Naruto © Masashi Kishimoto
Broken Apart © Liu Lin An
Main character: Uzumaki Karin
Warning: Slight BL, Miss Typo, OoC, Alternative Universe/AU.
DLDR!
Don't Like? Don't Read!
.
.
Karin pertama kali mengenal si bungsu Uchiha adalah saat usianya enam belas tahun.
Saat itu mereka sama-sama duduk di kelas satu sekolah menengah atas; dan pemuda itu mendapatkan undian tempat duduk tepat di depan kursi Karin.
Awalnya, Karin hanya sekedar menganggap pemuda itu tampan—begitu pula seluruh penghuni Konoha High yang berjenis kelamin perempuan.
Ketertarikannya hanya sebatas kekaguman atas rupa rupawan pemuda itu; tidak lebih.
Tapi kemudian, Sasuke mulai berbicara padanya—dalam nada datar yang anehnya terdengar bersahabat.
Dan dari sana, pertemanan mereka yang aneh pun dimulai.
Awalnya Karin sendiri tidak percaya kalau pemuda itu adalah orang pertama yang mengajaknya mengobrol—menayakan tugas dan bertanya apakah mereka bisa pulang bersama untuk mampir di toko buku setelahnya.
Seperti reaksi anak-anak gadis pada umumnya; Karin tersanjung.
Ia tertawa setiap kali mengingat bagaimana kedua telapak tangannya berkeringat basah sepanjang perjalanan mereka ke toko buku di dekat stasiun sore itu.
Pemuda itu sebelumnya bertanya dimana kira-kira mereka bisa mendapatkan referensi terbaru untuk tugas biologi-nya; dan kebetulan Karin cukup tahu kemana harus mencari.
Dan tidak. Saat itu Karin belum jatuh cinta setengah mati pada pemuda berambut raven tersebut.
Ia hanya merasa tersanjung Sasuke memperhatikannya dan mau berteman dengannya—ia tak pernah mau berharap lebih dari itu. Karena menurutnya sendiri, sulit untuk memikirkan Sasuke memandangnya sebagai calon pasangan potensial.
Itu, hingga para siswi yang usil mulai menaruh kecemburuan berlebih akan hubungan platonicnya dengan si pemuda Uchiha.
Karin sudah terbiasa menjadi korban perundungan—dan tidak, ia nyatanya tidak pernah menyukainya. Selain itu, ia juga seringnya membalas dan malah ikut berkelahi dengan siapapun itu orang-orang yang mengerjainya.
Sayangnya gadis-gadis yang ia temui di sekolah menengah atas ini sedikit agak gila karena mereka menyelipkan gunting, pisau dan apapun benda bersudut runcing lainnya dibalik lipatan rok mereka.
Itu pergumulan yang sengit—Karin dikeroyok lima anak gadis maniak bersenjata; dan itu akan menjadi kenangannya yang paling liar semasa ia duduk di sekolah menengah atas.
"Jangan ada yang berani-berani menyentuhnya!"
Kemudian, saat ia pikir ia akan kehilangan lebih dari tiga seperempat rambutnya sementara tubunya sudah penuh goresan luka berdarah, Sasuke datang menyelamatkannya.
Dan yah, pemuda itu meninju keras salah satu wajah gadis tersebut hingga mematahkan hidungnya—atau setidaknya itulah yang Karin harapkan.
Kejadian itu menjadi skandal yang cukup besar di sekolahnya; kepala sekolah mereka langsung uring-uringan, semua orang tua dipanggil dan akhirnya kelima anak gadis itu dikeluarkan.
Tentu saja Karin dan Sasuke tidak luput begitu saja dari masalah; untuk alasan keadilan dan pertimbangan rehabilitas, keduanya pun di skors selama seminggu.
Tapi Karin ingat saat itu mereka berdua saling bertatapan sambil menyunggingkan cengiran paling menyenangkan sepanjang hidupnya.
Dan itulah saat ia pertama kali tersadar bahwa dirinya telah jatuh cinta sepenuhnya pada pemuda itu.
.
.
Waktu terus berjalan dan mereka pun menjadi teman dekat—bahkan banyak gosip yang mengatakan bahwa mereka benar-benar berkencan.
Karin ingin percaya itu—tentu saja.
Tapi pada kenyataannya, Sasuke tak pernah mengatakan apapun padanya.
Dan saat pertemanan mereka akhirnya berlanjut sampai hari kelulusan, Karin akhirnya memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanya—yang mana sangatlah tidak mudah karena butuh waktu berminggu-minggu untuknya mengumpulkan setiap tetes keberanian yang ia miliki.
"Jangan begitu, Karin. Aku… Aku tidak bisa."
Tapi reaksi Sasuke jauh dari dugaan Karin.
Karin mengira, kalaupun Sasuke akan menolaknya, pemuda itu tidak akan menampilkan wajah yang teramat terluka begini kepadanya.
Tapi kerut dalam penuh penyesalan di wajah pemuda itu nyata. Dan Karin bertanya-tanya apakah yang tengah pemuda itu pikirkan soal pernyataan cintanya.
"Begitu ya, yah, tak mengapa. Tapi, kita masih bisa berteman kan?" Sambil bersusah payah menahan tangisnya, Karin berusaha menyunggingkan seulas senyum terbaiknya pada pemuda itu—walau pada akhirnya malah terlihat begitu dipaksakan. Setidaknya, ia masih berharap bisa menjadi teman pemuda itu meskipun perasaannya tak berbalas.
"Dengar, ini tidak seperti yang kau pikirkan, maksudku, kau gadis yang baik," Masih dengan raut kesulitan, bungsu Uchiha itu berusaha menjelaskan alasan penolakannya. Yang mana menurut Karin jadi tambah aneh, karena seharusnya Sasuke tidak perlu bertele-tele menjelaskan bahwa dirinya sama sekali tidak tertarik pada Karin. Bagaimana pun, Karin sendiri sadar ia tidaklah secantik anak-anak gadis lain di sekolahnya; yang populer di kalangan para anak laki-laki atau hobi gonta ganti pacar setiap minggu.
"Oh, aku sudah tahu itu," Sambil terkekeh sakartis Karin menimpali, berharap setidaknya Sasuke akan ikut mendengus seperti biasa mendengar pembelaan yang kelewat percaya diri itu. Tapi nyatanya kepahitan dalam sepasang onyx tersebut tidak pernah hilang. Dan sesuatu di perut Karin serasa tengah menggelitikinya dengan sebuah sensasi asing yang sangatlah tidak menyenangkan.
"Dengarkan aku, Karin," Detik berikutnya, Karin mendapati Sasuke tengah mencengkram kedua pundaknya erat-erat. Sepasang onyx kelam penuh tekad menekan ruby miliknya yang cemerlang.
"Kau gadis yang baik, dan aku menyayangimu. Sungguh. Tapi hanya itu, aku tidak bisa mencintaimu seperti kau mencintaiku, mengerti?" Lanjut pemuda itu lagi dengan kesungguhan yang menakutkan di kedua netra kelamnya. Dan saat itu juga, semua sisa pertahanan Karin runtuh.
Dengan gusar ia menepis paksa kedua tangan pemuda itu dari bahunya.
