Dia terlahir setelah semua amarah serta amukan tumpah dan meluluh lantakan segalanya. Dalam bisu menyaksikan siapa saja yang masih sintas, mereka yang dalam gerakan lambat mengais-ngais apa yang tersisa. Memaknai segala geram, hingga rintih dan lirih yang terselip pada sesaknya udara.
Jika saja ia bisa bersuara, jika saja ia memiliki sebuah raga. Ia akan mencoba mengukuhkan jiwa yang merapuh itu, dalam dekapan dan ucapan pelan.
Cipta dan Sirna
By: Koyuki17
Boboiboy © Monsta Studio
Chapter 13: Abu
Ekor mata Fang sempat menangkap satu bayangan yang berbalik arah. Alih-alih menaiki tangga, Boboiboy malah kembali pada lantai tempat mereka datang. Menekan migrain yang melanda kepalanya, Fang seketika berteriak lantang.
"Bodoh! Kau mau pergi ke mana, heh?!"
Melihat Fang yang ikut berbalik arah, sementara Boboiboy telah menghilang di balik tembok di bawah, Gopal mematung di tempat seraya melayangkan protes. Api sudah hampir melalap semua bagian di lantai bawah. Orang waras mana yang akan lari ke arah sana?
Fang berbelok tajam -setengah terbang bisa dibilang- setelah sampai di ujung tangga. Boboiboy telah mengaktifkan kekuatan elementalnya dan berpecah menjadi tiga, terus bergerak menelusuri koridor dan ruangan tempat mereka datang. Pada sebuah balkon cukup lebar, dua sosok Pelahap Ingatan nampak berusaha melompat masuk ke dalam portal.
"Dinding Tanah!" Tinju Gempa ke lantai memunculkan tanah setinggi dua meter, memblokade portal.
Kebingungan sejenak dari musuh dimanfaatkan oleh elemental Boboiboy yang lain.
"Pedang Halilintar!" seraya melesat dengan kecepatan cahaya, Boboiboy Halilintar berhasil menebas punggung salah satu lawan, gemuruh menyentak dan sosok itu berteriak sebelum tubuhnya mulai menjadi serpihan dan menghilang.
Detik berikutnya, Halilintar berbalik dan melancarkan tusukan ke arah musuh yang tersisa. Menyadari serangan super cepat itu, musuh mengelak ke kiri. Ekor mata Halilintar menyadari bahwa tangan musuh mengambil sesuatu dari balik jubah kelabunya. Dari posisi telunjuk dan cara menggenggam benda itu, hanya ada satu kemungkinan.
'Gawat!'
Moncong senapan laras pendek itu mengarah pada tubuh Halilintar, telunjuk musuh bersiap menarik pelatuk. Halilintar yang melompat ke belakang tak cukup untuk keluar dari jarak tembakan. Tak sempat!
"Hali, merunduk!"
Seruan lantang Taufan diikuti Halilintar dalam waktu sepersekian detik. Embusan angin yang cukup kuat menyapu balkon, Pelahap Ingatan itu tak bisa mempertahankan kakinya dan terlempar ke luar balkon. Halilintar, yang berjarak cukup dekat pun ikut terempas dan punggungnya menabrak pagar pembatas.
"Kau berhutang padaku dengan ini!" Di belakang, Taufan menyeringai penuh kesenangan.
"Tsk." Halilintar membuang muka seraya bangkit dan membersihkan debu dari jaketnya.
Ancaman lain datang bersamaan dengan sambungan suara yang masuk pada hansfree mereka.
"Masih ada satu musuh di atas kalian!"
Intusi membuat keduanya melihat ke bangunan di sebrang. Gedung tempat mereka serupa dengan rumah susun yang memiliki struktur eksterior gedung yang berbentuk bujur sangkar dengan bagian tengah yang kosong. Kamar-kamar huni berderet-deret dengan balkon yang saling berhadapan. Langit senja yang meredup dan tak adanya lampu yang menyala menyulitkan mereka untuk melihat ke sekeliling.
Halilintar memicingkan mata. Dalam sekejap ia menemukan bayangan mencurigakan dari salah satu balkon di lantai empat, tepat di bagian gedung di sebrang mereka. Dan tak salah lagi, dia juga memiliki senapan seperti musuh sebelumnya!
"TIARAP!" Halilintar menarik bagian jaket Taufan dengan serampangan. Mereka melompat menjauhi balkon dan jatuh di atas karpet tebal.
"Tanah penghalang!"
"Kepompong bayang!"
Lapisan tanah dan bayangan dengan segera menyelimuti kedua elemental itu. Tepat sebelum tembakan beruntun dilepaskan. Tak ada peluru yang berhasil menembus pertahanan solid itu. Halilintar dan Taufan menarik napas panjang, yang tadi itu hampir saja.
"Dengan ini kita impas." Ujar Halilintar sambil menarik Taufan untuk berdiri.
"Cepat amat," Taufan masih ingin lebih lama menyindir elemental yang satu itu.
"Sudah kubilang apa? Kau sudah membuat misi kita dalam bahaya!" Fang tak membuang waktu untuk menumpahkan amarahnya, dan Gempa yang tepat ada di samping mau tak mau menjadi target. "Lalu jangan buang tenagamu dengan berpecah secepat ini!"
