Sama seperti hari-hari lainnya, Rook menyadari tatapan Leona pada Vil kapan pun lelaki itu ada kesempatan. Sedang di lapangan dan tengah "sibuk" dengan klubnya pun, ketika ia sadar ada Vil berjalan di koridor yang masih terjangkau jarak pandangnya, ia akan langsung melihat ke arahnya. Senyum remeh memang dipasangnya, tapi aura yang ada di sekelilingnya jelas berbeda dari ketika Leona berhadapan dengan perempuan lain, terutama Rook.
"Hm, dasar pangeran yang hanya menang tampang. Apa-apaan dengan kelakuan itu?" Vil membalas ledekan Leona dengan tatapan sinis. Gadis itu kemudian melanjutkan perjalanan ke lab, diikuti Rook yang berencana menemaninya menyelesaikan tugas praktikumnya. "Aku tahu dia menyebalkan, tapi aku penasaran."
"Tentang Leona-kun?" Rook mengutuk dirinya sendiri karena sudah jelas itu tentang Leona. Satu-satunya orang yang "bertegur sapa" dengan mereka tadi adalah Leona.
"Teman sekelasmu." Vil mengangguk. Ia memelankan langkahnya, menyamakannya dengan Rook agar mereka berjalan bersisian. "Intensitas pertemuanku dengannya sebatas hal-hal yang berhubungan dengan tugas kepala asrama. Tapi, selama di kelas, apa dia juga seperti itu? Maksudku, apa dia mengganggumu?"
Rook tersenyum—tapi tak terbaca makna di baliknya. "Aku yang mengganggunya."
"Ah, tentu saja. Untuk apa aku bertanya." Vil mendengus. "Kau tidak pernah menyerah, ya? Seakan-akan kau menyukai laki-laki macam itu."
Sebuah tawa lepas dari mulut Rook. Sebuah tawa yang ditujukan pada dirinya sendiri yang menyedihkan.
Ya. Rook Hunt tidak pernah menyerah mengganggu Leona Kingscholar. Seakan ia menyukai laki-laki itu.
"Kebiasaan seorang pemburu." Kebohongan terlontar, dan Rook cukup mensyukurinya. Perasaan pribadi dilarang mengacaukan pertemanannya dengan Vil, dan juga dengan Leona. "Walau aku tidak yakin bisa menangkapnya, setidaknya aku senang mengejar-ngejar mangsaku." Senyum dengan makna tak terbaca lainnya muncul.
.
.
.
"Love Knot"
Chapter 19
.
.
.
Satu … dua … cukup banyak artikel berita dirilis tak lama setelah mereka kembali ke kerajaan. Isi artikel-artikel itu membicarakan kedatangan pasangan Kingscholar muda—Leona dan Rook—ke City of Flowers. Bahkan pembahasan tentang Malleus Draconia yang muncul dan bertegur sapa dengan mereka juga ada.
Rook sempat menahan nafas ketika tahu Malleus ada di artikel berita. Ia takut kalau nanti ada gosip tak mengenakkan lainnya. Namun ternyata, rata-rata yang dibicarakan adalah tentang hubungan mereka sebagai "teman" karena satu angkatan di Night Raven College. Meski begitu, Rook tetap menemukan ada artikel yang mencoba menghubung-hubungkan Malleus dengannya. Tapi itu hanya satu artikel, itu pun termasuk artikel "sepi" yang hanya membahas gosip orang-orang ternama.
"Haaah … setidaknya masih aman." Rook menutup laman berita dan kembali ke home ketika ia, sekali lagi, terkejut dengan wallpaper yang terpasang. Tak lama kemudian, senyumnya muncul. "Hehe. Dulu susah difoto, sekarang malah foto bareng. Kapan-kapan foto lagi, deh."
"Rook-sama." Seorang pelayan datang menghampiri dirinya yang sedang bersantai di ruang keluarga. Itu Laura. Ia membungkuk sebentar, lalu meneruskan bicaranya, "Leona-sama sedang bersiap berangkat kerja dan dia meminta Rook-sama untuk menemuinya."
Rook memiringkan kepala. "Apa dia butuh sesuatu?" Namun Laura hanya menggeleng, membuat Rook mau tak mau menghampiri Leona yang sudah siap di depan pintu mansion. "Kau mencariku, Leona-kun?"
Leona membalikkan badan. Senyumnya merekah, membuatnya terlihat sangat ramah. "Aku hanya ingin melihatmu sebelum berangkat."
