Tak ada salahnya untuk menepi sejenak di tengah kepenatan. Mencari sebuah telaga, ataupun segenap hamparan air. Merenungi lekuk-lekuk riak yang tercipta karena belaian pawana. Penawar dari segala kebisingan dan hingar bingar ialah sunyi. Kealpaan dimensi suara yang menghidupkan makna dari gemerisik, gemercik, yang tak bisa merangkaian kata-kata. Biarlah keruh sukma luruh dalam suaka.

Cipta dan Sirna

By: Koyuki17

Boboiboy © Monsta Studio

Chapter 14: Riak

Sesaat setelah ia mendapatkan Nukleus, Boboiboy lantas memasukkan chip mungil itu ke dalam selot yang ada pada arlojinya. Dan sekali lagi, ia kembali pada dimensi Matra miliknya, sebuah relung yang asing sekaligus familier.

"Langit malamnya selalu semenakjubkan ini,"Boboiboy masih mengagumi planet-planet dan gemintang yang berkilauan pada beludru kelam.

Boboiboy melirik ke arah pintu, seseorang telah menunggunya sambil besedekap dada. Manik yang serupa dengan nyala api berbinar-binar di antara temaram. Sekali lagi di apartemen yang setengah hancur lebur itu, ia menjemput suanya dengan dirinya yang lain.

Sang elemental cengar-cengir. "Keluar, yuk!"

Mereka terus menuruni tangga diiringi senandung (agak sumbang) dari sang elemental api. Boboiboy menarik napas lega, setidaknya ia tak terjun dari lantai atas seperti saat bersama Taufan. Mereka mencapai lantai dasar dan menemukan sebuah lapangan terbengkalai sekaligus bola sepak yang sangat kumal.

"Ayo main ini!" sang elemental mengoper bola itu pada Boboiboy.

"Di sini... apakah sama dengan sektor keempat?"Boboiboy balas mengoper bola.

"Bukan, tapi sayangnya yang mana pun bernasib sama." Sang elemental memberikan passing yang cukup tinggi hingga Boboiboy refleks menangkap bola.

"Begitu. Lalu anak-anak itu?" Boboiboy masih memegangi bola itu, menunggu jawaban.

"Hmm... tak bisakah kita membicarakan hal yang lebih penting?"

Petikan jari sang elemental baru menyulut kobaran api, Boboiboy tersentak tapi tak berniat untuk mundur. Sama seperti petir dari Halilintar, api di sekitarnya ini tak melepuhkan kulitnya. Elemental itu adalah bagian dari tubuhnya saat ini.

"Aku adalah apimu." Ia mengulurkan kepalan tangannya pada dada Boboiboy. "Blaze, nyala yang mewakili semangatmu di Matra."

Sua keempat, sama seperti sua yang lainnya: berlalu dengan sangat singkat.

-CdS-

Penghujung hari tak terlihat sama sekali dari kepungan dinding logam. Gempa mengecek arloji, menemukan tepat pukul enam saat ini. Ia menarik napas, membayangkan bahwa tepat pada waktu sekarang, Tok Aba biasanya menyeduhkan minuman hangat untuk mereka berdua.

Gempa hanya sempat ke kedai dan berkata ia akan menginap di rumah Fang. Menyembunyikan tiga elemental lain di satu rumah tentunya mustahil, apalagi menyelinap tanpa diketahui. Mereka kembali pada dalih klasik: menginap di rumah teman untuk belajar bersama.

"Semoga saja Tok Aba tak apa-apa di rumah," tak mengacuhkan elemental lain yang menumbalkannya untuk mewakili mereka sebagai Boboiboy, Gempa terduduk lesu.

"Wah, salut padamu, Gempa! Memang cucu paling teladan ya kau ini!" Taufan menepuk pundak Gempa, kontan mendapat pelototan yang bersangkutan.

Gempa menepis tangan Taufan dari pundaknya. "Bukan masalah itu, lah! Kalian tak kepikiran bagaimana, kalau terus membohongi kakek sendiri?"

"Mau bagaimana lagi? Waktu kita bertiga saja, atok sudah pingsan." Halilintar menyahut dengan enteng. Setengah atensinya tertuju pada bilah pedang petir yang sedang ia bolak-balik. "Bayangkan kalau kita semua kepergok bertujuh?"

"Memang cepat atau lambat kamu harus lebih sering berada di Matra seperti ini, Boboiboy." Ochobot, yang sedari tadi sibuk mengolah informasi mengenai sektor Matra keempat, kini bisa masuk ke dalam obrolan.

"Kamu jadi nggak sendirian lagi kan kalau kami ada di sini," Taufan menggoda sang robot kuning. Memang sudah lama Ochobot mengeluhkan presensi orang lain di Matra. Tentunya ia menyambut baik keadaan ini.

Gumaman pelan Gempa mengiyakan, walaupun ia belum puas akan jawaban itu. Lamunannya terpotong begitu ia menyadari ada yang hilang di antara mereka. "Ngomong-ngomong, Blaze ada di mana?"

"Tuh," Halilintar menunjuk satu ruangan latihan yang tiba-tiba saja berguncang seolah diterjang meriam.

"Di sana?" tanya Gempa, firasatnya tidak enak. "Hei, di antara kalian berdua ada yang membimbing Blaze untuk berlatih, bukan?"

"Tentu saja," sahut Halilintar. "Sampai dua jam yang lalu."

"Dia tak mau mendengar apapun dan terus berlatih." Taufan angkat tangan. "Sejak siang, dia tak berhenti bermain dengan kekuatan apinya itu!"

"Tunggu, kalau begini, setelah integrasi kita bakal lemas, dong!" Gempa menghitung ada sekiranya enam jam sejak mereka berpecah.

