"Love Knot"

Chapter 20

.

.

.

"Mungkin itu saja untuk pertemuan kali ini." Nova melebarkan senyum, diikuti Ratu yang tampak hanya ingin wanita itu segera pergi. Sementara Falena langsung menghela nafas panjang begitu mendengar Nova menutup pertemuan mereka. "Oya, sepertinya saya benar-benar membuat Yang Mulia Raja lelah."

"Bukan hanya dia, tapi aku juga," sanggah Ratu tanpa basa-basi.

Nova tertawa rendah. "Maafkan saya. Mungkin karena saya terlalu bersemangat dengan pertemuan kali ini, jadi saya lebih banyak bicara dari biasanya."

"Lebih banyak dari biasanya …?" Falena memandang Nova tidak percaya. Ia sadar kalau perilakunya tidak sopan, dan langsung berdeham untuk menutupinya. "Tidak masalah. Sepertinya saya memang sedang terlalu lelah belakangan ini."

"Kalau begitu, kedepannya saya akan pastikan dulu kondisi Yang Mulia Raja dan Ratu sebelum berkunjung lagi." Falena memaksa dirinya untuk membalas senyuman Nova. Wanita itu merapikan ujung rambut pirangnya sebentar, kemudian berdiri. "Sepertinya saya tidak bisa menahan Anda lebih lama lagi dari ini. Saya izin undur diri."

"Baik." Ratu juga berdiri, diikuti Kingscholar bersaudara yang ogah-ogahan. Ratu berbalik, melihat Leona yang sedang berusaha menjaga matanya agar tetap terbuka. "Leona, bisa kau antar Nova-san sampai ke depan?"

"… Hah?"

Buru-buru Nova menolak tawaran itu. "Tidak apa, Yang Mulia. Saya bisa keluar sendiri."

"Oh, tapi Leona sepertinya ingin mengantar Anda, Nova-san." Ratu kembali melihat Leona. "Ya, kan, Leona? Kau ingin bicara dengan kakak iparmu?"

Leona menelan ludah mendengar kalimat yang penuh penekanan itu. Entah apa yang membuat Ratu berpikir dirinya "perlu" bicara dengan Nova. Leona sama sekali tidak merasa harus bicara lebih dari apa yang mereka "obrolkan" hari ini. Namun kemudian, Leona kembali teringat dengan Nova yang tiba-tiba mengungkit peristiwa Ujian Berburu sepuluh tahun lalu itu.

Membuang nafas cukup panjang, Leona akhirnya menganggukkan kepala. "Ya, tentu."

Nova menatapnya cukup sinis, sementara Ratu tersenyum lebar—tentunya itu hanya sebagai pajangan. "Kalian bisa mengobrol di dekat air mancur. Tumbuhan di sana banyak, jadi suasananya akan lebih sejuk. Nikmati waktu mengobrolnya, ya!" Dengan "antusias," Ratu mendorong punggung Leona keluar ruangan, mengikuti Nova yang sudah lebih dulu keluar.

Ratu sempat memberi isyarat pada Leona untuk langsung menghubunginya begitu ada sesuatu yang dibutuhkan. Leona hanya mengangguk sebelum benar-benar memfokuskan jalannya, terus mengekori Nova sampai ke taman dengan air mancur yang dimaksud.

"Ah, Yang Mulia Ratu benar. Di sini memang sejuk." Nova langsung mengambil duduk di kursi taman panjang di dekatnya. Ia melihat sekeliling, memastikan kalau hanya dirinya dan Leona di taman itu. "Kenapa tidak duduk bersamaku, Yang Mulia?" tanyanya setelah selesai "investigasi."

"…" Leona menatap tempat kosong di samping Nova selama beberapa saat, lalu ikut duduk. Ia memastikan jaraknya dengan Nova cukup jauh. "Panggil saja Leona."

"Oh lala. Apa sungguhan boleh?"

Telinga Leona bergerak sesaat, merasa kurang nyaman dengan cara bicara Nova yang mirip dengan Rook. "… Ya, boleh. Secara teknis, kau itu kakakku."

"Walau kau dan Rook tidak sungguhan menikah, ya."

