"Kak Lintar, Solar, apa yang sebenarnya terjadi disini?" Blaze mengedarkan pandangannya hanya untuk menyadari bahwa mereka bertiga berada di tengah kabut kelabu yang menghalangi mata untuk melihat lebih jauh. Dia kembali melihat ke dua saudaranya yang berdiri saling berdekatan, "Tempat apa ini?" tanyanya kembali karena tidak kunjung mendapat balasan.

Kedua orang itu tetap diam, hingga tiba-tiba pemuda bermata abu tertawa keras.

"HAHAHAHAHAHAHAHAHA—!"

Blaze melotot ngeri karena adik bungsunya—Solar tiba-tiba tertawa aneh, "Oy! Ada apa denganmu?!" Blaze merapatkan diri pada si kakak sulung—Halilintar, kemudian memeluk lengan kanan kakaknya itu sambil mendelik menunjuk ke Solar, "Lakukan sesuatu padanya, kak! Kurasa dia menjadi gila!"

"HAHAHAHA... " Solar mengusap air yang menggenang di pelupuk matanya, kemudian menatap Blaze jengah, "Sial. Aku memang sudah gila sekarang."

"Apa?" Blaze bingung. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi. Adik bungsunya itu kembali tertawa—yang baru disadari Blaze itu adalah tawa frustasi. Mendengar tawa itu membuat Blaze ikut terbawa stres, dia menarik lengan kakak sulungnya yang masih diam hingga sekarang, "Apa yang terjadi sebenarnya? Kak Lintar, jangan diam saja!"

Tidak juga mendapat balasan dan suara tawa Solar yang belum juga usai, Blaze berteriak frustasi. Dengan kasar dia putar tubuh kakak sulungnya itu agar tepat menghadap ke arahnya. Sedetik kemudian dia termenung menyadari tatapan kosong dari mata merah Halilintar.

Blaze melepas pegangannya pada kedua lengan Halilintar. Dia bingung. Perlahan-lahan dia berjalan mundur menjauh dari kedua saudaranya itu, namun berhenti saat menyadari dia tinggal selangkah lagi untuk bersatu dengan kabut kelabu. Firasatnya mengatakan dia akan menghilang jika sampai benar-benar menginjakkan kaki keluar dari lingkup yang dikelilingi benda aneh itu.

"Kita terjebak."

Halilintar tiba-tiba membuka suara. Namun Blaze tidak kunjung merasa aman karena kakaknya itu berbicara begitu datar dan dingin dengan mata yang masih memandang kosong.

"KITA TERJEBAK! HAHAHA—!"

Blaze merinding. Adik bungsunya masih tetap tertawa setelah mengulang kalimat Halilintar tadi.

"T-terjebak dimana?" tanya Blaze pelan. Dia benar-benar merasa tidak nyaman dengan dua saudaranya itu, mereka seperti sudah hilang akal karena sesuatu yang tidak Blaze mengerti.

Tawa Solar berhenti. Suasana langsung hening.

Kemudian jawaban dengan nada datar keluar dari bibir tipis sang kakak sulung.

"Permainan kematian."