Mereka sama seperti kita dalam hal menghela napas. Namun tanpa daya untuk mengeluarkan suara lewat mulutnya. Mereka nyatanya dapat merangkai bahasa tanpa kata-kata. Frasa-frasa yang tersirat dalam gemerisik daun, kelana akar dalam bumi, serta aroma suma. Samudra rahasia semesta yang masih menunggu untuk dijamahi.

Cipta dan Sirna

By: Koyuki17

Boboiboy © Monsta Studio

Chapter 16: Rimba

Bunyi renyah serasah yang remuk mengekori setiap satu injakan kaki berbalut sepatu bot kumal. Kabut tak jua surut, mengaburkan segala sesuatu hingga yang terlihat hanyalah dahan-dahan yang meranggas. Gadis mungil itu tiba-tiba meragu, langkahnya terhenti begitu ia merasakan embusan angin dari arah belakang. Cuping hidungnya menyesap udara dengan perlahan, memisahkan aroma bunga yang terselip di udara.

"Di sini," suara lirih itu menusuk dari belakang.

"Si... siapa kau?" sang gadis mulai menggigil.

Ia tak berani melongok pada sumber suara barusan. Keheningan yang tak diundang pun datang. Sang gadis refleks menutup mata. Degup jantung sebagai gantinya mulai bertabuh lebih kencang.

"Jangan lihat ke belakang..."

"Please jangan."

"Balik lagi aja ke vila, cepetan!"

Sang gadis tak punya pilihan dan ia memutarkan tubuhnya ke belakang. Rok serut hitamnya berayun dan jatuh dengan anggun. Manik mata hijau itu kembali berbinar selepas kelopaknya tersibak. Menatap bayang-bayang pepohonan di belakangnya.

Tak ada siapapun di belakang. Apa barusan hanya khayalannya semata?

"Ah. di depan, ya?"

"Nggak mau lihat... Nggak mau lihat."

Mulai ada yang menutup mata dengan bagian depan jilbab, tas, atau bahu teman di sampingnya. Efek suara mulai muncul, dari yang semula embusan angin pelan hingga berevolusi menjadi alat-alat musik gesek bernada minor yang semakin kencang seperti dimainkan oleh orang kesetanan.

Gadis itu kembali berbalik!

Dan di hadapannya kini, sebuah tubuh meluncur jatuh dari dahan pohon secara tiba-tiba. Kaki pucat itu menggantung di udara, menronta-ronta dengan sia-sia. Suara tercekik yang terlalu nyata itu membuat sang gadis mulai menjerit.

"AAAAAAAAAAAA!"

Seisi kelas dipenuhi teriakan histeris. Ada yang kaget karena penampakan mengerikan tubuh yang tergantung itu. Ada juga yang lebih dulu kaget karena teman di sebelahnya tiba-tiba membetot tangan mereka tanpa ampun. Di saat yang bersamaan, pintu kelas terbuka dan setiap sorot mata menyambar ke arah siapa yang ada datang.

"Aih, Yaya rupanya!"

"Kukira Pak Guru lah!"

Orang yang dimaksud adalah guru seni rupa nyentrik mereka, yang entah kenapa sudah beberapa kali absen. Kini mereka mengisi waktu luang dengan hiburan mumpung sempat.

Yaya memandangi layar proyektor di depan kelas mereka, yang kini berubah fungsi menjadi layar bioskop. Film masih berjalan, dan kali ini menyorot gadis si tokoh utama, yang tahu-tahu terbangun di kamarnya. Dengan cekatan, Yaya menuju ke arah laptop dan menyetop video sebelum memulai kuliahnya.

"Kalian semua! Aku tahu kita sekarang jam kosong, tapi jangan lah terus-terusan nonton film seram ini!"

"Dey, ini kan untuk referensi film kelas kita nanti!" Gopal yang pertama kali mendebat ketua kelas mereka.

"Ya, benar tuh!" beberapa siswa laki-laki ikut terpanasi.

Yaya menghela napas, semua mendadak terdiam. "Aku tahu, tapi kalau sampai setiap hari ada satu film yang kita tonton, kita juga mengganggu kelas sebelah! Kita harusnya belajar, tahu!"

"Tinggal dua puluh menit lagi, biarkan kami nonton sampai selesai!" Masih ada yang meminta dengan nada memelas.

"Sudah, ya. Bu Guru sudah mau datang, tuh!" Yaya segera mencabut kabel sambungan proyektor dan mematikan laptop.

Tak ada yang berani mendebat Yaya, hanya sorak-sorak kecewa. Kendati demikian, kursi-kursi dan meja yang disusun rapat menjadi tribun penonton mulai ditarik ke tempat asal. Boboiboy dan Gopal mengambil kursi mereka dan menuju baris belakang.

"Kalian berdua, kalau dengan film segitu saja takut!" ledek Fang dengan puasnya dari arah belakang.

"Maksudmu? Kita berdua menikmati saja, duduk paling depan pun." Gopal menyikut Boboiboy untuk sekedar mengiyakan.

"Saking menikmati, kalian sampai lima kali berpelukan. Di adegan yang cuma gertakan iseng, lagi."

Boboiboy dan Gopal langsung diingatkan bagaimana mereka memang melakukan hal yang disebutkan Fang barusan. Soal film seram, mereka terlalu terpaku pada layar sambil berteriak ketakutan. Tunggu, apa mereka berpelukan sesering itu?