Tawa jenaka dari dalam ruangan latihan yang bersahutan dengan suara dentuman keras terlalu kontras sekaligus mengkhawatirkan. Gempa tak berniat untuk berdiam diri atau mengistirahatkan tubuhnya yang sebenarnya sudah sangat pegal.

"Blaze!" Gempa membuka pintu semi transparan ruangan latihan. Kedatangannya membuat penghuni ruangan itu melirik ke arahnya.

"Oh! Kau sudah pulang, Gempa!" sikap Blaze tak ubahnya seperti anak lelaki yang tengah asyik bermain dan dihampiri abangnya.

"Blaze, simpan tenagamu dan berhenti mengeluarkan kekuatan apimu itu!" Gempa langsung membidik maksud kedatangannya.

"Sampai integrasi selesai masih lama lah!" Blaze merajuk. "Temani main sepak bola dong!"

"Tung-"

Bola api pun muncul, dan Blaze memainkan bola itu dengan kakinya. "Aku bosan karena Taufan nggak mau diajak main, nih!"

Merasa terpanggil, Taufan pun melongok. "Kalau pakai bola yang biasa sih, aku mau."

Gempa menatap bola yang terbakar itu, membayangkan kakinya akan melepuh begitu mencoba menendangnya sekali. Lagipula, ini disebut bermain daripada berlatih.

"Boboiboy! Cepat kembali ke Matra keempat!" Arahan Ochobot membuat Gempa bersorak dalam hati. Sementara Blaze memprotes karena ia masih ingin bermain.

Suara langkah kaki dari belakang Ochobot mengejutkan semua elemental Boboiboy. Ada rekan mereka yang telah menyusul ke Matra rupanya.

"Loh, Fang?!"

"Kau tak pulang nih?" Gempa terkaget-kaget begitu Fang sudah ada di sebelah Ochobot.

"Sudah. Dan aku sudah bilang kalau hari ini kau menginap di rumah." Fang segera menjawab. "Yah, lagipula orangtuaku sedang ke luar kota."

"Kalau begitu, pinjamkan rumahmu untuk markas dong!" ujar Taufan.

"Nggak mau. Pasti aku harus membereskan keributan kalian." Fang langsung menolak. "Sekarang cepat sana ke Pilar dan selesaikan Integrasimu!"

-CdS-

Suasana siang membuat segala sesuatu di rumah susun itu lebih jelas. Tak ada lagi kobaran api, tapi sisa-sisa amukannya ada di mana-mana. Dinding yang legam, dan abu yang menyelimuti segalanya hingga merayapi udara-udara di sekitar mereka. Namun tak ada siapapun di sana, anak-anak itu tak terlihat di manapun.

Yang berbeda adalah menara yang menjulang tinggi di dekat rumah susun itu.

"Aku duluan, ya!" Taufan mengeluarkan hooverboard. Baru saja ia akan meluncur, Blaze tahu-tahu sudah melompat ke bagian belakang hooverboard dan membuat Taufan oleng seketika.

"Blaze! Turun kau!"

"Hee, biarkan aku juga naik, dong!"

Gempa dan Halilintar mendapat tumpangan elang bayang Fang, sementara Taufan dan Blaze meluncur dengan hooverboard yang oleng karena kelebihan muatan, juga karena Blaze yang tak mau diam. Sementara ketiga orang mendarat lebih dulu, dua yang lain masih belum turun juga.

"Mereka malah pergi ke mana, sih?" celetuk Fang.

"Palingan mengecek puncak pilar ini." Halilintar menebak.

"Melihat gelagat mereka, pasti karena itu." Gempa langsung membayangkan kedua elemental itu.

"AAAAAAAAAA!"

Ketiganya mendongak, dan dua siluet –yang tak lain Taufan dan Blaze- terjun bebas dari atas sana. Taufan mengeluarkan kekuatannya dan empasan angin melambungkannya dan Blaze. Halilintar memprotes debu dan pasir yang masuk ke mata sebagai imbas pendaratan itu.

"Ku... kupikir aku akan mati." Taufan mereka ulang bagaimana mereka tergelincir dari hooverboard dan kena hantaman kaki Blaze.

"Tadi itu seru!" Blaze tergelak-gelak. "Nanti lakukan lagi!"

Gempa menjewer kuping Blaze dengan gemas, "Cepat pegang ini pilar dan kembali lagi bersatu!"

Mempunyai empat kepala yang berlainan mulai menguras tenaga, yang semestinya dihemat di tengah jadwal distorsi yang padat. Empat kesadaran yang terpecah kini ikut tergabung. Boboiboy masih belum sepenuhnya terbiasa, dan ia memutuskan untuk bersandar pada pilar raksasa hingga peningnya menghilang.

"Lihat, belum pun misi dan kau sudah begini."

Boboiboy tak punya banyak tenaga untuk sekedar menoleh, ia hanya bisa melirik kaki Fang yang ada di sampingnya. Entah hanya perasaannya saja, tapi Fang seperti menunggunya. Lagipula kenapa ia tak datang saja begitu integrasi selesai?

"Kau bisa berdiri?"

Fang menarik Boboiboy bangun, dan memapahnya dengan langkah pelan. Boboiboy sudah bersiap untuk mendapat ceramah, tapi mulut Fang terkunci. Sesuatu langsung terlintas dalam benak Boboiboy.

Apakah dulu, ketika Fang bersikeras ingin menjadi Poros. justru karena ia ingin menanggung beban sebesar ini?

Semestinya sekarang tidak akan menjadi masalah untuk menanyakan Fang tentang kakaknya itu. Mungkin setelah distorsi kelima berhasil mereka lewati.

.

.

.

