"Geh! Rook-san …."
Mendengar suara yang tak asing, Rook memutar badan dan mendapati Ruggie, dengan sebuah kantung plastik di tangan kiri, berjalan keluar dari kantin. Rook memberi pemuda hyena itu sebuah senyum ramah. "Bonjour, Monsieur Tanpopo. Habis belanja untuk makan siang?"
"Seperti yang terlihat." Ruggie mengangkat kantung plastiknya, seakan memberi penjelasan lebih pada Rook tentang apa yang ia lakukan. "Perintah atasan. Seperti biasa."
"Aaah. Roi du Leon sepertinya sedang tidak ingin makan di kantin, ya." Ekspresi yang tidak biasanya Ruggie lihat, terpatri di wajah Rook yang harus ia akui cukup cantik. Seketika Ruggie teringat dengan kejadian beberapa waktu lalu, di mana ia mengonfrontasi Leona.
Haruskah aku coba pancing? Ruggie mencoba memikirkan pertanyaan atau kata-kata apa yang sekiranya bisa mengatasi rasa penasarannya. Selain itu, ia juga berencana menggunakan info apa pun yang bisa ia dapat untuk "kepentingan" di masa depan. Barangkali ia bisa memanfaatkannya, bukan begitu?
"Apa dia ada di rumah kaca?"
"Karena dia belum menemukan tempat baru yang layak, jadi, ya, dia masih di sana," balas Ruggie. Secara mengejutkan, sekarang ia merasa lebih rileks berada di dekat Rook, berbeda dengan saat mereka baru pertama kenal. "Kenapa? Rook-san mau ikut?"
Rook menggeleng. Senyumannya masih menempel di bibir, tapi matanya seperti tidak melakukan hal yang sama. "Sebenarnya ingin sekali aku melihat dia makan, tapi aku masih ada keperluan lain." Yah, Rook hanya bisa berbohong. Mana mungkin ia mengatakan pada Ruggie kalau ia masih "kesal" dengan Leona setelah apa yang dilakukannya dua hari lalu. Tentang Leona yang hanya menyapa Vil ketika mereka sedang dalam perjalanan ke lab, di saat Rook tepat berada di belakang sang kepala asrama Pomefiore. Rook sadar betul kalau ia tidak seharusnya melibatkan perasaan karena jelas-jelas Leona hanya main mata dengan Vil. Namun tetap saja, selama ia ada kesempatan untuk "kabur," maka Rook akan memanfaatkannya sebaik mungkin.
Ruggie mulai mencium ada sesuatu yang tidak beres. Tidak yakin apakah akan berguna, tapi ia tetap menanamkannya di ingatan dengan baik. "Hmm, begitu. Jangan lupa untuk beli makanan juga. Aku duluan."
"Aah, merci. Selamat makan juga, Ruggie-kun." Baru saja Ruggie berjalan beberapa langkah, Rook langsung memanggilnya lagi. Si hyena berbalik, menatapnya heran dan menunggu Rook untuk bicara. "Uh, anu … sampaikan salamku pada Leona-kun." Entah apa yang merasuki kepalanya, tapi Rook mendadak ingin Leona tahu kalau ia sempat berpapasan dengan Ruggie.
Rook ingin Leona tahu kalau ia tetap memikirkan sang pangeran, di saat ia sedang tidak bergairah untuk "memburunya" sekalipun.
Mencoba mencerna maksud kata-kata Rook, Ruggie mengiyakan. "Mm … ya, akan kusampaikan."
Rook memberi senyum terakhir. "Merci, Ruggie-kun."
.
.
.
"Love Knot"
Chapter 21
.
.
.
Ada banyak pasang mata di kota yang mengarah ke mereka. Sebenarnya ini sama dengan saat mereka ke kota bersama Cheka waktu itu. Hanya saja, karena ia terlalu fokus dengan Cheka, tatapan orang sama sekali tidak membuatnya terganggu. Berbeda dengan sekarang, karena Cheka tidak bersama mereka, rasanya jadi semakin jelas kalau sedang diperhatikan.
"Rileks." Leona mengeratkan genggamannya. Ibu jarinya mengelus ujung kuku Rook yang masih dihiasi warna perak. "Kita sudah pernah jalan-jalan seperti ini. Tidak ada bedanya."
