Hidup adalah karunia dari Tuhan.
Setidaknya itulah sederet kalimat yang disetujui oleh mayoritas manusia yang ada di bumi. Bagaimana pun keadaannya, jalan hidup yang telah dituliskan harus diterima dengan lapang dada dan dijalani dengan penuh syukur.
Tidak ada yang bisa memilih terlahir seperti apa, tidak ada juga yang bisa memilih lahir di dunia sebagai anak orang kaya, anak pejabat, sebagai anak profesor, anak pengusaha atau sebagai anak pemuka agama.
Tapi kadang Halilintar berharap, ia tidak pernah lahir di keluarga ini.
PRANG!
Ia tersentak bangun. Kedua mata yang terhias oleh lingkaran hitam itu mengerjap, alisnya mengkerut kesal.
Suara sahutan bising yang ada diluar sana benar-benar menganggu istirahatnya. Halilintar perlahan duduk dan melirik jam yang tergantung di dinding kamar.
...pukul dua dini hari.
Ia mendengus. Tidak bisakah mereka mencari waktu lain untuk bertengkar? Ayolah, ini sudah menjelang pagi. Mereka tidak lelah, apa?
Anak laki-laki itu mengurut pangkal hidungnya, frustasi. Suara-suara berisik itu semakin mengeras, dan sekarang ia bahkan mendengar tangis, juga suara bernada tinggi yang saling bersahutan.
Sebenarnya ia ingin mengabaikan suara-suara itu, kembali tidur dan melanjutkan mimpi indahnya yang tentu saja tidak boleh, ia harus turun dan mengawasi mereka.
Kedua adiknya juga sedang terlelap, kasihan mereka jika sampai bangun. Mereka akan panik dan menangis hingga membuat kepalanya semakin pening.
Terdengar suara reot dari pintu yang dibuka paksa dari luar, setelah terbuka, muncul dua sosok bertubuh mungil yang menyembul dari balik pintu.
Sudah ia duga.
"...Kak Hali,, Gempa nangis lagi.. Taufan gabisa bobo"
Ternyata Gempa dan Taufan. Sudah ia duga mereka pasti terbangun. Kedua adik kembarnya memang sangat sensitif terhadap suara bising. Apalagi Gempa, adik bungsunya itu sangat mudah panik.
Taufan menuntun sang adik yang segukan di sampingnya, bocah kecil dengan piyama biru itu mengucek kedua matanya yang sayu karena kantuk.
Halilintar membiarkan mereka masuk dan menggedong mereka satu per satu ke atas tempat tidur.
"Kalian tidur di sini ya?" Ujarnya seraya menyelimuti mereka. "Gempa, udah jangan nangis lagi. Ada kakak." Ujarnya pelan, mencoba menenangkan si bungsu yang masih segukan. Bocah berumur tujuh tahun itu mengangguk meski kedua matanya masih mengeluarkan air mata, sedangkan Taufan langsung tidur.
Setelah memastikan kedua adiknya aman, Halilintar berjalan keluar dari kamar dan menutup pintu. Dari lantai atas ia bisa melihat dengan jelas bagaimana seorang pria paruh baya berteriak dan memaki sosok perempuan yang histeris di hadapannya, benda-benda pecah belah juga berserakan di lantai, memeriahkan kekacauan di bawah sana.
Pemandangan yang familiar dan sangat biasa.
Ia hanya akan mengawasi mereka dari kejauhan tanpa berniat ikut campur sembari berjaga-jaga jika ayahnya yang kasar itu melakukan hal-hal diluar batas. Halilintar sudah terlalu lelah dan mengantuk, apalagi pagi nanti ia harus pergi ke sekolah dan mengikuti ujian kenaikan kelas.
Bisakah mereka membiarkannya istirahat dengan tenang hari ini? Apakah pertengkaran mereka bisa ditunda sampai tiga hari ke depan? Ayolah, ia sudah jengah melihat pemandangan seperti ini sepanjang hidupnya. Hingga si kembar lahir pun, mereka tidak berubah. Terus bertengkar karena hal sepele. Apalagi karena hal besar.
