Kala perjalanmu sampai pada persimpangan nasib, lumrah saja jika keraguan ikut menyerta. Dalam jeda waktu yang mungkin singkat, satu jalan harus diambil. Tunjukkanlah tekad terkuatmu, tegakkan dagu lalu bidik jalan yang kau pilih. Tak ada yang tahu pasti apa yang menanti, hadapi dengan kebanggaan bahwa semua perjuangan membuatmu sampai pada titik ini.

Cipta dan Sirna

By: Koyuki17

Boboiboy © Monsta Studio

Chapter 19: Peran

Menjadi Poros membuat Boboiboy mendapat akses informasi yang lebih banyak dari teman-temannya yang lain, bahkan dari Fang yang telah lebih dulu mengetahui Matra dari catatan Kaizo. Setelah membaca surat itu, Boboiboy mengikuti Ochobot ke ruang kontrol Matra.

"Tuan dan Ayahmu adalah kawan baik. Ide-ide kreatif yang beliau munculkan, selanjutnya direalisasikan oleh Tuan." Ochobot menayangkan album foto lewat monitor. "Kau benar-benar mirip dengan ayahmu!"

Boboiboy terkesiap dan langsung mengingat foto usang bersama sang ayah. satu-satunya yang ada. Ayahnya itu begitu dekat dengan Tuan Ochobot, sosok peneliti yang dilihatnya sekilas saat Integrasi terakhir.

"Amato menjadi orang pertama yang masuk ke dalam dimensi buatan ini." Ochobot menggulirkan layar, memunculkan lebih banyak foto dan video mengenai fasilitas penelitian Matra itu. "Dia sungguh berani! Dengan sumbangsihnya itu, pengembangan Matra semakin pesat."

"Lalu, apa saja yang ayahku lakukan, Ochobot?"

Mendapat cerita dari pihak lain yang benar-benar kenal sang ayah membuat Boboiboy senang. Selama ini, ia hanya bisa mengagumi sang ayah dari cerita-cerita singkat Tok Aba. Bersama dengan parade foto-foto, mereka menjamahi awal mula Matra.

"Perang dan penggunaan segala senjata nuklir, senjata biologis adalah pukulan telak bagi dunia. Negara yang di ambang batas, pengungsi yang makin lama makin mengkhawatirkan. Matra yang semula pengembangan lanjut realitas virtual, kini menggantikan dunia nyata untuk sementara."

"Tapi satu orang itu berkhianat dan nyaris membuat dimensi ini menjadi tertutup sepenuhnya! Dia membuat Pelahap Ingatan dan membuat Matra hanya bisa diretas dari dalam."

Ochobot menutup album itu begitu satu sosok peneliti yang dimaksud muncul. "Kalau saja Amato tak melakukan peretasan pertama, kita semua benar-benar terkunci di sini untuk selamanya!"

Jantung Boboiboy sejenak berdegup kencang. Ayahnya itu mengambil peran yang sangat krusial dalam Matra. Ia tentunya bangga, walaupun kesepian juga hanya bisa mengenali sang ayah lewat surat-surat itu.

"Sebelum Tuan mengorbankan diri untuk menyangga Matra, program peretasan, menciptakan arloji kekuatan. Fasilitas kontrol dan pengawasan ini juga."

Selanjutnya, Ochobot menceritakan bagaimana ia harus membuka portal dan berharap ada orang-orang seperti mereka. Mereka yang mendapatkan kekuatan lewat arloji khusus, serta satu Poros untuk menstabilkan Matra untuk sementara waktu.

"Awalnya, tempat-tempat di Matra sangaaat luas! Tapi semakin sulit mengurusnya jika semakin besar. Jadilah hanya ada beberapa kota. Sisanya digunakan sebagai menyimpan pilar-pilar penopang."

"Karena itu setiap kali misi, tempatnya selalu berbeda-beda, ya?" tukas Boboiboy.

Mulai dari taman hiburan, kincir angin, gua bawah tanah. Belum lagi apartemen dan kota yang terendam banjir, juga hutan berkabut dan pantai. Semuanya tempat yang berbeda namun memiliki satu kesamaan: tak berpenghuni sama sekali, seolah lama tak disentuh peradaban.

"Ya! Semua dari ingatan Tuan!" Mendadak Ochobot menyetop celotehnya.

Robot kuning itu pastilan memiliki kedekatan yang bukan main dengan Tuan. Hingga setiap orang itu disebut, Ochobot terlihat murung. Boboiboy ikut merasa canggung seketika. Menebak ke mana arah pembicaraan berikutnya.

"Jadi, itulah sekiranya yang bisa aku beritahukan sekarang." Nada bicara Ochobot mendadak kaku. "Lalu, bagaimana dengan jawabanmu, Boboiboy? Kau ingin memilih yang mana?"