Rook menarik nafas cukup dalam dan mengeluarkannya perlahan. Ia melihat Leona di sampingnya, lalu mengangguk. "Setidaknya aku tidak sendirian."
"Itu benar." Singa muda itu memperlihatkan senyumannya, yang mana di mata Rook, membuat ketampanannya menjadi berlipat ganda.
Rook langsung membuang muka ketika menyadari pipinya menghangat. Ia memikirkan pertanyaan untuk mengalihkannya, lalu bicara, "Um … Leona-kun, apa boleh aku tanya sesuatu?"
"Apa itu?"
"Kenapa setiap mau jalan-jalan begini, kau tidak pernah mau ada pengawal yang menemani kita?"
"…" Leona diam sebentar. Ia tampak berpikir sesaat, sebelum akhirnya menjawab, "Ada saatnya kau bisa percaya pada orang lain, dan ada saatnya tidak. Untuk kasus ini, aku memilih untuk tidak percaya pada orang lain."
"… Eh?"
Leona menghentikan langkahnya, begitu pula Rook. Mereka terus bertatapan saat Leona melanjutkan, "Lagipula ini di kota kita sendiri. Perjanjianku dengan Aniki adalah 'pengawal hanya untuk bepergian ke luar kota atau negeri.'"
Itu, kah, alasannya kita bawa pengawal saat ke City of Flowers kemarin? Rook kembali mengingat perjalanan mereka dengan tiga pengawal bertubuh besar, walau pada akhirnya mereka dipulangkan. Saat bulan madu pun mereka tidak sepenuhnya sendiri. Tetap ada pengawal yang ikut dan memantau kegiatan mereka dari jauh.
Meski begitu, Rook merasa pertanyaannya tidak terjawab. Kenapa Leona bisa setidak percaya itu pada pengawal-pengawalnya sendiri? Selama ia tinggal di istana, Rook tidak merasa mereka berbahaya atau semacamnya. Bukan berarti Rook menurunkan kewaspadaannya. Setiap hari ia tetap memperbarui unique magic-nya yang menempel di tubuh seluruh penghuni istana. Namun Rook tidak merasa kalau mereka, setidaknya dalam waktu dekat, akan berbuat nekat dan membahayakan para penghuni istana yang lain, terutama keluarga kerajaan; Kingscholar. Apa ada alasan khusus Leona jadi seperti ini?
"Woah! Tidak kusangka akan bertemu kalian di sini!"
Rook ditarik kembali dari kereta pikirannya. Ketika ia melihat dari balik punggung Leona, seorang yang sangat familier tapi sudah lama tidak dijumpa berjalan perlahan ke arah mereka. "Monsieur Tanpopo!" sapa Rook seraya melambai riang.
Ruggie, terlihat sedikit lebih tinggi dan berisi dari sebelumnya, membalas lambaian Rook dan memberinya tos saat ia sudah sampai di hadapan sepasang Kingscholar itu. "Lama tidak jumpa! Kupikir kenapa orang-orang melihat ke satu arah, ternyata ada pasangan tenar yang sedang jalan-jalan."
Memindahkan tangannya ke pinggang Rook, Leona membawa gadis itu mendekat padanya lalu menimpali, "Dan tidak kusangka kau akan menghampiri kami lalu menyapa kami dengan santai begitu. Apa kau tidak masalah dengan mata-mata yang jadi ikut melihatmu juga?"
"Yah …." Ruggie melihat sekeliling, dan benar, semua pasang mata yang tadi mengabaikannya, jadi tertuju padanya juga. "Tapi mana mungkin aku tidak menyapa para senpai dari almamaterku sendiri, kan? Lagipula aku sudah merasakannya dari masa sekolah dulu karena terus mengikuti Leona-san. … Walau memang kalau dilihat satu kota begini rasanya lebih 'luar biasa.'"
"Maa … sepertinya aku paham perasaanmu," Rook menimpali. "Bepergian dengan pangeran dari negeri sendiri bukanlah hal biasa."
"Berarti kau tidak suka bepergian denganku?" Tangan Leona di pinggang Rook entah bagaimana mengerat, menciptakan sedikit rasa geli karena kuku-kukunya yang lumayan tajam terasa menembus pakaian.
"B-bukan begitu …." Rook mencoba melonggarkan cengkeraman di pinggangnya, tapi tidak berhasil.
