Hari ini kegiatan belajar mengajar ditiadakan dan digantikan dengan sosialisasi untuk kemah besok. Seluruh kelas 11 dikumpulkan di aula sekolah untuk bersama-sama mendengarkan apa saja yang harus disiapkan selama acara nanti.

Di antara lautan murid, Boboiboy duduk dekat tembok dengan mata fokus membaca buku panduan kecil untuk kegiatan tersebut. Ia sudah membaca semuanya dan ketua pelaksana sedang menjelaskan secara detail di depan. Semua menyimak dengan seksama, sementara dirinya sibuk dengan pikirannya sendiri.

Kemah itu dilakukan tiga hari dua malam. Bertempat di bumi perkemahan rintis, dimana letaknya terbilang jauh dari sekolahnya. Boboiboy sebenarnya tak mengkhawatirkan itu. Tapi...

"Woah, ada api unggun! Pasti seru banget, nih!" celetuk Gopal di sampingnya.

"Boleh bawa gitar nggak, ya?" gumam Fang yang masih bisa didengar olehnya maupun Gopal.

"Buat?" tanya Gopal heran.

Fang tersenyum sok. "Buat nunjukkin kehebatan main gitar gue, lah! Pasti pada terpesona nanti!"

Gopal langsung menunjukkan wajah ingin muntah sebagai reaksinya untuk teman paling narsisnya itu. Boboiboy hanya terkekeh pelan seraya menggelengkan kepalanya. Ia beralih menatap ke depan lagi, tapi tak sengaja berpandangan dengan Yaya yang entah sejak kapan menatapinya di barisan perempuan tak jauh dari barisannya. Cewek itu tertangkap basah saat buru-buru membuang pandangan, membuat Boboiboy mengangkat alisnya bingung.

Memang sejak ia berdebat dengan Yaya kemarin, mereka belum berinteraksi lagi. Entah siapa yang memulai permainan saling menghindar ini, tapi Boboiboy mulai berpikir apakah ucapannya kemarin terlalu kasar? Ia sempat ingin mengucap maaf pada Yaya, tetapi ego menahannya hingga ia berujung melupakannya lagi.

Pengumuman selanjutnya adalah pembagian kelompok yang nantinya akan selalu bersama selama kegiatan. Dan lagi-lagi, Dewi fortuna tidak berpihak padanya, karena ia harus sekelompok dengan Yaya. Kenapa kesialan terus menimpanya tanpa henti?

"Oh yes, Yaya sama Ying masuk kelompok kita!" seru Fang senang.

Gopal mengangguk setuju. "Soal masak aman ini mah, ada dua cewek di kelompok kita."

Boboiboy hanya bisa menghela napas. Hanya dirinya yang tidak menyukai ide itu. Ia memandangi punggung Yaya lagi yang tampak diam saja menanggapi Ying yang juga bersorak senang. Oh, akan seperti apa hari esok nanti?

.


.

Boboiboy merenggangkan kedua tangannya yang terasa pegal. Beberapa menit yang lalu ia baru selesai berkemas untuk besok, dan sudah waktunya ia tidur sekarang. Baru saja dirinya akan memejamkan mata, pintu kamarnya terbuka dan memperlihatkan Tok Aba di sana.

"Sudah selesai berkemas?" tanyanya.

Cowok itu kembali bangkit duduk sambil mengangguk. "Sudah, Tok."

"Semuanya?" tanya Tok Aba lagi.

Boboiboy terdiam sesaat karena tahu apa yang ingin kakeknya pastikan. Ia menganggukkan kepala lagi tanpa membalas ucapannya.

"Yasudah, kamu tidur sekarang. Besok berangkat pagi." kata Tok Aba, lalu menutup pintu kamarnya dan pergi.

Boboiboy diam sampai langkah Tok Aba tak terdengar lagi. Ia menghela napas, memanjangkan tangannya untuk meraih laci nakas sebelah tempat tidurnya. Ada sebuah kapsul berisi obat di dalam laci itu, yang Tok Aba kira sudah tersimpan di tasnya. Boboiboy memandanginya lama, mempertimbangkan apakah ia harus membawanya atau tidak. Tapi berapa kali pun ia memikirkannya, Boboiboy terus memutuskan kata tidak. Dan meyakinkan dirinya sekali lagi, kalau ia sudah baik-baik saja.

Dihelanya napas sekali lagi sebelum memposisikan untuk kembali berbaring. Akan tetapi kantuk belum menghampirinya. Cowok itu menatap pada langit-langit kamarnya yang berhiasi miniatur planet luar angkasa. Boboiboy ingat dulu ia membuatnya bersama sang ayah. Ayahnya bilang, jika ia tidak bisa tidur, ia bisa melihatnya dengan puas. Dan Boboiboy sudah melakukan itu hingga kini.

Sebuah suara notifikasi ponsel tiba-tiba terdengar. Boboiboy meraih ponselnya di nakas, menemukan pop up notifikasi baru di layar yang memberitahu ia dimasukkan ke dalam grup oleh Ying. Ia tidak langsung membukanya dengan memilih membaca melalui notifikasi.

Grup Kemah-kemahan

Ying: Welcome guys! Grup ini buat kita komunikasi ya!

Gopal: Wahhh, mantap Ying! Tapi ganti dong namanya, masa kemah-kemahan?

Ying: Apa dong kalo gitu?

Fang: Grup 5 sekawan

Gopal: Jelek banget namanya

Fang: WOI

Ying: Hm, boleh tuh ide Fang. Gue suka, kayak di film-film. Yang lain gimana?

Gopal: Cish, harusnya lo bela gue Ying. Bukan dia

Fang: Lo mending tidur deh Pal, gue gamau besok lo nyender2 ke pundak gue ya di bis!

Gopal: Geer banget. Gue bisa nyender ke Boboiboy. Eh btw, mana tuh anak?

Boboiboy mendengus membaca chat Gopal itu. Ia tidak akan membiarkan kepala Gopal yang berat itu menjajahi bahunya.

Ying: Yaya juga belum muncul. Udah tidur kayaknya

Alis Boboiboy terangkat. Ia melihat jam di ponselnya yang menunjukkan angka 22.00. Benarkah Yaya sudah tidur di pukul segini?

