.
.
.
I'm In Trouble
Disclaimer :
Naruto by Masashi Kishimoto
5-toubun no Hanayome by Negi Haruba
Pair : ?
Rate : T
Mark :
"Naruto." : Berbicara
Naruto : PoV Start / Flashback Start / Letter or Announcement Content
Naruto : Efek suara (Sfx) / Skip Time / Previous Chapter
'Naruto.' : Pikiran atau Batin
["Naruto."] : Berbicara melalui pesan atau panggilan telepon
Genre : School, Drama, Family, Hurt/Comfort, Romance, Tragedy
Warning : Semi-Canon, Alternate Universe, Alternate Fact & Reality, Original & Other Character, dan Out of Character.
.
.
Skip Time : Next Day. Saturday, 13 April. Naruto House
"Uh, kepalaku masih sakit."
Ya, itu adalah Naruto yang terbangun. Ia melihat sekelilingnya. Ia menyadari kehadiran Naruko yang tertidur di sebelahnya. Ia bisa merasakan kalau adiknya sudah merawatnya bersama Itsuki.
"Arigatou karena sudah merawatku, Naruko. Aku juga akan berterima kasih kepada Itsuki."
.
"Hoahm, sudah pagi ternyata …."
Naruko yang sudah bangun mencari keberadaan Naruto. Akan tetapi, ia menjadi bingung karena sang kakak tidak ada di sana.
Semua alat yang ia gunakan untuk merawat kakaknya pun sudah dibereskan. Bahkan dirinya tidur di futon miliknya sendiri beserta dengan selimut yang sudah di gunakan untuk menyelimuti dirinya.
"Ini pasti Nii-chan yang melakukannya …."
Ia kemudian merapikan futon beserta selimut miliknya dan menaruhnya ke dalam lemari. Setelah itu, ia mencari Naruto. Tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukan Naruto, karena saat ini kakaknya berada di ruang tamu.
"Nii-chan …."
"Ada apa, Naruko?"
"Bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah lebih baik?" ujar Naruko yang menghampiri Naruto. Ia kemudian duduk di sebelah kakaknya.
Naruto kemudian menambahkan sembari mengusap kepala Naruko dengan lembut, "Ya, aku sudah merasa lebih baik. Mungkin hanya tersisa sedikit saja efeknya. Anyway, maafkan aku karena sudah membuatmu khawatir."
"Tidak apa-apa, Nii-chan. Yang terpenting kau harus istirahat! Mereka memberitahu kalau hari senin try-out akan dimulai. Maka dari itu, kau harus menjaga kesehatanmu mulai dari sekarang!"
Naruko mengatakannya sembari menggembungkan pipinya, ia membuat ekspresi yang cemberut. Hal itu membuat Naruto mencubit pipi Naruko sembari tertawa kecil.
"Haha. Iya, akan kulakukan."
Naruto kemudian mengecek meja tempat di mana ia menaruh semua hasil catatan ataupun soal yang ia buat untuk mengajari lima kembar Nakano. Akan tetapi, semua itu tidak berada di sana. Hal itu membuatnya bingung.
"Oi, Naruko. Apa kau tahu dimana semua catatan dan latihan yang sudah aku buat beberapa hari yang lalu?"
Naruko menjawab dengan santai, "Mereka sudah membawanya, Nii-chan."
.
Flashback on
"Padahal aku sudah memberitahunya kemarin malam. Karena kita semua, Uzumaki-kun jadi seperti ini …."
Mendengar ucapan Itsuki membuat empat kembar Nakano yang lain pun menjadi murung. Karena pada dasarnya, apa yang diucapkan Itsuki itu adalah sebuah kebenaran.
Mereka benar-benar sadar bahwa mereka memberikan beban secara langsung meskipun Naruto sendiri mengatakan kepada mereka untuk tidak memikirkan hal itu. Meskipun begitu, rasa bersalah tetap menghampiri mereka karena sang Uzumaki muda merasakan efeknya secara langsung.
