Rook memperhatikan ponsel Leona yang berkedip-kedip sejak beberapa menit lalu. Ia ingin mengeceknya, takut ada telepon atau pesan penting dari istana. Namun karena yang punya sudah tidur, ditambah sedang kurang enak badan, Rook tidak sampai hati membangunkannya. Gadis itu sempat terpaku dengan pikirannya cukup lama, sampai akhirnya ia menyerah dan mengeceknya.

"Cuma lihat … cuma lihat lock screen-nya," ia mencoba mengingatkan diri sendiri supaya tidak kebablasan menuruti rasa penasaran. "Aku hanya ingin mengecek apa ada missed call … bukan karena ingin tahu—huh?"

Tangannya berhenti di udara setelah mengetuk layarnya dua kali. Pemandangan yang tersuguh di depannya ini hampir membuatnya mati karena tidak percaya.

Senyum kakunya, juga tangan besar Leona yang melingar di pundaknya. Jarak mereka yang dekat, duduk di kursi taman pada siang hari. Potret yang diambil dari jarak dan pencahayaan yang bagus.

Itu foto yang diambil Cheka saat mereka jalan-jalan ke taman kota beberapa waktu yang lalu. Rupanya Leona menggunakan foto itu sebagai wallpaper ponselnya.

Rook menatap singa itu, yang masih tertidur pulas di ranjang. Matanya kembali berair, hampir saja menetes dan memancing tangis besarnya yang tadi terulang.

Sekali lagi ia mengetuk dua kali layar itu saat layarnya sudah mati, memandangi wallpaper ponsel suaminya yang membuat dadanya menghangat.

"Semakin hari … kenapa kau semakin membuatku ingin melanggar janjiku sendiri, eh, Leona-kun?"

Aku jadi sungguh-sungguh ingin mengungkapkan perasaanku padamu.

.

.

.

"Love Knot"

Chapter 18

.

.

.

Dingin ….

Leona meraba-raba tempat di sebelahnya. Tubuh yang dari semalam selalu ada di sana dan menghangatkannya sudah tidak ada. Melawan cahaya matahari pagi yang masuk dari jendela, matanya membuka perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit kesadarannya terkumpul dan Leona akhirnya tahu kalau dirinya masih terbaring di atas kasur di hotel tempat mereka menginap.

Benar juga … di mana Rook?

"Oya? Sudah bangun, Leona-kun?" Baru saja ia bertanya-tanya, sosok seorang gadis yang sudah sangat familier masuk ke kamar. Masing-masing tangannya mententeng kantong yang diduga berisi makanan dan sejenisnya. "Saljunya berhenti tak lama setelah kau tertidur. Berkat itu, matahari bisa tersenyum bahagia sejak pagi."

Rook menarik korden, menutup jendela sebagian setelah sadar Leona agak terganggu dengan cahayanya yang terlalu menyilaukan. "… Tapi sepertinya sekarang sudah bukan pagi lagi."

"Kau benar. Ini sudah jam sebelas." Setiap barang di dalam kantong dikeluarkan. Rook membuka sebuah kotak putih, lalu berjalan dan duduk di pinggir kasur. "Aku harap kau tidak masalah dengan bubur. Masih hangat juga. Karena aku punya firasat kau akan bangun sekitar jam segini, jadi aku baru beli."

"Dasar penguntit."

Rook tersenyum. "Syukurlah, kau sudah kelihatan lebih baik." Tangannya terulur, menempel di dahi pangeran kedua. "Hm, tidak ada demam. Bagaimana dengan hidungmu? Apa masih mampet?"

Leona menahan tangan Rook yang hendak menjauh dan mendekatkannya ke hidung. Dari ekor matanya, Leona menangkap pipi Rook yang memerah saat ia mulai mengendus tangannya. "Kau sudah mandi … pakai sabun yang wangi mawar."

Rook menarik kembali tangannya. "O-oh … karena hanya sabun itu yang tersedia di kamar mandi." Gadis itu terbatuk sebentar. "S-sepertinya hidungmu juga sudah tidak ada masalah. Berarti kita bisa langsung check-out begitu kau selesai sarapan dan minum obat."

"Kau bilang aku tidak ada demam dan hidungku sudah tidak ada masalah. Untuk apa minum obat lagi?"

"Jaga-jaga, Leona-kun. Di luar masih cukup dingin." Rook menyendok buburnya dan mengarahkan sendoknya ke mulut Leona. "Pesawat dataaang~"

"…" Biasanya Leona akan merasa sebal diperlakukan seperti anak kecil. Hanya saja … tiba-tiba ia merasa bersyukur karena tidak perlu meminta dan Rook sudah menuruti apa yang ia mau. Ia pun membuka mulut, menerima suapan bubur hangat itu.