"Tidak. Aku tidak mengerti maksudmu. Tolong jangan membuat semuanya menjadi semakin rumit, Sasuke." Sambil mendesis tidak suka, Karin menimpali ucapan pemuda itu. Karena sungguh, apabila pemuda itu benar-benar ingin menolaknya, ia tidak usah kembali menjelaskan pada Karin kalau dia ternyata menyayanginya. Bagi Karin itu sangat kejam. Terlalu kejam.
Melihat reaksi Karin, Sasuke hanya bisa menutup gusar wajahnya dengan satu tangannya—sebuah gestur yang begitu asing di mata Karin.
"Dengar, aku… aku tidak bermaksud semuanya jadi begini. Maksudku, aku senang menghabiskan waktu denganmu. Aku senang menjadi temanmu, tapi aku tidak menyangka akan jadi begini." Ujar si pemuda raven kemudian sambil kembali menatap sedih gadis berambut merah di depannya.
"Aku tidak mengerti maksudmu." Karin tidak bermaksud berbisik; tapi nyatanya suaranya hanya terdengar seperti sebuah cicitan lemah tak berdaya. Dan dia benci itu.
"Karin, aku tidak bisa mencintaimu bukan karena aku tidak menyukaimu," Setiap kata yang keluar dari mulut pemuda itu dilafalkan lamat-lamat. Dengan penekanan tegas pada setiap katanya. Dan akhirnya, bersamaan dengan itu, garis kesabaran Karin pun putus.
Kalau pemuda itu memang tidak lagi merasa nyaman berteman lagi dengannya setelah tahu perasaan Karin yang sesungguhnya, lebih baik dia langsung saja menyampaikan itu semua kepada Karin sekarang.
Bagaimana pun, Karin benci sikap berbelit-belit pemuda di hadapannya ini.
"Apasih maksudmu?! Sialan, jangan bicara berputar-putar seperti ini Sasuke!" Karin terengah pelan setelah meneriakan itu. Dan pemuda bermata onyx di depannya hanya bisa menatapnya dengan sorot terluka yang takkan pernah bisa Karin jelaskan seumur hidupnya.
Kalimat selanjutnya adalah apa yang sebenarnya tak pernah Karin harapkan untuk ia dengar—sampai kapanpun.
"Aku tidak suka perempuan."
Sasuke masih berdiri di hadapannya—padangannya tegas dan serius. Dan Karin tahu betul, ini bukanlah waktu yang tepat untuk melemparkan gurauan apapun.
"A-Ah?" Karin tidak yakin bagaimana ia harus menanggapi pengakuan yang mengejutkan ini. Kakinya mendadak limbung dan sesuatu yang tak kasat mata seperti telah meninju perutnya kuat-kuat; seketika seluruh dunia serasa berputar di sekelilingnya.
"Aku tidak tertarik pada perempuan Karin." Sekali lagi Sasuke mengulangi kalimat pengakuannya tersebut. Dan untuk beberapa alasan yang tak pernah bisa Karin sendiri jelaskan, ia ternyata mengerti.
Mengapa selama ini Sasuke tak pernah keberatan melakukan kontak fisik yang agaknya terlalu dekat dengannya—pemuda itu tak pernah tersipu. Mengapa Sasuke tidak terlalu suka berkeliaran dengan siswa-siswa laki-laki yang lain dan malah duduk bersama Karin di perpustakaan setiap jam makan siang.
Karin mengerti; tapi ia juga tidak mengerti.
"Maksudmu, kau lebih suka… laki-laki, begitu?" Tentu saja, pertanyaan itu tak perlu diucapkan keras-keras. Tanpa perlu ditanyakan sekalipun, sebenarnya Karin sudah bisa menangkap arah pembicaraan mereka. Hanya saja, untuk sebuah alasan—yang lagi-lagi juga Karin tidak pahami, ia merasa ia harus tetap melemparkan pertanyaan itu.
Dan Sasuke hanya mengangguk lemah; malu.
Dan seketika kenyataan menampar Karin kuat-kuat saat itu juga.
Sasuke tidak suka perempuan, ia lebih suka laki-laki.
Sasuke gay.
Selama ini, Karin pikir mereka berteman baik—dan pemuda itu pun telah mengkhianatinya dengan menyembunyikan fakta sebesar ini darinya.
Bukan berarti ia akan langsung lari tunggang langgang begitu mengetahui kalau orientasi seksual pemuda itu berbeda—Karin cukup paham cinta itu tidak mengenal batasan, bahkan gender sekalipun. Tapi Sasuke sudah berbohong padanya. Dan kebohongan itu telah menciptakan racun di hati Karin—cinta untuk seseorang yang takkan pernah bisa membalas cintanya; selamanya.
"T-Tunggu. Kau sungguh-sungguh?"
Sekali lagi, Sasuke kembali mengangguk lemah.
"Lalu kenapa? Kenapa kau… waktu itu? Dengan gadis-gadis gila bersenjata itu."
"Karena kau… sepupu Naruto. Aku berkencan dengannya."
Dan seketika Karin merasa kehilangan pijakannya seutuhnya—terhempas dalam lubang dalam tak berdasar. Apa? Naruto? Namikaze Naruto? Sepupu yang hanya Karin jumpai setiap acara keluarga itu? Pemuda yang lebih tua tiga tahun darinya dan sangat berisik itu? Tapi, sejak kapan?
"Sudah sejak kapan?"
"Hampir dua tahun,"
Selanjutnya, tubuh Karin sudah bergerak terlebih dulu daripada kecepatan otaknya untuk memproses informasi tersebut.
Plak!
Karin menatap murka kedua onyx tersebut.
Dua tahun
Dan selama itu pula Sasuke telah berlaku tidak jujur padanya.
"Aku tidak pernah marah soal identitasmu," Dengan sedikit tercekat, Karin berujar pelan; menatap nanar pemuda di depannya.
"Aku hanya kecewa, kau paham kan," Sejujurnya, Karin tahu ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Sasuke soal ini. Tapi lagi-lagi, emosinya mengalahkan akal sehatnya.
"Aku kira kita berteman, kau tahu," Sasuke mungkin takut apabila Karin akan berpaling dan menjadi jijik padanya apabila gadis itu tahu kalau orientasi seksualnya berbeda. Seharusnya, Karin bisa memahami ketakutan pemuda itu.
"Aku sudah mengatakan semuanya kepadamu, semuanya, semua rahasiaku—bahkan perasaanku padamu. Dan kau menyimpan sesuatu sebesar ini dibelakangku," Namun sekeras apapun akal sehatnya terus meneriakan padanya untuk berhenti, Karin tidak bisa melakukannya. Ia sedang tidak ingin mendengarkan akal sehat. Perasaannya remuk; dan layaknya hewan yang terluka, Karin tidak menginginkan penjelasan lainnya. Ia hanya ingin segera menyingkir dari sini dan tak pernah melihat wajah pemuda itu lagi.
Selamanya.
"Maafkan aku."
"Aku tidak butuh maafmu!"
"Karin!"
Saat gadis itu hendak berlari pergi meninggalkan pemuda bermata onyx itu, Sasuke dengan segera menangkap pergelangan tangannya. Mencegahnya pergi. Karena bagaimana pun, Sasuke tahu betul, apabila Karin meninggalkannya sekarang, ia akan kehilangan gadis itu selamanya.
