Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
AU, NaruHina
Warning: rate-M for blood and violence
Hinata bukan manusia.
Sepasang sayap hitam di balik punggungnya membuktikan pernyataan tersebut. Kendatipun, Hinata yakin ia bisa dengan mudah berbaur diantara mereka.
Manusia. Hinata baru mengenal makhluk berhati dingin itu ketika klan Avian dihujani ribuan anak panah beracun dan pedang perak berlumuran darah yang mengoyak lapisan daging, menusuk jantung, merenggut nyawa para Avian sebegitu mudahnya.
Tangan-tangan kasar tanpa belas kasihan mematahkan pusat kehidupan para Avian—derap langkah kaki terdengar berat di permukaan bumi, kala bajingan-bajingan itu menyeret puluhan pasang sayap bersamaan dengan tawa kemenangan menyertai kepergian mereka.
Tragedi pembantaian itu menjadi tokoh utama dalam setiap mimpi buruk Hinata. Dialah satu-satunya yang tersisa; sebuah kutukan berkedok keberuntungan.
Hari-hari hampa terlewati. Hinata kesepian, ia lelah terisak sendirian, berdiri di atas peristirahatan terakhir saudara-saudaranya. Ia rindu peluk hangat mereka—keluarganya, teman-temannya. Hingga hatinya yang sakit seakan menjerit bahwa balas dendam bukanlah pilihan, melainkan sebuah keharusan.
Sampai hari itu akhirnya tiba.
"Kalau boleh tahu, museum ini milik siapa?"
Tubuh tinggi itu setengah membungkuk, jari-jemari panjang yang terlihat kasar menyentuh permukaan display case berukuran sedang, menatap sepasang sayap mungil yang terpajang di dalam sana dengan kelembutan yang seketika membuat hati kecil Hinata berdenyut menyakitkan. Laki-laki itu melirik Hinata dari balik bahunya, mata biru yang begitu jernih semakin berkilau indah ketika sudut bibirnya ikut terangkat.
"Kamu bertanya kepada orang yang tepat," ujarnya, sebelum menegakkan tubuh dan berbalik menghadap Hinata.
"Ah, begitukah?"
Mungkin karena menyadari absennya antusias di suara Hinata, senyum lelaki bersurai pirang itu malah terukir semakin lebar. Layaknya seorang pelayan yang menyambut kedatangan aristokrat—satu tangan diletakkan di dada sementara tangannya yang lain terentang mengundang—dengan nada dibuat terlalu sopan, ia berkata, "Selamat datang, Nona. Saya Uzumaki Naruto. Direktur Avian Museum. Di tempat ini, setiap artefak dan koleksi karya seni memiliki kisahnya tersendiri, keajaiban misterius dimana kehidupan pernah singgah sebelum akhirnya menjadi sejarah. Silakan bergabung dengan pemandu museum kami yang ada di sebelah sana. Dan, semoga kunjungan Anda menyenangkan."
Tak sekalipun Hinata berpikir bahwa balas dendam itu akan berjalan dengan mudah, sebab ia sadar betapa menakjubkannya sifat manusia dalam menolak dosa yang terang-terangan merayap di hati mereka. Menulikan telinga dan menepis realita.
Jadi, meskipun seribu satu senyuman menggoda terlontar dari lelaki ini, tetap tak akan mampu memadamkan tekadnya untuk melenyapkan para bedebah yang telah menghancurkan hidupnya di masa lalu.
Hinata mengulum senyum. "Ya, saya yakin kunjungan ini akan sangat menyenangkan."
Semoga saja.
