Kebenaran seringkali bukanlah nirwana, kala segala sesuatu indah dengan apa adanya. Apakah lisan dan kalbu telah bersiap menghadapi kebenaran? Walau yang ada di sana adalah belantara tanpa surya? Dalam dingin, tanpa tahu kapan kiranya secercah kirana menjemput. Hanya menunggu hingga kelam seutuhnya luruh.

Cipta dan Sirna

By: Koyuki17

Boboiboy © Monsta Studio

Chapter 18: Fakta

Boboiboy memasukkan chip dari Nukleus terakhir dengan segera begitu ia membuka bola keemasan itu. Kembali ke dalam dimensi Matra miliknya. Namun semua sangat berbeda sekarang. Boboiboy menatap figur elemental terakhir yang telah menunggu.

Gaung dari ucapan Pelahap Ingatan itu masih belum sirna.

"Kau sudah menyadarinya, bukan?" tanya elemental baru itu sembari tersenyum padanya. Binar mata keperakan itu sempat membuat Boboiboy terpaku. Warna yang seolah menyaingi segenap bintang dan galaksi di luar sana. "Jawaban untuk semua kejanggalan yang selama ini mengganjal."

"Aku sendiri masih tidak yakin." Boboiboy menatap angkasa kembali. "Tapi rasanya aku sedikit mengenali tempat ini."

Boboiboy beranjak, dari lubang menganga di tembok menuju kamar mungil itu. Sebuah ruangan yang seolah memiliki magnet yang selalu bisa menariknya ke sana. Ia merasa memiliki keterikatan yang tak bisa didefinisikan dengan logika. Intuisi menyibak debu yang menutupi ingatan samarnya.

"Ini... adalah kamar lamaku bukan?" tangan Boboiboy mengambil carik-carik kertas bergambar dengan goresan-goresan krayon yang masih berantakan. "Rumahku saat masih sangat kecil, sebelum pindah bersama Atok."

Elemental baru itu terhenyak di kasur mungil, menatap Boboiboy lurus. "Jadi, kau ingin pulang ke rumahmu ini?"

"Aku... tak tahu lagi." Boboiboy menggelengkan kepala dengan cepat, sebuah aksi yang membuat pening dan mengernyit.

Di manakah sebenarnya rumah masa kecilnya itu? Mengapa tempat ini muncul sebagai sepenggal Matra miliknya? Boboiboy menundukkan kepala, kebingungan karena masih menemukan garis yang terputus atas deduksinya.

"Aku adalah yang terakhir, Solar." Tanpa menunda-nunda lagi, Solar memperkenalkan diri. "Teruslah mencari jawaban untuk semua pertanyaanmu yang lain."

Pada akhirnya, Boboiboy mengangkat dagu. Menyetarakan sorot mata hazelnya dengan sepasang lain yang keperakan. Solar, elemental yang diwakili oleh sinar mungil di ujung telunjuknya kini menjelma menjadi figur yang sama sepertinya sekaligus rekan lain yang selama ini ditunggu olehnya.

.

.

.

"Dunia yang kita tinggali... juga bagian dari Matra bukan?"

Baik Ochobot maupun Fang membisu seketika, lalu suara-suara riuh ketiga teman mereka mengikuti. Boboiboy seketika menjadi pusat segala lirikan keheranan, kebingungan, maupun tanda tanya.

"Loh, ada apa sih kalian! Kok tiba-tiba pada serius begini, sih?" Gopal yang setengah menyimak memprotes suasana canggung di tengah perayaan mereka.

Kedua remaja putri di sisi lain menangkap sekilas ujung perkataan Boboiboy lalu saling berpandangan. Selama ini, rasa ingin tahu adalah bagian dari sikap Boboiboy, tapi menduga sesuatu seperti ini rasanya bukan seperti mereka.

"Kau bilang sesuatu, Boboiboy?" tanya Yaya dengan agak sungkan.

"Ya, aku menanyakan pada Ochobot, kalau dunia yang kita tinggali," Boboiboy melirik ketiga temannya yang penasaran dengan sebuah senyum yang janggal. "Juga adalah bagian dari Matra,"

Seketika membuat Yaya, Ying dan Gopal membelalakkan mata. Fang segera membenarkan kacamatanya yang merosot dan berdeham. Menyamarkan kata-kata yang nyaris saja meluncur kalau ia tak hati-hati.

"Sejak kapan kau mengetahui ini, Boboiboy?" secara tidak langsung Ochobot tidak menyangkal kata-kata Boboiboy barusan.

"Aku penasaran sejak awal simulasi, karena Matra yang kau munculkan tak ada bedanya dengan Matra yang benar-benar terdistorsi. Terlalu nyata untuk sebuah simulasi."

Yaya dan Ying mengingat kembali dan menyadari ucapan Boboiboy itu memang benar adanya.

"Kekuatan kita sebenarnya bisa digunakan di luar Matra, bukan?" Boboiboy memandang arlojinya. "Lalu tentang mengapa kerahasiaan Matra sangat diutamakan oleh Fang dan juga Ochobot."