"Apa kalian semua benar-benar bodoh?"
Sebuah pertanyaan yang diucapkan dengan pelan, namun terkesan kasar dari Naruko itu sangat mengejutkan mereka semua. Mereka menatap gadis itu, di sana mereka melihat Naruko yang sudah meneteskan air matanya.
"Jika kalian selalu menyalahkan diri kalian seperti ini. Itu bisa saja menghambat pola pikir kalian yang nantinya akan berefek ketika kalian sedang ujian. Dengan kata lain, itu sama saja dengan kalian menghancurkan kerja keras yang Nii-chan lakukan untuk kalian."
"Semua itu adalah pilihan Nii-chan dan kalian tidak bisa menghentikan dedikasi yang ia berikan untuk kalian. Aku bahkan tidak pernah berniat untuk menyalahkan kalian sama sekali. Maka dari itu, tolong jangan hancurkan harapan yang Nii-chan miliki di dalam semua hal yang ia lakukan untuk kalian …."
Naruko mengatakannya dengan lirih dan dapat di dengar oleh semuanya. Mereka semua yang mendengarnya tersentak dan memiliki reaksi tersendiri.
Yotsuba ikut menangis. Nino dan Miku mengepalkan kedua tangan mereka, namun terlihat lelehan air mata yang mengalir dari pipi mereka meskipun mereka menyembunyikan ekspresinya. Di sisi lain, Ichika tersenyum getir.
"Maafkan aku, Uzumaki-kun …," gumam Itsuki. Ia kemudian memeluk Naruko yang kebetulan duduk di sebelahnya, "Maafkan kami, Naruko-chan."
Naruko menjawab sembari memeluk balik Itsuki, "Tidak apa-apa, Itsuki-san. Maafkan aku jika perkataanku terlalu kasar untuk kalian."
"Tidak apa-apa, anggap saja itu tamparan keras untuk kami semua."
Berkat Naruko, suasana yang tadinya buruk perlahan membaik kembali. Dari lima kembar Nakano sendiri, mereka seketika memiliki determinasi yang tinggi. Naruko yang melihat itu pun tersenyum lembut.
"Baik dengan kehadiran Nii-chan ataupun tanpa adanya Nii-chan. Aku yakin kalian bisa melakukannya. Minna, ganbatte!"
.
Itsuki terlihat mencari sesuatu di laci meja yang digunakan Naruto untuk menyimpan buku-buku dan hasil belajar lainnya. Hal yang ia lakukan membuat empat kembar Nakano beserta dengan Naruko menjadi bingung.
"Sebenarnya apa yang sedang kau cari, Itsuki-san?"
Itsuki tidak menjawab pertanyaan dari Naruko. Ia kemudian menemukan sesuatu yang ia cari dan tersenyum setelahnya. Ia kemudian menunjukkan apa yang ia temukan.
"Aku mencari ini. Berbagai catatan dan latihan yang Uzumaki-kun buat tepat sehari sebelum ia pingsan. Aku berniat membawanya ke rumah untuk di pelajari bersama-sama …."
"Bagaimana kau bisa mengetahui kalau Uzumaki-san menyimpan semua itu di sana, Itsuki?"
Ichika kemudian dengan santai menjawab pertanyaan Yotsuba, "Tentu saja ia bisa tahu karena ia sudah sering menginap di sini. Secara langsung, ia bisa mengetahui kebiasaan Naruto-kun. Benar, kan?"
Itsuki menganggukan kepalanya sebagai respon. Miku kemudian berkata, "Dengan ini, kita bisa memaksimalkan kemampuan kita. Kita harus bisa berusaha lebih keras lagi …."
"Setuju!"
Flashback off
.
"Begitu ceritanya, Nii-chan …."
"Aku mengerti. Kau lumayan juga untuk memotivasi mereka. Walaupun terkesan kasar, tapi itu ada gunanya," ucap Naruto sembari mengusap kepala Naruko dengan lembut.