"Aku ingin menemui ayah," Boboiboy melempar pandangan ke samping. "Tapi ..."

"Tapi ... apa?" Ochobot penasaran.

"Tidak ... hanya saja," tenggorokan Boboiboy seperti tercekat. "Aku tak yakin bisa meyakinkan semuanya."

Boboiboy ingin melangkah maju, meretas Matra dan melanjutkan sekaligus mengakhiri segala perjuangan di dimensi buatan ini. Ia tentunya ingin bertemu dengan keluarganya yang terpisah begitu lama. Di sisi lain ia ingin membawa Atok ke tempat yang lebih aman. Mereka takkan tahu kapan Matra akan runtuh.

"Kalau begini, aku seperti memaksamu untuk maju ke medan perang!" robot itu seperti terkekeh. Namun sekali lagi, ini bukan waktu yang tepat untuk berbicara sesuatu yang jenaka. "Kalian punya waktu sampai besok. Tolong sampaikan itu pada yang lainnya!"

-CdS-

"Ayahmu adalah salah satu perintis Matra?!"

Kejutan lainnya menyergap bak badai. Setelah Kaizo, kini giliran ayah Boboiboy. Kali ini semua orang termasuk Fang, terbelalak kaget. Orang yang kehadirannya selama ini diketahui dari surat-surat yang datang.

Mereka berlima kembali berkumpul di taman belakang sekolah di waktu istirahat siang. Hanya tiga jam tersisa sebelum waktu pulang sekolah dan mereka akan menemui Ochobot.

"Kukira, dia hanya orang yang memang ada di luar Matra saja." Fang menggaruk-garuk kepalanya, ekspresinya seperti orang yang kecolongan sesuatu. "Ah, tapi kalau tak memiliki koneksi dengan para peneliti Matra, takkan mungkin bisa."

"Akhirnya muncul juga satu hal yang tak diketahui orang ini!" Gopal menunjuk Fang dengan gemas.

"Jadi, apa saja yang Ochobot ceritakan tentang ayahmu itu, Boboiboy?" Yaya mencondongkan tubuhnya sedikit, menunggu penjelasan lanjut dengan tak sabar.

"Ayahku adalah kawan dari Profesor, Tuan Ochobot. Dia juga terlibat dalam pencetus dan pengembangan Matra."

"Wiiih! Tak kusangka ayahmu memegang peran sebesar itu." Ying tak bisa mengatup mulutnya sekarang.

"Lalu, dia juga yang membuka jalan keluar untuk Matra dan mencegah blokade permanen. Bisa dibilang, peretas pertama." Boboiboy menuturkannya dengan raut campur aduk.

Di satu sisi dia senang bisa mengetahui ayahnya lebih banyak. Di sisi lain ia tak yakin bisa membantu tema-temannya karena ia tak tahu apapun tentang Matra maupun sang ayah.

"Peretas pertama. Dan sekarang kamu menjadi Poros dan ingin meretas juga." Fang berkomentar, sedikit sinis. "Kebetulan atau kesengajaan sih, ini?"

"Entahlah. Tapi di surat manapun, ayah tak pernah menyinggung apapun tentang Matra." Boboiboy mendengus. "Satu surat terakhir dari Ochobot baru menyinggung soal itu."

"Isi pesannya bagaimana memang?" Ying meremas lutut dengan gemas, tatapannya lurus pada Boboiboy.

"Ayah menungguku ... untuk pulang." Boboiboy bolak balik menggulirkan bola matanya bolak-balik antara tangan dan juga wajah sahabatnya yang menanti kelanjutan ucapannya. "Kalian semua ... bagaimana dengan kalian? Pilihan yang mana yang benar-benar ingin kalian ambil?"

Boboiboy tak berniat mengulur percakapan lebih lama lagi. Mereka butuh satu jawaban yang solid sebelum menghadap Ochobot kembali.

"Kalau aku sudah jelas kan?" Fang menghela napas, raut wajahnya lebih dingin dari biasanya. Tangan terlipat "Aku ingin bertemu dengan Kakak dan mengakhiri semua ini."

"Ya, Kami tahu." Boboiboy menyambut sambil sedikit cemberut. "Aku pun jadi ingin bertemu Ayah, juga mengakhiri Matra. Seperti yang Ochobot bilang, Matra semakin memburuk sekarang. Tapi aku pun tak mau memaksa. Jadi bagaimana menurut kalian bertiga?"

Yaya dan Ying saling bertukar pandangan. Barulah Ying buka suara. "Sebenarnya, Kami juga membicarakan ini semalaman. Ya kan Yaya?"

"Kami juga ingin menolong semua orang dari Matra ini. Dan kasihan juga Ochobot kalau kita mundur begitu saja."

