Bersama adalah dadu dengan masing-masing sisi yang berlainan. Segala macam pertentangan opini, kehendak, dan ego diaduk-aduk menjadi sebuah dinamika yang menyita kesabaran. Entah bagaimana menyatukan semua persepsi ke dalam satu haluan. Di sisi lain, dinamika itu sendiri bisa saling melengkapi. Menjadi kekuatan yang tak terkalahkan.

Cipta dan Sirna

By: Koyuki17

Boboiboy © Monsta Studio

Chapter 15: Kuintuplet

Tak ada yang berani berbicara barang satu patah kata. Pita suara mereka mendadak macet dan tak terkondisikan untuk memproses kata-kata. Kelima elemental duduk saling berhadapan. Menempati masing-masing sofa yang mengelilingi meja kecil ruang tamu. Diperlakukan sebagai tamu di rumah sendiri adalah situasi yang asing bagi siapapun.

Gempa memelototi Blaze. Ketukan kaki elemental api itu semakin intens dan membuatnya jengkel bukan main. Halilintar, yang berada di samping Gempa bergeming seolah ia dipahat langsung bersama sofa yang mereka duduki. Taufan, yang diapit oleh Ice dan Blaze mengalihkan pikiran dengan sesekali melirik televisi yang menyala di ruangan sebelah. Hanyalah Ice yang cukup rileks, sesekali tertunduk dan terkantuk-kantuk.

Sosok yang mereka tunggu keluar dari pintu dapur, hanya Gempa dan Halilintar yang mengangkat muka dan mengamati dengan jeli. Tok Aba membawa nampan berisi ice chocolate spesialnya. Dengan kelihaian seorang pemilik kedai, ia menghidangkan lima cangkir. Tepat untuk kelima elemental Boboiboy, yang secara kompak memelototi jatah masing-masing.

"Kenapa? Ayo diminum!"

Gempa dengan kalut berupaya menyusun jawaban selogis mungkin untuk situasi di luar nalar siapapun. Sumpah ia penasaran bagaimana Tok Aba bisa sekalem itu tanpa pingsan seperti tempo hari. Halilintar dan Taufan di sisi lain memulai perang mereka. Kaki usil Taufan melewati kolong meja dan menyodok kaki Halilintar saat ia hendak mengambil gelasnya.

"Coklat lah!" Blaze dengan cepat menyambar gelasnya dan minum dengan serampangan sebelum dicegah. Dua detik kemudian matanya melotot lalu mulai terbatuk-batuk keras.

"Ish! Jangan batuk ke arah sini lah!" Taufan mengelap cipratan yang terlanjur menyebar di celananya.

"EHEM!"

Tak ada yang tak terperanjat. Tok Aba kini benar-benar serius.

"Dulu, waktu melihat kalian ada tiga, itu berarti bukan bayangan atok saja bukan?"

Tak ada lagi kesempatan untuk mengelak, mereka telah terpojok.

"Jadi begini, Tok." Gempa memberanikan diri untuk menyahut setelah tiga elemental lain meliriknya dengan mata penuh harap. Namun sebelum ia membuka mulut, napasnya malah terinterupsi.

Gluk. Gluk. Gluk.

Kontan semua atensi melayang pada Ice. Tanpa jeda ataupun tersedak serta dalam beberapa tegukan, minuman miliknya segera tandas. Helaan napas puas Ice mendapat pelototan semua orang di sana. Ice lantas menarik topinya ke bawah dan meletakkan gelas di meja dengan patuh. Ia bahkan tak punya kesempatan untuk memuji betapa enaknya minuman itu.

"Jadi... apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian?" Tok Aba menyeret topik kembali pada jalur yang benar. "Kalian semua Boboiboy, bukan?"

Tak ada kesempatan untuk menghubungi Ochobot ataupun Fang. Gempa dengan terbata-bata dan memilah dengan cepat sepak terjang mereka di Matra hingga saat ini, Mengingat-ingat apa yang boleh diketahui, dan apa yang tak boleh terlepas dari lisannya itu.

-CdS-

Kembali pada beberapa waktu sebelum situasi pelik itu terjadi.

"HUATCHI!"

"HACHIH!"

"HUAAATCIIIIIIH!"

Koor bersin mengacaukan suasana sesi terkahir ujian. Kendati udara panas terik di luar sana, beberapa malah terserang gejala flu misterius. Tak lain dan tak bukan adalah mereka yang berenang di air sedingin es tengah malam hingga subuh ini. Dan di antara kelimanya, Gopal mendapat predikat paling sering bersin dan paling besar pula suaranya.

