200%
A GojoHime Fanfiction
Jujutsu Kaisen by Akutami Gege
WARN : typo, OOC, OOT, sedikit kasar, author's headcanon. Mohon dimaafkan apabila ada perbedaan dengan cerita aslinya.
2 January, 2017.
"Aduh aduh, masuk angin ya, jadi flu begini. Salju di luar banyak tuh, Utahime. Sayang kalau gak kau telan-"
"Bisa gak? SEHARI saja, kau biarkan aku istirahat dengan tenang?"
"Kalau gak ada aku, nanti sakit Utahime tambah parah gak sih karena kangen?"
"Sinting,"
Hiksrot.
Utahime terus-terusan menarik ulur lendir putih yang ada di hidungnya. Kepalanya tidak terlalu pusing, tapi susah bernafas membuatnya jadi agak sensitif- apalagi menghadapi Gojo yang pagi buta sudah bikin kesal.
1 Januari kemarin, kuil banyak dikunjungi, Utahime jadi kurang istirahat. Sementara Gojo pergi untuk mengecek keadaan di sekolah Kyoto, Utahime bertugas menjaga kuil dan melakukan tugasnya sebagai gadis kuil- yang sudah pasti akan sangat sibuk di udara yang dingin pagi hari tahun baru. Boro-boro pakai furisode, Utahime hanya ingin berbaring di futon yang sudah dihangatkan dengan jaket lima lapis. Dingin banget, asli.
Hal itu berujung kepada hidung mampet dan kepala yang pening. Tidak separah waktu Gojo sakit, tapi merepotkan juga ketika hidungnya tersumbat (bahkan keduanya) untuk beberapa waktu dan membuatnya harus bernafas lewat mulut. Menyebalkan!
"Ayo sembuh, Utahime. Besok kita balik ke Tokyo loh..."
Aore ini, Utahime sedang berbaring di kotatsu yang sudah dinyalakan penghangatnya. Gojo Satoru ada di sebelahnya, sambil minum susu jahe hangat yang sengaja ia buat dengan harapan bisa membantu Utahime dengan flunya. Pria ini memang baik, tapi kadang sinting.
"Andai semudah itu," kata Utahime. "Kenapa pula pak Yaga membutuhkanku?"
"Mana aku tahu?"
Utahime menghela nafas, meraih selembar tisu untuk mengelap aliran cairan bening dari hidungnya (atau lebih akrab dipanggil ingus) dan menyumpalnya sesaat. Keningnya terasa sedang ditekan benda berat, padahal tidak ada apa-apa.
Yaga semalam menghubungi Gojo, menanyalan dimana ia sekarang. Gojo bilang ia ada di Kyoto, tepatnya di kediaman Utahime- tidak penting, tapi membuat Yaga agak terkejut. Yaga bilang kalau Utahime harus datang ke Tokyo setidaknya besok malam, karena akan ada misi yang harus ia lakukan.
"Kenapa pak Yaga mengirim Utahime sendirian ya? Utahime kan tidak bisa apa-apa tanpaku,"
Keinginan Utahime untuk melempar remot teve yang ada di tangannya ke arah Gojo meningkat menjadi 200%. Tapi ia terlalu pusing untuk melakukannya. Jadi ia biarkan Gojo kali ini. Lain waktu, ia akan benar-benar memukulnya. Sungguh.
"Oh ya? Si paling kuat, kalau kau bersedia, ikut saja denganku. Kalau bisa, kau yang melakukannya, biar aku istirahat sendiri di rumah," ujar Utahime kesal.
Gojo meliriknya.
Ia kemudian membuka ponselnya dan melihat nama Yaga-sensei di layarnya. Ia kemudian memencet simbol telefon di layarnya.
"Halo? Yaga-sensei?"
...
"Hm. Utahime sakit, ia flu berat. Katanya biar aku saja yang maju, apa tidak apa-apa?"
Utahime menoleh. "Katanya" ?! Dasar gelo!
...
"Sungguh? Baiklah, aku kembali kesana besok pagi. Tidak apa, aku akan sampaikan pada Utahime. Terimakasih,"
...
"Baik pak,"
Gojo Satoru menutup telefonnya. Utahime tak bereaksi apapun pada itu, ia hanya mencoba memejamkan mata sambil perlahan merasakan hidung mampetnya yang membuat ia kesulitan bernafas.
"Tuh, aku baik, 'Kan? Jadinya aku deh yang ngerjain misinya Utahime. Besok aku pulang, jangan kangen ya,"
Utahime tak menjawab. Kepalanya pusing. Tapi ia mendengarnya, dan sudah tidak punya tenaga untuk membalas gurauan Gojo Satoru saat itu. Perlahan ia kehilangan kesadaran, dan akhirnya terlelap di kotatsu samping Gojo duduk.