"Ya, tadi kan memang filmnya paling seram di tahun itu kan ya?" Boboiboy mengakui.

Fang terkekeh dan menangkap kalau ia memenangkan argumen kali ini. Ia melewati kedua orang yang masih saling bertapapan dengan kening berkerut.

"Tapi serius. Bagian tadi serem banget." Boboiboy berbisik pada Gopal.

"Setuju, aku saja hampir terkencing-kencing." Gopal mengangguk-angguk.

"Bu guru datang hei!" Ying menghambur ke kelas dan berakhirlah waktu kosong mereka hari itu.

-CdS-

"Sssst! Gopal!"

Boboiboy melongok ke ruangan Matra yang selalu mereka pakai untuk beristirahat seusai latihan. Ruangan dengan kursi dan meja-meja yang selalu menjadi tempat favorit Gopal.

"Ada apa sih?" Gopal, yang tengah asyik mengunyah keripik kentang menoleh dengan enggan.

"Temenin ke toilet, lampunya ada yang hidup mati gitu."

Gopal termenung sejenak. "Kok kayak yang di film kemarin ya?"

"Hus! Nggak lucu lah!" Boboiboy melirik kalau-kalau ada yang mendengar. "Cepetan nih!"

Mau tak mau, Gopal terpaksa ikut. Sementara Boboiboy melaksanakan hajatnya, Gopal menyadari bahwa tidak ada yang aneh dengan lampu toilet. Lampu neon berwana putih itu nampak baik-baik saja.

"Nggak rusak pun lampunya," dumel Gopal sambil cemberut. "Boboiboy, cepat lah!"

"Sebentar la-"

Lampu tiba-tiba mati, dan kedua remaja itu langsung memekik ngeri. Matra tempat Ochobot tinggal pada dasarnya mirip dengan bungker, tak ada jendela dan minim ventilasi udara. Cahaya lampu adalah sumber cahaya mutlak mereka. Dan jika mati, seketika mereka dikepung oleh kegelapan pekat.

"Cepat balik lagi, Gopal!" Boboiboy meraih-raih ke sekitar, berharap meraih pundak temannya itu.

"Hiiiiii!" Gopal terlebih dulu menghambur ke pintu dan lari terbirit-birit.

"Hoi, jangan tinggalin aku lah!"

.

.

.

"Tuh, kan! Banyak nonton yang begituan nggak bagus." Ying menggeleng-gelengkan kepalanya.

Fang, yang biasanya dalam mode serius kini setengah mati menahan tawa.

"Jangan tertawa, kau! Tadi beneran persis sama dengan film loh!" seru Gopal. "Mana posisi toilet sama wastafelnya sama."

"Kebetulan itu namanya." Yaya mengoreksi dengan tegas. "Takut itu bukan sama yang begituan."

"Sudah! Boboiboy masih ingat pintu yang harus dijadikan portal, bukan?" tanya Yaya.

"Tentu, tapi apa beneran tidak apa-apa?" Boboiboy menggaruk kepalanya dengan gelisah.

Mereka akan menyelinap ke dalam salah satu teater bioskop sore ini. Ochobot telah memprediksi titik peretasan dan kali ini, dan mereka kehabisan tiket karena film yang dimaksud baru tayang perdana. Akan ada kamera pengawas di mana-mana, dan mereka tak bisa menerjang masuk di antara banyak orang. Membuat portal langsung ke teater adalah satu-satunya pilihan.

"Sudahlah! Kita kan mau menjauhkan mereka dari Pelahap Ingatan. Anggap saja impas." Gopal tiba-tiba saja jadi bijak.

"Kau cuma ingin masuk gratis kan ya?" tebak Ying sembari menyipitkan mata.

"Apa boleh buat, film lanjutan dari yang kemarin kita tonton lah itu!" seru Gopal.

-CdS-

Mereka langsung disambut oleh udara dingin dan aroma popcorn. Pengeras suara mengumandangkan musik bernada minor dan percakapan antara gadis si tokoh utama dan neneknya.

"Bersikap seperti penonton yang baru datang, oke?"

'Jangan khawatir, portal distorsinya ada di bagian paling belakang~'

Ying mengintip ke arah tribun penonton. Walau gelap menyamarkan tepian portal, yang dikatakan Ochobot benar.

"Ada tuh di paling belakang!" Ying berkata sepelan mungkin. "Pas di depannya satu baris kursinya kosong."

"Kayaknya ada yang salah baca tanggal deh." Fang menebak.

Ying dan Fang menjadi dua orang pertama yang masuk dan naik ke kursi paling atas. Menaiki undak tangga dengan cepat, mereka segera membidik barisan paling belakang dan menunggu ketika penonton di baris samping terdistraksi dengan adegan seram film.

'Kalian juga cepat menyusul sana!'

Ketiga orang lainnya mulai bergerak dan menyusul. Mereka menunggu hingga adegan kemunculan hantu bergaun panjang dan sebagian orang menutup wajah. Boboiboy melirik ke belakang, merasa bahwa Gopal tertinggal. Dan benar saja, temannya itu hendak menempati kursi kosong.

"Gopal, ngapain?!"

"Nonton lah!

"Sini kau!"

Sebelum adegan itu berakhir, Boboiboy menarik Gopal dan mereka menghilang di balik portal. Tak ada seorangpun yang menyadari.

.

.

.

"Hei, ini bohong 'kan?" Boboiboy mematung begitu mendapati pemandangan pertama di Matra keenam.

