200%

A GojoHime Fanfiction

Jujutsu Kaisen by Akutami Gege

This chapter's rating : M (Read at your own risk)

WARN : typo, OOC, OOT, sedikit kasar, author's headcanon. Mohon dimaafkan apabila ada perbedaan dengan cerita aslinya.


3 January, 2017.

Saat mata biru langit itu belum terbuka, ia menangkap energi hangat. Tangan mungil itu tengah menggenggam telapak tangannya yang agak kaku dan dingin.

Saat pria 28 tahun itu tersadar, ia sudah ada di ruang asrama lama milik Gojo Tokyo. Awalnya ia di rawat di ruang perawatan intensif, tapi Shoko bilang Gojo akan lebih nyaman istirahat di kamarnya sendiri. Di sebelah kanannya, ia melihat sosok wanita dengan pita putih khasnya, Iori Utahime, membaringkan kepalanya di sisi ranjang tepat dimana Gojo terlelap.

Kutukan itu memang bukan level khusus, tapi benar-benar mematikan. Tak terbayang bagaimana jadinya jika Utahime yang malah pergi. Gojo menghela nafasnya dan memijit kepalanya sebentar, untuk melepas sisa sakit kepala yang dideritanya. Sangat merepotkan.

"G..Gojo..?"

"Hm,"

Wanita itu perlahan mengangkat kepalanya. Ia ikut menarik nafas dan menghembuskannya dengan lega, "Astaga, syukurlah kau baik-baik saja.."

Pemandangannya menangkap kalau manik mata madu itu memiliki ruam merah di sekitarnya. Matanya bengkak. Hidungnya yang merah karena flu, tangannya yang hangat entah karena dari heating pad yang dibawanya atau memang demam ringan yang ia rasakan. Apa ia menangis semalaman? Gojo enggan berspekulasi. Pria itu bangkit dari tidurnya dan duduk di ranjang perawatan itu.

"Pak Ijichi bilang kau sulit dihubungi, ternyata pingsan.. bisa-bisanya, kau membuat semua orang khawatir," kata Utahime.

Sebuah keajaiban bagi Gojo Satoru untuk menyelesaikan misi selama berjam-jam lamanya. Biasanya, hanya dalam hitungan menit- untuk misi yang bukan level khusus. Ia ditemukan pingsan oleh Ijichi sekitar 7 jam setelah selubung yang ia buat sudah hilang dengan sisa batuk dan muntah darahnya. Mengerikan, seperti bukan Gojo yang biasanya.

"Utahime,"

"Ya?"

"Kemarilah,"

Utahime tidak berpikir panjang. Saat wanita itu mendekatkan diri, Gojo menariknya ke dalam pelukannya. Terasa menenangkan seperti biasanya. Indera penciumannya dapat merasakan aroma minyak bayi yang Gojo tahu menjadi favoritnya Utahime. Gojo tersenyum, dan mengeratkan pelukannya. Sekali lagi, ia bersyukur masih bisa keluar hidup-hidup dari sana.

"G-gojo?"

"Jangan-jangan, selama aku pingsan, Utahime nangis ya? Matanya bengkak tuh,"

...

Tersangka belum mau mengaku, Utahime hanya terdiam sendiri dalam pelukan Gojo. Beberapa saat kemudian, ia mengistirahatkan kepalanya di bahu Gojo. Helaan nafasnya terasa bergetar. Pria itu tak bicara apa-apa lagi.

"Aku hanya bersyukur kau baik-baik saja,"

Utahime melepas pelukannya.

Telapak tangan yang terasa dingin di permukaan kulit wajah Utahime membuatnya ingin meraih punggung tangan itu. Udaranya dingin berkat hujan salju yang sedang berlangsung di luar, kondisinya hening. Hanya ada suara teve dengan volume terendah yang menghiasi. Gojo tak terganggu dengan hal itu. Yang ada dalam kepalanya sekarang hanyalah Utahime.

Hanya wanita itu yang ada dalam pikirannya selama bertahun-tahun.