Tahun baru kali ini memang melelahkan. Sudah dua tahun baru terakhir Gojo habiskan di rumah keluarga Iori, entah sekadar meramaikan atau membantu sedikit kegiatan di kuil. Ia juga kenal baik dengan orang tua Utahime, sementara keluarganya tidak ada di Kyoto, sekarang orang tuanya Utahime terasa seperti ibu dan ayah sendiri. Rumah Iori pun sudah menjadi seperti tempat peristirahatannya, meski ia tetap pulang ke rumah keluarga Gojo yang tak jauh letaknya. Hanya sekitar 4 kilometer dan 15 menit perjalanan dari rumah Ieiri.
Melihat Utahime terlelap, ia menghela nafas.
"Sudah tahu sakit, malah ketiduran disini.."
Perlahan ia mengangkat Utahime dan membawa tubuh mungil gadis kuil itu ke kamarnya. Gojo kemudian segera merebahkannya di ranjang kamar Utahime, lalu menyelimutinya karena udara dingin di awal tahun akan sangat merepotkan bagi orang yang sudah kena flu. Pria itu duduk di pinggiran ranjang dan melihat wajah Utahime yang kemerahan di sekitar hidungnya, menandakan kalau flunya cukup berat. Kemudian pria itu tersenyum, dan menyibakkan rambut hitam legam yang menghalangi pemandangannya.
Ia sudah lama mengenal Utahime. Cukup lama sampai ia tahu apa kebiasaan dan bagaimana caranya hidup selama ini.
Pria itu dibilang menyebalkan dan konyolnya, ia menerima fakta itu. Ia sudah memperhatikan Utahime sejak lama, sejak ia pertama kali bertemu. Saat itu, Gojo hanya berusia 7 tahun. Utahime sendiri saat itu sekitar 9 atau 10 tahun. Pandangannya pada masa itu seakan ia menganggap Utahime sebagai kakak yang melindunginya.
Ah, ia ingat saat ia menangis karena ada yang merundunginya. Saat itu, Utahime yang melindunginya, meski mereka belum kenal satu sama lain. 'Jangan ganggu adikku!' Kata Utahime kecil. 'Kau tidak apa-apa? Ini aku punya permen, sisa satu, tapi untukmu saja. Namaku Utahime, namamu siapa?!' Katanya. Saat itu, Gojo sangat pemalu, dan masih sedih karena dirundung teman sebayanya karena ia berbeda sendiri di lingkungan teman sekolahnya.
Ya, si rambut putih dengan mata biru menyala, siapa yang tidak takut dengannya? Dibilang alien, bocah aneh, hantu! Gojo menerima rundungan itu semua, membuatnya sempat menjadi bocah yang pendiam. Tapi Utahime hadir- mendobrak kehidupannya tanpa sopan santun. Melindunginya seakan ia adik kandungnya.
Mengingat hal itu, Gojo tersenyum lebar. Entah kenapa memori itu jadi berputar dalam ingatannya.
Manusia takut akan kesepian, dan itu yang membuat mereka lemah.
Pernah Gojo mendengar kalimat itu, entah di mimpinya atau orang yang lewat. Ia mengakui kalau hal itu benar. Yang terkuat pun begitu setuju pada statement yang tak seberapa itu.
Gojo Satoru terkenal akan kekuatannya yang diakui sebagai penyihir terkuat di era modern saat ini. Ia dituntut untuk tidak pernah takut akan hal apapun. Sekalinya begitu, Gojo Satoru tetaplah manusia- dalam kesendiriannya, ia terkadang merasa sepi.
Kehilangan sahabatnya satu persatu, harus membunuh sahabat terdekatnya pula. Menjadi ketua klan di keluarga yang tidak punya anggota- hanya ia sendiri, mengemban titel penyihir terkuat. Tapi ia tak pernah menitikkan satu bulir air matapun- satupun tidak.
闇より出て,
Muncul dari kegelapan,
闇より黒く,
Lebih hitam daripada kegelapan,
その汚れを禊祓。
Sucikan ketidakmurnian ini.
Sebuah selubung mulai menyelimuti area yang Gojo pijaki sekarang. Matanya melihat ke arah gedung tua, masih dipakai sebagai perkantoran, tetapi energinya sangat besar dan berbahaya. Pemuda itu menghela nafas, mulai curiga kalau misi yang harusnya diberikan kepada Utahime ini sebenarnya misi yang diberikan kepada penyihir tingkat khusus sepertinya. Utahime adalah penyihir semi-kelas 1, yang menurutnya misi ini mungkin akan lebih menyusahkan jika Utahime berangkat sendirian.
Gojo bersyukur malah ia yang berangkat. Kalau Utahime, ujung-ujungnya gadis itu akan hilang kabar selama dua hari lagi dan ujungnya Gojo juga yang akan membantunya. Bukan berarti Utahime lemah, tapi memang ini bukan misi untuknya.
Perkantoran, rumah sakit, sekolah. Tempat-tempat berikut dapat menciptakan energi negarif yang kuat dan dapat melahirkan kutukan baru. Hal itu dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan- seperti pada laporan misi, yang menuliskan bahwa beberapa orang menghilang dan ditemukan tidak bernyawa berbulan-bulan kemudian. Anehnya, tidak ada sisa energi kutukan yang ditemukan di jasad tersebut.