Fang: Eh tapi kita belum bagi tugas

Ying: Bener juga. Atau mau gue acak aja?

Fang: Boleh

Gopal: Gue ngikut aja

Ying: Oke, bentar ya guys

Setelahnya tak ada lagi percakapan. Sepertinya Ying sedang membagi-bagi tugas untuk mereka besok. Boboiboy menaruh ponselnya lagi. Tangan kanannya bergerak ke belakang kepala, menyelip ke bawah bantal. Saat itulah ia merasa tangannya bersentuhan dengan sesuatu seperti kertas. Boboiboy menarik benda itu keluar, menemukan benda di tangannya memang kertas.

Boboiboy menghela napas karena melupakan hal ini. Tulisan yang ia yakini milik sang ayah. Terakhir ia mencari tahu adalah saat bertanya pada Tok Aba, dan atoknya berujung tidak memberikan petunjuk apapun padanya. Ia tidak mungkin langsung menunjukkan secarik kertas ini pada Tok Aba, karena atoknya pasti akan menolak berbicara jika tahu hal ini.

Memilih untuk memikirkannya nanti, Boboiboy mulai memejamkan mata. Ponselnya kembali berdenting halus, chat dari Ying masuk. Namun Boboiboy sudah tertidur dengan cepat.

.


.

"Yaya!"

Kepala Yaya menoleh dan menemukan Ying berdiri di dekat bis yang akan mengantar mereka ke lokasi kemah. Yaya balas melambaikan tangannya, berjalan menghampiri Ying di sana. Suasana halaman sekolahnya ramai oleh anak-anak kelas 11 dan juga orang tua. Ia diantar oleh ayahnya tadi, namun sang ayah tidak bisa melihat sampai mereka berangkat.

"Gue udah tempatin kursi kita. Ayo masuk!" ajak Ying.

Yaya mengangguk. Mengikuti sahabatnya masuk ke dalam bis kelas mereka. Teman-temannya sudah memilih kursi masing-masing dengan menaruh tas mereka di sana. Ketika tiba di tengah-tengah barisan kursi, keduanya bertemu dengan Gopal, Fang, dan juga Boboiboy yang terlihat sedang cekcok.

"Gue dong yang deket jendela, lo di tengah!" seru Fang.

"Nggak! Gue mau deket jendela, kan enak sambil liat pemandangan!" balas Gopal tidak mau ngalah.

Fang menggeram kesal. Ia berusaha duduk di kursi dekat jendela, namun Gopal sudah lebih dulu menyerobot dan langsung duduk anteng di sana.

"Woi!" serunya kesal.

"Kalian kayak anak kecil aja deh." komentar Ying sambil geleng-geleng kepala.

Fang dan Gopal menoleh, sementara Boboiboy yang sudah daritadi duduk di kursi paling pinggir hanya diam dengan muka sabar menghadapi kedua temannya yang idiot itu.

"Tau tuh! Fang kayak anak kecil maunya duduk di dekat jendela." sindir Gopal.

Tentu Fang tak terima dan ingin menjambak Gopal kalau saja Boboiboy tidak tiba-tiba bangun dan menghalanginya.

"Udah, nggak? Pusing gue denger kalian ribut! Pulangnya aja gantian, Fang yang deket jendela. Lo, Gopal–" Boboiboy menatap tajam sahabat gempalnya yang terkejut melihatnya. "–pas pulang ngalah sama Fang. Dah, 'kan? Ahelah!"

Kemudian Boboiboy berlalu pergi, meninggalkan mereka yang sama-sama cengo di tempat.

"Tuh, 'kan Boboiboy marah." ujar Gopal.

"Lo, sih!" seru Fang.

Ying tertawa terbahak-bahak. Sementara Yaya menatap lama Boboiboy yang sudah berada di luar bis lewat kaca jendela.

"Yok, Yaya. Lo taruh tas lo dulu." kata Ying.

Yaya mengangguk sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya dari cowok itu. Ia menaruh tasnya di kursi yang sebaris dengan kursi Boboiboy, Fang dan Gopal, bedanya kursi ia dan Ying hanya dua bangku. Ying duduk di dekat jendela, karena gadis itu akan mabuk jika tidak duduk di sana. Dan Yaya duduk di kursi pinggir, sama seperti Boboiboy. Itu berarti, ia akan bersebelahan dengan Boboiboy selama perjalanan? Yaya diam-diam meringis karena teringat mereka masih perang dingin sampai hari ini.

"Oh ya, Ying. Soal tugas masak nanti, kalo lo sama Yaya kerepotan, bilang kita aja ya?" ucap Fang.

Yaya menoleh dengan kernyitan di dahi.

"Oke deh." balas Ying.

"Eh? Maksudnya gimana?" tanya Yaya.

"Iya, soal pembagian tugas. Kemarin Ying udah bagi-bagi tugas buat kegiatan nanti. Kayaknya lo belum baca grup ya? " jelas Fang.

"Iya, belum." balas Yaya.

Sebuah suara dari pengeras suara kemudian terdengar membuat keempatnya tersentak. Mereka dihimbau untuk berkumpul di halaman untuk mendengar pengumuman sebelum berangkat. Gopal dan Fang sudah lebih dulu keluar bis, menyisakan Ying dan Yaya di sana.

"Soal tugas itu, gue udah banyak naro lo sama Boboiboy berdua. Say thank you-nya jangan lupa traktir gue cheesecake ya?" kata Ying dengan kedipan mata.

"Ying!" desis Yaya, namun Ying sudah lebih dulu lari darinya.

Yaya menghela napas. Ia akhirnya membuka ponselnya dan membaca chat di grup itu yang belum ia buka sama sekali. Dan benar saja, ada beberapa tugas yang hanya ia lakukan bersama Boboiboy. Dimulai dari membangun tenda, jelajah malam, hingga acara api unggun. Tugas-tugas itu dibagi sebagai penanggung jawab setiap kelompok. Kalau begini, ia akan terus bersama Boboiboy selama acara berlangsung.

