Absurd, Don't like don't read!

.

The Story Behind

.

Those hands of yours,

are what I wish to hold most,

For we can share our feelings,

as long as we try

.

Kirameki-wacci

.

.

Ino tak pernah memperhatikan Inuzuka Kiba sebelumnya, andai saja insiden kepalanya yang nyaris terkena lemparan bola voli itu tak pernah terjadi. Boom, untung saja ia langsung menunduk karena kalau tidak kepalanya bisa lepas karena smash Kiba terkenal tidak main-main.

"Hati-hati dong!" Ia berteriak jengkel, dan rasanya ingin melempar bola ke muka cowok itu.

"Sorry." Inuzuka berjalan mendekat, cuma untuk memastikan Ino tak cidera karena ulahnya.

"Lagipula ngapain kau jalan lewat tepi lapangan voli woy, ada jalan di sebelah sana." Si pirang Uzumaki menunjuk jalan di sebelah kanan, yang tampak lebih aman untuk sampai di lorong seberang.

Pikir Ino tadi lewat sini lebih cepat, jadi tanpa pikir panjang ia memilih jalan di sebelah lapangan voli.

"Kau nggak apa-apa kan?"

Ino mendongak, hanya untuk menatap iris coklat si jangkung Inuzuka. "Yeah, ku rasa aku baik-baik saja." Dilihat dari dekat tatapan cowok itu agak menakutkan, ekspresi datarnya yang tanpa senyuman bahkan ia artikan sebagai 'memastikan korban tidak apa-apa, karena ia takut disalahkan' bukan kekhawatiran yang sesungguhnya.

Kiba hanya mengangguk, dan kembali ke timnya untuk melanjutkan permainan voli yang sempat tertunda.

Sialan, Ino tak bisa berhenti mengumpat dalam hati. Debar jantungnya akibat dari keterkejutan lemparan bola itu belum reda hingga ia sampai di lorong yang menghubungkan dengan perpustakaan.

.

.

"Kau ngapain disini?"

Sejujurnya bukan pertanyaan itu yang ingin ia dengar dari seseorang yang entah sejak kapan sudah muncul di tikungan jalan, astaga lebih tepat kalau disebut ia tak mengharapkan orang ini ada disini. "Lagi jemur pakaian."

Kiba tergelak melihat ekspresi bersungut-sungut si cewek Yamanaka, entah apa yang membuatnya semarah itu, tapi dilihat dari sudut mana pun Ino hanya berdiri khawatir di bawah pohon dengan tatapan terus mengarah ke atas. Oh, ia baru sadar jika ada kucing persia berbulu seputih salju di atas sana. "Kucingmu?"

"Nggak, kucingnya pak presiden."

"Astaga, kau judes sekali sih."

"Kucingku Kiba, lagipula kenapa aku repot-repot berdiri disini dan mencari cara untuk menurunkannya kalau ini bukan kucingku." Bagaimana pun juga kekesalannya akibat kucing itu--yang entah bagaimana bisa naik kesana dan tak bisa turun--bertumpuk lebih dari yang bisa dibayangkan nya. "Kau bisa bantu tidak?" Ia mengarahkan tatapan pada si cowok Inuzuka dengan sedikit mengiba. Ia tak bisa mendeskripsikan apa yang sedang dipikirkan Kiba, tapi dari seragam yang agak acak-acakan, serta tas yang mengait sebelah pundaknya menyampaikan logat kelelahan parah. "Kalau nggak mau ya sudah."

Cowok itu memutar bola mata, dan dengan cekatan mulai menaikkan kaki kanannya, memanjat pohon tanpa perlu repot-repot melepas tasnya. Gerakannya seolah begitu terlatih dan tanpa rasa takut sedikitpun. "Ku lempar dari sini ya?"

"Eh, jangan! Ku bunuh kalau kau sampai melakukannya." Ino panik, kucing itu sudah berada di pelukan Kiba. Mengeong tanda tak nyaman dan ingin segera diturunkan. "Gendong sampai agak ke bawah, nanti biar ku tangkap dari sini."

Kiba menurut saja, seolah tak memiliki pilihan, padahal ia bisa saja langsung melemparkan kucing itu ke bawah dan lari dari sana. Tapi melihat binar kalut di manik cewek itu membuatnya sedikit iba. "Lagipula kenapa kucingmu bisa sampai sini? Bukankah rumahmu lumayan jauh dari sini?" Tanyanya setelah kembali menginjak tanah, dan mengembalikan hewan itu pada si pemilik.

"Aku kehilangan dia selama dua hari ini," Jemarinya mengelus si kucing, dan kelegaan luar biasa memenuhi dadanya. "Aku tadi menemukannya di dekat minimarket, dan tiba-tiba saja dia lari kesini."