"Duh, tahu begini aku nggak akan lama-lama berenangnya!" Gopal meringis sambil melirik Fang, yang kebetulan duduk paling dekat dengannya.

"Diam lah!" ketiga kali diajak bicara, Fang menyahut setengah kesal.

"Kalian berdua sudah selesai ya?" Pengawas ujian yang sudah lama risih menangkap basah kedua orang yang bercakap barusan. "Silakan keluar kalau begitu!"

Fang terperangah begitu kertas soal dan lembar jawaban miliknya Gopal diambil oleh pengawas yang memang terkenal cukup galak itu. Habis sudah kesempatan Fang untuk setidaknya membuat satu ulangannya mendapat hasil maksimal di tengah misi. Apalagi ini adalah dua ulangan terakhir pula.

"Sekalian kalian bawa teman kalian yang satu itu." Telunjuk sang pengawas beralih pada salah satu kursi di deret paling depan.

Boboiboy duduk bersedekap sejak lima menit yang lalu. Berbantalkan lipatan tangan, ia rupanya sudah tertidur pulas dengan dengkuran yang semakin membahana. Beberapa teman sekelas mereka terkikik, sementara para pejuang Matra hanya bisa memaklumi dalam diam. Kawan mereka memang butuh istirahat yang cukup panjang.

.

.

.

"Kenapa tak bangunkan aku tadi?!"

Muka Boboiboy bukan main merahnya. Ia bangun tepat di meja panjang kebun botani sekolah. Langsung menjadi pusat perhatian bapak penjaga kebun botani dan beberapa siswa yang kebetulan melewati pintu masuk.

"Pulas sekali sih, kau!"

Gopal lalu kembali meledek Boboiboy karena suara dengkurannya yang membahana. Tapi itu bukan satu-satunya hal yang membuat tatapan aneh dan tawa cekikikan tertuju pada Boboiboy seorang. Boboiboy tahu persis karena ia bangun sambil memegang sekuntum bunga berwarna kekuningan beraroma menyengat. Belum lagi dengan bunga-bunga mungil berwarna putih yang tersangkut di rambutnya.

"Kalian tadi ngambil foto yang aneh-aneh kan?" Boboiboy mencabuti segala macam kembang yang tersangkut di rambut dan telinganya.

"Nggak tuh," Fang tersenyum puas dan jawaban lain pun tersirat jelas di sana.

"Coba aku lihat sini!"

Pemuda bertopi itu mencoba merebut ponsel Gopal. Namun tidak cukup cepat dan temannya itu menjauhkan ponselnya itu setinggi mungkin. Pergulatan kembali terjadi dan mereka bertiga kena tegur pak penjaga. Perseteruan itu berakhir kala Gopal disuruh menghapus foto Boboiboy bertema putri tidur.

"Habis, kita belum bisa keluar sekolah dan hanya di sini tempat yang sepi." Fang berdalih dengan nada yang kembali serius. "Integrasimu masih belum, kan?"

Tidur berarti melepaskan kesiagaan dan kontrol diri, apalagi jika terlampau pulas. Fang sudah membayangkan Boboiboy akan berpecah menjadi kelima elementalnya. Tepat di tengah kelas mereka.

Tapi bagi Boboiboy, alasan itu tak ada kaitannya dengan mendandaninya menjadi putri tidur dan menambah dekorasi bunga-bunga liar.

Boboiboy menghela napas lalu mengecek arlojinya. Tak ada pertanda apapun di sana. "Sepertinya masih belum dimulai. Oh ya, yang lain pada ke mana?"

"Ying dan Yaya-"

"Permisi~"

"Ah, itu mereka." Boboiboy melirik ke arah pintu botani.

"Panjang umur." Gopal bersiul.

Sebagai dua murid teladan, Ying dan Yaya menyapa bapak penjaga dengan sopan. Lalu mereka berkumpul di kursi kebun botani sekolah.

"Boboiboy, sudah baikan?" sapa Yaya sambil melambaikan tangan.

"Bukan main, pulas sekali tadi kau tidurnya!" komentar Ying.

Boboiboy tertawa datar, sungguh ia ingin mengelak dari topik ini.

"Coba kamu cek ponselmu dulu, Boboiboy." Yaya mengulurkan ponsel yang sebelumnya dititipkan pada pengawas ruangan. "Tadi sepertinya ada yang menelpon."