Boboiboy, yang kembali bergabung menjadi satu, balas mendebat. "Mereka hampir saja masuk ke sekolah, Fang!"
Teriakan Gopal yang baru saja menyusul membubarkan perkataan yang hendak diluncurkan Fang. Mereka berdua mendelik pada Gopal yang belum apa-apa sudah heboh seperti itu.
"Tunggu, portalnya ke mana? Gimana nanti kita kembali ke sekolah, dey!"
"Tak mungkin! Tadi portalnya masih ada lah!" Boboiboy melirik ke arah portal, yang semula terhalang oleh dinding tanah.
Tak ada apa-apa selain sisa-sisa pertarungan barusan di area balkon itu.
"Hilang..." Boboiboy tak berkedip.
"Belum ada lima menit bukan kita di sini?" Gopal semakin panik.
"Bukan. Bukan menghilang." Fang mulai dalam mode serba tahunya. "Tapi berpindah-pindah. Kita harus cari tahu posisi portal itu sekarang."
Fang lekas memandu kedua kawannya itu untuk ke luar ruangan dan menyelusuri koridor. Api mulai merayapi segala sesuatu di lantai kedua, kepulan asap mulai merangsang mata ketiganya untuk mengerjap-ngerjap dan lebih banyak menghasilkan cairan.
"Ochobot, kau tahu di mana letak portal itu sekarang?" Boboiboy lantas bertanya lewat sambungan komunikasi mereka sembari menahan batuk.
"Portalnya ada di gedung di bagian kiri kalian. Hati-hati, Pelahap Ingatan itu juga bergerak menuju ke sana sekarang."
"Kita harus ke sana sebelum dia keluar!" seru Boboiboy.
Mengimbangi kecepatan lari Fang, Boboiboy berada tepat di belakang. Hanyalah Gopal mau tak mau menambah kecepatan larinya, walau perut sebelah sampingnya mulai berdenyut sakit. Jika tahu seperti ini, dia takkan menghabiskan roti-roti yang dibelinya dari kantin sebelum ujian tadi.
"Yaya, Ying! Kalian masih di mana?!" Boboiboy mencoba menghubungi harapan terakhir mereka. Kedua orang teman mereka pasti akan datang melewati portal yang telah berpindah itu.
"Bukannya sudah pasti? Masih di ruangan ujian!" Gopal menyahut dengan sebal.
"Yang penting, jangan sampai siapapun di sekolah tahu soal Matra!" Fang bersikeras.
Boboiboy melirik Fang, yang raut wajahnya telah kusut. Kalau soal Matra, Fang memang selalu tak bisa berkompromi. Mereka mengikuti instruksi Ochobot dan naik ke lantai ketiga untuk mencapai gedung yang dimaksud. Di saat yang bersamaan, api semakin naik dan asap mengepul dengan pekat.
"Pelahap Ingatan sudah hampir di depan portal! Posisi portal tepat di atas kalian bertiga!"
Ketiganya mendongak, tapi hanyalah langit-langit pucat di sana. Yang dimaksud Ochobot barusan rupanya ada di lantai atas. Mereka masih harus mencari tangga yang ada di bagian pojok gedung dan kembali ke bagian tengah gedung.
"Cepat ke sana!"
"Memang masih sempat?!"
Di saat genting itulah, komunikasi dari Ochobot membuat pergerakan ketiganya terhambat.
"Yaya, Ying! Pelahap Ingatan ada di depan portal, halau mereka!"
"Baik!"
Tepat di depan portal, Pelahap Ingatan mendapat sambutan panas sebelum bisa melompat ke dalamnya. Yaya langsung menerjang musuh dengan pukulan gravitasinya. Sementara Ying melanjutkan serangan susulan dan memberikan tendangan bertubi-tubi. Tiga tembok jebol karena musuh terpental menembus ruangan demi ruangan sementara Ying mendarat dengan aman di dekat puing-puing tembok pertama.
Hitung mundur menuju regenarasi diumumkan oleh Ochobot dengan segera: lima menit!. Pelahap ingatan yang tersisa pun berhasil dikalahkan.
"Syukurlah masih sempat!" Ying menghela napas sebelum melirik Yaya dan memberikan acungan jempol. "Kerja bagus, Yaya!"
Ketiga remaja itu tiba dan langsung tercengang melihat sisa-sisa serangan Yaya dan Ying. Latihan keduanya, walau tak serajin Boboiboy dan Fang rupanya membuat kekuatan mereka berlipat ganda. Pada awalnya mereka ingin mengomeli keterlambatan kedua gadis itu (dua kali sudah mereka catat). Melihat serangan barusan, diam saja adalah pilihan terbaik.
-CdS-
"Kita tak bisa berlama-lama, tigapuluh menit dari sekarang kita harus kembali lagi ke sekolah!" Sebagai penegak aturan sekolah, Yaya tak berubah walaupun mereka ada di Matra sekarang.
"Iya loh! Ujian selanjutnya kan sejarah!" Ying menimpali. "Kita tak boleh sampai terlambat!"
"Sudah misi, ujian lagi, kurang gereget gimana coba." Gopal mendumel.
"Kapan kita bisa istirahat kalau macam begini," Boboiboy diam-diam setuju dengan Gopal. Adrenalin tak henti menguras banyak energinya akhir-akhir ini.