"Kebetulan akhir-akhir ini membuatku merinding." Fang tiba-tiba merasa tengkuknya berat.

"Hiiiii, mending balik lagi saja deh! Udah nggak bener ini." Gopal mulai histeris. Ia lebih memilih menonton film yang jelas-jelas sandiwara belaka.

Kepungan kabut tebal membuat sulit untuk melihat, tapi jelas sekali mereka ada di tengah hutan. Pepohon di sana hanya tersisa ranting-rantingnya, meranggas seolah tak pernah menjumpai lagi musim semi. Samar aliran air sungai menjadi salah satu dimensi suara yang mengisi, bersama dengan teriakan burung gagak dari dahan-dahan puncak.

Sebuah lanskap yang nyaris menjiplak utuh setting film horor tempo hari.

"Kalau benar-benar ada di tengah hutan seperti ini, hawanya jauh berbeda ya." Bahkan Yaya sekalipun mulai merasa risih.

"Pelahap Ingatan kalau begini nggak akan kelihatan..." Ying menggigit jari. Situasi kurang menguntungkan mereka.

"Pusat distorsinya juga samar." Sulit bagi Boboiboy melacak retaknya dimensi Matra dan portal kedua.

Yaya mengambil inisiatif untuk terbang dan mengecek keadaan dari atas. Tapi belum satu menit ia turun lagi. "Tak kelihatan apapun selain kabut! Entah setinggi apa kabut ini."

"Lalu, jalannya hanya ada satu ini ya?" Ying menyadari satu-satunya jalan setapak yang hanya selebar satu meter.

"Kami ikuti jalan ini saja, daripada kita asal melangkah dan malah benar-benar tersesat." ucap Boboiboy.

Mereka kembali berpisah dalam dua kelompok seperti biasanya.

-CdS-

Kesunyian tak pernah terasa begitu mencekam sekaligus asing. Retakan Matra tak kunjung terlihat, kabut tebal menyamarkan segala sesuatu dengan teramat apik. Mereka tak pernah tahu apa yang ada di depan, atau siapa yang berusaha mengendap-endap. Bahkan tanpa bercakap-cakap, Boboiboy sulit memastikan Fang masih berjalan di sampingnya.

"Aneh, suara retakan pun nggak ada sama sekali." Kening Boboiboy berkerut, sekali lagi menutup mata dan fokus menangkap suara sekecil apapun.

Langkah mereka terhenti, ada sesuatu di depan mereka. Jalan setapak itu mengarahkan mereka pada sebuah jurang yang bisa dilintasi dengan jembatan gantung. Fang menatap horor jembatan gantung itu, seolah objek itu adalah benda yang sudah dikutuk.

Boboiboy mengamati dengan seksama jembatan itu, tapi ia tak menangkap satu apapun yang janggal. Hanyalah jembatan gantung yang terbuat dari tali dan papan-papan kayu sebagai alasnya. Walau memang karena kabut, mereka tidak bisa menebak seberapa dalam jurang itu.

"Jembatannya juga sudah tua begini, ya." Boboiboy menyambung kembali percakapan mereka.

"Ini... juga sama." Fang memicingkan mata dan mulai menggosok lengan atasnya seolah orang kedinginan..

"Dengan film itu lagi?" Boboiboy tak ingat ada setting seperti ini di film.

"Ah, waktu bagian ini kau belum datang." Fang kini menatap Boboiboy. "Di awal film, cewek itu melewati jembatan seperti ini. Lalu di tengah-tengah, ada tangan yang mengangkap pergelangan kakinya."

"Ish, seramnya..." Boboiboy termenung dulu sebelum kembali bertanya. "Kelanjutannya gimana?"

"Kau ini, kalau takut yang seram-seram nggak usah penasaran!" tegur Fang. "Kita terbang saja ke sebrang. Nggak aman ini jembatan."

Kemungkinan kecil ada pohon di tengah-tengah jurang yang menganga. Mereka tak akan menabrak apapun jika terbang melintasinya.

"Fang, jangan-jangan kau takut lewat jembatan ini?" tanya Boboiboy tiba-tiba.

"Ma... mana mungkin, lah!" Fang langsung membantah.

"Kalau nggak takut, ayo lewat situ," tantang Boboiboy.

"Tsk! Ini hanya bakal membuang-buang waktu."

Walaupun begitu, Fang berjalan lebih dulu mendekati jembatan. Langkah kikuk dan setengah ragu-ragu mulai menjejaki papan kayu jembatan yang lembab. Angin membuat jembatan bergoyang, Fang refleks memegang tali jembatan.

"Mana nih, katanya nggak takuuut~" goda Boboiboy. Ia menemukan cara untuk menahan rasa takutnya sekarang. Kapan lagi ia bisa melihat Fang, yang langkahnya macam anak sapi baru belajar berjalan? Nampaknya adegan di film begitu seram untuk Fang sekalipun. Untung waktu itu dia belum nonton.

"Berisik!"

Boboiboy bersiul, dan ia mulai mengekori Fang dan menjejakan kaki pada papan-papan kayu yang memang terlihat sudah tua, cukup basah sekaligus licin. Tak ada cahaya matahari pasti menjadi penyebab permukaan kayu dan tali temalinya ditumbuhi bebagai lumut.

"Jadi... nanti muncul tangan gitu dari bawah?" tanya Boboiboy.

"Berisik, lah! Ayo cepat selesaikan kekonyolan ini!" Fang sudah benar-benar muak.