Lagi-lagi Rook memiringkan kepalanya. Ia bingung bukan main. "… Ada apa? Apa ada sesuatu tercampur di makananmu? Tapi kita makan dari panci yang sama tadi."
"Tidak ada yang salah denganku, hei."
"Jelas ada yang salah, Yang Mulia."
Leona mengambil satu langkah mendekat. Ia menatap Rook dari atas—karena ia jauh lebih tinggi dari gadis pemburu itu. "Kau sudah mandi, kan?"
"Tidak sopan menanyakan perempuan sudah mandi atau belum." Rook melipat kedua tangan di depan dada. "Ya, aku sudah mandi. Sebelum sarapan tadi aku sudah mandi."
Leona tersenyum puas. "Bagus kalau begitu." Tanpa aba-aba, Leona menarik Rook dalam dekapan. Hidungnya menempel di puncak kepala pirang itu, menghirup aroma kesukaannya sebanyak yang ia bisa. "Wangi."
Sempat kaget, tapi kemudian Rook membalas pelukan itu. Semakin hari, ia merasa kalau mereka semakin dekat—baik fisik maupun hati. "… Sekarang kau suka bauku."
"Aku akui kalau ini menenangkan," balas Leona cepat. Kedua lengan yang melingkar di bahu Rook, turun ke pinggang, membawa gadis itu menjauh dengan enggan. "… Sayangnya aku benar-benar harus berangkat."
"Yep, aku dengar kau kedatangan tamu hari ini."
Leona menghela nafas. "Paling malas kalau sudah ada tamu seperti ini. Aku jadi tidak bisa datang telat."
"Tanpa adanya tamu pun harus tepat waktu, Leona-kun."
"Tidak mau."
Rook hampir mencubit tangan Leona saat lelaki itu melepaskan pelukannya. "Cepat berangkat."
Leona tidak membalas, tapi senyumnya tidak pudar. Tangannya melambai, memancing Rook untuk membalasnya. Mereka masih saling bertukar tatap, sampai akhirnya Leona fokus ke jalanan di depan dan mempercepat langkahnya. Kalau tebakan Rook benar, waktu yang ia punya untuk sampai ke ruang kerja kakaknya tersisa kurang dari lima menit.
Rook masih memandangi jalan yang dilalui Leona beberapa saat, lalu berbalik dan mendapati Laura yang tersenyum malu-malu padanya. "… Ada apa, Mademoiselle?" tanya Rook bingung.
Laura menggeleng. "Tidak ada apa-apa, Rook-sama." Balasannya justru memancing rasa penasaran Rook lebih dalam, dan ketika ia melihat ke belakang Laura, beberapa pelayan lainnya, yang kebetulan mengantarkan keberangkatan Leona, sedang memberi ekspresi yang sama dengan yang Laura perlihatkan. "Kalian terlihat manis. Kami senang melihatnya," imbuh Laura tiba-tiba.
Merasakan pipinya yang memanas, Rook segera meminta izin untuk pergi, setengah berlari masuk ke mansion. Laura dan para pelayan yang lain harusnya tahu tentang hubungan mereka yang sesungguhnya. Namun mereka seperti ikut bahagia melihat perkembangan hubungannya dengan Leona. Diam-diam Rook tersenyum dengan pikiran itu.
.
.
.
"Kupikir kau akan terlambat."
Leona, cukup berantakan akibat "lari paginya," tidak membalas perkataan sang kakak. Ia langsung duduk di sofa yang seharusnya menjadi tempat menyambut tamu. "Setidaknya … jangan buat berita dadakan."
"Dadakan apanya?" Falena bersandar ke rak buku dekat dengan sofa yang diduduki Leona. "Aku sudah mengirim pesan padamu semalam. Yang baru baca tadi pagi itu salahmu sendiri."
"Aku baru saja pulang dari berlibur, wajar kalau aku tidur saat sudah sampai di rumah, kan?"
"Tidur atau mengobrol semalaman dengan Rook?" Leona menahan rasa panas di sekitar wajah dan lehernya supaya tidak menyebar. Sebuah suara feminin bergabung di antara mereka. "Aku yakin kau sengaja tidak mengecek ponselmu karena terlalu asik menghabiskan waktu dengan istrimu," ujar suara itu lagi sambil menampilkan wujudnya saat ia juga duduk di sofa. Istri Falena; sang Ratu.