Boboiboy tak yakin sejak kapan ia menyelusuri koridor itu lagi. Mengecek ruangan demi ruangan dengan harapan menemukan sosok anak kecil di sana. Tapi sekali lagi, Boboiboy tak bisa menemukan satu pun dari mereka.

"Kau masih saja mencarinya?"

Suara itu membuat Boboiboy menoleh ke belakang, tepat Blaze menggabruk punggungnya.

"Blaze, kau berat," protes Boboboy. Blaze hampir bisa dibilang bergelantungan di sana.

"Kau melewati hari-hari yang berat dan menyebalkan akhir-akhir ini?" tanya Blaze.

"Sudah jelas, bukan?"

Dan kau salah satunya, kau tahu itu?

Tapi Boboiboy tak berniat mengatakannya. Kekuatan baru adalah sebuah potensi yang harus ia manfaatkan sebisa mungkin. Termasuk elemental api ini.

"Yang penting yakin dulu," Blaze melepaskan rengkuhan tangannya dan turun. "Mana bisa kau bertarung dengan tekad yang lemah!"

Untuk pertama kali Boboiboy tersenyum. Perkataan barusan cukup menyebalkan. "Kuharap kau juga tak menimbulkan masalah, janji?"

Sayangnya permintaan itu disambut gelak tawa Blaze,

"Coba saja cegah aku!"

-CdS-

Gopal tak ingin menyia-nyiakan waktu malamnya di kamar. Setelah membawa semua kudapan yang bisa diraup oleh tangan besarnya, ia menutup mengunci pintu dan menyalakan televisi dan konsol gimnya.

"Pokoknya malam ini harus beres sampai final boss!" Gopal terhenyak di depan televisi dan membuka sekantung keripik kentang dengan semangat.

BRAK!

Pintu lemari televisi itu menjeblak terbuka dan sebuah tangan keluar dari sana.

"Uhuk! Uhuk!" Gopal yang sedang lahap pun tersedak, sementara matanya terbeliak dengan pemandangan horor di depannya.

"Sudah kuduga," dari dalam lemari, kepala Fang nongol dan ia langsung memelototi Gopal. "Bukan pun belajar, kau malah bersenang-senang sendiri!"

"Fang! Dey! Bisa tidak kalau kalian mau bikin portal di lemari orang ya bilang dulu!"

"Jangan banyak alasan dan bawa semua makananmu itu ke dalam!" Fang mengeluarkan setengah badannya dari lemari dan mematikan televisi dan konsol gim sebelum Gopal memprotes.

"Tak bisakah nunggu sampai distorsi?" Gopal menawar.

"Gak! Dan matikan lampu kamarmu ini!" Fang menghilang kembali ke dalam portal.

Berlainan dengan Gopal yang dijemput paksa, Ying dan Yaya masing-masing mengabari lebih dulu dan meminta dibukakan portal menuju Matra. Boboiboy harus melihat kembali foto yang dikirim Yaya dan Ying karena ia jarang berkunjung ke rumah mereka. Setelah membuat portal dari pintu kamar keduanya, maka lengkaplah sudah mereka berlima.

Masih ada empat jam hingga distorsi dimulai.

"Ying! Kau juga bawa makanan?" Yaya langsung melirik kawannya yang baru datang itu

"Tentu saja! Walaupun tak begitu banyak." Ying mengeluarkan semua makanan dalam kantung yang ia bawa dan mulai menatanya.

Sebagian besar adalah makanan dan minuman kemasan, namun lebih dari cukup untuk memenuhi perut mereka semua (kecuali Gopal tentunya). Hanya Yaya yang membawa makanan buatan di rumahnya: kue dengan selai aneh yang sekali lagi, tak berani disentuh siapapun.

"Rasanya, kita malah jadi piknik." Awalnya dia sudah pasrah hanya akan memakan cokelat dan camilan lain yang sempat ia beli dari kantin.

"Jadi ingat waktu kita pertama kali ke Matra ya," mendadak Yaya bernostalgia.

"Ah, iya juga ya." Ying setuju sambil tertawa-tawa.

"Setidaknya ga ada Pelahap Ingatan sekarang!" Gopal membuka botol minuman soda dan meneguknya dengan semangat.

"Tidak sampai beberapa jam lagi, setidaknya."

Semua menatap Fang.

"Ayolah, bersantai sedikit Fang!" Gopal menarik Fang dengan mengapit bahunya.

"Ya lo! Dari waktu itu kau masih tak seru sama sekali!"

.

.

.

Suara dengkuran yang saling bersahutan menggantikan keramaian dan obrolan beberapa waktu lalu. Kekenyangan membuka jalan bagi kantuk untuk menyerang. Dan dalam hitungan menit, mereka membuat kesepakatan untuk bersiaga. Maka tinggallah Yaya dan Fang sebagai yang pertama berjaga.

"Akhirnya dia tidur juga." Fang menghela napas. "Padahal capek, tapi nggak mau mengakuinya."

"Beberapa hari ini, lingkaran hitam di bawah mata Boboiboy makin kelihatan." Yaya melanjutkan kata-katanya barusan.

"Iya, mana tubuhnya tegang dan tak rileks begitu." Fang bersedekap dada sembari bersandar pada tembok. "Kalau jadi loyo dia, tak ada harapan untuk misi kita."

Yaya tertawa kecil. Sejak memasuki Matra dan menjalani satu demi satu misi, Fang menjadi sangat dekat dengan mereka. Yang Fang katakan memang sangat menjabarkan teman mereka yang satu itu. Fang menjadi orang ketiga yang berkomentar demikian.