Jujur saja, Sasuke tidak mau bertindak membingungkan—ia tidak ingin semakin membingungkan Karin. Baginya, gadis itu adalah satu-satunya teman yang ia miliki. Seseorang yang membuat Sasuke merasa nyaman dan menjadi dirinya sendiri. Sasuke tidak mau kehilangan gadis itu. Karin adalah seorang teman yang berharga. Tapi Sasuke pun takkan bisa mencintainya sebagaimana gadis itu mencintai dirinya.
"Lepaskan aku,"
Hanya saja, mungkin sejak awal semua itu hanyalah khayalan pemuda itu saja. Waktu yang mereka habiskan bersama hanyalah sebuah pelarian kecil yang dibuat Sasuke untuk membuat dirinya merasa lebih baik. Membuatnya merasa lebih normal.
Dan ia juga telah menjadi orang yang mengacaukannya. Dengan sangat sempurna.
"Kurasa aku pernah bilang padamu aku tidak suka pembohong," Suara Karin bagaikan tombak es yang melesat tajam menembus tubuh Sasuke. Berikutnya, gadis itu kemudian berhasil melepaskan genggaman tangan Sasuke pada pergelangan tangannya dengan satu hempasan kasar.
Pada detik itu juga, Sasuke pun sadar, ia telah membuat satu kesalahan besar yang mungkin takkan bisa ia perbaiki lagi.
"Aku membencimu Uchiha."
Begitu saja, Karin berlari pulang hari itu—meninggalkan semua barangnya di sekolah.
Ia bahkan masih memakai sepatu dalam ruangannya ketika tiba dirumah dengan nafas tersengal.
Tapi ia tidak peduli, karena berikutnya ia hanya mendapati dirinya menangis sendirian dan meringkuk di kasur kamarnya seperti seorang bayi tak berdaya.
Sementara hatinya hancur berkeping-keping karena cintanya yang tak berbalas, dan kebenaran pahit yang baru saja diketahuinya.
.
.
Semenjak hari itu, Karin tidak pernah melihat Sasuke lagi.
Pemuda itu tidak pernah muncul di hari kelulusan setelah sebelumnya mengantar semua barang-barang Karin yang tertinggal di sekolah ke rumahnya. Dengan sepucuk surat permohonan maaf singkat yang terselip di kantongnya;
'Maafkan aku. Kau pantas bahagia Karin, dengan pria yang lebih baik'
Begitu katanya.
Sayangnya, sepuluh tahun berlalu dan dada Karin masih suka berdenyut sakit mengingat pemuda bermata onyx tersebut.
Karin tahu, ia seharusnya tidak memojokan Sasuke hari itu—bagaimana pun, pengakuannya adalah sesuatu yang berani.
Tapi Karin merasa konyol karena selama ini pemuda itu telah berbohong padanya. Berpura-pura. Andai saja, ia jujur pada Karin tentang segalanya, semuanya akan jadi lebih mudah.
Karin tidak akan pernah berharap lebih.
Karin tidak akan mencintai pemuda itu, dan mungkin saja mereka saat ini masih berteman baik.
Tapi semuanya sudah terlambat dan hubungan mereka sudah terlanjur hancur hingga tak bersisa.
Dan tinggalah Karin yang masih bergulat dengan penyesalan seorang diri beserta cinta pertama yang tak pernah berakhir.
"Hei, kacamata."
Karin menghela nafas lelah ketika mendengar panggilan dengan nada mengejek tersebut singgah di pendengarannya, sebelum kemudian berbalik untuk melihat pria yang baru saja memanggilnya itu.
Ugh, Hozuki Suigetsu.
Rekan kerja Karin yang sudah hampir lima tahun ini dikenalnya. Pria itu cukup menyenangkan, tapi selebihnya sangat menyebalkan. Karin harus selalu memutar otak untuk setidaknya tidak berusaha menghajar wajah tololnya ketika sedang bicara dengannya. Sepertinya, membuat jengkel Karin adalah salah satu keahlian terbaiknya.
Hubungan mereka ibaratkan kucing dan anjing; tidak pernah ada satu hari pun terlewat tanpa mereka bertukar sumpah serapah dan ejekan yang tidaklah terlalu sopan.
Hebatnya lagi, pria itu juga adalah pria yang sama yang sudah berusaha mengajaknya berkencan selama empat tahun belakangan ini.
Dan selama itu pula Karin telah dengan susah payah berusaha menolaknya—karena satu dan banyak alasan yang rasanya Karin sendiri akan kelelahan apabila diminta untuk menjelaskan satu-satu.
Tapi, yah, seperti Karin, pria Hozuki itu pun ternyata jugalah sama keras kepalanya.
"Aku sedang tidak ingin berurusan denganmu sekarang ini Hozuki." Sambil mendecakan lidahnya kesal, Karin berujar pelan. Mereka saat ini tengah berdiri di depan mesin minuman lobi barat. Dan Karin hanya ingin sedikit ketenangan pada jam istirahatnya yang berharga hari itu.
Mendegar dengusan bernada jengkel wanita bersurai marun tersebut, si pria berambut perak malah terkekeh pelan.
"Oh, jangan kejam begitu. Aku hanya menyapamu." Setelah mengatakan itu, pria itu kemudian memasukan beberapa keping uang koin ke dalam mesin sebelum menekan tombol minuman yang diinginkannya; dua kali.
Mendengar penjelasan tak masuk akal itu, Karin hanya mengerlingkan kedua ruby miliknya bosan. Mustahil si bungsu Hozuki yang satu ini tak menginginkan apa-apa darinya. Karena selama beberapa tahun belakangan ini, setiap ada kesempatan, pria ini akan berusaha mengajaknya berkencan—makan malam, pergi nonton atau mengunjungi akuarium. Apa saja. Ajakan itu akan bersifat acak, dan sesekali Karin pun memutuskan untuk menghibur sedikit pria itu—sambil menghemat uang makannya sekali dua kali.
"Katakan saja apa yang kau inginkan dariku. Aku tidak punya banyak waktu untuk berbasi-basi denganmu sekarang ini." Sambil bersedekap, Karin sekali lagi memelototi pria itu. Karena sungguh, ia masih harus segera kembali ke meja kerjanya untuk menyelesaikan laporan acara mereka beberapa hari yang lalu sebelum kemudian segera menyerahkannya pada managernya.
"Kau judes sekali." Sambil menyerahkan satu kaleng minuman yang baru saja dibelinya, pria bersurai pirang platina itu mendengus pelan menanggapi gerutuan putri semata wayang keluarga Uzumaki tersebut.
"Kalau tidak ada perlu, aku pergi dulu. Aku masih harus mengerjakan laporanku." Karin menerima kaleng kopi tersebut tanpa bertanya, sebelum dengan setengah terburu memutuskan untuk kembali ke mejanya.
"Ah, tunggu. Hei, dengarkan aku dulu." Namun si bungsu Hozuki pun telah terlebih dahulu menarik tubunhnya sendiri untuk menghalangi Karin pergi.
Benarkan? Karin sudah hapal betul modus pria satu ini. Wanita berambut marun tersebut kemudian hanya bisa menghela nafas jengkel, sebelum berbalik dengan gerakan patah-patah, lalu menatap galak si pria berambut pirang platina sambil kembali bersedekap.
"Kau punya waktu lima menit." Ketusnya lagi. Mendengar itu, Suigetsu hanya bisa mengerlingkan kedua matanya bosan, sebelum akhirnya buka suara.
"Hah, baiklah. Kau mau keluar denganku akhir pekan ini? Film yang sudah kau tunggu-tunggu akhirnya rilis minggu ini."