Boboiboy dengan sengaja menggoyangkan jembatan. Membuat Fang oleng seketika dan sekali lagi mencengkram tali jembatan sekuat tenaga. Sempat berteriak, Fang kini melirik ke belakang dan menangkap basah sang pelaku, yang tertawa semakin terbahak-bahak.

"Hoi, kau ini serius nggak sih?!"

"Ha... habisnya nggak kusangka kau takut juga soal beginian, Fang." Boboiboy menyeka air mata yang keluar saking kerasnya ia tertawa barusan.

"Kalau kau nonton sendiri, pasti kau menangis ketakutan bareng Gopal!"

Namun Boboiboy tak melihat dan ia terlampau senang mengamati Fang yang justru ketakutan.

"Lagipula, ada Pelahap Ingatan yang..." Fang melamun sejenak, "sudah, lupakan yang barusan."

"Ih, apa sih?" Boboiboy jadi ikut parno. Apa hubungannya film itu dengan musuh mereka?

Lalu kalau dipikir-pikir, rasanya Fang yang tak berteriak saat adegan penampakan yang menggantung tapi takut dengan jembatan itu cukup aneh. Boboiboy tak mengawasi langkahnya dan tahu-tahu papan kayu yang diinjaknya patah.

"WA-!"

Suara tali yang putus diikuti oleh rubuhnya jembatan. Mereka kini terjun bebas ke bawah.

"APA KUBILANG SOAL MAIN-MAIN, HAH?!"

Boboiboy mengaktifkan elemental anginnya. Fang memanggil elang bayangnya, sambil mengomel-ngomel. Ya, Fang sudah tak lagi takut, tapi luar biasa gusar dengan tingkah Boboiboy.

"Tunggu, Fang! Jangan dulu ke atas!" teriak Boboiboy begitu menyadari sesuatu yang familier dari arah bawah.

"Hah?"

"Portal kedua ada di bawah!"

Setelah dicermati baik-baik, di bawah sana terdengar suara berderak-derak. Matra yang tengah retak, tak salah lagi. Mereka terbang semakin rendah, dan suara itu semakin kencang. Boboiboy Taufan semakin menukik turun dengan kecepatan penuh, begitupun elang bayang Fang.

"Ga-!"

Mereka terlalu tergesa-gesa dan kabut menyembunyikan dahan-dahan pohon besar di bawah sana. Taufan mencoba mengelak, tapi ia menabrak dahan lainnya dan terpeleset dari hooverboard-nya. Elang bayang Fang tak bernasib jauh, ia mengepakkan sayap dengan kalap namun tetap menabrak dahan-dahan. Beberapa kali menabrak membuat hewan bayang itu lenyap.

"AAAAAA!"

Keduanya berteriak sejadi-jadinya, mengaduh setiap kali menabrak dahan demi dahan yang sebagian patah. Untunglah dasar jurang itu tak terlalu jauh, dan Taufan langsung mengeluarkan angin untuk meredam kejatuhan mereka.

"Tadi... hampir saja!" Taufan terengah-engah. Jantungnya seperti mau copot barusan.

"Aku rasa punggungku retak." Fang meringis dan mencoba bangun. Ia memegangi punggungnya yang menghantam dahan beberapa kali.

Sebuah pohon ek raksasa menaungi mereka, dengan cabang-cabang yang lebat dan dedaunan yang rimbun. Cahaya semakin sedikit mencapai mereka, dan kabut masih menyamarkan segala sesuatu di sekitar dalam aliran bisunya.

"Itu portalnya!" Boboiboy menunjuk batang utama pohon itu, yang tumbuh agak miring tapi sangat lebar. Portal kedua tersembunyi dengan apik di dalam sebuah lubang setinggi satu meter di pohon ek raksasa itu. Di sekitarnya, retakan dimensi begitu kentara.

Tersandung tonjolan akar tak membuat langkah mereka berhenti. Mereka harus membungkuk untuk bisa sejajar dengan tinggi portal. Tiba-tiba saja retakan Matra terhenti, dan mereka berdua membeku sejenak. Boboiboy mengendus sesuatu yang tidak beres. Seperti ada yang menunggu mereka dari dalam portal.

"Ada yang aneh-" Boboiboy menarik jaket Fang, firasatnya semakin tidak enak.

Sesuatu seperti akar menyergap dari balik portal, mengikat tangan hingga bahu Boboiboy dan Fang. Dengan kekuatan seperti hewan buas, mereka ditarik masuk ke dalam portal tanpa sempat berteriak atau melawan.

-CdS-

"Apa? Kedua orang itu nggak menjawab?!"

'Tak ada Pelahap Ingatan di sana, tapi mereka tak lagi menghubungi setelah menemukan portal kedua'

"Sebelumnya hal seperti ini pernah terjadi tidak, Ochobot?"

'Ngomong-ngomong soal itu... Ah ada!' Ochobot baru saja mencari data-data misi sebelumnya. 'Satu kali... dan itu karena Nukleus yang abnormal.'

"Tapi, mereka tidak apa-apa, tuh?"

'Aku harus memindai kembali data-data misi itu.'

"Jadi... kita nggak akan menyusul mereka kan?" Gopal menatap kedua temannya itu dengan harap-harap cemas. Ia tentunya tak ingin mendekati sesuatu berbau berbahaya.

"Tugas kita sekarang di sini, lah!" Ying lantas mengoreksi. "Lagian kalau kau ke sana, kita nggak bisa masuk!"

