Kirana memercikkan bunga-bunga mungil pada gulita udara. Merambati sunyi dengan sentuhan niskala, tetapi sarat akan sengatan panas. Banyak yang mengenalinya sebagai tanda bahaya, yang dalam sekejap mata bisa membumihanguskan segala yang disentuhnya. Namun dialah napas dari kehidupan. Peretas kelam maupun relung-relung beku.
Cipta dan Sirna
By: Koyuki17
Boboiboy © Monsta Studio
Chapter 12: Bara
"Kalau kau sih, kurasa nggak akan dicurigai." Halilintar menepuk pundak kanan Gempa.
"Semoga beruntung!" Taufan nyengir dan menepuk pundak Gempa yang satu lagi.
Pupil mata Gempa pun menyempit. Ia saat itu menjadi satu-satunya orang yang refleks melompat dari kasur dan mengecek keadaan sang atok. Sebelum Gempa membuka mulut, kedua elemental itu langsung mengambil langkah seribu. Mereka dengan kompak menuruni tangga.
"Hei!" Gempa segera menengok ke bawah lewat jendela kamar. Ia hanya sempat melihat kedua elemental itu kabur tanpa menoleh lagi padanya.
.
.
.
Tok Aba mengerjapkan mata, dan seketika disambut oleh wajah dengan sirat khawatir yang kentara. Sang atok tentunya tak menyadari bahwa yang ada di sampingnya adalah sepertiga dari sosok cucunya. Namun sekali lagi, manik mata berwarna berbeda itu tak nampak olehnya.
"Tok, syukurlah atok bangun." Menghela napas panjang, Gempa membantu kakeknya itu duduk dan bersandar di kusen pintu.
"Kenapa... atok tadi pingsan ya?" Tok Aba mengusap-ngusap kepala. Ia melamun sejenak, keningnya bertautan. "Tadi rasanya lihat sesuatu."
"Ti... tidak ada apa-apa Tok!" Gempa langsung menyela. "Tadi atok masuk ke kamar lalu tiba-tiba pingsan!"
"Masa?"
"Mungkin atok kelelahan? Kedai sedang ramai kan akhir-akhir ini..."
Peluh mengalir dari pelipis, Gempa panas dingin begitu kembali mendapat tatapan penuh selidik. Ia sungguh tak ingin membohongi orang yang sudah merawat cucunya ini sedari kecil. Ia harus mengalihkan dugaan itu dengan halus.
Fakta bahwa Tok Aba pingsan karena melihat cucunya mendadak ada tiga, harus bisa dienyahkan. Tapi bagaimana kalau nanti mereka menuntaskan misi terakhir mereka dan berpecah menjadi tujuh sekaligus? Kepala Gempa sudah berputar saat membayangkannya.
"Tumben kamu bilang begitu, Boboiboy?" Tok Aba pun nyengir, tangan keriputnya menampar punggung Gempa hingga ia mengaduh. "Besok pagi bantu atok dong!"
"Baik, Tok!" jika ini bisa mengakhiri dialog mereka, Gempa akan melakukan apapun.
"Nah, sekarang lekas tidur. Besok kau harus bangun pagi sekali."
Tok Aba menutup pintu kamar, tanpa berkata apapun lagi. Lolos dari kecurigaan untuk sementara, tubuh tegang Gempa pun melonggar dan rebah di atas kasur. Menatap langit-langit, elemental tanah itu terhanyut dalam lamunan.
Jika mereka malah membuat situasi semakin runyam, Gempa bertekad akan memuntahkan semua amarah yang kini harus ditelannya bulat-bulat. Gempa kini berharap mereka bisa sampai pada tempat bermalam dan tidak menggelandang di pinggir jalan.
.
.
.
"Hompimpa!"
Di bawah gazebo taman, siluet dua sosok remaja nampak tengah berhadapan. Taufan mengeluarkan gunting, yang jelas menang jika dihadapkan dengan kertas yang dikeluarkan Halilintar. Taufan berjingkrak kegirangan, di sisi Halilintar mendengus. Apa yang mereka pertaruhkan barusan? Tentunya tempat mereka bermalam sekarang.
"Yes! Aku ke rumah Gopal, kau yang numpang di rumah Fang!" Dengan sengaja Taufan menyiku rusuk Halilintar, hanya untuk memunculkan bibir cemberut dan rutukan dari mulutnya itu.
Selain memiliki jarak yang cukup jauh, rumah Fang, lebih tepatnya kamar Fang berada di lantai dua. Belum lagi bayangan mereka tentang reaksi teman berkacamata mereka itu. Tapi, hei! Mereka sudah menyepakati hal ini sejak melihat Boboiboy berpecah menjadi dua pada integrasi sebelumnya. Yaya dan Ying tentunya tidak bisa menjadi pilihan, mengingat tak bermoral untuk menyelinap ke kamar mereka malam-malam.
"Kenapa harus ke rumahnya, sih?" celetuk Halilintar.
"Kalau nggak mau, ya coba cari tempat aman dan pastikan kamu nggak terjaring patroli!" Taufan terkekeh.
"Berisik!" disamakan dengan tunawisma membuat emosi Halilintar menjadi.
Halilintar tak lagi menggubris tingkah sang elemental angin dan mulai berjalan menjauh. Ia menarik tudung jaket hitamnya hingga menutupi sebagian wajahnya. Ia masih merutuki pertaruhan mereka lewat permainan kanak-kanak itu. Senandung Taufan tak sampai lagi pada kupingnya, terbawa oleh angin yang membuat tubuhnya sedikit menggigil.
