di dasar lubang yang dibanjiri air setinggi betis. Fang langsung bangkit sambil mengaduh. Air menetes deras dari bajunya yang basah kuyup.
"Dingiiiiiin!" Taufan langsung bersilang dada. Ia menggosok-gosok pangkal lengannya. Sebuah upaya yang jelas percuma.
"Kita sudah ke bawah!" Fang tidak mengacuhkan Taufan dan mencoba menghubungi rekannya yang lain. "Bagaimana situasi di sana?"
"Fang! Syukurlah." Ochobot menjadi yang pertama menyahut. "Ada kabar buruk! Yaya terpisah dengan Halilintar!"
"Apa?"
"Kita barusan diserang. Dia memojokkan Yaya lalu menjatuhkannya ke dalam jebakan." Halilintar menjawab dengan gusar. Ia memandangi tanah dan bebatuan yang kembali seperti semula. Begitupun musuh yang hilang tanpa jejak.
"Apa?! Tadi jelas dia tadi menyerang kita!" Taufan mendebat. "Berarti musuh si Jubah Hitam itu ada banyak ya? Sial!"
"Tapi aku hanya mendeteksi satu. Mungkin dia memiliki kekuatan memperbanyak diri?"
"Yaya! Bagaimana situasimu sekarang?" tanya Fang.
"Aku baik-baik saja. Dia langsung menutup pintu jebakan dan aku tak bisa menarik Halilintar masuk."
Melihat cara menjawab Yaya, mereka bisa menerka sang gadis tak berada dalam keadaan yang membutuhkan pertolongan segera. Lagipula, mereka mengakui Yaya sebagai salah satu pengguna kekuatan yang seberapa kuatnya tak harus lagi ditanyakan.
"Kita lanjutkan saja misi! Waktunya tinggal duapuluh menit lagi, kita harus cepat."
"Kau yakin, Yaya? Kami bisa mengirim lagi Halilintar untuk pergi ke tempatmu!"
Boboiboy kembali bersatu agar Halilintar bisa masuk ke bawah. Posisi Yaya cukup jauh dari mereka, tapi terlalu riskan untuk berjalan seorang diri. Remaja putri itu mengamati sekeliling, yang sayangnya tak berbeda dari gua di bagian atas.
"Tidak apa, aku akan mencari Gopal dan Ying!"
"Lalu, apa kau menyadari sesuatu tentang kekuatan musuh?" tanya Boboiboy.
"Dia menyerang dari belakang! Padahal aku yakin jalan di belakang itu buntu." Yaya mengingat-ingat kembali situasi beberapa menit yang lalu itu. "Oiya, kalian menemukan cermin kecil di dinding gua tidak?"
Fang pun seketika termenung. Baik ia dan Ochobot mulai menebak kekuatan yang dimiliki si Jubah Hitam.
-CdS-
Petunjuk dari Ochobot menuntun Yaya untuk semakin dekat dengan sinyal lemah dari arloji Ying dan Gopal. Di sisi lain, Fang dan Taufan masih mencari portal menuju pilar dan Nukleus. Sayangnya pencarian keduanya masih nihil, dan genangan air memperlambat pergerakan mereka. Suara cipratan air di setiap langkah Fang dan Taufan tak bisa terelakkan.
"Hei, Fang. Bukannya lebih banyak mata yang mencari semakin bagus, ya?" Taufan mengomentari, tapi kedua matanya masih menelisik ke dinding gua dan sesekali menunduk. Hal yang membuat batang lehernya pegal.
"Aku tak sudi kalau harus kesetrum karena elementalmu itu ceroboh sedikit," tutur Fang tanpa kompromi.
"Ah, aku juga nggak mau." Kekuatan petir dan air di bawah mereka adalah kombinasi berbahaya. Taufan tak ingat akan hal ini.
Lalu sambungan komunikasi masuk, Yaya segera melaporkan dengan nada tergesa. "Aku menemukan ruangan aneh di gua, ada Jubah Hitam di dalam!"
"Yaya, jangan bertingkah gegabah dulu!" Ochobot segera merespon.
"Aku tahu, tapi arah sinyal arloji itu dari sana!" ujar Yaya dengan tak sabar.
"Kau lihat Gopal dan Ying di sana?" Fang bertanya memastikan.
"Tidak ada!" Yaya segera menarik diri dari balik pintu yang sedikit terbuka itu. "Tapi ada cermin di ruangan barusan."