Halilintar terlalu larut dalam pikirannya sendiri hingga tak sadar suara gaduh dari keduanya tidak lagi terdengar.
"..sejak kapan?.."
Suara Ibunya menginterupsi keheningan.
"Sejak kapan kau bersama si jalang itu?" Suaranya bergetar, sekuat tenaga menahan diri agar tidak tercampur tangis.
"Kau memanggilnya jalang? Lalu harus kusebut apa kau?"
Pemuda itu menyenderkan tubuhnya ke dinding dan melipat kedua tangannya, mendengar percakapan di antara kedua orang tuanya dengan ekspresi datar.
klasik.
Sesekali ia menguap karena kantuk membuat matanya terasa sangat berat.
"Lalu apa?! Aku sudah melakukan semuanya sebisaku.. tapi kenapa.."
Pria paruh baya itu tercenung, memandang istrinya yang tengah menangis tanpa sedikit pun rasa simpati.
"Sudah kubilang berulang kali, sejak awal aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini."
Ia mengepalkan kedua tangannya.
"Aku mencintai wanita itu. Dan dia sedang mengandung anakku. Aku tidak bisa meninggalkannya."
Iris mata pemuda berusia empat belas tahun itu membesar, rasa kantuk yang sedari tadi bergelantungan di matanya menghilang. Meski dadanya berdetak begitu hebat, ia tidak mampu mengeluarkan suara.
Entah sudah berapa ribu kali ia mendengar kata-kata tentang perpisahan keluar dari mulut kedua orang tuanya, yang kemudian kembali gagal terlaksana karena Ibunya yang mengemis untuk tidak mengambil keputusan itu.
Tapi kali ini.. kalimat yang di lontarkan ayahnya menghujamkan sakit berkali-kali lipat.
..dia memiliki anak lain yang sedang dikandung selingkuhannya..?
"Sejak awal aku harus menikahimu, aku sudah bersumpah tidak akan pernah mencintaimu lagi."
Wanita itu tertegun, dadanya digerogoti oleh rasa sakit hingga rasanya ia berhenti bernafas.
"Sampai di sini saja. Aku akan menikahinya. Surat perceraian sudah ku urus. Kau hanya perlu menandatangani dokumen dan datang ke sidang nanti."
Pria itu beranjak pergi menuju kamar, meninggalkan ibunya yang membeku, dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir.
Halilintar mematung, mencoba memproses informasi yang baru saja ia dengar.
Kenapa ..
Kenapa dadanya terasa sakit?
Padahal semuanya sudah berakhir 'kan? Hasil dari permohonannya selama ini kepada Tuhan agar mereka berdua berpisah. Agar tidak ada lagi pertengkaran, tidak ada lagi tangis, tidak ada lagi sakit hati.
Tapi kenapa ..
Melihat mereka berpisah dengan cara seperti ini, melihat bagaimana ayahnya membuang mereka begitu saja seperti sampah…
Rasanya tidak adil.
Halilintar mengadahkan wajahnya ke atas, menatap langit-langit rumah, mencoba untuk menahan air matanya agar tidak turun.
Ingin sekali rasanya ia berteriak dan mengeluarkan sumpah serapah, mengutuk laki-laki itu.
Ia mencengkeram dadanya, mencoba untuk menghilangkan rasa sakit itu, sekuatnya menahan diri agar tidak menangis, tapi semuanya gagal. Rasanya ada sebuah duri besar yang menancap begitu dalam di hatinya.
Tanpa bisa ia bendung lagi, air matanya mengalir. Menemani sang Ibu yang masih terisak, mengiringi tangisnya yang tidak bisa ia tahan dari kejauhan.