Harus berjalan selama tiga puluh menit menjadi alasan pertama mereka enggan ke rumah Fang. Alasan kedua adalah akses masuk kamar Fang di lantai kedua. Tak bisa mereka bertamu secara wajar lewat pintu depan. Maka pohon setinggi enam meter di samping jendela Fang pun menjadi satu-satunya akses yang tersedia.
Mengetuk atau melempar batu sebanyak tiga kali ke jendela adalah kode rahasia yang telah disepakati. Setelah menemukan tiga buah kerikil, Halilintar mulai melemparkan satu demi satu dengan tenaga yang diperhitungkan hati-hati.
Tak berselang lama, tangan sang pemilik kamar mendorong jendela ganda dengan satu sentakan yang keras. Remaja berambut ungu gelap yang acak-acakan pun melongok ke bawah. Wajah Fang terlihat masam begitu menangkap sosok tamu tak diundangnya malam ini.
"Tsk! Nggak kukira integrasi sekarang pun kau sudah harus meminta tolong."
Halilintar bungkam, bagaimanapun ia adalah orang yang ikut menumpang malam ini. Ya, hanya untuk satu malam ini.
-CdS-
Kekhawatiran Yaya dan Ying setiap kali Integrasi elemental baru Boboiboy tiba adalah sikap Boboiboy yang terlalu berbeda dari biasanya. Mereka telah mengantisipasi jikalau ada keramaian seperti parade skateboard dadakan tempo hari.
"Kupikir, akan muncul lagi pembuat onar." Ying berbisik pada Yaya. Mereka berdua berhenti tepat di depan pintu kayu ganda kelas mereka yang setengah terbuka.
"Kalau begini, bukan kan ya?" Yaya tersenyum simpul.
Tak ada yang menduga akan menemukan elemental Boboiboy itu tengah mengomandoi seisi kelas. Boboiboy Gempa sesekali menengok kelompok kerja yang sibuk membuat properti. Tak lama ia memantau latihan para pemeran drama dan memberikan masukan pada sutradara mereka. Bahkan ia ikut membantu memasang layar latar yang telah selesai dilukis.
"Yaya! Ying! Untunglah kalian datang juga!" begitu kedua temannya melangkah masuk, Gempa menyapa dari atas bangku. "Nah, sekarang tinggal diikat saja ke sana!"
"Maaf tadi rapat OSIS-nya agak lama," ucap Yaya.
"Tidak apa-apa. Oiya, menurutmu ini sudah oke?" Boboiboy melompat dari atas bangku dan kembali mengecek layar yang telah terpasang.
"Sudah cukup, kok!" Ying mengacungkan jempol. "Tinggal kita coba di aula nanti! Kalau begini, pasti hasilnya bagus."
"Kau mencolok sekali hari ini." Fang, yang sedari tadi latihan drama pun akhirnya bisa kabur sejenak untuk ikut dalam percakapan. "Tiba-tiba minta semua orang buat mendengarkan pendapatmu. Terus bagi-bagi lagi kelompok kerja. Ikut nimbrung ke sana-sini."
"Ya bagus kan?" Ying menimpali selagi bersedekap dada. "Toh kelas kita yang susah diingatkan saban latihan tiba-tiba jadi jalan mulus seperti ini."
"Bukan itu masalahnya." Fang mendecakkan lidah. "Pokoknya, sore nanti langsung ke Matra dan jangan keluyuran!"
Panggilan dari teman-teman lain membuat Fang berbalik dan kembali berlatih. Sekali lagi, tingkah Fang membuat ketiga orang itu terheran-heran. Fang masih belum menceritakan semua hal tentang Matra.
.
.
.
Stadion kota mulai dijamahi langkah-langkah kaki dan obrolan santai para pengunjung. Lorong-lorong panjang pun tak lagi sepi. Dalam suasana yang ramai ini, melebur adalah satu kesempatan. Namun luput dari mata orang yang mungkin mengenali mereka menjadi satu perkara.
Taufan mengenakan jaket bekas Gopal yang masih juga kedodoran. Bertengger kacamata berlensa gelap di batang hidungnya. Sementara itu, Halilintar terpaksa meminjam setelan olahraga Fang (yang diingatkan untuk segera dicuci setelah dipakai).
"Kok lama? Demen ya tinggal di sana."
Sambutan dari Taufan membuat Halilintar ingin menarik kerah jaket Taufan dan mendorongnya ke tembok kelabu. Rahangnya yang mengeras sudah tak sanggup menahan lontaran kata-kata.
Tapi tidak di sini. Tidak untuk mengundang kasak-kusuk orang-orang apalagi rekaman kamera yang bisa memperunyam situasi.
"Begitu masuk Matra, kita latihan tanding lagi!"
Taufan meringis. Ingin rasanya ia menunggu di luar saja dan tak masuk ke dalam pintu menuju Matra yang ada di sampingnya itu. Semenjak mereka berlatih bersama, Taufan selalu kewalahan jika Halilintar mengeluarkan semua tenaganya.
-CdS-
Jam pelajaran terakhir sore itu terasa lambat dan Fang hampir kehilangan kesabarannya. Berulangkali ia melirik arlojinya, dan kali ini sebuah pesan masuk dan layar mungil itu menyala. Fang menurunkan buku teks bahasa asing yang setengah hati ditekuninya.