Leona memasukkan tangannya ke dalam saku celana, meremat pulpen kerjanya yang selalu ada di sana. Singa muda itu menatap lurus ke air mancur sebelum membalas, "Rook … memanggil Falena dan istrinya 'kakak.' Aku rasa itu juga berlaku padaku."

Nova mengangguk-angguk. "Good thinking, good manner. Seperti yang diharapkan dari seorang bangsawan." Air mukanya yang sejak tadi dibuat secerah mungkin, seketika berubah gelap. "Hah, sayangnya, mau sebaik apa pun kau, aku masih tidak rela melepaskan adik kesayanganku padamu."

Kali ini kesabaran Leona hampir habis. Pulpen yang ia mainkan di sakunya, dengan maksud menjaga emosinya supaya tetap stabil, mulai kehilangan beberapa bagian. Tidak lama lagi, pulpen malang itu bisa terbelah jadi dua sepertinya.

Seakan menyadari Leona yang kapan saja bisa meledak, Nova melepaskan tawa kecil untuk sedikit mencairkan suasana yang cukup tegang. Hanya saja, wajahnya tetap tidak secerah sebelumnya. "Untungnya hubungan kalian punya 'batas waktu,' jadi aku bisa sedikit lebih tenang. Belum lagi ini semua karena Rook sendiri yang bersedia membantumu. Aku merasa tidak punya hak apa pun untuk menentangnya."

Lah, itu tahu. Leona membayangkan dirinya sudah mengubah seluruh taman ini menjadi pasir. "Jadi, apa ada alasan khusus kau mengungkit kisah masa lalu itu tadi? Membuat kita jadi terjebak berduaan di tempat seperti ini."

"Hmm, jadi ingin langsung ke intinya, ya."

"Aku masih ada urusan lain." Lebih tepatnya ingin kabur, kembali ke mansion dan menghabiskan sisa hari dengan Rook. Hidung Leona sudah meronta, meminta aroma menenangkan kesukaannya itu.

"Yap, aku juga, sih." Nova menaruh tasnya di atas pangkuan. Setelah mencari beberapa saat, ia mengeluarkan sebuah pouch yang mirip dengan tempat makeup, tapi kemungkinan besar bukan itu. "Aku ingin kau memberikan ini pada Rook," katanya, menyerahkan pouch itu ke Leona yang menerimanya dengan ekspresi bertanya. "Itu peralatan menggambar Rook. Dia lupa bawa saat pindahan ke mari, jadi aku kepikiran untuk membawakannya, mumpung aku sempat mampir ke rumah."

Leona mengelus pouch itu, mengamati setiap pola yang ada di atasnya. Terdapat dua buah stiker di pojok kiri atas—sebuah kepala singa dengan hati oranye di sebelahnya. Ada juga sebuah huruf "R" berwarna kuning yang terbordir di tengah pouch. "… Pantas dia tidak pernah menggambar selama di sini."

"…" Nova memperhatikan perlakuan Leona terhadap pouch itu. Tak lama, ia berkomentar, "Kelihatannya kau mengamati Rook, sampai tahu hobi-hobinya."

Leona berdeham sejenak. Rasa panas di sekitar leher kembali. "Dia pernah memberiku lukisan saat masih di NRC dulu. Hadiah ulang tahun, katanya."

"Heee." Dalam hati, Nova sedikit mengutuk adiknya yang sampai rela membuatkan lukisan untuk pria yang bahkan tidak mencintainya ini. Meski begitu, Nova merasakan hatinya sedikit melunak ketika ia melihat reaksi Leona saat mereka membicarakan Rook. "Ah, aku lupa soal peralatan memanahnya." Nova mengecek ponselnya sejenak, lalu meneruskan, "Kalau pulang sekarang, mengambilnya, lalu kembali ke sini lagi, aku akan terlambat ke meeting selanjutnya."

"Kalau urusan itu," Nova kembali melihat Leona yang seperti masih berjuang menghapus sisa-sisa warna merah di leher dengan usapan tangannya, "Rook sudah berencana mengambilnya sendiri. Semalam dia sempat bilang akan pulang ke rumah saat tahun baru." Nova hanya membalasnya dengan "hm" singkat. Wanita itu berdiri, diikuti Leona yang menatapnya heran. "… Yang soal Ujian—"

"Oh, lupakan saja. Aku tidak berniat membicarakan itu." Telinga Leona bergerak-gerak. Nova memberinya senyum miring. "Hanya ingin menarik perhatianmu supaya bisa bicara berdua begini. Maaf kalau itu mengganggumu."