Ingin rasanya menolak, tapi apa yang dikatakan Ratu benar. Ia sadar kalau ada pesan masuk dari kakaknya semalam, tapi karena Rook sedang asik menceritakan ulang drama musikal yang habis ditontonnya, Leona tidak berniat untuk membuka ponsel. Biasanya mendengarkan cerita Rook adalah hal yang paling menyebalkan. Namun malam itu, secara mengejutkan, Leona bersedia mendengarkan setiap kisah yang ingin disampaikan Rook. Ia bahkan tidak merasa terganggu sama sekali, dan mengingatnya lagi, justru membuat Leona ingin segera pulang untuk mengobrol dengan Rook lebih banyak.
Menggigit bibir, Leona akhirnya menjawab, "... Aku tidak suka mengatakan ini padamu, tapi kau tidak sopan mengorek urusan pribadi orang lain, Onee-sama."
"Aku hanya dengar kicauan dari burung yang lewat."
"Apa-apaan itu …."
"Baik, lupakan. Yang penting kau sudah ada di sini." Falena memberi kode pada istrinya untuk bersiap menyambut tamu mereka saat seorang pelayan mengetuk pintu dan memunculkan kepalanya dari baliknya. "Nice timing. Rapikan sedikit rambutmu." Sebuah cermin kecil melayang di depan Leona.
Menuruti perintah kakaknya, Leona sekalian mengeratkan dasinya sebelum berdiri. "Memang siapa, sih, tamunya sampai harus selengkap ini sambutannya?" Sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah ada tamu khusus yang meminta Leona untuk hadir serta. Biasanya yang orang-orang cari adalah Raja dan Ratu. Keberadaan Pangeran sama sekali tidak memberi pengaruh apa-apa. Namun kali ini, tiba-tiba saja ada tamu yang ingin Leona ikut hadir menemuinya.
"Lihat saja sendiri." Leona membalikkan badan ketika Falena memajukan dagunya. Tepat saat itu juga, matanya melebar. "Selamat datang, Nona Hunt. Lama tidak jumpa."
Perempuan yang baru masuk ke ruangan itu membalas senyum ramah sang Raja. Ia terlihat menjabat tangan Ratu, sebelum Raja, kemudian berakhir di depan Pangeran. "Salam, semuanya, dan lama tidak jumpa, terutama pada adik iparku."
Ekor Leona berdiri lurus. Raut wajahnya cukup menjelaskan kalau ia sama sekali tidak ingin ada di sini, apalagi kalau harus berhadapan dengan orang yang serupa Rook di depannya sekarang.
.
.
.
Rook, melihat sekop taman di tangannya tidak minat, membuang nafas panjang. Hal itu menarik perhatian Laura yang sama-sama memegang sekop, bersiap menjalani sebagian besar harinya menemani Rook untuk berkebun. "Apa ada yang salah, Rook-sama? Mungkin Anda kurang enak badan?"
Gadis itu menggeleng lemah. "Aku hanya merasa bosan." Ia menaruh kembali sekopnya ke atas pot. "Jarang-jarang aku bosan dengan tanaman. Tapi untuk sekarang, aku seperti ingin mencoba sesuatu yang baru. Cheka-kun sedang sekolah, sedangkan Leona-kun …." Rook teringat kembali dengan kejadian tadi pagi, lalu berdeham malu. "… Yah, dia sibuk."
Laura hampir tertawa, tapi ia berhasil menahannya sampai sebatas senyum tipis. "Mungkin Anda hanya butuh pemandangan yang berbeda. Jadi—"
"—Aku harus ke istana." Rook mengangguk. Selalu ingat perkataan beberapa pelayan yang sering melayaninya, bahkan Ratu, kalau ia harus sering-sering ke istana untuk mengganti suasana. Namun masalahnya, ia juga sudah cukup sering ke sana; bermain dengan Cheka, latihan memanah, ke perpustakaan, keliling taman dan halamannya … Rook sampai tidak ingat lagi apa-apa saja yang sudah dilakukannya selama di sana. "Aku rasa sudah hampir seluruh tempat kujelajahi." Gadis itu menghela nafas panjang.
"Benar, sih."
"Aku ingin keluar, tapi pasti harus ada pengawal yang menemani." Laura hanya tersenyum mendengar itu. "Ditambah, kalau Leona-kun sampai dengar, dia mungkin akan menceramahiku kenapa aku tidak keluar tanpanya. Atau setidaknya izin dulu dengannya."