Tak ada yang berniat menyanggah. Namun hampir semua napas terjeda oleh penuturan Boboiboy. Memberi ruang baginya untuk menuntaskan kata-kata yang belum termuntahkan.

"Dan Pelahap ingatan yang terakhir meyakinkan dugaanku." Boboiboy lanjut berkata dengan nada serius, tatapannya yang tajam terarah pada sang robot. "Mereka tak punya pilihan selain mengambil ingatan, karena itu semua untuk melindungi orang-orang yang ada di dalamnya dan Matra itu tersendiri."

Boboiboy mengulum senyum pahit karena ironi yang baru saja ia lontarkan. "Juga tentang Matra ini, yang harus diakhiri secepatnya dan kita harus kembali ke dunia yang sebenarnya."

Dalam hati, Boboiboy berteriak. Menunggu jika Ochobot ataupun Fang menganggapnya memiliki imajinasi luar biasa. Atau meyakinkannya bahwa Pelahap Ingatan itu mencoba mengelabuinya. Tapi Boboiboy tak mendapat tanggapan demikian.

"Ochobot, itu tidak benar bukan?!" Ying menuntut jawaban dengan segera.

"Aku selalu berharap mendapat kesempatan yang tepat untuk memberi tahu kalian soal ini." Akhirnya Ochobot menjawab.

"Tunggu, jadi selama ini kita hidup di dimensi buatan?!" Yaya memekik panik.

"Ya, sekarang kalian sudah tahu kan?" celetuk Fang.

"Kau juga sudah tahu soal ini Fang?!" Ying menujuk Fang dengan amarah yang siap meledak.

"Semua tertulis dalam catatan yang kakakku tinggalkan." Fang nyengir dengan puasnya. "Lagipula kalau aku ceritakan, kalian yakin takkan menganggapku sebagai orang yang akalnya semakin melantur?"

Berbicara tentang kakaknya yang telah dilupakan orang-orang telah membuat Fang dikucilkan. Tak ada jaminan mereka memercayai fakta di luar nalar seperti itu.

"Ochobot, tolong beri tahu kami tentang Matra." Boboiboy langsung membidik inti masalah. "Semua yang kau tahu."

-CdS-

Setelah percakapan itu, Ochobot meminta waktu untuk menjelaskan semua hal tepat setelah integrasi Boboiboy berakhir. Menunggu tak pernah menyenangkan bagi Boboiboy. Apa lagi sekarang, tepat sebelum tidur, Boboiboy berpecah menjadi elementalnya. Tujuh elemental lengkapnya.

"Sempit sekali sih di sini!" Solar, sebagai pendatang mengomentari kamar yang overkapasitas. Tak ada ruang kosong untuk berjalan melintasi ruangan. Baik kasur, sofa, maupun lantai telah penuh untuk mereka semua berbaring.

"Dih, padahal kau sendirian di sofa," sindir Duri. Walaupun ada di kasur, ia tak bisa berbaring lurus karena harus berbagi tempat dengan Taufan dan Blaze. "Lagak sudah macam paduka."

"Bilang saja kau kepingin di sini," Solar mendengus sembari tersenyum sinis.

"Wah, aku nggak mau disebut begitu sama si nomor tujuh."

"Coba bilang sekali lagi?"

"Kau bisa bicara begitu ya, Duri." Gempa, yang tak bisa tidur walau sudah meringkuk di karpet ikut berkomentar. Ia masih ingat bagaimana perangai Duri yang kekanakan dan ceria tempo hari. "

"Padahal waktu itu hanya ada berdua. Betul kan Hali?" Taufan melirik Halilintar, yang sibuk mengipasi dirinya dengan buku catatan. Yang dipanggil hanya menggumam tak jelas mengiyakan dari bawah.

Suhu tubuh tujuh orang di dalam sepetak kamar membuat mereka seperti berada dalam sauna. Membuka jendela pun hanya akan membuat mereka masuk angin di pagi harinya.

"Aaaah! Nggak bisa tidur kalau begini! Ingin keluar!" Blaze berguling-guling di kasur, menabrak Duri dan Taufan. "Aku mau ke rumah Gopal saja, deh!"

"Ah! Aku juga ingin ikut denganmu, Blaze!" Duri menyetujui usulan itu.

"Aku ada ide! Kita seru-seruan dulu sebelum tidur!" Taufan melompat turun dari kasur dan berjalan menuju meja belajar. Sebuah pengalihan di sisi lain tetap sama saja tidak membuat malam mereka damai.

"Ish! Lihat ke mana kakimu lah!" Halilintar mendumel sembari menekuk kaki yang terinjak Taufan.

"Ups, sori." Jawab Taufan sekenanya.

"Oiya, siapa yang besok mau mewakili ke sekolah?" Tiba-tiba saja Gempa menyinggung topik yang lebih penting.

"Siapa lagi, dong?" gurau Taufan sambil melirik Gempa.

Hampir semua melempar atensi pada Gempa. Ice, yang memakai sleeping bag di pojok ruangan sudah lama kabur ke alam mimpi. Hanya dia yang tak terusik dengan suhu udara di kamar atau semua celotehan itu.