Leona membuang muka dengan mata yang sempat berputar. Ia kembali ke dirinya yang sesungguhnya. "Caramu menarik perhatian itu sama sekali tidak menyenangkan, Onee-san."

"Memangnya aku pernah berjanji akan membuat orang yang kupancing senang?" Sebelum Leona benar-benar lepas kendali, Nova kembali bicara, "Aku tahu hubungan kalian tidak sungguhan dan kalian akan segera berpisah begitu kontraknya selesai. Tapi, kalau kau berpikiran untuk serius dengan adikku, jangan kecewakan dia."

"…!" Kekesalannya kembali berubah menjadi rasa malu. Lehernya memerah lagi, dan sekarang sampai ke sebagian pipinya.

Nova, yang sekali lagi merasakan hatinya melunak melihat reaksi itu, menjatuhkan matanya ke pouch yang Leona pegang dengan sentuhan yang, bisa langsung Nova tahu, penuh perasaan. Ia lalu mendengus. "This entire marriage thing is really too soon for you both, but, oh, well. Pada akhirnya ini hubungan kalian dan aku cuma pihak luar." Nova mengecek ponselnya lagi. "Aku benar-benar harus pergi. Terima kasih sudah mau bicara denganku. Pastikan titipannya sampai ke tujuan, ya, adik ipar." Dalam sekejap, sosok Nova menghilang dari pandangan. Dari auranya, bisa Leona pastikan kekuatan sihir wanita itu setara dengannya, atau mungkin sedikit lebih tinggi darinya karena ia bisa menggunakan sihir teleport semudah itu.

Setelah yakin ia sendiri, Leona menghela nafas panjang. Genggamannya pada pouch di tangan kian mengerat. Bibir bawahnya digigit cukup kuat. Dan untuk jantungnya … ia hampir berpikir akan pingsan kalau Nova tidak langsung pergi tadi.

Leona tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Sejak kemarin mereka di City of Flowers, selalu ada sesuatu yang aneh yang ia rasakan. Semua itu, entah kenapa, berpusat pada Rook. Sebenarnya Leona sadar kalau ada yang "aneh," terutama sejak mereka melupakan peraturan tak tertulis yang mereka buat dan setujui bersama. Perlahan namun pasti, peraturan-peraturan itu dilanggar dan baik dirinya maupun Rook tidak ada yang menyatakan keberatan.

Dengan tangan yang tidak memegang pouch, Leona menepuk-nepuk pahanya, mencoba menenangkan kedua kakinya yang hampir rubuh karena getaran membingungkan ini. "Kalau sudah begini, mana mungkin aku bisa fokus bekerja? Memang paling benar kalau bolos saja."

"Leona-sama." Mendengar namanya dipanggil, Leona menegakkan tubuhnya lagi. Seorang pelayan datang menghampiri, kemudian berkata, "Saya ke mari hanya ingin menyampaikan pesan Yang Mulia Raja. Kata beliau, Leona-sama bisa pulang cepat untuk hari ini."

Leona menaikkan satu alisnya. "Hah. Siapa sangka kalau si tua itu bisa membaca pikiranku."

Pelayan yang diminta menyampaikan pesan hanya tersenyum tidak enak. "Uh, sama … saya ingin menyampaikan juga kalau Rook-sama terlihat sedang berada di perpustakaan."

Telinga berbulu Leona langsung naik. Ekornya bergerak ke kanan dan kiri dengan semangat. "Begitu?"

"Sudah cukup lama, tapi sepertinya Rook-sama masih di sana."

Leona memberi pelayan itu senyum teramah yang pernah ia lihat sepanjang ia bekerja di istana. "Mintalah bonus dari Aniki saat kau menerima gajimu bulan depan. Bilang kalau ini perintah dariku." Pelayan itu hanya bisa terbengong menatap Leona yang sudah berlari meninggalkan taman menuju perpustakaan.

.

.

.