"Kita tetap fokus menghadapi musuh di sini!" Yaya menambahkan.

'Ya, mereka sudah dekat dari titik kalian berada. Tepat dari arah depanmu, Yaya!'

Yaya menarik napas dan menyiapkan kuda-kuda andalannya. Kedua kepalan tangannya mengepal dengan kuat. Matanya menatap tajam bayang-bayang samar dari kabut di hadapannya. Ying bersedia di samping kiri Yaya, arlojinya mulai bersinar dan kakinya bersiap untuk mengelak ataupun menyerang. Hanya Gopal yang kembali mundur satu langkah.

"Mereka datang!"

Alih-alih sosok berjubah, beberapa objek melesat menuju mereka. Yaya mengeluarkan kekuatan medan gravitasi dan menarik objek itu ke tanah. Tiga cabang pohon seukuran genggaman tangan serta berujung runcing kini tertancap di tanah.

"Ha.. hampir saja kena." Gopal begidig begitu melihat objek yang hampir saja menusuk ia dan kedua temannya itu.

"Ada lagi!" Yaya merasakan pergerakan yang sama di antara kabut.

"Tukaran makanan!" Telunjuk Gopal sibuk membidik dengan tergesa. Mengubah ranting-ranting tajam menjadi wafer roll yang remuk begitu terkena tinju Yaya dan tendangan Ying.

"Dari arah sana!" Ying menunjuk arah samping kiri Yaya, mereka masih menunggu sosok berjubah itu mendekat. Namun musuh mereka bersembunyi dengan baik di antara lautan kabut.

'Jangan dulu gegabah, bisa jadi itu jebakan!'

"Kalau begini terus, kita yang akan terde...sak!" Ying menghentikan serangan ranting-ranting tajam sebelum menendangnya sekuat tenaga.

"Hiyaa!" Yaya meninju tanah, membuat beberapa bebatuan melayang sebelum dibuat melesat ke arah kiri.

Derak batang-batang pohon yang patah terdengar, dilanjutkan dengan suara langkah kaki, berlari cukup cepat. Suara inilah yang ditunggu oleh Yaya.

"Dia ke belakang!" Ying mendesis. Berusaha mengelabui musuh dengan pura-pura tertipu. Berbalik ke belakang tanpa menghasilkan suara.

Gopal, yang berdiri paling belakang kini mulai berbalik dan beringsut mundur. Jantung mereka mulai berdegup kencang. Suara langkah kaki kini menghilang.

Sebuah bayangan gelap mendekat dengan cepat, dan Ying dengan sigap menghadang. Tangan kurus itu menjadi hal yang pertama kali menembus kabut, berniat mencengkram bagian depan jaket kuning Ying. Gadis itu mengelak, membungkuk lalu memutar. Memberikan momentum untuk tendangan kaki andalannya itu.

"Terima ini!" tendangan Ying menebas udara kosong. Musuhnya itu kembali mundur ke balik tirai kabut. "Jangan lari, kau!"

'Ying! Pergerakan musuh aneh!'

"Ying! Kembali!" Yaya menyadari keanehan itu dan meneriakkan hal yang sama.

"Apa- ukh!" Ying ditarik ke dalam kabut sebelum bisa melawan.

"YING!"

Hening. Tak ada jawaban sama sekali. Langkah kaki terdengar samar-samar, lalu suara seseorang yang ambruk ke atas tanah. Firasat buruk menyeruak. Yaya tak berpikir dua kali untuk menyusul teman akrabnya itu.

"Tunggu, Yaya!" Gopal terlambat satu detik untuk menghentikan sang gadis. Namun pemuda itu masih berdiri terpaku di tempat, tak bernyali untuk menembus kabut ataupun menghadang musuh. "Bagaimana ini Ochobot?!"

'Jangan ikut terpancing, Gopal!' Ochobot ikut panik. 'Fang! Boboiboy! Tolong cepat jawab!'

"Ying! Hei, jawab Ying!" Gopal semakin panik, tapi kakinya terpaku di tempat. "Yaya! Kalian di mana?!"

Bunyi dentuman yang tak begitu jauh membuat Gopal terlonjak dan memekik ngeri. Yaya masih terlibat dalam pertarungan dengan salah satu Pelahap Ingatan, dan kali ini ia dipukul mundur. Musuh kali ini maju, dan Yaya mengaktifkan area gravitasi. Seketika musuh dipaksa tunduk ke tanah.

"Gopal, temukan Ying! Dia dibawa pergi Pelahap Ingatan yang satu lagi!"

"Hiii!" Pemuda itu ingin menolak, tapi tak bisa. Dengan langkah kikuk, ia mulai berlari ke arah yang ditunjukkan Yaya.

Gopal menangkap sekelebat bayangan hitam tinggi. Ying dipanggul di bahu musuh dan dibawa lari. Sempat ragu sesaat, pemuda itu akhirnya mengejar secepat tubuh tambunnya berlari.

"Tukaran makanan!"

Tanah disulap seketika menjadi jebakan permen karet lengket. Kedua kaki dan bagian kiri sosok itu terjerat oleh benda lengket itu. Tubuh Ying meluncur dari bahu musuh dan nyaris terjatuh. Gopal mengambil momentum ini untuk menarik sang gadis dan menyeretnya ke belakang.

"Yosh! Ying sudah aman!" Gopal bersorak, tapi suara rintihan Yaya membuatnya membisu.