"Mungkin maksudnya Utahime diminta untuk melacak sisa energi kutukan ya..." kata Gojo, lalu mulai menginjakkan kaki di area perkantoran yang pada malam itu kosong penghuni.
Anugerah yang ia miliki lada mata birunya belum dapat merasakan energi kutukan yang ada. Tapi di satu helaan nafasnya, ia merasa hawa udara dalam gedung itu sangat berat. Memang ada yang tidak beres, tapi Gojo Satoru pun tidak tahu ada apa.
Pria itu naik ke lantai dua. Mulai melihat beberapa jejak energi. Tapi ini aneh, dan tumben. Energi ini terasa sangat besar, walau jejaknya sedikit. Ia mulai merasa sedikit pusing, dan memijat punggung dahinya. Matanya mulai terasa berat. Dengan teknik limitless yang baru aktif, ia baru mulai merasa mendingan.
Kacamata memang tidak selalu efektif, batinnya.
Ia melanjutkan ke lantai tiga. Di lantai ini, baru dia melihat biangnya. Tidak berbentuk, hanya asap dan bayangan hitam. Gojo Satoru pun merinding, namun ia tetap mendekati makhluk yang entah apa namanya itu. Di sekelilingnya gelap gulita. Jendela ditutup dengan bayangan yang dibuat roh kutukan itu.
Sangat gelap. Ia kesulitan untuk melihat aliran energi itu.
Gojo tidak gentar. Ia merasakan ada beberapa barang yang terlempar ke arahnya, namun limitlessnya melindungi pria itu. Ia baru mengerti kenapa Utahime dikirim ke misi ini- urusan melacak energi Utahime memang tidak akan terganggu seperti Gojo yang sekarang merasakan banyak hal. Tapi jika menghadapinya, mungkin Gojo akan cocok.
"Aku dengar wanita muda yang akan datang kesini. Kenapa malah pria keparat sepertimu?"
Makhluk itu mulai bicara. Gojo tertawa sedikit.
"Heh, bicaramu seperti germo licik yang mesum," kata Gojo.
"Aku banyak dengar tentangmu, Gojo Satoru..."
Asap hitam nan tebal itu menyelimuti sekeliling Gojo. "Penyihir terkuat era modern, huh? Mereka harusnya malu punya penyihir sepertimu,"
Pria itu mulai merasakan bayangan tersebut menabrak limitless. Tapi asap itu- entah kenapa bisa menembus dinding tak terlihat yang perlahan membuat nafasnya tak teratur. Gojo masih bisa menahannya.
"Kau hanya kutukan yang tak dikenal, tapi sembrono," kata Gojo, sambil menahan nafasnya.
"Kau sendiri?"
Gojo terdiam.
"Ah, sangat indah apabila aku bisa menghabisimu. Anggota keluarga terakhir Gojo, tanpa ada penerus... bayangkan dunia ini akan hancur jika kau mati," katanya. "Akan sangat indah, bukan?"
"Meremehkanku bukan pilihan yang bijaksana,"
Domain Expansion : Unlimited Void.
"Naif, kau tahu aku tidak punya wujud,"
Gojo tahu itu. Tapi yang lebih penting, Gojo tahu apapun bentuk makhluknya, perluasan domainnya akan tetap dapat menemukan inti dari kutukan dan menghancurkannya. Ia hanya tidak ingin berlama-lama berurusan dengan sosok tak terlihat seperti ini.
Agak sesak. Tapi Gojo bisa menahannya.
"Utahime, itu wanita yang tadinya mau ke sini, kan?"
Masih bisa bicara ternyata. Seharusnya sudah terpapar efek dari domain meski sedikit.
Pergerakan asap hitam itu perlahan melambatkan gerakannya.
"Aku tahu dia penting bagimu, Gojo Satoru... tapi hal baiknya, malah kau yang datang..Akan lebih bagus untuk menghancurkanmu daripada-"
Gojo memegang sesuatu dan mencengkramnya dengan keras. Itu lehernya. Meski kesulitan, Gojo dapat melihat sedikit aliran kutukan yang ia target. Perluasan domain yang ternyata tidak terlalu berguna pada kutukan ini agak mengejutkan Gojo, jadi ia memilih cara cepat untuk menggunakan kekerasan.
"Kau berisik, seperti anak sekolah yang baru pubertas. Jangan sekali-kali kau berani sentuh dia,"
"Atau apa?"
Energi yang dikeluarkan limitless Gojo meluap-luap, bahkan setelah pertanyaan terakhir yang diucapkan. Gojo terus mencengkram leher itu sampai ia benar benar meledak dan hawa berat nan gelap itu menghilang. Gojo kesulitan mengatur nafas, meski ia dapat menyingkirkan kutukan itu dengan mudah.
Ia batuk-batuk kemudian, bahkan batuknya mengeluarkan darah. Pria itu berlutut, menahan sakit dari rongga dadanya karena batuk tanpa henti setelah kutukan itu musnah. Untuk beberapa saat ia muntah darah, lalu terkapar pingsan setelahnya.
Tidak ada yang boleh menyakiti dia,
ini giliranku untuk melindunginya.
TBC