"Leona-sama hanya khawatir." Laura terkekeh. "Begitu-begitu, dia yang paling sering menemani Cheka-sama setiap kali dia ingin keluar. Katanya dia tidak percaya dengan pengawal, padahal aslinya, saya yakin karena dia khawatir dengan Cheka-sama."
Rook kembali merasakan pipinya menghangat. "Cheka-kun memang aktif, tapi aku rasa tidak perlu sampai sebegitunya."
"Namanya juga menunjukkan rasa sayang."
Kali ini tidak hanya hangat, tapi panas sampai seperti terbakar. Rook tidak kuat membayangkan setiap perlakuan protektif Leona terhadapnya juga karena wujud "rasa sayang."
"Baiklah, baik. Aku tidak akan keluar." Rook berdiri dan menepuk-nepuk roknya sejenak, membersihkan kotoran yang sedikit menempel karena terlalu lama berjongkok. Sambil meregangkan tubuh, Rook kembali bicara, "Ah, aku ingat kalau buku yang kupinjam minggu lalu sudah selesai dibaca. Mungkin aku bisa ke perpustakaan lagi."
"Mau saya temani?" Laura membereskan peralatan berkebun milik Rook, memasukkan semuanya kembali ke kotak penyimpanan khusus.
"Tidak perlu. Aku sendiri saja." Rook memanggil sapu terbang, kemudian menaikinya. "Maaf karena aku tidak bisa berkebun bersamamu seperti biasanya, Mademoiselle."
"Tidak apa-apa, Rook-sama." Laura tersenyum, melambaikan tangan ketika Rook sudah terbang sedikit lebih tinggi. "Hati-hati!"
Rook membalas lambaian Laura, kemudian terbang cepat menuju istana.
.
.
.
Nova Hunt. Setidaknya itu yang berhasil Leona ingat dari nama putri tertua keluarga Hunt beberapa hari sebelum pernikahannya dengan Rook. Sekitar dua bulan sebelum acara, sempat ada makan malam yang sengaja diadakan untuk saling memperkenalkan kedua keluarga. Namun putri pertama mereka, kakak dari Rook, tidak hadir. Alasannya karena ia sedang ada di luar negeri dan tidak bisa langsung pulang. Leona sampai tidak berniat mengingat namanya karena kejadian itu.
Namun takdir terkadang memang senang bermain-main. Mereka sekarang dipertemukan, hampir setengah tahun setelah pertemuan pertama mereka di hari pemberkatan. Perempuan yang Leona akui sangat mirip dengan Rook ini duduk di dekat altar saat itu, memandangnya dengan sangat tajam seolah ingin mengulitinya.
Bukan berarti ia punya dendam tersendiri terhadap kakak Rook yang satu ini. Leona, sebagaimana seorang bangsawan dan juga suami yang baik, tentunya akan menghormati setiap anggota keluarga istrinya. Toh mereka jarang bertemu—bahkan ini baru yang kedua kalinya. Hanya saja, Leona sudah menebak kalau ia dan Nova tidak akan cocok.
"Hmm … travel vlog memang sedang tren, ya." Falena melihat-lihat tampilan layar tabletnya dengan cukup antusias.
"Itu benar, Yang Mulia." Nova menaruh tangannya dengan anggun di pangkuan, kakinya terlipat sempurna. "Sunset Savanna memang sudah sering masuk laman berita, terutama yang berkaitan dengan travel. Bahkan tidak sedikit juga travel vlogger yang sudah memasukkan Sunset Savanna ke dalam list mereka. Tapi, sejauh yang saya lihat, belum ada yang membahas Elephant Graveyard yang tersohor."
"Tapi itu karena tempat itu bukan tempat yang bagus untuk berlibur."
"Tapi justru itu yang membuatnya menarik, Yang Mulia Ratu." Nova tampak memahami tatapan Ratu yang menyiratkan sedikit kekhawatiran. "Satu-satunya tempat di Sunset Savanna yang tidak dapat ditumbuhi tanaman apa pun. Bahkan hewan-hewan pun tidak berkenan tinggal di sana. Tempat bekas perang masa lalu. Sekalipun tidak ada yang akan ke sana untuk berlibur, setidaknya saya ingin membahas lebih jauh tentang tempat itu. Bagaimanapun, tanah itu tetap bagian dari negeri kita tercinta."