Seketika Gopal bangkit dari kursinya. Ia memandang keempat temannya itu dengan gamang dan wajah yang berkeringat. "Kalian tidak takut sama sekali? Kalah di dimensi buatan dan lalu dilupakan loh! Memikirkannya sekarang membuatku merinding begini!"

"Kita juga takut soal itu, lah!" Ying memprotes seketika.

"Sejak awal, kita bisa saja terluka. Dan itu sudah mempertaruhkan keselamatan kita bukan?" Yaya mencoba menengahi. "Bohong sekali kalau kita semua tidak takut, Gopal."

"Gagal dan gugur dalam misi, lalu selanjutnya dilupakan. Siapapun tak akan menginginkan itu!" Fang ikut menimpali dengan wajah kesal.

Boboiboy bangkit dan mendongak sedikit untuk menyamai sorot mata Gopal. "Kita juga takut. Tapi semua orang di Matra ini ikut runtuh bersama Matra? Itu lebih menakutkan dan aku tak mau itu terjadi!"

"Aku tahu ... tapi," Gopal menundukkan kepala. Tangannya mengepal semakin kuat. "Kita kali ini ... bisa benar-benar mati."

"Ayolah, Gopal. Kau tak menghadapinya seorang diri. Ingat, kita berjuang bersama di sini!" Yaya membujuk walau matanya mulai ikut sembap.

Membicarakan topik seperti ini tentunya tak pernah sederhana. Di usia mereka, belajar dan memikirkan cita-cita seharusnya menjadi fokus utama. Bukan untuk mempertaruhkan nyawa dalam pertarungan yang sangat riskan. Bukan pula untuk meraih tongkat estafet menyangkut nyawa banyak orang.

"Hiks, aku tahu!" Gopal terisak dan menyeka mata dengan kasar.

"Jadi, kau ingin kita mundur dan membiarkan Matra seperti ini sampai hancur?" Fang kian panas, nada bicaranya kian tegas.

"Jelas nggak mau!" sentak Gopal seketika. "Aku juga ingin berjuang bersama kalian! Tapi seperti yang kalian tahu, aku ini tak sekuat kalian semua!"

Keempat remaja itu seketika tersentak, lalu mulai mengulum senyum seketika setelah mendengar jawaban Gopal. Bahkan teman mereka yang sangat penakut ini tengah berjuang setengah mati melawan rasa takutnya itu. Untuk bisa mencapai asa yang sama.

"Jadi ... kita sepakat?" Boboiboy mencoba memastikan.

Tak ada lagi yang menentang, hanya bertukar anggukan singkat sebagai jawaban. Selama ini, jawaban mereka ternyata hanyalah satu.

-CdS-

Pada waktu yang dijanjikan, jawaban dikemukakan Boboiboy dengan lantangnya, "Kami memutuskan untuk melanjutkan peretasan!"

Sorot-sorot mata belia mungkin kelelahan dan tak mampu menyembunyikan sirat kecemasan. Ochobot menyadari gurat hitam di bawah mata para remaja itu, berikut jemari yang menggaruk dengan kaku. Tapi mereka semua berusaha untuk tetap tersenyum di depannya.

"Kalian ... sungguh-sungguh?" Kali ini cengiran atau acungan jempol menjadi jawaban.

"Aku nggak bisa berkata apa-apa lagi ..." Terlihat robot kuning itu sebentar lagi seperti akan menangis.

"Ish! jangan begitu dong, Ochobot!" Boboiboy menarik sang robot ke dalam pelukannya. Ia tertawa karena merasa menjadi seorang kakak yang mencoba menenangkan adik kecilnya.

Mereka memutuskan ini setelah saling menguatkan satu sama lain. Tak perlu ada isak tangis. Tanpa setitik pun penyesalan, itulah ikrar yang telah diserukan dalam sukma kelima remaja itu. Ochobot membalas pelukan, lalu dengan sukarela melepaskan. Ia sudah memahami tekad dari Boboiboy dan kawan-kawan seperjuangannya.

"Kami akan berusaha sebaik mungkin!" Yaya, mata sang gadis setara dengan Ochobot. "Kita bebaskan semua orang dari Matra."

"Ya lo! Serahkan pada kami!" Ying tak kalah semangat menimpali. "Semuanya akan pulang, tanpa ada yang ketinggalan!"

"Setelah itu, Kita benar-benar tak perlu lagi melakukan misi-misi kan ya, Ochobot?" Gopal masihlah Gopal yang gentar dengan musuh yang akan mereka hadapi, tapi ia mau tak mau ikut maju bersama teman-temannya.

"Mohon bantuannya lagi, ya." Fang menepuk puncak kepala Ochobot, sorot matanya melunak.