Ruggie memperhatikan "adegan" di depannya dengan ketertarikan. Bukan lagi sebuah rahasia bahwa dia tahu ada sesuatu di antara hubungan mereka. Tak lama kemudian, Ruggie tersenyum dengan sebuah ide terlintas di kepala.
"Mau mampir ke tempatku kerja?"
Rook, seperti mendapat jalan keluar, berhasil memaksakan dirinya lepas dari cengkeraman Leona, ganti berfokus pada yang diucapkan Ruggie. "Tempat kerja Ruggie-kun ada di sekitar sini?"
"Ya, sebuah cat café yang baru buka." Ruggie memamerkan senyum lebarnya. "Kebetulan aku dalam perjalanan kembali ke sana setelah membeli beberapa persediaan. Kalau Leona-san dan Rook-san belum ada tujuan, bisa ikuti aku."
Seketika Rook menatap Leona, matanya berbinar. "Cat café ... mau?"
Ada rasa ingin menolak dalam diri Leona. Ia yakin, hampir 100 persen, kalau Ruggie ada suatu rencana. Lihat, anak itu sudah banyak menebar senyum. Leona sampai muak melihatnya. Namun, Rook dan mata berbinar di depannya sama sekali tidak bisa ditolak. Leona hanya bisa menghela nafas sambil menarik kembali pinggang Rook agar mendekat.
"Boleh," Ketika Rook ingin melepaskan diri—lagi, Leona mencengkeramnya kian erat, "tapi jangan jauh-jauh dari aku."
Muka Rook memanas mendengar itu. Niat melepaskan diri akhirnya hilang. "… Terserah."
Ruggie mengeluarkan tawa khasnya melihat kelakuan pasangan itu. "Kalian diam-diam cocok, ya. Syukurlah, kupikir akan banyak pertumpahan darah atau semacamnya."
"Apa-apaan dengan pemikiran itu?"
"Yaa … karena Leona-san yang tidak pernah menyukai Rook-san?" Mata Rook membulat mendengarnya. Ruggie meliriknya sekilas, lalu melanjutkan, "Sudah, jangan kelamaan di jalanan. Orang-orang akan semakin memperhatikan kita. Ayo ikut aku. Jangan sampai kesasar, ya."
"Kau pikir kami ini anak kecil?" Ruggie tidak membalas dan hanya tertawa. Masih dengan tangan di pinggang Rook, Leona membawa diri mereka berjalan mengekori Ruggie. Sesekali matanya melirik gadis di sebelahnya yang mendadak kehilangan rasa semangatnya. "Kau baik-baik saja, Rook?"
"Huh …? Ah, iya, aku hanya melamun sebentar."
"…" Leona menahan nafas sesaat, kemudian dikeluarkan bersamaan dengan tangannya yang menjauh dari pinggang Rook. Bisa ia rasakan tatapan bertanya Rook akan sikapnya. "Maaf, aku mungkin membuatmu tidak nyaman."
"Tidak! Sama sekali tidak, Leona-kun." Rook mencoba tersenyum seperti biasa, tapi Leona terlanjur tahu kalau itu dipaksakan. "Anu … aku hanya sedikit geli, makanya aku tidak mau dipegang begitu …."
Leona tidak langsung membalas. Matanya teralihkan ke jalanan di depan, sebelum akhirnya kembali bersuara, "… Jangan sungkan untuk bilang kalau kau tidak nyaman. Aku tidak ingin memaksakan diriku padamu."
"Huh …?" Leona tidak bicara apa-apa lagi. Ia fokus pada jalanan di depan, seolah ingin melupakan apa yang barusan dirinya sendiri ucapkan.
"Ruggie-kun! Hampir saja aku menyusul—oya?" Belum sempat Rook bertanya lebih lanjut, seorang wanita bertubuh tinggi dengan telinga serupa jerapah menghampiri kelompok kecil Ruggie. Matanya menyusur ke pemandangan di balik punggung hyena kecil itu. "Kau … apa yang kau bawa ini?!"
"Selamat siang," sapa Leona berusaha ramah, dan itu mengundang Ruggie yang sudah tak tahan ingin tertawa.
