Chapter 4: I'll Take You Home
Draco tidak bisa memilih kelas yang diinginkannya. Dia juga tidak bisa memilih siapa saja yang akan berada di kelas yang sama dengannya. Tapi, setidaknya Draco bisa memilih tempat duduk yang jauh dari pemuda berambut merah itu, kan? Sebuah kesialan baginya karena satu-satunya tempat yang tersisa (sebenarnya ada beberapa tempat lagi di depan, tapi Draco sangat tidak menginginkannya) jadi ia harus menerima takdir untuk duduk di samping Ron Weasley.
Keduanya sama-sama berusaha menahan diri mereka untuk tidak mengeluarkan berbagai kata-kata tak pantas selama kelas berlangsung. Mereka juga sebisa mungkin mengurangi interaksi satu sama lain. Hanya beberapa kali Draco mendengus saat Ron menulis jawaban yang salah di buku catatannya, dan itu membuat Ron kesal bukan main.
Ron tentu ogah untuk bicara dengan Draco. Apalagi untuk bertanya sesuatu yang sangat membuatnya penasaran—yang pastinya bukan tentang pelajaran. "Kudengar kau bermain kotor dengan Cedric kemarin." Ron memulai dengan basa-basi.
Draco yang semula sibuk dengan catatannya menoleh. Keningnya berkerut. Ia menatap ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bahwa orang yang diajak bicara oleh Ron memang dirinya. "Aku tidak akan menyebutnya 'bermain kotor' karena aku tidak melakukan itu untuk menang. Lalu, untuk apa juga kau membicarakannya? Kau ingin menyampaikan keluhanmu? Tenang saja, temanmu sudah berteriak tepat di depan wajahku tadi."
"Untuk apa aku marah?" balas Ron. "Nice tackle, actually."
Kerut di kening Draco bertambah. "But, he's your friend."
"My friend's boyfriend." Ron menekankan perkataannya. Dia tidak sedang bilang bahwa Cedric bukanlah temannya. Tapi Cedric memang pacar dari sahabatnya.
Draco mengernyit. Ia diam cukup lama. "Jadi, maksudmu, kau sama sekali tidak kesal karena aku sudah membuatnya cedera?"
Ron menggeleng. "Kesal? Yah, mungkin melihat cara bermainmu memang membuatku kesal. Tapi aku sama sekali tidak terganggu sekali pun kau membuat kedua kakinya cedera."
Draco mendengus. Ia sungguh tidak percaya dengan apa yang terjadi sekarang. Setahunya, Ron adalah orang yang setia kawan, meskipun Draco sendiri tidak akrab dengannya. Dan Ron adalah orang dengan kesabaran tipis yang biasanya sudah mendaratkan tinju pada seseorang yang menyakiti temannya. Atau setidaknya, seseorang yang dikenalnya. Mungkin Ron hanya menganggap Cedric sebagai pacar dari sahabatnya, namun tetap saja ini bukanlah hal yang wajar. Hal paling wajar yang bisa Draco bayangkan adalah, Ron mulai bicara tentang cara bermainnya yang kotor sampai membuat orang lain cedera dengan sengaja. Tapi apa yang didapatkan Draco sekarang sungguh sangat tidak terduga.
Selama Draco diam dan terus bergelut dengan pikirannya, Ron tidak lagi melanjutkan obrolan mereka. Ia tidak merasa harus bicara lagi. Dan keduanya kembali menjadi dua orang yang tidak akan mengobrol kalau memang tidak perlu.
.
Bagaimana kabar Harry dengan pacarnya yang sedang cedera? Sebenarnya cedera Cedric tidaklah begitu buruk. Ia masih bisa berjalan walaupun agak sedikit lebih lambat dari biasanya. Tapi Cedric benar-benar tidak terluka parah. Lalu kenapa Harry sibuk sekali merawatnya sekarang?
Harry bolak-balik dari kelasnya ke kelas Cedric, yang berada di gedung yang berbeda, hanya untuk membantunya berjalan. Percayalah, Cedric tidak meminta, Harry melakukannya atas keinginannya sendiri. Tapi jika urusan mengambil dan membawakan barang-barangnya, tentu itu semua permintaan Cedric sendiri. Harry tidak merasa keberataan, pada awalnya. Tapi Cedric meminta terlalu banyak hingga membuat Harry repot.
Hari ini Harry juga menjadi sopir untuk Cedric. Setelah berminggu-minggu, akhirnya Harry kembali mengemudikan mobilnya sendiri.
Harry tentu saja mengikuti ke mana tujuan Cedric. Walaupun ia sedikit kecewa karena Cedric lebih memilih untuk berkumpul bersama teman-temannya daripada beristirahat, Harry tetap mengantarkannya.
"Aku mungkin akan lama," ucap Cedric sambil membuka sabuk pengaman, "kau bisa pulang duluan. Ah, tapi kau bisa pulang dengan taksi, kan?"
Harry tidak langsung menjawab. Ia juga tidak balik bertanya untuk apa Cedric bertanya. Harry sudah sering mendapatkan pertanyaan ini. "Tapi kakimu..."
"Tenang saja, aku bisa meminta temanku untuk mengemudi nanti."
Dengan agak ragu-ragu, Harry membuka sabuk pengamannya. Lagi-lagi perasaan itu datang. Ia tidak bisa tersenyum meskipun kekasihnya itu tersenyum lebar ke arahnya. Namun pada akhirnya Harry akan menuruti keinginannya, seperti biasa.
"Hati-hati. Kabari aku kalau butuh sesuatu," ucapnya setelah mencium pipi Cedric. Ia pun keluar dari mobil setelah menyerahkan kuncinya pada Cedric. Dan Harry tidak peduli lagi apakah Cedric sudah masuk ke cafe karena ia sudah berjalan menjauh.
