Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
AU
Meskipun seharusnya ia tak melakukan ini, detektif Hatake Kakashi tetap membuka arsip yang berisikan data-data mendiang keluarga Namikaze pada saat mereka tinggal di Moskow, Rusia. Mulai dari sang kepala keluarga, Minato Namikaze, dan istrinya, Kushina Namikaze; serta anak tunggal mereka—yang untuk beberapa alasan namanya tidak ikut dicantumkan.
Tragedi yang menimpa keluarga Namikaze terjadi pada tahun 2007. Publik hanya mengetahui fakta bahwa kediaman Namikaze tersebut hancur lebur karena sebuah ledakan bom; ketiga anggota keluarga meninggal di tempat, tertimbun reruntuhan bangunan. Beberapa tahun setelahnya, kasus tersebut ditutup karena polisi sama sekali tidak menemukan titik terang. Atau setidaknya, itulah yang semua orang ketahui.
Detektif Hatake meletakkan kembali arsip ke atas meja. Kalau boleh jujur, selepas membaca data itu, rasa penasaran malah membuncah di hatinya. Namun, ia tak ingin pikirannya terpecah belah hanya karena sebuah kasus lama. Kebetulan saja ia menemukan berkas-berkas tersebut di ruangan pribadi Ivan Yezhov; seorang dokter ternama dari Rusia yang dicurigai sebagai otak dibalik kematian mengerikan para murid dari Kingshill Academy; kasus yang tengah ia selidiki saat ini.
Prioritas utamanya.
Kingshill merupakan sekolah khusus yang didirikan untuk remaja bermasalah berusia di atas lima belas tahun, begitupun remaja yang pernah melakukan tindak kriminal (tentu saja, sekolah-sekolah pada umumnya tidak mau menerima murid bermasalah tersebut). Sistem keamanannya terlalu ketat hingga sulit untuk bisa masuk ke dalam sana. Bahkan orangtua murid sekalipun tak diizinkan menemui anak-anak mereka kecuali untuk alasan yang sangat penting.
Pada saat itu juga, ponselnya bergetar di saku celana. Is melihat sekilas nama yang tertera di layar ponsel sebelum menjawabnya. "Beri aku kabar baik, Guy." tak butuh waktu lama untuk mendengar respon.
"Kau beruntung, aku memang punya informasi menarik," di seberang sana, terdengar suara pintu yang tertutup. "Anak itu sudah bangun, sekitar … setengah jam yang lalu."
"Bagaimana keadaan bocah itu sekarang?" mata tajam sang detektif menyisir setiap jengkal ruangan. Harapannya adalah, malam ini dia bisa menemukan sesuatu yang mampu dijadikan bukti kuat untuk menendang Dr. Yezhov ke dalam jeruji besi.
Remaja 16 tahun yang saat ini mereka bicarakan tengah dirawat di Konoha Medical Center, salah satu rumah sakit terbaik di Jepang. Kondisi bocah itu sangatlah buruk ketika polisi menemukannya tak sadarkan diri di sebuah gang gelap tak jauh dari taman kota. Menurut sang dokter, anak itu dapat berbicara saja sudah bisa dihitung sebagai keajaiban.
Eksperimen gila macam apa yang dilakukan Dr. Yezhov kepada bocah malang itu?
"Kondisinya cukup stabil—untuk saat ini. Dokter bilang mereka harus melakukan beberapa tes lagi. Sekarang dia hanya perlu banyak istirahat, dan harus dalam pengawasan yang ketat."
"Lalu informasi menarik yang kau sebutkan di awal itu?" Detektif Hatake berjalan meninggalkan meja. Entah mengapa, perasaannya mendadak berubah menjadi kalut.
"... Katanya, semua staff di Kingshill menutupi wajah mereka dengan topeng."
Ia berhenti di tengah ruangan. "Apa itu artinya semua guru juga mengenakan penutup wajah?"
Guy menghela napas. " Sebaiknya kita bicarakan ini di kantor, detektif."
Sebuah lukisan berukuran besar menarik perhatian detektif Hatake. "Baiklah, aku mengerti." sekolah macam apa yang mewajibkan para staf pengajarnya mengenakan topeng? Kecuali ada sesuatu yang ingin mereka sembunyikan.
"Ada satu lagi."
Kepalanya sontak melihat ke arah pintu, ia menjauhkan ponsel dari telinga ketika bunyi barang pecah terdengar dari lantai bawah.