-CdS-

Monitor-monitor yang semula statis kini membuka beberapa jendela peringatan. Lampu di ruangan mendadak berubah menjadi merah. Ochobot dengan sigap menghampiri komputer-komputer dan layar seraya berseru, "Ying! Bangunkan semuanya!"

"Oke!" Ying bangkit dari tempatnya duduk setelah terkantuk-kantuk barusan. "Gopal... eh! Dia malah tidur lah!"

Ying mengguncang Yaya sambil berteriak pada kawan-kawan lelakinya. Untunglah Yaya dan Fang langsung bangun dan bersiap-siap.

"Bagaimana cara membangunkan mereka, nih!" seru Ying kebingungan.

Kedua orang terakhir, Boboiboy dan Gopal masih terlelap dengan mulut setengah terbuka. Keributan barusan tak cukup membangunkan mereka.

"Minggir!"

Fang datang membawa seember air dari kamar mandi. Semua melongo begitu Fang tanpa belas kasihan menyiram dua orang itu dengan semua isi ember. Boboiboy dan Gopal terperanjat dari dalam mimpi dan berteriak kecang karena sergapan dingin tanpa ampun.

"Dey! Tak bisa pakai cara lain apa?!"

"Dasar kebo! Cepat buka portalnya sekarang! Distorsinya sudah dimulai, tahu!"

.

.

.

Portal menuju sektor kelima Matra di sebuah gang di area pertokoan yang cukup ramai di malam hari. Boboiboy dan Gopal seketika tidak menjadi dua orang yang basah kuyup. Air jernih setinggi perut dan suara kecipak menyambut. Rumah tempat mereka berada memiliki interior sederhana dan minim firnitur.

Mereka lantas menuju balkon untuk mengecek keadaan. Rupanya air di sana setinggi tiga sampai empat meter dari permukaan tanah.

"Waah!" tak ada yang tak termangap melihat pemandangan yang ada di sana.

Para pejuang Matra itu ada di sebuah perumahan dengan beberapa rumah berukuran kecil (Tapi hampir semuanya memiliki dua tingkat). Di bawah sana, jalanan yang ditutupi lapisan batu dan hamparan rumput serta pepohonan, juga pagar-pagar kayu. Sinar mentari tak begitu terik dan deretan hutan, serta gunung berselimut salju di kejauhan menambah suasana menyegarkan sejauh mata memandang.

"Rasanya seperti es dari sana mencair dan membanjiri tempat ini ya!" Yaya masih takjub melihat hamparan air tenang yang begitu jernih dan dingin.

Ying mengangguk setuju. "Apalagi daerah sini adalah cekungan, mungkin perkataanmu benar Yaya!"

"Yahooo!" Gopal tak bisa menutupi rasa riangnya dan mulai berenang dari luar balkon.

"Heh! Ini bukan waktunya bermain, lah!" sentak Fang. "Heh, Boboiboy! Sini kau!"

Satu orang lagi terlena untuk berenang dan sejenak melihat bagaimana Matra kali ini begitu menyenangkan untuk dijelajahi. Sejenak Boboiboy lupa maksud kedatangan mereka dan terus berenang ke arah yang berlainan dengan Gopal. Fang menyusul dan menarik Boboiboy kembali sebelum ia kabur lebih jauh.

"Puaaah!" Gopal memecah permukaan air. Tahu-tahu ia berenang sampai sebuah rumah di ujung jalan dan melambaikan tangan pada keempat kawannya. "Kalian nggak mau mencobanya?"

"Gopal! Kembali ke sini lah!" Ying memanggil. "Kau yakin bisa menghadapi musuh dari sana sendiri, nih?"

Gopal langsung tancap gas dan berenang berbalik arah.

"Tapi, bakal sulit untuk kita bertarung dengan air sebanyak ini." Yaya mencoba berjalan, namun gerakannya tentu melambat.

"Kalau begitu... Boboiboy Gempa!"

Begitu Gopal kembali, Gempa menyelam ke lantai bawah. Sekuat tenaga ia meninju lantai di bawah dengan tangan besarnya itu. Tanah berguncang hebat, dan perlahan rumah itu terangkat hingga melebihi ketinggian air. Sebagai imbasnya, portal berpindah ke lantai pertama tepat di belakangnya.

"Hei! Di bawah sini sudah aman!" Gempa memanggil yang lain, dan mereka satu persatu turun.

"Bagaimana posisi musuh, Ochobot?" Fang ingin memastikan.

"Posisi mereka cukup jauh dari kalian. Tapi belum ada pergerakan."

"Kalau begitu, kalian bisa lanjut mencari Nukleus!"

"Semoga beruntung." Gempa kini berganti menjadi Taufan.

"Kalian juga harus berhati-hati!" Fang memanggil elang bayangnya dan melompat ke atas punggung sang burung.

Keduanya segera melesat ke angkasa dan meninggalkan ketiga temannya.

.

.

.

"Bukannya pergerakan musuh agak aneh kali ini, Fang?" tanya Taufan. Mereka lebih terbiasa menghadapi musuh yang bergerak begitu cepat.

"Kita tak selalu bisa menebaknya." Fang menyahut dengan ketus. "Kalau kau masih mengira misi kali ini sebagai wisata, akan kupastikan selanjutnya bukan hanya disiram air!"

"Habisnya, tempat kali ini menakjubkan sekali!" manik safir itu berbinar-binar, hooverboard-nya semakin rendah ke permukaan air. "Rasanya seperti berkunjung ke tempat yang tak pernah diketahui orang!"

"Kembali fokus, sana!" Fang semakin jengkel.

"Kalau seperti ini, jadi kepingin main di laut. Atau mungkin ke air terjun?" Liburan selepas ujian di depan sana membuat Taufan memikirkan rencana berwisata. "Sudah lama pun nggak bermain jauh dari kota. Kapan ya terakhir ke laut?"