"Eh, masa aku lagi, sih?!"

"Ah, kalau begitu aku yang pergi saja." Solar mengacungkan tangan dari sofa yang dipakainya berbaring.

"Wih, yakin nih?" timpal Duri sambil berguling dan menoleh pada Solar.

Baru kali ini ada yang menawarkan diri untuk menjadi sukarelawan untuk pergi ke sekolah. Dan tentunya hal ini disambut oleh keenam elemental yang lain. Kalau saja sang elemental baru tak mulai tertawa-tawa kecil.

"Tentu saja. Nggak ada di sini yang cukup pintar untuk melewati kuis fisika besok, kan?" Solar membenarkan kacamatanya yang merosot. "Biar aku tunjukkan! Itu sih cetek lah."

Walau muncul paling terakhir, Solar rupanya memiliki bawaan untuk menjadi si paling unjuk gigi.

"Aku nyalain lampu meja di sini ya? belum baca-baca buat persiapan. Besok aku bakal bawa pulang hasil sempurna!"

Tak ada yang berniat menyahut selepas ungkapan penuh percaya diri itu.

"Ayo kita main ini!" Taufan terkekeh sambil menunjukkan satu set kartu uno.

"Wah, seru nih!" Duri langsung duduk dengan penuh semangat.

"Yo! Siapa yang kalah dapat hukuman!" ujar Blaze penuh semangat.

Lalu ketiga orang di atas kasur mulai membagi-bagi kartu. Solar membuka buku teks fisika dan mengambil pulpen, ia bersandar dengan nyaman di sofa ditemani sorot lampu. Halilintar mulai menyumpal telinganya dengan bantal. Gempa mencoba kembali berbaring walau yakin malam ini tak akan sangat panjang.

.

.

.

Pintu kamar membanting tembok dan membuat penghuni kamar terperanjat. Tok Aba menyembul dari ambang pintu sambil tak kalah terkejut. Seketika mata di balik kedua lensa lonjongnya berbinar bukan main.

"Hah! Kebetulan sekali kalian muncul hari ini!" Tok Aba bersorak girang. "Ayo cepat siap-siap lalu sarapan ke bawah! Kebetulan porsi hari ini cukup untuk semua."

Senandung penuh kesenangan mengiringi kepergian Tok Aba ke lantai bawah.

"Gempa, kenapa kau nggak bangun lebih dulu?" Taufan berbisik pada Gempa. Mereka telah menyusun siasat untuk kabur dari sang Atok pagi harinya.

"Siapa juga yang suruh main kartu sampai jam dua pagi!" Halilintar menggosok mata lalu menatap tajam ketiga orang yang dimaksud.

"Mau gimana lagi?" Gempa sama-sama pening karena kurang tidur.

"Hmph! Masa begadang segitu saja sudah lemes begini, sih?" Solar mendengus-dengus lalu terlebih dulu mengambil handuk dan beranjak ke kamar mandi.

"Dia... tidur nggak sih?" Halilintar terlihat sangsi.

"Nggak tahu, tuh. Kau lihat bagian bawah matanya tidak?" Gempa, yang tidur setelah trio itu selesai main kartu pun tak tahu.

Mereka bergantian mandi dan satu demi satu turun ke lantai bawah. Solar terlihat paling rapi dengan seragamnya. Siap untuk sekolah berikut kuis fisikanya itu. Selayaknya pejuang dengan amunisi penuh, siap untuk menang.

"Kamu Boboiboy yang baru, ya?"

Tok Aba menepuk bahu Solar. Walau tak bisa melihat warna mata yang berbeda, rupanya sang atok tahu.

"Iya Tok, namaku Solar! Aku langsung berangkat ya, Tok!" karena waktu yang benar-benar mepet, Solar langsung pamit.

Semua melihat Solar sampai ia menghilang di balik pintu. Hening sejenak, lalu Tok Aba langsung berdeham dan menarik atensi keenam elemental Boboiboy.

"Jadi... siapa saja yang bakal membantu di kedai?"

.

.

.

"Ini yang terakhir, oke?" berulang kali Gempa melontarkan kata-kata barusan pada Taufan yang setengah merajuk.

"Iya, iya! Aku cuma lagi membayangkan yang di rumah pasti bisa sambil leha-leha."

Mereka tak tahu bahwa Halilintar sedang menyesali pembagian tugas kali ini di rumah mereka. Ia harus meladeni Blaze yang terlampau urakan dan tak menyelesaikan satu tugas pun. Di sisi lain, Duri mengikuti Blaze karena menganggap itu menyenangkan.

Atas pertimbangan kejadian tempo hari, kombinasi Taufan dan Blaze tidak bisa menjalankan pekerjaan rumah. Gempa menarik Taufan dan Ice untuk bantu-bantu kedai sementara sisanya beres-beres di rumah.

"Kepingin pulang." Ice mengeluh, sudah merindukan kasur.

"Ice, bergerak itu bagus loh!" sambar Taufan, ia selalu takjub dengan selama apa Ice bisa tidak bergerak dari satu tempat. "Tapi setuju, aku kepingin leha-leha di rumah."