Jalan pikir yang "unik." Sekali lagi, Leona harus mengakui; bukan hanya wajah dan perawakan, tapi sifatnya pun seperti pinang yang dibelah dua. Leona seperti bisa melihat bayang-bayang istrinya dalam diri sang kakar ipar. Bedanya mungkin versi yang ini lebih seram saja.
"Saya rasa Yang Mulia Pangeran bisa memberi masukan." Mendengar jabatannya tiba-tiba disebut, Leona menegakkan tubuhnya kembali. Ia menatap Nova yang juga menatapnya dengan penuh arti yang tidak bisa ia baca. Nova tersenyum kemudian. "Sebagai orang yang sudah pernah ke sana, saya rasa akan menyenangkan untuk mendengar pendapatnya."
Oh, jadi itu alasannya aku di sini. Leona membalas senyuman itu. Aura yang menguar darinya terkesan menantang. "Berusaha mengungkit kasus lama tentang Ujian Berburu di depan para petinggi negerimu sendiri? Onee-san, nyalimu besar juga."
Senyum Nova semakin lebar. "Saya hanya ingat pernah membaca beritanya di koran sepuluh tahun yang lalu."
Leona mendecakkan lidah. "Tahu begitu aku tadi tidak datang."
"Leona." Kakaknya membuat nada memperingatkan. Falena kemudian berdeham, sebelum membalas pernyataan Nova, "Maaf, Nova-san, tapi sepertinya topik ini memang cukup sensitif untuk adik saya. Uh, mengingat …."
Nova mengangguk maklum. "Iya. Luka di matanya didapat saat itu. Saya tahu. Maafkan kelancangan saya."
Seketika Leona menyesali pengakuannya beberapa saat lalu. Ia menarik kembali kata-kata tak terucap di kepalanya.
Wanita ini tidak mirip Rook.
.
.
.
Matanya sengaja dibuat fokus ke gadis model yang berjalan di depan ketika gadis pemburu di belakangnya memperhatikan. Entah apa yang merasuki Leona Kingscholar, tapi ia selalu ingin menunjukkan pada Rook Hunt kalau ia sungguhan menyukai Vil Schoenheit. Atau setidaknya, ia ingin mempercayai itu.
Ketika ia menggoda Vil, tatapan tajam Rook yang sempat jatuh padanya sukses membuat sebagian bulu lehernya berdiri. Ini tidak hanya sekali atau dua kali terjadi. Leona sudah melihat tatapan itu beberapa kali sejak pengakuannya kepada Rook terhadap apa yang ia rasakan pada Vil. Awalnya ia merasa kalau Rook hanya kurang senang kalau Leona mengambil Vil darinya. Tapi sisi lain dirinya, yang berada jauh di bawah sana, tidak merasa demikian.
Saat kedua gadis itu melanjutkan perjalanan mereka yang kemungkinan ke lab—karena mereka menggunakan jas lab mereka, Leona yang sempat pura-pura fokus lagi dengan kegiatan klubnya, kembali melihat punggung itu. Bukan milik Vil, tapi Rook. Matanya jatuh ke punggung tegap itu, yang terasa cukup kokoh untuk ukuran seorang gadis. Senyum jahil yang tadi ia berikan pada Vil, menghilang saat ia melihat ke punggung si gadis pemburu.
Ada sesuatu. Leona yakin ada sesuatu. Hanya saja, otak—atau mungkin hatinya—masih tidak bisa menemukan jawabannya.
.
.
.
Next: Chapter 20
.
.
.
(A/N: Hai. Chapter 19 reupload karena bagian akhir sebelum ending lupa ditambahin. Bagi yang sekiranya sudah baca, mungkin bisa dilihat lagi ya ^^
Maaf atas ketidaktelitiannya. Belakangan lagi sibuk banget sama tugas (nasib smt tua, hiks). Sama sebenernya pengen banget ngelarin Love Knot sebelum ganti tahun, makanya sebulan lalu berasa kayak dikejar banget, tiap hari ada aja update-nya. Tapi kayaknya tetap nggak memungkinkan, huehue.
Niatnya Love Knot tamat di chapter 20-an. Tapi, melihat sampai chapter 19 saja ternyata masih belum kelihatan klimaksnya, jadi kemungkinan bisa lebih dari itu. Nanti juga niatnya mau ada chapter-chapter bonus setelah yang utama ini tamat. Ditunggu ya!
Dan, mumpung sudah masuk akhir tahun, happy holiday, semua! Banyak-banyakin self-reward-nya sebelum kembali lagi ke realita tahun depan, hehe. Stay hydrated and be happy always ya!)