Hanya terdengar desir angin dan kepakan elang bayang di antara keduanya. Fang melirik Taufan dan melihatnya tengah memikirkan sesuatu dengan wajah serius.

"Aneh, aku nggak bisa mengingat apapun soal itu." Taufan masih termenung, ia menggaruk kepala. "Tunggu, harusnya pernah!"

"Huh, dasar pelupa."

-CdS-

"Tunggu, perasaan aku saja atau..."

"Tidak, airnya benar-benar semakin tinggi."

"Hah! Masa?!"

Ketiga remaja itu mendongak dari tepi halaman rumah, dan menyadari air semakin mendekat.

"Kalau begini, tempat ini pun harusnya bakal terendam juga," Ying mengerutkan kening.

"Harusnya Boboiboy meninggikan tempat ini lagi dong!" Gopal memegangi kepalanya dalam mode panik.

"Ya dia bakal kehabisan tenaga lah!" kilah Ying.

"Ochobot! Berapa waktu yang kita punya?" Melihat portal yang masih menganga, Yaya memprediksi waktu mereka lumayan lama.

"Sekitar tiga jam... tunggu! Empat Pelahap Ingatan mulai mendekati portal!"

Baik Yaya dan Ying memasang posisi siaga. Gopal sementara itu menyiapkan telunjuk . Dua menit berlalu tapi tak ada pergerakan apapun di bawah sana. Terlalu tenang untuk sebuah serangan.

"Mana? Tidak ada pun-"

"Gopal! Menjauh dari sana!"

Sesuatu membelit kaki kanan Gopal dan menarik pemuda itu hingga terjatuh ke dalam air. Yaya ikut menceburkan diri dan menemukan Gopal ditarik oleh tali atau cambuk panjang. Pelahap Ingatan itu memiliki jubah abu-abu pendek, wajahnya tertutupi topeng yang digunakan untuk menyelam. Kecepatan mereka berenang nyaris selihai hewan-hewan di air.

Tak mau kalah, Yaya memanipulasi air di sekitarnya dan ia bergerak lebih cepat. Ia mencapai posisi Gopal dan meraih bahunya. Gopal, yang panik dan berusaha menahan napas dengan mulutnya, melirik Yaya dan memaknai isyarat yang diberikan.

Tukar ini dengan kekuatanmu!

Gopal membuka mulutnya dan seketika tersedak sebelum mengucapkan nama jurusnya itu. Sinar melesat dari telunjuknya dan tali pun menjadi spageti yang langsung terputus. Yaya langsung maju dan melancarkan pukulan padunya. Pelahap Ingatan itu pun terdorong dan menembus tembok bata di belakangnya.

Merasa musuh telah kalah, Yaya mengikuti Gopal ke permukaan. Ia hampir kehabisan napas. Satu meter lagi menuju permukaan, sesuatu seperti jarum menusuk kaki Yaya.

"Ukh!"

Gopal menghirup udara begitu membelah permukaan air. Ia melihat sekeliling, dan menyadari Yaya belum juga naik ke permukaan. Firasatnya sungguh tak enak. Mengambil napas panjang, Gopal kembali menyelam. Yaya ada tak jauh di bawah, namun remaja putri itu nampak kesulitan bergerak. Seluruh badannya kaku.

Tak berlama-lama, Gopal menarik Yaya. Keduanya sampai ke permukaan dengan aman.

"Ying, Uhuk! Ada yang aneh dengan Yaya!"

Teriakan Gopal sayangnya tak terdengar. Dan ia tak punya kesempatan untuk menekan tombol handsfree-nyadengan tangan yang penuh. Ying rupanya tengah menghadang dua Pelahap Ingatan yang naik ke atas rumah itu. Situasi mereka cukup gawat.

"Go..pal. Di bawah!"

Peringatan dari Yaya membuat Gopal melirik ke bawah. Wajah yang tersamar di balik masker menyelam membuat Gopal bergidik. Pelahap Ingatan mengeluarkan senjata lainnya –sebuah pisau pendek- dari balik jubahnya.

"Terima ini!"

Gopal hanya bisa memberikan tembakan acak dan tendangan asal selagi menarik Yaya untuk ke bangunan terdekat.

"Boboiboy! Fang! Kita perlu bantuan!"

Panggilan darurat itu seketika membuat Taufan berbalik arah. Fang menghalau Boboiboy dengan segera, bahkan sebelum Ochobot selesai mengabari mereka. Taufan menggigit bibir, merasa Fang hanya akan membuang-buang waktu.

"Kita harus harus kemba-"

"Aku yang akan kembali. Kau lanjutkan saja mencari pilar dan Nukleus." Fang menatap tajam, ia nampaknya sudah bosan mengingatkan Boboiboy akan tugas utamanya sebagai Poros.

Elang bayang memekik nyaring, dan melesat ke arah portal masuk. Taufan menggerutu karena sikap Fang yang selalu memerintah seenaknya. Tapi Taufan tetap melanjutkan pencariannya.

Taufan menduga bahwa portal ada di bawah air, sama dengan misi ketiga mereka. Tapi tak terlihat bayangan mencurigakan di permukaan tanah. Ia memutuskan untuk terbang lebih jauh, ke arah hutan yang memiliki kanopi yang rapat.

Bayangan di lantai hutan itu menarik perhatiannya. Dan sesuai dugaannya, portal ada di bawah sana. Taufan meninggalkan pesan untuk Fang dan melesat masuk ke dalam portal.

.

.

.

Fang tiba tepat untuk menarik Gopal dan Yaya dari air.

"Faaaaaang!" tangis Gopal pecah seketika.

"Apa yang terjadi?" Fang melogok ke belakang.

