Separuh waktu buana berada di balik kelambu beludru kelam. Kala sunyi menakluki segala suara. Kala candra menjadi sang nata dan berada pada takhta angkasa. Lalu separuh waktu lainnya tiba. Kirana pertama akan menyeruak dari tepi cakrawala. Laskar cahaya telah datang untuk menyambung temaram.
Cipta dan Sirna
By: Koyuki17
Boboiboy © Monsta Studio
Chapter 17: Cakrawala
"Selamat datang di kedai kokotiam Tok Aba~" sapaan hangat bertabur senyuman menyambut pelanggan yang baru saja tiba. "Meja kosong untuk dua orang, ya?"
Karyawan paling baru itu dikenalkan sebagai anak dari keponakan dari sepupu dari paman Tok Aba. Tentunya tak ada yang menyadari iris zamrud yang dimiliki oleh Boboiboy Duri. Perangainya yang ceria dan lincah langsung menarik perhatian para pelanggan. Kendati sesekali ia sedikit ceroboh dan nyaris menumpahkan seisi nampan saat mengantarkan pesanan.
"Semangat sekali dia." Fang akhirnya melepaskan atensi dari gerak gerik sang elemental daun. Dalam hati cukup bersyukur elemental itu tidak banyak membuat ulah.
Tak terkecuali para pejuang Matra yang tak pernah absen bersiaga begitu sang Poros mengeluarkan elemental perdananya. Dengan Tok Aba yang sudah tahu dan memberdayakan momen ini, mereka tinggal duduk manis. Menyeruput minuman masing-masing sambil melihat tiga elemental hilir mudik di tengah jam ramai kedai siang itu.
"Jadi, yang sekarang ada di sini..." Ying baru saja datang dan mengecek ada berapa elemental Boboiboy yang hadir.
"Halilintar, Taufan, dan juga Duri." Yaya menjawab sambil menyodorkan gelas ice chocolate special yang sudah dipesan sahabat karibnya itu.
Sebagai tugas dinas kedua, Halilintar sudah lebih terbiasa menjadi kasir dan menghindari bercakap lebih dari dua kalimat dengan pelanggan. Taufan, yang merdeka dari bersih-bersih, rumah bukan main senangnya. Ia mengobrol dengan ayah Gopal dan beberapa pelanggan tetap kedai.
"Taufan! Antarkan pesanan ini, cepat!" panggil Tok Aba.
"Siap, Tok!" Tergopoh-gopoh, Taufan mengambil nampan dan mengantarkan pesanan ke meja.
"Tiga elemental lain beres-beres ya berarti?" tanyaYing kembali. "Kita nggak usah mengecek ke sana lagi, kan?"
"Ada Gempa. Aman lah." Gopal kembali menyeruput minumannya hingga tandas. "Dua minggu lagi, dan misi kita akan selesai. Kita harus merayakannya, dong!"
Tiba-tiba saja pembicaraan bergulir pada waktu distorsi ketujuh, yang berjarak cukup singkat dari misi keenam kemarin. Menghitung hari saja dan mereka akan menjalankan misi ketujuh.
"Hei, ini bukan berarti kita bisa berleha-leha, Gopal!" tegur Yaya. "Masih ada satu kali lagi!"
"Loh, Fang?" Yaya kebingungan begitu Fang tiba-tiba bangkit dari kursi.
"Aku akan ke Matra duluan." Fang pamit sekenanya dan beranjak tanpa menoleh kembali.
Ketiga orang yang ditinggal saling berpandangan, sama-sama kebingungan.
"Padahal sebentar lagi akan berakhir, bukan?" celetuk Gopal. "Kok dia nggak ada senang-senangnya sih?"
Fang yang telah membuat mereka terseret dalam Matra beserta dinamikanya. Membuat mereka mengemban tanggung jawab dan meluangkan tenaga, waktu, dan mungkin lebih dari itu. Mereka telah tiba di penghujung perjuangan. Namun sikap Fang kembali seperti sedia kala. Saat ia seorang diri mencari jejak Matra.
"Lagipula, kita tak pernah tahu sampai sekarang sih, ya." Ying menghela napas.
"Soal apa?" tanya Gopal.
"Tentu saja cerita lengkap tentang apa yang terjadi dengan Kakak Fang di Matra!"
.
.
.
Suasana rimba berbeda ketika semua kabut yang semula menguasai udara kini lesap tanpa jejak. Menara telah berdiri menjulang di sana, menjadi satu-satunya bangunan yang mencolok di antara pohon-pohon meranggas. Keenam elemental Boboiboy kini mengelilingi menara itu, setelah Gempa dengan vokal menolak segala rencana piknik dan bermain dari para elemental usil.
Mereka kembali bersatu, dan kali ini Boboiboy langsung di bawa menuju sebuah ruang dan waktu yang sedikit asing. Rimba yang semula kering, kini semarak oleh segala jenis kehidupan. Senandung burung-burung malam, cericit mamalia mungil sesekali bersahutan.
"Benar-benar nggak mirip lagi hutan horor itu lah." Boboiboy masih terkesima dengan perbedaan suasana dengan misi mereka tempo hari.
Embusan angin menggerakkan dahan dan menyalakan bunyi gemerisik pada kanopi rimba. Saat itulah Boboiboy menyadari sang elemental daun sedang bergelantung di dahan pohon setinggi tiga meter. Tepat di atas puncak kepalanya sendiri
"Hup!" Duri melakukan akrobat berupa salto di udara. Nyaris menjadikannya landasan untuk mendarat jika terlambat mengelak ke belakang.