"Cermin ya, berarti dugaan barusan itu benar." Ochobot lalu memberi instruksi lanjut. "Cari cermin di sekitarmu Yaya! Itu adalah jalan bagi musuh untuk menyerang kalian dari belakang!"
Yaya pun mengiyakan dan segera melangkah dengan hati-hati menyelusuri jalan gua. Mata jelinya mencari pantulan cahaya yang diakibatkan oleh cermin. "Lalu Ying dan Gopal di mana?"
"Mungkin mereka ada di tempat lain."
Sebuah tangan tiba-tiba keluar dari celah di dinding gua, menggenggam kaki Yaya hingga ia nyaris menjerit. Tapi Yaya langsung membekap mulutnya, kakinya sekuat tenaga mengibas-ngibas, mencoba untuk lepas.
"Ada apa Yaya?!" Ochobot tentunya ikut panik.
Suara akrab dari teman berkacamata bulat mereka pun membuat Yaya sadar siapa yang menangkap kakinya itu. "Sembunyi, Yaya! Kami ada di sini!"
.
.
.
Pencarian portal semakin sulit ketika kedalaman air bertambah, mau tak mau mereka mulai berenang dan menyelam. Suara riak air membuat Fang dan Taufan tak mendengar apapun dari handsfree mereka. Taufan mengarahkan sorot cahaya headlamp ke bawah, tepat lima langkah di depannya. Ada pusaran warna gelap di bawah permukaan air yang jernih itu. Tepat pada bagian dasar gua yang cekung. Bunyi Matra yang retak berasal dari sana. Tak salah lagi.
"Portalnya ada di bawah sana!" pekik Taufan begitu ia menembus permukaan air untuk mengambil napas.
"Kenapa harus di sana sih?!" Fang mengomel. Namun secepat kilat ia menarik napas dan berusaha untuk menyelam.
Saat itu Fang juga melihat pantulan cahaya di dekat portal saat senternya menyorot. Sebuah cermin yang cukup besar ada di sana. Sebuah tangan keluar dari balik cermin, lalu sosok berjubah hitam yang mereka temui barusan tahu-tahu ada di bawah mereka. Sosok itu mengambil ancang-ancang lalu menerjang Fang hingga mereka keluar dari air. Layaknya predator laut yang melompat dan menerkam mangsanya.
-CdS-
"Syukurlah kalian dataaaaaang," Gopal meraung sambil mengusap air matanya yang terjun bebas tanpa bisa ditahan lagi.
"Ssssst! Pelankan suaramu, Gopal!" bentak Ying sambil menampar bahu remaja tambun itu.
"Kenapa kalian ada di sini? Lalu arloji kalian," Yaya memberondong dengan pertanyaan.
"Kita terpaksa mencopot arloji untuk mengecoh Jubah Hitam. Lalu kami menemukan tempat persembunyian ini." Ying menjelaskan sesingkat mungkin.
Yaya mengangguk lalu mencoba menghubungi rekannya. "Ochobot, aku menemukan Ying dan Gopal. Bagaimana dengan posisi musuh?"
"Dia menyerang Fang dan Boboiboy. Cepat ambil arloji itu dan bantu mereka!"
.
.
.
Taufan memanjat bebatuan begitu berhasil melintasi portal. Ia langsung terbatuk-batuk keras, tenggorokannya perih. Dalam pikirannya saat itu adalah Fang, karena musuh langsung menyerangnya dan ia tak bisa berbuat banyak dan terus menyelam menuju pilar.
"Fang! Kau baik-baik saja?!" seru Taufan panik, menunggu jawaban dari jalur komunikasi mereka.
"Cari saja di mana Nukleusnya, bego!"
Di luar pilar, Fang telah menjejak bagian gua yang dangkal airnya. Di hadapannya tak lain si Jubah Hitam, pisaunya teracung. Tudungnya telah tersibak seusai keluar dari air. Menunjukkan wajah seorang laki-laki berkumis tipis dan rambut panjang sebahu. Ia menyeringai padanya dengan wajah haus darah.
Ini dia, situasi yang cukup merugikan Fang karena ia seorang diri sekarang.
Di sisi lain, Taufan mengikuti arahan Fang dan menyapu area sekeliling dengan mata safirnya. Bagian dalam pilar adalah gua yang nyaris serupa, namun bukanlah stalagmit atau stalaktit yang menghiasinya. Kristal-kristal hijau berbagai ukuran menyebar di sepanjang gua.