"Aku... nggak bisa berge-" Suara Yaya terputus dan bunyi keras menutup komunikasi mereka dengan sang gadis.

'YAYA!'

Gopal tak melihat di mana Yaya berada, kabut semakin tebal Dua petarung andalan mereka telah dikalahkan saat ini. Seolah memperburuk keadaan, Pelahap Ingatan di hadapan Gopal berhasil melepaskan kaki kanan yang semula terisap dan terjerat permen karet.

Tinggal menunggu waktu hingga kaki kirinya bebas. Tatapan beringas itu sudah bernafsu mencabik-cabik Gopal. Ia mengulurkan tangan dan menjentikkan jari. Lalu beberapa bebatuan seukuran bola sepak terangkat ke udara. Detik berikutnya batu-batu itu meluncur.

"Hii!" Masih membentengi Ying di belakangnya, Gopal mengubah batu-batu itu menjadi bola-bola permen kapas.

'Kau harus menghadapi yang satu itu, Gopal!' Ochobot terdengar sama-sama terpukul.

"Tapi Yaya bagaimana?!" tanya Gopal semakin kalap. Yaya telah dibawa pergi. Bukankah mereka yang tertangkap akan kehilangan ingatannya?

'Jangan jauh-jauh dari Ying!' sekali lagi Ochobot mengulangi. 'Dia masih ada di depan, kau bisa menanganinya, Gopal?'

"Mungkin...?" Gopal tertawa kaku. Ia tak yakin bisa melawan musuh seorang diri karena ia tak pernah mencobanya.

'Di dekatmu ada jurang, berhati-hatilah!'

Seketika gemetar di tubuhnya menghilang. Gopal menemukan kesempatan dari ucapan sang robot. Hanya ada satu kesempatan atau ia harus mengulur waktu lebih sampai bantuan datang.

"Di arah mana itu, Ochobot?"

'Sekitar sepuluh meter di sebelah kirimu sekarang!'

Gopal bergeser lebih ke belakang, membuat posisi antara ia, Pelahap Ingatan, dan jurang berada dalam satu garis lurus.

"Tukaran semula!"

'Apa yang kau lakukan Gopal?!'

BRUKK!

Gopal menyeruduk musuh dengan kekuatan dan berat tubuhnya. Layaknya banteng yang bernafsu melihat lambaian kain merah sang matador. Ia berteriak lantang, terus mendorong tubuh musuh sebelum ia menjejakkan kakinya ke tanah sebagai sauh.

"Jatuhlah kau!"

-CdS-

Begitu tersadar, Fang dan Boboiboy terjerat oleh akar-akar pohon. Tepat di sebuah jalinan pepohonan yang menguasai reruntuhan sebuah puing-puing kapal yang terdampar di pinggir laut. Bau pekat garam menguar di udara, berikut kabut tipis yang masih tersisa di sana. Ochobot dengan terbata menjelaskan situasi, bagaimana Yaya telah tertangkap dan dua lainnya tak bisa bergerak ke manapun.

Nukleus langsung mereka temukan begitu satu kali pandangan mata beredar, tepat dua meter di bawah kaki mereka. Bola berwarna zamrud itu terbenam di antara jalinan akar. Lumayan sulit untuk diraih dengan tangan kosong. Apalagi semua akar-akar dan dahan yang keluar dari benda itu.

"Pelahap Ingatan itu pasti akan masuk ke sini! Aku akan menghadangnya dan kau cepat dapatkan Nukleus itu!" Fang langsung mengambil keputusan, dan Boboiboy menganggukkan kepala.

"Boboiboy kuasa tiga!"

"Tusukan bayang!"

Keduanya langsung melepaskan kekuatan, membebaskan diri dari jeratan akar-akar kayu keras yang nyaris merangsek hingga batang leher. Boboiboy berpecah menjadi ketiga elementalnya: Blaze, Halilintar, dan juga Gempa.

"Tinju api!"

"Pedang Halilintar!"

"Tumbukan tanah!"

Fang hendak memanggil elang bayangnya, tapi akar-akar di sekitarnya menusuk hewan itu hingga ia terburai dan menghilang. Akar-akar itu menjerat pergelangan kaki Fang dan menariknya kembali ke bawah.

"Tunggu, kenapa mereka makin ganas begini?!"

Mereka selanjutnya mencoba menghancurkan, membakar, dan memotong akar-akar itu. Namun akar-akar itu malah tumbuh semakin cepat. Nukleus semakin menghilang dan terkubur di bawah sana.

"Cih! Ini nggak ada habis-habisnya!" Blaze menggertakkan gigi, telapak tangannya memunculkan bola api yang semakin besar.

"Tunggu Blaze! JANGAN DIBAKAR!" Halilintar mulai panik.

"Iya! Pikirkan kita juga bakalan ikut terpanggang woi!" Fang tak kalah lantang berteriak.

"Terus gimana?!" sergah Blaze dengan nada tak sabar.

"Kita harus menahan akar-akar ini lebih dulu!" Saat ini, hanya Gempa yang bisa menghalau akar-akar itu dengan kekuatannya.

Baik Halilintar dan Blaze harus mengalah. "Lakukan saja, Gempa!"

Boboiboy kembali bersatu, dan ia langsung mengambil ancang-ancang untuk berpecah tiga. Taufan langsung melompat ke atas hooverboard-nya, dan Ice langsung bersiaga di samping Gempa.