Ochobot tak mengira masih mendapat jawaban yang serupa dengan saat kelima remaja ini menerima misi Matra mereka yang pertama. Sekali lagi mereka akan menjadi rekan untuk menyelamatkan semua yang berada di Matra.

-CdS-

Tanpa ada penyesalan, maju dan mengambil segala risiko yang membayangi mereka. Sebelum kembali membuka peta baru Matra, hanya satu pesan dari Ochobot. Temuilah keluarga masing-masing sebelum misi dimulai. Semoga perpisahan ini hanyalah sementara waktu dan bukan untuk seterusnya.

Tepat tengah malam, datanglah kembali ke sini dengan membawa perbekalan secukupnya. Sampai saat itu, persiapkan diri dengan baik.

.

.

.

"Ada perayaan apa ini? Hari jadi siapa ini?"

Pak Cik Kumar mernggaruk-garuk kepala. Di meja makan, tersaji aneka lauk pauk dan masakan yang begitu menggugah selera sekaligus cukup untuk menjamu tetangga sebelah bersama kelima anak mereka. Mengerutkan kening, pria itu pada akhirnya tak mengingat ulang tahun siapa kiranya dirayakan.

"Sudah, makan sajalah Appa!" Gopal menarik piring dan mulai menyendok nasi dan meraih kari ayam dan segala lauk pauk satu demi satu tanpa tertinggal.

"Gopal tiba-tiba ingin makan ini dan itu, bahkan sampai membantu segala!" Ibu Gopal menyeruak dari dapur sambil membawa panci yang mengepulkan uap beraroma santan.

"Gopal bantu masak?" Pak Cik Kumar mengangkat sebelah alis, tapi sedetik kemudian menggelengkan kepala. "Ya, sudahlah! Mari makan!"

"Ada apa nih, Gopal?" Ibu Gopal duduk di samping sang anak sembari tersenyum. "Tumben kamu ingin makan ini-itu."

Jika bukan karena rajin menyetok bahan makanan, hidangan sebanyak ini takkan tersaji sekarang.

"Lapar, lah Ama! Apa lagi?" Gopal mulai menyuap dan mengunyah makanan dengan cepat.

Kemungkinan bahwa ini kali terakhir lidahnya dimanjakan oleh masakan rumah ikut ditelan. Gopal menyeka genangan air mata di pelupuk sebelum sang Ibu menyadari. Tangannya semakin cepat menyendok dan kunyahannya pun semakin singkat.

"Makannya pelan-pelan saja!" Ibu Gopal menarus gelas berisi air di samping piring anak dan suaminya.

"Dey! Jangan habiskan itu semua ikannya lah!" Pak Cik Kumar baru saja akan mengambil ikan terakhir di depannya.

"Siapa cepat dia dapat lah, Appa!"

Ibu Gopal hanya tertawa kecil melihat kelakukan suami dan anaknya itu.

.

.

.

"Dik, kakak boleh masuk?" suara Yaya dari balik pintu kamar membuat adiknya meletakkan pensilnya dan melirik ke arah pintu.

"Kak! Pas sekali aku mau nanya PR matematika yang aku nggak ngerti, hehehe." Bersamaan dengan sahutan itu, Yaya pun membuka daun pintu dan lekas mendekati sang adik yang tengah duduk di meja belajarnya.

"Sini biar kakak bantu," sembari tersenyum gadis berkerudung itu pun membaca buku catatan dan buku teks yang terbuka di atas meja.

Dengan kesabaran seorang guru yang andal, Yaya pun membimbing gurat pensil sang adik. Mengguratkan langkah demi langkah operasi perkalian dan pembagian sederhana. Tak sampai dua puluh menit, anak lelaki itu pun akhirnya menutup buku-bukunya seraya bersorak riang.

"Asyik! Bisa main deh, sekarang!" ujarnya sembari bangkit dari kursi dan hendak keluar kamar.

Namun kedua tangan Yaya lebih cepat dari gerak-gerik sang adik. Ia pun menarik adiknya itu ke dalam pelukan erat. Tangannya melingkari tubuh anak lelaki it, yang sedikit meronta.

"Ish kenapa sih, Kak? Aku sekarang sudah besar lah!" protes sang adik.

Telah cukup lama sejak mereka melakukan interaksi seperti ini, dan ia bukanlah lagi bayi yang senang dipeluk tiba-tiba.

"Hmm… Iya, ya. Tahu-tahu kau sudah sebesar ini sekarang." Pikiran Yaya mulai menyesapi kenangan yang tumpah. Diingatnya kembali saat ia memangku dan menjaga sang adik. Bahkan jauh ke masa lalu, kala pecah tangis anak ini sesaat setelah kelahirannya. Kala ia memulai babak baru dan menjadi seorang kakak.