Mengeluarkan ikat rambut dari saku roknya, Rook merapikan rambutnya yang semakin panjang tanpa mengalihkan matanya dari jajaran huruf di hadapan. Selesai dengan rambut, tangannya kembali memegang jurnal yang tadi diistirahatkan sebentar di atas paha. "Ujian Berburu lagi, huh …. Sepertinya topik ini sedang cukup hangat." Satu halaman selesai, kemudian ke halaman berikutnya. "Ini jurnal istana volume terbaru—dua bulan lalu dirilis. Tadi sempat cek di dua volume sebelumnya, sama-sama ada artikel yang membahas tentang Ujian Berburu. Mungkin karena Cheka-kun sebentar lagi masuk usianya …? Padahal menurutku masih cukup jauh—sekitar lima atau enam tahun lagi."

Ujian Berburu. Sejauh yang Rook tahu, ujian ini dilaksanakan oleh pihak kerajaan Sunset Savanna untuk melatih para generasi penerus dengan berbagai macam kegiatan. Namanya mungkin berburu, tapi tentu yang dilakukan tidak hanya soal berburu. Anak-anak mulai dari usia 11 sampai 16 tahun akan dibebaskan di hutan untuk nantinya kemah selama lima hari. Tentunya akan ada pengawasan ketat selama kegiatan berlangsung. Kurang lebih ini mirip dengan kegiatan Vargas Camp yang pernah ia rasakan saat di NRC, tapi bedanya, Ujian Berburu Sunset Savanna akan ditutup dengan perburuan. Tidak ada kriteria khusus untuk hewan apa yang harus diburu. Selama mereka bisa mendapat satu hewan, maka mereka akan dinyatakan lulus.

Kedengarannya kegiatan ini simpel dan menyenangkan. Anak-anak itu hanya akan berkemah, menghabiskan waktu dengan saudara-saudara mereka, sebelum akhirnya berkompetisi dengan sehat di hari puncak. Ujian Berburu pernah jadi mimpi Rook saat kecil. Ia mengandaikan dirinya adalah salah satu anggota kerajaan, kemudian ikut Ujian Berburu bersama para keturunan raja yang lainnya. Namun sekarang … Rook tidak yakin mimpi itu sama gemilangnya seperti dulu.

"Dugaan melukai … dugaan mencelakai … tidak terima kekalahan … berburu sampai ke tempat terlarang … lukanya dia buat sendiri … hampir membuat kakaknya, sang pangeran mahkota, terbunuh …." Rook menegakkan tubuh, menyandarkan punggungnya ke rak buku di belakang. Kata-kata dalam berita, baik di televisi maupun di koran, semuanya masih terekam jelas.

Luka di mata kiri Leona Kingscholar. Dari hari ketiga Ujian Berburu, sudah ada sedikit adu mulut yang terjadi dengan beberapa sepupunya yang lain. Kemudian di hari puncak, pangeran kedua Sunset Savanna menghilang. Pangeran pertama ikut menghilang tak lama setelah tahu adiknya menghilang. Semua orang menduga ia mencari ke mana adiknya pergi. Dua jam pencarian, tim akhirnya menemukan dua pangeran berada di Elephant Graveyard, area paling terlarang di Sunset Savanna, dengan keadaan mata kiri pangeran kedua yang sudah tidak bisa dibuka dan darah di mana-mana.

Itu mengerikan.

Rook Hunt kecil mungkin belum merasakan sesuatu saat itu. Ia hanya merasa iba dengan sang pangeran yang mendapat luka di wajah tampannya, di tengah orang-orang yang justru menyalahkannya untuk segala hal yang belum kelihatan kebenarannya. Namun sekarang, setelah ia memiliki perasaan ini kepada sang pangeran, barulah Rook sadar betapa ia ingin kembali ke masa itu, berlari ke istana, memaksa untuk bertemu dengan pangerannya, lalu membawanya pulang ke rumah. Lebih baik Leona bermain dengannya seharian ketimbang terus-terusan di istana dan mendengar semua ucapan menyebalkan itu.

Rook menggigit bibir, mencoba membuang perasaan berat yang tiba-tiba merasuk ke dada kiri. "… Apa aku punya hak untuk menghapus tradisi tidak jelas ini?"