Wanita tinggi itu mengangguk, hingga sesaat kemudian ia membungkukkan badan. "M-maaf atas kelancangan saya, Yang Mulia. Saya tidak menyangka akan melihat kedatangan Anda seperti ini."
Memilih untuk ikut melupakan apa yang terjadi di antara mereka, Rook menyapa wanita itu, "Selamat siang, Mademoiselle. Tidak perlu sungkan. Kami hanya ingin mampir, melihat tempat kerja adik kelas kami."
"Kebetulan Ruggie adalah anggota asramaku dulu," tambah Leona, langsung mengikuti alur.
Ruggie menepuk dadanya bangga. "Itu benar, Manager. Aku adalah kaki tangan Leona-san yang paling bisa dipercaya."
Wanita yang ternyata manager Ruggie itu melihatnya ragu, tapi kemudian menggelengkan kepalanya. "Saya harap karyawan saya yang satu ini tidak mengganggu hari Anda sekalian."
"Hei!"
"Sudah biasa," balas Leona sambil tertawa remeh.
Ruggie hendak berseru lagi ketika managernya langsung bicara, "Kalau begitu, silakan, Yang Mulia. Kami baru buka setengah jam lalu, jadi masih sepi. Yang Mulia bisa makan dan bermain dengan kucing-kucing kami sepuasnya."
Mata Rook kembali berbinar mendengar itu. "Tres bien! Ini hari keberuntungan kami, tampaknya!" serunya bersemangat, membuat Leona ikut tersenyum ketika mereka akhirnya masuk ke dalam kafe.
.
.
.
"Hehe! Yang ini sungguhan mirip Leona-kun!"
"Pfft!"
Kedua telinga Leona bergerak tidak senang. Ekornya beberapa kali mengenai Ruggie yang sedang mati-matian menahan tawa di sampingnya. "Lihat! Dia grumpy dan warnanya juga kecoklatan tanpa corak. Persis Leona-kun kalau sedang ngambek tidak mau makan sayur." Sementara Rook terus berceloteh, menggambarkan bagaimana kucing yang ada di pelukannya kini persis dengan suaminya.
"HAHAHA! Leona-san ngambek! HAHAHA—AAARGH! Sakit!"
Ruggie refleks menjauh dari Leona ketika perutnya sudah menjadi korban tinju mematikan. "Karyawan di kafe ini sangat tidak sopan. Dia tidak bekerja dengan baik. Bintang satu."
"HEI! Manager yang memintaku melayani kalian selama kalian di sini, hanya karena aku kenal kalian! Dan lagi, jangan kasih review sembarangan!"
"Fufu, Ruggie-kun terdengar semangat sekali," Rook masuk dalam obrolan sambil terus mengelus kucing yang ia sebut mirip Leona tadi. "Tempat ini sangat nyaman, Ruggie-kun. Makanannya enak dan kucing-kucingnya juga ramah. Tenang saja, kalau Leona-kun berani kasih review jelek, aku akan laporkan pada kakaknya."
"Heh. Sekarang kau lebih percaya diri pada hubunganmu dengan kakakku?"
Rook memajukan bibirnya. "... Setidaknya dengan kakak iparmu. Aneue orang yang baik. Dia pasti mau berada di pihakku."
"Wah, kau tidak akan dapat ketenangan yang kau impikan lagi, Leona-san."
Mata hijau predator itu memicing mendengar ucapan Ruggie. Ia kemudian berdiri dan berjalan ke pintu. "Aku ke toilet dulu," pamitnya, sebelum akhirnya menghilang tak lama setelah pintu ditutup kembali.
Setelah memastikan tidak ada "jejak" dari Leona, Ruggie langsung menggeser duduknya ke sebelah Rook. "... Ada apa, Ruggie-kun?" tanya Rook, merasa waspada dengan Ruggie yang tiba-tiba mendekat.
"Tidak ada ..." Hyena muda itu tampak berpikir sejenak, lalu bertanya, "Naa, Rook-san. Maaf kalau ini terdengar agak lancang—dan mungkin memang lancang, tapi ... Leona-san tidak pernah berbuat sesuatu yang merepotkanmu, kan?"
"... Eh?"
"Uh, aku bingung mau dari mana menjelaskannya ..." Ruggie terjebak antara rasa "tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga orang" dan "kasihan" pada Rook. Gadis itu mungkin bukan kakak kelas atau "teman" terbaik yang pernah ia kenal. Namun hal ini akan meninggalkan rasa bersalah dalam hati Ruggie apabila sampai terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.