"Tapi kalau kita menghilang lebih lama, orang-orang di sekolah akan curiga." Di luar dugaan Fang sepakat dengan Yaya dan Ying. "Kita harus berpencar sekarang!"
"Jadi, kita akan berjaga di depan portal dan segera mencari di mana portal itu berpindah?" Yaya menangkap komunikasi di awal misi. "Misi kali ini cukup merepotkan ya."
"Ada kemungkinan kita harus berpencar, ya." Mendengar ucapan Ying, Gopal seketika memekik panik.
"Ngomong-ngomong, apa kalian sudah menemukan portal menuju pilar dan Nukleus?" tanya Yaya.
Boboiboy agak malu untuk sekadar menggelengkan kepala. Pelahap ingatan membuatnya lupa untuk mengamati Matra baik-baik dan mencari pusat distorsi. Tatapan tajam dari Fang membuatnya semakin gelisah. Menjadi Poros dan melindungi teman-temannya dari musuh adalah dua hal yang tak persis sejalan rupanya.
"Kalau begitu, kalian berdua fokus cari Nukleus dan kita selesaikan misi ini dengan cepat!" Ying menepuk dadanya dengan semangat.
"Kalian cuman kepingin cepat ulangan lagi, kan?" ujar Gopal.
"Sudah, sudah!" Yaya langsung menyela. "Tapi kau harus lebih serius soal belajar, Gopal."
"Bagaimana bisa memikirkan itu kalau kita sekarang berada di gedung yang terbakar seperti ini?" Gopal menunjukkan api, yang mulai merangsek ke lantai tempat mereka berada sekarang.
"Kalian, seriuslah dikit!" Fang memberikan isyarat pada Boboiboy untuk segera pergi. "Tetap waspada, musuh kali ini bersenjata api!"
Boboiboy dan Fang seperti biasa, harus memisahkan diri untuk mencari Nukleus. Ruang di sekitar mereka mulai mengeluarkan bunyi gemeretak. Namun dibanding Matra sebelumnya, proses ini terjadi lebih lambat. Tapi mereka tak bisa berlama-lama sekarang.
"Jangan lupakan tugasmu! Berapa kali sih aku harus bilang?" Fang masih gusar dengan Boboiboy, yang sekali lagi terbentur masalah prioritas.
"Tsk! Aku tahu lah!" Boboiboy memejamkan matanya sejenak, dan ia menemukan asal bunyi barusan. "Ke arah sini!"
.
.
.
"Portal ada di gedung sebelah barat! Dari tempat kalian, naik dua lantai lalu belok ke arah kanan!"
Satu menit tersisa dari regenerasi. Mereka lantas menjalankan rencana barusan.
"Ying, kau yang cepat menemukan portalnya!" ujar Yaya. "Gopal, kau awasi dari sini!"
"Yaya, kau bisa melintasi gedung ini dengan kekuatanmu, bukan?"
"Kau gila? Itu hanya akan membuat kita menjadi sasaran empuk musuh!" Ying mendebat. Jika hanya ada satu musuh tak apa, tapi menghindari tiga sekaligus bukanlah hal yang mudah.
Yaya mungkin bisa melintasi gedung dengan cepat, tapi ia belum selincah Ying dan terlalu beresiko. Secepat apapun Ying, melintasi jarak antar gedung pun terlalu gegabah.
"Ayo Yaya!"
"Tunggu! Jangan tinggalkan aku di sini lah!"
"Dengar, Gopal! Tugasmu membidik senjata Pelahap ingatan itu!" Ying sempat berbalik dan menunjuk temannya itu. "Tak ada ampun kalau sampai meleset!"
.
.
.
"Kenapa?" Fang menyadarkan Boboiboy, yang sejenak melamun sebelum mereka membuka pintu ganda tepat di lantai kelima. Ruangan yang bisa dipastikan menjadi pusat distorsi kali ini.
"Suaranya, jadi ada dua." Boboiboy memandang ke gedung yang berada di seberang mereka dengan ragu. "Di sebelah sana juga!"
"Kita tak punya waktu! Kalau bukan yang ini, kita segera mengecek yang satunya lagi!" Fang mendorong pintu ruangan itu, yang untungnya tidak terkunci.
Pintu ganda itu cukup berat, dan perlu tenaga untuk mendorongnya hingga terbuka. Ruangan itu setara dua ruangan huni yang mereka masuki sejak tadi, dan Fang menduga bahwa ini adalah semacam ruang pertemuan atau aula kecil. Kegelapan membuat bagian dalam ruangan teramati sebagai siluet-siluet kursi yang mengelilingi meja panjang. Tirai-tirai menutupi sebagian besar dinding.
"Aku punya firasat tak enak soal ini, Fang."
"Kita periksa dulu, baru pergi dari sini!"
Boboiboy dan Fang menerobos masuk dengan menyelusuri tepi. Mendekati sumber suara tanpa menabrak barang-barang yang bergumul di tengah ruangan. Memicingkan mata, sesuatu menyelimuti tembok di ujung ruangan. Tirai berwarna putih yang menutupi tembok itu segera mereka sibak.
Bayangan keduanya dalam temaram memantul dari balik tirai. Sebuah kaca raksasa rupanya benda yang berada di sana. Guratan memenuhi hampir semua bagian kaca, bahkan beberapa kepingan kecil mulai berjatuhan di atas lantai berlapiskan karpet. Suara barusan bukanlah suara dari distorsi, tapi berasal dari kaca ini.