Yaya mendecak kesal dan ikut keluar bis menyusul Ying. Teman-temannya sudah berbaris sesuai kelas masing-masing. Yaya segera mengambil tempat di samping Ying. Dari tempatnya berada, Yaya melihat punggung Boboiboy yang berdiri di barisan awal. Apa suasana hati Boboiboy sedang tidak baik sampai tiba-tiba marah tadi? Apa itu karena pembagian tugas ini? Karena Yaya yakin, Boboiboy tidak mau satu tugas dengannya.

"Selamat pagi, anak-anak! Hari kita akan melaksanakan kegiatan kemah dan..."

Guru pembimbing di depan sana menjelaskan kembali aturan-aturan yang harus dipatuhi selama kegiatan nanti. Yaya tak terlalu mendengarkan pengumuman singkat itu. Ia terus memikirkan nasibnya nanti di sana.

Begitu pengumuman selesai, seluruh murid disuruh kembali ke bis untuk siap-siap berangkat ke lokasi. Tentu saja Yaya berpapasan lagi dengan Boboiboy karena barisan kursi mereka yang bersebelahan. Yaya berusaha menyamankan dirinya karena merasa suasana di sekitarnya terasa canggung meski teman-temannya pada berisik.

Bus akhirnya berangkat ke lokasi. Di sebelahnya Ying sudah tertidur karena tadi dia mengaku tak bisa tidur semalam. Yaya hanya diam tak bersuara di kursinya. Ia melirik ke arah kursi Boboiboy, tampak Fang dan Gopal yang lagi-lagi bertengkar, sementara Boboiboy sedang membuka tutup botol minumannya. Yaya memalingkan pandangan. Saat itulah ia mendengar suara benda jatuh, lalu sesuatu menggelinding ke depan kakinya.

Tutup botol.

Membungkukan badan, Yaya mengambil tutup botol itu. Ia menatapnya sebentar sebelum menoleh, mendapati Boboiboy sudah menatapnya juga.

"P-pnya lo?" tanya Yaya terbata-bata. Cowok itu tersentak dengan pertanyaannya, lalu menganggukkan kepala.

"Ini." Yaya menyerahkannya dan diambil Boboiboy pelan. Jari mereka sempat bersentuhan sebentar, lalu Yaya kembali menghadap ke depan dengan cepat.

"Thanks." ujar Boboiboy kecil yang masih bisa Yaya dengar.

Yaya hanya mengangguk samar tanpa menoleh lagi pada cowok itu.

.


.

Setelah menempuh perjalanan 2 jam, mereka akhirnya tiba di lokasi kemah. Semua murid disuruh berkumpul dengan kelompok masing-masing untuk beristirahat sambil mengakrabkan diri dengan yang lain. Di dekat pohon, Boboiboy dan yang lain duduk melingkar di sana.

"Oke! Karna kemaren kita udah bagi kelompok, gimana kalo kita voting siapa ketua kelompok kita?" tanya Ying. Ia memandang satu per satu teman-temannya. Di sebelahnya ada Yaya, lalu Gopal, Fang, dan Boboiboy yang duduk tepat di depan pohon.

"Yaya aja gimana? 'Kan Yaya sudah biasa jadi ketua?" usul Gopal. Kini semua mata memandang ke arah sang ketua kelas.

"Jangan lah. Masa Yaya lagi. Dari cowok dong." ujar Ying membela sahabatnya. Yaya hanya terkekeh, padahal ia tidak keberatan jika memang dipilih.

"Boboiboy aja kalo gitu." celetuk Fang.

"Loh kok gue?" Yang punya nama langsung tidak terima.

"Gue setuju, sih." timpal Ying. Kemudian Gopal ikut mengangguk setuju sementara Yaya tak berkomentar apa-apa.

"Fix. Boboiboy ketuanya!" seru Fang final.

"Woi!" protesan Boboiboy dianggap angin lalu, membuat cowok itu bete dan menyilangkan tangannya di depan dada sambil bersandar ke batang pohon di belakangnya.

"Yaudah. Nanti kalo lo kesulitan kita bantuin. Ya 'kan, guys?" ucap Ying berusaha menghibur Boboiboy.

Boboiboy mendecih. Pemilihan ketua yang berlangsung singkat itu dilupakan dalam sekejap. Boboiboy memandang ke arah lain dan malas ikut obrolan mereka selanjutnya.

"Oh, ya. Lo berdua tuh temenan dari lama apa gimana? Kok kayak lengket banget?" tanya Fang penasaran pada Yaya dan Ying.

Ying mengangguk sambil tersenyum pada Yaya. "Dia sahabat gue dari SD."

"Woaahhh," heboh Fang dan Gopal.

"Sebenernya sempet pisah sih pas SMP, karena gue tiba-tiba pindah ke Pulau Rintis. Eh pas masuk SMA, Ying ikut pindah ke Pulau Rintis." jelas Yaya kemudian.

"Loh, bentar. Jadi lo berdua bukan anak Pulau Rintis?" tanya Gopal bingung.

"Bukan. Kita dulu SD di Kuala Lumpur." jawab Ying. "Kalo kalian? Awal temanannya gimana?"

"Yah, biasa-biasa aja. Waktu kelas sepuluh gue temenan sama Boboiboy di ekskul basket. Terus dia keluar buat join ke ekskul futsal, dan temenan sama Gopal. Gue sering diajak Boboiboy nongki bareng Gopal, eh keterusan sampe kita tiba-tiba sekelas." jelas Fang panjang lebar.

Yaya mendengarkannya dengan seksama. Ia tentu mengingatnya, saat itulah Boboiboy masih mengikuti olimpiade dan berteman dengannya.

"Sudah, ya! Gue mau nongkrong dulu sama temen gue!"

Yaya mendongak dari buku catatannya ketika mendengar suara itu.

"Eh, Boboiboy tunggu! Gue belum selesai!" seru Yaya, menghentikan langkah Boboiboy yang ingin keluar dari perpustakaan.

Cowok itu menoleh lagi padanya, lalu tertawa kecil sebelum menghampirinya lagi ke meja tempat mereka belajar.

"Kenapa, sih? Lo belum selesai yang mana?" tanya Boboiboy.