"Kali, tahan dulu akar-akar ini!" seru Gempa. "Kali ini, harus bisa!"

"Serahkan padaku!" Ice mengangguk, mata sayu itu mulai mengkalkulasi luasnya area yang harus dibekukan.

"Fang! Kau menjauh lebih dulu! Susul Yaya!" Gempa membantu Fang dengan meredam pergerakan akar itu dengan kekuatan tanahnya.

"Tak perlu kau beri tahu pun," Fang melancarkan tusukan bayang dari kakinya dan melepaskan akar yang menjeratnya. "Elang bayang!"

"Kalau begitu, aku akan membantu Fang mencari!" melihat bahwa ia tak perlu membantu siapapun di sana, sang elemental angin meluncur menuju angkasa.

Gempa meninju tanah, memunculkan tanah-tanah tinggi untuknya berpijak. Memberi ruang untuk elemental air itu melancarkan serangan.

"Es pembeku!"

Bongkahan-bongkahan es merambati tanah, akar, hingga geladak kapal dan sebagian besar lautan. Temperatur udara menukik turun. Bunga es bersemi dan mendominasi permukaan. Semua tersihir oleh musim dingin yang tiba-tiba saja menerjang.

Sesuai dugaan Gempa, akar-akar dan dahan tertahan oleh es dan suhu dingin. Seperti layaknya tumbuhan pada musim dingin. "Kerja bagus Ice!"

"Sekarang bagaimana?"

"Taufan! Fang! Kalian menemukan Yaya?!" Gempa kini menaiki bongkahan es yang lebih tinggi, kakinya beberapa kali terpeleset. Ia langsung mencari posisi semua orang yang ada di sana.

Kekuatan musuh seperti apa hingga Yaya dan Ying kewalahan dan dikalahkan? Gempa ingin memastikan itu walaupun mereka seharusnya fokus pada Nukleus. Instingnya mengarah pada firasat buruk soal ini.

"Di sana!" pekik Taufan.

Pelahap Ingatan itu menaiki sebuah perahu kecil, Yaya ada di sana dan nampak tak sadarkan diri.

"Jangan biarkan dia lolos!" teriak Fang lantang.

Taufan melesat semakin cepat, dan Fang mengekori dengan elang bayang. Pelahap Ingatan itu bangkit dan menyibakkan tudung jubah. Sepasang mata berwarna merah darah menyala, memelototi kedua orang yang menyusulnya.

"Gawat!"

"Nggak bisa... bergerak!"

Dalam sekejap, pergerakan Fang dan Gopal terhenti di udara. Seolah ada rantai tak kasat mata membelenggu setiap otot mereka. Rupanya itu kekuatan yang membuat kedua teman mereka lengah. Baik Taufan dan Fang jatuh ke laut tanpa bisa berbuat banyak.

"FANG! TAUFAN!" teriak Gempa.

Bayangan hitam menyeruak dari permukaan air. Rupanya Fang sempat memanggil beruang bayang dan mereka kini meringkuk di atas punggung hewan itu. Hanya ada Gempa dan Ice yang bisa bergerak bebas saat ini.

Gempa memicingkan mata. "Terlalu jauh, bagaimana ini?"

"Jangan khawatir, kita masih punya kesempatan." Ice tersenyum pada Gempa.

"Kau yakin bisa melakukannya?"

"Kalau dengan konsentrasi penuh." Ketenangan dalam situasi genting nampaknya ada sisi baik dari elemental baru yang satu itu. "Jangan mengenai Yaya, kan?"

.

.

.

Fang belum bisa bergerak dengan bebas, sekuat tenaga berguling ke arah samping untuk mengecek dua orang harapan mereka saat ini. Jika Yaya sampai di bawa ke bagian lain Matra, maka teman mereka akan kembali dengan sebagian ingatan yang terhapus.

"Tanah tinggi!"

Tanah yang dijejak Ice dan Gempa pun mencuat ke atas, lebih dari cukup untuk menemukan sosok Fang, Taufan, dan musuh yang berusaha kabur. Ice membuat busur dengan kekuatannya. Ia mengembuskan napas panjang, membuat kabut singkat pada udara beku di sekelilingnya.

"Kita selesaikan dalam satu tembakan." Ice menarik tali busur. Anak panah muncul dari bunga-bunga es di udara, siap untuk diluncurkan. Manik biru es bergeming, mengunci target tembakan. "Panah Pembeku!"

Nyaris secepat kilat, dua anak panah melesat dan membelah udara. Satu menembus bahu kiri Pelahap Ingatan, membuatnya jatuh terjungkal dan terlepaslah tangan yang melingkari bahu Yaya. Anak panah kedua melesat sedikit ke belakang sebelum teraktivasi dan membekukan sekujur tubuhnya, perahu, dan juga permukaan air di sekelilingnya. Yaya sementara itu tak terkena serangan karena ia terhalangi tubuh musuh.

"Oke, giliranku!" tak mau kalah, Taufan meraih hooverboard-nya dan segera bermanuver ke udara.

"Selanjutnya, tinggal Nukleus!" Gempa menghela napas lega.

Setelah memastikan Taufan membopong Yaya ke punggung beruang bayang dan aman dalam penjagaan Fang, Boboiboy bersatu kembali. Saatnya untuk mengakhiri misi mereka sekarang.

"Boboiboy Blaze!" Nyala api langsung memenuhi kepalan tangan kanan, siap untuk melelehkan es pada bagian dimana Nukleus berada.