Bisakah ia berlari dan memeluknya? Ia ingin menangis dalam dekapannya sekencang mungkin. Ia juga ingin meratap, mengasihani nasib mereka yang dibuang seperti ini.
Tapi tidak bisa.
Dinding rumah yang dingin menjadi saksi bisu saat Halilintar bersumpah bahwa tangisan ini akan menjadi tangis terakhirnya.
.
.
.
Boboiboy Milik ANIMONSTA
Story © Drazillagirl
Rate T+ / Angst, Drama
WARNING(S)! : AU, terdapat OC, bad words, agak OOC dan pairing di cerita ini, Italic untuk flashback, typos dan kesalahan lainnya.
.
.
.
Satu tahun kemudian.
.
.
.
"Aku gak mau punya Papa baru."
Sederet kalimat itu terdengar memprihatinkan di telinga si sulung yang kebetulan melewati pintu kamar kedua adik kembarnya. Nafsu makan yang baru saja muncul kembali menghilang. Niatnya untuk turun dan menggambil beberapa potong roti ia urungkan, pemuda itu memutuskan untuk mencuri dengar dialog mereka lebih lanjut.
"Aku juga.. Tapi mungkin kalau kita punya Papa baru, Mama sama Kak Hali bisa seneng lagi! Mereka bakal main lagi sama kita! Iya 'kan Gem?"
"Pokoknya aku gak mau! Hueee"
"Ehh jangan nangis Gempa!"
Halilintar mengacak rambutnya.
Setelah mendengar percakapan polos antara kedua adiknya, saat itu juga ia merasa gagal menjadi seorang kakak.
Jangankan membuat mereka senang, ia bahkan tidak bisa menenangkan adik-adiknya. Yang lebih mirisnya lagi ia hanya bisa menguping dari balik pintu, tanpa berani menghampiri mereka.
Takut jika nanti ia malah memperlihatkan kelemahannya kepada mereka.
Payah. Kakak yang bodoh dan pengecut, hanya memikirkan diri sendiri hingga lupa bahwa dia masih mempunyai dua orang adik yang harus dijaga. Mereka masih kecil dan belum mengerti apa-apa. Hatinya sakit melihat kenyataan bahwa mereka harus menghabiskan masa kecil dengan keluarga yang hancur.
Sama sepertinya.
"Shh jangan nangis. Nanti kak Hali dan Mama sedih denger Gempa nangis.."
Bahkan Taufan yang baru berusia delapan tahun sudah pandai menenangkan orang.
Seharusnya kedua adiknya hanya perlu makan dengan baik, tidur nyenyak dan bermain dengan gembira. Bukannya hidup dalam mimpi buruk dan kecemasan akan kehilangan di usia mereka yang masih belia.
Sebagai sulung, Halilintar bingung harus mengambil sikap seperti apa. Halilintar merasa masih terlalu kecil untuk menjadi contoh untuk mereka. Tapi sebisa mungkin ia harus bisa lebih tegar 'kan? Karena mereka berdua membutuhkannya.
Namun ternyata menjadi tegar yang ia lakukan malah menghancurkan janjinya pada diri sendiri di satu tahun yang lalu.
Dia gagal. Ternyata bahunya tidak sekuat yang ia kira. Dia lemah. Egois. Hingga pada akhirnya membuat Taufan dan Gempa merasa sendirian.
Payah.
Ia hanya memikirkan rasa sakitnya sendiri, tanpa menyadari bahwa Taufan dan Gempa juga manusia, mereka sama-sama merasakannya, bahkan lebih membutuhkan sandaran dan perlindungan.
Pemuda itu melirik jam yang tergantung di dinding. Sudah pukul lima sore, kedua adiknya pasti belum makan.
Mau tidak mau, lapar tidak lapar, akhirnya Halilintar turun ke bawah untuk membuat makanan sebagai pengisi perut kedua adiknya.
Setelah turun dari tangga, ia melewati sebuah kamar. Kamar dengan pintu tertutup. Kamar orang tuanya.