Menurut Kiba kucing adalah hewan aneh mereka kadang bisa naik pohon tapi takut untuk turun. Ingin sekali ia mengatakan jika hewan peliharaan dan pemiliknya sama-sama aneh, tapi ia agak ciut nyali jika Ino sampai menceramahinya panjang kali lebar. "Kau masih marah padaku gara-gara bola voli itu?"

"Apa? Tentu saja tidak."

"Kalau begitu ucapkan terimakasih, kau bahkan tidak menghargai ku sama sekali."

Karena terlalu senang, ia bahkan lupa mengatakannya. "Anggap saja sebagai ucapan maaf karena kau nyaris membuat kepalaku cidera."

"Apa?"

"Aku malas mengulanginya lagi." Ketimbang berdebat lebih banyak, Ino justru berjalan pergi. Meninggalkan Kiba yang speechless mendengar rentetan kalimatnya

.

.

"Minggir!"

Ino yang tengah berdiri di dekat taman bersama Tenten mengernyitkan kening kesal, dibentak seperti itu saat kau tidak sedang melakukan kesalahan sungguh bikin otak mendidih. "Masih banyak ruang untuk lewat, kenapa aku harus minggir?"

"Kau menyakiti mataku tolol."

"Bicara yang sopan dong, kau datang-datang langsung ngamuk nggak jelas." Tenten yang awalnya tengah mendengarkan penjelasan Ino soal aljabar ikut protes.

Jujur Ino tahu kenapa cowok itu selalu marah melihatnya, padahal dulu dia seolah jadi penggemar nomor satunya. Setelah insiden Hidan ia tolak di depan umum membuat cowok itu membencinya. Ya, salah sendiri menyatakan perasaan di acara pentas sekolah. Mana sudah mengumumkan di atas panggung tanpa memberi tahunya lebih dulu. Dikira itu membuatnya terkesan, yang ada justru malu. "Ya kau saja yang minggir kalau matamu sakit karena melihatku."

"Dasar jalang sialan."

"Siapa yang kau sebut jalang?" Yamanaka muda itu tak mampu menahan emosinya, sakit sekali rasanya di sebut seperti itu.

"Kau--"

"Kau ada masalah apa sih denganku?"

Urat tipis tampak jelas di sekitar lehernya, dan lototan matanya yang bikin ciut nyali nyaris sanggup membuat Ino menahan napas. Astaga, cowok itu benar-benar bikin muak. Dia seolah bakal menghabisinya dalam sekali lihat. "Masalah? Kau masih perlu bertanya soal itu?"

"Kau orang paling aneh yang pernah kami temui." Tenten menarik tangan Ino dan hendak membawa gadis itu meninggalkan tepi taman. Namun, kaki Hidan yang sedikit dimajukan itu justru membuat si gadis Yamanaka tersungkur.

Tenten tekejut, dan Ino nyaris memekik. Tapi Hidan memekik lebih dulu saat sebuah bola voli menghantam kepalanya.

"Sialan!"

"Ups, sorry Bro, nggak sengaja." Kiba yang berdiri di lorong bersama Naruto nyengir lebar, ekspresi bersalahnya yang tak tampak serius bisa ditebak dengan jelas. "Naruto sih, ku bilang jangan mendorong ku terlalu keras, bolanya jadi mengenai kepala orang kan."

Si pemuda Uzumaki memutar bola mata, "oke sorry." Belum sempat ia menarik napas, bola voli itu menghantam perutnya dengan keras.

"Kalian berdua benar-benar sialan." Hidan tampak mengepalkan tangan, sudah bersiap menghajar dua bocah yang terkenal paling pecicilan di sekolah itu. Tapi kehadiran Pak Kakashi justru jadi penyelamat yang paling menakjubkan.

Sementara Hidan melangkah pergi dengan amarah yang meluap-luap, Kiba dan Naruto justru terlibat perbincangan serius dengan Pak Kakashi selaku pelatih mereka.

"Lututmu berdarah." Tenten tampak geram. "Lain kali ingin ku pukul wajahnya."

"Aku juga berhasrat memukul wajah Hidan, tapi kurasa kita perlu Sakura." Dalam hati ia merasa bersyukur atas kehadiran Kiba dan Naruto yang tiba-tiba. Meski itu mungkin bukan opsi paling baik, sebab yang benar saja kenapa Kiba menolongnya? Karena tidak mungkin kan bola voli mendarat tepat di kepala Hidan hanya karena Naruto tidak sengaja menyenggolnya? Yang benar saja.

.

