7 Desember, 2010.

"Aku punya satu permintaan padamu,"

Bukan lancang, bukan tidak sopan. Tapi demi kepala keluarga Iori yang ada di hadapannya, pria berkacamata hitam di dalam ruangan itu melepasnya. Terpampang lah mata biru langit yang konon katanya tak pernah ditemukan selama 400 tahun terakhir.

"Sukuna. Kau pasti pernah mendengar dia, kan?"

Merinding. Gojo Satoru, Penyihir terkuat era modern pun langsung bergidik ketika mendengar nama itu. Ia sudah mendengar kalimat Sukuna sejak ia belajar di SMA Jujutsu- dan para petinggi juga sudah mengincar Raja dari Kutukan tersebut.

"Tentu," kata Gojo.

Sukuna merupakan penyihir terkuat sepanjang masa yang sudah eksis sejak seribu tahun lalu- dikatakan bahwa ia dipanggil Raja Kutukan yang tak terbantahkan. Membuatnya dapat eksis hingga sekarang dengan membagi kekuatannya menjadi barang terkutuk- yaitu 20 jari yang sekarang entah dimana keberadaannya.

Gojo juga pernah mendengar bahwa salah satu dari jari itu ada di kota Sendai, Prefektur Miyagi. Terakhir kali Gojo datang untuk melihatnya, tanpa konfirmasi dari SMA Jujutsu- jari itu memang ada. Namun ia tidak mengambilnya. Barang itu akan sangat mengundang energi negatif dan akan berbahaya jika dibawa ke daerah padat penduduk tanpa tabir perlindungan.

"Kami keluarga Iori memang bukan keluarga yang handal dalam turun ke medan perang. Terutama Sukuna merupakan kutukan terkuat... tapi kami percaya, suatu saat, kau.. penerus klan Gojo.."

Tuan Iori meletakkan sesuatu di atas meja. Seperti sebuah Omamori, atau lebih lumrah disebut Jimat. Bentuknya kecil, dibungkus dengan kain putih bersih dengan tali merah. Gojo mengambilnya saat Tuan Iori sengaja menggeser jimat itu di meja.

"Jika suatu saat nanti kau berhadapan dengan Sukuna, bawalah ini. Tidak seberapa, namun sudah kami simpan selama ratusan tahun. Untuk jaga-jaga jika memang malapetaka besar datang menghancurkan umat manusia," katanya. "Jimat ini melindungi keluarga kami selama ratusan tahun. Aku harap, ini dapat melindungimu juga,"

Gojo tercengang. Benda ini berisi potongan tablet kayu dengan tulisan doa- dan sudah dipastikan, telah didoakan oleh para leluhur. Gojo menatap kembali ke Tuan Iori, dengan bingung ia meletakkan kembali jimat tersebut.

"Tuan, aku..."

"Simpanlah, Gojo." Ujar Tuan Iori. "Teknik Kutukan Utahime- tarian dan nyanyiannya, dapat mendukung penuh kekuatanmu. Jika kau tidak keberatan, bawalah ia pada waktunya,"

Gojo terdiam. Melawan Sukuna? Gojo memang percaya diri bahwa ia mampu melawannya, tapi terkadang ia tidak yakin bahwa ia akan mengalahkannya. Para petinggi juga tidak memberitahunya secara langsung. Gojo Satoru memang merupakan penyihir tingkat spesial yang diandalkan sekolah untuk misi yang melibatkan kutukan tingkat tinggi.

Untuk saat ini, Gojo tidak bisa berbuat apapun selain menerima jimat itu.

"Sampai waktunya nanti tiba," Tuan Iori menghela nafas sesaat, "Jagalah putriku."


200%

A GojoHime Fanfiction

Jujutsu Kaisen by Akutami Gege

WARN : typo, OOC, OOT, sedikit kasar, author's headcanon. Mohon dimaafkan apabila ada perbedaan dengan cerita aslinya.