Tuk, tuk, tuk

Masih jauh, tapi Rook bisa mendengar ada orang yang mendekat. Rook mengembalikan jurnal itu ke tempatnya dengan sihir, kemudian lanjut mendengarkan langkah orang itu. Langkahnya tenang, tapi juga penuh rasa antusias. Kedengaran tidak bisa dipercaya, tapi Rook yakin kalau ini langkah kaki dari seseorang yang tadi sempat mampir ke pikirannya.

Kriet

Suara pintu dibuka. Itu pintu perpustakaan. Langkah itu tidak terdengar selama beberapa saat, kemudian terdengar lagi. Nada langkahnya masih sama, dan itu memancing dua sudut bibir Rook untuk naik ke atas.

"Bonjour, Roi du Leon. Sedang bolos?" Saat langkah itu berhenti di ujung rak yang ia sandari, Rook menoleh. Senyumnya masih tidak luntur, bahkan makin merekah. "Kau tahu aku di sini, apa ada pelayan yang membocorkannya?"

"Tidak salah lagi." Mengabaikan jantungnya yang terus berdegup kencang, Leona berjalan mendekat, mengambil duduk di samping Rook yang masih menyamankan diri. "Dari kapan kau di sini?"

"Cukup lama. Sepertinya sepanjang siang." Leona mengangguk. Mata Rook jatuh ke pouch tak asing di tangan sang suami. "Tunggu, dari mana kau dapat itu?"

"Oh?" Menyadari benda yang sedari tadi dibawa, Leona langsung memberikannya pada Rook. Sesuai dugaan, gadis pemburu itu menerimanya dengan penuh tanda tanya menghiasi wajahnya. "Percaya atau tidak, tamu yang hari ini datang itu kakakmu."

Mata Rook berkedip dua kali. "Kakak?" Leona mengangguk. "… Yang pertama? Perempuan? Nova?"

"The one and only." Leona mengangguk lagi. "Kakakmu yang satu lagi … siapa namanya? Nello? Mana mungkin dia mau datang ke sini. Orang itu melihatku saja sudah kabur." Itu benar. Anak kedua Hunt yang satu itu adalah orang yang paling sungkan di antara anggota keluarga Hunt yang lain. Tidak mungkin orang itu bisa datang ke istana dengan keinginannya sendiri tanpa ada yang memaksanya ke mari.

Rook menatap pouch alat gambarnya. Ia mengelus stiker yang masih terpasang di pojok kirinya, lalu menyembunyikannya dengan telapak tangan saat ia menaruhnya di atas pangkuan. Mencoba menghilangkan rasa malu karena pasti Leona sudah melihat stiker itu, Rook bicara, "Hmm … merci, Leona-kun, sudah mengantarkan ini padaku."

"Sama-sama. Aku hanya jadi tukang pos." Leona memeluk kedua kakinya, mengistirahatkan kepalanya di atas lutut, lalu menghadap Rook. Tangannya terulur, menyampirkan beberapa helai rambut Rook ke belakang telinga. "… Sudah semakin panjang," komentarnya.

Rook berdeham. "Ya, dan mulai mengganggu."

"Yakin tidak mau dipotong?"

Rook menggeleng, mengakibatkan helai yang sudah Leona sampirkan kembali jatuh ke depan. "Aku ingin coba memanjangkannya. Kau tahu? Aku jadi tertarik dengan kepang seperti yang kau punya."

Leona mengangkat salah satu kepangnya. "Kau ingin seperti ini?"

"Tapi sepertinya kurang cocok, ya, buatku?" Rook terkekeh.

"Kan, belum dicoba." Leona tersenyum. Tangannya kembali menyampirkan helai rambut Rook yang tadi sempat jatuh. "Nanti aku bantu kepang kalau sudah lebih panjang. Sepertinya beberapa bulan lagi sudah bisa—atau justru lebih cepat dari itu …?"

"Yang benar?"

"Hm. Rambutmu itu sepertinya tipe yang cukup cepat panjangnya." Rook melepaskan ikatan rambutnya, membiarkan helai-helai pirang itu jatuh. Ia mencoba mengukur kepanjangan rambutnya sendiri, melirik mahkota coklat milik Leona dan membandingkannya. "Yep, tinggal sedikit lagi sama."