.

Keringat terasa lengket di kaos olahraga raganya, dan Kiba mengabaikan itu karena latihan sore ini benar-benar membuat dadanya membuncah. Seolah ribuan kebahagiaan yang tak bisa dijelaskan tengah membanjirinya. Di belakangnya, Naruto dan Sai berjalan berdampingan sembari memperhatikan lorong yang tampak berasap.

"Bukankah ini aroma rokok?" Sai yang duluan berucap, sementara Naruto memperhatikan sekeliling mereka. Itu memang benar asap rokok, dan aroma tajamnya menyakiti tenggorokan sekaligus membuat dada agak sesak.

"Hei kalian, dilarang merokok di area sekolah." Sudah Kiba duga sejak matanya menangkap kepulan asap itu, jika gerombolan Hidan lah yang melakukan aksi ini. Bukan kali pertama ia memergoki mereka berkerumun di tikungan lorong sepi ini untuk menghirup nikotin beserta kumpulan racun paru-paru itu.

"Kau lagi." Hidan yang sebelumnya bersandar di tembok kini berjalan ke arah Kiba, membuat pemuda Inuzuka itu sedikit terbatuk. "Kau tidak bisa ya sekali saja berhenti ikut campur urusanku."

"Aku nggak ikut campur, aku cuma memperingatkan. Sebagai salah satu siswa disini, kau seharusnya tahu tata tertib itu." Tak ciut nyali, dia menantang tatapan si lawan bicara.

"Lagipula kalian ini buang-buang uang saja." Naruto menyahuti dan mendekat ke arah Kiba. "Pelanggaran yang kau lakukan sudah banyak kan, Hidan?" Meskipun ia tahu murid-murid berandal di belakang Hidan itu menatap mereka dengan pandangan tak suka, dan pelanggarannya sama saja dengan pemuda di hadapannya, ia tetap enggan menyebut mereka satu-persatu.

"Apa urusannya denganmu Uzumaki?" Hidan mendecih, dan nyaris meludah di dekat sepatu Naruto.

"Sialan," Kesabaran Naruto seolah habis. Ia menarik kerah baju Hidan dan membuat anak itu agak terhuyung ke belakang. Melihat kejadian itu, Teman-teman Hidan yang jumlahnya dua kali lipat dari jumlah Kiba dan dua temannya mulai berdiri, seolah siap menyerang jika Naruto melayangkan satu saja pukulan pada ketua mereka.

"Sudah Naruto, kita buang-buang waktu disini." Kiba menghela napas, makin sesak dengan banyaknya asap rokok yang bercampur bersama oksigen di sekitar mereka. Sementara Sai justru sudah ingin pergi dari tadi. "Ayo, kita laporkan saja ke guru BK."

Uzumaki patuh, dia tak jadi menyerang Hidan. Dia memberi sinyal pada Sai untuk kembali berjalan menjauhi tempat itu. Namun baru beberapa langkah berjalan, sebuah lemparan sepatu tepat mengenai kepala Kiba.

"Sudah, ku bilang, jangan ikut campur urusanku Inuzuka."

Ekspresi Kiba tampak keruh ketika berbalik, rahangnya kaku seolah menahan amarah yang sudah nyaris meledak. Bahkan Sai maupun Naruto tak berani berkomentar apapun, mereka hanya mematung dan menyiapkan diri untuk hal buruk apapun yang bakal terjadi.

"Aku cuma memperingatkanmu Bro, bukan untuk ngajak ribut." Dia berjongkok, mengambil sepatu yang mengenai kepalanya itu, lalu melemparnya jauh ke ujung lorong, nyaris jatuh ke selokan.

"Brengsek kau Inuzuka." Satu pukulan Hidan yang tak disangka-sangka berhasil menorehkan luka di sudut bibir Kiba. Membuat cowok itu terhuyung ke belakang. Hampir roboh, andai saja tak segera berpijak kuat-kuat.

"Kau memukulku?" Kiba tertawa pelan, dan amarahnya sudah benar-benar meledak sekarang. Dia maju dan memukul perut Hidan, lebih kuat dari yang seharusnya. Membuat anak itu berlutut kesakitan. "Aku tak berniat cari masalah denganmu, aku cuma memperingatkanmu karena bakal fatal akibatnya kalau sampai guru BK tahu apa yang kalian lakukan."

Suasana makin ricuh, teman-teman Hidan sudah nyaris menyerang Kiba. Namun Naruto maju selangkah di depan si lelaki Inuzuka, berusaha menengahi. Keributan itu baru akan mencapai puncaknya ketika Pak Guru Asuma berteriak di ujung lorong.