"Hoi, bahaya lah!"
Teguran itu disambut tawa renyah. Sang elemental daun itu menepuk bahu kanan Boboiboy. Tingkahnya seperti sahabat akrab yang sedang bersenda gurau. Kala bertemu elemental barunya, Boboiboy selalu mendapatkan kesan pertama serupa.
"Elemental terakhir, tepat setelahku." Duri cengar-cengir pada Boboiboy. "Kau sudah siap, bukan?"
-CdS-
"Apa maksudmu, Fang?"
Boboiboy tahu sejak Fang mengajaknya untuk berbicara secara personal, ada sesuatu yang tak beres. Ia sudah menduga ini berkaitan dengan Matra. Namun apa yang didengarkannya dari Fang tak pernah terbesit sekalipun. Setelah misi ketujuh mereka... bagaimana?
"Ini bukanlah akhir, Boboiboy. Camkan itu." Fang menjawab singkat. "Tapi jangan kau beri tahu dulu pada yang lain."
Ada nada mengancam yang tersirat bersama ungkapan itu. Satu hal yang jelas-jelas janggal. Boboiboy menatap lurus Fang. Mencoba mencari petunjuk dari raut wajah yang keruh. Yang di hadapannya kini bukanlah rivalnya yang biasa.
"Memangnya kenapa?" Boboiboy jelas menahan rasa kesal yang menyumpal tenggorokannya.
Hal barusan adalah informasi yang teramat penting untuk mereka ketahui. Kenapa pula harus disembunyikan? Apa sebenarnya hal yang sudah mereka lakukan setelah merebut kembali ketujuh dimensi Matra yang nyaris hancur dan menghentikan Pelahap Ingatan?
Semua pertanyaan itu berputar dalam benak Boboiboy, tapi tak ada satu pun yang keluar.
"Karena selanjutnya, kita harus memilih ke mana kita akan pergi." Fang memberikan jawaban ambigu dan membalikkan badan. "Yang mana pun sulit."
Fang melengos pergi, menghampiri Ochobot dan mulai mengobrol dengan sang robot kuning. Boboiboy masih memikirkan ucapan Fang, yang menyiratkan bahwa mereka masih harus menghadapi hal lain setelah misi terakhir mereka.
"Kau kenapa, nih Boboiboy?" Ying menyoroti ekspresi muram dari temannya itu.
"Kok lemes begitu sih? Sebentar lagi kita akan bebas dari misi, loh!" Gopal mengimpit sobatnya ke ketiak.
Namun setelah ini, masih ada yang harus kita hadapi. Tapi persisnya apa? Apa yang sebenarnya masih disembunyikan dari mereka.
Boboiboy untuk pertama kali kebingungan harus menjawab seperti apa. Bahkan bibirnya tak mampu mengulum satu senyum pura-pura.
.
.
.
Malam itu, Boboiboy sama sekali tak bisa tertidur. Hingga larut malam, ia duduk di atas kasur yang masih rapi seprainya. Ia tak berminat untuk menarik selimut lalu merebahkan diri. Alam pikiran Boboiboy semakin terasah kendati sudah lama sejak lampu kamar dimatikan. Tak bisa berhenti memikirkan satu hal yang sejak siang hari mengusik.
"Apa sih sebenarnya yang akan terjadi setelah misi?" Boboiboy menghela napas lalu memeluk kedua lutut.
Temaram yang melekati sunyi malah membuat manik matanya menajam. Merenungi noktah-noktah cahaya kota di luar jendela. Lalu melayang pada gaung ucapan ganjil Fang siang itu. Mereka telah berupaya melindungi semua orang dari Pelahap Ingatan, apakah itu masih belum cukup?
"Tsk!" Boboiboy memijat keningnya yang mulai berdenyut-denyut.
Bunyi derit kasur mematahkan sunyi sejenak. Intuisi menuntun Boboiboy duduk di kursi dan menghadap ke meja belajarnya. Sebuah amplop ada di atas sana, dan seketika Boboiboy menyalakan lampu meja. Bagaimana ia lupa tentang sepucuk surat dari ayahnya itu?
Membaca baris pertama surat, Boboiboy mulai merasakan penatnya luruh. Terbayang wajah sang ayah, beserta sirat rindu dan keinginan untuk bisa bertemu. Namun telah lama Boboiboy menekan egonya. Sang ayah memiliki pekerjaan penting yang tak bisa ditinggalkan.
"Coba aku bisa menanyakan Matra pada ayah..." Boboiboy terkenang bagaimana orang-orang yang mengenal sang ayah selalu menyebut bagaimana ayahnya itu
Ayah masih tak bisa melupakan seberapa mungilnya kamu waktu memanjat ke atas pundak ayahmu ini. Sekarang sudah berapa umurmu? Bahkan tinggimu mungkin sebentar lagi melampaui ayah.
Boboiboy tersenyum dan meloncat ke baris berikutnya.
Selama ini, ayah terus mengirimimu pesan. Apakah kamu berencana untuk membalas kali ini? Jangan khawatir dengan atokmu itu, sungguh ayah tak sesibuk waktu itu. Ceritakan bagaimana sekolahmu, teman-temanmu. Apa semua di sana baik-baik saja?
Ayah tak bisa berbohong sekarang, ingin sekali mendengar cerita darimu. Tapi ayah akan lebih senang jika langsung mendengarnya darimu. Saat ini, surat lebih dari cukup untuk melepas rindu ayah.