"Berarti ... sekarang adek bisa menjaga bunda dan ayah untuk kakak?" pertanyaan itu bergulir begitu saja. Intuisinya masih ingin memastikan hal ini sebelum ia menjalankan misi terakhirnya.

"Serahkan saja padaku!" anak itu membusungkan dada. "Aku akan menjaga Bunda dan Ayah saat kakak belum pulang sekolah!"

Yaya mengelus kepala sang adik, lalu didengarnya pintu depan rumah terbuka. Pastilah Bunda sudah pulang. Saatnya untuk membantu menyiapkan makan malam, sebuah rutinitas yang akan dirindukannya esok hari.

Seulas senyum menyertai bibir manis sang gadis. Ia bisa tenang sekarang, adiknya sudah bisa diandalkan.

.

.

.

Ibu Ying tengah merajut syal ketika Ying mengendap-endap ke ruang tengah rumah. Suara televisi yang disetel nenek pastilah membuat mama Ying tak menyadari kehadiran anak semata wayangnya. Barulah ketika Ying sampai di belakang sofa dan memberikan sergapan berupa pelukan erat, wanita itu pun tersentak kaget dan menoleh ke belakang.

"Ya ampun Ying, mama sedang pegang jarum nih!" ujar sang Ibu. Jemari telaten itu kini menyimpan peralatan merajut di pangkuannya.

"Biarlah ma!" sahut Ying. Remaja itu sedang mengumpulkan kembali kehangatan dan aroma akrab sang mama. "Lagi ingin seperti ini, sebentaaar saja!"

"Ada apa Ying, tumben peluk-peluk mama begini." Tangan sang anak dibelai dengan penuh kasih.

Segera saja sang gadis melepas pelukannya. Ia berupaya agar suaranya tidak terdengar getarannya walau sedikit pun. "Cuma tiba-tiba ingin Ma, hehehe."

"Kalau begitu, sini pelukan lagi~" kini kedua tangan sang mama yang mengulangi pelukan barusan, tangannya kini mengelus punggung Ying.

Ingin rasanya Ying membawa semua kehangatan dan rasa aman itu bersamanya. Namun demi keluarga kecilnya itulah, ia kini harus menguatkan diri. Berjanji dalam bahwa ia akan kembali pada pelukan ini.

"Berikutnya aku ingin peluk Neneek~" gadis itu pun mengusik neneknya yang sedari tadi asyik menonton.

.

.

.

Selepas Kaizo menghilang, Fang menyadari suasana lengang yang begitu asing. Kedua orang tuanya hanya mengira bahwa suasana itu memang sudah biasa. Apalagi dengan Fang yang lebih sering menyendiri di dalam kamar. Walau terlihat menghindari anak-anak usil, Fang sebenarnya enggan menemui kedua orang tuanya.

Sorot mata sendu dari sang ibu tak bisa bersembunyi di balik senyuman maupun pelukan eratnya pada Fang. Ia tak bisa memaafkan orang tuanya, tapi Kaizo memintanya untuk menjaga keluarga mereka. Sesulit apapun, Fang masih tetap bertahan di sana.

"Abang, sebentar lagi aku pasti akan menyusulmu ... " seperti mimpi belaka, Fang tak mengira bahwa ia juga akan meninggalkan rumah mereka.

Dengan perginya ia sekarang, Fang tak kuasa membayangkan bagaimana keadaan rumahnya. Sebentar lagi, ia akan menyusul Kaizo. Walau itu berarti membuat kedua orang tuanya menjadi berdua saja di rumah ini.

"Fang ... ?"

Suara lemah lembut itu menyapa tanpa permisi dari kamar bawah. Fang berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlonjak kaget. Terlalu fokus membuat Fang lupa bahwa ia berdiri di ruang tamu selama setidaknya dua menit. Ia lupa bahwa hari ini biasanya sang ibu ada di rumah.

"Ada apa, Bu?" Fang berupaya mengangkat sudut bibirnya.

Ini mungkin menjadi kesempatan terakhir mereka bertemu. Setidaknya, kali ini Fang harus menghabiskan waktu dan tak menghindar lagi.

"Tidak apa-apa, kegiatan klubmu sudah selesai, Nak?"

Oke, Fang tak menepis bahwa ia terpaksa menyamarkan misi Matranya dengan kegiatan klub sekolah. "Sudah. Tapi aku sepertinya akan keluar dari klub setelah ini."

"Begitukah? Ibu padahal ingin bertemu teman-temanmu juga."

Ibu Fang sebenarnya ingin ikut ke vila waktu itu, namun sayangnya tak bisa. Ia berniat berkenalan dengan teman-teman Fang, sekaligus menitipkan anak 'semata wayangnya' kepada mereka. Sungguh lega mengetahui anaknya itu akrab dengan teman sebayanya.