7 Desember, 2014. SMA Jujutsu Tokyo.

Riuh angin menghalangi pandangan Utahime yang berfokus pada Gojo di dalam domain expansionnya. Jemarinya dilenyikkan, mengarah menuju roh kutukan yang ada di hadapannya.

Ia hampid kehilangan kesadaran pada waktu itu.

Jutsushiki Junten, Ao.

Jutsushiki Hanten, Aka.

Kyoshiki : Murasaki.

"Gojo, jangan paksakan diri!!!"

...

Roh kutukan tingkat spesial tersebut musnah, begitu pula dengan Gojo Satoru yang langsung terkapar pingsan di tempat.


'Ia mimisan parah bahkan saat pingsan. Terlalu memakaakan diri sebenarnya. Tapi ia sudah baik saja saat terakhir kali aku periksa. Aku mohon bantuannya, Utahime-senpai. Jika ia kenapa-napa, kau bisa langsung hubungi aku,'

Gojo Satoru (25 tahun) dan Iori Utahime (28 tahun) pada saat itu tersisa di kamar asrama milik yang sedang terkulai lemah di ranjangnya saat ini. Sebuah misi dari petinggi dikerahkan untuk Gojo Satoru di saat kondisinya sedang tidak mumpuni- kebetulan ia sedang demam tinggi dan flu berat berkat sisa lelahnya di misi-misi sebelumnya. Suhu tubuhnya menyentuh angka 40 derajat celcius, merasa sekujur badannya nyeri, dan terlebih tenggorokannya sakit juga hidung tersumbat- Utahime bahkan kagum pria ini masih sanggup mengeluarkan energi sebesar itu untuk melakukan teknik kutukan pembalik. Buktinya, misinya selesai. Tapi orangnya juga ikutan K.O

Masih terkait dengan misi, Shoko masih membantu para penyihir yang terluka (dan ini kerjaan menumpuk di klinik asrama). Ia paham Gojo butuh istirahat lebih. Oleh karena itu, Shoko meminta Utahime untuk terus mengontrol keadaannya selagi Shoko sibuk di klinik.

Teknik pembalik kutukan itu merusak otaknya- meski itu merusak, teknik itu juga menyembuhkannya. Ia berupaya menggunakan teknik itu pada dirinya karena memang ia sudah sakit dari awal, tapi teknik itu juga memperburuk keadaannya. Ia bisa pakai teknik kutukan saja aku tepuk tangan, manusia biasa harusnya terkapar tak berdaya.

Utahime tidak mengerti. Teknik kutukan milik Gojo memang rumit. Tapi yang ia tahu, hal itu perlahan akan membunuhnya seiring membuatnya tambah kuat.

Utahime memejamkan matanya dengan tenang. Ia meletakkan kepalanya di sisi ranjang dimana Gojo tertidur. Terus terang, gadis itu tidak istirahat semalaman. Hal itu dikarenakan Gojo juga tidak bisa tidur dengan nyaman. Ia terus mengerang kesakitan sampai akhirnya obat yang diberikan Shoko bekerja. Memang efek obatnya datang agak lama, Gojo baru bisa tidur tenang di jam 6 pagi.

Sebuah pemandangan yang jarang dilihat semua orang- melihat Gojo mengeluh dan merintih. Ia yang katanya si paling kuat, tak pernah mengeluh akan hal apapun. Di hadapan Utahime, ia bahkan hampir menitikkan air mata.

Apalagi, udaranya dingin. Utahime tidak membawa baju hangat atau parka kesayangannya. Semua selimut habis digunakan di klinik untuk para penyihir yang terluka dari misi. Musim ujian anak sekolah adalah waktu yang tepat dan sangat mudah untuk menimbulkan banyak emosi negatif- itu akan melahirkan banyak kutukan yang sangat kuat. Penyihir dari SMA Jujutsu dan para guru dipersilahkan untuk melakukan "pembersihan" jadi, tidak sedikit di antara mereka yang terluka.

"Uta..."

Mendengar suara itu, Utahime terbangun.