Ochobot biasanya tak akan menghubungi kecuali ada sesuatu yang sangat mendesak. Setelah mengecek pesan itu secara sembunyi-sembunyi di bawah meja, Fang lantas melirik orang yang dimaksud Ochobot dalam pesannya: Boboiboy Gempa.
Sejak istirahat siang, Boboiboy tak mengeluhkan apa-apa pada mereka. Namun Fang bisa menangkap napas yang sedikit lebih cepat. Peluh yang mengucur di wajah dan gerak-gerik yang sesekali memijat kening meyakinkan Fang kalau ada yang tidak beres.
"Bu! Maaf tapi Boboiboy sepertinya nggak sehat!" Fang secara spontan mengacungkan tangan, meminta atensi guru.
Seisi kelas segera melirik Fang dengan tatapan aneh. Fang yang biasanya acuh mendadak menjadi sangat perhatian dan menyadari kondisi teman sekelasnya. Saingannya, jika bisa digarisbawahi.
"Iya bu! Muka Boboiboy pucat begitu," Yaya langsung menguatkan ungkapan Fang barusan. Ia sempat membaca pesan Ochobot dan membaca maksud Fang.
Semua orang kini melirik ke arah yang sama.
"Kamu sakit, Nak?"
"Agak pusing Bu," Boboiboy Gempa tak mengelak. Kepalanya memang terasa berat sejak beberapa puluh menit lalu. "Apa boleh saya ke ruang kesehatan?"
Guru bahasa asing mereka mengangguk dan menambahkan, "kalau sudah ke sana, sekalian pulang saja Boboiboy."
"Biar kami yang antarkan, Bu." Fang langsung menawarkan diri sebelum guru mereka memanggil siapapun. "Gopal, ambilkan tasnya!"
Gempa hendak memprotes, tapi Fang bergerak lebih cepat dan membantunya berdiri. Gopal sementara itu tergopoh mengambil tas punggung Boboiboy dan berlari kecil mengekori kedua temannya.
"Mungkin dia kecapean karena persiapan tadi, ya?"
"Iya, tadi Boboiboy bersemangat sekali."
Baik Yaya dan Ying mengantar dengan tatapan penuh khawatir. Setelah berminggu-minggu berurusan dengan Matra sekalipun, mereka masih memikirkan efek dari kekuatan dan misi-misi mereka. Banyak hal yang masih terasa asing.
"Hei, Fang! UKS di lantai bawah!" seru Gopal saat Fang justru mengarah pada tangga menuju lantai atas. "Masa kau nggak tahu itu di mana, sih?"
"Kita nggak ke sana lah!" Fang mendumel. "Obat untuk dia cuma harus ke Matra secepatnya."
Gempa melirik Fang, ingin ia memprotes tapi tak ada suara yang keluar. Alih-alih memapah dengan pelan, Fang justru setengah menyeretnya. Mata keemasan Gempa terpaksa memejam begitu kepalanya bertambah berat. Nyaris bertumpu seluruhnya pada Fang seorang, elemental tanah itu bahkan tak ingat apa mereka telah sampai di lantai ketiga.
"Bentar lagi, tahan." Fang mendecakkan lidah. "Jangan manja."
Jikalau bukan karena suara Fang itu, Gempa yakin dia telah pingsan. "Coba kau pagi-pagi buta sudah bantuin kedai."
Gempa yakin ia hanya terlalu banyak beraktivitas hari itu.
.
.
.
"Nah, mendingan bukan?"
Ruangan pengawasan Matra langsung dikenali Gempa begitu rasa peningnya berkurang dan ia bisa membuka mata kembali. Suasana dingin dari lapisan logam pelapis ruangan memberikan hawa baru seusai kegerahan di kelas barusan. Ya, Gempa merasa lebih segar. Ia melepaskan diri dari papahan Fang.
"Yo!"
"Tok Aba aman kan kemarin?"
Tak jauh dari layar-layar monitor, dua elemental yang kabur tanpa tanggung jawab tempo hari tengah terkapar di lantai. Mereka berdua tak berbeda jauh dengan Gempa, wajah yang terlihat pucat dan didera rasa lelah. Baju mereka yang kusut dan kotor membuat Gempa menduga keduanya habis melakukan latihan tanding.
"Sudahi dulu pertemuan hangatnya." Ochobot menyela dari depan monitor. "Cepat kalian menyatu kembali! Tubuhmu masih belum terbiasa berpecah tuh."
"Tapi, aku nanti akan terbiasa kan Ochobot?" tanya Gempa dengan lugas.
"Tentu, namanya ini masih permulaan. Ayooo, cepat cepat!" Ochobot pun mendorong Gempa menuju area dinding khusus untuk membuat portal.
Portal pun terbuka dan ketiga elemental Boboiboy masuk, diikuti Fang dan Gopal. Mereka kembali pada gua panjang itu, yang anehnya kini ditempeli kristal berwarna kehijauan. Jika nuansa tempo hari penuh dengan peluh, pencarian yang nyaris menggiring mereka pada putus asa, kini mereka memiliki kesempatan untuk mengagumi gua.
"Wuih! Kaya lah kita kalau ini bisa dijual!" Gopal menyentuh salah satu kristal hijau yang menempel di dinding gua dengan semangat.
Fang memutar bola mata dan mendorong Gempa, tak menunggu Gopal yang mulai mengorek dinding gua. "Kita harus cepat membereskan semua ini!"