"Mau bagaimana lagi? Aku kesal karena mereka terlalu menyalahkan diri mereka sendiri. Padahal mereka sendiri tahu kalau kau tidak pernah mempermasalahkan hal itu."
"Tidak hanya itu, aku tidak ingin mereka berlarut-larut dalam perasaan bersalah yang berhubungan dengan apa yang terjadi denganmu. Itu juga bisa mempengaruhi pola pikir mereka dan bisa mengganggu mereka. Di sisi lain, aku juga tidak ingin semua kerja kerasmu itu menjadi sia-sia, Nii-chan …."
Mendengar semua penjelasan Naruko membuat Naruto tersenyum. Ya, ia sangat bangga dengan adiknya itu. Meskipun sangat muda, ia bisa mengerti dan memahami situasinya dengan sangat baik. Ia sangat bersyukur karena bisa mendidik Naruko dengan benar.
"Aku merasa bangga karena dirimu sangat berperan dalam mengubah mereka. Kerja bagus! Setelah try-out selesai, akan kutraktir ramen sebagai gantinya."
Naruko yang mendengarnya pun senang. Ia kemudian berkata, "Aku akan menunggu apa yang kau janjikan kepadaku, Nii-chan."
"Kau bisa pegang kata-kataku."
Kemudian, ia melihat sebuah plastik berukuran besar yang terletak di samping meja. Hal itu membuatnya bingung, ia lalu meraba isi plastik tersebut. Ia kemudian bertanya, "Naruko, apa ini dari mereka semua?"
"Tidak juga. Mereka memberikan itu semua kepadamu, kecuali Itsuki-san …."
Setelah mendengar itu, Naruto langsung saja membuka bungkus plastik yang menutupi barang-barang yang mereka berikan. Ia mendapatkan sekotak kue, beberapa minuman berenergi, obat-obatan, dan lima burung bangau yang terbuat dari kertas.
"Aku paham kalau Itsuki tidak bisa memberikan apapun, tapi ia sudah merawatku dan aku harus mengucapkan terima kasih untuk itu. Kue ini aku yakin Nino yang membuatnya. Burung bangau ini aku juga yakin Yotsuba yang membuatnya. Untuk sisanya, aku kurang tahu."
Naruko yang bingung pun bertanya, "Bagaimana kau bisa mengetahui Yotsuba-san yang membuat burung bangau itu Nii-chan?"
"Itu karena aku pernah melihat Yotsuba sedang membuat barang yang sama ketika temannya sakit. Bahkan jumlahnya lima kali lebih banyak dari jumlah yang ia berikan kepadaku sekarang."
"Begitu, ya. Ingatan Nii-chan bagus juga ternyata …," ujar Naruko. Ia kemudian menambahkan, "Untuk sisanya, obat-obatan itu dari Ichika-san, sementara minuman berenergi itu dari Miku-san."
"Well. Sepertinya aku harus mengucapkan terima kasih kepada mereka semua."
"Itu sudah wajib. Ngomong-ngomong, bukalah lima kertas bangau yang di buat Yotsuba-san. Mereka meminta diriku untuk menyampaikannya kepadamu. Kau akan menyadari sesuatu setelah membukanya."
"Huh?"
Meskipun Naruto bingung dengan hal itu, ia tetap melakukan apa yang disampaikan Naruko. Begitu ia membukanya, ia sangat terkejut. Karena di dalam lima kertas bangau itu berisi nilai ujian awal di tahun kedua milik lima kembar Nakano.
Naruto kemudian tersenyum dan membatin, 'Ternyata mereka tetap bersamaku. Apapun yang terjadi, mereka tetap mendukungku. Arigatou, minna ….'
.
[0_0]
.
Skip Time : 6 Days Later. Street
Terlihat sebuah mobil yang terparkir di sebelah taman. Di dalamnya terlihat Yusuke bersama dengan Maruo yang notabene adalah ayah dari lima kembar Nakano.
"Hasil dari try-out sudah keluar. Silahkan dilihat …."