"Iya?" Utahime menarik nafas, "Kau butuh apa? Mau minum?" Ujarnya sembari mencari air putih yang tadi sudah ia siapkan.

Tak ada balasan khusus, tapi genggaman tangan itu terasa panas. Sangat panas di pergelangan tangan Utahime. Limitlessnya dinonaktifkan. Mata biru langitnya terlihat sayu ketika Utahime menatapnya kembali. Ia tak pernah melihat sosok yang paling kuat terbaring lemah seperti ini.

"Mau minum,"

Utahime bangkit dari duduknya tanpa basa-basi, lalu meraih gelas air putih yang sudah lengkap dengan sedotannya. Sembari Gojo meminumnya, Utahime menyentuh tengkuk leher Gojo yang masih terasa panas. Demamnya belum juga turun, padahal sudah dipasang infus dan dibantu obat racikan Shoko. Tapi ia tak bisa melakukan apapun sebelum dokter itu memberi arahan.

"Apa kau kedinginan?" Tanya Utahime, berusaha membetulkan selimut yang digunakan Gojo. Pria itu kemudian bergeser sedikit ke arah sisi ranjang, menyisakan tempat di sebelahnya.

"Naiklah,"

...

Utahime bingung. Takutnya salah dengar.

"Apanya?"

Gojo menutup matanya dengan punggung tangannya. "Naiklah. Kau tidak kebagian selimut. Penghangat ruangan disini belum sempat aku perbaiki, kau kedinginan kan?"

Harusnya itu pertanyaanku.

Utahime mematung sesaat, melihat nafas berat yang dikeluarkan Gojo. Memang, kamar asrama Gojo agak terasa dingin. Selalu saja lupa untuk memperbaiki penghangat ruangan, karena kebanyakan akhir tahun ia habiskan di Kyoto. Hari ini salju turun lebih cepat dari tahun lalu. Udaranya dingin, Utahime tak membawa baju hangat, dengan Gojo yang menyuruhnya untuk gabung- sangat tidak masuk akal, tapi tepat waktu.

"Gojo, kau-"

"Aduh, Utahime. Aku tidak punya tenaga.." katanya sambil membalikkan tubuhnya dan memunggungi Utahime, "Naik atau tidak, terserah. Utahime kedinginan. Tidak tidur semalaman. Aku hanya menawarkan," katanya.

Aneh. Tapi mungkin Gojo memang sedang tidak punya energi untuk bercanda. Utahime menghela nafasnya.

"Maaf, aku ikut naik ya..."

Akhirnya, nurut juga.

Utahime membaringkan dirinya tepat di samping Gojo. Ia dapat melihat punggung pria itu yang terlihat lebar. Terasa hangat bahkan saat ia tak menyentuhnya.

Kalau orangtuaku tahu soal ini, aku akan dibunuh. Mana ada gadis kuil, tidur dengan pria yang bukan suaminya, di satu ranjang kecil seperti ini?

Gadis itu memang tidak habis pikir, tapi ia sama lelahnya. Perlahan ia pejamkan matanya, mendengar ritme nafas dari pria yang tidur di sampingnya sebagai lagu pengantar tidur. Ia merasa pergerakan dari manusia di sampingnya mengubah posisi tidur, tak lama setelah Utahime terlelap- melirik ke arahnya yang setengah tidur dan memeluknya erat. Telapak kakinya menyentuh permukaan kulit kaki Utahime yang seakan membeku- sangat dingin, sampai rasanya meleleh jika pria itu terus ada di dekatnya.

"Aku lupa kalau kau brengsek," kata Utahime, dalam setengah sadar.

Gojo tersenyum kecil, "Sebentar saja,"

Utahime tak melawan. Ia hanya diam saat Gojo mengeratkan pelukannya. Ia bisa mendengar hembusan nafasnya yang berat, namun pelan. Hangatnya kulit karena demam menyembuhkan rasa dingin yang ada pada Utahime. Aroma yang tersisa dari minyak wangi bayi yang Utahime borehkan di tengkuknya masih tercium. He still smells good, that's okay, pikirnya.