Jalan menunju pilar Matra adalah sebuah lubang raksasa berbentuk setengah lingkaran. Mudah sekali dibedakan dari jalan-jalan yang sudah mereka lewati selama misi. Suara langkah kaki menggema begitu mereka menyusuri tangga lebar yang membawa mereka semakin bawah. Apakah ini jalan untuk masuk ke bagian bawah tanpa harus terjerumus perangkap?
Cahaya ganjil yang menyerang membuat mereka mengerjapkan mata. Walau ini bukan pertama kali melihat Pilar Matra, tidak ada yang tak melongo ataupun melotot begitu membuka mata (minus Gopal yang masih tergopoh-gopoh mengejar dari belakang sambil berteriak panik akibat ditinggalkan).
Pilar itu menjulang, tepat di tengah area luas berbentuk kubah raksasa. Cahaya yang menyilaukan datang dari atas, di mana tak ada sekatan tanah atau bebatuan. Tak ada yang menutupi langit-langit tinggi hingga mereka nyaris bisa melihat puncak pilar. Gemericik air terdengar dari aliran sungai berwarna kebiruan yang ada di sisi lain dari tangga tempat mereka masuk.
Halilintar dan Gempa langsung mendekati Pilar tanpa niat untuk menjelajah. Keduanya mulai tersiksa dengan kepala yang semakin berputar dan tenaga yang ikut terkuras. Hanyalah Taufan yang melenceng langkahnya, walau ia merasakan hal yang sama, tatapan manik birunya jelas menunjukkan seberapa tergodanya ia untuk terjun ke sungai yang sangat jernih itu.
"Taufan, mau ke mana?" Gempa melongok ke belakang. Keringat sebesar biji jagung telah menuruni pelipisnya dan ia kehabisan tenaga untuk menghardik elemental yang satu itu
"Ngapain sih, kau?" gerutu Halilintar. Wajahnya lebih masam dengan kerutan di keningnya.
"Apa cuma aku saja yang masih kepingin keliling?" tanya Taufan sambil berjongkok tepat di tepi sungai.
Baik Gempa dan Halilintar memelototi Taufan. Jawaban bisu yang langsung membuat sang elemental angin ikut bungkam dan mulai bergabung di depan pilar. Setelah sinar meliputi ketiganya, elemental Boboiboy mulai kembali menjadi satu.
Fang menarik napas lega agak jauh di belakang, atensinya terpecah karena ia masih harus memandu Gopal dengan suara teriakannya. Baru saja ia menoleh kembali, saat itulah sekelebat bayangan jatuh tak jauh dari pilar. Untuk sekejap Fang merasa jantungnya benar-benar copot. Terkadang ia lupa bagaimana rivalnya dan sang abang begitu berbeda sekalipun sama-sama Poros.
Masih berada di dalam gua yang sama, pemuda bertopi itu tak lagi melihat menara ataupun kedua temannya. Namun berat di punggungnya menjadi pertanda bahwa ia tidak sendirian. Boboiboy duduk saling memunggungi dengan seseorang, yang segera buka suara sebelum ia menoleh.
"Cukup melelahkan bukan? Tapi kita masih menuju titik tengah misi Matra."
Gempa. Tentu saja, akhir integrasi adalah pertemuan dengan elemtal barunya.
Gempa terkekeh singkat, sebelum ia menarik diri dari punggung Boboiboy. Boboiboy ikut bangkit hingga keduanya berdiri berhadapan. Gempa mengenakan topi dengan terbalik sepertinya. Namun iris keemasan yang dimiliki sang elemental tanah begitu berbeda dari warna hazel Boboiboy.
"Kita telah memutuskan untuk melindungi semua orang-orang yang berharga untukmu." Gempa menjulurkan kepalan tinjunya pada dada Boboiboy.
"Apakah menurutmu aku bisa melakukannya?"Boboiboy tersenyum simpul. Cukup aneh memang jika ia menanyakan hal ini kepada bagian dari dirinya.
"Kita harus menjadi kuat, lebih dari siapapun." Gempa memungut sebuah batu dan melemparkannya pada
Hal yang sederhana, tapi melakukan itu tak semudah mengucapkannya. Boboiboy bahkan tak bisa menebak seberbahaya apa Pelahap Ingatan yang mereka hadapi setelah ini. Gempa memegangi kedua pundak Boboiboy sebelum mendekapnya erat.
Boboiboy seolah mencium wangi tubuh yang familier sekaligus membuatnya seolah berada di rumah. Kantuk membuyarkan kesadarannya, dan ia memejamkan kedua mata.
.
.
.
Semua sesi latihan dan dua misi pertama sejauh ini membuat tubuh Boboiboy berasa remuk redam. Namun integrasi ketiga mencetak rekor dengan sensasi hantaman telak di kepala dan kehilangan kendali total. Bahkan ketika tersadar, perlu setidaknya lima menit sebelum Boboiboy mencerna kalau hari telah gelap dan berada di kamarnya alih-alih berada di Matra.
"Kalau memang nggak sehat, bilang lah ke atok," Tok Aba menyuguhkan cokelat hangat pada sang cucu dan kedua temannya. "Kau khawatirkan atok semalam, eh malah kamu yang tumbang hari ini!"
Boboiboy menggaruk lehernya, hanya bisa tertunduk malu.
"Terima kasih, Tok." Fang mengangguk takzim, di sisi lain menyodok Gopal yang tanpa tahu malu menenggak coklat panas seperti orang yang tak minum berhari-hari lamanya. "Kami akan pulang sebentar lagi, padahal nggak perlu repot-repot."