"Kami masih akan bertemu di sekolah, nanti aku sampaikan ke mereka." Fang setidaknya akan bersama mereka sepanjang misi, sebatas salam mungkin yang saat ini bisa ia sampaikan bersama undangan itu.

"Katakan pada mereka, mainlah sesekali ke sini. Janji, ya?" Mata sang ibu sejenak berbinar, pipinya bersemu merah. "Nanti ibu siapkan banyak donat lobak merah!"

Jika mereka berhasil menuntaskan peretasan, sang ibu pastilah tak akan merasakan kesepian lagi. Tidak hanya teman-temannya. Fang bertekad membawa keluarganya keluar dari suaka yang telah menjadi penjara.

Lamunan membuat Fang kurang awas, mudah saja bagi sang ibu memeluknya. Jika dulu Fang mengelak, kali ini dibiarkan saja. Mungkin ibunya selama seharian ini tidak menemukan teman megobrol.

"Masih ada waktu sebelum makan malam dan ayahmu pulang. Bagaimana kalau kau ceritakan sepertu apa teman-temanmu itu?" sang ibu menuntun Fang untuk beranjak ke sofa.

.

.

.

Kekuatan berpecah praktis sekali untuk membereskan seisi kedai setelah satu hari ramai oleh pelanggan. Boboiboy sengaja tak meminta izin dari Ochobot. Toh hari sudah gelap dan tak banyak orang yang lalu lalang di sepanjang jalan pulang. Boboiboy berpecah menjadi lima setelah mengendap-endap ke balik pohon. Ia belum tahu efek jika memunculkan ketujuh elementalnya sekaligus, jadi lima saja cukup.

Gempa, Halilintar, Taufan, Duri dan Blaze yang berlari mendekati kedai sukses membuat Tok Aba terkaget-kaget. Tentu saja Boboiboy tak berkata apa-apa sebelumnya. Biarlah ini menjadi kejutan terakhir sebelum perpisahan sementara mereka.

"Atok langsung pulang saja, biar Boboiboy semua yang menutup dan beres-beres kedai!" Gempa mendorong-dorong Tok Aba.

"Nah, begitu dong! Atok akan membeli makan malam ya, jangan lama-lama beres-beresnya!" Tok Aba berseri-seri dan mengambil tas mungil yang dijejali oleh banyak lembaran uang.

"Beres, Tok!" jawab kelima elemental itu kompak.

Setelah memastikan Tok Aba telah pergi cukup jauh, Gempa lantas mengambil komando. "Kita bereskan dalam waktu dua puluh menit!"

Blaze, Taufan dan Duri membereskan kursi dan meja, termasuk menyapu sekeliling dan membuang sampah. Gempa dan Halilintar membereskan dan mencuci segala peralatan yang kotor dan membersihkan bagian dalam kedai. Semua dilakukan dengan segenap hati.

Pertama kalinya mereka semua bisa kompak dalam mengerjakan sesuatu. Walau sempat bergaduh sejenak, pada akhirnya mereka meninggalkan kedai dalam keadaan rapi dalam waktu lima belas menit.

"Loh, kenapa kamu menjadi satu lagi?" Tok Aba menyambut dengan kari yang bisa setidaknya menjamu lima orang.

"Waa ... banyak begini." Boboiboy meletakkan tasnya dan mendekati meja makan.

"Tunggu apa lagi? Kembali berpecah dan kita makan bersama!"

Boboiboy tersenyum lebar dan kembali menjadi lima elementalnya. Seketika suasana makan malam mereka lebih semarak dari biasanya. Tok Aba begitu menikmati makan malam kali ini. Sulit percaya bahwa esok hari Tok Aba akan melupakannya.

Tak tega rasanya membayangkan bahwa Tok Aba akan tinggal sendirian untuk sementara waktu. Setidaknya sampai misi mereka berhasil. Sampai Matra diretas dan mereka bisa kembali ke dunia yang sebenarnya. Boboiboy harus tetap bertahan dan tersenyum seolah tidak ada apa-apa.

"Atok janji akan jaga kesehatan, kan? Kalau mulai tak enak badan harus istirahat!" Gempa pada akhirnya tak bisa menahan diri untuk mengucapkan pesan itu begitu Tok Aba duduk kembali di sampingnya.

"Memangnya kenapa ini?" Tok Aba hanya tawa kecilnya, rasanya tak biasa jika tiba-tiba cucunya jadi teramat khawatiran seperti ini. "Pasti Atok akan istirahat. Tapi janji bantu Atok ya nanti?"

Gempa mengiyakan walau dalam hati berasa seperti tertusuk belati. Bagaimana semua percakapan ini akan terhapus untuk sementara waktu membuatnya setengah lega sekaligus setengah bersalah.