"Detektif Hatake? Kau masih disana?"
"... Ya, Guy. Teruskan saja," ia merespon dengan suara pelan, kemudian berjalan menuju pintu mahoni yang menghubungkan ruangan pribadi dengan kamar utama. Tidak mungkin yang barusan itu adalah Dr. Yezhov. Pria 47 tahun itu sementara ini sedang ditahan di kepolisian Konoha. Meskipun, tak menutup kemungkinan bahwa orang licik seperti Ivan Yezhov pasti akan menghalalkan segala cara untuk membuat dirinya terbebas dari hukuman.
"Anak ini terus meracau tentang seorang siswa yang bisa mengendalikan api. Aku tidak terlalu yakin, maksudku … dia mungkin terlalu banyak menonton film—"
"Guy," potong sang detektif, rekannya di seberang sana meminta maaf. Tangannya yang hendak memutar knop pintu terhenti di udara; informasi tersebut membuat kedua alisnya saling bertaut.
"Seseorang yang bisa mengendalikan api—" indera penciumannya mendadak diserang oleh bau bensin yang menyengat. Sedetik selepas ia membuka pintu, asap hitam menyerbu masuk ke dalam ruangan. Di depan matanya yang membelalak lebar, api merambat cepat melahap habis seisi kamar. Suara kayu yang terbakar, dan seluruh ruangan yang seolah-olah berubah menjadi dinding api raksasa, serta hawa panas dan asap hitam menghalangi pandangan; menyesakkan dada, nyaris membuat lututnya tertekuk lemas.
"Detektif Hatake?"
Ia membalikkan badan, terbatuk-batuk. Tepat saat itu juga, kaca jendela di ruang pribadi Ivan Yezhov pecah berkeping-keping. Pecahan botol kaca berserakan, api berkobar; seseorang baru saja melemparkan dua bom molotov. Satu di atas lantai, dan yang lain tepat mengenai meja kerja—arsip dan berkas-berkas penting lainnya dijilati lidah-lidah api. Sialan! Aku bahkan belum membaca semuanya!
"Bunyi apa itu—apa yang terjadi? Detektif, kau baik-baik saja? Detektif Hatake, jawab aku! Hey, Kakashi—"
"Guy … kebakaran—" suara ledakan yang sangat keras di lantai bawah menggetarkan ruangan—mungkin juga seluruh rumah. Tembok di sampingnya berderak retak, membuat jantungnya seakan melompat keluar dari tulang rusuk. Ponselnya terlepas dari genggaman saat ledakan kedua sukses membuat tubuhnya oleng. Tenggorokannya bahkan terlalu perih dan sakit untuk dipaksa berteriak. Paru-parunya terlalu penuh dengan asap. Ia terbatuk hebat, telinganya berdengung.
Detektif Hatake terkepung, terjebak di tengah api yang menyala-nyala. Ia mulai kesulitan mengambil napas, apalagi saat mencoba berjalan dengan tergopoh-gopoh mendekati jendela dan nyaris terambau ke dalam kobaran api di pertengahan jalan.
'Lompat ke bawah juga percuma,' pikirnya nelangsa, saat dia dengan nekat melongok keluar jendela; di bawah sana api juga berkobar begitu dahsyatnya.
Tubuhnya merosot, menutup mata. Ia merapat ke sudut ruangan. Rasanya waktu berlalu begitu lambat. Lalu disaat kesadarannya mulai menipis, di antara suara percikan api itu, telinganya menangkap sebuah teriakan; "Bertahanlah!"
Kepalanya terkulai, menatap ke ambang pintu yang membara. Detektif Hatake pikir ia sedang mengalami halusinasi visual akibat dari kematian yang siap menjemput. Sebab di sanalah Detektif Hatake melihat sosok remaja laki-laki berambut pirang itu berdiri dengan wajah tenang seolah-olah pakaiannya tidak habis termakan oleh api.
Orang itu berlari ke arahnya. Sesaat kemudian Detektif Hatake merasakan tubuhnya ditutupi oleh sesuatu yang basah dan berat. Selimut. Bocah pintar ini membawa selimut yang telah dibasahi air.
"Anda masih kuat berjalan?"
Menelan ludah, Detektif Hatake mencoba mengabaikan kobaran api berjalan di hadapannya itu sebelum menjawab dengan suara parau, "Ya."