"Apa sih, ayah." Boboiboy dengan cekatan mengambil pena dan kertas kosong. "Kalau cuma balasan, kan bisa kukirim juga lewat surat."
Boboiboy tak pernah menulis surat sebelumnya. Ia mengingat-ingat bagaimana kelas bahasanya dan bagaimana menulis sebuah surat. Dengan semangat, ia menjelaskan tentang keadaan saat ini, kedai atoknya, maupun sahabat-sahabatnya.
"Loh?"
Gerakan pena terhenti, tubuh Boboiboy diterjang oleh beku yang melumpuhkan seluruh saraf. Ia baru saja hendak menulis alamat pengiriman surat pada amplop putih bersih itu.
Di mana ayahnya berada sekarang? Nama kota, distrik, atau bahkan negara mana? Tak ada satu tempat yang muncul. Boboiboy membaca kembali surat dari sang ayah dengan rasa tak percaya. Berulang kali. Berulang kali dibacanya dan ia tak menemukan jawaban. Bahkan amplop surat itu tak menyertakan alamat sang pengirim.
Kursi terjungkal begitu Boboiboy berlari dengan tergesa untuk meraih ponsel yang ada di kasur. Satu demi satu kontak yang ada di sana ia pindai seiring gulir bola mata dan jari tangannya. Tak ada satu pun nomor sang ayah di sana. Bukankah seharusnya nmor sepenting itu ia simpan?
"Sejak kapan ayah pergi?" Boboiboy berbisik dengan suara parau, kepalanya seketika berdenyut-denyut sakit.
Ia tak mendapat jawaban dari ingatannya sejauh ini.
-CdS-
"Kamu kemarin begadang, Boboiboy?"
Pertanyaan dari Gopal menjadi lima yang Boboiboy dapatkan pagi itu. Sekali lagi ia menarik sudur bibirnya, memberi senyuman seadanya dan kembali memainkan ponsel. Membuka kembali pesan-pesan dan surel lama saat ia pertama kali mendapat perangkat itu. Pastilah kantung matanya begitu jelas bagi orang-orang yang berpapasan dengannya.
Hanya ada pesan dan surel dari teman-temannya. Tak ada yang menghubunginya selain orang-orang yang selama ini ia temui sejak pertengahan bangku sekolah dasar. Foto ayahnya pun hanya ada satu lembar, diambil saat ia masih balita. Begitu menanyakannya pada Tok Aba sekalipun, sang kakek sempat termenung sejenak dan memberikan jawaban yang samar-samar.
Mereka selama ini terbiasa mengingat ayahnya itu bekerja jauh dari kota. Tak kurang dan tak lebih dari itu.
Pagi itu, kelas mereka mendapatkan jam kosong. Namun kali ini semua terpencar dalam kesibukan masing-masing dan tak berminat menonton film seperti tempo hari. Boboiboy melipat kedua tangannya, dagunya menyentuh meja.
"Kenapa sih, kau?" Gopal yang paling cuek sekalipun mengangkat sebelah alisnya melihat gelagat sang sahabat.
"Mau ada yang kutanyakan ke Fang, tapi dia malah nggak masuk. Kukirim pesan nggak dibales pula." Boboiboy menyahut ketus. Ia mengunci ponsel dan menggosok matanya yang perih.
"Sudah lah, Boboiboy! Dia lagi asyik tuh berlibur dengan keluarganya!" Gopal lanjut berseru sembari memukul meja. "Nggak ngajak-ngajak kita lagi!"
.
.
.
Jam istirahat pun tiba, Ying dan Yaya ikut duduk di dua bangku tepat di depan Boboiboy dan Gopal.
"Ada apa?" tanya Boboiboy dengan lesu, menyambut kedatangan kedua gadis itu.
"Kau sedang memikirkan sesuatu, Boboiboy?" tanya Yaya.
"Iya, mana dari tadi pagi, kulihat mukamu keruh terus!" Ying ikut menimpali. "Ini ada kaitannya dengan Matra kah?"
Kedua gadis itu menyadari dengan tepat kondisi Boboiboy saat ini. Insting seorang peremuan memang jangan dianggap remeh rupanya.
"Bukan, ini soal ayahku." Boboiboy semakin muram, ia menimbang-nimbang sejenak sebelum memutuskan untuk memastikan satu hal pada temannya. "Kalian belum pernah bertemu dengannya, bukan?"
Seketika ketiga temannya membisu, sejenak berpikir.
"Belum, tuh." Jawab Ying.
"Bahkan untuk aku ini, yang sudah lama jadi sobatmu, main ke rumahmu." Gopal memberi kesaksiannya sebagai yang paling sering berkunjung.
"Kamu dulu bercerita kalau ayahmu kerja di luar kota sebagai sejenis teknisi atau peneliti?" Yaya terlihat kurang yakin. "Dan juga surat-surat yang setiap bulan atau beberapa bulan kau terima."
Boboiboy menghela napas. Ia kali ini tidak salah mengingat.
"Jadi, kau sedang rindu ayahmu saja?" Ying kali ini balik bertanya.
"Ya... kurang lebihnya begitu." Boboiboy hanya tertawa kecil. Tidak bagus membahas ini lebih lanjut. Apalagi Yaya dan Ying sangat sensitif untuk menyadari hal-hal yang tak biasa.
"Kalau pekerjaan beliau sudah selesai, pasti kalian akan bertemu kan?" Yaya menyodorkan sebuah permen yang baru ia rogoh dari sakunya pada Boboiboy. Sebuah penghiburan sederhana yang sukses membuatnya tersenyum kecil secara spontan.
