AN: Karena tadi pagi ada yang bilang kangen fic asucaga jadi mau iseng up ini aja. Tapi entah kapan selesainya haha.
Meskipun asucaga nya ga begitu kerasa, semoga bisa sedikit membantu hehe
Disclaimer: Sunrise
"Sudah kubilang!" Yzak Jule menggebrak meja, berdiri dari kursinya. "Kita tidak bisa menurunkan standar acara pensi tahun ini! Apa kata kakak kelas yang datang mengunjungi kita nanti!?"
"Dan aku juga sudah bilang kalau anggarannya tidak akan cukup untuk membuat acara yang besarnya sama dengan tahun lalu! Sekolah sudah bersikeras bahwa anggaran tahun ini harus dipotong! Kalau kita tidak membuat penyesuaian dengan acaranya, anggarannya tidak akan cukup!" Athrun Zala yang duduk di seberang Yzak tidak mau kalah.
"Hei hei, kalian. Tidak perlu sampai berteriak seperti itu. Dibicarakan baik-baik kan bisa?" Dearkka Elthman ikut berdiri dari tempat duduknya, namun dengan niat untuk melerai keduanya. Sementara itu di kursi lain yang mengelilingi meja yang sama, semua anggota pengurus OSIS Cuma bisa diam melihat ketua dan wakil ketua mereka seperti ini. Yang bisa—berani—melerai mereka berdua Cuma Dearkka yang memang sudah sejak kelas 1 SMA bersama dengan keduanya. Dan juga satu orang lagi…
"Masalahnya," Athrun berkata pada Dearkka dengan suara yang sudah diturunkan satu oktaf namun masih memiliki emosi terpendam, "Rincian anggaran yang sudah dibuat oleh Nicol ini sama sekali tidak dia hiraukan," Athrun menutuk-nutuk kertas berisi rincian anggaran yang ada di depannya dengan keras. Ia lalu kembali menoleh ke arah Yzak, "Kalau kau mau membaca dan memahaminya, pasti kau langsung mengerti—"
"Aku sudah baca, aku sudah paham!" Yzak memotong Athrun dengan nada suara yang masih tinggi. "Tapi di dalam rincian itu kan masih ada anggaran yang kira-kira dan masih bisa dibulatkan atau dipangkas? Sisanya bisa dimasukkan pada bagian yang memang kita perlukan!"
"Bagian mana lagi yang mau dipangkas? Ini semua sudah mentok!" Athrun kembali menaikkan suaranya seperti semula.
Masih dengan nada suara yang sama, Yzak membalas lagi. "Makanya, jangan asal bicara kalau kau belum mencoba melakukannya!"
"Maksudmu apa, hah!?"
"Sudah berhenti sampai di situ!" Shiho Hahnenfuss, sekretaris sekaligus moderator rapat kali ini angkat bicara sebelum Dearkka sempat memotong mereka. "Kita di sini sekarang itu sedang membicarakan rincian anggaran, menemukan masalah yang ada dan mencari solusinya bersama. Bukan tempat kalian adu mulut seperti ini. Ketua OSIS, tolong pimpin rapat dengan tertib. Wakil ketua, tolong jangan terbawa emosi seperti ketua OSIS. Jadilah contoh yang benar untuk adik-adik kelas 1," moderator Shiho menasihati dengan suara yang tenang tapi tajam penuh peringatan.
"…Baik," kedua orang yang baru saja bertengkar itu langsung terdiam dan menurut.
Athrun membereskan barang-barangnya ke dalam tas sambil menghela nafas.
Akhirnya rapat panjang tentang anggaran pentas seni tahun angkatannya selesai juga—setidaknya untuk saat ini—berkat Dearkka dan Shiho. Kalau tidak ada mereka Athrun mungkin akan beradu mulut dengan Yzak sampai guru pembina—yang selalu berjaga sampai semua siswa pulang—datang mengecek mereka.
"Apa Cagalli masih belum pulang ya?" Ia berpikir dalam hati begitu menyandangkan tas ke bahunya dan keluar dari ruang OSIS.
Cagalli Yula Athha, teman sejak kecilnya, selain Kira Yamato—sepupu Cagalli—yang sudah ia kenal sejak SD. Selesai sekolah, mereka selalu bermain bersama-sama. Lalu ada juga Lacus Clyne, murid pindahan yang masuk ketika mereka naik ke kelas 5, yang mulai akrab dengan mereka sejak Cagalli sering mengajaknya bermain bersama. Dan sejak saat itu, sampai kelas 2 SMA, mereka selalu satu sekolah, meskipun kelasnya berbeda-beda, begitu juga kegiatan ekstrakurikuler mereka.