"Fufufu, aku pikir kau akan menolaknya."

"…" Leona hanya diam, menikmati makanannya. Ia membuka mulutnya lagi ketika sudah kosong.

"Apa rasanya cocok buatmu?"

Leona mengangguk. "… Suhunya juga pas."

"Syukurlah." Rook menyiapkan bubur untuk suapan berikutnya ketika ia berkata, "Aku tadi sudah mengurus refund tiketnya, kemudian menelepon Aneue. Dia sempat menanyakan kondisimu, tapi aku bilang kau masih tidur."

"Aneue …." Leona berpikir sejenak sambil menerima suapan berikutnya. "Oh, maksudmu Onee-sama."

"Ya." Rook mengelap ujung bibir Leona ketika buburnya sempat tidak masuk semua. "Dia selalu menegurku setiap kali aku memanggilnya Yang Mulia Ratu. Kurasa memang sudah saatnya aku membiasakan diri."

"Memang harusnya begitu, kan? Makanya sudah kubilang dari awal."

"Yang aku ajak bicara ini Ratu. Kalau kau di posisiku, mungkin kau baru akan paham rasanya memanggil Ratumu sendiri dengan sebutan 'kakak' tiba-tiba." Beberapa suapan berikutnya diterima Leona, hingga akhirnya tidak ada sisa sedikit pun di kotak bubur yang Rook pegang.

Sambil menerima segelas air yang Rook berikan, Leona berkata lagi, "Tapi kau tidak pernah memanggilku dengan Yang Mulia Pangeran Leona. Saat pertama kali kita bertemu pun kau sudah memanggilku Ryocho."

Warna merah di pipi Rook semakin bertambah. Ia segera membereskan peralatan makan sembari menyiapkan obat untuk Leona. "Saat itu, kan, kau memang Ryocho-ku. Aku harus memanggilmu dengan sebutan yang memang berlaku padamu saat itu."

Leona mendengus. Ia tiba-tiba merasa gemas dan ingin mencubit pipi Rook, ketika ia menyadari warna kuku si pemburu yang sudah berubah. "… Kau mendengarkan permintaanku."

"Eh?" Rook menyadari tatapan Leona yang mengarah ke kukunya. "Ah … aku sudah berjanji padamu, jadi aku harus menepatinya." Obat yang sama dengan yang semalam diminum, Rook berikan pada Leona. Ia kemudian berkata lagi, "Kalau boleh jujur, cat kuku yang warna perak milikku belum habis."

"… Maksudnya?"

"Kau mengira kalau cat kuku yang perak habis, kan? Sebenarnya tidak juga." Rook meminta Leona untuk minum obatnya terlebih dahulu. Setelahnya, baru lah gadis itu kembali bercerita, "Aku hanya … ada alasan kenapa aku tidak menggunakannya lagi. Tapi aku tetap senang kau memberikanku yang baru. Sepertinya aku akan memakai yang darimu lebih sering mulai sekarang."

Leona menaruh gelas airnya di atas nakas. "… Apa alasan kau tidak memakainya karena berhubungan dengan warna perak yang 'spesial' yang kau katakan semalam?"

Rook menggigit bibir. "… Um."

"Tapi kau masih tidak mau mengatakannya padaku?" Rook menggeleng. "Terus kenapa kau memancing rasa penasaranku lagi? Lama-lama akan kugelitiki kau seharian sampai mau mengaku."

"Kejam! Leona-kun tidak boleh main gelitik! Itu melanggar aturan!"

"Kalau aturan yang kau maksud adalah aturan 'bersentuhan,' bukannya itu sudah lama tidak berlaku buat kita?"

Rook menggembungkan pipi dan membuang muka. "Cepat bangun dan siap-siap. Kita akan pulang sebentar lagi."

"Sejak kapan kau jadi suka menghindar begini?"

"Bukan urusanmu."

Leona menghela nafas. Ia turun dari tempat tidur. Seperti yang sudah diperintahkan, ia segera melepas pakaiannya dan hendak berganti.

"TUNGGU!"

"Apa lagi?"

Sambil menutupi sebagian matanya, Rook membalas, "Kenapa kau lepas baju?!"

"… Kau memintaku untuk siap-siap, kan?"

"Tapi kenapa di sini?! Dan sekarang?! Aku masih ada di kamar yang sama denganmu!"

Kening Leona berkerut. "Aku kira kau sudah pernah lihat aku telanjang?"

"Hah?!" Seketika Rook teringat dengan hari di mana ia mengobati lengan Leona dari bekas cubitannya. Saat itu ia sendiri yang meminta Leona untuk melepas bajunya. "O-oh …."