"Iya, kuharap begitu."
Tak ada yang mengingat keberadaan kakak Fang. Namun lain halnya dengan sang Ayah. Ia dan Tok Aba juga teman-temannya masih ingat dan tahu bahwa sosok itu ada.
Walaupun dalam hal ingin bertemu, tak ada lagi bedanya antara kakak Fang dan juga sang ayah. Entah mengapa ia merasa seperti itu.
-CdS-
Selain awal mereka menjalani misi, ini adalah kali pertama Fang mengajak semua pejuang Matra itu berkumpul. Sebuah pesan singkat berisi undangan untuk membicarakan hal penting terkait misi mendatang. Tepat sepulang sekolah, dan tentunya di Matra bersama dengan Ochobot. Tujuh hari sebelum distorsi terakhir sekaligus misi terakhir mereka.
"Jadi, apa yang harus kita ketahui tentang misi terakhir ini, Fang?" Yaya menjadi orang pertama yang membelokkan percakapan mereka langsung pada jantung permasalahan.
"Apa misi selanjutnya akan sangat berbahaya? Seperti Pelahap Ingatan berjubah hitam itu misalnya?" Boboiboy memberanikan diri menebak dengan nada seperti orang sedikit menggertak.
Ying dan Gopal seketika melotot pada kawan bertopi mereka. Sungguh tak biasa Boboiboy memprediksi sampai sebegitunya. Sebuah prasangka buruk yang tak pernah ditunjukkan selama ini.
"Fang, itu nggak benar kan?" Gopal mulai ketar-ketir.
"Misi terakhir, dari yang kakakku ceritakan, itu selalu sama." Fang mulai menjelaskan dan menatap temannya itu bergantian. "Ya, lawan kita sudah dipastikan mereka."
"Apa akan ada perangkap lagi?" Ying mencondongkan badannya ke depan, ingin menyimak seserius mungkin.
"Yang pasti, kalau ada yang tertangkap takkan berakhir seperti Yaya."
Seketika semuanya terdiam. Bagaimana Yaya kehilangan ingatan selama satu hari kebelakang membuat persepsi mereka berubah sepenuhnya. Bahwa misi mereka bisa saja berujung dengan kegagalan dan justru kehilangan hal penting untuk mereka atau bahkan keseluruhan eksistensi mereka sendiri.
Bukankah itu setara dengan sebuah kematian? Atau mungkin malah lebih karena tak ada lagi yang mengingat mereka.
"Karena itu Boboiboy, kau dan aku nggak akan mencari portal dan fokus dalam pertarungan ini dulu."
Boboiboy mengiyakan dengan berat. Tekanan berat langsung terasa dari perubahan taktik mereka sekarang.
"Bukannya lebih cepat kalau kalian mencari Nukleus seperti biasa?" tanya Ying skeptis.
"Untunglaaaaah, aku nggak akan ditinggal sendiri lagi!" Gopal di sisi lain sudah penuh syukur.
"Percuma saja. Setiap distorsi nanti, waktunya akan sangat singkat. Belum lagi portal kedua kemungkinan besar masih tertutup." Ujar Fang dengan luas. "Itu hanya jebakan kalau pun ada."
"Lalu bagaimana aku bisa mendapat Nukleusnya?" Boboiboy menyosor, belum memahami bagaimana rencana mereka akan berjalan.
"Kita tak boleh membuat celah, tak boleh ada yang tertangkap!" Fang balik mendebat, mulai ikut terpanasi. "Setelah distorsi mulai terlihat seperti biasa, kau baru bergerak ke portal kedua!"
Boboiboy kali ini mulai memahami alasan perubahan rencana mereka. Lagipula, jika memang lawan mereka sangat berbahaya, ia tentu ingin bertarung bersama kawan-kawannya itu.
"Mendapatkan Nukleus setelahnya akan mudah. Tapi melawan si jubah hitam itu adalah ancaman terbesar misi kita."
"Oke, aku sudah menangkap maksud Fang. Jadi kita harus bekerja sama melawan jubah hitam, betul kan?" tanya Yaya, sekedar untuk meyakinkan.
"Semua ini adalah catatan yang ditinggalkan kakakmu kan Fang?" tanya Boboiboy.
"Dari mana lagi?" Fang setengah mengangangkat kedua tangannya. "Oh ya satu lagi hal yang harus kalian ketahui."
"Apaan tuh?" Gopal menimpali dengan nada sedikit meledek. Mendadak Fang menjadi bawel memang bukan lagi hal yang aneh.
"Kakakku berhasil menuntaskan misi ketujuh." Semua langsung menatap Fang dengan keheranan. "Setelah kita menyelesaikan misi, kalian juga akan tahu kelanjutannya."
-CdS-
Seiring waktu mendekati distorsi, semangat menuntaskan misi bercampur dengan sebuah tanda tanya besar. Fang, sebagai orang yang menyebabkan kecemasan itu tak berniat bercerita lebih lanjut. Mulutnya kembali terkunci rapat. Bahkan kata-kata penyemangat dari Ochobot, yang mengingatkan bagaimana perjuangan mereka membuat mereka layak mendapat julukan pahlawan, masih menyisakan rasa cemas.
Lalu mereka pun berkumpul tepat pukul lima subuh, tepat setengah jam sebelum distorsi terjadi. Kali ini, lokasi distorsi sudah diketahui persis karena titiknya tak pernah berubah. Sebuah area yang cukup asing tepat di perbatasan kota mereka dengan hutan dan pegunungan. Mereka tahu ada jalur kereta api yang sudah tidak digunakan.