Yaya menunjuk ke salah satu nomor di buku latihan yang diberikan gurunya.

"Ini. Daritadi gue ga nemu-nemu jawabannya."

Boboiboy mendekatkan kepalanya, membaca perlahan cara yang sudah Yaya tulis. Meski dia selalu menunda-nunda berlatih mengerjakan soal, tapi Yaya mengakui Boboiboy lebih pintar darinya.

"Oh, ini dikali dulu sama angka 2. Baru lo kurangin. Coba deh, kalo misal belum ketemu, telpon gue aja oke? Gue udah ditunggu sama Fang Gopal, nih." ucap Boboiboy dengan buru-buru.

"Eh, tapi–"

"Dadah, Yaya! Gue duluan ya!" seru Boboiboy dan berlari keluar perpustakaan. Yaya menatap kepergiannya sebelum tertawa kecil dan melanjutkan latihannya.

"Woi, Yaya! Lo kenapa?"

Yaya tersentak dari lamunannya, mendapati semua mata sudah memandanginya bingung karena sedari tadi bengong.

"Ng-nggak papa. Cuma ngelamun doang." dalihnya.

"Jangan bengong. Kita lagi di hutan, pasti banyak han–"

PLAK!

"Woi! Kok gue ditampol, sih?" protes Fang kesal karena kepalanya ditempeleng Boboiboy tiba-tiba.

"Pikiran lo. Setan mulu." sembur Boboiboy.

Fang ngedumel membuat semuanya tertawa. Sang ketua kelompok sudah bangkit dari duduknya, melihat kelompok lain sudah selesai berkumpul dan mulai mempersiapkan tenda yang akan dibangun.

"Kayaknya sebentar lagi agenda bangun tenda, ya?" tanya Ying sambil melihat sekitarnya.

"Iya, ayo kita ambil peralatan tendanya." ajak Boboiboy sebagai ketua kelompok, sepertinya ia sudah menerimanya dengan lapang dada.

"Oh iya, pj-nya lo sama Yaya. Gih, ambil dulu. Kita tunggu disini." ucap Ying.

Boboiboy melirik Yaya yang masih duduk. Ia memberi isyarat dengan gerakan kepala, Yaya yang mengerti maksud cowok itu segera bangkit dari duduknya. Tanpa berkata apapun, Boboiboy berjalan lebih dulu ke arah tempat tenda dikumpulkan. Yaya mengikuti langkahnya dengan memberi jarak yang cukup. Ia hanya tidak mau membuat Boboiboy kesal. Tapi rasanya ia perlu meminta maaf pada Boboiboy soal kemarin.

"Um, Boboiboy." panggil Yaya pelan.

"Apa?" tanya cowok itu tanpa menghentikan langkahnya.

Yaya tidak tahu harus bersyukur atau tidak karena Boboiboy tak membalikkan badan sehingga wajahnya yang dipenuhi ragu tidak terlihat.

"Soal waktu itu, gue minta maaf."

Ucapannya membuat Boboiboy tiba-tiba menghentikan langkah. Untungnya Yaya masih bisa berhenti tepat waktu meskipun terkejut hingga wajahnya tak menabrak punggung cowok itu. Apa ucapannya benar-benar mengejutkan?

"Gue... minta maaf." ulang Yaya pelan.

"Udah gue maafin. Jangan bahas itu lagi." jawab Boboiboy. Lalu meneruskan langkahnya lagi.

Yaya terdiam selama beberapa detik. Entah kenapa, jawaban Boboiboy tidak membuatnya lega sama sekali. Sepertinya cowok itu masih kesal padanya. Wajar saja, Yaya sudah keterlaluan waktu itu. Dan Boboiboy berhak marah karenanya. Yaya menghela napas, mencoba melupakan masalah mereka dan melanjutkan langkahnya menyusul Boboiboy.

.


.

Kegiatan membangun tenda selesai dengan cepat. Yaya satu tenda dengan Ying bersama teman-teman cewek lainnya. Sementara Boboiboy, Fang, dan Gopal berada di tenda berbeda dan tak jauh dari tenda Yaya dan Ying.

Kini kelimanya sudah duduk melingkar lagi. Agenda selanjutnya adalah memasak. Setiap kelompok diminta untuk memasak masing-masing dengan bahan yang disediakan panitia. Menu yang akan mereka buat adalah nasi goreng sosis. Sebagai penanggung jawab, Yaya dan Ying sudah bersiap memandu untuk memasak nanti.

"Gue bantu doa aja, ya? Gue 'kan gabisa masak." kata Gopal, yang langsung dihadiahi tabokan cinta dari yang lain.

Kompor portable di tengah-tengah mereka mulai disiapkan. Fang menaruh wajan kecil di atasnya, lalu menuangkan minyak sedikit. Cowok itu menyalakan kompor, dan Ying sudah bersiap menuangkan bahan-bahan yang diperlukan ke minyak panas itu.

Yaya dan Ying saling membantu selama memasak nasi goreng. Fang dan Gopal bersorak melihat kehebatan dua cewek itu ketika mengaduk-aduk nasi goreng. Sementara Boboiboy hanya diam di tempatnya dan sesekali melihat ke arah lain.

"Lo berdua sering masak ya di rumah?" celetuk Fang dengan mata tak hentinya memperhatikan Ying dan Yaya.

Ying mendongak. "Nggak terlalu, sih. Gue kadang bantuin nenek gue kalo dia udah kecapekan."

"Lo tinggal sama nenek lo?" tanya Fang lagi.

"Iyaa. Orang tua gue di kuala Lumpur. Gue disini sekalian temenin nenek gue." jawab Ying dan ditanggapi oh panjang dari Fang.

"Kalo lo Yaya?" tanya Fang.

"Gue? Sama kayak Ying sih, cuma gue lebih suka bikin biskuit." ujar Yaya.

"Biskuit?" beo Fang dan Gopal. Boboiboy mengangkat alisnya, ia belum mendengar sama sekali soal itu.