Athrun, yang tadinya tidak ada kegiatan klub khusus, jadi ditarik secara paksa oleh kakak kelas untuk membantu kegiatan OSIS. Dan karena Athrun adalah orang yang selalu mengerjakan sesuatu secara serius, semua orang menunjuknya menjadi bakal calon ketua OSIS dalam pemilihan, bersama dengan Yzak—yang namanya selalu ada di sebelahnya ketika pengumuman peringkat sepuluh besar di sekolah, entah itu di atasnya atau di bawahnya, sejak SMP kelas satu. Yang artinya sudah hampir 5 tahun mereka satu sekolah.
Mungkin itulah yang membuat Yzak selalu menunjukkan energi bersaing dengan Athrun, baik dalam segi apapun—akademi, olah raga, bahkan ketika pemilihan ketua OSIS angkatan terbaru. Untuk yang satu ini, Yzak-lah yang menang, dengan selisih skor yang tipis ketika penghitungan suara. Jadilah Athrun terpilih sebagai wakil ketua. Dan sejak saat itu, dimulailah hari-hari di mana rapat OSIS selalu tidak pernah sepi.
Sementara Kira dan Lacus adalah anggota geng 'langsung-pulang-ke-rumah' alias tidak ikut kegiatan ekskul sama sekali, Cagalli ikut ekskul karate sejak SMP. Dan sekarang sudah jadi ketua ekskul karate putri di sekolah. Kadang-kadang kalau timingnya pas, Athrun sering menemukan Cagalli yang baru saja akan pulang selesai ekskul, sehingga mereka bisa pulang bersama—yang sekarang sudah cukup jarang mereka lakukan karena kesibukan masing-masing.
Tapi kalau boleh jujur, Athrun seringnya mengecek ke gor sekolah setelah kegiatan OSIS selesai, dan mengecek apakah ekskul karate sudah pulang atau belum. Dan kalau belum, Athrun selalu menunggu dekat pintu masuk sekolah dan pura-pura baru pulang, supaya bisa pulang bersama Cagalli.
Kenapa? Karena sudah sejak lama Athrun menaruh hati pada Cagalli, tanpa memiliki keberanian untuk menyatakan perasaannya.
Awalnya, mereka bertiga—ia, Cagalli dan Kira—adalah teman sepermainan. Ketika masuk SD mereka sekelas, rumahnya pun berdekatan. Hampir setiap hari mereka selalu main bersama. Cagalli yang tomboy sejak kecil, dengan mudahnya bergaul dengan Athrun dan Kira yang merupakan anak laki-laki. Main lempar bola, adu panco, menangkap kumbang—terutama yang satu ini, sebab banyak anak perempuan yang menjerit kalau bertemu serangga—ketiganya selalu dekat.
Pertengahan usia SD, Athrun sedikit-demi sedikit mulai merasakan perasaan khusus pada Cagalli. Akar permasalahannya dimulai ketika ia tahu kalau Kira kadang-kadang sering menginap di rumah Cagalli dan tidur bersama di kamarnya, dan begitu juga sebaliknya. Meskipun tahu mereka saudara sepupu, Athrun merasa tidak enak mendengarnya.
Bukan, mungkin lebih tepat dibilang tidak suka.
Lalu di kelas 5, ketika Cagalli mulai dekat pada murid pindahan, Lacus Clyne yang sering murung karena belum bisa beradaptasi dengan sekitarnya pasca pindahan. Cagalli jadi lebih sering menghabiskan waktu dengan Lacus dibanding dengannya maupun Kira. Sampai-sampai di awal, Athrun sempat menunjukkan sikap bermusuhan pada Lacus. Sikap itu mereda ketika semakin ke sini, Lacus justru jadi lebih dekat dengan Kira. Tambah lagi karena itu, Cagalli jadi lebih sering menghabiskan waktu dengannya. Barulah Athrun bisa berdamai dengan Lacus.
Selama ini mereka selalu bersama. Saking biasanya keseharian itu, sampai-sampai Athrun merasa tidak mungkin hubungan mereka akan berubah. Cagalli akan selalu bersamanya seperti itu.