"Permisi, saya mau pesan!" Pelanggan dari meja mengangkat tangan kanannya.

"Baik, mau pesan apa saja?" Gempa mengeluarkan note kecilnya dan mengambil pulpen yang diselipkan di kuping. "Ice, bawakan pesanan ke meja nomor 5!"

-CdS-

Seisi kelas memelototi figur Solar yang tengah berdiri di depan papan tulis. Spidol hitam dalam genggaman, tak henti menuliskan rumus lalu perhitungan dari soal yang diberikan. Guru fisika mereka, yang tahu bagaimana nilai murid di hadapannnya itu selalu pas-pasan, kontan berpikir keras. Kerasukan apa gerangan anak yang satu itu?

"Jawabanmu benar Boboiboy! Silakan... duduk."

Solar tersenyum puas. Dengan ini dia mendapat nilai penuh dalam kuis. Hal yang eksklusif untuk Yaya dan Ying biasanya. Kedua gadis itu tentunya tak terlalu suka tentang hal ini. Di sisi lain, Fang menampar jidatnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Entah kalimat mana di antara 'bersikap untuk tidak menonjol' yang diucapkannya pada Boboiboy yang tak sampai.

"Hebat sekali kau!"

"Ada apa ini? Tumben..."

"Kasih tahu rahasianya, dong!"

Limpahan perhatian itu disambut oleh sahutan yang lumrah. Tentu saja kuncinya adalah belajar dan berlatih. Solar bahkan tak tidur dan mengotak-atik rumus-rumus yang menyulitkan itu. Sempat ia melirik ke arah Fang, yang bermuka masam. Segera saja senyum penuh kemenangan ia lontarkan sebelum membalas pujian-pujian dari teman-temannya yang lain.

"Dia... sengaja ya?" Fang tanpa sadar meremas kertas berisi coretan-coretan yang tak berbuah hasil baik barusan.

"Beda sekali ya, Boboiboy yang kali ini." Gopal mangut-mangut. Rasanya ia tak berhadapan dengan sobat karibnya sekarang ini, yang tiba-tiba menebar aroma rumus-rumus.

"Fang, aku masih ingin tahu. Apa ada dunia nyata yang benar-benar bukan di sini?" Ying tak kuat untuk menahan asumsi-asumsi yang semakin meliar sejak kemarin.

"Tunggu saja nanti penjelasan Ochobot." Fang tak berminat memuntahkan segalanya saat ini.

"Jadi... apakah akan ada misi selanjutnya?" Yaya kini yang bertanya.

"Kita akan dihadapkan tiga pilihan setelah ini." Fang menoleh ke angkasa di balik bingkai jendela. "Yang manapun sama-sama sulit."

.

.

.

Cakrawala yang membentang selalu menggoda siapapun untuk termenung dan hanyut bersama belaian angin. Begitupun dengan Gempa, yang baru saja masuk setelah hampir menyeret Blaze dan Duri supaya tak kabur. Bersama Taufan, ketiga elemental itu malah mulai bermain-main dan menyongsong ombak.

Pilar menjulang tepat sepuluh meter dari portal. Berada tepat di bibir pantai. Masih mengintimidasi sekaligus asing, seolah dijejalkan begitu saja entah dari mana. Kalau diingat kembali, pilar ini dibangun atas ingatan miliknya, bukan?

"Kenapa Gempa?" Solar memutus lamunan singkat Gempa.

"Kita... sudah sampai di titik ini ya..." jawab Gempa. Fakta tentang Matra membuatnya lupa bahwa ini adalah kali terakhir Integrasi.

"Ya, tak terasa." Halilintar menyahut pelan.

"Setelah ini... akan ada apa ya?" Gempa kembali merenung pada batas cakrawala. Kepalan tangannya kian erat.

Solar terkekeh. "Apapun yang terjadi, harusnya tetap percaya diri dan menegakkan kepala bukan? Lagipula..."

"Kita... punya satu sama lain?" Ice menyambung ucapan Solar dengan suara pelan.

"Benar sekali Ice!" Solar mengacungkan jempolnya. "Kukira kau hanya jago tidur saja!"

Bersama. Ya, Gempa lupa kalau mereka tak menghadapi ini sendirian. Tersenyum, ia pun melangkah mendekati bibir pantai

"Semuanya! Cepat ke sini!" perintah Gempa dengan suara lantang.

"Heee... nggak bisa kita main di sini lebih lamaaa?" Blaze merajuk, bahkan belum lima menit sejak kakinya diterjang ombak berikut beribu buih yang menepi pada rengkuhan benua.

"Kita akhiri Integrasi lalu kembali. Titik." Gempa menutup pintu komprominya. "Yang lain sudah menunggu."

Ketujuh elemental berdiri mengelilingi pilar terakhir, menautkan tangan kembali sembari merasakan satu demi satu elemental berbaur kembali menjadi tunggal. Kini, Boboiboy membuka mata.

Kembali pada perjalanan singkat pada tempat ini, yang mulai ia duga sebagai sebuah potongan ingatan entah milik siapa. Entah berada di mana.