"Jebakan?!" Boboiboy melangkah mundur, firasatnya barusan rupanya benar.
"Tsk! Kembali ke pintu itu!" Fang membalikkan badan dan berlari secepat mungkin.
Pintu aula itu tiba-tiba saja menutup seolah angin besar menerjangnya. Aula menjadi gelap seluruhnya. Boboiboy dan Fang berlari semakin kencang, tapi keremangan di sekitar membuat mereka tersandung oleh kursi-kursi kayu.
"Sial, kita yang diincar rupanya!" Fang menggertakkan giginya.
"Makannya aku tadi ragu!" Boboiboy benar-benar menyesal tidak mendebat Fang barusan.
"Kita harus keluar dari sini dulu!"
Tapi pintu itu seperti diblokade dari luar sana. Dobrakan mereka hanya berbuah geming pintu tebal itu. Fang menelusuri ruangan dengan sapuan matanya, berupaya mencari jalan keluar. Tak ada jendela bahkan ventilasi udara di sana tak cukup untuk dilewati tubuh mereka.
Mereka seperti tikus yang tak sengaja masuk ke dalam jebakan.
Di tengah kepanikan itu, Boboiboy melirik ke arah belakang. Sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang ada di ruangan ini bersama mereka. Boboiboy segera mengaktifkan kekuatan Gempa, berbalik ke belakang dan mengambil posisi siaga.
"Fang, di bela-"
Pelahap ingatan itu hanya seorang diri, kalah dalam jumlah tapi ia tak ragu untuk menunjukkan diri. Fang berbalik tepat untuk melihat musuh memegang dua senjata api, siap untuk membidik. Reaksinya tak cukup cepat untuk membentuk apapun dengan kekuatan bayangnya.
"Tanah penghalang!" Gempa segera memunculkan berlapis-lapis tanah, tepat sebelum tembakan dilepaskan dari sudut ruangan. "Dia ada di belakang sana!"
"Harimau bayang!"
Gelap mempengaruhi kekuatan bayang Fang. Harimau bayang milik Fang bergerak lebih lambat dan menjadi incaran musuh. Bidikan pertama, tembakan berhasil dihindari olehnya. Namun ketika hariamau itu hendak menerkam dari samping, satu tembakan telak mengalahkan sosok itu. Pelahap ingatan itu berhenti dan menghilang di balik tirai.
Boboiboy Gempa hendak berpecah kembali dan maju untuk menyerang. Namun tangan Fang merintanginya dan Boboiboy keheranan dengan kelakuan temannya itu.
"Tunggu, kau mencium sesuatu?" suara Fang agak tercekat, dan keringat mulai membasahi pelipisnya.
Gempa mencoba mengendus bau yang dimaksud, dan langsung mengangkap bau seperti gas atau mesiu. Di ujung ruangan, Pelahap Ingatan itu menjentikkan jarinya dan dalam sepersekian detik, percikan api muncul. Dalam sekejap darah terkuras dari wajahnya.
"Cela-!"
Ledakan nyaris menulikan kuping, dan bau mesiu merebak di sekitar ruangan. Boboiboy dan Fang bahkan terlempar ke pintu akibat ledakan, tanpa sempat melindungi diri. Api mulai menjalari tirai-tirai dan furnitur berbahan kayu. Adrenalin memaksa keduanya untuk kembali ke posisi siaga.
Sosok berjubah itu tetap berdiri walaupun seluruh tubuhnya terbakar. Sebuah pemandangan yang cukup mengerikan, karena sosok itu masih terus menyeringai pada mereka. Tujuannya telah tercapai dan ia tak merasakan apapun sekali harus menghanguskan tubuhnya.
"Dia... dia sudah gila!" Boboiboy terbatuk keras karena asap mulai mengepung.
Tidak, pada awalnya pun eksistensi mereka bertolak belakang. Bagi Pelahap Ingatan, dikalahkan tak begitu berarti akan kembali setelah regenerasi. Namun untuk mereka? Tak ada kesempatan kedua. Kalah di sini lalu semuanya berakhir sudah.
"Uhuk! Uhuk!"
Situasi yang kacau membuat Boboiboy kembali pada sosoknya, dan Fang tak bisa mempertahankan kekuatan bayangnya.
"Yaya, Ying! Kami terjebak di lantai kelima," Fang segera menghubungi kawan mereka. "Bisakah kalian mendobrak dari luar?"
Kekuatan Yaya dan Ying pastilah cukup untuk menerobos pintu.
"Posisi kalian di mana?" Ying menjadi orang yang paling sigap menjawab.
"Lantai kelima. Gedung tempat portal pertama muncul. Cepat!"
"Kami akan ke sana dalam dua menit!" bunyi tembakan dari sana menjelaskan bagaimana mereka tengah berada dalam pertarungan.
Sementara itu di belakang Fang dan Boboiboy, ledakan kembali terjadi. Api berkobar semakin besar, dan lebih dari setengah ruangan bernasib sama dengan lantai paling bawah gedung. Mereka benar-benar terjebak dalam situasi yang terburuk.
"Boboiboy? Apa yang terjadi di sana?!"
"Fokus, Ying! Mereka menyerang kembali!"
"Tak kena! Mereka tahu kekuatanku, lah!"