Dalam hitungan detik, Boboiboy yang kembali ke wujud semulanya menemukan Nukleus berwarna keemasan berada di dalam kristal yang tingginya sebahu dan menempel di dinding gua. Boboiboy pun mengaktifkan kekuatannya dan berubah menjadi Halilintar.
"Pedang Halilintar!"
Menghunuskan senjata itu, Halilintar mulai menebas kristal. Ayunan tangannya nyaris membabi buta. Beberapa potongan benda berkilau itu berhamburan di sekitarnya. Sepuluh menit lagi, ia harus mengeluarkan Nukleus itu sebelum waktu mereka habis.
Tapi teriakan Yaya dan Ying nyaris menghentikan gerakan tangannya. "Fang!"
Halilintar menahan napas, suara ribut yang ia dengar dari luar jelas bukan pertanda bagus. Pemilik kekuatan bayang itu sepertinya telah dikalahkan.
"Boboiboy! Musuh datang ke arahmu!" seru Ying.
"Tsk!"
Boboiboy pun kembali berpecah menjadi kedua elementalnya. Halilintar segera memunculkan banyak sekali pedang petir- yang dibiarkan jatuh dan menancap di dasar gua. Taufan memandangi tingkah sang elemental petir itu dengan keheranan
"Jika aku tak bisa melanjutkan, kau yang menghancurkanya." Ucap Halilintar. Ia menggenggam dua pedang sekarang, mengambil ancang-ancang untuk mengantisipasi kedatangan musuh.
"Eh?! Tunggu!"
Jubah Hitam pun melompat keluar dari portal. Sekejap di udara, ia pun langsung menerjang ke arah Halilintar dengan ayunan pisau yang sangat cepat. Halilintar segera menangkis serangan itu, ia mencoba memukul mundur musuh tapi kekuatannya kalah besar. Ia justru yang terdorong ke belakang.
"Tusukan Pedang Halilintar!" Halilintar yang akhirnya bisa menepis serangan pun balas menyerang. Namun musuh lebih cekatan dan menghindar ke kanan.
Taufan yang semula kebingungan mau tak mau mengambil pedang Halilintar dan mulai menebas kristal itu dengan kalap. Tapi tak lama pedang Halilintar yang pertama pun pecah. Ia lantas meraih pedang kedua. Begitu seterusnya. Sementara itu, Halilintar dan si Jubah Hitam masih dalam pertarungan sengit. Seragan Halilintar selalu gagal mengenai musuhnya itu.
PRANG!
"Yang benar saja?!" teriak Taufan begitu pedang Halilintar terakhir yang ia dapatkan akhirnya patah dan menjadi mosaik tanpa makna. "Sial!" umpat Taufan.
Kalau saja sekarang adalah dimensi Matra yang membutuhkan kekuatan manuver di udara. Ia pasti akan lebih berguna! Bukan mencungkil sesuatu dari bongkahan kristal yang sesuai namanya, saking kukuhnya belum menunjukkan tanda-tanda akan hancur. Retak-retak yang ia hasilkan sejak tadi masih belum cukup.
"Taufan!" Halilintar berseru dengan gemas. Ia hampir kehabisan akal untuk menahan lawan seorang diri. "Cepatlah! Jangan cuma diam!"
"Ngomong sih gampang! Pedangmu patah semua, nih!" Taufan mengacungkan gagang pedang yang tersisa.
"Pikirkan sendiri!"
Taufan memberengus tapi mulai memutar otak. Mata safir itu membelalak lebar begitu sebuah ide brilian mengecup dahinya saat itu juga. Sang elemental angin menampar pelipisnya keras, menyesali kenapa ia tak melakukannya sedari tadi. Ia bisa memanfaatkan kekuatannya sendiri untuk bisa mengamankan Nukleus matra ini.
"Gerudi Taufan!" Tangan kanannya kini diselimuti pusaran angin yang meruncing pada bagian ujungnya.
Pusaran angin yang ia ciptakan kini berputar semakin cepat. Ujung dari pusaran itu menajam seperti mata bor. Suara nyaring memekakkan telinga tercipta, diiringi bunyi Kristal hijau yang akhirnya mulai retak.
"Masih belum cukup kuat!" seru Taufan frustasi.
"Taufan! Bawa semuanya menjauh dari air!" Halilintar berteriak lantang. "Akan aku akhiri dia sekarang juga!"