"Anggaplah rasa terima kasih, sebab mengantarkan Boboiboy pulang hari ini." Tok Aba bahkan menyodorkan kudapan sebelum pamit dan memberi ruang bagi ketiga anak muda untuk berbicara.
"Jadi, bagaimana, apa efek integrasimu sudah hilang?" Fang bertanya dengan muka serius. Ia bahkan melupakan cokelat panasnya.
"Sedikit lagi," Boboiboy menyingkap selimutnya dan ikut duduk bersila bersama Fang dan Gopal di karpet. "Maaf, aku pasti merepotkan kalian, kan?"
"Iya tuh! kau tahu bagaimana repotnya aku menurunkanmu dari lantai tiga?" Gopal bersedekap dada, lagaknya membuat Fang cemberut karena mereka berdua yang menurunkan Boboiboy.
"Sudahlah! Lagipun, ada berita yang lebih penting!"
"Oiya, apa waktu distorsi Matra sudah muncul?" Boboiboy langsung mengingat hal yang penting yang dimaksud.
"Kabar baik, Boboiboy! Kita dapat liburan panjang!" Gopal meninju udara seraya bersiul-siul kesenangan.
"Soal itu..." Fang sementara itu semakin cemberut sebelum melanjutkan kalimat yang terpotong.
Boboiboy terbelalak begitu mendengar jawaban dari Fang.
"Tiga bulan?!"
-CdS-
"Kalian sudah siap?"
"Gempaa, bisa nggak kita berlatih terpisah saja?"
"Kau sebegitu pengennya pamer dan sok kuat, heh?"
Ini dia. Gempa menengadahkan kepala, mukanya mengernyit sementara kening bertautan. "Oke, Ochobot! Mulai simulasinya!"
"Tung- Gempaaaaaa!"
Protes Taufan tak digubris. Hologram seketika menyapu segala sesuatu di sekeliling mereka. Bagian dari aula yang disekat-sekat itu kini disulap menjadi hutan dengan vegetasi pohon pinus. Tiga sosok berjubah yang kini sangat familier berada sepuluh meter di ujung hutan. Selayaknya yang nyata, Pelahap Ingatan itu menebarkan intimidasi lewat wajah yang tertutup tudung panjang mereka.
Kedua tangan Gempa telah dilapisi tanah solid, tinju kanannya mengarah ke tanah. Ia berada satu langkah di depan kedua elemental lainnya. Halilintar menghunus pedang petir dari udara, mengundang kilatan merah petirnya. Ujung pedangnya mengarah pada kepala musuh, tak kalah mengintimidasi. Taufan yang paling belakang memunculkan hooverboardnya sambil memperbaiki posisi topinya.
Pelahap Ingatan mulai memunculkan senjatanya. Satu pedang, satu panah, dan yang satu lagi adalah perisai bulat yang cukup besar. Tanpa aba-aba, pemegang pedang pun melesat maju sementara si pemanah berlari memutar.
Tersenyum tipis, Halilintar segera maju dan menangkis serangan musuh. Bunyi hantaman kedua logam itu tak terelakkan. Halilintar memiliki kapasitas untuk bertarung jarak dekat. Menghadapi lawan dengan kecapatan dan ketajaman adalah keunggulannya.
"Kalau begitu, aku urus yang satu itu!"
Taufan melompat dan meluncur dengan hooverboardnya. Menemukan tempat yang lebih tinggi, pemanah itu hendak mengincar Halilintar dan Gempa. Namun Taufan yang menyusul segera menjadi target barunya. Tiga anak panah dilepaskan sekaligus, mengincar tubuh sang elemental angin.
"Pusaran Taufan!"
Anak panah yang semula melesat lurus pun berputar-putar sebelum berbelok arah. Gempa, yang tengah menahan serudukan pemakai perisai dalam adu kekuatan, masih sempat menyadari arah pantulan panah.
"Hali, awas!"
Pada detik terakhir, Halilintar melompat mundur, sama seperti lawannya. Ritme pertarungan seketika kacau.
"Taufan, kau lagi-lagi!" Atensi Halilintar bercabang seketika ia melirik ke belakang. Dan celah itu dimanfaatkan musuh dengan segera.
"Perisai tanah!"
Sabetan pedang itu memotong perisai tanah Gempa, batal mengalahkan sang elemental petir. Namun si pemegang perisai tak tinggal diam dan memberikan serudukan keras yang tak bisa Gempa bendung. Serangan itu mengempaskan Gempa hingga ia membentur satu batang pohon.
"Gempa!"
"Ini salahmu, tahu! Makannya fokus!"
"Hah, kau pikir salah siapa kita jadi seperti ini?!"
Amarah Gempa terpicu pertengkaran yang kembali memanas antara kedua elemental. Ia lekas bangkit dan menggelengkan kepala dengan cepat. Mereka memiliki kemampuan yang baik: serangan jarak dekat, jauh, serta pertahanan. Namun kerja sama mereka? Perjalanan mereka masihlah jauh rupanya.
.
.
"Rajin sekali kalian berdua, yang lain pada ke mana nih?"
Ochobot menawarkan dua botol air pada kedua orang yang tak pernah absen berlatih: sang poros dan pemilik kekuatan bayang. Walau seperti biasa, keduanya tak pernah berlatih di ruangan yang sama.
"Terima kasih, Ochobot." Boboiboy membersihkan debu dan tanah dari topinya. "Biasa, sibuk ini dan itu. Apalagi Ying dan Yaya."