"Iya. Kalian mau coba? Kalo mau besok gue bawain–"

"Jangan!" seru Ying tiba-tiba. Semua tatapan langsung mengarah pada cewek itu dengan bingung. Ying seketika kikuk. "M-maksud gue... kapan-kapan aja, Yaya. Kan pasti besok kita kecapekan, jadi lo pasti nggak sempet bikin. Hahaha, bener kan?" tanyanya dengan tawa canggung.

"Bener juga sih. Tapi gue penasaran mau nyoba." balas Gopal. Ying memberikannya tatapan horor, namun Gopal malah kebingungan dan tak menangkap maksudnya. Padahal Ying sedang berusaha untuk menyelamatkan mereka.

"Kita liat besok, deh. Kalo emang sempet, gue bikin." putus Yaya akhirnya.

"Lebih baik jangan, Yaya." gumam Ying dengan ringisan, tapi tak ada yang mendengarnya.

Tak butuh waktu lama, nasi goreng sosis pun dihidangkan. Yaya mengambil alih spatula yang dipegang Ying agar cewek itu menyiapkan piring plastik. Namun sebuah kesalahan besar, karena Yaya malah memegang sisi wajan panas itu ketika mau menuangkan ke setiap piring.

"Yaya, lo nggak papa?!" seru Ying panik.

Yaya meringis perih, membuat yang lainnya menghampiri penasaran.

"Nggak, sih. Cuma perih aja." kata Yaya menenangkan. Tapi sebelum yang lain berkomentar, tangannya sudah ditarik tiba-tiba oleh seseorang.

"Ikut gue."

"Eh, eh! Boboiboy, tunggu!"

Protesan Yaya tidak digubris karena Boboiboy sudah menariknya menuju tenda medis. Fang, Ying, dan Gopal melongo di tempat. Tak menyangka dengan kejadian yang mereka saksikan.

"Woi, Ying! Tadi maksud lo apa?" tanya Fang, karena dia merasa Ying tahu sesuatu soal biskuit Yaya.

Ying menepuk dahinya. "Biskuit dia gaenak!"

"Hah?!"

"Lo bisa mati kalo makan biskuit Yaya!" seru Ying.

Sementara itu, Boboiboy dan Yaya sudah tiba di tenda medis.

"Ada obat luka bakar, kak?" tanya Boboiboy pada tim medis di sana. Tangan Yaya masih ia genggam. Membuat cewek itu malu dan berusaha melepaskan diri.

"Oh, ada kak. Sebentar ya." kata kakak medis itu dan masuk ke tenda untuk mengambilkan obat yang diminta Boboiboy.

"Boboiboy. Lepas." bisik Yaya keras. Boboiboy tersadar dan segera melepaskan tangan Yaya. "Gue nggak papa. Lo ngapain sampe bawa gue ke sini?" tanyanya.

"Ya lo luka. Mau dibiarin?" tanya Boboiboy balik.

Yaya ingin membalas lagi namun kakak medis itu sudah kembali ke hadapan mereka.

"Ini, kak obatnya."

Boboiboy menerimanya sambil berterima kasih. Setelah kakak medis itu pergi, ia memberikan obat salep itu pada Yaya. Cewek itu memandangnya dengan bingung dan tidak mengerti.

"Pake. Sebelum makin parah." kata Boboiboy lalu berjalan meninggalkannya.

"Lo kenapa, sih?" seru Yaya setengah berteriak. Namun Boboiboy tak memedulikannya. Yaya berdecak kesal dan mengikuti cowok itu balik ke tempat kelompok mereka.

Setelah keduanya kembali, yang lainnya saling berdeham seolah sedang sakit tenggorokan berjama'ah.

"Luka lo gapapa, Yaya?" tanya Ying dengan tatapan penuh arti.

Yaya mengerling malas. Ia tentu tahu Ying sedang menggodanya. "Udah."

"Iya, 'kan udah diobatin. Uhuk!" sindir Gopal terang-terangan.

"Jangan mikir macem-macem, deh. Udah tugas gue sebagai ketua kelompok." sahut Boboiboy jutek.

Fang dan Gopal ber-oh panjang dan Ying tertawa keras. Yaya mendengus kesal. Apa-apaan itu?

"Udah, udah. Mending kita makan." lerai Ying.

.


.

Heningnya malam membuat seluruh bulu kuduk Yaya merinding. Ia mengarahkan senternya ke segala arah, bersiap melayangkan pukulan pada siapapun yang membahayakan dirinya. Entah jam berapa sekarang, tapi Yaya benar-benar berharap mereka bisa balik ke tenda secepatnya.

"Boboiboy. Ini beneran jalannya?"

"Bener, Yaya."

Yaya menatap punggung cowok di depannya dengan ragu. Sudah satu jam mereka mencari jalan, namun tak menemukan titik terang sama sekali.

"Kayaknya kita tersesat deh." gumam Yaya takut. Ia memandangi sekelilingnya. Tak ada tanda-tanda kehidupan maupun kelompok lainnya di sini.

"Lo bisa diem nggak, sih? Bawel." sungut Boboiboy kesal. Ia dengan hati-hati melewati jalan di depannya yang tertumpuk dedaunan.

Yaya mencibir. Bagaimana tidak? Mereka terpisah dengan yang lainnya karena sibuk mencari bendera yang sengaja disebar panitia untuk agenda jelajah malam ini. Benderanya tidak dapat, tapi mereka menjadi tersesat. Entah dimana yang lain, Yaya berharap mereka segera bertemu. Karena kalau tidak, kelompok mereka akan dianggap kalah karena tidak bersama-sama hingga akhir agenda.

"Lo tadi siang kenapa, sih?" tanya Yaya.

"Kenapa apanya?"

"Ya, tiba-tiba bersikap kayak gitu." gumam Yaya. Ia masih kesal mengingat tadi siang Boboiboy berubah sikap 180 derajat kepadanya dari waktu ke waktu.

Boboiboy menoleh padanya. Ia mengarahkan senter ke wajah Yaya, membuat ekspresi cewek itu terlihat jelas.

"Woi, silau anjir!"

"Kenapa? Lo berharap gue khawatir sama lo?" balas Boboiboy lalu mengarahkan senternya ke arah lain lagi. Ia kembali berjalan memimpin jalan, sementara Yaya mendengus di belakangnya.