Yusuke memberikan beberapa kertas yang merupakan daftar nilai try-out yang sudah diumumkan dan sudah di input kepada Maruo.
Maruo menerima daftar nilai itu dan langsung melihatnya. Ia melihatnya tanpa ada ekspresi sedikit pun. Hal itu membuat Yusuke mengambil inisiatif.
"Nilai putri-putri anda sudah lebih berkembang daripada tahun lalu. Mereka semua mengalami peningkatan. Ngomong-ngomong, saya berada di peringkat delapan."
"Begitu, ya. Lalu, bagaimana dengan Uzumaki-kun?"
"Ia berada di tiga teratas. Lebih tepatnya, dia berada di peringkat dua …," ucap Yusuke.
Mendengar hal itu membuat Maruo tersentak. Ia tidak menyangka kalau seseorang yang ia remehkan justru membuktikan kualitasnya. Ia tidak bisa meragukan kemampuan Naruto lagi. Ia kemudian menatap Yusuke yang duduk di sebelahnya.
"Baiklah. Terima kasih, sekarang kau boleh pergi …."
Setelah ucapan itu selesai, Yusuke kemudian keluar dari mobil. Setelah Maruo pergi, ekspresi Yusuke berubah. Ia terlihat kesal dan marah, itu disebabkan dirinya yang tidak terima karena dirinya kalah oleh Naruto.
'Sialan! Bagaimana aku bisa kalah dari orang sepertinya!'
.
[0_0]
.
Skip Time : 3 Days Later, Bread Shop
"Umm …."
Terlihat sebuah roti berukuran kecil yang berwarna hitam dan seperti tidak layak untuk di makan itu diletakkan di sebuah meja. Di sana, terdapat dua kembar Nakano yaitu Miku dan Yotsuba.
"Ini adalah toko roti, kan? Bukan toko batu?" tambah Yotsuba. Hal itu membuat Miku menjadi murung untuk sesaat.
"Itu hal yang biasa, karena Nakano-san masih baru untuk bekerja di sini.
Ucapan itu datang dari manajer toko yang menghampiri mereka. Mendengar itu membuat semangat Miku meningkat. Ia kemudian membuat satu roti lagi.
Roti kedua yang ia buat memiliki ukuran yang menyerupai roti pada umumnya. Akan tetapi, warnanya sangat putih seperti roti yang mengalami proses pemasakan. Bahkan roti itu memiliki tekstur yang sangat lengket.
"Apa aku memang tidak punya bakat, ya?"
Miku mengatakannya sembari mengeluarkan ekspresi kekecewaan. Yotsuba dan manajer toko di sana menyadari hal itu.
"Ayolah, jangan seperti itu. Setidaknya percobaan kali ini sudah menyerupai roti asli. Teruskan saja!" hibur Yotsuba.
Sang manajer menepuk bahu Miku. Membuat Miku menatap manajer toko tersebut. Manajer itu tersenyum dan berkata, "Ucapan temanmu itu benar. Semua orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Jika kau ingin mengatasi kekuranganmu, maka berusahalah untuk meningkatkan dirimu sendiri."
"Sejak awal kau bekerja di toko ini. Aku melihatmu sangat bekerja keras dan selalu mencoba. Itu adalah sebuah proses. Jika kau berusaha lebih keras lagi, usaha yang kau lakukan tidak akan mengkhianati hasil yang kau dapatkan. Ganbatte, Nakano-san!"
Miku yang mendengarnya kemudian tersenyum lembut. Ia membalas, "Arigatou, Tenchou-san …."
.
Setelah beberapa kali percobaan, Miku mendapatkan hasil yang lebih baik. Ia berhasil membuat roti yang teksturnya lebih baik dengan ukuran yang sesuai. Tidak hanya itu, roti yang ia buat kali ini tidak terlalu gosong ataupun terlihat masih mentah.
"Ini hanyalah permulaan. Tapi, aku senang karena kau sudah bisa untuk membuatnya. Teruslah mencoba dan berusahalah lebih keras lagi, Nakano-san!"