Jeda beberapa detik setelah si pria pirang platina berujar demikian.
Karin memikirkan tawaran itu untuk beberapa saat—dengan sungguh-sungguh, tentu saja.
Seringnya, ia akan langsung menolak ajakan kencan pria bernetra violet tersebut. Apalagi untuk kencan yang ditawarkan dadakan seperti ini. Namun film yang dimaksud—As the World's Still Spinning Around, adalah film yang sudah sejak lama ia tunggu-tunggu. Dan sejujurnya ia sudah cukup bosan berkeliaran di bioskop sendirian akhir-akhir ini.
"Hm, kau yang beli tiketnya dan aku akan setuju untuk menghabiskan akhir pekanku denganmu."
Selain itu, Karin rasa ia memang sedang ingin sedikit menghibur pria ini.
Bagaimana pun, kegigihan seorang Hozuki Suigetsu terhadap dirinya setidaknya patut diapresiasi sesekali.
"Ya, ya. Tentu saja. Sampai jumpa hari minggu ini kalau begitu." Sambil melambaikan tangannya seolah tak acuh dengan fakta bahwa Karin telah menyetujui ajakannya, Suigetsu kemudian berbalik dan berjalan ke arah berlawanan dengan yang tadinya hendak Karin tuju.
Berpikir dengan begitu, Karin tidak akan sempat melihat seulas senyum besar yang tersungging di wajahnya seiring langkahnya yang semakin menjauh. Dalam hati pria itu berusaha mengingatkan dirinya sendir bahwa Karin hanya sedang menghiburnya, dan tidak lebih. Tapi Suigetsu tidak bisa untuk tidak merasakan gerombolan kupu-kupu di dasar perutnya menari-nari mendengar persetujuan wanita bersurai marun tersebut.
"Ya … sampai jumpa."
Namun di luar perkiraannya, Karin nyatanya sempat melihat ujung bibir pria itu terangkat tinggi-tinggi sebelum ia benar-benar berbalik dan melangkah menjauh. Secuil rasa bersalah tiba-tiba mencubitnya; mengingatkan Karin bahwa mungkin saja dirinya sudah berlaku membingungkan. Sesuatu yang sebenarnya sangat dibencinya. Tapi perasaan bersalah itu kemudian buru-buru ia tepis.
Ya, dia hanya tidak ingin pergi ke bioskop sendirian, dan ia juga ingin menghibur si bungsu Hozuki yang keras kepala itu sekali-sekali.
Lagi pula, siapa yang bisa menolak tiket gratis?
.
.
Malam itu Karin pulang kerja sedikit terlambat.
Sialnya lagi, ketika ia hendak turun dari bus di halte dekat rumahnya, hujan tiba-tiba jatuh mengguyur bumi dengan begitu derasnya.
Dan sayangnya, lagi-lagi Karin pun lupa memasukan payung ke dalam tasnya.
Jadi sambil berlari kecil ia pun segera merangsek masuk ke salah satu bistro di dekat halte untuk berteduh. Ia berpikir secangkir kopi mungkin bisa sedikit menghiburnya di malam yang agaknya muram ini.
"Hei,"
Namun ternyata masih ada kejutan lainnya yang menunggu Karin malam itu.
Karena begitu ia mendorong terbuka pintu bistro tersebut, seraut wajah yang sangat familier langsung saja menyambutnya.
Wajah yang selama sepuluh tahun ini tak pernah dilihatnya.
Surai raven yang sama; sepasang onyx kelam yang sama.
Itu Uchiha Sasuke; sepuluh tahun berlalu, dan tak sedikitpun ketampanan pria itu nampak pudar. Malah kalau boleh jujur, ia kini malah terlihat jauh lebih tampan daripada sepuluh tahun yang lalu—kalau itu bahkan memungkinkan.
"Oh… hei." Untuk beberapa detik yang sangat ganjil, Karin rasa ia telah kehilangan kemampuannya untuk bernafas. Kakinya limbung, dan buru-buru ia pun menepi untuk mencari tumpuan pada meja-meja kecil di dekatnya.
Karin masih tidak bisa mempercayai penglihatannya sendiri.
Karena ia yakin, bistro sederhana di dekat rumahnya itu bukanlah tempat yang mungkin menjadi tempat reuni tak terduga dirinya dan si pemuda raven.
Lagi pula, terakhir ia dengar, bungsu Uchiha itu memutuskan untuk pergi ke luar negeri bersama Naruto untuk tinggal bersama.
"Bagaimana kabarmu?" Dilain pihak, Sasuke terlihat begitu santai. Kalau pun ia mungkin sama terkejutnya dengan Karin, si merah marun tidak melihat keterkejutan tersebut.
"Baik… ya, baik-baik saja. Kurasa." Karin tidak yakin apa tepatnya yang ia rasakan sekarang ini. Terkejut, sudah pasti. Tapi ia pun tidak bisa memungkiri kecanggungan yang tiba-tiba tumbuh diantara mereka berdua saat kenangan masa-masa sekolah itu kembali menghantamnya satu per satu.
"Keberatan untuk minum teh?" Sasuke menunjuk sopan kursi kosong di depannya, memberi isyarat pada gadis bersurai marun itu untuk bergabung bersamanya.
"Sayangnya tidak. Tapi kau yang bayar," Karin ingin mengutuki dirinya sendiri ketika kalimat itu lepas begitu saja dari mulutnya. Sialan, ia terlalu sering membalas ajakan-ajakan kencan Suigetsu dengan kalimat-kalimat demikian, sehingga kini malah jadi kebiasaan. Memalukan.
"Hn."
Namun nampaknya Sasuke tidak terlalu mempermasalahkan celetukan sembarang Karin tersebut dan dengan segera memanggil pelayan untuk memesan satu cangkir teh hangat lagi.
"Kau sendiri, bagaimana kabarmu?" Karin akhirnya menarik kursi di depan meja si bungsu Uchiha tersebut, lalu melesakan sendiri bokongnya di kursi berbahan lembut itu.
"Aku tinggal di New York sekarang." Sahut Sasuke pelan, sambil menyesap tehnya. Untuk beberapa detik, Karin tidak yakin apa lagi yang harus ia tanyakan, jadi ia pun akhirnya menanyakan pertanyaan yang sudah sangat jelas jawabannya.
"Dengan Naruto?"
"Dengan Naruto."
Sasuke menjawab dengan tenang dalam satu tarikan nafas, dan mendadak suasana menjadi semakin canggung.
Untuk beberapa saat, Karin yakin ia telah kehilangan seluruh keberaniannya untuk kembali membuka obrolan dengan pria di hadapannya ini. Namun melihat bagaimana kedua onyx kelam itu kini berusaha menatap marun miliknya dengan kesungguhan yang sekiranya selalu Karin impikan selama sepuluh tahun belakangan ini, Karin pun berusaha dengan sekuat tenaga untuk tidak segera berdiri dan bergegas berlari dari tempat duduknya.
Jadi sekali lagi, Karin pun berusaha untuk mengumpulkan kesungguhan yang sama; dan mulai mencoba menyentuh topik yang mana ia sendiri tidak yakin telah siap ia dengarkan dengan seksama.
"Aku dengar bibi marah sekali waktu tahu." Ungkap Karin kemudian dengan hati-hati.
Untuk beberapa detik, Sasuke tidak menanggapi celetukan Karin, dan memutuskan untuk kembali menyesap tehnya.