Ia nyaman. Tak perlu ada yang dikurangi atau ditambah. Ini sudah sempurna.

"Aku belum mandi loh," kata Gojo.

"Jorok."

"Utahime tak menolak,"

Betul sih. "Aku kedinginan,"

Ini semua berkat penghangat ruangan di kamar Gojo yang rusak. Utahime terlelap dalam dekapan Gojo Satoru. Ia merasa sangat mengantuk setelah semalaman terjaga akibat Gojo yang tak bisa tidur juga- hingga sekarang, lelahnya terbayar.

"Terimakasih ya, sudah menjagaku,"

"Hm..?"

"Tidak. Tidurlah,"


Astaga...

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Shoko bermaksud untuk mengganti infus Gojo dan memberinya obat sekaligus makan siang untuk yang sedang sakit juga yang sedang menjaganya. Tapi matanya malah menangkap dua insan yang sedang tertidur lelap.

Ieiri Shoko juga bukan pada tempat dan waktunya untuk terkejut. Mereka memang punya hubungan yang aneh, tapi mereka sendiri tidak pernah menyadarinya. Tapi meski kelihatannya mereka tengah istirahat, mau tidak mau infus Gojo harus diganti dan ia harus minum obat.

"Hei,"

Shoko membangunkan pria itu dan membuatnya sedikit terkejut. Ia lalu menghela nafas dan perlaha melepas pekukannya pada Utahime yang sesang tertidur.

"Apa?"

"Bukan Apa?, infusmu harus diganti, kau harus makan dan minum obat," kata Shoko, sibuk mengganti Infus yang menggantung di sisi kiri Gojo.

"Oh iya,"

"Kau mau ke kamar mandi dulu?"

"Ya,"

Iklan sejenak, Gojo Satoru bangun dari rebahannya dan berjalan ke arah kamar mandi. Shoko memijit keningnya, ia lelah, namun ya seperti itulah sahabat sejak jaman sekolahnya.

Setelah pria jangkung itu selesai dengan urusannya di kamar mandi, ia duduk di tepian ranjang dan mengerahkan tangannya untuk diganti infus.

"Bagaimana?"

"Aku masih demam, tenggorokanku masih sangat sakit. Kau tidak dengar suaraku hilang begini?"

Bicara saja sulit, tapi seperti itulah keadaan Gojo Satoru. Bindeng, suara yang hampir hilang, kesulitan bernafas. Diantara semua sakit yang pernah Gojo alami, flu dan batuk adalah penyakit yang paling merepotkan. Tapi tidak dapat dipungkiri juga karena ia sempat hujan-hujanan 3 jam nonstop tanpa istirahat dalam misinya beberapa minggu lalu, ditambah peralihan musim yang menyebabkan suhu udara semakin menurun.

"Bersabarlah. Flu dan batuk memang sulit untuk diobati secara cepat. Setidaknya demammu menurun," kata Shoko, yang tanpa termometer pun ia tahu suhu tubuhnya sudah menurun- "Mungkin sekitar 37 derajat,"

"Itu masih demam," kata Gojo.

"Kau awalnya 41 derajat, Udah kayak gunung meletus," kata Shoko, memberesi barang-barangnya dalam satu wadah dan mengangkatnya.

"Benerin kenapasih penghangat ruanganmu. Kasian Kak Utahime," Shoko masih mengomel, "Makanannya aku taruh di meja, hangatkan dulu sebelum disantap. Obatnya juga dihabiskan," lanjutnya.

"Baik, bu," kata Gojo sambil mengejek Shoko.

Shoko kesal, "Awas ya kalau Kak Utahime ketularan, aku akan menyalahkanmu pokoknya." ujar Shoko.

"Kau akan membangunkannya, kasihan dia tidak tidur semalaman!" Seru Gojo sambil meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya.

Perempatan urat muncul di dahi Shoko, "Ya gara gara kau tau gak!" Katanya. Shoko menghela nafas dan beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.

"Gojo, kau itu...

bego banget, asli."

"Ha?"


TBC