Manajer toko itu mengatakannya sembari tersenyum. Ia terlihat bangga dengan pendirian Miku yang pantang menyerah. Miku yang mendengar itu kemudian berdiri dan melakukan ojigi.
"Arigatou, Tenchou-san. Tanpa dirimu, aku tidak akan bisa melakukannya."
"Tidak masalah, Nakano-san."
Yotsuba yang senang kemudian berkata, "Ayo kita berikan itu kepada Uzumaki-san! Pasti dia akan terkejut!"
Miku menggelengkan kepalanya. Ia kemudian membalas, "Tidak bisa, Yotsuba. Ini belum menjadi roti yang enak. Aku ingin memberikan hasil yang sempurna untuk Naruto."
"Niat yang sangat bagus. Kudengar targetmu itu sebelum wisata sekolah. Apa itu benar, Nakano-san?"
"Itu benar, Tenchou-san. Kami bebas untuk memilih makan siang di hari pertama. Itu adalah saat yang terbaik untuk menyerang. Di saat itu juga, aku akan memberikan senjata andalanku."
Miku mengatakannya sembari tersenyum lembut. Tidak hanya itu, aura determinasi terlihat dalam dirinya. Seolah-olah semangat dalam dirinya itu sangat berkobar. Akan tetapi hal itu tidak bertahan lama, karena Miku tiba-tiba menjadi murung.
Yotsuba menyadari hal itu, ia kemudian berkata, "Ada apa, Miku?"
"Aku baru ingat kalau sistem untuk wisata sekolah nanti adalah dalam bentuk kelompok. Jika kami tidak berada dalam kelompok yang sama, ada kemungkinan kami tidak bisa makan siang bersama-sama. Padahal aku ingin mengelilingi Kyoto bersama dirinya …," jelas Miku.
Hal itu membuat Yotsuba terdiam untuk sesaat. Ia seketika memikirkan cara untuk membantu Miku. Beberapa saat kemudian, ia terlihat senang karena menemukan sebuah ide.
"Soal itu serahkan saja kepadaku!"
.
.
.
To Be Continued
.
.
Notes : Fic ini terinspirasi oleh beberapa fanfic tertentu dengan crossover Naruto x Quintessential Quintuplets. Hmm, ini project kedua gua dengan tipe fic yang multichapter. Gua bikin alurnya semi-canon tapi dengan banyak perubahan. Chapter 45 Up, jadi tolong buat reader gausah banyak protes dan Stay tune aja ye. Cukup doain gua biar banyak ide + sehat, secara perlahan nanti gua coba sebisa mungkin buat tamatin fic ini. Soalnya gua tim begadang buat ngelarin ini fic.
Next, gue gak bisa ngejawab review kalian satu per satu karena terlalu malas. Gua minimal baca review dari kalian, dan maksimal berakhir dengan baca PM dari reader or whoever else. Next. Jika fic ini diplagiat oleh oknum sampah yang nggak bertanggung jawab + tidak mendapat perizinan dari gua, bahkan gak naruh nama gua di tempat di mana dia ngepost cerita ini. Tolong bantu report / PM ke gua. Biar gua tinggal ikutan jadi tim report. Sebagai catatan, gua hanya memiliki akun FFN. Tidak ada yang di luar platform yang gua sebutkan.
Lagi dan lagi, gue ingin mempromosikan sesuatu di sini. Gue telah bergabung dengan sebuah Group Chat WhatsApp yang bernama Fanfic Community Indonesia, yang berisikan banyak author dan reader fanfiksi, bahkan platform lain. Di grup tersebut terdapat cukup banyak author senior, ataupun author baru seperti gue. Kepada siapapun yang berminat untuk bergabung, silahkan PM gue baik melalui web, ataupun aplikasi. Join with us! Feel like home! Let's move together!
Sepertinya hanya itu saja pesan gue kepada kalian. Sampai jumpa lagi. Jaa na!
FCI. Cursed-Eternal Out