Tak lama kemudian, si pelayan akhirnya datang membawa teh pesanan Karin. Dan saat Karin sudah mulai yakin Sasuke sedang tidak ingin mebahas topik itu lagi, Sasuke akhirnya menjawab pertanyaan wanita itu diiringi seulas senyum sedih.
"Yah, waktu itu sulit sekali." Akunya kemudian sambil kembali menyesap tehnya dengan getir.
Untuk beberapa saat, Karin kembali terdiam. Dengan susah payah ia berusaha mencari kata-kata yang tepat; karena sungguh, sepengetahuannya sendiri, saat itu memang kacau sekali. Karin sempat memergoki Bibi Kushina beberapa kali menelpon ibunya sambil menangis sesenggukan—dan telpon-telpon itu tidak pernah kurang dari tiga jam. Sesekali ia pun bisa mendengar sumpah serapah wanita tersebut dari balik telpon ibunya.
Itu saja sudah cukup memberitahu Karin tentang apa gerangan yang harus dihadapi baik oleh Sasuke maupun sepupu pirangnya tersebut saat mereka berdua memutuskan untuk membuka hubungan mereka kepada orang tua sepupunya tersebut.
"Tapi kalian tetap bertahan," Namun hanya itu yang sekiranya bisa Karin ucapkan dengan lamat-lamat, sambil menatap penuh simpati pria bersurai raven di hadapannya tersebut, "hingga hari ini."
Kedua onyx Sasuke kemudian menatap balik kedua ruby Karin dengan sedikit berkaca-kaca, untuk kemudian mengangguk pelan sambil kembali menatap tehnya.
"Ya … ya, kami tetap bertahan." Lirihnya pelan.
Tentu saja, masih ada setitik pilu yang Karin rasakan di hatinya mendengar pernyataan lirih penuh kasih tersebut; secuil sesak yang entah kapan bisa musnah sepenuhnya dari benaknya. Karena sungguh, cintanya pada si bungsu Uchiha itu memang nyata adanya, dan kenyataan bahwa ia bahkan takkan pernah dijadikan pilihan olehnya akan selalu mematahkan hatinya.
"Senang mendengarnya." Tapi Karin berusaha mengabaikan getir di dadanya tersebut. Setelah sepuluh tahun berhasil mengabaikan hatinya yang telah remuk redam, konyol bagaimana pertemuan singkat mereka ini bisa kembali membuatnya merasa seperti gadis kemarin sore yang baru saja ditolak oleh pujaan hatinya.
Beberapa detik kemudian berlalu dalam keheningan setengah canggung, dan Karin berusaha untuk kembali menenangkan dirinya sambil menyesap tehnya. Sesekali, ia mencuri padang pada Sasuke yang kelihatan lebih banyak melamun daripada yang terakhir diingatnya. Yang mana, mau tak mau, kembali mengusik rasa ingin tahunya.
"Um, kau pasti punya hal yang sangat penting sehingga memutuskan untuk pulang kemari kalau begitu." Pertanyaan itu sejujurnya meluncur dengan cukup spontan dari mulut Karin begitu ia selesai menyesap tehnya. Dan kalau boleh jujur, Karin sedikit menyesalinya. Karena kalaupun Sasuke akhirnya menjawab pertanyaan tersebut, ia mungkin tidak akan telalu menyukai jawaban pemuda tersebut.
"Yah, kurang lebih begitu," Pria bersurai raven itu akhirnya menjawab pelan setelah sebelumnya terdiam beberapa detik mendengar pertanyaan sembarang Karin tersebut. Kedua onyxnya kemudian berubah menjadi semakin kelam, dan Karin pun kembali bertanya-tanya, apa gerangan yang telah membuat pria Uchiha itu menjadi begitu murung, "aku datang untuk memberitahu keluarga Naruto… kalau putranya sudah tiada."
Seketika Karin pun benar-benar merasa menyesal telah bertanya.
"A-Apa?"
Tentu ia terkejut—sesuatu terasa tercekat di tenggorokannya, dan kepalanya mendadak terasa pusing dengan pernyataan yang begitu mengejutkan tersebut. Tapi bukan itu semua tepatnya yang membuatnya merasa semakin menyesal; melainkan karena sekelebat pengharapan yang dengan bodohnya mulai terbit kembali di hatinya ketika mendengar fakta bahwa kini Sasuke sudah kembali sendiri.
Pria raven itu kini melajang
Karin buru-buru menampar dirinya dalam hati ketika menyadari bagaimana kengerian itu akhirnya terbit di hatinya. Astaga, ia baru saja diberitahu bahwa sepupunya telah meninggal dunia, dan bisa-bisanya Karin berpikir ia kini punya kesempatan dengan pria yang baru saja ditinggal mati kekasihnya itu.
Karin pun tidak bisa untuk tidak merasa jijik terhadap dirinya sendiri.
"Yah, kau sama terkejutnya dengan Bibi Kushina, begitu juga Menma." Sasuke kemudian kembali melanjutkan dengan tenang, sambil memperbaiki posisi duduknya untuk bisa merogoh rokok di kantung mantelnya.
Namun begitu ia akhirnya mendapatkan kotak nikotin tersebut dan mengeluarkan satu batang rokok dari dalamnya, ia kemudian teringat sesuatu lalu sepenuhnya mengurungkan niatannya—kembali memasukan rokok tersebut, dan selanjutnya melempar sembarang kotak tersebut ke bak sampah yang berada tak jauh dari tempat duduk mereka.
Hal yang cukup aneh; namun sayangnya perhatian Karin masih teralih pada berita kematian sepupunya tersebut—yang meskipun tidak terlalu dikenalnya masihlah tetap saudaranya.
"Tapi, bagaimana bisa?" Karin memang tidak terlalu mengenal sepupunya yang berusia beberapa tahun di atasnya tersebut—selain fakta bahwa mereka menjadi saudara dari pihak ibunya, tapi menurut ibunya sendiri, Naruto adalah pria yang sangat periang, dan secara umum cukup atletis.
"Si bodoh itu… selama bertahun-tahun ini dia menyimpannya sendirian. Kanker getah bening. Aku sendiri masih sulit percaya dia berhasil menyembunyikan itu dari semua orang selama bertahun-tahun." Tapi Karin rasa, menjadi atletis sendiri tidak menjamin seseorang tersebut sepenuhnya sehat.
"Oh, Sasuke. Aku turut berduka."
Kendati sedikit perasaan penuh harap itu masih bergulir tidak menyenangkan di perutnya, Karin tidak bisa menampik simpati yang kini ia rasakan atas kehilangan si pria raven. Karin bisa melihat kelebat kesedihan yang begitu nyata di kedua onyxnya. Berputar dan mengendap dibalik kristal kelam tersebut—membuatnya jauh lebih gelap dari seharusnya. Dan sekali lagi, Karin pun serasa kembali ditampar oleh kenyataan tentang betapa Sasuke mencintai kekasih prianya tersebut.
"Terimakasih. Tapi aku tidak mau kau bersedih terlalu lama untukku." Ujar si bungsu Uchiha itu kemudian sambil sekali lagi mengulum seulas senyum sedih, "aku sudah selesai berduka."
Sayangnya, Karin tahu betul, pria itu tengah berbohong kepadanya.