"Gue nanya doang, dih. Tapi berarti, lo udah maafin gue, 'kan?" tanya Yaya penasaran.

"Belum. Ngapain maafin lo?"

"Dih. Lo bilang udah maafin gue ya tadi siang!" protes Yaya.

"Karena lo nyebelin, gue tarik lagi ucapan gue."

"Lah gabisa gitu, dong! Itu namanya curang!" seru Yaya.

"Tuh, lo nyebelin lagi. Kalo minta maaf sama orang itu, harus baik-baik. Gaboleh nyolot. Gimana mau maafin kalo gitu?" kata Boboiboy.

Yaya menggerutu sebal. "Gue udah minta maaf baik-baik ya sama lo. Kurang apa lagi coba?" dumelnya seraya menendang-nendang dedaunan di bawah kakinya, membuat Boboiboy meliriknya dengan senyum geli.

Angin malam yang dingin tiba-tiba berhembus kencang, suara jangkrik terdengar dimana-mana hingga menciptakan suasana menyeramkan. Sebuah ide jahil muncul di kepala Boboiboy. Ia berhenti berjalan, lalu berbalik badan ke arah Yaya yang langsung ditatap bingung cewek itu.

"Kenapa?" tanya Yaya was-was karena ekspresi wajahnya yang dibuat takut.

"Kayaknya kita beneran tersesat."

"TUH KAN!" teriak Yaya kesal. "Terus gimana dong? Hp kita dikumpulin, gabisa hubungin siapa-siapa. Kalo kita ilang gimana, Boboiboy?!"

"Ssttt, jangan berisik, Yaya." bisik Boboiboy pelan. Yaya mengangkat alisnya bingung. Boboiboy memberi isyarat untuk mendekatkan kepalanya yang langsung dituruti oleh Yaya. "Di balik pohon itu, ada kunti–"

"HWAAAAAAA MAMAAAAA!!!"

Yaya langsung berlari meninggalkan Boboiboy sebelum cowok itu menyelesaikan ucapannya. Boboiboy terbahak. Ia segera mengejar Yaya yang sudah ngibrit ketakutan.

"Yaya, tungguin gue!"

"Nggak mau! Gue takut! Beneran, gue nggak boong!" seru Yaya sambil berlari. Saking kencangnya, ia sampai tak melihat ke bawah dan tersandung akar pohor yang menjalar lebar. Yaya pun jatuh dengan keras tanpa bisa dicegah.

"Aww." ringisnya. Merasakan rasa perih langsung terasabdi lututnya.

"Eh, eh, lo nggak papa?" Boboiboy berseru panik menemukan Yaya sudah nyusruk di tanah. Ia membantu cewek itu bangun dari posisi tengkurapnya. "Sorry sorry, tadi gue bercanda doang–"

"Lo bercanda?!" tanya Yaya kesal.

"Iya, boong doang tadi."

"IIHHHH!" teriak Yaya kesal.

Boboiboy tergelak. Ia memegang tangan Yaya agar berdiri tegak. "Bisa jalan nggak?"

"Menurut lo?" balas Yaya sarkas.

Boboiboy berusaha menahan tawanya. Ia kemudian berjongkok di depan Yaya. "Sini naik."

"Nggak."

"Lo mau gue tinggal di sini?"

Yaya terdiam. Benar juga. Ia tidak bisa berjalan sekarang, bagaimana caranya ia kembali?

"Udah buruan naik. Sebentar lagi selesai jelajah malamnya." ujar Boboiboy.

Yaya medengus sebal. Ia menabok punggung cowok itu sebelum akhirnya naik ke punggungnya dan melingkarkan tangan ke leher Boboiboy.

"Ini semua gara-gara lo!"

"Iya, gara-gara gue."

"Gue sebel sama lo!"

"Iya, Yaya."

Boboiboy pun berjalan dengan Yaya di punggungnya. Karena kesusahan mengarahkan senter, Yaya dengan inisiatif melakukannya tanpa berkata apapun.

"Boboiboy." panggil Yaya setelah mereka saling diam cukup lama.

"Apa?"

"Gue berat, ya?"

"Iya, berat. Lo makan apa, sih?" balas Boboiboy.

Yaya mencibir. "Siapa suruh ngerjain gue?"

Boboiboy hanya tersenyum. Ia terus melangkah melewati pohon demi pohon.

"Soal masalah kita dulu, gue bener-bener minta maaf. Gue nyesel ngelakuin itu." gumam Yaya. Boboiboy mendengarnya dengan jelas karena posisi mereka yang sangat dekat.

"Kenapa? Lo kenapa ngelakuin itu?" tanya Boboiboy. "Apa lo marah, karena gue yang menang?"

"Bukan..." cicit Yaya.

Boboiboy mengangkat alisnya. "Terus?"

Yaya menggigit bibirnya ragu. Ia ingin mengatakan semuanya pada Boboiboy. Tapi...

"Yaya! Boboiboy!"

Seruan itu membuat keduanya tersentak. Tak jauh di depan mereka, Ying melambaikan tangan. Fang dan Gopal juga ada di sana.

"Itu mereka." ujar Boboiboy lega. Ia melangkah lebih cepat, melupakan obrolannya dengan Yaya tadi.

"Kaki lo kenapa? Jatoh?" tanya Ying bingung ketika Yaya turun dari punggung Boboiboy.

"Buset dah. Kemaren kena wajah panas, sekarang jatoh. Besok apa Yaya? Ketiban tenda?" sahut Gopal.

Yaya merengut kesal. "Ini diisengin, tau!" jawab Yaya dengan lirikan maut ke arah pelaku yang menyengir kuda.

"Sama? Hantu kah? Hiiii!" heboh Fang dengan wajah takut.

"Hantu palelu. Udah ah ayo, gue udah capek nih." balas Boboiboy.

Gopal dan Ying menggelengkan kepalanya. Mereka berlima akhirnya berjalan bersama menuju tenda, melupakan bendera-bendera yang harus mereka kumpulkan nanti setibanya di sana. Ah sudahlah, kalah pun tak apa.

.


.