Entah apa yang ia rasakan saat ini. Terasa seperti ada yang menggenggam erat benaknya. Ia dapat mendengar degup jantungnya sendiri, dan merasa pikirannya melayang. Seperti orang gila, ia berani bersumpah wanita di hadapannya adalah sebab dari apa yang ia alami sekarang. Rambut hitam legam yang dikuncir dengan pita putih khasnya, luka yang menghiasi wajah mulusnya, manik mata warna madunya, gerutu dan ocehannya saat ia menjahilinya, semua terukir dalam batin Gojo Satoru. Yang pria itu pikirkan hanyalah Utahime, kau sangat sempurna.

Tanpa ia sadar, ia jatuh hati.

Maafkan aku karena tak ada di samping mu saat kau mendapatkan luka itu

Maafkan aku yang pernah melukai perasaanmu

Aku tak akan begitu lagi, aku janji.

Aku janji, selamanya.

"Gojo..?"

Gojo mendekatkan wajahnya ke Utahime dan berhasil mendaratkan bibirnya pada bibir milik Utahime. Tentu, wanita 2 tahun lebih tua itu terkejut. Dengan tangan dinginnya yang menyentuh tengkuk lehernya, yang satunya lagi meraih pinggulnya supaya ia makin dekat dengannya, membuat Utahime sedikit hilang akal. Jantungnya berdegup kencang, terasa seperti ada yang menggelitik di perutnya. Sial, pikirnya. Aku tak boleh lengah! Tapi nyatanya, ia terbawa suasana.

Sentuhan itu begitu lembut, dengan gerakan yang sangat pelan. Ia menikmati sisa manis dari lipbalm stroberi yang digunakan Utahime pagi ini. Tangan itu terus menariknya lebih dekat, hingga pria itu sendiri yang akhirnya mengangkat tubuh mungil tersebut ke pangkuannya. Gerak-geriknya mengartikan kalau Gojo tak ingin memburu-buru. Tapi Gojo bukan pria yang bisa sabar.

Mereka saling menatap untuk sesaat. Utahime saat ini tengah berada di atas pangkuannya. Mata biru itu seakan menghipnotisnya- ia tak bisa menolak, seakan tubuhnya dikontrol untuk bergerak dengan sendirinya. Tanpa ada pembicaraan lebih lanjut, mereka melanjutkan aktifitasnya.

Ciuman itu dilepas beberapa menit kemudian. Utahime tak berkata apapun. Wajahnya semakin memerah ketika pria itu mulai perlahan mendaratkan bibirnya di area leher. Tangannya mulai bermain, mencoba untuk mengendurkan ikatan yang ada di kimono putih khasnya. Merinding seketika tubuh Utahime ketika nafasnya mendarat di kulit polos itu.

Sudah sejauh ini.

Bukan hanya sekadar kecupan, ia meninggalkan jejak gigitan di sana. Hal itu membuat Utahime sedikit mengerang, tangannya ia sandarkan di bahu Gojo sambil meremas baju rumah sakitnya.

"G-gojo!"

"Maaf, aku harus meninggalkan jejak,"

Mendengarnya, Utahime blushing brutal. Ia tak bisa melawannya lagi.

"Utahime,"

"Apa?"

"Boleh?"

"Sempat-sempatnya minta izin,"

Gojo tertawa sedikit disela-sela ia menghujani leher Utahime dengan kecupan. "Kalau tidak, aku berhenti di sini,"

Utahime tak menjawab. Pria itu bilang berhenti di sini, tapi masih saja melanjutkan aktifitasnya.

"Bagaimana?"

Utahime kalah. Dia sudah kalah dari awal ciuman itu terjadi.

Wanita itu memeluk Gojo. Ia bisa merasakan telapak tangan yang besar itu menggerayangi punggung polosnya.

"Aku tidak yakin kau akan benar-benar berhenti kalau aku bilang tidak," kata Utahime.

"Utahime benar-benar kenal aku," katanya, "Aku akan pelan-pelan,"

Merasa sudah memegang izin, tanpa basa-basi ia melepaskan kain yang menangkup si kembar dan membiarkan mereka bernafas dengan bebas. Degupan jantungnya beradu cepat, pria itu dapat mendengarnya saat membenamkan wajahnya di area itu.

