Disclaimer: Boboiboy adalah milik monsta studio.

Penulis tidak mengambil keuntungan materi apapun dari fanfiksi ini.


"Pusat seharusnya tidak bersikap sesuka mereka."

Celetukan itu menjadi permulaan keributan.

"Mau bagaimana lagi? Tidak mungkin kita tolak perintah mereka," balas salah satu pemuda, tidak benar-benar peduli. Dia hanya membalas untuk membuat rekannya tidak terlalu merasa kesal.

Pemuda yang sebelumnya memulai percakapan kembali menggerutu, "Mereka benar-benar serakah. Baru dua tahun yang lalu bencana itu terjadi, tapi sekarang mereka sudah sibuk berebut kekuasaan dan membuat kita menjadi pion sialan."

"Aku setuju. Daripada memerintahkan kita untuk memeriksa dan mengklaim tanah utara itu, lebih baik mereka mengirim kita untuk menyelamatkan desa atau kota yang diserang," sahut salah seorang lagi memanaskan suasana.

"Jangan terlalu banyak bicara dan segera selesaikan persiapan kalian."

Ketiga orang yang terlibat percakapan tadi mengangguk serempak pada pemuda bermata merah yang barusan memberikan titah. Mereka dengan cepat mengepak barang dan makanan ke ransel besar milik masing-masing.

"Jangan lupa senjata kalian." Pemuda yang tadi memberi titah kembali bicara. Diambilnya belati kembar yang tergeletak di samping ranselnya, "Ini punya siapa?"

"Oh, punya Blaze, aku kemarin meminjamnya."

Mendengar jawaban itu, pemuda bermata merah mengangguk dan menaruh sepasang belati itu di saku jaketnya.

"Aku sudah siap!" Pemilik belati yang barusan dibicarakan—Blaze datang dengan ransel besar di punggungnya. Dia mendekat ke empat orang itu, kemudian berdiri di samping pemuda bermata merah—Halilintar, kakak sulungnya, "Ayo berangkat!"

"Solar belum turun," balas Halilintar, "Sana panggil dia dan suruh dia cepat."

"Loh? Hee? Aku baru saja turun, kak Lintar!" protes Blaze kesal, pasalnya membawa ransel besar itu sedikit banyak membuat punggungnya pegal.

Pemuda yang dipanggil kak Lintar itu menatap Blaze. Keduanya diam selama dua menit, hingga akhirnya Blaze mendengus kasar dan mengalah, "Iyaaa, iyaaa! Aku panggil dia dulu!" katanya sambil berjalan masuk kembali ke bangunan tempat mereka tinggal, sembari kakinya menghentak kuat-kuat untuk memberitahu kakak sulungnya itu betapa kesalnya dia.

.

.

.

"SOLAAAR! BERAPA LAMA LAGI KAMU BERSIAP?! KAK HALILINTAR SUDAH MENUNGGU!"

Teriakan membahana itu menyentak Solar yang sedang bercermin sambil merapikan rambutnya. Terdengar langkah kaki heboh di luar kamar hingga lima detik kemudian kakaknya, Blaze muncul dengan raut muka kesal.

"Kita bukan hendak pergi liburan, berhenti menata rambutmu seperti itu," sungut Blaze kesal.

"Sebentar, aku tinggal pakai seragam luar saja," balas Solar santai, tidak peduli pada wajah Blaze yang memerah marah. Mengabaikan Blaze yang kembali berteriak, Solar membuka lemari besi dan mengambil seragam serta beberapa senjata didalamnya.

Blaze dengan sigap mendekat dan mengambil pistol dan beberapa bom hasil rakitan adik bungsunya itu, "Ini masuk ke tasku dan kak Lintar saja," katanya. Dia turunkan tas ransel dari punggungnya, kemudian mengeluarkan beberapa barang yang sekiranya tidak lebih penting dari bom rakitan itu. Sementara untuk pistol perak milik sang adik, Blaze menyimpannya di saku dalam seragamnya.

Solar tidak berkomentar apapun atas sikap sang kakak. Dia dengan cepat memakai seragam gelap yang mirip dengan seragam yang Blaze kenakan. Setelah itu dia mengambil tas selempang berisi beberapa berkas terkait misi mereka kali ini.

Setelah bercermin kembali untuk memastikan penampilannya, Solar mengangguk puas, "Sudah, ayo."

Keduanya berjalan beriringan keluar kamar. Blaze melirik adik bungsunya itu, bahkan setelah dua tahun berlalu dia masih tidak nyaman saat melihat tongkat yang Solar pakai untuk membantunya berjalan. Adik bungsunya itu kehilangan kaki kanannya di paruh awal bencana akibat tertimpa reruntuhan bangunan yang roboh karena ledakan bom dari pesawat tempur yang dikirim pemerintah mereka.

"Awas saja jika kak Lintar malah marah padaku," kata Blaze, berusaha mengalihkan perhatiannya pada hal lain.

Solar tersenyum saja pada usaha kakaknya itu, dia tidak membuka topik apapun meski tau Blaze tidak menyukai suara tongkat miliknya yang berdetak setiap kali dia berjalan. Mau bagaimana lagi, Solar tidak mungkin meminta seseorang menggendongnya kemana-mana. Dulu Solar bahkan tidak diperbolehkan ikut dalam misi yang mengharuskannya berjalan jauh, dia hanya akan duduk di ruangan sempit dengan tumpukan berkas dan laporan dari berbagai misi yang dikerjakan oleh tim kakaknya itu, kemudian membuat dugaan terkait beberapa hal yang mungkin terjadi. Hanya beberapa bulan belakangan ini, setelah membujuk Halilintar untuk membawanya, akhirnya Solar diikutsertakan dalam misi lapangan. Meski tidak dapat bertarung secara langsung dan hanya akan berdiri agak jauh dari Halilintar, Blaze, dan tiga rekan mereka lainnya, Solar berusaha tetap membantu dengan menganalisis serangan atau pertahanan tim dan merancang strategi baru untuk meningkatkan keberhasilan misi mereka.