"Tak apa, mereka kan masih rutin latihan di hari libur. Gopal tuh, yang harus kalian ajak!" Ochobot kembali pada layar-layar monitor dan komputer. "Aku akan memproses hasil simulasi barusan."
"Jadi, kapan kau bisa mengendalikan semua elementalmu tanpa berbuat hal bodoh?" Pertanyaan Fang langsung menohok dada Boboiboy.
"Masih... belum." Boboiboy tertunduk lesu.
"Kalau memang begitu, jangan terlalu mengandalkan memecahkan diri." Fang meneguk minumannya sebelum melirik Boboiboy. "Fokus pada salah satu elemental yang kau butuhkan saat itu."
"Tapi, kita tak tahu kalau Pelahap Ingatan menjebak dan memisahkan kita lagi bukan?" Boboiboy mengencangkan kepalan tangannya pada botol minuman. "Aku ingin membantu melawan Pelahap Ingatan juga."
"Dengar, nggak semua misi akan seperti kemarin." Fang lantas menyela."Fokusmu harusnya satu: temukan Nukleus!"
Boboiboy hanya bungkam. Sejenak ia memilah-milah kata namun apa yang dilontarkannya tak cukup mematahkan argumen Fang.
"Benar tuh kata Fang! Tak usah berburu-buru, kamu nanti pasti akan terbiasa." Ochobot ikut menimpali.
Anggukan pelan Boboiboy menjadi jawaban yang kurang lugas, tapi apa boleh buat. Ketinggalannya Ying dan Gopal masih terbayang dan iaa tak ingin hal yang sama terjadi.
"Oh ya! Kalian nggak mengesampingkan sekolah, bukan?" Misi memang penting, tapi Ochobot tahu betul para pejuang Matra ini masihlah siswa yang tugas utamanya ya belajar.
"Ah, hahaha..." Boboiboy tertawa kering.
"Jangan bilang kau bolos dari belajar!" seru Ochobot sambil melesat ke depan muka Boboiboy yang terlihat menyembunyikan sesuatu. "Dengar, masih ada sekitar dua bulan sebelum peretasan keempat!"
"Dia dan Gopal harus masuk kelas tambahan mulai minggu depan." Fang membenarkan. "Nilai kalian sudah macam orang terjun bebas tahu!"
"Kalau begitu, kau fokus dulu sekolah, Boboiboy!"
"Tapi, nggak bisa sampai setidaknya aku melancarkan strategi memecahkan diri?"
Ochobot menyilangkan tangan logamnya. "Nggak boleh begitu lah! Bilang juga tuh ke Gopal, nggak usah latihan dulu!"
"Kalau soal Gopal, dia sekarang malah balik ke rumah dan main game." Fang mendumel.
"Eeeeeeeh?!" Ingin rasanya robot itu terjungkal sejadi-jadinya.
-CdS-
Satu purnama bergulir dan sebuah pengumuman penting dari Ochobot membuat kelima pejuang Matra itu berkumpul di kelas selepas semua orang pulang. Yaya dan Ying menginginkan rapat dadakan itu. Tak lain dan tak bukan, pembahasan mereka adalah isi pesan Ochobot yang membuat kedua Gadis itu resah dan berjalan mondar-mandir di sekeliling kelas.
"Tak salah lagi! Distorsi selanjutnya kita dalam masalah besar."
Boboiboy dan Fang saling bertukar pandangan. Keduanya langsung menangkap maksud perkataan Yaya barusan. Satu-satunya hal yang tak bisa dikompromi kedua gadis itu adalah perihal akademis. Dua tanggung jawab mereka selama ini akhirnya bertbrakan.
"Heee, memangnya ada apa?" Gopal, sebagai pihak paling tidak peka bertanya.
"Kau tak tahu apa yang ada di tanggal itu Gopal? Itu adalah momen terpenting selama satu semester ini!" Ying mendekati bangku tempat Gopal duduk dengan santainya.
"Distorsi selanjutnya terjadi sewaktu kita ujian nanti!" Yaya menambahkan.
"Wih, yang bener?!" manik mata pemuda itu malah berbinar-binar. "Yes! Libur nggak usah ujian berarti!"
"Gopaaaaaal!"
"Sini kau!"
"Hieeeeee!"
.
.
.
"Pokoknya kami nggak akan ke luar kelas atau bolos ujian nanti!" Yaya berteriak dengan tegas. Hal yang hanya ia lakukan saat ada yang melanggar aturan tepat di depan batang hidungnya.
"Iya lo! Itu adalah kesempatan yang menentukan siapa peringkat pertama nanti di kelas!" Ying semakin berapi-api.
"Hoo, tapi aku yakin semester ini aku bisa mempertahankan nilai dan peringkatku!" Yaya bersedekap dada sambil tersenyum penuh percaya diri.
"Huh, kita lihat saja nanti!"
Tanpa aba-aba, kedua remaja itu masing-masing mengemas barang-barang ke dalam ransel dan pulang dengan arah yang berlainan. Tapi tetap saja Yaya dan Ying berbalik berbarengan untuk melemparkan peringatan terakhir.
"Kalian bertiga, camkan itu baik-baik ya!"
"Pokoknya nanti jadwal ujian kita tak boleh terganggu!"
Lalu pintu kelas pun ditutup dengan keras. Boboiboy memijat-mijat keningnya yang mulai berdenyut. Fang menghela napas panjang. Ia tak buka suara barusan karena menebak kata-kata yang dilontarkannya hanya akan ditepis tanpa kompromi.