"Sepertinya iya." Rook hendak mengikatnya kembali, ketika Leona mengambil alih ikatannya.

"Putar badan."

"Aku bisa sendiri."

"Putar." Leona bersikeras, membuat Rook mau tidak mau menyerah. Gadis itu berputar dan membelakangi Leona, begitu pula Leona yang berputar supaya bisa menghadap punggung si pemburu. "Tapi rambutmu lurus banget. Sayang nggak kalau jadi agak keriting karena dikepang?"

"Biasa saja," jawab Rook. Ia berusaha mati-matian supaya getaran tubuhnya tidak sampai disadari Leona. Debaran di dadanya sudah tidak terkendali sejak tadi. "Aku cukup sering mencoba berbagai model rambut dengan Nova Onee-san saat kecil dulu, salah satunya dikepang. Aku sudah terbiasa."

"Hmm …." Leona selesai dengan ikatannya, tapi Rook tidak membalikkan badan meski ia mengetahui itu. Dan dalam hatinya Leona bersyukur Rook tidak membalikkan badan. Lengan kanannya melingkar di pinggang si gadis, membawa tangannya menyentuh perutnya yang cukup terbentuk. Benar-benar bukan tubuh gadis biasa, pikir Leona kira-kira. Sang pangeran kemudian menyandarkan dahinya ke punggung gadis pemburu, membiarkan sebagian rambutnya menyentuh tengkuk sensitifnya yang tak terhalang sehelai rambut pun.

"… kalau kau berpikiran untuk serius dengan adikku, jangan kecewakan dia."

Leona menahan nafasnya mengingat perkataan itu.

Apakah aku serius?

Apa aku berpikir untuk membuat hubungan ini serius?

Apa aku terlihat … seperti ingin membuatnya serius?

Pemikiran-pemikiran itu mendadak menghantui kepala Leona. Dadanya semakin sesak, bahkan ia seperti bisa mendengar suara degup jantungnya sendiri, berpacu seperti kuda liar. Apa yang ada di dalam kepala, dada, bahkan perutnya sekarang acak-acakan tidak karuan. Leona seperti ingin langsung menggigit leher menggoda di atasnya ini, menyingkirkan lembaran kain yang menutupi perut indah di depan tangannya ini, hanya untuk mencari tahunya sendiri.

Sambil terus menahan perasaannya yang hampir pecah, Rook mengabaikan rasa geli yang ia rasakan di bagian belakang lehernya. Tangannya kemudian dibawa bertemu dengan tangan Leona yang masih ada di perutnya. Ia berusaha memasukkan jarinya ke sela-sela jari Leona, dan secara mengejutkan, diterima laki-laki itu dengan baik.

Rook tidak tahu apa yang terjadi pada Leona. Namun, dinilai dari bagaimana laki-laki itu sempat beberapa kali kehilangan nafas di belakangnya, ditambah kakaknya sempat mampir dan bertemu dengannya, sepertinya ….

"… L-Leona-kun."

"… Hm."

Rook menggenggam tangan Leona kian erat. "Um, anu … Onee-san … apa Onee-san tadi sempat … b-bilang sesuatu padamu?"

Iya. Leona ingin berkata jujur, tapi mulutnya tidak bisa—atau belum—sanggup mengatakannya. "… Tidak." Ada jeda selama beberapa saat, lalu lelaki itu kembali melanjutkan, "Tidak ada. Dia hanya datang untuk menawarkan kerja sama di bidang pariwisata—karena dia mengaku sebagai travel vlogger—kemudian menitipkan alat menggambarmu padaku."

Rook tahu belum seharusnya ia bernafas lega, tapi mendengar balasan Leona yang terdengar cukup jujur, Rook jadi bisa berharap kalau kakaknya tidak membocorkan apa pun pada Leona. "… Baguslah kalau begitu."

"Rook."

"Ya?"

"…" Lagi-lagi ada jeda, dan itu mendadak membuat Rook kembali tidak tenang. Apa benar kakaknya mengatakan sesuatu? "… Mau jalan-jalan ke kota?"

"…" Rook kembali menghela nafas lega. Ternyata bukan. "Um. Boleh."

.

.

.

Next: Chapter 21