"Yaya tiba-tiba tak bisa bergerak!" Gopal langsung nyerocos. "Dan Ying melawan dua musuh sekaligus!"

"Jadi, dengan yang kalian lawan. ada tiga ya?" Fang menangkap situasi. "Pertama-tama...!"

Fang langsung mengeluarkan harimau dan beruang bayangnya sekaligus. Kedua hewan itu memecah segera menerjang masing-masing musuh. Semula terdesak, Ying mendadak sumringah dengan kedatangan ketiga temannya.

"Syukurlah kalian datang!" mendapatkan kepercayaan diri lagi, Ying membantu harimau bayang Fang.

Beruang bayang Fang mengamuk dan mencakar Pelahap Ingatan yang kedua. Di sisi lain, Yaya mulai berdiri dan menghambat pergerakan Pelahap Ingatan dengan medan gravitasinya. Gopal, seperti biasa melucuti senjata musuh dengan sinar pengubah molekulnya itu. Situasi telah berbalik untuk mereka.

Pesan dari Boboiboy tiba dan Fang segera menghubungi balik.

"Boboiboy! Aku akan menyusul setelah mengalahkan Pelahap Ingatan di sini. Di sana baik-baik saja?"

Suara Boboiboy terdengar meragukan. Tarikan napas berat yang diselingi batuk-batuk bukanlah jawaban yang Fang harapkan.

"Satu Pelahap Ingatan mendekati portal pilar!"

Malam itu Fang berasa menjadi setrika yang kerjaannya mondar-mandir.

.

.

.

Lima menit sebelumnya.

Taufan sudah kegirangan karena ia bisa menemukan portal tanpa harus menyelam. Namun begitu ia masuk, bergalon air sedingin es mengepungnya. Portal itu terhubung ke dalam air. Hooverboard lepas dari kakinya dan Taufan terpelanting. Kekuatan elemental terputus seketika.

Intuisi memandu Boboiboy untuk bergerak ke atas, tapi permukaan air diselimuti oleh es. Berganti sekejap menjadi Halilintar, pedang tajam pun membelah es setebal lima senti itu tanpa ampun. Terjangan angin berhawa sangat dingin menyambut Boboiboy begitu ia menarik diri dari air dan duduk di atas tanah berselimut salju. Selain danau di hadapannya, deretan tebing dan bukit mengintimidasi dengan warna putih dan cekaman dingin.

"Hhh... hhh!" beku membuat Boboiboy lupa untuk berkata-kata. Setiap jengkal tubuhnya tak berhenti bergetar dan lupa bagaimana caranya untuk diam.

"Aku... harus mengeluarkan api." Akal sehatnya yang tersisa memutuskan untuk memanggil elemental terbarunya itu. Persetan bagaimana hasilnya, ia hampir mati membeku di sini. "Boboiboy Blaze!"

Elemental api itu segera mengeluarkan kekuatannya, kobaran api membuat salju di sekitarnya meleleh.

"Masih kurang panas!" Blaze mengeluarkan lebih banyak api, dan salju pun menguap dari radius lima meter dari tempatnya berdiri. Kini dingin tak akan mengusiknya. Ha! Blaze begitu sumringah.

Sosok berjubah menyembul dari kepingan-kepingan es yang hancur lebur barusan. Pelahap Ingatan itu melompat dari dalam air dan mendarat di tepian danau. tak jauh dari tempat Blaze mematung. Tangannya mengeluarkan cambuk dan bersiap untuk menyerang sang elemental api.

"Kebetulan, aku lagi kepingin pemanasan." Blaze menyeringai sambil membunyikan buku-buku jarinya.

-CdS-

Belum satu menit Fang menjejakkan kaki di dimensi pilar dan dia sudah mengumpat dua kali. Yang pertama tentunya karena ia harus melewati lautan beku. Ia bisa merasakan darah terkuras dari permukaan kulitnya dan tubuhnya yang gemetar hebat. Yang kedua ialah saat ia menarik tubuh basah kuyupnya ke tepian berbatu dan mendongak lalu kejutan kedua menerjangnya. Secara harfiah.

"Hujan meteor... bukan! Bola api!"

Gempuran bertubi-tubi dari bola berselimut api membuat tanah di sekitar mereka berguncang hebat. Fang menyadari persis, bagaimana sebuah bukit yang lumayan terjal berada tak jauh dari danau. Dan salju tebal yang menyelimuti punggung bukit itu mulai retak permukaannya.

"Yang benar saja!" Fang mengepalkan tangannya, mengumpulkan lebih banyak kekuatan bayangnya. Semua yang bisa ia kerahkan untuk melindungi diri dari bencana yang sebentar lagi datang. Persetan dengan Pelahap Ingatan untuk saat ini.

"Yeay! habis dia kena seranganku!" Blaze menyaksikan bagaimana Pelahap Ingatan berhasil ia kalahlan, tapi ia baru menyadari hal lain. "Ah! Saljunya!"

Longsor tak lagi terelakkan, Pelahap Ingatan yang sebentar lagi menghilang pun tersapu oleh salju. Fang, sementara itu membuat kepompong bayangnya setebal yang ia bisa.

"Eh, tadi bukannya Fang mau nyusul, ya?" Blaze menggaruk kepala, mengingat-ngingat rasanya ia melihat seseorang di bawah. "Gawat, gawat!"

Blaze menuruni bukit itu dengan tergesa-gesa. Kakinya menerabas salju dan meninggalkan jejak memanjang. Setengah mati ia mencari tanda-tanda kehidupan di sana.

"Hei, Fang! Kau ada di mana?" Ia berteriak ke semua penjuru. Tapi tak perlu berlama-lama hingga sosok yang dicarinya bangkit dari hamparan salju tebal yang menguburnya barusan.