"Ketika aku akhirnya tahu tentang kondisinya yang semakin memburuk, aku begitu marah." Lanjut Sasuke sambil sekali lagi kembali menoleh ke luar jendela bistro dengan tatapan menerawang. Karin bisa melihat rahangnya mengeras dari samping wajahnya ketika kembali bercerita. Pun ia tahu betul, pria itu memang telah sangat kehilangan.
"Dia menyimpan semua itu dariku selama ini, seolah-olah aku tidak berguna," Setelah mengatakan itu, Sasuke kembali menoleh menatap Karin dengan sepasang onyxnya lekat-lekat, sebelum kembali melanjutkan dengan parau, "tapi kemudian aku mengingat apa yang telah aku perbuat padamu dulu, tak ada bedanya dengan apa yang idiot itu perbuat terhadapku,"
Dan pria itu pun kemudian menundukan kepalanya sambil menopangkannya pada tangannya yang kini memijat pelan pangkal hidungnya dengan kedua ibu jarinya. Melihat pemandangan di depannya, seketika Karin pun tertegun. Karena apa yang ada di hadapannya saat ini, adalah seorang Uchiha Sasuke yang sedang menangis sesenggukan sambil berusaha menyembunyikan wajahnya.
"Aku pun akhirnya mengerti kemarahanmu."
Selama ia mengenal Sasuke, Karin selalu berpikir pria itu adalah tipe-tipe yang tenang dan logis. Cenderung kaku dan jarang memperlihatkan perasaannya. Yang mana kalau pun ia menunjukan suatu emosi secara berlebihan, Sasuke selalu berusaha keras untuk menyembunyikannya.
Namun kini—sepuluh tahun sejak kali terakhir Karin berjumpa dengan pria itu—Sasuke yang ada di hadapannya ini terlihat begitu rapuh. Untuk pertama kalinya, Karin menyadari bahwa dibalik sikap cuek dan label super sempurna yang selama ini selalu dikenakan oleh bungsu Uchiha tersebut, ia juga tetaplah hanya seorang manusia biasa.
Dan ketika akhirnya pria bernetra onyx itu kembali mendongakan kepalanya dan menatap Karin dengan sepasang onyx sembab yang sudah mulai memerah, ia pun melontarkan sebuah pertanyaan yang kembali mengejutkan putri semata wayang Uzumaki tersebut.
"Apakah aku sudah mendapatkan maafmu?"
"Sasuke," Seseketika itu juga, Karin pun ikut menangis, "kau sudah mendapatkan maafku sejak dulu."
Karena memang Karin sudah memaafkannya sejak lama. Semua ini bukan salah Sasuke, semua ini bukan salah siapapun. Karin hanya kebetulan jatuh cinta dengan orang yang kurang tepat, dan kenyataannya, pada akhirnya ia memang harus melepaskan cinta pertamanya itu.
"Aku sungguh menyesal, Karin." Sasuke kemudian mengamit pelan kedua telapak tangan Karin dan menempelkannya ke dahinya sendiri sambil masih tetap sesenggukan. Dan hati Karin pun semakin hancur melihat betapa menyesalnya pria itu karena telah merasa menjadi yang bertanggung jawab atas rusaknya hubungan pertemanan mereka di bangku sekolah menengah atas.
Karena sungguh, Karin harus mengakui, ia pun sama buruknya.
"Tidak, jangan bilang begitu. Aku juga ingin minta maaf, disaat kau sudah berani jujur padaku, aku malah berkelakuan seperti seorang jalang."
Karin tahu, ia bukanlah teman yang baik, dan selama sepuluh tahun ini, kesalah pahaman di antara mereka nyatanya sudah menyakiti mereka berdua dengan sama buruknya.
"Bagiku kau teman yang sangat berharga, terlepas dari kenyataan kau adalah sepupu Naruto atau bukan." Gumam Sasuke kembali, sambil kemudian mengangkat kepalanya sekali lagi dan tersenyum sedih kepada wanita bersurai marun di hadapannya.
"Un," Karin hanya bisa mengangguk pelan, sebelum akhirnya melanjutkan, "Kau juga, adalah temanku yang berharga, Sasuke."
Sebelum mereka akhrinya berpamitan, sehabis bersama-sama menangis sesenggukan beberapa menit sebelumnya, Karin sempat bertanya kemana pria itu akan pergi setelah ini—setelah kehilangan orang yang paling dikasihinya dan diasingkan keluarga sendiri.
Sasuke hanya tersenyum kecil sambil berkata ia akan kembali ke New York. Naruto meninggalkan begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan disana, katanya. Tapi Karin percaya pria itu hanya ingin menghabiskan sisa waktunya untuk mengenang kekasihnya itu di tempat dimana mereka telah menghabiskan waktu bersama selama ini.
Dan Karin pun paham, kendati Sasuke bilang dia telah usai berduka, nyatanya pria itu akan terus berduka atas kepergian kekasihnya itu selamanya.
.
.
Awalnya, Suigetsu yakin seratus persen ia tidak tertarik dengan anak baru yang masuk ke kantornya.
Menurutnya, si gadis Uzumaki terlalu judes dan kaku untuk seleranya.
Dan kalau boleh jujur, Suigetsu memang sedikit membencinya di tahun-tahun awal mereka menjadi rekan sekantor; wanita angkuh yang berlagak seolah tidak membutuhkan siapapun untuk membantunya.
Itu saja sudah cukup membuat lubang hidungnya mengerut jelek.
Tapi kendati demikian—seiring waktu berlalu, Suigetsu malah menjadi orang yang pertama tertarik.
Aneh memang.
Semuanya berawal dari tahun kedua; saat musim semi.
Tanpa sengaja Suigetsu memergoki gadis bersurai marun tersebut menangis tersedu di bawah guyuran hujan saat mengira tidak ada seorang pun yang melihat.
Sebenarnya, tidak ada yang sepenuhnya salah hari itu pada Karin—hanya saja ketika ia pulang hari itu, ia menyadari bahwa harinya memang cukup buruk dan akhirnya semua kenangan menyedihkannya semasa sekolah kembali menggerogoti kepalanya.
Suigetsu sebenarnya tidak ingin ikut campur; jadi dia hanya memayungi gadis itu dengan payung yang dibawanya, lalu menyerahkan sekaleng minuman hangat yang baru saja dia beli dari mesin minuman di depan kantor.
Tidak ada yang spesial, sungguh.
Namun, ketika netra ruby sang gadis akhirnya bertemu dengan violetnya, untuk pertama kalinya Suigetsu melihat Karin tersenyum—walau wajahnya berantakan dengan air mata dan bajunya basah kuyup.
Ternyata kau tidak seburuk yang aku kira
Itu yang Karin ucapkan padanya saat itu. Dan lagi-lagi, tidak ada sesuatu yang sepenuhnya spesial dari itu; hanya sebuah celetukan sembarang yang acak. Namun anehnya, setelah hari itu Suigetsu tidak bisa lagi memalingkan kedua violetnya dari wajah berantakan si gadis berambut marun.
Yah, begitu saja, Suigetsu jatuh cinta.
Sayangnya, selama empat tahun ini si bungsu Hozuki berusaha mengejar cinta si gadis Uzumaki, si pria pirang platina itu selalu saja ditolak mentah-mentah oleh si wanita berambut merah marun tersebut.