"Tok, bagaimana kalau nanti kita ketemu lagi dengan Ayah? Nanti Boboiboy kirim pesan untuk Ayah!"

Sejujurnya, Boboiboy tak ingin momen makan malam ini berakhir. Namun ajakan tersebut menegakkan tujuan yang akan diperjuangkannya mulai esok hari.

-CdS-

"Semuanya sudah berkumpul?"

Boboiboy memandangi satu demi satu temannya itu, menyadari bahwa ia datang paling terakhir. Semua memakai jaket, sepatu, dan membawa ransel yang hampir penuh oleh perbekalan. Walaupun Ochobot menegaskan untuk membawa barang-barang yang sekiranya sangat dibutuhkan.

"Ayo berangkat!" tanpa ba bi bu lagi, kelima remaja itu mulai berjalan beriringan menerobos udara beku.

Jalan masuk rahasia ke sekolah sama sekali tak berubah, selain tentunya bekas-bekas langkah kaki mereka yang menginjak rumput dan semak di sana.

"Masih ada yang ingat bagaimana pertama kali kita melakukan ini?" Ying mencoba menghidupkan suasana.

"Ah, rasanya sudah lama sekali ya ..." Boboiboy memandangi gedung sekolah yang suasana heningnya sudah tak aneh lagi.

Mengendap-endap saat gelap rasanya sudah menjadi makanan sehari-hari bagi mereka. Bahkan mereka telah hapal betuh jadwal berkeliling penjaga sekolah. Menurunkan volume suara pada batas yang mereka sepakati.

"Mulai besok setidaknya kita nggak harus ke sini dan sekolah, kan?" Gopal menghibur diri sembari melirik ruang kelas mereka. Sebelumnya, ia pasti berjingkrak kegirangan jika bisa bolos sekolah sampai waktu yang tak ditentukan. "Nggak ada lagi kelas matematika!"

"Hush! Biar begitu, kita nggak boleh ketinggalan pelajaran!" tukas Yaya.

"Iya lo! Mau nanti hasil ujianmu jelek?" Ying ikut bergumam.

"Tunggu. Jangan bilang kalian berdua bawa buku pelajaran?" Pertanyaan Boboiboy dijawab cengiran kedua gadis. Jelaslah sudah ada buku-buku pelajaran di tas mereka. Seketika Boboiboy menampar dahinya, tak percaya.

"Apapun itu, kita harus memaksimalkan waktu istirahat nanti. Ketiga dimensi Pilar Utama bukanlah omong kosong." Komentar Fang masihlah sama: datar dan langsung menusuk ke inti masalah.

Setelah itu, mereka menaiki undak tangga dalam hening.

.

.

.

"Sebelum kalian melintasi portal, ada beberapa hal yang harus kuberikan." Ochobot mengambil beberapa boks plastik yang tersegel apik dan amat terjaga. Masing-masing remaja itu mendapat satu dan mulai menginspeksi apa saja yang ada di dalamnya.

Semuanya adalah perlengkapan yang biasa dibawa untuk berkemah: senter, botol air minum, korek api, kantung tidur, dan masih banyak lagi. Mereka rasanya seperti akan mengikuti acara survival di alam liar atau semacamnya.

"Untuk makanan, aku kira segitu cukup. Maksudku, ada kekuatan Gopal, bukan? " tambah Ochobot begitu Boboiboy menyelidiki makanan awetan dalam kemasan yang mirip dengan ransum militer.

"Hmph! Akhirnya kekuatanku ini menjadi anugerah untuk kita semua!" Gopal nampak sangat puas selagi mendengus-dengus.

"Ya, ya. Kami mengandalkanmu." Ying menepuk-nepuk bahu Gopal.

"Lalu selanjutnya, ini." Ochobot menyodorkan sebuah bola mungil seukuran kelereng. Di dalamnya ada sebuah chip mungil yang mengingatkan Boboiboy pada Nukleus.

"Masukkan chip itu ke dalam arlojimu dan kalian bisa kembali ke sini. Kalian hanya bisa menggunakannya satu kali."

Semua mengamati bola kecil itu dengan takjub. Benda mungil itu akan sangat berguna.

"Boboiboy, simpan baik-baik. Gunakan jika memang sangat darurat." Ochobot memperingatkan, lalu ia memeluk Boboiboy seraya merengek. "Ingat, kalian tetap berhati-hati dan kembali dengan selamat!"

Barang bawaan telah siap, hanya tinggal instruksi terakhir sebelum membuka portal baru. Ochobot menuturkan alur misi peretasan dan mereka menyimak dengan atensi penuh.