Keduanya sampai di bawah dan bergabung dengan sang kakak sulung dan tiga rekan mereka. Setelah Halilintar memastikan perlengkapan timnya sudah lengkap, mereka akhirnya masuk ke mobil dan melaju meninggalkan bangunan itu.

.

.

.

"Benar ke arah sini?"

Solar mengangguk. Mereka telah turun dari mobil dan akan berjalan mulai dari sini karena akses jalan tertutup reruntuhan gedung.

Halilintar berjalan paling depan bersama salah satu rekan mereka, kemudian Solar dan Blaze berjalan di tengah, dan dua orang lainnya di belakang. mereka berjalan di bawah matahari yang semakin terik selama satu jam, hingga akhirnya sang kapten—Halilintar berhenti di bawah satu-satunya pohon yang ada di sana dan mengumumkan waktu istirahat sejenak.

Setelah melepas ransel, Halilintar dan salah satu dari mereka pergi, berkata akan melihat-lihat situasi dan kondisi lingkungan dulu. Mereka membawa pedang masing-masing dan beberapa bom rakitan Solar.

"Wah, berat!"

Tas ransel besar itu dihempas, sementara pemiliknya langsung duduk lesehan di bawah rimbunnya pohon. Rekan-rekannya ikut melepas tas mereka dan mencari posisi nyaman untuk beristirahat.

"Apa saja isi tasmu coba?"

"Apalagi? Makanan, baju, obat-obatan, dan beberapa hal lainnya."

Mengabaikan percakapan kedua rekannya itu, Blaze menoleh pada adik bungsunya yang sudah sibuk mengeluarkan beberapa tumpuk kertas dan mulai mencoret-coret, "Apa itu?" tanyanya basa-basi, meski dia sebenarnya sudah tau.

Solar menghela nafas malas, "Kamu tau ini apa, kak."

"Kuubah pertanyaanku, sedang apa kamu?"

"Mempersiapkan strategi. Dalam pertarungan terakhir, pertahanan kita terlalu mudah dirusak."

"Maaf," sahut seseorang. Mereka tersentak dan melihat ke arah rekan mereka yang menatap dengan rasa bersalah, "Kalian hampir terluka karena aku tidak bisa mempertahankan perisaiku untuk waktu lama."

Solar menggeleng, dia tadi tidak bermaksud untuk menyinggung rekan mereka itu, "Bukan begitu. Sudah tugasku untuk memperhatikan seberapa lama dan bagaimana kemampuan kalian bekerja, mempersiapkan strategi untuk mencapai keberhasilan, dan melihat peluang kesuksesan kita. Di pertarungan terakhir, aku terlambat menyadari bahwa kamu sudah kehabisan tenaga karena terlalu banyak menggunakan kemampuanmu di awal."

Rekan mereka itu hendak membalas lagi, namun terpotong oleh suara Blaze yang berteriak sambil menunjuk sesuatu.

"Apa itu monster?! Itu mirip dengan mata-mata penguin di siaran tivi yang sering kutonton dulu!"

Mereka semua berdiri. Solar beranjak mundur sementara tiga orang lainnya maju.

"Hah? Bukannya itu terlalu jelek untuk seekor penguin?" balas seorang lagi, dia bersiap dengan panah miliknya.

Blaze hendak membalas lagi, sebelum teriakan peringatan dari kejauhan terdengar.

"KODE MERAH! MONSTER ITU BENAR-BENAR CEPAT!"

Solar menoleh cepat, didapatinya Halilintar yang berlari terseok mendekat ke mereka. Lengan kanan kakaknya itu terputus dan terus mengucurkan darah. Solar tidak melihat tanda-tanda rekan mereka yang tadi pergi bersama sang kakak.

"Kak Ha—!"

Seruan Solar terputus. Dia melotot ngeri saat tiba-tiba wajahnya terciprat darah.

"AKH—!"

"APA?!"

"AWAS—!"

Dan semua terjadi begitu cepat. Solar jatuh terduduk dengan ngeri. Disekelilingnya mayat Blaze dan rekan-rekannya bertumpuk, mereka mati dalam sekejap dengan kondisi tubuh yang hancur seperti dicincang. Solar dengan gemetar berusaha menoleh ke samping, hanya untuk menemukan bercak darah dan potongan tubuh di tempat Halilintar terakhir berada. Mereka semua mati, hanya menyisahkan Solar yang masih hidup.

'Lari!' Solar berteriak dalam hati. Disambarnya tongkatnya dan berusaha pergi dari sana.

Seakan mengejek satu-satunya manusia yang masih bernafas di sana, monster itu melangkah perlahan mendekati Solar, berbeda dengan kecepatan mengerikan yang digunakannya tadi untuk menghancurkan tubuh rekan-rekan Solar.

Solar terseok dan jatuh terjerembab karena pegangannya pada tongkat terus bergetar. Dia berusaha merangkak, namun monster itu sudah tepat di belakangnya.

'Aku tak boleh mati,' batinnya menangis, 'Jika aku mati, siapa yang akan mengingat mereka...?'

Namun, kenyataan tidak membiarkannya bebas menghirup udara lebih lama lagi. Monster itu mengangkat tangannya, menebas leher Solar hingga kepala bermata abu itu menggelinding meninggalkan tubuhnya.

.

.

.

Bersambung.