Fang maupun Boboiboy tahu bahwa di luar sana, pertarungan dengan Pelahap Ingatan telah dimulai kembali. Mereka masih harus berusaha sendiri untuk keluar.
Kobaran api membuat Boboiboy dan Fang melemah. Semakin sulit berkonsentrasi maupun mengambil napas. Mereka berdua, yang semula mencoba mendobrak pintu dengan kekuatan yang tersisa, perlahan melamban. Boboiboy melihat Fang, yang mencoba menyelimuti mereka dengan kepompong bayang.
"Kita tak boleh berakhir di sini!" teriakan Fang dibarengi usahanya untuk mendobrak pintu.
"Kekuatannya... tak keluar sama sekali." Boboiboy memandang arlojinya, yang sama sekali tak mengeluarkan sinar. Energi mereka hampir terkuras habis.
Boboiboy masih mencoba mengeluarkan kekuatan tanah, namun tubuhnya tak mengikuti perintahnya sama sekali. Ia malah melihat Fang tumbang di sampingnya.
"Fang! Bertahanlah!"
Boboiboy mencoba menarik Fang untuk bangun, namun ia sendiri semakin sulit untuk tetap terjaga. Kesadarannya semakin menipis, dan suara-suara di sekitarnya semakin samar. Tubuhnya pun ikut ambruk bersama Fang. Bahkan di saat terakhir, Boboiboy masih berupaya untuk bangkit.
Dengan napas yang tersendat dan asap yang menusuk setiap sel di paru-paru, Boboiboy berteriak tak karuan. Tangannya tak mampu untuk menopang tubuhnya untuk sekedar berdiri.
Tak pernah ia sefrustasi ini sebelumnya.
-CdS-
Yaya, Ying, maupun Gopal semakin kalut begitu komunikasi terakhir dengan kedua temannya itu terputus. Di lantai kelima, mereka terjebak oleh musuh. Tapi tak ada dari mereka yang bisa menyusul. Tidak dengan dua musuh bersenjata dan amunisi yang seolah tak habis-habis itu.
"Tukaran makanan!"
Gopal mengandalkan pistol jarinya dan kembali membidik senjata musuh. Tapi sekali lagi, musuh mengetahui posisi Gopal dan berlindung ke balik kaca. Tembakan sinar Gopal terpantul dan mengubah sebagian kecil dinding yang ditabraknya menjadi agar-agar. Sebagai bonus, Gopal dihadiahi tembakan beruntun. Gopal lantas berjongkok dan peluru itu menghancurkan kaca dan kusen-kusen.
"Hiiiiiii! Gagal lagi dah!"
"Perlahankan masa!"
Musuh yang terfokus pada Gopal membuat Ying sukses menyelinap dan memberikan serangan kejutan. Setelah musuh melambat karen kekuatannya, Ying menendang tangan musuh dan membuat senjatanya terlepas dan terlempar cukup jauh.
"Rasakan ini! Tendangan laju!"
Sebelum musuh bereaksi, Ying memberikan tendangan bertubi-tubi. Pelahap Ingatan itu akhirnya kembali dikalahkan.
"Tinggal satu orang lagi!" seru Ying dengan gemas.
"Ying! Kau cepat menyusul Boboiboy dan Fang!" Yaya kini mengejar musuh terakhir, yang malah kabur. Mereka rupanya sangat menghindari pertarungan jarak dekat.
"Baiklah!" Ying segera berlari menuju tangga.
"Bahkan Ochobot tidak menjawab apapun barusan," Yaya melirik arloji merah jambunya. "Kira-kira ada apa ya? Biasanya sesibuk apapun, Ochobot selalu menjawab!"
"Ochobot juga?!" Gopal semakin panik. "Habislah sudah!"
Portal yang berada dekat dengan Yaya menghilang dalam sekejap. Tanpa Ochobot, mereka tak tahu pindah ke mana portal itu.
"Dan, kita harus mencari ke mana portalnya berpindah!" Yaya menggelengkan kepala. "Tidak, kalahkan dulu Pelahap ingatan yang satu itu!"
Yaya menyadari bahwa musuh akan melewati koridor yang berjendela. Kesempatan terbuka lebar untuk mereka.
"Gopal, cepat bidik!" teriak Yaya.
Sentakan itu membuat Gopal panik, telunjuknya menembak secara asal, dan memantul menuju jendela yang terbuka. Senapan yang dipegang oleh musuh berganti menjadi baguette.
"Hah? Kena!" Gopal kali ini berteriak kegirangan.
Sinar menyelubungi Yaya dan ia menyalurkan seluruh kekuatan pada kepalan tangannya.
"Rasakan ini!"
Pukulan itu tak hanya telak mengenai musuh, tapi ikut melemparnya keluar gedung.
"Gopal, sisir semua ruangan dan kita cari posisi portal yang baru!" Yaya langsung mengambil komando.
Tanpa jeda, mereka harus terus bergerak. Hanya tersisa lima belas menit hingga waktu istirahat mereka usai.
.
.
.
Boboiboy terbatuk keras begitu kesadarannya kembali. Kepalanya masih agak pening, tapi dadanya tak sesesak barusan. Hawa yang teramat panas barusan melunak dan berada pada ambang toleransinya. Ia memegang kepalanya, yang entah mengapa agak basah.
Air? Tapi seharusnya tak ada air di tempat itu.