Boboiboy segera menyalakan ponselnya. Ada dua panggilan tak terjawab dari sang atok. Keringat dingin langsung mengucur.

"AH! Aku lupa sesuatu!" Boboiboy melompat berdiri lalu mulai berjalan mondar-mandir dengan gelisah.

"Jadi, apa yang kau lupakan, tuh?" Fang menghela napas. Bukan hal aneh jika temannya yang satu itu bisa kelewat lupa.

"Kedai! Aku harus membantu di kedai hari ini!" Boboiboy meringis. "Kira-kira bakal keburu integrasi tidak, ya?"

"Loh, bukannya bagus? Kau bisa bergantian kerja di kedai dan tidak jadi capek, kan?" Gopal mengoreksi.

"Mending kalau itu terjadi sebelum ke kedai! Kalau dia berpecah menjadi lima di kedai yang ramai, ya gawat lah!" kilah Ying.

"Badanmu tapi sudah gak kenapa-kenapa?" tanya Yaya cemas.

"Sudah jadi segar lagi!" Boboiboy tersenyum pada kawannya itu. "Sekarang, aku harus bagaimana ini?!"

"Pulang nanti, kau ke Matra dulu, buat portal langsung ke rumahmu." Fang menjawab dengan enteng. "Kalau nanti kau mulai mau integrasi kau cepat kembali ke portal. Oiya, jangan biarkan atokmu bolak-balik ke rumah atau dia nyasar ke Matra."

"Oke! Tapi, bagaimana kalau tak sempat?"

Boboiboy berpecah dalam hitungan lima detik, bahkan kurang dari itu. Sekalipun ia berada di klub olahraga, sprint dari kedai ke rumah perlu setidaknya satu menit.

"Lari saja pokoknya!"

Sedikit memaksa, tapi apa boleh buat.

"Kita justru harus bersiap kalau integrasinya terlanjur dimulai tepat di tengah kedai," Fang mendecakkan lidah, sulit untuk menghadapi situasi yang satu itu. "Kalian ada ide?"

.

.

.

Puncak festival ulang tahun kota adalah momen penting untuk mendapat lebih banyak pelanggan dalam satu hari. Tok Aba selalu membuka kedai sedikit lebih siang dan buka hingga nyaris tengah malam untuk momen tersebut. Tahun ini, Boboiboy menyelesaikan ujiannya siang dan telah berjanji untuk membantu. Namun percakapan dua hari lalu itu telah terkubur dari ingatan Boboiboy akibat misi semalam.

"TOK!" Boboiboy nyaris membanting pintu. Napasnya tersengal setelah secepat kilat naik ke lantai tiga sekolah, menuju Matra, dan membuka portal yang langsung terhubung ke pintu depan rumahnya.

"Ya ampun, Boboiboy!" Tok Aba berada tak jauh dari pintu. Dus berisi perlengkapan dan berkaleng-kaleng bubuk cokelat lepas dari tangan sang atok dan menubruk lantai dengan cukup keras. Dari bunyinya, tak ada barang yang pecah belah di sana.

"Ketuk pintu dulu, dong! Mana juga salamnya?"

Boboiboy tertawa gugup, ia lekas memberi salam lalu . "Jadi, langsung ke kedai, Tok?"

"Ganti baju dulu baru antarkan dus yang satu lagi ke kedai." Tok Aba menunjukkan benda yang dimaksud. Ia mengambil dus yang baru saja dijatuhkannya barusan.

"Atok baru mau ke kedai?" Boboiboy sudah mengira ia sangat terlambat barusan. Ujian terakhir berlangsung cukup lama dan malah ada pengumuman terkait acara pentas sekolah mendatang.

"Belum. Tadi teman lama atok mampir ke sini." Tok Aba menyahut dengan riang. Suasana hatinya nampak naik dengan pertemuan barusan. "Taman baru dibuka barusan karena ada persiapan apalah itu. Jadi kita bisa bersiap-siap lebih lama."

Seketika Boboiboy tertunduk dan menghela napas lega. "Terus, kenapa atok telepon tadi?!"

"Oh, siapa dulu yang suka lupa," Tok Aba hanya nyengir, ia tahu persis kebiasaan cucunya. "Loh, itu kenapa jam tanganmu?"