"Rasanya kok seperti waktu kita pertama ke Matra. Ya?"
Tak lama berselang sejak mengikuti rel, mereka menjumpai sebuah terowongan. Fang menjadi pemandu seperti biasa, lengkap dengan senter andalannya. Posisi mereka saat ini memang mengulang kali pertama mereka di Matra.
"Semalam tidak bisa tidur juga, Boboiboy?" bisik Yaya.
"Sedikit, aku mendadak gugup seperti misi pertama." Boboiboy menyahut sekenanya. Pastilah ia memiliki kantung mata yang begitu jelas sekarang. Bahkan di tempat yang notabene kurang cahaya seperti sekarang.
"Oh ya, kalian ada rencana ke mana setelah kita lulus?" celetuk Boboiboy tiba-tiba.
"Hah, kenapa tanya soal itu?" komentar Gopal sembari menggelengkan kepala. Entah sudah keberapa kali Boboiboy menanyakan sesuatu yang entah bagaimana bisa terpikir di saat seperti ini.
"Aku hanya kepingin tahu saja. Toh waktu nggak akan terasa lalu kita tahu-tahu lulus nanti." Boboiboy melirik keempat temannya kembali.
Mengetahui pertanyaan itu memang serius, maka mereka mulai berpikir dengan sungguh-sungguh.
"Ya, tentunya lanjut kuliah lah!" Jawaban pertama muncul dari Ying.
"Masih belum cukup lah kita belajarnya!" Yaya sependapat dengan sahabatnya itu. Mereka berdua tos bersama.
"Aku tentunya nggak akan masuk jurusan serumpun dengan mereka." Gopal menyahut sambil cemberut. "Aku kepingin jurusan tata boga."
"Ada yang berencana kuliah jauh, nih?" tanya Boboiboy kembali. "Misalnya cari universitas ternama di luar negeri?"
"Memangnya mau ke mana? Ya sudah pasti ke sana kan?" Ying menyebutkan nama universitas favorit yang sudah langganan menerima mahasiswa baru dari sekolah mereka. Letaknya pun tak begitu jauh dari pusat kota.
"Iya tuh, rasanya belum pernah dengar ada yang pergi ke universitas luar negeri." Yaya menimpali.
"Kalau kau, Fang?" Ying melayangkan pandangan pada yang bersangkutan.
Alih-alih langsung menjawab, Fang terlebih dulu menghentikan langkahnya. "Belum kuputuskan."
"Lah, masa sih?" Ying menaikkan sebelah alisnya.
"Iya, biasanya kau termasuk yang selalu mempersiapkan sesuatu matang-matang." Yaya pun nampak keheranan.
"Begitu ya, aku entah kenapa juga belum kepikiran apa-apa." Boboiboy tertawa kaku sambil menggaruk belakang kupingnya.
"Yah, masih ada waktu untuk memikirkannya. Ayo jalan lagi!"
Boboiboy tahu-tahu ditarik satu langkah ke belakang oleh Fang, yang belum berniat untuk beranjak.
"Fokusmu sudah buyar ke mana-mana." ucap Fang dengan kening berkerut. Melirik tajam rivalnya itu, yang sama sekali tak terusik. "Melantur, kau!"
"Begitukah? Aku tahu ada yang tak beres soal ini." Boboiboy hanya menyeringai. "Jangan terlalu meremehkanku Fang."
Fang ingin sekali melayangkan satu pukulan pada wajah penuh percaya diri itu. Sejak kapan rivalnya bisa seangkuh ini? Kerasukan apa dia.
"AAAAH!"
"Sssssst! Jangan berisik, woi!" Ying menampar punggung Gopal, karena teriakan itu masih menggema hingga ujung terowongan.
"Ada apa?!"
Baik Boboiboy dan Fang langsung berlari menghampiri.
"Portalnya..."
Mereka mengikuti telunjuk Yaya dan mendongak ke arah langit. Lingkaran gelap portal nyaris tersamarkan di atas sana. Sekitar sepuluh meter dari permukaan tanah. Jika mereka memanjat ke atas terowongan, melompat setinggi mungkin masih tak akan sampai.
"Ochobot, bagaimana ini?"
'Jangan khawatir. Selama satu menit, kalian bisa menggunakan kekuatan kalian yang ada di Matra."
"Syukurlah, kalau begitu..." ucap Yaya.
Maka diputuskanlah ketiga orang yang bisa menggunakan kekuatan mereka untuk naik ke atas.
"Boboiboy Taufan!"
"Apungan graviti!"
"Elang bayang!"
Boboiboy yang melesat pertama, diikuti oleh Yaya dan Ying dengan kekuatan sang gadis. Fang sementara itu tertinggal karena harus menarik Gopal dengan susah payah naik sembari mendumel kesal.
.
.
.
Bunyi ombak dan terpaan angin kecang adalah dua petunjuk awal Matra ketujuh. Permukaan tanah berpasir yang sulit untuk diinjak. Aroma kuat dari garam dan segala mineral yang larut dalam hamparan air yang seolah tak ada batasnya.
"Lauuuut!"
Sudah berapa lama mereka tak pergi ke tempat ini?
"Mataharinya... sebentar lagi terbenam."
Semua langsung melirik matahari yang sebentar lagi menyentuh cakrawala. Menyebarkan semburat jingga dan sentuhan lembayung pada awan dan angkasa. Sebuah pemandangan yang menakjubkan dan menghanyutkan mereka dalam rasa kagum. Sekali lagi, seolah dimensi ini tak ada bedanya dengan yang asli.