Bunyi hantaman membuat Boboiboy tersentak. Ia menangkap bayangan Fang tak jauh dari tempatnya terkapar.
"Boboiboy! Cepat bangun dan bantu dobrak pintu ini!" Fang berseru lantang, di sampingnya beruang bayang berulang kali menubruk pintu ganda aula dengan badannya yang besar. Namun usaha itu hanya membuat daun pintu melengkung alih-alih hancur.
Agak linglung, Boboiboy terhuyung bangun. Dalam sekejap ia kembali menjadi elemental tanahnya, Gempa. Jika tadi mereka tak bisa fokus untuk mengerahkan kekuatan akibat musuh dan kobaran api, kali ini ia bisa berpikir jernih.
Sudah berapa lama mereka pingsan? Mereka tak boleh membuang waktu dan keluar dari sana sekarang juga.
"Minggir, Fang!"
Gempa memunculkan bola tanah setinggi dua meter di ujung ruangan. Bola pejal itu segera memutar dalam porosnya, menciptakan energi kinetik yang semakin besar. Gempa meninju tanah dan Bola itu segera menggelinding dengan kecepatan nyaris setara Ying.
BRAKKK
Asap pekat mulai keluar dan kedua remaja itu ikut menyeruak dari dalam aula. Di luar sana, api mulai merambati lantai keempat. Tak membuang waktu, Boboiboy dan Fang langsung bergerak. Gempa kini digantikan oleh Taufan yang menaiki hooverboard-nya. Sementara Fang menggunakan kekuatan bayangnya untuk memperkuat langkah kakinya. Tujuan mereka tak lain adalah portal yang berada di sebrang sana.
"Apa yang barusan terjadi?" Taufan bertanya sambil jalan.
"Kita sempat pingsan karena kehabisan udara. Lalu entah kenapa sprinkler api menyala." Jawab Fang dengan cepat.
"Hah, di gedung yang tak ada listrik ini?" Taufan mengerutkan kening.
"Aku tak tahu lah!" Fang balik menyentak.
"Boboiboy! Fang!"
Panggilan familier membuat mereka menoleh ke belakang. Ying melesat mengimbangi kecepatan teman-temannya.
"Ah, Ying! Baru saja aku mau menghubungi kalian!" ucap Taufan.
"Bagaimana situasi yang lain?" Fang bertanya.
"Lima menit lagi regenerasi selesai dan yang lain sedang mencari keberadaan portal masuk!"
"Kami sudah tahu posisi portal menuju pilar. Ying, kau sebaiknya bantu Yaya dan Gopal!" ucap Boboiboy.
"Tentu! Serahkan saja pada kami!" Lalu Ying memisahkan diri dan mulai menyusuri ruangan demi ruangan.
Sepuluh menit tersisa hingga batas waktu istirahat mereka. enam puluh menit jika mereka ingin memaksakan hingga batas.
-CdS-
Kedua remaja itu membelalakkan mata begitu kedatangan mereka pada dimensi pilar disambut oleh eksistensi tak terduga. Tak kurang dari selusin anak berada di sekitar mereka. Ada yang tengah berjongkok dan menghalagi setengah jalan pada koridor. Ada pula yang bermain ke sana ke mari dan tak menghiraukan siapa yang datang.
Di dalam pilar Matra itu, gedung yang mereka selusuri sama dengan Matra keempat. Yang membedakan adalah suasana siang hari dan bangunan itu kini berpenghuni.
"Siapa anak-anak ini?!" Boboiboy panik begitu tiga orang anak berusia sekitar tiga atau empat tahun menghampirinya dengan tatapan penuh ingin tahu.
"Entahlah, yang jelas kita harus menemukan pusat distorsi dan Nukleus!" Fang sementara itu langsung mengedarkan pandangannya, mencari hal yang dimaksudnya barusan.
Anak-anak itu pada awalnya mendekati dua remaja itu, tapi lama-kelamaan mereka menjadi bosan dan mulai berlarian ke berbagai tempat. Boboiboy dan Fang berpencar dan menelusuri ruangan dan koridor sembari berlari kecil. Namun tak ada yang benda yang berwujud seperti Nukleus. Pencarian mereka kembali buntu dan mereka berdua berkumpul untuk memikirkan petunjuk.
"Pasti ada petunjuk dari anak-anak ini." Fang melirik anak-anak yang tengah bermain di sepanjang koridor.
Karena yang membedakan situasi kali ini dengan misi sebelumnya adalah keberadaan mereka.
Seorang anak perempuan tiba-tiba mendekati Boboiboy dengan tangan terjulur. Sebuah boneka mungil berada dalam telapak tangan halus yang terbuka.
"Untukku?" pertanyaan canggung Boboiboy dibalas dengan anggukan.
Boboiboy hendak memungut boneka itu, tapi tangan si anak tiba-tiba menangkap tangan kanan sang pemuda bertopi. Fang melotot, ia langsung membaca ada yang tidak beres soal ini.
"Boboiboy, cepat lepas!"
Anak perempuan itu mendongak, menatap Boboiboy dengan senyuman lebar. Boboiboy terperangah begitu sosok di hadapannya tiba-tiba berubah menjadi abu. Sebuah bola bening jatuh ke lantai, namun di dalamya kosong. Tak ada Nukleus di dalamnya.
"Dia.. menghilang?"