"Di saat seperti ini, mereka berdua malah kambuh ya." Fang akhirnya berkomentar.
"Jadi, kita harus bagaimana?" Boboiboy menyambung rapat sepeninggalan dua Gadis itu.
Berbeda dengan kedua murid teladan sekolah, ujian tersendiri adalah masalah bagi Boboiboy dan Gopal. Lalu misi mereka di Matra itu berada di tengah pekan penuh tekanan sepanjang semester? Cobaan apa lagi pula yang harus mereka hadapi.
"Tak ada pilihan lain," Gopal berdeham-deham, mencoba mengembalikan wibawanya. Lepas dari kejar-kejaran barusan membuat bajunya kusut dan pipinya merah terkena bogem-bogem penuh amarah. "Kita harus mengorbankan salah satu."
Boboiboy menelan ludah, tatapan matanya penuh selidik pada sahabatnya itu. Setengah menyimak dan setengahnya lagi skeptis. Sementara Fang hanya mendengus sinis dan mengeluarkan ponselnya.
"Kita nggak usah lah susah payah menghapal untuk ujian!"
Boboiboy seketika menyesal sudah sempat serius menyimak. Fang di sisi lain menurunkan ponselnya dan melemparkan tatapan jengah.
"Atau nggak usah ikut sekalian?" Gopal tak mengangkap reaksi kedua temannya.
"Ga bisa begitu lah!" Boboiboy berseru sambil menampar jidatnya. Semua kelas tambahan yang membuat otaknya gosong dan latihan perpecahan elemental sudah menguras habis kesabarannya.
"Kau hanya cari alasan untuk nggak ujian kan?" tebak Fang.
"Alah, kita belajar pun nggak ada perkembangan pun." Remaja itu merajuk sambil manyun.
"Makannya, kalau di kelas tuh serius sedikit." Fang menyampirkan tas ranselnya, tak berniat lebih lama dalam percakapan yang semakin melenceng menurutnya.
"Eleh, memangnya kamu pun punya jalan keluar kalau nanti distorsi dan ujian benar-benar bentrok, Fang?" tanya Boboiboy.
"Aku rasa aku bisa mengisi sebagian besar ulangan sebelum distorsi dimulai." Fang nyengir, dan menatap remeh kedua kawannya itu. "Kalian sendiri bagaimana? Mau menyerah saja dan kabur?"
Fang berbalik pergi, meninggalkan dua sahabat karib itu dalam kebingungan. Ingin mereka membalas perkataan menohok barusan. Namun Fang adalah satu dari sekian murid yang bisa meraih nilai rata-rata tanpa harus giat belajar apalagi mengikuti kelas tambahan.
"Huh, berlagak betul dia! Nilai jelek baru tahu!" Gopal mendumel.
Boboiboy mengepalkan tinjunya. Sungguh ia tak ingin kalah dari orang sombong yang satu itu.
-CdS-
Segala sesuatu memang tak selalu berjalan sesuai harapan, Boboiboy tahu persis akan hal itu. Namun semua gelombang masalah yang muncul mulai memeras semua kesabarannya. Minggu ujian semakin dekat, dan hitung mundur menuju distorsi menggentayangi tepat di belakangnya. Dan ia sampai di titik di mana ia tak yakin apakah dia bisa menghadapi keduanya dengan performa terbaik.
Sepanjang pagi hingga siang otaknya diaduk-aduk oleh rumus-rumus dan tugas-tugas sekolah. Lalu sore harinya kembali dengan latihan simulasi untuk melancarkan koordinasi ketiga kekuatan elemental.
Di kelas, ia merasa inferior karena lebih lambat untuk memproses seabreg materi pelajaran. Lalu pada latihan sebelum misi keempat? Seminggu sebelum distorsi, Boboiboy masih bersama dengan problema yang tak kunjung terselesaikan.
"Ta.. tadi itu nyaris saja." Taufan masih sempat tertawa kecil dan mengecek apakah ujung baju dan celananya hangus karena ia masih mengendus bau gosong.
"Sudah kubilang, apa! Perhatikan sekelilingmu, kek." Halilintar telah kehilangan niat untuk meneriaki sang elemental angin. "Dan kalau ada api lagi, jangan kau mengeluarkan anginmu itu!"
Simulasi yang mereka jalani barusan mendapat tiruan Pelahap Ingatan yang bisa menghasilkan api. Mereka telah sepakat untuk mengikuti instruksi Gempa, namun strategi mereka kocar-kacir begitu Taufan melepaskan kekuatannya dan api meliar seketika.
"Argh! Aku sudah nggak paham lagi apa yang salah!" Gempa menggaruk-garuk kepalanya dengan kasar. Ia bahkan ingin membenturkan kepala ke tembok saking frustasinya.
"Tenang, Boboiboy!" dari lima sosok yang mengintip area latihan Boboiboy, Ochobot yang pertama datang. "Kau bercantum semula dulu, oke?"
"Dia jadi begitu karena kelamaan berpecah, tuh?" Gopal ikut nimbrung dengan sekantung kudapan dan kue di kedua tangannya.
"Rasanya nggak banget kalau ucapan itu berasal dari orang yang kerjaannya makan saja." Ying seketika menggerutu.
"Kau juga harus lebih serius, Gopal!" Yaya menimpali dari balik punggung Ying.
"Lah! Setidaknya nggak seperti yang membawa pindah klub matematika dan buku-buku pelajaran ke tempat latihan." Gopal menunjuk ruang latihan Yaya dan Ying, di mana sudah dilengkapi alas dan dipenuhi buku teks dan catatan yang terbuka.