"Jangan lari! aku hafal wajah-wajah kalian. Semuanya, ikut aku ke ruang BK."

.

.

"Totalnya 200 yen," Ini bukan pertama kalinya Inuzuka Kiba mampir ke mini market tempatnya bekerja paruh waktu. Biasanya cowok itu bakal membeli beberapa snack, cola, makanan untuk anjingnya, atau bahkan tepung titipan ibunya. Tapi hari ini lain, lebam ungu tampak jelas di pipi kanannya. Habis ngapain dia? Jatuh waktu melakukan smash? Atau tersungkur waktu naik sepeda? Yang manapun jawabannya tak membuatnya lega, "sedang ada diskon, ambil satu lagi. Beli satu gratis satu."

Kiba menatapnya sejenak sebelum mengambil minuman teh rasa markisa yang baru saja di bayarnya, "ambil saja satunya, aku cuma perlu satu."

Bukannya ia menolak, minuman yang selalu dibeli Kiba itu juga salah satu minuman favoritnya. Tapi ia tidak tahu bagaimana cara mengucapkan terima kasih yang benar, pasalnya dari awal masuk SMA ia tak terlalu akrab dengan cowok ini. "Pipimu kenapa? Habis dicium aspal ya?"

Ketimbang marah, Kiba justru tergelak. Memang dasar lawak cewek di hadapannya ini, padahal insiden tadi siang lumayan bikin geger sekolah, bagaimana mungkin Ino tak tahu? "Kalau jawaban itu membuatmu senang, anggap saja begitu."

Ino mendecak, percuma saja tanya. Kiba sudah nyaris sampai pintu ketika bibirnya tak terkontrol justru mengucapkan, "terima kasih tehnya."

"Yeah, sama-sama." Jeda, pemuda itu tampak berpikir sejenak, dan minuman dingin di tangannya meneteskan embun yang terkumpul di sisi luar botol. "Jangan bekerja terlalu keras, ujian sudah di depan mata." Dan setelah itu pintu tertutup, Kiba sudah melenggang di halaman minimarket.

Ino tertegun, jangan bekerja terlalu keras? Memang dia siapa berani menasehatinya begitu?

.

.

Dunia tak adil, begitulah yang dirasakan Ino usai melihat pengumuman hasil tes masuk perguruan tingginya. Lututnya lemas, mengetahui namanya tak tercantum di pengumuman yang terpasang di mading sekolah. Ia sudah belajar keras, meluangkan lebih banyak waktu untuk mempelajari berbagai macam soal, tapi hasilnya nihil. Ia justru kalah dari Lee yang berhasil masuk di jurusan yang diinginkannya, ah memang sialan. Tak seorang pun anak yang berdesakan di kerumunan itu memperhatikannya, tapi memang siapa yang peduli? Air matanya sudah meleleh ketika ia berjalan menjauh. Hatinya sakit sekali, tapi ia tak tahu harus menyalahkan siapa? Apa selama ini, belajarnya masih kurang?

.

.

"Itu loh, namamu. Kau dari tadi nyari nama siapa?" Naruto jelas-jelas melihat Kiba menunjuk namanya beberapa menit lalu, tapi entah bagaimana cowok itu kembali menelusuri nama murid-murid lain. "Namaku juga ada di nomor 78, kau juga tahu itu, siapa sih yang kau cari."

Mengabaikan pertanyaan Naruto, Kiba masih sibuk menelusuri nama-nama itu beberapa kali. "Tidak masuk."

"Siapa? Si pirang kelas 12 E?" Kiba tak menyahutinya, tapi dari sorot matanya, Naruto bisa menyimpulkan sendiri.

.

.

"Kau kira kami tidak tahu?"

Tas yang hanya mengait salah satu pundaknya nyaris jatuh akibat ucapan Gaara, sementara Naruto hanya mengangguk, menghentikan langkah Kiba yang sudah separuh masuk ke ruang loker. "Tahu apa?"

"Ya itu."

Kiba tak terlalu menyimak pembicaraan mereka sejak tadi, tapi sepertinya ini bukan pertanda bagus. "Ya itu, apa?"

"Kau naksir Yamanaka kan Bro?" Naruto bergumam, sedikit berhati-hati jika ada orang lain di ruangan itu.

"Mendadak masuk akal kenapa kau jadi sensitif kalau Hidan berkeliaran di sekitarmu." Gaara tak menuntut jawaban dari cowok Inuzuka yang masih diam itu, sorot matanya tak bisa membohonginya. Dan Kiba jelas tak memiliki kalimat apapun untuk menyangkal.