Suara ombak memecah bibir pantai. Simfoni familier itu bersahutan dengan desau angin. Atensinya mengudara pada cakrawala. Lembayung telah menguasai angkasa bersama binar jingga. Sebentar lagi mentari kan menghilang dengan semaraknya.

"Ini adalah awal dari sebuah akhir."

Suara dari belakang membuat Boboiboy menoleh secepat kilat. Elementalnya yang terakhir tersenyum pahit. Memilah-milah kata seolah hendak menyampaikan kabar buruk.

"Kita sudah ada di titik sana. Ingatlah untuk apa kau berjuang selama ini."

.

.

.

"Profesor. Sudah waktunya."

Suara pria asing menyentak Boboiboy seketika, membuat pemuda bertopi itu melirik daerah sekelilingnya dengan keheranan. Ia tak berada pada Matra ketujuh, tetapi sebuah ruangan berlapis logam yang familier. Apa ia langsung ditendang ke dalam fasilitas pengontrol Matra? Siapa pula orang-orang ini?

"Maafkan keegoisanku ini, tapi sudah saatnya Matra digunakan."

Pria berjas putih berusia setidaknya empat puluh tahun itu menjawab. Ia membenarkan kacamata berlensa purnama yang merosot. Sosok yang mengingatkan Boboiboy pada figur peneliti. Mereka yang mendedikasikan diri untuk menciptakan hal-hal yang baru.

"Kita sudah lelah dengan perang ini." Pria itu kembali angkat bicara. "Setidaknya sampai semua aman."

Perang? Di mana ada kecamuk perang? Rasanya seperti sebuah kemustahilan dengan keseharian mereka selama ini.

Boboiboy bukan main kebingunan. Kedua orang itu sayangnya tak menyadari kehadirannya. Tempatnya berdiri tepat di antara mereka, apa ia mendapat kekuatan tembus pandang atau sejenisnya? Lalu apa pembicaraan yang tengan didengarnya saat ini?

"Selanjutnya, serahkan pada kami." Pria peneliti itu tersenyum pahit, mulutnya kembali mengambil ancang-ancang untung berkata. "Sampai jumpa lagi... Amato."

Boboiboy seketika berbalik badan. Namun ia tak cukup tangkas. Bentangan laut kembali pada pandangannya, bersama pilar yang menjulang semakin kukuh. Boboiboy tak sempat menangkap bagaimana rupa Pria di belakangnya itu. Ia menyesal hanya terpaku pada si Peneliti barusan.

Nama itu tak salah didengarnya, ia berani bersumpah. Nama yang selalu dilihatnya pada bercarik-carik surat yang sampai. Akar dari segala rindu yang tak kunjung menemukan usai.

-CdS-.

Kali ini mereka berkumpul di sebuah auditorium yang menggantikan area latihan sebelumnya. Sang robot kuning telah menyiapkan perangkat untuk memproyeksikan gambar seperti saat menjelaskan Matra kepada mereka dulu.

"Sebelumnya, aku ingin meminta maaf kepada kalian semua." Ochobot memulai pembicaraan. "Aku tak bermaksud untuk membohongi kalian, sungguh."

Kelima remaja itu menempati masing-masing kursi oval yang berjarak rata. Mengepung Ochobot dan perangkat-perangkat mutakhirnya.

"Kamu pasti punya alasan tersendiri bukan, Ochobot?" Yaya menimpali dengan bijak. "Kami tentunya takkan marah kalau kamu menjelaskan alasan itu."

"Terima kasih Yaya. Tetap saja aku perlu meminta maaf." Ochobot mulai memunculkan papan ketik dan mulai mengetik dengan cepat. "Aku akan menjelaskan semuanya dari awal."

"Matra dikembangkan oleh Tuanku sejak lama. Sejak dua belas tahun lalu, barulah kalian semua tinggal di dalamnya."

"Tuanmu itu siapa, Ochobot?" tanya Ying dengan rasa penasaran yang tak lagi terbendung. "Mengapa dia menciptakan dimensi buatan seperti ini?"

"Tuan adalah Tuan. Dia tak pernah memberitahu siapa namanya. Lalu alasan kenapa Matra diciptakan..." Ochobot mengotak-atik layar dan memunculkan proyeksi.

"Perang... bukan?" Semua yang ada di sana kontan melirik Boboiboy.

Semua menjadi masuk akal sekarang. Bagaimana kamar masa kecilnya berikut gedung dalam dimensi Matranya itu setengah hancur dan terbengkalai. Juga tentang kilasan asing yang menyebutkan kata itu: ada perang yang tengah berkecamuk.

"Ya, satu yang paling buruk dalam sejarah. Kalian saat itu masih terlalu kecil untuk mengingatnya. Dalam waktu bulan dan tahun, tidak ada lagi warga yang tinggal di permukaan karena serangan yang terus menggempur warga sipil."

Hening menyambut, kelima remaja itu tak bisa mengingat apapun tentang perang yang dimaksud. Kendati demikian, mereka bisa membayangkan seperti apa jika mereka berada di tengah masa perang. Diam-diam mereka begitu mensyukuri keseharian yang selama ini mungkin terlihat remeh.