"Baru ingat?" Leona tiba-tiba memasang tampang jahil. "Kenapa? Apa kau kira aku akan menunjukkan seluruh tubuhku, dari atas sampai bawah, dan mengajakmu melakukan sesuatu yang menyenangkan?"

Rook segera melepas sandal hotel yang dipakainya, mengancam akan melemparnya ke Leona sebelum laki-laki itu berlari masuk ke kamar mandi. "Sekalinya sehat kau langsung bertingkah seenaknya, ya, Pangeran Leona Kingscholar!"

"Baru juga kemarin tambah umur, jangan langsung tambah kerutan, dong!" seruan balasan dari dalam kamar mandi dilontarkan Leona. Rook menendang pintu kamar mandi cukup keras, menahan segala kekesalan—juga perasaannya yang hampir porak poranda. Leona hanya bisa tertawa mengetahui dirinya berhasil memancing si gadis pemburu untuk sedikit lepas kendali.

Rook, masih dengan ekspresi sebalnya, menghempaskan bokongnya ke atas kasur. "Menyebalkan …. Aku tahu dia memang begitu sifatnya dari dulu, tapi kenapa baru sekarang dia seperti itu padaku?" Mendadak ingatan semasa sekolahnya kembali.

Leona hampir tidak pernah menggodanya karena laki-laki itu tetap melihatnya sebagai sosok gadis aneh yang bikin tekanan darah naik. Terkadang ia merasa iri setiap kali melihat Leona bisa lebih santai ketika bicara dengan anak-anak yang lain. Bahkan adik kelasnya yang satu klub dengan si pangeran kedua, Epel Felmier, sudah melihat "sisi lain" Leona Kingscholar yang satu itu. Rook sering membayangkan dirinya digoda Leona; bukan karena laki-laki itu ingin membalas "kekesalan," tapi karena ia memang "tertarik" dan berniat menggodanya karena alasan itu.

"… aku sudah punya kau …."

Soal Leona yang berniat move on …. Apa karena itu makanya Leona sudah berani menggodanya? Mungkin Leona sungguhan menganggapnya "teman" yang bisa diajak mengobrol dan bercanda. Mungkin dulu lelaki itu tidak pernah menggodanya karena ia masih belum mengenal siapa Rook. Sekarang, setelah terpaksa tinggal satu atap dalam waktu yang cukup lama, sudah sering melihat wajah satu sama lain setiap hari, akhirnya Leona mengenalnya.

"Kalau iya … mungkin itu pertanda bagus." Rook melihat kuku-kukunya yang berwarna perak. Senyum tipis tersimpul. "'Jalannya' juga sudah dibuka sedikit. Sepertinya memang pertanda bagus."

"Kau sudah makan belum?"

"Hm?" Rook memastikan dulu apakah Leona sudah berpakaian lengkap atau belum dari ujung matanya. Rupanya sudah. "Tadi pagi aku sudah sarapan."

"Makan siang. Ini sudah masuk jamnya." Leona mengecek ponselnya yang masih ter-charge. Melihat bar baterainya menunjukkan angka seratus, ia langsung mencabutnya. "Kita cari makan dulu buatmu kalau memang belum. Terima kasih sudah mengisi baterainya, by the way."

"Sama-sama." Rook baru ingat sesuatu perihal ponsel Leona. "Uh … boleh aku tanya sesuatu, Leona-kun?"

"Ya?" jawab Leona sambil memakai sweater tambahan sebelum mantel.

Rook ikut menyiapkan mantelnya sendiri, sedikit membuat kedok supaya menyembunyikan wajahnya yang menghangat. "Itu … foto yang kau pakai buat wallpaper ponselmu. Aku tidak bermaksud melihatnya, tapi saat aku charge dan layarnya menyala … aku tidak sengaja melihatnya." Bohong. Padahal Rook memang sengaja menyalakan layarnya untuk mengecek apakah ada pesan masuk atau tidak, yang mana ternyata hanya dayanya yang hampir habis.

Oh, yang di taman. Leona tertawa kecil. "Kaget, ya?"

"Tidak juga …." Rook memasang syalnya cukup tinggi, hampir menutupi keseluruhan pipinya. "Aku hanya menyayangkan … mukaku di situ kaku."

"Masa?" Leona menyalakan layar ponselnya, kemudian dengan iseng menunjukkan wallpaper itu sekali lagi di depan muka Rook. "Padahal kau terlihat lucu di sini."

"Hei!"

Leona menarik ponselnya menjauh sebelum Rook tiba-tiba melompat untuk mengambilnya. "Kalau kau merasa yang ini kurang bagus," Tubuhnya membungkuk sedikit, mendekatkan matanya supaya bisa menangkap ekspresi Rook dengan lebih jelas, "kita bisa ambil lagi yang lebih bagus."