Awalnya, Suigetsu berusaha untuk hanya sekedar menjadi seorang 'teman'. Namun Karin lagi-lagi menjadi 'Karin' dan mempersulit terciptanya hubungan pertemanan di antara mereka berdua—terlalu banyak adu mulut untuk bisa menciptakan hubungan yang sopan di antara keduanya.
Hingga akhirnya beberapa bulan setelah insiden minuman kaleng dan payung, Suigetsu pun memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya. Menjelaskan pada Karin bahwasalnya ia tertarik pada wanita itu dan ingin memulai sesuatu yang serius—meskipun pernikahan masih jauh dari rencananya, tapi Suigetsu tidak serta merta mengabaikan begitu saja kemungkinan tersebut.
Tapi Karin langsung menolaknya saat itu juga, tanpa memberikan sedikitpun Suigetsu kesempatan untuk menjelaskan lebih dalam maksud dari pernyataan cintanya yang terkesan sembarang.
Dan sejak saat itu, hubungan mereka yang rumit pun dimulai; sesekali Karin akan menerima ajakan si bungsu Hozuki untuk keluar berdua. Entah itu makan malam, piknik atau pun mendaki—sebagaimana mereka ternyata memang berbagi hobi yang sama.
Tapi tidak pernah lebih dari itu.
Kencan-kencan sopan yang selebihnya mirip dua orang teman dekat yang senang menghabiskan waktu bersama.
Suigetsu tetaplah 'teman pria' wanita itu, dan tidak pernah lebih. Awalnya, si bungsu Hozuki itu kesal setengah mati dengan sikap Karin yang lebih seperti menggantungkan perasaannya—yang mana meskipun Suigetsu malu mengakuinya, nyatanya ia memang benar-benar jatuh hati pada si merah marun yang menyusahkan itu.
Namun lambat laun, Suigetsu mulai menikmati ritme kebersamaan mereka yang seperti awan di langit; terlihat dekat namun sejatinya berjarak puluhan kilometer. Setidaknya, wanita itu sesekali senang menghiburnya dan sekarang ini tidak pernah keberatan dengan keberadaan si pirang platina di sampingya. Suigetsu memang masih menginginkan lebih, tapi baginya, selama Karin masih bersedia untuk membiarkan dirinya berkeliaran di sekitar wanita Uzumaki tersebut, Suigetsu rasa, ia tidak keberatan dengan status mereka yang menggantung tidak jelas ini.
Seperti malam ini.
Si merah marun menepati janjinya dan benar-benar pergi ke bioskop dengannya. Dan seperti biasa, mereka menikmati tontonan mereka sebelum kemudian pergi ke kedai minum dekat stasiun untuk menikmati beberapa gelas bir dan kudapan ringan sebelum pulang ke apartemen masing-masing.
Atau setidaknya, begitulah seharusnya rutinitas 'kencan' mereka.
Biasanya, Karin pantang minum terlalu banyak. Ia benci kehilangan kendali atas akal sehatnya dan mulai membiarkan mulutnya merancau hal-hal yang jelas saja tidak seharusnya ia bagi pada siapapun. Atau setidaknya, itulah yang sering dikatakan Karin pada Suigetsu setiap kali pria itu mencibir sang wanita Uzumaki tentang betapa lemahnya ia untuk mengatasi alkohol dalam minumannya.
Namun, malam ini wanita itu telah menghabiskan hampir empat gelas besar bir, sementara Suigetsu—yang memang memiliki toleransi alkohol yang lebih tinggi, baru mulai menyesap gelas keduanya.
Awalnya, Suigetsu yakin ia ingin menghentikan wanita itu saat memesan gelas ketiganya. Namun biarlah, mungkin Karin memang butuh sedikit hiburan malam ini.
Dan ketika melihat si marun mulai terkantuk-kantuk serta kehilangan fokus saat baru menghabiskan setengah dari gelas keempatnya, Suigetsu pun memberanikan diri untuk menanyakan apa yang selama ini selalu menganggu dirinya. Meskipun ia sendiri tahu betul, tidak adil menanyai wanita itu pertanyaan sensitif apapun disaat setengah kesadarannya hilang entah kemana.
"Kenapa kau selalu menolak untuk berkencan denganku sih?"
Tapi yah, bagaimana pun Suigetsu memang ingin tahu.
Mendengar pertanyaan itu, Karin segera mendongak malas menatap netra violet cemerlang milik pria di depannya, berkedip beberapa kali, sebelum kembali menunduk pada gelasnya dan menggumam malas sebagai jawaban.
"Ajakanmu terdengar tidak sepenuh hati."
Suigetsu hampir saja tersedak bir yang tengah diminumnya ketika mendengar jawaban yang tak acuh tersebut. Sambil sedikit terbatuk-batuk, ia pun kemudian membalas celetukan setengah mengantuk tersebut dengan keseriusan yang mungkin mengalahkan semua keseriusannya setiap kali mereka tengah rapat dengan tim marketing.
"Hei, aku sungguh-sungguh." Ujarnya sambil berusaha menguci kedua netra ruby Karin yang memerah dengan sepasang violet gelapnya.
Hening beberapa saat, Karin masih menatap pria itu dengan pandangan sedikit mengawang, sebelum kemudian menunduk untuk menyesap kembali birnya dan bergumam pelan di setiap sesapannya, "aku … pernah menyukai seseorang."
Suigetsu tidak yakin apa tepatnya yang ia rasakan ketika mendengar pernyataan tersebut. Tapi yang pasti, hatinya terasa mencelos dan sesuatu yang berat kemudian terasa mengganjal di tenggorokannya ketika ia akhirnya kembali bertanya dengan nada yang diusahakan tidak terlalu acuh;
"Mantan pacarmu?"
Karin kembali mendongak untuk menatap kedua netra violet pekat milik lawan bicaranya, yang mana agak sulit dilakukan mengingat alkohol membuatnya sulit untuk fokus dengan pembicaraan mereka.
Suigetsu nyaris yakin wanita Uzumaki itu tidak ingin melanjutkan topik ini lagi sebelum kemudian mendengar si merah itu mendesah panjang sambil menjatuhkan tubuhnya dengan lelah ke sandaran belakang kursi yang tengah didudukinya.
"Kami tidak pernah berkencan. Tapi aku mencintainya," Sahutnya lamat-lamat dengan pandangan yang kini terlihat menerawang jauh, kemudian wanita itu kembali mengangguk pelan pada dirinya sendiri sambil mengguman sekali lagi, "ya, aku sungguh mencintainya."
"Lalu?" Suigetsu sebenarnya tidak ingin tahu lebih jauh—namun sayangnya, mulutnya tidak setuju dengan suasana hatinya yang dari tadi menjerit ingin berhenti mendengarkan apapun itu yang bisa saja diceritakan lawan bicaranya.
Karena sungguh, ia tidak bisa untuk tidak terluka mendengarkan pernyataan cinta terhadap pria lain yang tengah diumbar wanita yang dicintainya tersebut.
Yang mana, Karin pun dengan senang hati kembali menanggapi pertanyaan-pertanyaan itu.
"Kau tidak akan mengerti, cintaku, perasaanku, tidak akan pernah bisa mencapainya. Tidak akan," sambil menggeleng pelan, wanita itu menjawab pertanyaan pria di hadapannya, lalu terkekeh sinis setelahnya sebelum kemudian mulai menyesap lagi gelas birnya.
"Kenapa?"