"Teknologi semakin pesat dan semakin mungkin merebut nyawa banyak orang dengan satu gerakan tangan. Semakin banyak yang kehilangan, terpaksa hidup di dalam pengungsian bawah tanah tanpa tahu kapan perang berakhir."

"Untuk memastikan tak ada lagi nyawa tak berdosa yang direnggut oleh misil dan rudal-rudal itu, Matra dirampungkan. Tempat bernaung yang setidaknya bisa mengganti tempat perlindungan yang semakin tak layak huni."

Hologram tiga dimensi membentuk empat buah kota kecil, yang salah satunya adalah kota di mana mereka tinggal dan satu lainnya adalah daerah villa keluarga Fang. Tempat-tempat ini rupanya adalah buatan, rumah yang disintesis untuk menyamarkan kecamuk perang di luar sana.

"Tuanku mengorbankan segala yang ia punya. Termasuk pondasi terakhir yang membuat Matra ini berdiri. Seluruh ingatan, juga keberadaannya. Tapi semua itu masih belum cukup untuk membuat Matra ini bertahan selama bertahun-tahun. Untuk itulah sosok seperti kalian dibutuhkan."

"Ingatan dari Poros, ya?" Ying mengerutkan kening, masih memikirkan sesuatu dengan keras. "Lalu juga Pelahap Ingatan, kenapa mereka ada dan merebut ingatan?"

"Seseorang membuatnya, dia adalah orang yang turut membantu Tuan. Tapi ia juga sudah meyusul Tuan." ujar Ochobot "Dia menciptakan sistem ini supaya Matra tak pernah runtuh dan semua bisa tinggal di sana seterusnya. Tak perlu lagi ada jalan keluar selama semuanya aman."

Semua menelan ludah seketika.

"Tapi kalau tetap dibiarkan, bukannya ... ?" Boboiboy tak ingin melanjutkan kata-katanya itu.

"Ya, ingatan semua orang yang ada didalam Matra akan terus dikorbankan. Dan jika belum cukup, Matra suatu saat nanti akan runtuh."

"Kalau begitu, kita harus secepatnya keluar dari Matra, bukan?" Gopal, yang biasanya acuh kini mulai panik. "Bagaimana caranya?!"

"Tapi perangnya ... " Ying menundukkan kepala, senyum semakin hilang dari bibir mungilnya.

"Soal itu, aku sudah mendapatkan pesan dari luar sana. Perang telah berakhir! sudah tidak apa-apa untuk meninggalkan Matra saat ini."

"Jadi, kita bisa keluar?!" mata Gopal mulai berkaca-kaca penuh harap.

Bunyi kursi yang jatuh membuat semua orang melirik Fang yang terhuyung berdiri. Ada binar di balik kacamatanya itu, hal yang baru bagi semua orang yang mengenalnya. Fang terlihat ragu untuk bertanya. Kata-kata tersendat di tenggorokannya.

"Siapa yang mengirimimu pesan itu, Ochobot?" Fang menatap lurus sang robot. Napasnya semakin cepat, jantungnya berdegup semakin kencang. Berharap sebuah nama yang selama ini menjadi tujuannya.

"Kaizo. Dia kakakmu bukan, Fang?" Jika Ochobot memiliki mulut, ia pasti tersenyum pada Fang. "Aku sekarang bisa menyampaikan ini kepadamu."

Pesan yang dimaksud sang robot rupanya bukan berupa carik-carik kertas. Bukanlah deretan huruf yang diketik pada layar monitor. Hologram terbentuk mulai dari ujung kaki, perlahan merambat ke atas dan membentuk utuh figur seorang pria bertubuh jangkung.

"Itu, Kakak Fang?!" teriak Gopal dan Boboiboy bersamaan.

Ya, sosok yang selama ini tak diingat siapapun. Fang benar-benar mirip dengan kakaknya, warna mata mereka sama. Potongan rambut yang tak rapi dan mencuat di sisinya juga hampir serupa. Melihat Kaizo seperti mengintip bagaimana rupa Fang jika sudah dewasa nanti.

"Kalau kau berhasil menerima pesan ini, Pang. Selamat kau berhasil menyusulku. Hal yang aku harapkan dari adikku." Kaizo memberi seringai bercampur rasa senang.

"Abang..." Fang mengulurkan tangan, berharap bisa menggapai figur yang begitu lama dirindukannya.

"Pang..? Apa-apaana nama itu?" Gopal meledek Fang.

"Pffft!" Ying sekuat tenaga menahan tawa sembari memalingkan wajah.

"Diam, lah!" muka Fang merah oleh malu sekaligus marah.

"Aaah, nama panggilan dari kakakmu, ya." Yaya menebak dengan tepat, tapi Fang sama sekali tak merasa senang.

"Kau pasti sudah seusia denganku saat memasuki Matra, bukan? Sebentar lagi kita bisa bertemu jika kau dan juga teman-temanmu berhasil menaklukan tantangan terakhir."