"Setelah melewati portal, kalian akan masuk ke dimensi pilar. Carilah tempat yang aman sebagai posko barulah cari pilarnya. Penjaga pasti akan selalu berpatroli di sekitar area pilar. Kalian harus berhati-hati."

"Mereka kuat sekali ya?" Ying begitu penasaran.

"Ya, karena mereka dirancang untuk bisa belajar dari musuh-musuh sebelumnya dan mengembangkan teknik bertarung. Sulit membedakan mereka dengan orang sungguhan dalam tahap ini."

Peringatan ini membuat mereka menelan ludah.

"Tapi setiap mereka kalah, tidak akan ada regenerasi lagi." Ochobot cepat-cepat menambahkan.

Helaan napas lega seketika terdengar.

"Oh, ya! Apa pilar utama sebesar pilar-pilar sebelumnya?" Boboiboy begidik, membayangkan ukuran pilar-pilar raksasa dan bagaimana jadinya ketika mereka meruntuhkan bangunan sebesar itu.

"Hampir, sepertinya. Tapi jangan khawatir, kalian takkan tertimpa reruntuhannya. Dia akan langsung terisap oleh portal." Ochobot kembali bertutur dengan lugasnya. "Portal akan terbuka secara otomatis setiap pilar dihancurkan. Jadi jangan khawatir."

"Kalaupun berbahaya, aku bisa mengeluarkan kekuatanku!" Yaya membusungkan dada.

Situasi kini berbalik. Jika sebelumnya mereka merebut Nukleus dari Pelahap Ingatan yang menjaganya, kali ini mereka harus menghancurkan pilar-pilar itu. Dengan sosok Penjaga pilar yang diwanti-wanti lebih kuat dari musuh mereka selama ini.

"Aku bisa bergabung dengan kalian ketika kalian masuk ke dimensi Pilar utama ketiga." Kepakan sayap mekanis itu mendadak kian pelan. "Karena itu ..."

"Tentu saja. Kami akan amat berhati-hati." Yaya mencoba meyakinkan Ochobot sekali lagi.

"Kita tak bisa berkomunikasi terkecuali kalian berada di dekat Pilar. Itu pun sambungannya akan samar. Jadi ... aku mungkin takkan terlalu membantu." Terjawablah mengapa Ochobot terlihat kurang antusias. Selama ini, komando dari Ochobot selalu membimbing mereka dalam misi.

"Kau sudah lebih dari cukup membantu kami, Ochobot." Ying mencoba membesarkan hati Ochobot.

Perlu setidaknya sepuluh menit sampai akhirnya Ochobot merasa lebih baik. Barulah pembicaraan beranjak pada portal yang harus dibuka oleh Boboiboy. Setelah menambahkan program khusus pada arloji Boboiboy, portal yang dibuka oleh pemuda bertopi jingga itu berbeda.

Portal kali ini berukuran raksasa, setidaknya dengan tinggi empat meter menembus langit-langit ruangan. Pusaran yang ada di tengah portal lebih kuat, tetapi tak terlihat apapun di baliknya selain kegelapan yang pekat.

Boboiboy menarik napas panjang sebelum akhirnya berucap. "Kalau begitu, kami berangkat dulu!"

"Tolong jaga semua keluarga kami di sini!" Fang tak lupa menitipkan pesan.

"Jangan khawatir, semuanya pasti masih aman sejauh ini!" sahut Ochobot.

"Sebelum itu, kita kumpul dulu, yuk!" ajak Yaya dengan semangat.

Mereka berenam membentuk lingkaran mungil. Merangkul bahu satu sama lainnya hingga setiap ekspresi wajah, segala rasa gugup dan suka cita jelas tertera tanpa bisa tertutupi. Uluran tangan mereka bertautan dalam satu titik temu.

"Kita pasti bisa menyelesaikan peretasan ini dan kembali!" teriak Boboiboy dengan lantangnya. Mengingatkan bahwa ini bukanlah satu perpisahan atau ucapan selamat tinggal.

Ya, mereka pasti bisa melakukannya!

.

.

.

Berlanjut pada chapter 20: Beku

A/N:

Haloo dan sekali lagi terima kasih bagi yang menyempatkan mampir. Sisa petualangan Matra bisa dihitung jari, dari sini hingga akhir cerita.

Karena satu lain hal, chapter selanjutnya mungkin tak akan update secepat sekarang. Mohon maaf sebesar-besarnya.

Banyak hal yang terjadi dan saya bahkan nyaris tak bisa melanjutkan fanfiksi ini. Tapi keadaan berangsur membaik walaupun masih tertatih-tatih.

Puncak akhir baru saja dimulai! Semoga saja saya bisa menuntaskannya di tahun ini. Tanpa ada tapi-tapi lagi.

Akhir kata, sampai jumpa di chapter selanjutnya~