Dan ketika SMP, dengan munculnya orang-orang baru, lingkar pertemanan mereka meluas. Pertama kalinya Athrun pisah kelas dengan Cagalli. Satu kali, Athrun mendengar kabar kalau ada orang yang menyatakan perasaan pada Cagalli. Ketika pulang sekolah bersama, Athrun menanyakan hal itu pada Cagalli.
"Oh, itu. Aku menolaknya. Soalnya aku tidak begitu kenal orangnya, mana mungkin aku terima dia begitu saja. Lagi pula untuk saat ini sepertinya aku belum ingin berpacaran. Bulan depan penyisihan turnamen karate piala wali kota. Aku ingin mencoba ikut. Athrun, kau juga mendukungku kan?"
Mendengar jawaban Cagalli, Athrun lega sekaligus lesu. Lega karena Cagalli masih free, lesu karena sepertinya cintanya tidak berbalas.
Dan di situlah Athrun menyadari secara utuh perasaannya sendiri.
Tahun berikutnya, kelas dipecah lagi dan mereka sekelas lagi. Kira dan Lacus ada di kelas yang berbeda. Tapi mereka masih sering berangkat dan pulang sekolah bersama-sama.
Lalu ketika SMA, baik kelas satu maupun kelas dua, Athrun dan Cagalli tetap beda kelas. Jadi mereka hanya bersama ketika pergi dan pulang saja. Itupun kalau Cagalli tidak ada latihan pagi, yang membuatnya harus berangkat sekolah lebih awal dibanding Athrun dan kawan-kawan.
Begitu tiba di area lobi sekolah, Athrun terkejut melihat Cagalli sedang bersandar di dinding, sambil menenteng tas sekolah dan tas yang berisi baju seragam karatenya dengan satu tangan, dan tangan satunya lagi sedang memegang ponsel.
Apa Cagalli sedang menungguku? Hati Athrun yang tadinya kusut karena Yzak, berubah jadi berbunga-bunga. Apakah Cagalli mulai menyadari niat Athrun yang sering mengajaknya pulang bersama?
"Cagalli!" dengan sedikit gugup Athrun memanggil Cagalli. Dan melihat wajah Cagalli terangkat lalu tersenyum melihatnya, Athrun jadi semakin senang. Ia yakin dugaannya tadi benar.
"Athrun, kau juga belum pulang?"
Ng, pertanyaan yang agak aneh. Apa Cagalli mengira aku sudah pulang? Athrun berpikir. Kalau begitu kenapa dia menungguku? "Iya, rapat OSIS-nya agak panjang hari ini…" Rasanya Athrun ingin sekali berkeluh kesah pada Cagalli tentang rapat hari ini.
"Semangat ya, sebagai wakil ketua, kerjaanmu pasti tidak kalah berat," Athrun merasakan tangan Cagalli menepuk pundaknya, memberinya semangat. Kalau seperti ini tiap hari, mau disemprot seperti apapun oleh Yzak, rasanya Athrun bisa terima.
Namun kata-kata Cagalli berikutnya membuat Athrun seperti disiram air dingin.
"Oh iya, ngomong-ngomong kau lihat Dearkka tidak? Aku ada janji dengannya. Dia pasti ikut rapat OSIS bersamamu, kan?" Cagalli bertanya, masih dengan senyumnya yang terang benderang.
"Dearkka?" Athrun mengulang, suaranya yang tadinya ramah berubah menjadi dingin, meskipun Cagalli tidak menyadarinya.
"Iya, dia mau—"
"Cagalliii!" suara langkah kaki menyertai teriakkan Dearkka sampai ia tiba di antara mereka berdua. "Maaf ya, tadi aku ditahan dulu oleh Yzak. Ayo kita pergi, aku tidak mau membuatmu pulang kemalaman."
"Tidak apa-apa. Aku juga baru selesai dari ekskul. Ayo kita pergi. Kami duluan ya, Athrun!" Cagalli membalikan setengah badannya dan melambai ke arah Athrun.
"Maaf ya, aku pinjam dulu," Dearkka berkata cepat-cepat dan segera mengikuti Cagalli keluar gedung sekolah.
Sementara Athrun yang masih tidak bisa bergerak, hanya memandang mereka berdua dengan tatapan tidak percaya.