"Tantangan... terakhir?" Boboiboy berbisik dengan tegang. Ia menahan napas. Apa sekiranya tantangan itu? Sayangnya mereka melakukan pembicaraan satu arah saat ini.

"Aku menunggumu di rumah kita, Pang. Keadaan sudah lebih baik di sini, lekaslah pulang bersama ayah dan ibu."

Fang kini tak bisa membendung air matanya. Sekuat tenaga ia menahan agar tidak menangis sesenggukan. Pada titik ini, segala cemoohan, diskriminasi yang dialami Fang sebentar lagi terbayar lunas. Ia bukanlah pembohong, kakaknya benar-benar ada dan menunggu pertemuan mereka. Dan dia tak lagi sendirian sekarang.

-CdS-

"Kalian memiliki tiga pilihan setelah ini."

Setelah memberi ruang untuk Fang mengorganisasi perasaannya, pembicaraan berlanjut. Mereka masih berkumpul di ruangan yang sama. Namun kali ini, suasana menjadi jauh lebih tegang. Bahkan Gopal sekalipun tak berani untuk bergurau seperti biasanya.

"Yang pertama adalah meneruskan misi peretasan Matra. Kalian harus menghancurkan pilar-pilar utama Matra dan membuat jalan keluar untuk semua. Masing-masing memiliki penjaga yang jauh lebih kuat dari Pelahap Ingatan."

"Tempatnya berbeda dengan dimensi-dimensi Matra sebelumnya?" tanya Boboiboy, ia mengingat-ngingat ketujuh Matra yang sama sekali berlainan dan tak terhubung ke manapun.

"Benar sekali. kalian harus ke jantung Matra, karena di sanalah perbatasan antara Matra dan dunia yang sebenarnya."

"Pilar-pilar utama yang kamu maksudkan Ochobot, jika dihancurkan apa tidak akan menjadi masalah?" Yaya nampak cemas, selama ini mereka merebut Nukleus dan membangun pilar-pilar. Bukan menghancurkannya.

"Tentu saja tidak! Karena sekarang Matra ditopang oleh Boboiboy dan ingatannya. Tapi setiap misi kali ini akan memakan lebih banyak waktu."

"Makannya Poros itu sangat penting ya. Matra kini bergantung pada Boboiboy, benar kan?" timpal Ying.

"Tapi itu ada batasnya," pangkas Fang.

"Bagi Poros, terlalu berat untuk menopang Matra ini seorang diri." Ochobot memperkuat sahutan Fang. "Jika kau memaksakan diri, tubuhmu akan mendapat konsekuensinya, Boboiboy."

Boboiboy tak bisa membantah, mengiyakan dengan diam. Tatapannya lurus pada arloji di mana semua kekuatan sekaligus tanggung jawabnya berada. Memang semenjak ia mendapatkan satu demi satu kekuatan elemental, ia juga merasakan beban yang dimaksud.

Kepingan terakhir atas keheran Boboboy pada sikap Fang saat membicaran Poros, kini lengkap sudah. Kelangsungan hidup semua orang di dalam Matra kini bergantung padanya. Juga keputusan mereka setelah ini.

"Sampai saat ini, sudah tiga generasi Poros mencoba melakukan peretasan total, tapi belum ada yang berhasil."

Ada sirat sendu dari kedua mata sang robot selagi ia menampilkan foto, serta nama-nama mereka yang telah gugur dalam misi peretasan. Berbeda dengan realitas virtual, Matra merupakan dimensi seutuhnya, tubuh mereka ikut berpindah ke dalam alih-alih berada di dunia nyata.

Ochobot menjelaskan bahwa mencoba lepas dari Matra berarti dilupakan oleh orang-orang untuk sejenak. Jika mereka kalah dalam misi, maka skenario terburuknya adalah gugur dan dilupakan oleh semua orang. Menghilang tanpa diingat oleh siapapun dari dalam Matra. Ini bukanlah permainan anak-anak, pertaruhannya teramat besar.

"Lalu pilihan selanjutnya apa, Ochobot?" Ying menggiring pembicaraan mereka untuk segera beralih.

"Pilihan kedua adalah mencari jalan untuk kalian berlima keluar dari Matra. Peretasan parsial. Tapi hanya kalian yang bisa pulang."

"Hanya kami saja?" Boboiboy terlihat kebingungan.

"Ya. Membawa lima orang untuk keluar tentunya lebih mudah dari membuka jalan untuk seisi kota." Ochobot menjelaskan. "Tapi bukan berarti akan menjadi sangat mudah. Penjaga dari pilar utama adalah lawan yang tangguh."

"Sejauh ini, sudah empat kelompok peretas parsial yang bisa kembali ke dunia nyata."

"Termasuk ... Kakak Fang?"

"Ya, termasuk Kaizo, tepat saat usia mereka sama dengan kalian." "Dia memutuskan untuk melihat situasi lebih dulu, karena belum ada pesan bahwa situasi di luar sana telah aman."

"Begitu ya ..." Boboiboy menundukkan kepala sejenak, melihat jemarinya yang mulai saling bertautan. Ia mulai memikirkan sesuatu dengan kening berkerut.