Waktu berlalu begitu cepat. Hari ini adalah hari terakhir kegiatan kemah. Setelah membersihkan diri, semuanya diminta untuk berkumpul di lokasi api unggun, yaitu acara terakhir mereka sebelum pulang besok pagi.

Boboiboy menunggu kedua temannya untuk ke lokasi api unggun bersama. Ia memanfaatkan kesempatan itu dengan menarik napas dalam-dalam, mengatakan pada dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Fang dan Gopal keluar dari tenda dengan membawa gitar. Ternyata ucapan teman landaknya itu tidak bercanda kemarin. Kita lihat saja bagaimana permainan gitarnya.

Mereka bertiga akhirnya berjalan ke tempat api unggun. Yaya dan Ying sepertinya sudah di sana, terbukti sudah tak ada lagi siapapun di area tenda perempuan.

"Gue liat-liat lo sama Yaya makin nempel dari kemaren." komentar Fang di tengah-tengah langkah mereka.

Boboiboy memutar matanya malas. Sudah menduga pertanyaan ini akan dilontarkan. Toh mau bagaimana? Mereka sering satu tugas, jadi pasti selalu bersama.

"Lo suka ya sama Yaya?" tanya Gopal jahil.

"Berisik lo pada."

"Cieee suka nih yeee." goda Gopal dan Fang.

Boboiboy menghela napas dan mengabaikannya. Tidak akan selesai jika ia terus meladeni dua teman kampretnya itu.

Setibanya di sana, mereka langsung bergabung di lingkaran lebar dengan yang lain. Di tengah-tengah lingkaran itu ada kayu bakar yang sudah disusun membentuk kerucut. Api itu belum dinyalakan. Membuat semua teman-temannya tak sabar menunggu momen api unggun.

Setelah menunggu sebentar, acara pun dimulai. Di balik saku jaketnya, Boboiboy mengepalkan tangannya yang mulai bergetar saat api unggun itu akhirnya dinyalakan, dan semuanya bersorak gembira. Api itu membakar semua kayu dengan cepat, hingga asap membumbung tinggi ke langit.

Kemudian semuanya mulai bernyanyi dengan alunan gitar yang dimainkan oleh Fang. Wajah semua teman-temannya tampak menikmati acara api unggun yang hangat dan meriah ini, tapi hanya dirinya yang diam tak bersuara. Karena sebenarnya, Boboiboy sedang mencoba mengatur napasnya yang mulai terasa berat. Ia berusaha mengendalikan dirinya sekuat tenaga.

Tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja. Tidak apa-apa. Batinnya berkali-kali.

Namun mau sekuat apapun ia berusaha, semuanya sia-sia. Dadanya mulai terasa sesak, pendengarannya tiba-tiba mengeluarkan bunyi dengingan panjang. Boboiboy mulai merasakan panik menyerangnya ketika pikirannya mulai memutar kembali kenangan menyakitkan itu. Dari situ Boboiboy tahu. Ia sudah kalah. Ia masih sama seperti 13 tahun yang lalu. Tak ada yang berubah sedikitpun.

Dengan tubuh menahan gemetar, Boboiboy akhirnya bangkit. Ia ingin keluar dari situasi menyesakkan ini. Gopal sempat bertanya mau kemana ia pergi, ia hanya menjawab singkat akan ke kamar mandi. Setelahnya Boboiboy pergi dengan langkah cepat, beruntung Gopal tak mencurigainya yang mulai tak bisa bertahan. Boboiboy berjalan tertatih-tatih menjauhi tempat api unggun, memasuki hutan lebat yang gelap tak disinari apapun. Napasnya mulai terenggut, tangannya tanpa sadar mencengkram dadanya begitu kuat.

Tidak. Jangan. Jangan lagi.

Boboiboy tak tahu berapa jauh ia berjalan. Sampai akhirnya ia menjatuhkan diri di balik pohon besar, menyandarkan tubuhnya di sana. Napasnya terengah-engah, keringat dingin mengalir cepat di pelipisnya. Boboiboy hampir tak dapat mempertahankan kesadarannya lagi. Ia berusaha meraup lebih banyak udara untuk paru-parunya. Matanya memejam erat, namun pikirannya malah menayangkan kembali kenangan menyakitkan itu.

"Boboiboy! Cepat lari dari sini!"

Dan suara itu mulai terdengar.

"Tidak..."

"Ayah akan menyusul kamu nanti!"

"Ayah... ayah..." rintihnya di sela-sela napasnya yang tercekat.

"Pergi, Nak!"

Kedua mata Boboiboy melebar saat ia mulai merasakan napasnya hampir habis. Pikiran jahat itu terus membayanginya, memperlihatkan padanya api yang membara begitu ganas. Sesak. Panas. Sama persis yang ia rasakan 13 tahun lalu. Tapi itu semua tak sebanding dengan ayahnya yang menjadi korban lautan api itu.

"B-berhenti..."

Cengkramannya di dada semakin kuat, berharap semua penyiksaan ini cepat berlalu. Tapi tak ada siapapun disini. Ia sendirian. Tak ada yang melihatnya. Tak ada... yang menemaninya.

"Boboiboy!"

Ketika ia hampir menyerah pada tubuhnya, suara itu terdengar meski samar. Sosok Yaya tiba-tiba berdiri di hadapannya dengan wajah khawatir. Pandangan Boboiboy sudah berkabur, ia tak melihat dengan jelas saat Yaya berjongkok di depannya lalu mengguncang kuat kedua bahunya.

"Lo kenapa? Lo sakit? Boboiboy, liat gue!"

Bahkan suara Yaya terdengar sangat jauh di telinganya. Boboiboy hanya diam dengan tubuhnya yang kian lemas. Ia yakin tak bisa bertahan lebih lama lagi. Tak ada udara yang berbaik hati mengisi paru-parunya. Boboiboy sudah siap ia akan pingsan lagi.

Namun tiba-tiba Yaya menggenggam tangannya kuat. Boboiboy mendongak. Dalam pandangan buramnya, Yaya terlihat berusaha meyakinkannya.

"Boboiboy! Tenang, gue di sini... lo nggak sendiri! Tenang, Boboiboy!"