Dan tentu saja, mulut Suigetsu masih sibuk memuaskan rasa penasarannya alih-alih menyelamatkan dirinya sendiri dari rasa sesak yang semakin menjadi di setiap detiknya.
"Kenapa? Hahaha, lucu kau bertanya. Kenapa ya? Karena kami beda spesies? Hahaha, iya pasti karena itu," Karin menjawab dengan suara yang satu oktaf lebih tinggi dari sebelumnya—menyebabkan beberapa pasang mata penuh selidik berpaling ke arah mereka, dan juga akhirnya menyadarkan Suigetsu, bahwa mungkin saja, ia tidak ingin mendengar lebih banyak.
"Aku rasa kau sudah minum cukup banyak." Dengan sigap pria itu kemudian menarik lembut gelas kaca di tangan wanita yang duduk di sampingnya tersebut, berusaha menghentikannya untuk menambah asupan alkohol lagi—yang mana mungkin bisa membuatnya semakin merancau tidak jelas, atau malah, bertidak konyol.
"Lepaskan! Pelayan, mana gelasku yang baru!" Tapi Karin akan selalu menjadi Karin. Dan dengan keras kepala ia pun berusaha mempertahankan gelas kaca dalam genggamannya itu, lalu mulai memanggil pelayan bar.
Suigetsu menggeleng pelan pada wanita bersurai coklat sebahu yang kini menatapnya penuh tanya—seolah meminta persetujuan pria itu untuk tetap melayani si marun yang benar-benar sudah mulai mabuk atau mengabaikannya sepenuhnya.
"Tidak, Karin. Hei. Sudah, berhenti minum." Mungkin karena lelah; atau mungkin juga karena kepalanya kini mulai berdenyut sakit, Karin akhirnya menghentikan kekeras kepalaannya dan melepaskan cengkramannya pada gelas tersebut. Dengan cepat Suigetsu pun menjauh kan gelas yang masih tersisa sedikit tersebut dari jangkauan wanita di sampingnya, sebelum kemudian menarik kursinya mendekat. Bagaimana pun, ia rasa Karin memang butuh sedikit sandaran.
"Ya, karena kami beda spesies, pasti karena itu," atau mungkin pelukan, karena begitu Suigetsu akhirnya menggeser duduknya mendekati putri semata wayang keluarga Uzumaki tersebut, wanita itu sudah dengan langsung mencengram erat bagian depan kemejanya dan melesakan sendiri seluruh bobot tubuhnya kepada pria bernetra violet tersebut.
"Aku mencintainya, Hozuki, aku sangat mencintainya," Lirih Karin lagi, sebelum kemudian mengangkat kepalanya untuk menatap pria tersebut dengan netra ruby miliknya yang kini tengah berkaca-kaca, "tapi dia takkan pernah melihatku, selamanya, tidak akan pernah."
Untuk banyak alasan yang nampaknya sulit Suigetsu jelaskan, ia ternyata tidak marah atau pun kecewa dengan pernyataan yang seharusnya membuatnya begitu terluka tersebut.
Wanita yang dicintainya baru saja dengan sangat jelas mendeklarasikan cintanya pada pria lain; seorang asing yang bahkan Suigetsu sendiri tidak ketahui namanya.
"Kemarilah."
Tapi alih-alih terluka, pria itu malah semakin mengeratkan pelukannya pada gadis dalam dekapannya.
Karena saat ini tidak ada yang lebih diinginkannya selain melindungi gadis bersurai marun tersebut dari semua hal yang bisa menyakitinya di dunia ini.
"Tidak! Jangan memelukku! Kau bau!" Namun Karin mulai menggeliat gelisah ketika menyadari pria bersurai pirang platina itu kini tengah berusaha semakin mengeratkan pelukannya—karena kendati pun ia mabuk, ia tidak yakin pria yang sudah menemaninya selama empat tahun belakangan ini pantas untuk dijadikan pelampiasan.
"Tsk. Yang ada kau yang bau alkohol!" Gerutu bungsu Hozuki itu pelan sambil tetap berusaha mempertahankan pelukannya.
"A'ah, ya, kau benar… hehe, aku bau alkohol," Menaggapi gerutuan si pirang platina, Karin kemudian terdiam sejenak untuk setelahnya terkekeh parau.
Astaga, ia yakin dirinya sudah patah hati sepenunya sepuluh tahun yang lalu; bagaimana mungkin ia bisa patah hati lagi sekarang ini hanya karena sebuah pertemuan singkat yang tak terduga?
Demi Tuhan, ia baru saja mendapati kenyataan bahwa saudara sepupunya—yang sepertinya tidak terlalu dikenalnya, telah meninggal dunia, dan disini dia malah mengkhawatirkan hatinya yang kembali mengerut sakit akibat teringat akan cinta pertamanya yang selamanya takkan pernah bisa terbalas.
"Aku payah ya," Ujarnya kemudian dengan parau, dan di detik itu juga, pertahanannya pecah. Isak tangis melucur bebas dari bibir ranumnya dan tak butuh waktu lama untuk bagian depan kemeja si bungsu Hozuki menjadi sepenuhnya lembab karena air mata.
Kali ini, Suigetsu benar-benar menenggelamkan gadis itu sepenuhnya dalam dekapannya, lalu berbisik pelan di telinganya.
"Tidak, aku yang payah sampai membuatmu menangis."
Begitu saja, malam itu—malam yang sangat aneh; Karin mendapati dirinya tersedu dalam dekapan seorang pria berambut perak. Menumpahkan segala keluh kesahnya—serta isi perutnya, padanya.
Karin tahu, pertemuannya dengan Sasuke tempo hari adalah sebuah akhir.
Kisah mereka harus berakhir; cinta Karin harus berakhir.
Ia senang pria itu terlihat sehat-sehat saja; dan pria itu juga bilang bahwa Karin harus bahagia.
Dan Karin memang ingin bahagia, tapi itu berarti ia harus rela melepaskan semuanya dan menerima kenyataan bahwa cinta yang dipupuknya hingga lapuk ini adalah cinta kosong yang takkan menghasilkan apa-apa.
Ia harus melepaskan Sasuke, ia tahu.
Ia harus menyerah pada perasaan yang telah dengan keras kepala disimpannya dan mulai melangkah maju.
Dan hal terakhir yang diingatnya malam itu adalah berada dalam pelukan pria berambut perak di atas kasur penginapan murah yang hangat.
Tenggelam dan berusaha untuk melupakan segalanya.
Uchiha Sasuke selamanya akan menjadi cinta pertamanya; dan kenangan tentangnya takkan pernah usang dalam ingatan wanita itu.
Tapi tentu saja, masa depan yang lain tengah menunggunya;
Karena tidak semua kisah berakhir bahagia dan hidup tak selalu berlaku adil.
Tapi tentu, akan selalu berarti.
.
.
Fin
.
.
Catatan penulis:
Hallo, semuanya. Senang berjumpa kembali.
Cerita ini hanya sebuah short-fic iseng disela-sela kegabutan saat menyusun ulang HANAYOME. Karena, well, sejatinya saya adalah SuiKa shipper garis keras, dan Karin akan selalu menjadi tokoh paling berkesan untuk saya—entah karena apa.
Mungkin ada yang merasa kecewa Sasuke malah berpasangan dengan Naruto disini, tapi yah, itu diperlukan demi kelangsungan plot saya yang sederhana ini, jadi harap dimaklumi ya 😉
So, thank you for reading.
Salam hangat,
Lin