"KALIAN SEMUA! JAGA-JAGA!"
Teriakan Fang membuat semuanya dalam mode siaga. Yaya dan Ying memasang kuda-kuda andalan mereka. Gopal menyiapkan pistol jarinya. Boboiboy mencari dengan seksama di antara pasir di sekeliling mereka, sebelum pada bibir ombak berserta buih-buih.
Empat Pelahap Ingatan bergerak secara bersamaan, mengepung mereka seolah jaring yang mendesak ikan-ikan di lautan. Semua, kecuali Gopal, menghadang satu musuh. Mereka semua berjubah hitam, dan masing-masing bertarung dengan tangan kosong.
"Boboiboy Blaze!"
"Tendangan laju!"
"Tumbukan padu!"
"Beruang bayang!"
Seketika mereka terlibat dalam pertempuran jarak dekat yang cukup sengit. Sebagai yang bergerak paling cepat, Yaya dan Ying berhasil memukul mundur musuh dan menjauh. Terbukalah ruang bagi beruang bayang Fang, yang semakin leluasa mengayunkan kaki berkuku tajamnya itu. Namun gerakan musuh teramat luwes seperti belut yang licin.
Di sisi lain, Boboiboy Blaze semakin sengit adu jotos dengan si jubah hitam. Belum ada satu pun tinju berapinya yang mengenai musuh. Pertarungan sejak awal berlangsung monoton, dan musuh mereka seperti menunggu sesuatu.
Kenapa mereka tidak menyerang balik?
"Boboiboy! Awas!"
Teriakan Gopal membuat Blaze tersadar kembali dari lamunan sesaatnya. Tepat ketika musuh menghindari pukulan ke arah perut, lalu berputar ke belakang Blaze.
"Celaka!" Blaze berbalik dan menyilangkan tangan sebagai perisai dari pukulan musuh. Ia terjungkal ke belakang dan jatuh ke atas pasir. Berupaya bangun, elemental api itu menyadari musuhnya itu kini melirik ke arah Gopal, yang berada tak jauh sana. Pelahap Ingatan itu mengambil ancang-ancang, berubah haluan.
"Waaa! Jangan mendekat ke sini lah!" Pemuda tambun itu mulai panik dan langsung angkat kaki.
"Mau ke mana kau?" Blaze mengejar dari belakang, tapi musuhnya itu cukup tangkas juga. "Boboiboy Halilintar!"
Elemental petir itu muncul, tapi saat ia melesat, musuh sudah lebih dulu berada lima langkah di belakang Gopal.
"Tukaran makanan!" Gopal berbalik dan mengubah pasir menjadi permen karet lengket.
"Gopal! Aku jadi nggak bisa bergerak juga, nih!" Halilintar setengah menyesal ia sudah hampir menyusul di belakang musuh dan ikut terjerat.
"Yosh! Cepat kalahkan dia Halilintar!" Gopal malah memberi acungan jempol dan tak berniat mendekat.
"Lepaskan aku dulu, lah!" Halilintar berusaha menebas, tapi benda itu terlalu lengket dan malah menempel pada pedangnya.
"Nggak! Dia bisa lepas juga, lah!" Gopal menolak keras.
Sekonyong-konyong musuh mereka bergerak dengan ganjil, menyerupai orang yang kejang-kejang.
"Hiiii! Dia kenapa lah!" Gopal mulai histeris.
Bunyi-bunyi seperti tulang yang patah membuat keduanya ngilu seketika.
"Ada apa dengan Pelahap Ingatan ini?!" Ying berteriak dari bibir pantai.
"Di sana juga seperti ini?" Yaya baru saja menahan pergerakan lawan ikut memastikan teman-temannya yang lain.
Tiba-tiba saja tubuh semua Pelahap Ingatan seperti meleleh dan jatuh ke atas pasir, menyisakan lingkaran hitam misterius. Sontak mereka semua berteriak ngeri. Hal itu di luar nalar siapapun.
"Apa ini?!" pekik Gopal.
"Mereka menghilang?" Yaya kebingungan dan melihat baik-baik tempat di mana musuh di depannya tiba-tiba lenyap. "Ini... portal?"
"MENJAUH DARI BAYANGAN ITU!" Fang meneriakkan itu hingga suaranya serak.
Tak berpikir dua kali, semua melompat menjauh. Tepat sebelum pasir-pasir mulai tersedot ke dalam lingkaran-lingkaran itu seolah memiliki gravitasi tersendiri.
"Ini seperti lubang hitam, lah!" teriak Boboiboy, yang telah kembali pada wujudnya semula.
Yaya langsung mengaktifkan medan gravitasi, menarik semua orang kembali ke atas pasir. Karena mereka terpisah cukup jauh, area yang harus dibuat oleh sang gadis lumayan luas dan menguras energinya.
"Boboiboy Gempa! Tanah Tinggi!" Tanah-tanah padat berujung runcing itu mencuat dari pasir. Menyediakan tempat untuk bersauh untuk mengurangi beban kekuatan Yaya.
Lubang hitam itu malah semakin besar, hingga mereka beringsut mundur dan berkumpul dalam radius tiga meter. Kali ini, tanah-tanah runcung mulai tertelan oleh lubang-lubang itu.
"MUNDUR!MUNDUR!"
Boboiboy dan Fang tetap di garis terdepan, berjaga sementara ketiga teman mereka pun mundur dan melewati portal. Tanpa gravitasi Yaya, Boboiboy nyaris terisap dan sedikit terlambat untuk mempertahankan posisinya. Untunglah tangan bayang Fang dengan cepat melingkari perut Boboiboy dan mereka berdua menghilang ke dalam portal.