"Athruun, bisa tidak kau betulkan mood-mu itu? Seram, tahu," Kira berkata sambil berdiri beberapa langkah di belakang Athrun. Sementara Lacus yang berjalan di sebelah Kira hanya bisa menatap Athrun dengan bingung. Entah kenapa sejak bertemu Athrun tadi pagi, rasanya Lacus bisa melihat ada aura hitam yang mengelilinginya. Dan Kira juga sepertinya bisa merasakannya karena ia menjaga jarak selama mereka berjalan ke sekolah.
Karena rumah mereka berdekatan, jadi sudah sejak dulu mereka pergi ke sekolah bersama. Kecuali Cagalli yang kadang-kadang ada latihan pagi, sehingga ia berangkat lebih dulu dibanding yang lain. Begitu juga pagi ini, jadi sekarang mereka hanya bertiga.
"Athrun kenapa?" Lacus berbisik pada Kira sambil berjalan.
Sambil menggeleng, Kira menjawab lesu, "Tidak tahu, waktu ketemu tadi pagi dia sudah seperti itu." Apa mungkin karena Cagalli tidak ada ya? Kira menerka dalam hati. Biasanya Athrun memang sedikit tidak bersemangat kalau Cagalli tidak pergi ke sekolah bersama mereka karena latihan pagi.
Lacus terdiam sebentar, tapi kemudian dengan suara yang sedikit lebih keras—yang seharusnya bisa terdengar oleh Athrun—Lacus berkata lagi, "Apa jangan-jangan karena Cagalli dan Dearkka kemarin ya?"
"Cagalli dan Dearkk—Aduh! Athrun, kenapa tiba-tiba berhenti?" Kira berseru ketika ia menabrak punggung Athrun yang tiba-tiba menghentikan langkahnya. Tapi begitu melihat Athrun yang berbalik ke arah mereka, Kira langsung sembunyi di balik Lacus.
Athrun yang aura hitamnya semakin pekat menatap Lacus dengan tajam sampai Kira yang sedang bersembunyi pun bisa merasakannya. "Kau tahu sesuatu, Lacus?"
Tapi Lacus tidak bergeming sedikitpun dan menjawab sambil tetap tersenyum, "Tidak, aku cuma tahu kalau Dearkka dan Cagalli janjian setelah selesai ekskul untuk pergi ke suatu kafe karena ada hal yang ingin dibicarakan oleh Dearkka."
"Jadi Dearkka yang mengajak ya…" Sambil berkata begitu, Athrun berbalik dan kembali berjalan ke arah sekolah, kali ini dengan langkah yang lebih cepat dari sebelumnya.
"Lacus!" Kira mendesis panik. "Apa yang baru saja kau lakukan!? Athrun kelihatan semakin marah. Bagaimana ini? Apa Dearkka akan baik-baik saja?" Kira menoleh sedikit ke arah Athrun.
"Kalau dia tahu ceritanya pasti semua baik-baik saja kok," Lacus menjawab sambil tersenyum, seolah apa yang ia katakan tadi adalah ide bagus.
"Ya tapi masalahnya Athrun tidak tahu apa-apa! Kalau dia asal main hantam bagaimana!?"
"Dia pasti akan mencari Dearkka setelah ini kan? Dearkka tinggal menjelaskan saja, masalah beres," Lacus membalas sambil lanjut berjalan mengikuti Athrun.
Tapi melihat aura membunuh Athrun, Kira sangsi Dearkka masih hidup sebelum ia bisa menceritakan semuanya. Sambil ragu-ragu, Kira akhirnya berjalan lagi menyusul Lacus.
Jadi entah kenapa beberapa waktu lalu pingin lihat Athrun berantem sama Yzak, bener-bener entah ada angin apa pokoknya pingin aja.
Dan juga karena bulan-bulan kemarin sempet pesimis banget sama movie SEED Freedom, jadi sempat kabur ke fic AU yang school life dan semacamnya, yang penting bukan yang canon, akhirnya pingin bikin sendiri. Dan inilah dia
Kalau memang ada yang minat nanti dilanjut deh hehe.
Untuk outtakes nya To Be With You Again, mungkin beberapa chap kedepan asucaganya dikit, tadinya mau masukin cerita athrun sama teman2 lamanya nyari hadiah sampai akhirnya beliin jam tangan di chap 14, ada juga cerita dark nya athrun soal pelaku penembakannya cagalli. Mau yang mana? XD
Cheers~