Boboiboy langsung mengecek benda yang dimaksud secepat kilat. Tepat saat layar arlojinya itu benderang dan sinar meledak ke seisi ruangan. Oh, tidak di sini. Boboiboy secepat kilat menuju pintu, tapi di saat itulah ia terpeleset karpet dan jatuh terjerembab sebelum berhasil meraih kenop pintu.

"Aduh!"

"Hoi! Sakit lah, siapa yang menginjak tanganku?!"

"Sssst! Cepat ke- "

Dus yang dipegang Tok Aba tergelincir dari tangan, jatuh bersamaan dengan rahang bawahnya. Tok Aba ternganga dan bisu seketika. Tepat di depan matanya, Boboiboy telah terbagi menjadi masing-masing elemental.

Situasi seketika menjadi rumit untuk Boboiboy.

-CdS-

Menelanjangi rahasia tentang kekuatannya adalah satu-satunya penjelasan yang bisa Boboiboy berikan. Ya, dia tak mungkin lagi membohongi sang atok. Penjelasan sekilas tentang Ochobot, sumber kekuatan mereka, dan juga kewajiban untuk mengalahkan musuh yang mengancam keamanan kota. Sulit untuk tidak terpeleset lidah dan membeberkan entitas Pelahap Ingatan.

"Jadi begitu toh, pantas saja tingkahmu aneh belakangan ini." Tok Aba mengangguk-angguk pelan. "Rupanya pencuri yang waktu itu!"

"Atok nggak terkejut, nih?" Taufan mengangkat sebelah alis.

"Awalnya begitu, tapi rasanya atok jadi nostalgia lagi." Tok Aba membereskan tiga gelas yang telah kosong.

Gempa bangkit dan mengambil kedua gelas dari tangan sang atok. "Biar aku saja, Tok."

Tok Aba cengar-cengir dan menempati tempat duduk Gempa, yang sudah beranjak ke wastafel. "Rajinnya cucu atok yang ini! Ngomong-ngomong, bagaimana atok harus memanggil kalian satu-satu?"

"Gempa, Tok."

"Taufan!"

"Blaze!"

"Halilintar."

"... Ice."

"Oke, akan Atok ingat-ingat." Tok Aba telah mengamati sekilas perbedaan gestur dan pembawaan masing-masing elemental Boboiboy. Dalam satu kali percobaan, Tok Aba memanggil kelima elemental secara bergantian dengan tepat.

"Oiya Tok, tadi maksudnya nostalgia itu memang dengan siapa?" Gempa masih penasaran dengan cerita yang terputus tadi.

"Tentu saja nostalgia tentang Amato!" Tok Aba mulai tertawa-tawa dan menyeka sudut matanya yang berair. "Tapi kalian harus berusaha lebih keras lagi untuk menyaingi ulah ayah kalian itu!"

"Memang ayah pernah ngapain aja sih, Tok?" Taufan merangsek maju menuju tepi sofa. Intuisinya tergelitik.

"Cerita lah, Tok! Cerita!" Blaze ikut bersemangat. Suasana menjadi selumrahnya kakek dan cucu-cucunya bertukar cerita.

"Lain kali, sekarang atok mau buka kedai dulu!"

Sorak bernada kecewa dilontarkan Blaze dan Taufan, bibir mereka berdua bersungut-sungut.

Gempa melirik Tok Aba dan meminta perhatian. "Kami sementara waktu terpisah menjadi seperti ini-"

"Walau nanti bakal nambah dua, ya kan?" Taufan nyengir kuda.

"Hah, masih ada lagi? Kalian nanti bisa berpecah menjadi tujuh?!" Tok Aba kembali terbelalak.

"Kenapa kalian kasih tahu segala, sih?!" Gempa mendumel, ucapan yang keluar dari mereka berdua selalu membuka masalah baru.

"Biar seru!" seru Blaze.

"Maksudya biar ada persiapan." Taufan dengan segera mengoreksi.

"Tidak bisa dibiarkan begitu saja ini!" Tok Aba berseru nyaring. "Kapan lagi bisa seperti ini!"

Kelima elemental menganggap sang atok telah berada dalam mode histeris. Nampaknya membeberkan semua ini pun bukan pilihan yang tepat.

"Kebetulan sekali hari ini puncak festival! Rumah juga masih berantakan!"

"Eh?"

-CdS-

"Pesanannya silakan, dua ice chocolate special Tok Aba."