"Kalian akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk menyelesaikan peretasan. Dan kau bisa bertemu dengan kakakmu, Fang."

Fang tak banyak bereaksi kali ini. Ia tidak benar-benar menatap layar di depan tanpa berkedip, terhanyut dalam lamunannya. Tak terlihat rasa senang di sana, begitulah yang Boboiboy lihat.

"Pilihan ketiga, kalian bisa mundur dari semua ini dan menggunakan ingatan kalian di Matra untuk menyambung kestabilan Matra ini sementara."

"Tunggu ... apa?!" Boboiboy bangkit dari kursi, matanya terbelalak.

Tak ada yang bungkam lagi setelah Ochobot menyelesaikan ucapannya barusan. Protes mulai bermunculan satu demi satu.

"Maksudmu mundur begitu saja, Ochobot?" Yaya mengerutkan kening, sebisa mungkin mengatur napas dan menahan diri.

"Aku sudah cukup membahayakan kalian dengan misi-misi sebelumnya." Ochobot sepertinya tersenyum, satu yang tersirat sendu. "Kalian memiliki hak untuk memilih, bahkan untuk mundur sekalipun."

"Benar boleh begitu? Tapi ..." Gopal nampak segan.

"Tapi kalau kami mundur, apa yang akan terjadi selanjutnya?" suara Ying sedikit bergetar, sudut mata dan alisnya kini turun.

"Aku akan menunggu lagi, sampai ada yang menemukan jalan menuju ke sini." Ochobot menjawab seolah semua itu bukanlah perkara serius.

Tapi sampai berapa lama? Sudah berapa kali robot ini berjuang bersama dan melepas para peretas Matra?

"Jadi, yang mana yang akan kalian pilih?"

-CdS-

Pembicaraan berlanjut tanpa Ochobot. Robot kuning itu permisi untuk melanjutkan pekerjaannya dan mempersiapkan segala sesuatu untuk keputusan Boboiboy dan keempat kawannya.

Untuk pertama kali suasana di antara mereka begitu canggung. Sekalipun mereka sudah berteman cukup lama. Dua menit pertama, hanya ada kalimat-kalimat yang sama, menanyakan apa yang sebaiknya dipilih. Pendapat mereka masing-masing menanyakan kembali baiknya menurut yang lain.

Sepuluh menit berlalu dan masih belum ada keputusan yang diambil. Tangan mereka tak berhenti mengusap dan memainkan arloji, atau apapun untuk meredakan gelisah yang memuncak. Mereka tahu Matra mungkin tak bisa bertahan lebih lama. Di sisi lain, bagaimana belum ada yang berhasil dalam peretasan dan gugur dalam misi bukanlah hal yang bisa diabaikan.

"Boboiboy, bisa ke sini sebentar?"

"Aku saja?" Boboiboy menunjuk dirinya sambil mengangkat sebelah alis. Pada akhirnya ia menuruti permintaan itu tanpa banyak lagi bertanya.

"Tunggu, Ochobot! Apa kami harus memutuskannya sekarang?" seru Yaya.

"Secepatnya lebih baik! Karena semakin lama menunggu, Boboiboy akan mendapat konsekuensi yang sama dengan Tuan."

Tuan. Pencipta dari Matra ini. Boboiboy terhanyut sejenak dalam lamunan selagi mengikuti Ochobot.

"Apa Tuanmu itu dipanggil orang lain dengan sebutan Profesor, Ochobot?" Boboiboy berlari kecil dan mengejar sang robot kuning.

"Ya, hampir semua koleganya kurasa." Sahut Ochobot. "Dari mana kau tahu?"

"Integrasi terakhir, aku melihat kepingan ingatan Profesor." Boboiboy menatap robot itu dengan wajah serius. "Saat itu, dia memanggil seseorang yang bernama sama dengan ayahku."

"Ayahmu, Boboiboy?" ulang Ochobot.

"Karena itu," Boboiboy menelan ludah, dadanya dicengkaram kuat-kuat. "Karena itu ... mungkin saja ...?"

Ochobot menyodorkan sebuah amplop pada Boboiboy. Amplop yang serupa dengan semua yang selama ini selalu sampai ke rumahnya selama ini.

"Waktu itu, ayahmu tak bisa menyimpan pesannya dalam bentuk video seperti barusan. Aku selalu mengirimkan satu demi satu sesuai pesannya."

Ochobot sekali lagi menyodorkan surat itu pada Boboiboy yang benar-benar membeku di tempat. "Kau mirip sekali dengan ayahmu, Boboiboy."

Dengan tangan yang gemetar hebat, Boboiboy membalik amplop itu sebelum membuka segelnya. Pesan yang ada di dalam carik kertas itu sederhana saja.

Ayah menunggumu, Boboiboy. Aku mengandalkan Matra padamu, kau pasti bisa melakukannya.

.

.

.

Berlanjut pada chapter 19: Peran

A/N:

Terima kasih sudah menunggu dan membaca tulisan saya sampai sejauh ini. Selanjutnya yang tersisa adalah babak terakhir.

Sampai berjumpa lagi~