"Hei, hei-" Ochobot melirik seseorang yang sekiranya bisa membantu. "Fang, coba tengahi mereka."
Mendecakkan lidah, Fang menjadi orang terakhir yang masuk. "Kalian-"
"Wajar saja bukan? Senin kita sudah ujian tahu!"
"Iya lo! Bukannya-"
"BISAKAH KALIAN DIAM SEBENTAR?!"
Tak ada yang tak terlonjak begitu mendengar Boboiboy pertama kali menyentak dengan nada sedemikian keras. Semua bergeming di tempat dengan mata melotot ke arah Boboiboy. Bahkan Gopal, yang biasanya paling tak bisa membaca situasi, kini diam seribu bahasa.
"Kau tidak bisa mengawal emosimu sama sekali, hah?!" Fang terlanjur panas mendesak Gopal mundur dan mencengkeram bagian depan jaket Boboiboy.
"Tunggu, Fang!"
Keributan di antara mereka selama ini bukan hal baru. Tapi situasi seperti ini sudah di luar kendali siapapun. Ochobot bolak-balik menghadap Boboiboy dan Fang dengan kebingungan.
"Cepat minta maaf sana!" bentak Fang sekali lagi.
Boboiboy mengangkat wajahnya, ekspresi wajahnya yang semula keruh perlahan kembali seperti biasanya. Namun tak ada senyuman di sana. Boboiboy melepaskan cengkeraman tangan Fang lalu membungkukkan badan pada semua sahabatnya.
"Maaf sudah berteriak seperti itu." Boboiboy membuang muka dan menjadi orang yang pertama kali pamit dan mengakhiri sesi latihan sore itu.
-CdS-
Insiden tempo hari membuat semua menangkap bahwa Boboiboy mungkin kelelahan saat itu. Sangat kelelahan hingga ia menumpahkan kekesalannya seperti bukan dirinya saja. Melihat situasi demikian, Ochobot memberikan rekomendasi istirahat total untuk kelima remaja itu.
Mendapat waktu untuk mendinginkan pikiran, Boboiboy pada akhirnya berbicara kembali dengan keempat temannya. Walau harus memecah kecanggungan yang ia ciptakan. Lalu pekan ujian pun dimulai dan mereka semakin dekat dengan misi keempat.
Dan di antara semua mata pelajaran, distorsi kali ini bersamaan dengan ujian matematika. Fang dan Gopal bisa menebak bahwa mereka akan bertarung tanpa Yaya dan Ying. Tapi kedua remaja putri itu melunak dan berjanji akan segera menyusul setelah mengerjakan soal secepat mungkin.
.
.
.
Tinggal setengah jam lagi hingga distorsi dimulai.
Boboiboy melirik Gopal, pemuda bertubuh gempal itu tengah asyik menyilang indah lembar jawaban ujiannya. Fang di sisi lain ruangan nampak sangat serius sambil sesekali menulis jawaban dan membalik kertas soal, tak membuang waktu untuk mengerjakan soal semaksimal yang ia bisa. Yaya dan Ying berada di ruangan berbeda.
'Gawat, aku nggak mengerti apapun.' Biarpun begitu, Boboiboy pada akhirnya menebak-nebak jawaban supaya lembar jawabannya tak kosong melompong.
Lima menit sebelum distorsi, Ochobot memberikan pesan lewat arloji. Gopal menjadi orang yang pertama selesai dan mengumpulkan kertas jawaban tanpa beban. Untunglah guru pengawas tak curiga dan hanya menggelengkan kepala dengan kepasrahan Gopal.
'Cepat, Boboiboy!'
Entah untuk misi atau sekedar mencari teman, Gopal mengirimkan isyarat dari jendela. Boboiboy membalas dengan mengibaskan tangan, berharap Gopal pergi lebih dulu ke portal, yang sudah diprediksi muncul dekat dengan gudang peralatan olahraga.
Fang menyusul terlebih dulu, setelah melempar senyuman setengah meledek pada Boboiboy. Semakin panik, Boboiboy akhirnya menghentikan pekerjaannya dan bergegas menyusul. Walau sudah dipastikan nilainya jelek, ia setidaknya berusaha sekuat tenaga untuk melindungi semua orang yang ada di sekolah.
.
.
.
Setelah area taman hiburan, padang pasir luas, hingga gua bawah tanah, mereka tak menyangka bisa dikejutkan lagi dengan sektor Matra. Namun situasi saat ini jauh di luar perkiraan.
"Uhuk! Uhuk!"
Suara yang keluar dari mereka bertiga adalah batuk keras akibat kepulan asap. Udara di sekitar membuat darah dalam tubuh seolah akan mendidih. Menyeka mata yang perih karena terpaan debu, Boboiboy sekali lagi menyelidiki sektor Matra. Mereka ada di lantai kedua sebuah gedung berlantai lima atau enam. Dan lantai di bawah mereka telah dilalap api.
"Hiiii! Apinya semakin menyebar!"
"Ke atas! Cepat!"
Ketiga remaja itu lari terbirit-birit mendaki tangga sebelum api memanggang mereka. Namun sesuatu menangkap atensi Boboiboy, yaitu bayangan familier yang bergerak dari sudut matanya. Sosok berjubah itu menuju ke arah portal.
.
.
.
Berlanjut pada chapter 13: Abu
A/N: Setengah tahun yang luar biasa sekali :')
Salam hangat dan sampai jumpa lagiii~