Fang bersedekap dada, menatap tajam cangkir yang disodorkan padanya dan melirik pramusaji hari ini. Semua orang di sana kecuali dirinya dan Gopal tak melihat manik rubi dari elemental petir Boboiboy itu. Ya, integrasi sudah dimulai dan dua elemental Boboiboy keluyuran di tengah hiruk pikuk kedai yang semakin menjadi.

"Lalu..." Fang menghela napasnya, sebuah ancang-ancang sebelum dia bangkit dan menyentak Halilintar sepelan yang ia bisa. "Kenapa kalian muncul? Berdua lagi!"

"Apa boleh buat, Tok Aba sudah memergoki kita dan hari ini pas sekali banyak kerjaan!" Halilintar tak terima dengan sentakan barusan.

Membaca dengan baik suasana yang memanas, Gempa menghampiri meja teman-temannya. "Kalian ke mana saja? Sudah kutunggu dari tadi loh!"

"Gem- Boboiboy! Kenapa nggak menghubungi duluan, hah?!" Fang bersikeras, minimal ia seharusnya diberi tahu.

"Kami sibuk persiapan, lah! Mana sempat." Gempa membungkukkan badan dan mengarahkan mulutnya tepat di sebelah kuping Fang lalu berbisik. "Aku tidak menceritakan soal Matra, kok."

"Lalu kau memperkenalkan Hali sebagai siapa? Sepupu jauh dari Boboiboy?"

Gempa tertawa hambar, apa lagi alasan yang bisa ia buat? Fisiknya dan Halilintar sudah tak diragukan pinang dibelah dua. Tak mungkin kebetulan orang di luar sana tiba-tiba berwajah serupa dengannya tanpa adanya hubungan darah.

"Hei, Nak Hali! Bisa pesan cokelat tariknya satu lagi?" Suara dari meja sebelah memutus perdebatan mereka.

"Baik, tunggu sebentar Pak Cik!" Halilintar dengan cekatan menghampiri Tok Aba dan menyampaikan pesanan barusan.

Gopal yang melirik kursi tepat di belakangnya itu langsung menangkap wajah familier. "Eh, Appa? Sejak kapan di sini?!"

"Sejak tadi lah, kamu ke mana saja? Tak bantu Appamu ini jualan macam Boboiboy!"

"Appa sendiri malah bersantai di sini!"

"Sudah habis pun dagangannya!"

Ayah anak itu menjadi dua orang yang bergaduh sekarang.

"Boboiboy! Bagaimana bisa kamu punya sepupu yang persis sama denganmu?" Sobat karib Pak Cik Kumar kini tak kalah penasaran.

"Betuh tuh! Yakin kalian bukan kembar?" timpal Pak Cik Kumar.

"Bukan, kok. Sudah lama saja kami nggak ketemu." Gempa melontarkan kata-kata itu selancar mungkin dengan senyum ramahnya. Ia menyesal harus berbohong, tapi apa boleh buat.

Gempa berharap nanti Tok Aba setidaknya tak menyuruh mereka semua untuk bekerja di kedai selama integrasi nanti. Terlalu kebetulan jika ia punya enam sepupu jauh berwajah sama yang tiba-tiba muncul.

"Jangan-jangan saudara jauhmu yang lain juga mirip denganmu?" Lalu para bapak-bapak itu tertawa-tawa tanpa menyadari candaan mereka memang benar adanya.

"Tapi kalian memang mirip Amato kan ya?"

Mendengar nama sang ayah disebut, Gempa tiba-tiba teringat sesuatu. Hal yang akhir-akhir ini tegusur oleh hari-harinya di Matra.

"Bagaimana kabarnya sekarang? Sudah lama sejak ia ke sini."

Surat. Kapan terakhir kali surat dari ayahnya tiba? Biasanya sang ayah tak pernah terlambat memberi kabar. Ia baru saja diingatkan tentang surat-surat itu.

"Boboiboy?"

"Ah, sehat-sehat saja kok, Pak Cik." Gempa menarik bibirnya untuk tersenyum. Benaknya berkata lain, menyimpan baik-baik pertanyaannya barusan.

"Sssstt, Fang!" Gopal menyodok tangan Fang dengan sikunya sembari berbisik. "Appaku percaya saja, tuh."

"Tetap saja ini nggak bagus." Fang menggelengkan kepala. "Dia terlalu mencolok."

"Lalu yang lain pada di mana? Jaga rumah?" tanya Gopal.

"Yap, di rumah. Beres-beres."

"Sebentar." Fang mengabsen elemental yang dimaksud. "Nggak salah nih, mereka?"