"Jangan gugup," kata Gojo. "Aku jadi ikutan gugup,"

Utahime tak menjawab. Sementara pria itu melepas pakaiannya satu persatu, mereka bertukar posisi. Gojo meminta Utahime untuk berbaring, sementara ia sendiri sibuk memposisikan dirinya.

Gojo terdiam sebentar. Ini baru pertama kali ia melihat gadis kuil itu dalam keadaan polos tanpa benang di hadapannya. Untuk sepersekian menit, ia sedikit merasa bersalah. Tapi ini membuatku sungguh gila, Utahime, kau sangat cantik.

"J-jangan lihat aku seperti itu," ujar Utahime pelan, dengan tangannya entah mau menutup si kembar atau menutup area privasinya yang masih dilindungi. Gojo terkekeh sedikit.

Ciuman itu kembali terjadi. Kali ini, telapak tangannya mulai mendarat di si kembar Utahime. Tanpa memberi jeda, ia perlahan memberi sedikit sentuhan di dua gunungan itu. Jemarinya memusatkan perhatian kepada titik terkumpulnya saraf yang menjadikan area itu sangat sensitif sehingga permukaannya mulai mengeras. Hembusan nafas yang keluar dari mulut Utahime setiap jeda yang diberikan Gojo terdengar seperti lagu di telinganya.

"Satoru.."

Saat kecupan itu di lepas, tangan mungil Utahime memegang bentuk bidang dada milik Gojo. Di kesehariannya, ia biasa melihat Gojo berlatih ataupun bertarung tanpa menggunakan kaus- tapi sekarang, semua proporsi tubuhnya membuatnya gila. Pandangan matanya menyapu seluruh permukaan tubuh Gojo, namun ada satu yang mengganggunya di sana.

Astaga. Batin Utahime.

Utahime adalah gadis kuil. Tentu image polos dan murni sudah terlukis di namanya. Tapi setidaknya ia mengerti, meski sedikit, soal cara bagaimana manusia melakukan reproduksi. Setidaknya itu yang pernah diajarkan semasa SMA.

Mendengar Utahime menyebut nama Satoru sedikit membuatnya hilang kontrol. Ia tak menjawab panggilan itu, dan terus memberikan surga dunia bagi Utahime dengan memberi tanda kasih sayang kepada si kembar itu.

"Satoru!"

ah, ya, indah sekali untuk didengar.

"Apa?"

"Kau..." Utahime kesulitan melanjutkan pertanyaannya, karena ia tahu pria yang ada di dekapannya ini tengah berusaha melepaskan celana yang melindungi area privasinya.

"Satoru...,"

Ia tahu Utahime tak bisa melawannya sejauh itu.

"Apa?"

"Kau sering melakukan ini..?"

Gojo tersenyum.

"Kalau iya, apa Utahime cemburu?"

Utahime tak menjawab. Ia tak punya kesempatan merespon pertanyaan Gojo sedang pria itu sudah memposisikan dirinya untuk memakan Utahime.

"Sedikit," kata Utahime.

Gojo terkekeh sedikit, "Bohong,"

Pria itu mulai mendaratkan mulutnya di pita milik Utahime, menyebabkan wanita itu mengerang. Lidahnya mulai menjelajahi setiap centimeter dari pita itu, mencoba untuk membuat bahwa Utahime siap.

"S-satoru, jangan..."

Gojo Satoru tidak mendengar. Ia bisa melihat energi yang terkumpul di area yang sekarang ia kerjakan.

"Utahime harusnya cemburu buta kalau aku melakukannya dengan wanita lain,"

Sialnya, aku setuju. Tapi ini bukan saatnyauntuk bicara seperti orang gila, batin Utahime. Gojo terus melakukan aktifitasnya, membuat musik yang dikeluarkan dari Utahime. Seperti terbang ke surga, Utahime merasa sangat berdosa untuk mengakui kalau setiap sentuhan yang diberikan Gojo sangat membuatnya nyaman.