"Lah, kau baik-baik saja rupanya," Blaze berseru lega, kekhawatirannya barusan semacam tak diperlukan.

"Baik-baik saja?" Fang maju dan memukul Blaze tanpa berpikir dua kali. "Bego! Kau mau menguburku hidup-hidup, hah?!"

Selagi memegangi pipinya, Blaze membela diri. "Dia yang langsung menyerang, mau bagaimana lagi?!"

"Kalian berdua! Sudah cukup dan kembali lagi fokus!" Ochobot segera menengahi lewat jalur komunikasi.

"Tsk! Awas kalau kau jadi barbar lagi!" Fang mendorong Blaze sebagai bentuk ancaman. "Berubah sana jadi elemental lain!"

"Heh, untuk misi kali ini, aku saja yang muncul sudah cukup lah!"

"Cepat ganti atau aku nggak akan ikut bertarung."

"Memangnya kalau aku kenapa, sih!" Blaze mulai kehilangan kendali dan kobaran apinya mulai meliar. "Kau cuma perlu duduk diam saja kalau nggak mau bantu!"

"Apa kau bilang!" Fang benar-benar kehabisan kesabaran dan menerjang Blaze sembari memiting batang lehernya "Siapa sekarang yang merasa sok hebat?"

"Berisik!" Blaze balas menendang Fang sekuat tenaga hingga pemuda berkacamata itu terjengkang.

.

.

.

"Boboiboy? Fang? Hei, kalian dengar atau tidak?!" Ying mulai cemas karena yang terdengar dari kedua orang itu hanyalah bunyi baku hantam dan salju yang berhamburan.

"Yap, kalau begini mereka tak mendengar apapun." Gopal menyahut dari dalam rumah. Ingin ia tetap meringkuk di sana sampai pertarungan ini selesai.

Dua harapan mereka malah tak bisa diajak berkompromi. Dini hari memang memicu pikiran dan konsentrasi mereka semakin ngawur.

Kedua mata Yaya nyalang. Sinar merah jambu memekat di sekitar tinjunya. "Apa harus kita susul saja?"

"Andaikan kita bisa masuk, sudah kulakukan itu dari dulu!" kaki Ying mengais-ngais tanah. Ia pun sama-sama telah kehilangan kesabarannya.

"Aaah! Bagaimana ini, Ochobot?" Gopal merasa mereka menabrak jalan buntu.

"Lima menit lagi regenerasi selesai!" Ochobot pada akhirnya menjawab. "Serahkan masalah mereka berdua padaku!"

"Kau tahu caranya?" Ying mengerutkan kening, keheranan. Sudah sepuluh menit Ochobot mencoba melerai, tapi tak ada kata-kata yang sampai.

Untuk kali pertama sejak pertemuan mereka di Matra, baru kali ini Ochobot tertawa. Tapi satu tawa yang membuat ketiga orang itu merinding bukan main. Nampaknya kesabaran sang robot pun sudah habis.

.

.

.

Blaze dan Fang tengah bergulat di antara tumpukan salju begitu kedua arloji mereka tiba-tiba saja padam. Seketika bayangan Fang menghilang, sementara Blaze menghilang dan Boboiboy kembali seperti semua. Keduanya membeku seketika, masih tak percaya apa yang terjadi.

"Kalau kalian seperti itu lagi, yang barusan akan terjadi lagi, loh." Ochobot muncul dan memutus komunikasi tanpa berniat mendengarkan jawaban apapun.

Keduanya menelan ludah dan saling berpandangan. Mereka telah lupa bahwa kekuatan yang ada pada mereka sejatinya berasal dari sang robot kuning. Kehilangan kekuatan saat ini berarti menjadikan mereka paling lemah.

"Aku susur bagian atas," ujar Boboiboy.

"Aku ke sekeliling danau ini!" tambah Fang.

Keduanya berpencar, Fang menuju ke arah danau dan memindai area secepat yang ia bisa selagi berlari-lari. Boboiboy memutari longsoran dan memanjat bukit dengan meraih batang pepohonan, atau batu yang mencuat. Mereka melupakan kekuatan mereka untuk sesaat saking paniknya.

Ultimatum Ochobot sangat efektif.

-CdS-

"Hiiyah!" Yaya menggunakan kekuatannya untuk melancarkan serangan dengan potongan tanah dan bebatuan ke dalam air.

Sayangnya Pelahap Ingatan yang berenang di bawah sana lebih cepat dan bersembunyi di balik tembok-tembok rumah. Yaya menggeram, menahan amarah. Gadis itu terbang dan mencoba mengejar dari atas permukaan air. Bayang-bayang musuh terlihat dari salah satu rumah, dan Yaya langsung menghindari sabetan cambuk yang hampir melilit tangannya.

"Mereka tak ada habis-habisnya, lah!" Ying kembali memperlambat musuh dan memberikan tendangan andalannya.

"Gopal!" Yaya meminta atensi temannya itu.

"Tukaran makanan!" Gopal mengubah cambuk menjadi spageti, lalu kembali bersembunyi ke balik pintu.

Kesemua musuh tak mengalami kesulitan untuk bergerak ataupun melemparkan senjata mereka. Yaya menghitung musuh yang ada di bawah, dan ia pucat pasi menyadari satu hal.

"Si penembak racun menghilang!"

.

.

.

Fang hampir mencapai sisi lain danau dan pencariannya masih nihil. Ia mulai menebak Nukleus berada di bagian atas. Tak ada waktu untuk mencari lebih jauh di area bawah. Namun sesuatu yang lebih mendesak pun menggeser skala prioritasnya saat ini.

"Musuh datang, Fang!"