"Nanti aku akan mengecek ke sana kalau kedai sudah agak kosong! Sudah, ya!" Gempa menyadari Tok Aba telah memberi isyarat untuk melayani pelanggan lain yang baru datang.

"Perasaanku nggak enak, nih."

.

.

.

"Kenapa sih dia jadi makin seenaknya menyuruh kita?" Ying bersungut-sungut. Sampai kapan pun ia tak suka dengan sikap Fang yang menurutnya selalu seenak jidat mendikte apa yang harus mereka lakukan. "Dia masih berutang pada kita semua hal yang ia tahu tentang Matra, dan masih pun dia sembunyikan coba!"

Kali ini mereka hendak menengok ke rumah Boboiboy dan memastikan tiga elemental lain tidak berulah.

"Sudahlah, Ying." Yaya mengacungkan panci mungil yang dibawanya dari rumah. "Toh memang kebetulah sekali mamaku menitipkan makanan ini untuk Tok Aba dan Boboiboy."

Ying menatap horor asap berwarna pekat yang lolos dari celah panci. Dalam hati ia bertekad takkan menanyakan masakan apa yang ada di dalamnya.

"Kau mau bawa juga, Ying? Masih ada sepanci besar di rumah." Yaya cukup jeli untuk menangkap tatapan penuh selidik Ying barusan.

"Tidak usah repot-repot, Yaya!" Ying tertawa grogi. "Kita cepat antarkan itu dan mengecek mereka."

Ketukan pintu dan ucapan salam tak disahut dari siapapun yang ada di dalam sana.

"Loh, jangan bilang mereka nggak-"

BRAK!BUG!PRANG!

Bunyi dari dalam membuat kedua gadis saling berpandangan dan lekas menggedor pintu dengan keras.

"BOBOIBOY! Apa yang terjadi di dalam sana?!" Ying panik dan tangannya refleks mencoba memutar kenop pintu. "Ah, nggak dikunci."

Keduanya langsung menghambur masuk, tak sampai empat langkah langsung mematung di tempat. Mereka tahu persis bagaimana keadaan rumah Boboiboy dan bagaimana Tok Aba selalu disiplin masalah kebersihan. Hampir semua yang tertata kini keluar dari posisi seharusnya. Rumah berhasil disulap menjadi kapal pecah oleh ketiga elemental Boboiboy.

Saat tertangkap basah, Taufan memegang gagang pel dan ember di sebelahnya sudah tumpah seluruh isinya. Blaze entah kenapa ada di lantai, Ying menebak ia baru saja meluncur dan menabrak rak buku, karena semua isi raknya berhamburan. Hanyalah elemental baru yang nampak damai di atas sofa ruang tamu.

"Kalian lagi ngapain?!"

Taufan tertawa-tawa sambil mengacungkan pelnya. "Apa nggak kelihatan ya? Kita lagi bersih-bersih lah!"

"Yang pasti, pake cara yang seru!" Blaze bangkit dan mengacungkan jempolnya Jelas mereka baru saja mengepel sambil Blaze meluncur di atas kain pel dan menabrak rak dan segala isinya.

"Yaya."

"Oke, Ying."

Tanpa basa basi, keduanya mengepalkan kedua tangan dan menekuk ruas-ruas jari. Suara gemeletuknya mulai mengintimidasi Taufan dan Blaze. Terkadang, untuk menghadapi watak-watak yang demikian adalah dengan tindakan tegas.

.

.

.

"Kalian bisa nggak, sih nggak menambah masalah?!"

Ketiga elemental kembali dibuat duduk bersimpuh, dan kali ini oleh Gempa yang datang tak lama setelah Yaya dan Ying.

"Bersihkan yang benar atau kita lihat bagaimana hasil sparring di tempat latihan."

Gempa adalah elemental yang paling cakap dalam bertahan sekaligus menyerang. Di samping tempramentalnya yang minim, tak ada yang berani melawan kalau sudah membuat Gempa marah. Karena ia adalah elemental yang paling bertanggung (terpaksa menanggung) jawab sejauh ini.

"Kalian mengerti?"

"Siap, mengerti!" Taufan dan Blaze tak lagi berkutik. Mereka sudah bersiap mengambil pel dan sapu. Hanya Ice yang masih duduk bersimpuh. Ia yang sedari tadi membisu mulai berbicara.

"Tapi..."

"Kenapa Ice?"