Naruto mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, lalu mengulurkannya pada Kiba. "Sepupuku kemarin memberikan ini, ambil dua-duanya, ku dengar cewek itu suka sekali dengan one ok-rock."

"Hei, itu tiket konser yang mau kau bagi denganku tadi kan?" Cowok Sabaku itu protes, tapi lototan mata Naruto membuatnya kembali diam.

"Sorry ya, sepertinya kondisi Kiba lebih membutuhkan ini."

Sebagai jawaban, Gaara hanya mendecak pelan. Ia menepuk pundak Kiba, berusaha seikhlas mungkin berucap, "cepat temui dia, ku lihat dia tadi nangis di tangga lorong menuju atap."

.

.

Butuh nyali yang cukup untuk membuat Kiba memantapkan tekad, pura-pura berjalan melewati lorong yang disebut Gaara tadi. Benar, Yamanaka Ino ada di undakan tangga, menangis sesenggukan. Dan bahkan tak menyadari kehadirannya. Agak lama ia diam disana menyaksikan cewek itu tetap dalam posisinya, menangis sembari menutupi wajahnya.

"Kau kenapa?" Tanyanya, pura-pura tak paham dengan situasi yang terjadi.

Biru jernih iris matanya melebar, terkejut dengan Kiba sudah ada di hadapannya. Namun situasi itu masih tak cukup untuk menghentikan tangisannya. Air matanya tetap meleleh, dan bahkan rasa malu masih tak mampu mengalahkan sedih di hatinya. "Per-pergi, pergi saja, dari, dari sini." Kalimatnya patah-patah, susah untuk merangkai kalimat ketika cegukan dan sumbatan di hidung terasa begitu menyakitkan.

Inuzuka paham kalau cewek itu malu tertangkap basah sedang dalam keadaan terpuruk, sebab biasanya Ino agak lumayan bar-bar. Barangkali sudah bukan agak lagi, tapi memang bar-bar. "Masih ada Perguruan tinggi lainnya, Todai bukan satu-satunya kan?"

Sesenggukan tangis Ino sedikit mereda. Sembari serabutan menghapus air matanya ia kembali menatap Kiba, seolah mengisyaratkan tatapan 'kau mana paham rasanya jadi aku, suasana hatimu sedang baik karena kau lolos tes'.

"Masih belum terlambat, Yokohama, Osaka, dan perguruan tinggi lain yang juga sama-sama bagus belum kau coba kan?" Dengan kedua tangan yang ia letakkan di saku celana, Kiba lebih mendekat ke arah Ino. "Kalau butuh bantuan, nanti ku bantu."

Ino mendengus jengkel, sok sekali si Inuzuka ini.

"Aku dapat ini dari seseorang," Ia mengulurkan satu tiket konser one ok-rock pada si cewek, membuat cewek pirang itu tertegun, tangisnya hanya menyisakan cegukan dan air mata basah di pipi. "Kalau kau berniat nonton, malam minggu nanti ku tunggu di halte dekat kedai ramen Pak Takeuchi." Apa Ino merasa aneh ya dengan sikapnya ini sampai tak bisa berkata apapun, Kiba jadi gugup sendiri. Lagipula ia sejujurnya tak tahu harus memberikan kalimat penghiburan yang seperti apa lagi? Maka ketika cewek itu mengulurkan tangan untuk mengambil tiket konser tersebut, ia menghela napas dan berjalan pergi. Tak bisa menduga apa yang mungkin dipikirkan si lawan bicara.

.

.

"Kiba memberimu tiket konser one ok-rock? Yang benar saja." Hinata yang sejak tadi sibuk berkutat dengan buku rumus kimianya akhirnya mengalihkan tatapan pada Ino. "Bukan Kiba sekali."

Sudah sejak lima belas menit lalu heningnya perpustakaan kota tak mampu membuatnya berkonsentrasi, dan ia nekad menceritakan hal itu pada si teman belajar. "Nah makanya itu, aku juga nggak habis pikir." Ia memainkan pena di tangannya, sembari mengingat-ingat ekspresi Inuzuka saat mengulurkan tiket tadi siang. "Menurutmu aku harus datang tidak ya?"

Cewek Hyuuga itu menutup bukunya, fokus dengan Ino yang tampak kalut. "Datang saja, kapan lagi kau bisa dapat tiket gratis untuk nonton band favoritmu?"

Iya juga ya, tapi... berbagai perasaan masih mengganjal hatinya. Kenapa Kiba memberinya tiket konser ini?

end

Sistem penerimaan hasil pendaftaran PTN bisa dilihat secara online sebenarnya, tapi biar lebih dramatis aja di cerita ini pakai sistem pengumuman di mading.

.

~Lin

1 Februari 2024