Matahari telah selesai melintasi cakrawaka. Semua lubang hitam menyatu menjadi satu berukuran raksasa, yang menarik apa saja ke dalam kegelapan. Jika mereka terlambat mundur, maka tamatlah sudah.
-CdS-
Kali kedua mereka masuk, tak ada perubahan dengan jumlah musuh. Lubang hitam akan muncul secara bersamaan. Mereka mau tak mau harus fokus untuk tidak terisap ke dalam objek bergravitasi kuat itu. Lalu tak ada lagi pilihan selain mundur. Mereka kini menunggu dengan gelisah di depan terowongan kereta.
"Tanda-tanda portal belum ada, ya?" Ying melirik Boboiboy, yang terduduk lesu di atas bebatuan jalur kereta.
"Belum..." sahut Boboiboy.
"Kalau sampai tersedot ke dalam lubang hitam itu, apa yang akan terjadi, Fang?" kali ini Yaya bertanya pada pemuda itu.
"Jangan harap bisa kembali." Fang menyahut singkat saja. "Karena itu, fokus saja untuk bertahan sampai portal kedua benar-benar muncul."
'Waktu kalian sepuluh menit di dalam sana, sudah bisa bertahan adalah hal bagus. Karena itu, jangan putus asa semuanya!' Dari jauh sana, Ochobot tak lupa memberikan semangat.
.
.
.
Empat kali mereka mengulangi siklus yang sama di dalam Matra. Boboiboy penasaran akan satu hal dan diam-diam bergerak sendiri. Dalam wujud Halilintar, ia segera menerjang musuh dengan kecepatan kilatnya.
"Tamatlah kau!"
Dentuman keras petir menusuk kuping semua orang di sana. Tepat di tengah-tengah pusat serangan itu, musuh mereka masih berdiri. Alih-alih ambruk, ia kembali menggeliat dan mengeluarkan suara-suara mengerikan itu lagi.
"Gawat!" Halilintar mundur tepat begitu lubang hitam kembali muncul.
"Hah? Dia langsung berubah lah!"
"Waa! Kenapa ini?!"
Belum lima menit tiba di Matra, mereka dipaksa untuk mundur. Begitu sampai di luar, Fang langsung meraih kerah baju Boboibiy dan mendorongnya ke dinding terowongan. Ia tahu bahwa Boboiboy melakukan sesuatu sendirian barusan.
"APA YANG KAU LAKUKAN, HAH?!"
"Kupikir kalu mereka dikalahkan dengan cepat, kita bisa cepat membuka portal." Boboiboy menjawab sambil menatap lurus Fang.
"Dan membahayakan kita semua? Ide yang cemerlang!" teriak Fang.
"ITU KARENA KAU SELALU MENUTUP MULUTMU DAN TAK MEMBERI TAHU APAPUN!" Boboiboy terpacu untuk memuntahkan pemikirannya selama ini.
"SADAR HEI, KALIAN!"
Yaya, Ying dan Gopal langsung menginterupsi dan memisahkan kedua teman mereka. Kesabaran yang mereka miliki semakin berkurang.
.
.
.
Pagi telah lama datang. Mereka kembali pada terowongan itu dengan tenaga yang semakin menipis. Gopal sudah tergeletak di atas tanah, perutnya telah lama keroncongan. Yaya dan Ying saling bersandar di punggung mereka, mata keduanya setengah terpejam. Hanyalah Boboiboy dan Fang yang memisahkan diri cukup jauh.
"Ini... apa kita bisa menyelesaikan misi, nih?" Gopal bersungut-sungut.
"Sabar lah Gopal, mungkin selanjutnya..." Yaya menimpali.
"Boboiboy, kau juga istirahat dulu." Ying melirik teman bertopi mereka, yang sejak awal seperti berpikir keras.
"Aku tidak apa-apa, Ying." Boboiboy tersenyum singkat sebelum kembali pada
Mereka telah melalui keenam misi yang tak mudah. Namun baru kali ini mereka harus bertarung secara beruntun. Misi kali ini nampaknya terlanjur dianggap remeh hingga mereka menyadari seberapa sulitnya situasi kali ini.
.
.
.
Kali kesepuluh masuk ke dalam Matra ketujuh, nyaris tak ada semangat tersisa. Kembali pada pertarungan dan siap siaga begitu lubang hitam muncul di sekitar mereka. Yaya kembali membuat medan gravitasinya begitu mereka berada dalam radius lima meter. Namun gadis itu tak bisa melakukan ini lebih lama lagi.
"Simpan tenagamu, Yaya! Gopal, kau maju juga!" Seru Boboiboy Gempa.
Gelombang serangan musuh kembali tiba.
"Ini..."
Bunyi retakan kini terdengar. Ruang di sekitar mereka tiba-tiba retak seperti kaca yang hendak pecah. Hal yang mereka tunggu akhirnya terjadi juga. Seketika Boboiboy Gempa terpantik tenaganya.
"Golem Tanah!" Dengan kekuatan yang kembali memuncak, golem pun menerjang musuh hingga terpental. Namun takkan lama lagi sosok itu kembali bangkit.
"Di sana!" Boboiboy melirik ke arah bebatuan karang, yang sarat akan retakan.
"PERGI BOBOIBOY!" teriakan itu diikuti dengan bara semangat dari semua temannya.