"Sial! Apinya muncul di sini!" Fang menyadarkan Boboiboy yang agak terguncang. "Kita tak boleh menyentuh mereka lagi!"
Gedung itu kini bernasib sama dengan yang ada di luar. Api tiba-tiba muncul dan membakar segala sesuatu yang ada di sana. Namun anak-anak itu seolah tak terusik. Mereka masih saja bermain, atau berlarian di koridor atau ruangan-ruangan yang ada.
"Boboiboy! Fang! Apa yang kalian lakukan di dalam?" Yaya menghubungi kedua remaja itu dengan nada panik.
"Hah, apa yang terjadi di luar sana memang?" tanya Boboiboy.
"Apinya tiba-tiba membesar, lah!" teriak Gopal.
"Kami kehilangan jejak Pelahap Ingatan dan juga portal!" Ying menambahkan.
"Pergilah ke tempat yang aman dan tunggu kami." Fang langsung memberikan saran kepada ketiga kawannya. "Kita harus menemukan anak yang merupakan Nukleus."
Fang mengedarkan pandangannya kembali pada anak-anak itu, tapi ia tak menemukan petunjuk lain. Di sisi lain, Boboiboy mulai menjelajahi koridor, tapi sesuatu nampak mengusiknya.
Anak-anak itu tak ada yang berbicara, tapi ia mendengar samar suara tangisan seorang anak kecil. Ia mengikuti asal suara itu hingga sampai pada sebuah ruangan. Boboiboy masuk dan menghampiri sebuah lemari kayu. Dengan ragu, Boboiboy membuka pintu lemari dan melongok ke dalam.
Seorang anak laki-laki berada di sana, duduk memeluk kedua kakinya. Tubuh ringkihnya gemetar, mungkin karena ketakutan dengan api yang mengepungnya. Boboiboy tertegun sejenak, mempertanyakan intuisinya.
Anak itu seperti menunggu seseorang menemukannya di sini.
Tangan Boboiboy refleks terulur ke dalam, hendak meraih bahu mungil sang anak. Kobaran api tak lagi menggentarkan nyali. Sebuah déjà vu kala ia meraih petir pada Matra pertama. Kulitnya seharusnya melepuh seperti barusan, namun kali ini hanya terasa panas yang ganjil.
"Aku sudah menemukanmu," Boboiboy mendesak anak itu ke dalam pelukannya. Telapak tangannya mengelus puncak kepala yang ditutupi rambut gelap dan agak ikal. "Kau tidak sendirian."
Anak itu menangis sejadi-jadinya. Bukan satu tangisan ketakutan, ataupun kesepian. Tapi sebuah tangisan yang melepaskan semua emosinya, yang selama ini tertahankan.
Suara daun pintu yang menghantam dinding tanpa menandakan kedatangan Fang. Terengah-engah, Fang menyelusuri koridor sempit dan berhenti tepat di ruangan tempat Boboiboy berada. Melihat Boboiboy menyentuh anak itu, ia terperanjat bukan main. Salah langkah berarti memperburuk keadaan saat ini.
Kobaran api yang semula melumat segalanya tiba-tiba saja sirna, bersamaan dengan rengkuhan Boboiboy yang seketika nihil, tak lagi merasakan sosok sang anak. Presensi sosok anak itu tergantikan, dan sebuah benda jatuh menubruk lantai kayu yang hangus dan hitam legam. Bola itu berwarna jingga keemasan, serupa dengan nyala api di sekitar mereka beberapa detik sebelumnya.
"Nukleusnya... syukurlah." Fang merosot ke dinding sebelah kanannya, lututnya lemas dan ia dipaksa untuk berjongkok.
Boboiboy masih tertegun, manik hazelnya menatap nanar jejak-jejak abu yang tertinggal pada kedua telapak tangannya.
"Ayo kembali." Fang menarik lengan Boboiboy, namun usahanya hanya membuat Boboiboy bertumpu pada lutut. Tumitnya belum ingin menumpu berat tubuh. Ia masih belum berkehendak untuk beranjak.
Fang mulai gusar akan tingkah laku Boboiboy. Mereka telah hampir terlambat untuk mengikuti sesi ujian selajutnya. Riskan sekali jika mereka menghilang lebih lama lagi dan menimbulkan kecurigaan warga sekolah. Namun sosok anak-anak barusan dan Matra kali ini memang terlalu berbeda dengan yang sebelumnya.
Terkadang mereka lupa bagaimana Matra, dimensi ini begitu nyata.
"Kenapa seperti ini?"
Bayangan seorang anak kecil meringkuk sendirian di dalam lemari, tak tahu harus pergi ke mana di antara lidah-lidah api yang mengepungnya menjejali pikiran Boboiboy. Perlahan mati di antara udara yang semakin sesak dan perih, lalu kehabisan napas tanpa diketahui oleh siapapun. Hal yang teramat menyakitkan untuk siapapun, apalagi sosok sebelia itu.
"Padahal dia seharusnya bisa diselamatkan, bukan?" Boboiboy memungut bola jingga keemasan yang menyimpan Nukleus keempat.
"Sekalipun begitu, tidak ada yang bisa kau lakukan untuknya, Boboiboy." Untuk kali pertama, Fang menunjukkan simpatinya dengan melepaskan cengkeraman tangannya barusan dan menepuk bahu kanan Boboiboy.
"Jangan kau buat ini menjadi ganjalanmu di Matra. Ingat, kita masih memiliki misi yang belum selesai."