"Aku nggak ngapa-ngapain kan?" Tatapan Ice lurus-lurus saja, jelas tak memahami kenapa ia ikut kena sembur.

Gempa ingin meringis sejadi-jadinya.

-CdS-

"Jadi, kalian berpecah di depan kakek kalian dan akhirnya diberdayakan di rumah dan kedai?"

Sepanjang sejarah Matra, baru kali ini sang robot kuning mendengar kasus demikian. Kendati memang, Poros pemecah seperti Boboiboy termasuk jarang. Dibanding Fang, reaksi Ochobot begitu kalem dan membuat Gempa yakin bahwa Fang terlalu histeris.

"Yang penting, jangan bawa atokmu itu ke sini saja~" celetuk Ochobot . "Jadi, malam ini hanya kalian berdua?"

Integrasi kali ini lebih sepi, apalagi sudah lewat tengah malam.

"Semuanya kecapean karena misi kemarin dan juga festival." Halilintar yang kini menjawab. Ia duduk berselonjor di bawah. Berinteraksi sambil setengah bersandiwara selama jam buka kedai juga telah menguras tenaganya.

"Setidaknya kalian nggak harus menggosok seisi rumah sampai kinclong." Taufan mencibir. Ia terkapar di lantai bersama Blaze dan Ice.

Gempa terus bolak-balik mengecek keadaan di rumah dari kedai. Tak membiarkan tiga elemental lain berleha-leha atau malah berulah.

"Kita semua hari ini bekerja sama beratnya, oke?" Gempa langsung memungkas sebelum perdebatan itu dimulai.

Halilintar bergumam, "siapa coba yang paling capek."

"Kau bilang sesuatu?" Gempa tak bisa mendengar dengan jelas karena dia berada dekat dengan Ochobot di sisi ruangan lainnya.

Halilintar menggelengkan kepala dan menarik topinya. Ia mencoba untuk memejamkan mata.

"Jadi, kita masuk sekarang?" tanya Gempa.

"Lima menit lagiii" Blaze memelas.

"Lima menit, oke."

Gempa pada akhirnya duduk dan bersandar ke tembok seperti Halilintar. Ia memijat-mijat kening, mencoba mengendurkan sarafnya yang semenjak siang terus tegang. Belum satu menit, Gempa melirik satu-satunya orang yang menemani mereka malam ini.

"Padahal, kau juga nggak usah ikut, Fang."

Ini integrasi kelima dan Boboiboy rasa ia bisa menanganinya sendiri.

"Aku ada perlu dengan Ochobot, istirahat dulu sana!" Fang, yang sedari tadi menjaga jarak dengan para elemental Boboiboy mulai beringsut ke arah sang robot. "Ochobot, aku mau mengecek sesuatu-"

Selanjutnya, Gempa tak bisa mengikuti perbincangan antara Fang dan Ochobot. Lelah mulai melahapnya, memaksa untuk memejamkan mata sejenak. Mungkin beristirahat sejenak tidak buruk juga.

.

.

.

"Kau nggak ikut terjun nih Fang?" Gempa mendongakkan kepala untuk bertatapan muka dengan lawan bicaranya.

"Tidak, aku mengamati dari sini saja." Fang menunggangi elang bayangnya, yang terbang berputar putar dalam jalur yang cukup jauh. Jelas ia tidak berencana untuk basah kuyup malam ini.

Selain Taufan, yang berdiri di atas hooverboardnya, semua elemental terjun ke air yang jernih di Matra kelima. Nyaris tak ada perbedaan antara tempat ini ketika mereka menjalankan misi tempo hari. Air masih menggenangi segalanya, menyelimuti tanah dengan lapisan dingin setinggi tiga meter.

Menjulang tinggi seperti biasanya, Pilar yang tercipta di Matra kelima. Mereka harus berenang sejauh sepuluh meter dari portal untuk mencapai dinding pilar berwarna pucat itu.

"Loh, nggak terjadi apa-apa nih?" Halilintar kebigungan.

"Kau harus mencapai dasar menaranya, Boboiboy!"

Tentu saja. Baru kali ini mereka menyentuh pilar itu dari atas. Mereka berlama sama-sama melirik Gempa.

"Dalam hitungan ketiga, semua menyelam."

"Wih, asyik!" Blaze kegirangan.

"Padahal kau api kan ya?" komentar Taufan sambil terkekeh.

"Satu.. dua.. TIGA!"