Kesempatan yang mereka tunggu telah tiba dan tak boleh mereka sia-siakan. Akhir dari penaklukan Matra mereka.
"Gopal!" Teriak Ying.
"A... aku mengerti lah!" Gopal pun mengubah potongan kayu menjadi perisai biskuit Yaya andalannya. Walau sempat mendapat lirikan maut dari pencipta makanan itu.
Gopal mengambil ancang-ancang. Begitu Golem Gempa menghilang dan Boboiboy menonaktifkan kekuatannya, ia mengambil momentum dan menerjang musuh dengan perisainya. Usaha yang berhasil mengisi kekosongan itu.
"Cepatlah Boboiboy!" Gopal berteriak sekuat tenaga.
Boboiboy menerobos air dan terjangan ombak. Begitu menapaki batuan karang, ia bisa berjalan dengan lebih cepat. Dengan kedalaman air sedada, Boboiboy berada di tepi portal, yang melebur bersama warna gelap bebatuan karang. Pemuda itu menarik napas panjang sebelum menyelam.
-CdS-
Boboiboy manyadari sorot lampu terlampau silau yang berputar-putar di depannya. Ia mengernyit sambil berusaha bangun dan bersandar pada dinding plesteran yang dingin. Aroma laut masih kentara di udara. Lampu yang luar biasa besar dan terus berputar seingat Boboiboy hanya ada di satu tempat.
Sebuah mercusuar?
"Kau datang juga, Nak."
Suara dari seorang kakek yang sudah begitu renta membuat Boboiboy tersentak. Ia melihat sosok berbadan bungkuk itu di samping kirinya. Ia memakai jubah hitam panjang hingga menyentuh lantai. Satu tangan kurusnya keluar dari jubah, memegangi sebuah lentera berisi lidah-lidah api yang bergoyang dibalik kacanya.
"Kau... Pelahap ingatan juga?" Boboiboy memberi sebuah gertakan. Tak mau mengendurkan sarafnya dan lengah barang sedetik pun.
Pandangan Boboiboy kembali, cukup untuk menangkap ekspresi iba dari musuh di depannya. Ia tetap waspada, menunggu pergerakan tiba-tiba dari musuh. Namun kakek berjanggut keperakan itu hanya meletakkan lentera dan merogoh sesuatu dari bagian dalam jubah.
"Tidak perlu waspada seperti itu pada kakek yang bahkan tak bisa mengangkat senjata ini." Kakek itu terkikik.
Boboiboy tak mengindahkan ucapan itu. Kewaspadaannya masihlah sama.
"Kami melakukan ini untuk melindungi Matra agar tidak musnah." Kalimat itu diucapkan dengan lugasnya.
"Dengan mengorbankan orang-orang, hah?!" seru Boboiboy dengan penuh amarah.
"Pilihannya ada dua, musnah semuanya atau mengorbankan sedikit sambil menunggu. Semua ini untuk kebaikan bersama." Kakek itu sama sekali tidak peduli dengan reaksi Boboiboy. "Ambillah ini."
Boboiboy membelalakkan mata ketika Nukleus disodorkan padanya begitu saja. Bola kekuningan itu tak salah lagi adalah Nukleus. Tak merasakan aura mengancam, Boboiboy mengambil Nukleus dengan tergesa. Kakek itu tak berbuat apa-apa, hanya menatap Boboiboy dengan bola mata gelapnya.
"Kau, dan semua teman-temanmu adalah harapan satu-satunya untuk mengakhiri semuanya."
Tak lagi waspada, Boboiboy menyimak baik-baik ucapan yang baru saja ia dengar. Kepingan terakhir yang melengkapi jawaban dari misteri yang selama ini begitu mengusiknya.
"Akhiri Matra ini, lalu kembali ke tempat yang seharusnya."
.
.
.
"Ochobot, aku boleh bertanya tentang sesuatu?"
Mereka telah kembali ke tempat Ochobot. Fang melirik Boboiboy, menyadari tindak-tanduk yang tak biasa. Ia memejamkan mata sejenak. Sebuah hal yang hanya ia dan Ochobot ketahui, kini diketahui seorang lagi. Tepat pada waktunya.
"Tentu saja, ada apa Boboiboy?" sang robot menyahut dengan ramah. Robot itu mengajak Boboiboy ke tepi ruangan, tepat di sebelah Fang yang sedang bersandar.
Mereka menjauh dari ketiga lainnya yang masih tenggelam dalam euforia misi terakhir. Isakan Gopal bersahutan dengan omelan Ying. Yaya sementara itu tertawa-tawa dan luruh dalam suasana penuh suka cita. Namun suara-suara itu hanyalah gema yang bias dalam kuping Boboiboy.
Hal yang selanjutnya akan terjadi. Perkara yang belum mereka ketahui dari sang robot dan teman berkacamata mereka. Sebuah perkara yang akan melunaskan dahaga tanya Boboiboy. Ia telah menahan diri cukup lama dan menantikan untuk menanyakannya.
Tentang sebuah dugaan di luar akal pikirannya selama ini, yang akan meruntuhkan dunia yang mereka jalani.
Pemuda bertopi itu menatap lurus sang robot kuning. "Dunia yang kita tinggali sekarang... juga bagian dari Matra bukan?"
.
.
.
Berlanjut pada chapter 18: Fakta
A/N:
Terima kasih sekali lagi bagi sudah sempat mampir ^^
Setebentar lagi, babak baru dari fanfiksi ini akan dimulai. Semoga bisa dituliskan sampai akhir.
Salam hangat dan sampai jumpa kembali~