Boboiboy mengerjap pelan. Ia masih kesulitan bernapas, tapi genggaman Yaya membantunya menemukan harapan. Dibalasnya genggaman cewek itu, dan dengan perlahan ia mencoba mengatur napasnya.

"Gapapa... semuanya baik-baik aja. Lo bisa tenang,"

Meski tangannya masih gemetar, Boboiboy akhirnya dapat mengendalikan dirinya. Ia menyandarkan kepalanya ke batang pohon, memejamkan matanya erat dengan napas memburu. Ingatan itu sudah pergi, ia merasa sediki tenang sekarang.

"Gue panggil tim medis sebentar, ya?" ucap Yaya kemudian setelah merasa Boboiboy sudah bisa bernapas dengan baik. Baru saja ia akan melepaskan genggaman mereka, Boboiboy tak membiarkannya tangannya hingga ia tidak bisa kemana-mana.

"Jangan..." lirih cowok itu. Wajahnya sudah pucat pasi dengan kepala tertunduk. "Jangan... gue nggak mau..."

Yaya tertegun. Baru kali ini ia mendengar suara Boboiboy begitu putus asa. Begitu banyak pertanyaan di kepalanya, tapi Yaya berusaha menahannya karena ini bukan waktu yang tepat.

"Tapi, lo–"

"Gue gapapa..." potongnya. Yaya memandangnya ragu karena keadaan Boboiboy tampak masih jauh dari kata baik. Tetapi ia akhirnya tak membantah lagi dan duduk di sisi Boboiboy.

"Lo kenapa nggak mau yang lain tahu?" tanya Yaya. "Lo 'kan sakit, pasti semuanya bakal ngerti."

Ucapan itu membuat Boboiboy membuka matanya. Napasnya sudah kembali normal sekarang. Dengan pelan, ia melepas genggamannya pada Yaya.

"Gue nggak mau orang-orang liat kelemahan gue." balasnya. "Cukup gue yang tau."

"Dan biarin diri lo sendiri tersiksa?" tanya Yaya telak. "Kalo seandainya gue nggak liat lo jalan ke sini, apa yang bakal terjadi?"

Boboiboy terdiam dan mengalihkan tatapannya.

"Gue harap lo nggak kasih tau siapapun soal ini."

"Boboiboy..."

"Gue punya trauma, Yaya." katanya tiba-tiba. Yaya terlihat terkejut di sampingnya. Boboiboy menarik napas dalam, berusaha menguatkan dirinya untuk membiarkan Yaya tahu. "Mungkin ini terdengar konyol, tapi gue trauma terhadap api. Gue... gue bakal terkena serangan panik kalo melihatnya."

Tak ada balasan apapun dari Yaya. Boboiboy yakin cewek itu memiliki banyak kata-kata yang ingin diucapkan.

"Lo udah tau kelemahan gue. Tapi gue nggak mau lo liat gue sebagai orang yang lemah karena itu. Gue nggak mau." ucap Boboiboy.

"Setiap orang punya kelemahan, kok." balas Yaya, membuat Boboiboy menatap ke arahnya. "Dan itu sama sekali nggak salah."

Boboiboy tak membalasnya dengan memilih bersandar pada batang pohon. Yaya menghela napas dan mengikutinya, mereka sama-sama memandangi bintang di atas sana yang bertabur indah.

"Kaki lo gapapa?" tanya Boboiboy kemudian.

"Ya. Cuma luka biasa." jawab Yaya seadanya.

"Lo gapapa kalo mau balik. Gue gapapa disini sendiri."

Yaya mengangkat alisnya sebelah dan melempar tatapan ragu pada Boboiboy. Yang ditatap menghela napas lelah.

"Gue udah gapapa, Yaya."

"Nggak. Kalo lo mati, seenggaknya ada gue sebagai orang yang pertama tau."

"Jadi lo berharap gue mati?"

"Ya nggak lah, gila!"

Boboiboy terkekeh. Ia menghirup udara malam pelan-pelan yang begitu menenangkan. Rasanya seperti de javu, saat ia dan Yaya melakukan jelajah malam kemarin.

"Kok lo nggak nanya soal trauma gue?" tanya Boboiboy kemudian. Ia menatap Yaya dari samping, meneliti ekspresi cewek itu yang sibuk menatap bintang.

"Buat apa? Ceritain trauma sama aja ngebuka luka lama." katanya. "Lagian, gue juga nggak perlu tau soal itu. Karna nggak semua orang mau menceritakan lukanya, 'kan?"

Boboiboy mengerjap takjub. "Woah, gue nggak tau lo sebijak ini."

"Lo ngehina gue apa muji gue, sih?" tanya Yaya kesal.

"Dua-duanya mungkin?" balas Boboiboy seraya mengangkat bahunya.

Yaya mendengus.

"Tapi, makasih ya." kata Boboiboy lagi. "Lo udah disini nemenin gue."

Yaya terdiam ketika Boboiboy menatapnya begitu intens. Cewek itu berdeham keras, demi mengusir suasana awkward yang entah datang darimana.

"Udah, udah. Ayo kita balik. Nanti dikiranya kita hilang lagi sama yang lain." ujar Yaya kemudian bangkit dari posisinya.

Boboiboy tak langsung bangkit. Ia menatap Yaya dari bawah, membuat cewek itu mengernyit bingung.

"Satu lagi."

"Apa?" tanya Yaya.

"Gue mau ikut olimpiade. Tapi harus sama lo."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

a/n:

uhuuyy akhirnya bisa update

jujurly gue lebih enjoy nulis ff ini dripada ff kemaren. kekk apa ya? lebih santuy aja gtu? mungkin karena ceritanya lebih ringan kali yaa, wahahahaha

satu fakta udah terungkap yaa, konfliknya nanti pelan-pelan gue spill. buat chapter gue ngga ngebatesin ampe berapa, kayanya seselesainya aja. cuma update-nya kadang yg sulid, karna gue sangat sangat sibuk di rl. sabar sabar yah reader reader gue hahahaha

makasih yahh review fav followsnya! gue jadi semangat lanjutin dehh. lovyuuu guysss