Taufan termenung sejenak. "Ap- Kau sudah gila?!" sisa akal sehat Taufan memprotes ide sinting Halilintar.
"Percaya padaku!" Halilintar berteriak sekali lagi. "SEKARANG!"
Sentakan Halilintar tak lagi dibantah oleh Taufan. Kaki tangkas elemental angin itu segera beraksi. Dengan kecepatan yang luar biasa dari hooverboardnya, Taufan melompat melewati portal. Matanya menyelidik sekitar dan menangkap Fang yang dibantu oleh ketiga temannya.
"Semuanya! Menjauh dari air! SEKARANG!"
Halilintar pun mengambil momentum dan mendorong musuh jatuh ke dalam portal. Ia segera menyusul, dan secepat kilat menyebarkan pedang petirnya di bagian dasar gua yang tenggelam dalam air. Ia memusatkan kekuatan petirnya, dan menciptakan petir yang paling kuat.
Rasakan ini!
Suara petir yang memekakkan telinga membuat dinding gua bergetar hebat. Semua yang melarikan diri memandangi percikan listrik besar itu dengan ngeri. Menerima serangan telak, si Jubah Hitam pun membeku dan lenyap. Ochobot mengumumkan waktu regenerasi musuh. Serangan pamungkas itu telah berhasil.
Halilintar kembali menyelam dan melewati portal. Sedikit terhuyung, ia sampai pada kristal yang sedikit lagi hancur. Dalam tiga tebasan kasar, retakan pada kristal itu terhubung. Sebuah bolah keemasan jatuh ke lantai gua. Ia membungkuk sembari menarik napas panjang. Tepat dua menit sebelum batas waktu, Nukleus sudah ada di tangan.
-CdS-
Fajar beberapa saat lagi menyingsing, menemani kelima remaja yang berjalan pulang bersisian. Misi mereka akhirnya berbuahkan hasil, walau kembali harus dibayar dengan peluh dan terjaga semalaman. Ayah Fang masih mendengkur keras di kamar, saat mereka mengendap-endap menaiki undak tangga.
Lalu apa yang mereka lakukan?
Tak ada yang bisa membuka mata setelah menjatuhkan diri di atas kasur masing-masing. Untunglah ayah Fang tak curiga dan membiarkan mereka beristirahat sepanjang pagi.
Kelelahan sepanjang malam berimbas pada pesta barbeku yang baru dimulai sore hari. Berbagai daging dan olahannya seperti sosis, bakso, dan sayur-sayuran pun disusun dalam tusukan kayu dan dipanggang di atas bara api. Suara desisan memenuhi udara, aroma gurih dan kepulan asap putih tipis yang menari-nari singkat sebelum lenyap.
Setiap kali satu deret makanan yang masih mengepulkan asap tipis itu siap disantap, Gopal akan melesat maju dan mengambil setidaknya dua sosis panggang atau daging. Boboiboy dan Ying tercengang memandangi piring yang nyaris ludes.
"Gopal, kita belum pada kebagian lah!" Ying memprotes keras.
"Balikin sini dagingku!" Boboiboy menyergap Gopal dari belakang, siap bergelut untuk merebut kembali jatah makanannya.
"Eits siapa cepat dia yang dapat lah!" Gopal mencoba mengangkat piring makanannya tinggi-tinggi. Menjaga harta karunnya dari jangkauan tangan-tangan itu.
Lalu Yaya mulai mengomeli Gopal dan mereka berempat kembali bergaduh. Keempatnya begitu ribut sampai tak menyadari bahwa ayah Fang yang masih memanggang daging itu memperhatikan mereka dengan tertawa pelan.
"Temanmu itu anak-anak yang baik ya, Fang."
Sebuah ungkapan dari sang ayah segera memunculkan rona samar di pipi Fang. Hanya sekejap saja sebelum Fang berdeham dan kembali menyodorkan piring untuk daging-daging yang sebentar lagi matang.
"Iya, tapi pada berisik, Yah."
Tangan besar sang ayah menepuk dan mengelus puncak kepala Fang. "Jaga mereka baik-baik."
Fang tak lagi mengindari kontak mata dengan sang ayah. Kebiasaan yang muncul karena ia tak mau mendapatkan sorot mata iba, atau sirat kepiluan melihat Fang saat mempertahankan fakta tentang kakaknya. Kali ini, raut wajah sang ayah begitu teduh. Kepercayaan yang telah lama Fang tunggu, kini tersirat dari sana.