Fang menaiki elang bayangnya dan kembali mendekati permukaan air tempat portal itu berada. Sesuatu menyembul dari air, si Pelahap Ingatan. Ia memegang sumpitan dan menembakkan sebuah jarum yang mengenai tangan Fang.

"Ugh!"

Seketika tubuh Fang kaku, dan elang bayangnya lenyap. Ia jatuh berguling-guling di atas salju. Fang menggigit bibir, menyadari bahwa jarum di kakinya itu beracun. Apa yang terjadi pada Yaya barusan. Pelahap Ingatan itu menepi dan berjalan berlari menghampiri Fang.

"Fang! Musuh yang kabur punya kekuatan racun!" peringatan Ying baru sampai lewat komunikasi mereka. "Hati-hati!"

"Kalian... telat bilangnya... tahu!" ujar Fang dengan terba-bata.

"Boboiboy! Susul Fang!"

"Kalau segini... masih bisa... kutahan!" Fang menciptakan harimau bayangnya dan hewan itu seketika menerjang musuh.

Pergerakan musuh yang tiba-tiba mendongak ke arah tebing di kejauhan membuat Fang menyadari ada seseorang di atas sana. Ikut mendongak, Fang menemukan Boboiboy berdiri di ujung tebing. Terlebih ia berada dalam rupa elemental apinya itu.

"Bodoh! Pergi sana!" amarah membuat kata-kata Fang kembali jelas.

"Bukannya seharusnya tolong?" Blaze terkekeh.

Bola api muncul di atas Blaze, semakin lama semakin besar. Blaze memejamkan mata, fokus untuk memampatkan bola apinya menjadi seukuran bola basket. Setelah dirasa cukup, ia membidik ke arah musuh.

"Fokuskan kekuatanmu untuk bertahan, Fang!" Blaze memberikan kode bahwa ia akan menyerang.

Fang memberengut, tapi ia melangkah mudur dengan gerakan yang masih kaku. Ia setidaknya harus menambah jarak. Pelahap Ingatan terpancing untuk maju, tapi sebelum ia mencapai Fang, bola api Blaze melesat dan telak dan mementalkan musuh hingga terjerumus ke dalam danau.

"Sudah kubilang, percaya sedikit pada kemampuanku bukan?"

Bayangan Fang semakin menghilang dan ia masih menatap tajam Blaze. Walau mereka berjarak cukup jauh, Fang bisa menebak bagaimana ekspresi Blaze dari nada bicaranya. "Nukleus belum ketemu, belagu sekali kau!"

Menonaktifkan kekuatannya, Boboiboy pun memberikan jawaban. "Duduk saja di situ dulu! Aku akan menemukannya!"

Sebuah gubuk kayu yang berada di puncak bukit tak hanya asing, tapi juga sepertinya menyembunyikan hal yang saat ini dicari olehnya. Boboiboy mengamati retakan-retakan dimensi itu bersatu pada satu titik. Hanya perlu waktu satu menit mencapainya dengan hooverboard.

Sebuah ruangan yang tak begitu luas di dalam saat Boboiboy mengintip dari lubang-lubang pada pintu kayu. Ia mendorong pintu yang agak reyot itu, lalu segera menyelusuri sudut demi sudut. Sesuatu yang berkilat di bawah meja menarik perhatiannya.

Tangan Boboiboy meraih sebuah bola berwarna biru es, yang tak lain adalah Nukleus. Seketika waktu di sekitarnya melambat, sunyi mengaburkan Boboiboy. Mereka masih memiliki banyak waktu sebelum fajar, dan remaja itu memutuskan untuk segera memasukkan chip mungil. Menjemput elementalnya yang lain.

.

.

.

Boboiboy menatap langit-langit yang masih utuh dari kamar apartemen. Hiasan-hiasan berbentuk bintang dan planet berserakan di sana, memancarkan cahaya redup. Ranjang iru begitu kecil, dan kaki Boboiboy menjulur melewati tepian kasur.

"Malam yang panjang bukan?"

Suara dari seseorang di samping membuatnya menoleh. Di ujung kasur yang menempel dinding, sosok elementalnya itu berbaring. Manik berwarna biru es berbinar dalam keremangan di sekitar. Untuk sekejap Boboiboy terkesiap.

"Bagaimana? Bukankah akhir-akhir ini semakin merepotkan?" sang elemental air memberikan senyum tipis. Ia menggeliat dan menarik selimutnya.

"Yah, sampai aku lupa bagaimana cara untuk tidur dengan tenang." Boboiboy ikut menarik selimut yang menutupi kedua kakinya.

"Kau ingin cepat kembali?"

"Tentu. Kawan-kawanku sedang menunggu." Ia tak bisa berlama-lama dan membiarkan mereka basah kuyup hingga subuh.

Tetesan-tetesan air yang satu demi satu membeku tiba-tiba mengisi ruangan. Kepingan-kepingan es menuruni udara sembari menyebarkan hawa dinginnya. Boboiboy kontan tergelitik untuk membiarkan satu es mendarat di telapak tangannya yang terbuka.

"Kau bisa memanggilku Ice." Sang elemental air itu tersenyum tipis.

.

.

.

Berlanjut pada chapter 15: Kuintuplet

A/N:

Haloooo, ketemu lagi di chapter ke-14 ini ^^

Terima kasih bagi yang telah mampir~

Untuk Koyu, memang animasi itu salah satu yang menginspirasi fanfiksi ini ^^ terima kasih banyak untuk reviewnya sekali lagi.

Liburan telah usai dan ini chapter lain akan dicicil setiap bulannya. Doakan saya bisa menyelesaikannya tahun ini!

Akhir kata, salam hangat dan sampai jumpa lagi~