Berusaha santai, Rook menaikkan syalnya lebih tinggi. "Boleh … kalau kau tidak keberatan."

"Tentu saja aku tidak keberatan. Kan, aku yang ngajak."

Rook memukul pelan perut keras Leona. Ia lalu mengambil tas tangannya sebelum berjalan ke pintu. "Kali ini kita ambil versi selfie saja."

"Kenapa?" Leona mendahului istrinya untuk membukakan pintu. Ia membiarkan Rook keluar lebih dulu. "Kita bisa minta tolong orang lewat untuk mengambil fotonya, kan? Aku lihat ada kursi panjang juga di depan hotel," ia melanjutkan sambil mengunci kembali pintu kamar mereka.

"Biar muka kita kelihatan lebih jelas." Rook hampir menarik tangannya menjauh ketika tiba-tiba Leona menggandengnya.

"Hmm, kedengarannya tidak buruk juga." Setelah melakukan check-out, masih bergandengan tangan, Leona membawa Rook mengikutinya. Ia tahu kalau langkahnya terlalu lebar untuk Rook, jadi ia tidak berjalan terlalu cepat. "Di sini bagus," katanya setelah berhenti di dekat jembatan.

Rook mengeluarkan ponselnya dari tas. "Kalau begitu, sekarang pakai punyaku."

"Kenapa tidak pakai punyaku?"

"Aku takut kau tidak mau membaginya denganku, sama seperti Cheka-kun."

Leona memutar matanya. "Kau pikir aku akan menyamakanmu dengan Cheka?"

Rook tercenung. Ia mengedipkan matanya beberapa kali. "… Memangnya aku berbeda?"

"Ya jelas beda. Nanti akan kukirim padamu kalau memang mau."

"…!" Nyaris Rook berteriak girang mendengar itu. Beruntung ia masih bisa menahannya—walau harus mengerahkan seluruh tekad dan kekuatannya.

"Sini." Leona mengajak Rook ke tengah jembatan. Keberadaan mereka cukup menarik perhatian beberapa orang yang lewat, tapi Leona tidak memedulikannya. Tangannya berada di pinggang Rook, membawa gadis itu mendekat. "Begini posisinya pas?"

"Um! Pasti hasilnya bagus!" Rook menempelkan kepalanya ke pipi Leona. Tangannya terangkat, membentuk pose peace. Pantulan mereka di layar terlihat seperti pasangan sungguhan.

Leona melirik Rook yang tampak bahagia. Energi positifnya seakan menular, membuat dua sudut bibirnya ikut terangkat, bahkan ia tidak ragu memamerkan taring-taring tajamnya. "Siap?"

"Siap!"

"Satu … dua …."

Ckrek!

.

.

.

Ckrek!

Leona membuka mata. Ada suara mengganggu tak jauh dari tempatnya tidur siang. Dan suara itu … jelas-jelas ada yang mengambil gambarnya tanpa izin.

Dan siapa lagi kalau bukan Rook Hunt?

"Keluar kau, pemburu gila."

Kali ini suara rerumputan yang terdengar. Tak lama kemudian, seorang gadis berseragam Pomefiore yang cukup berantakan masuk area pandangnya. "Aku ketahuan lagi."

"Lain kali matikan dulu suara kameranya kalau tidak mau ketahuan."

"OH! Roi du Leon memberiku masukan!"

"Bukan berarti kau diberi izin untuk mengambil fotoku sembarangan, bodoh!"

Gadis itu berjongkok di samping Leona yang masih berbaring. Jubah asramanya yang agak mirip rok terbuka sedikit, memperlihatkan pahanya yang terbalut celana hitam panjang yang cukup ketat. Leona kembali menutup mata. Bagaimanapun Rook tetap perempuan yang harus dihormati.

"Jadi … kalau aku izin dulu, apa boleh?"

"…" Leona mengeluarkan sumpah serapah dalam hati. "Bukan begitu …. Intinya tetap tidak boleh."

"Eeeh?!" Rook membuka galeri ponselnya. "Koleksi foto Leona-kun jadi tidak bertambah, dong, kalau begitu?"

"Kau punya koleksi?!" Seketika Leona bangun dari berbaringnya. Saat itu juga, Rook langsung melompat menjauh. "Ke mari kau, gadis aneh! Akan kuhapus semua foto terlarang itu dari ponselmu!"

"Jangan! Ini semua berharga!"

"Apanya yang berharga?! Itu mengandung privasi orang!" Rook tetap tidak mendengarkan dan berlari pergi. Leona tidak tinggal diam dan mengejarnya. "Berhenti, keparat!"

"Nooon!"

"Non janee! Ke sini kau! ROOK HUNT!"

.

.

.

Next: Chapter 19