"Tentu, mereka takkan bisa berbuat banyak tanpaku!" Fang membusungkan dada lalu tersenyum lebar.
-CdS-
"Kau masih belum melakukannya?" Boboiboy terlonjak akibat suara dari arah belakang.
Fang memergoki remaja bertopi itu berada di balkon, membolak-balik Nukleus berwarna keemasan. Situasi kemarin malam pun terulang begitu Fang duduk di kursi. Namun kali ini yang tengah risau dan tak bisa tidur adalah Boboiboy.
"Ini baru mau," tutur Boboiboy. Ia kini menekan bagian khusus dan mengambil chip mungil dengan hati-hati. "Perjuangan kita masih panjang, ya."
"Kau sudah lupa apa yang kau ucapkan kemarin?" dengan alis terangkat, Fang melemparkan pandangan penuh meremehkan. "Semakin mengkhawatirkan, nih."
"Berisik! Bukan itu lah maksudku!" Boboiboy tak berniat lagi menggubris dan memasukkan chip mungil itu pada selot yang tersedia.
Pemandangan balkon dan sosok Fang yang duduk di hadapannya mengabur. Boboiboy sempat melihat mulut Fang kembali berucap, tapi tak ada suara yang sampai. Bagaimana Fang memandangnya pun tak seperti biasanya. Masih sebanyak apa hal yang ia tak tahu tentang kawannya itu?
Temaram yang melumat penglihatan Boboiboy memudar. Segala sesuatu di sekitarnya berubah. Boboiboy kembali ke tempat yang langsung dikenalinya. Ruangan dengan tembok yang jebol, bagian dari gedung apartemen bertingkat-tingkat. Kenangan terjun bebas bersama Taufan pun datang tanpa permisi.
"Aaah. Bagaimanapun juga, aku tak tahu ini sebenarnya di mana," Boboiboy terhenyak ke sandaran kursi kayu yang ia duduki.
Semenjak mendapatkan Nukleus, Boboiboy selalu berakhir masuk ke sana. Kali ini, ia mengamati dengan jeli semua barang yang ada di ruangan itu. Kursi kayu berwarna legam yang begitu nyaman ia duduki. Piagam-piagam dalam bingkai kayu tergantung miring di tembok. Televisi besar di hadapannya bahkan pemutar kaset. Semua terlihat familier padahal baru tiga kali ia berada di tempat ini.
Lalu aroma yang selalu bisa Boboiboy kenali di manapun membuatnya melirik ke arah pintu. Dua buah mug berisi cokelat panas dibawa oleh sosok yang menyerupai dirinya. Sama-sama memakai kaus putih dan celana biru. Ia melangkah masuk dengan hati-hati supaya minuman itu tak tumpah.
"Malam ini cerah sekali, bukan?" bagian kursi di samping Boboiboy kini terisi. "Minumlah. Hari ini pasti melelahkan bukan?"
"Te... terima kasih." Jarak yang dekat membuat Boboiboy bisa melihat warna mata keemasan nyaris membuatnya mematung di tempat.
Menyadari sedang diamati, elemental barunya itu tersenyum memaklumi. Namun Boboiboy salah tingkah dan langsung menyibukkan diri dengan segelas cokelat panas yang baru saja ia terima. Ia mulai meneguk minuman manis itu sampai tak bersisa.
"Kok jadi canggung begini, ya?" sosok itu pun tertawa. Sikapnya mengingatkan Boboiboy pada seorang teman yang teramat akrab. Dan aneh melihat sosok itu berwujud serupa dirinya sendiri.
"Asalnya aku sudah siap kalau harus terjun bebas lagi." Boboiboy pun berdeham, mencoba untuk tak terdengar canggung.
"Taufan sih ya," tukas sosok itu. "Tapi kau takkan pernah terluka atau mati di sini. Semoga itu bisa membantu."
"Begitukah? Rasanya aku benar-benar mau mati waktu itu." Mencuri pandang ke luar, Boboiboy menemukan purnama yang waktu itu terlihat begitu dekat.
"Masih ada empat yang akan muncul setelahku. Kau sudah siap?" Kembali, uluran tangan pun menunggu untuk disambut.
"Tentu saja, aku ingin semakin kuat untuk melindungi semuanya." Boboiboy menjabat tangan yang terasa lebih keras dan kuat dari miliknya.
Elemental itu pun tersenyum puas. "Gempa. Akulah ingatanmu yang ketiga."