Boboiboy tak berselera untuk menjawab. Ia hanya bangkit dan kembali menuju bagian luar pilar dengan langkah yang sedikit gontai. Fang menghela napas sebelum menyusul sang rival. Mereka harus kembali pada kawan-kawan mereka yang menunggu di lantai dasar.
Namun keganjilan terlihat jelas begitu mereka berdua mendapati kawan mereka telah memandang ke arah menara jam. Gopal ternganga, sementara kedua remaja putri saling berpegangan tangan dengan raut wajah cemas.
"Ada apa sih ini?" komentar Fang tak digubris dengan kata-kata kembali. Melainkan telunjuk yang mengarah pada langit di balik menara jam.
Remaja berkacamata itu segera menemukan alasan dari kelakuan aneh temannya. Di balik menara jam, tiba-tiba saja ada sesuatu yang muncul. Semakin lama semakin jelas bahwa itu adalah pilar yang tercipta setiap misi mereka berhasil.
"Tunggu, Pilarnya sudah mulai?"
Semua atensi kini menyasar Boboiboy, dan mereka menemukan iris Poros mereka itu kini berubah menjai jingga keemasan. Pertanda jelas Integrasi telah dimulai. Boboiboy ikut panik dan mencari kaca untuk mengecek apa yang dilihat oleh kawan-kawannya barusan.
"Jangan bilang..." Ying langsung pening.
"Sepertinya..." Yaya hanya tertawa datar.
"Hah? Memang kenapa. Kan Boboiboy biasa seperti begitu waktu selesai misi." Gopal belum sampai pada titik konklusi semua orang di sana.
Sebuah pesan masuk pada masing-masing arloji. Ochobot meminta mereka untuk membicarakan sesuatu dengannya sebentar setelah keluar dari Matra keempat.
.
.
.
Hitung mundur yang tertera pada layar besar itu kurang dari dua puluh empat jam. Distorsi akan segera datang kembali, bahkan sebelum mereka bisa mempersiapkan apapun.
"Memang bisa terjadi seperti ini, ya?" celetuk Gopal dengan kening berkerut.
"Jarang sekali memang," Ochobot lekas menjawab. "Ini baru terjadi tiga kali dengan yang sekarang."
"Matra kembar. Abangku pernah menyebutkannya sekali." Fang kali ini buka suara, menyampaikan informasi yang ia miliki. "Situasi kurang menguntungkan karena kira sudah kelelahan dan persiapan misi selanjutnya terlalu minim."
Satu misi saja sudah berhasil membuat badan mereka pegal-pegal. Bisa dibayangkan bahwa tengah malam ini, mereka akan kembali masuk ke dalam Matra dan menghadapi para Pelahap Ingatan. Lalu keesokan paginya masih ada hari ujian terakhir.
"Apa boleh buat bukan?" Boboiboy mengangkat bahu sebelum kembali berkomentar. "Lebih lama lagi kita menunggu misi selanjutnya, lebih lama juga kita bisa menyelamatkan Matra."
"Justru yang paling mengkhawatirkan itu kamu!" Fang mendesis, bagaimana Boboiboy menganggap beban ini sedikit sepele membuatnya gusar. "Kau belum bisa melatih elemental barumu itu sekarang!"
"Ah, kali ini pasti api kan ya?" Yaya melirik Boboiboy penuh selidik.
"Tak diragukan lagi." Di samping, Gopal mengangguk-angguk seraya bersedekap dada.
"Kecuali darurat, jangan sampai kau mengeluarkan elemental api itu-"
Boboiboy tiba-tiba diliputi oleh sinar benderang yang berasal dari arlojinya. Saat semua orang di sana bisa melihat kembali, Boboiboy telah berpecah menjadi semua elementalnya sekarang, berdidi berjajar seperti empat anak kembar.
"Ah, aku lupa soal ini," Gempa menggaruk-garuk kepala. Satu elemental pun menjadikan bahu Gempa tumpuan dan melompat-lompat seraya melayangkan protes.
"Heeee, memangnya kenapa aku nggak boleh mengeluarkan kekuatanku?"
Semuanya terdiam seketika. Mereka sudah mengira elemental baru Boboiboy akan menjadi pribadi pemarah dan meledak-ledak. Tapi diluar dugaan, elemental baru di hadapan mereka cengar cengir dan terlihat penuh semangat.
"Oh ya, kalian bisa memanggilku Blaze! Aku nggak sabar untuk menunjukkan kekuatanku ini! Kalian pasti akan terkejut!" Blaze mengacungkan kepalan tangannya dengan penuh percaya diri.
Misi mereka selanjutnya sepertinya akan sangat mengkhawatirkan.
.
.
.
Berlanjut pada chapter 14: Riak
A/N:
Senang sekali menyelesaikan ini di antara puncak kembang api tahun baru! Tak terasa satu tahun kembali terlewati
FF ini masih menginjak pertengahan cerita dengan kehadiran Blaze. Semoga di tahun ini, saya bisa menulis dengan lebih giat lagi (^^)
Terima kasih untuk semua yang masih membaca cerita ini, dan untuk Koyu di chapter sebelumnya! Saya jadi bersemangat untuk mengejar chapter ini
Akhir kata, Selamat tahun baru dan sampai jumpa lagi~ \(^^)/