Pria itu menghentikan kegiatannya, tangannya mengelap mulutnya perlahan. Ia mulai melepas yang sudah dikurung sejak tadi. Saat Utahime melihatnya, wanita itu terkejut. Ia menutup matanya karena malu, sementara Gojo berusaha kembali membuka kaki Utahime lebih lebar. Pria itu memposisikan dirinya untuk lebih dekat ke Utahime hingga ia bisa memeluknya.

"Akan sakit, tapi hanya sebentar,"

Utahime tak menjawab saat Gojo berbisik akan hal itu. Ia merasa ada yang masuk ke liangnya, membuat Utahime bergidik ngeri karena perih yang dirasa. Tangan itu menjambak surai putih Gojo dan menggigit bibir bawahnya. Air matanya juga mengalir perlahan.

"S-sakit, Satoru.." katanya, sambil mengatur nafas. Ia tak percaya akan sesakit ini, namun Utahime menerima Gojo dengan sambutan hangat di sana.

"Sebentar, sayang," ujar Gojo. "Maaf.."

Pria itu mulai bergerak, ia mulai merasakan ada cairan yang hangat menyelimuti. Saat ia menoleh, itu darah. Gojo pada saat itu langsung merasa bersalah. Ini pertama kali bagi Utahime. Utahime juga tak berpikir panjang. Gojo ada dalam dirinya, dan ia tidak menolak. Meski sakit rasanya, tapi ia percaya kepada Gojo.

Ia sangat percaya kepadanya.

Gojo mulai bergerak. Perlahan, namun pasti. Ia terus menambahkan ritmenya agar lebih cepat. Utahime tak bicara apapun, hanya terdapat lantunan musik bagi Gojo darinya.

"S-satoru.."

Gojo tak membalasnya. Ia terus memberinya hentakan. Kedua manik matanya bertemu, menatap penuh perasaan. Seakan mengatakan, sialnya aku jatuh terlalu dalam padamu.

Semua perasaan terbalaskan malam itu. Utahime berada di dalam rangkulan Gojo, dengannya yang bersatu. Tak ada penyesalan bagi mereka berdua, hanya ada satu jawaban.

Mereka saling jatuh cinta, hanya enggan mengakui saja.


4 Januari, 2017.

"Bagaimana Gojo? Apa dia sudah baikan?"

Utahime dengan wajah cemberutnya, menunjuk ke arah Gojo yang sudah sehat walafiat untuk menjawab pertanyaan Shoko siang itu. Yah bagaimana tidak.

"Aman sentosa!" Seru Gojo. "Berkat Shoko dan sedikit bantuan Utahime," lanjutnya.

Sinting, batin Utahime. Wajahnya memerah.

Shoko bingung, tapi ia melengos. "Baguslah kalau begitu. Ternyata memang ada kesalahan dalam laporan, kalau kutukan itu ternyata tingkat khusus. Aku tak tahu sih harus bilang, untung Gojo yang berangkat. Tapi Gojo aja pingsan melawannya," jelas Shoko.

Gojo tertawa sambil meletakkan tangannya di kepala Utahime, "Yah! Kalau aku saja pingsan, Utahime apalagi! Bisa bisa ia hilang diculik sama kutukan itu-"

"GOJO!" Utahime menebas tangan yang ada di kepalanya itu. "SOPAN SEDIKIT SAMA KAKAK KELAS!"

"Wlee," Ejek Gojo.

Shoko menghela mafas, "Ya, lanjutkan saja. Yang penting semua selamat," Shoko bergegas untuk pergi, "Aku harus ke rumah sakit, pergi dulu."

Gojo dan Utahime melihat bayangan Shoko yang semakin menjauh dari penglihatan. Gojo menghela nafas, dan tersenyum lebar.

"Utahime,"

"Apa?"

".. Galak banget,"

Utahime mencoba mengatur emosinya. "Apa maumu?"

"Bagaimana kalau Utahime menikah denganku? lagipula kan Utahime sudah tidur denganku k-"

Sebelum Gojo menyelesaikan kalimatnya, Utahime sudah menutup mulut Gojo hingga membuatnya hampir jatuh. Hebatnya, Utahime melakukannya lebih cepat sebelum limitlessnya diaktifkan.

"BERISIK, DASAR MESUM!"

Setelah itu, Utahime pergi darinya.


TBC