-CdS-
Mereka pulang dengan setumpuk oleh-oleh yang ayah Fang berikan. Untuk keluarga di rumah, itulah yang beliau katakan. Tak ada yang tak menyadari bagaimana ekspresi Fang, yang malu begitu sang ayah meminta mereka untuk tetap akrab dengan sang anak. Boboiboy sempat melamun, apa hubungan ayah dan anak itu telah membaik dengan kehadiran mereka?
Begitu mereka sampai pada akhir misi, semua seharusnya terungkap. Tentang mengapa Matra ada. Tentang keberadaan kakak Fang. Semua hal yang tak bisa ia tanyakan saat ini.
Tapi yang terpenting sekarang adalah misi. Ya, mereka harus tetap siaga untuk menyambut distorsi Matra selanjutnya.
.
.
.
Boboiboy berekspektasi bahwa ia akan tidur sepuas mungkin begitu mencium kasur kesayangannya itu di rumah. Baru saja ia berbaring, harapan itu pupus sudah. Integrasi membuat Boboiboy terpecah menjadi ketiga elemental. Seketika kasurnya menjadi petak sempit hingga Gempa hampir bisa dibilang terjepit di tengah, posisi yang jelas paling tidak nyaman.
"Jadi... nggak ada perkenalan?" tanya Taufan penuh harap.
"Berisik, tidur sana!" Halilintar langsung menolak.
"Lebih baik kita simpan saja sampai besok." Gempa memihak Halilintar.
"Kok di sini sempit, ya? Geser dong!" suara Taufan yang cukup keras membuat Gempa melotot padanya.
"Sudah mentok lah ini!" Halilintar memprotes.
Lebar kasur Boboiboy tak terlalu besar. Membalikkan posisi menjadi menyamping pun hanya akan membuat mereka tidur dengan setengah kaki terjulur dari kasur. Posisi yang jauh dari kata nyaman dan mereka tak punya banyak pilihan.
"Masih bisa, tuh! Aku kepepet tembok nih!" Taufan tak sudi harus berbaring miring semalaman dan membuat tangannya kesemutan.
"Hei! kalau Tok Aba bangun habislah kita!" Gempa tak ragu untuk mengomel kendati ia paling baru di sana.
"Geser... lah!" Taufan mendorong Halilintar dengan setengah badan menimpa Gempa.
"Kau tidur saja di bawah!"
Gempa akhirnya bangkit dan melirik mereka bergantian dengan wajah murkanya "Ayolah! gimana kalau Tok Aba-"
Daun pintu yang membentur dinding dengan keras memotong kegaduhan mereka. Ketiga elemental itu melirik ke arah pintu dengan tatapan horor.
"Boboiboy! Ini jam sebelas malam, lah! Tak bisa kamu ti-"
Ketiga elemental dalam kamar itu seketika membeku begitu melihat sosok Tok Aba yang sudah merah menahan amarah. Taufan termangap-mangap. Halilintar melotot. Gempa, yang terjebak di antara dua elemental yang barusan gaduh pun diam tak berkutik. Tok Aba pun hanya bisa terbelalak melihat keganjilan yang ada di depan batang hidungnya.
"Ah, anu..." Taufan malah buka suara.
"Jangan ngomong apapun!" desis Halilintar. Ia tahu betul elemental yang satu ini hanya akan menambah runyam keadaan.
"Tunggu sebentar..." Tok Aba memunggungi mereka sejenak sambil memegangi kening. Setelah membersihkan kacamatanya dengan cepat, Tok Aba membalikkan badan. Ditatapnya tiga sosok identik yang masih membeku di atas kasur.
"Boboiboy...?" ia memicingkan mata.
"Iya, Tok?" refleks, ketiga elemental itu menjawab kompak.
Tok Aba seketika pingsan di tempat.
.
.
.
Berlanjut pada chapter 12: Bara
A/N: Lama tak bersuaaaaa :)
Terima kasih bagi pembaca yang masih mengikuti tulisan saya ini. Dan sekali lagi mohon maaf karena kembali menghabiskan banyak waktu untuk merampungkan chapter ini.
Petualangan dalam Matra baru akan mencapai tengah, dan semoga saja saya bisa kembali konsisten dalam menulis. Memang ada tulisan lain yang sedang saya garap, dan belum lagi pekerjaan sendiri.
Akhir kata, salam hangat dan sampai jumpa kembaliii~