Setelah semua elemental menarik napas panjang, mereka pun menyelam ke dasar pilar. Ice yang pertama kali sampai, sementara yang lain secara hampir bersamaan menyusul. Integrasi pun berakhir dan Boboiboy kembali menjadi satu. Tak kuat berlama-lama di bawah air, Boboiboy langsung berenang kembali ke permukaan.

Boboiboy tersedak begitu bisa menarik napas. Tenggorokannya perih dan matanya berair. Sebelum bisa melihat dengan jelas, kedua tangannya dicengkram oleh kaki elang bayang Fang. Ia dibawa menjauh dari air.

"Te.. terima kasih Fang."

"Ayo, kita cepat pulang."

Mengangguk pelan sambil masih terbatu-batuk, Boboiboy tak banyak berbicara. Sayup-sayup kesadarannya terpecah. Ia seolah masih terapung di permukaan air berwarna biru jernih itu. Ia mengerjapkan mata.

Seseorang ada di sampingnya, sama-sama terapung dengan wajah menghadap birunya angkasa. Boboiboy menggulirkan bola matanya, menangkap figur elemental terbarunya.

"Sudah lebih rileks sekarang?" tanya Ice.

"Lumayan, minggu yang begitu luar biasa," Boboiboy terkekeh. Berada di antara hamparan air membuat tubuhnya lebih ringan.

Dalam satu minggu itu, mereka menghadapi dua misi Matra sekaligus. Dibandingkan dengan Matra keempat yang secara notabene adalah gedung yang terbakar, di sini tentunya lebih nyaman untuk disinggahi.

"Sebentar lagi," ucap Ice dengan serius. "Sampai saat itu, takkan lama."

-CdS-

"Boboiboy, kau harus berhenti berpecah menjadi lima elementalmu sekaligus. Serius."

Sesi latihan kali ini, selain diisi oleh eksplorasi kekuatan seperti biasa, selalu penuh warna dengan para elemental Boboiboy. Masih ada waktu sekitar dua minggu hingga distorsi selanjutnya. Dan Boboiboy belum menyerah dengan tekadnya dalam satu hal.

"Baiklah, aku hanya ingin terbiasa mengeluarkan lima dan memudahkan misi selanjutnya." Gempa merenung, ia ingin membantu teman-temannya jika mereka kerepotan menghadapi Pelahap Ingatan.

"Fokus pada Nukleus adalah peranmu, camkan itu." Fang sudah bosan mengucapkan hal itu. "Kalau ada apa-apa, biar aku saja yang membantu. Kau masih meragukan kemampuanku?"

Selama ini, Fang selalu menjalankan tugas ganda. Sesuatu yang Ochobot tegaskan adalah posisi yang menguntungkan, karena sesuai situasi Fang akan menutupi kekurangan itu. Namun Boboiboy merasa bahwa ia masih harus membantu. Siapa tahu Jubah hitam datang lagi.

"Sekarang lebih baik pikirkan keunggulan masing-masing elementalmu, Boboiboy." Ochobot turut memberikan saran.

Halilintar unggul dalam hal kecepatan dan serangan jarak dekat. Taufan bisa bermanuver di udara, bisa melindungi atau memberi serangan jarak jauh. Gempa adalah tameng utama sekaligus penyerang jarak jauh. Blaze hanya unggul dalam menyerang dan pertarungan dengan tangan kosong. Ice, sebagai elemental baru masih belum dieksplor.

"Dan satu lagi, jangan keluarkan mereka berbarengan," Ying nimbrung dan menambahkan, telunjuknya mengarah pada satu ruangan latihan.

"Pusaran Taufan!"

"Hembusan api!"

Kedua serangan itu langsung menciptakan pusaran api kolosal yang menghanguskan segala sesuatu yang ada di ruangan itu. Serangan destruktif yang selain ampuh menyapu musuh, juga kawan yang ada dalam radius serangan.

"Serangan kami hebat kan?"

"Kalau begini, kita yakin nggak akan terkalahkan!"

Mereka memang perlu membangun tim yang tak menimbulkan bencana.

.

.

.

Berlanjut pada chapter 16: Rimba

A/N:

Lama tak berjumpaaa~

Perjuangan empat bulan ini selesai sudah untuk chapter kelima belas ini. Bukan waktu yang mudah, tapi pada akhirnya kembali selesai.

CdS masih menuju babak utama, semoga saja bisa terkejar di antara kesibukan saya selama ini.

Terima kasih bagi yang masih membaca coretan ini.

Salam hangat dan selamat berlibur~ ^^