Namun tetap saja, ini urusan Leona dan Rook. Memangnya Ruggie siapa? Kalau keluarga dari kedua belah pihak saja saling setuju, maka ia, sebagai orang luar, tidak punya hak apa pun untuk ikut campur.
Melihat keraguan Ruggie, membuat Rook mampu mengira apa isi pikirannya. Mematahkan keraguan yang dirasakan adik kelasnya, gadis pemburu itu memilih mengungkapkan apa yang sekiranya menjadi tebakannya. "... Kau tahu rahasia pernikahan kami juga, kah."
Seketika kedua bola mata Ruggie seperti ingin keluar. "Rahasia ...?" Rook tidak merespons apa-apa, yang mana langsung membuat Ruggie yakin kalau apa yang ia pikirkan tadi itu benar. "... Leona-san sungguhan tidak menyukaimu?"
Rook membebaskan kucing coklat dari genggamannya. Kucing itu sempat melihat si gadis pirang sejenak, sebelum memanjat mainan di dinding dan tidur di tempat tertinggi. "Sepertinya memang tidak bisa disembunyikan dari orang-orang 'terdekat' kami, ya."
Ruggie memegangi dadanya secara tidak sadar, merasakan ada yang sesak di sana sesaat. Wajah cerah Rook yang dipenuhi rasa semangat dan positif sudah tidak ada lagi. Sama seperti saat itu.
.
.
.
"Nih, roti daging pesananmu."
Leona menerima sodoran kantung plastik dan mengeluarkan isinya. Keningnya sedikit berkerut saat menyadari roti daging yang dibeli Ruggie bukan yang biasa ia pesan. "Sudah kubilang jangan yang ini."
"Makan atau kelaparan. Tinggal pilih."
"Hah?"
"Cuma sisa itu." Ruggie mengulurkan tangan, bermaksud mengambil roti itu kembali. "Kalau memang tidak mau, ya tidak apa-apa. Aku bisa makan dua."
Langsung Leona tarik roti itu menjauh dan memakannya dengan enggan. "Terserah. Makan sayur selembar juga tidak akan mati."
"Itu tahu," balas si hyena enteng sambil memakan rotinya sendiri. Meski ia terlihat fokus makan, pikirannya kembali ke beberapa saat lalu. Di mana Rook yang tampak tidak seperti biasa, bahkan sampai menitipkan salam yang terdengar bukan sekadar basa-basi. Gadis itu serius ingin Leona tahu kalau ia "ada."
Ruggie meminum airnya sampai hampir habis, lalu berujar, "Tadi aku ketemu Rook-san."
Reaksi yang diberikan Leona cukup membuat Ruggie terkejut. Ketua asramanya yang terkenal tak takut apa pun, tak terkecuali Rook Hunt, sang self-proclaimed pemburu cinta, terlihat menegang setelah mendengar nama gadis itu. Ekornya yang sejak tadi menyentak-nyentak tidak senang karena makan siang yang tidak sesuai, kini terbaring lunglai tak bertenaga.
"..."
Ruggie tidak menunggu balasan dari Leona dan meneruskan, "Sepertinya dia ingin ikut ke mari, tapi tidak jadi. Tidak biasanya dia tidak bersemangat begitu."
"..."
Masih tidak ada respons. Akhirnya Ruggie menurunkan bom terakhir. "Kalian bertengkar?"
"Jangan bicara seolah kami pacaran."
Padahal aku tidak menyebut itu. Sekali lagi, Ruggie menyimpan info itu ke memori terdalamnya. "Yaa ... mungkin saja antar teman sekelas. Kalian sekelas, kan? Rook-san juga bukan tipe yang merenung begitu. Aku jadi kasihan padanya."
"Untuk apa?" Ucapan Leona barusan mungkin terdengar tak acuh. Namun Ruggie bisa menangkap ada sinyal khawatir di sana. "Besok juga kembali seperti semula."
"Aku tidak yakin." Ruggie menghabiskan potongan rotinya yang terakhir. Obrolan mereka tidak dilanjutkan, tapi si hyena muda telah mendapat info yang lebih dari cukup.
.
.
.
Next: Chapter 22