Sejak ayah mereka pergi, kamar itu selalu kosong. Ibunya memutuskan untuk tidur di kamar tamu selama satu tahun belakangan. Dia sangat menghindari ruangan yang penuh dengan mimpi buruk itu.
Tidak. Rumah ini juga penuh dengan luka dan mimpi buruk.
Keluarga ini seakan dikutuk. Hidupnya terkutuk. Sepertinya dewa tidak ingin ada kebahagiaan yang hadir di keluarga ini. Hingga pada akhirnya wanita itu juga memutuskan untuk menikah lagi hanya karena ia bertemu dengan cinta lamanya, kekasih Ibunya sebelum pria yang enggan ia sebut ayah itu menjadi suaminya.
Sekarang, meskipun mereka belum sah menikah dan tinggal satu rumah, Amanda sudah jarang berada disini. Ia pergi keluar, mencari kesenangan dan kebahagiaan bersama calon suaminya itu. Dan melupakan mereka, dengan alasan mempersiapkan pernikahan.
Padahal baru satu tahun mantan suaminya itu pergi, sekarang ibunya sudah dimabuk cinta oleh pria lain. Halilintar tidak habis pikir.
Apa kedua orang tuanya kira ia adalah batu?
Halilintar juga manusia. Ia punya hati. Dia juga memiliki perasaan. Tidak cukup kah luka yang mereka berikan?
Ia benar-benar kehilangan percaya pada siapa pun. Orang tuanya saja bisa meninggalkannya dengan mudah, apalagi orang lain?
Wanita itu hanya pulang beberapa kali seminggu, meninggalkan Halilintar dan kedua adiknya dengan anggapan bahwa mereka akan baik-baik saja. Bahwa Halilintar sebagai seorang anak sulung yang baru berusia lima belas tahun itu bisa dan sanggup menggantikan posisi kedua orang tuanya.
Mereka sama saja. Sama-sama egois. Hanya memikirkan diri sendiri. Hanya memikirkan perasaan sendiri. Jangan heran jika dia menjiplak karakter egois itu. Bukannya buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya?
Anak laki-laki itu mencoba untuk tidak memikirkannya sekarang. Kepalanya bisa pening. Dan jika itu terjadi, siapa yang akan mengurus kedua adiknya?
Ia berjalan menuju dapur dengan sedikit gontai, kemudian menyalakan kompor dan bersiap untuk memasak sesuatu.
Setidaknya Halilintar masih punya dua orang adik kecil yang harus ia jaga sebisa mungkin, seberat apapun, sekeras apapun hidup, ia harus bertahan untuk mereka. Untuk kedua adik kecilnya.
Harus.
.
.
.
Tbc
.
.
.
Halo semuanya! Aku imigrasi cerita dari platform lain ke sini, aku gabung prolog dan sebagian dari chapter satu, makanya maafkan kalau umur mereka kecepetan '-'
Hali, Taufan, Gempa, maaf aku bikin kalian jadi anak broken home hiks\ditendang
Haah.. silahkan kalian panggil aku author spesialis sinetron X'D karena yaa jujur aku selalu lebih mudah bayangin pertengahan cerita sampai akhir daripada awal. Jadi cerita ber-chapter yang aku buat selalu klise dan sinetron-able(?) di awal-awal chapternya. Daaan sialnya di pertengahan jalan hampir masuk ke bagian ide yang bagus itu selalu aja motivasi nulis hilang mendadak. Semoga kali ini enggak ya, semoga juga nanti cerita ke depannya gak mengecewakan XD. Rencananya beres skripsi aku mau lanjutin semua fanfic aku yang terbengkalai hehe. Oh iya chapter selanjutnya juga mau langsung aku upload deh biar aku lanjut nulis lagi.
Makasih semua yang udah bersedia baca fanfic ini, mohon maaf kalau banyak salahnya dan bikin mata kalian sakit XD ILYSM!
-Drazilla