"Blaze! Pusatkan seranganmu atau kau hanya akan memicu akar-akar itu jadi liar lagi!" teriak Fang.

"Berisik! Aku tahu, kok." Blaze memberengut, mencoba membuat mengecilkan ukuran api di tangannya itu. "Susah juga, tahu!"

Sebagai petarung dengan serangan cepat dan melingkupi area yang luas, memfokuskan kekuatannya dalam ukuran satu kepalan tangan adalah perkara baru. Tangan Blaze mulai meluncur semakin dalam, tinggal satu jengkal lagi ia meraih bola berwarna zamrud itu.

"Dapat!"

.

.

.

Seketika retakan Matra terhenti, dan kabut di sekitar Matra keenam berhenti bergerak. Mengetahui misi mereka telah selesai, Gopal jatuh di atas lututnya. Ia lalu menangis sejadi-jadinya.

Mendengar tangisan di samping, Ying mulai membuka mata. Lamat-lamat ia memandang hutan di sekeliling, mencoba mengingat kembali apa yang terjadi sebelum ia tak sadar. Rasa ngilu menyerang pelipis Ying, dan membuatnya mengernyit.

"Loh, bukannya tadi kita masih di kelas ya?" Ying benar-benar linglung. "Sejak kapan kita di sini? Ini di Matra ya?"

"Masih di kelas apanya?!" teriak Gopal. "Aku tadi bingung tahu harus bagaimana!"

'Ying, tadi kau sempat dikalahkan Pelahap Ingatan.' Ochobot menjelaskan dengan segera. 'Nampaknya ingatanmu diambil sedikit.'

Sang gadis melihat ke sekeliling, seketika menyadari ada seseorang yang hilang.

"Lalu, Yaya! Di mana Yaya?!" Ying menarik bagian depan jaket hijau Gopal, menuntut jawaban segera.

"Tenang saja, Yaya bersama kami." Fang menjawab dari saluran komunikasi mereka. "Saat dia bangun, pelan-pelan kita tanya, sejauh mana ingatannya direbut."

"Apa tak ada cara untuk mengembalikannya lagi, Fang?" Boboiboy, yang kini membopong Yaya merenungi hal yang baru saja diucapkan.

Sebuah pertanyaan yang selama ini selalu ia lupa untuk dipastikan pada Fang ataupun Ochobot. Bukankah jika ada cara untuk mengembalikannya, mereka mungkin bisa menolong mereka yang tak mengetahui lagi momen-momen tertentu yang terlanjur direbut paksa.

"Soal kakakmu juga, Fang. Apa ada yang bisa-"

"Ayo cepat keluar dari sini." Fang mengeluarkan elang bayang dan bahkan tak menoleh dan menunggu Boboiboy menyusul.

-CdS-

Kembali ke Matra miliknya seorang, Boboiboy kini menemukan sebuah pot di sana. Ia tak ingat sebelumnya ada benda itu pada bagian dinding yang jebol. Satu rumpun geranium tengah bersemi di dalam pot itu, kelopak-kelopak bulat berwarna kuning lembut terlihat semarak. Mereka seolah mendongak dan menyaksikan betapa megahnya angkasa dan segala objek-objek alamnya.

Dua buah tangan tiba-tiba menyeruduk Boboiboy dari belakang dan ia kaget bukan main. Sempat oleng ke depan, Boboiboy langsung refleks menahan berat tubuh sekuat tenaga agak tak jatuh.

"Ish! Kaget lah aku!" Boboiboy melirik ke arah punggung, mendapati elemental barunya di sana. Kedua tangannya meremas kaus Boboiboy dengan kencang.

"Hihihi, sergapanku berhasil, kan? ya kan~"

Boboiboy memutar mata, menghibur diri setidaknya ia tidak jatuh dari atas gedung seperti waktu itu. Namun jelas Elemental terbarunya itu sudah menunjukkan gelagat usil.

"Jangan lakukan lagi, oke?"

"Heee, kok nggak suka? Sedikit kejutan nggak apa-apa, bukan?" elemental itu merengek, melepas cengkeramannya pada kaus Boboiboy.

Boboiboy berbalik dan melihat bagaimana elemental barunya itu memiliki manik zamrud. Ah, ia kira cukup dengan Taufan dan Blaze saja yang berpotensi menimbulkan masalah. Entah kenapa, ia sekarang seperti memiliki tiga adik yang merepotkan.

"Jadi, itu adalah punyamu?" Boboiboy menunjuk geranium kuning, mengalihkan pembicaraan mereka.

"Siapa lagi, dong? Aku kan elemental keenam, daun!" Mata zamrud itu berbinar-binar. Senyum mengembang di bibirnya.

"Aku pernah dengar bunga itu memiliki simbol dan makna tersendiri. Apa dia punya?"

"Tentu! Bahasa bunganya berarti semangat dan kegembiraan." Membicarakan bunga membuat rautnya melembut. "Persahabatan, juga kebahagiaan."

Boboiboy tak bisa untuk tidak tersenyum.

"Kau menyukainya?"

"Ya, aku suka." Boboiboy menarik kembali perasaan gusarnya barusan. "Lalu namamu?"

"Duri. Panggil aku Duri!"

.

.

.

Berlanjut pada chapter 17: Cakrawala

A/N:

Tinggal satu elemental lagi yang belum muncul, apakah setelah itu misi mereka selesai?

Terima kasih untuk yang sudah mampir! Salam hangat dan sampai jumpa lagi~