Di dalam cafe tempat Cedric berkumpul dengan teman-temannya begitu ramai. Mereka bicara dan tertawa tanpa henti. Satu jam, dua jam, begitu lama. Namun satu hal yang sedikit mengganggu adalah telepon yang berdering setiap sepuluh menit sekali.
Tidak perlu ditanya ponsel siapa yang terus mendapat panggilan masuk itu. Harry adalah tipe orang yang selalu khawatir dan butuh kepastian. Tentu saja Cedric menjawab teleponnya. Dua panggilan pertama saja, dan ia mengabaikan panggilan-panggilan berikutnya.
"Hei, kau yakin tidak akan menjawabnya? Bukankah pacarmu akan khawatir?" tanya salah seorang temannya.
"Dia sudah menelepon dari tadi, seharusnya dia mengerti kalau hal itu akan menggangguku," balas Cedric terdengar tidak begitu peduli. "Lagi pula, aku bisa bilang padanya kalau aku terlalu asyik mengobrol hingga tidak mengecek ponsel. Aku hanya perlu minta maaf dan kemudian semua akan baik-baik saja. Dia sangat mudah untuk dikendalikan." Dan ia meninggalkan topik tentang Harry dan kembali pada obrolan teman-temannya.
Cedric hanya tidak menyadari bahwa seseorang mendengar ucapannya dengan geraman kecil. Sungguh, kalau saja Draco sedikit lebih tidak sabaran, mungkin ia sudah menendang kursi yang diduduki Cedric. Beruntung Draco ingat kalau dia hanya sendiri dan jika ia memang melakukannya, habis sudah ia dihajar mereka semua.
Tidak betah berlama-lama di tempat itu, Draco keluar setelah mendapatkan minumannya. Ia langsung masuk ke mobil dan pergi secepat yang ia bisa. Tangannya memegang setir dengan sangat erat.
"Sulit kupercaya si bodoh itu mempertahankan pacarnya yang sialan itu." Draco mengutuk Cedric berkali-kali. Ia yang dari awal memang tidak merasa bersalah karena telah membuat Cedric cedera makin tidak merasa bersalah. Ia malah merasa kasihan pada Harry yang khawatir pada orang yang bahkan tidak memikirkannya.
Saat Draco masih terus sibuk mengutuk Cedric, matanya menangkap sosok Harry yang sedang duduk di depan sebuah cafe. Draco langsung saja menghentikan mobilnya. Ia tidak turun, Draco hanya membuka jendela dan membunyikan klakson. Draco seketika mendapatkan perhatian Harry.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Draco tanpa mencoba bersikap ramah. Ia tahu jika membuat Harry kesal akan lebih mudah daripada membuatnya terkesan.
Seperti yang diharapkan, Harry menghela napas. Ia mencoba tidak peduli dan menganggap bahwa Draco hanyalah orang yang tidak ia kenal. Tapi semakin Harry bersikap tidak peduli, semakin keras suara Draco memanggilnya. Dan hal itu membuat orang-orang yang lewat melihatnya, bukan hanya Draco, tapi juga Harry karena Draco menyebutkan penampilannya.
Muak, Harry langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Draco. Ia hanya ingin menutup mulut sialan itu sebelum lebih banyak orang yang menatap mereka.
Draco tersenyum puas. Ia mengangkat sebelah alis saat Harry berdiri di depannya. "Sepertinya kau sedang menikmati waktu sendirimu."
Harry berdecak kesal. Ia tahu jika Draco hanya asal bicara untuk mengganggunya. Tapi Harry benar-benar jadi terganggu. Bukan karena nada suara yang menyebalkan itu, tapi karena perkataan Draco seolah meledeknya. Padahal Malfoy itu sama sekali tidak tahu apa yang terjadi.
Ya, Harry sedang kesal. Dia tidak sedang menikmati waktunya dengan bersantai. Harry, yang tidak terlalu jauh dari tempatnya meninggalkan Cedric tadi sedang kesal. Ia sudah menelepon kekasihnya itu berkali-kali dan tidak ada jawaban. Lalu Draco Malfoy tiba-tiba datang, melengkapi kekesalannya hari ini.
"Sepertinya sesuatu membuatmu kesal," tebak Draco yang seratus persen benar. Tentu saja Draco tahu karena ia baru saja bertemu Cedric. Kalau Draco beritahu pada Harry apa yang Cedric katakan tentang panggilan teleponnya, pasti Harry tidak akan percaya, jadi lebih baik Draco tidak pernah menyinggungnya.
"Kenapa sih kau selalu datang dengan cara yang menyebalkan? Bisakah kau hanya lewat dan kemudian pergi tanpa membuatku kesal?"
"Tidak."
Betapa Harry ingin mematahkan setiap tulang di tubuh Draco.
Baru saja Harry ingin kembali membalas perkataan Draco, sesuatu yang dingin menyentuh tengkuknya. Hujan. Harry sekali lagi mendecak kesal. Kenapa tidak ada hal baik yang terjadi padanya hari ini.
Harry tidak bodoh untuk berdiri di tengah hujan hanya untuk melanjutkan pertengkaran kecilnya dengan Draco. Ia pun segera berbalik untuk kembali ke tempat tadi. Tapi sebelum Harry sempat melangkah, Draco menahan lengannya.
"Sialan. Lepaskan." Harry menarik lengannya, tapi Draco ternyata lebih kuat darinya. "Aku kebasahan, berengsek!" Sekali lagi, Harry gagal melepaskan tangan Draco.
"Masuk." Draco tidak mengucapkan apa-apa lagi selain satu kata itu.
Tentu saja itu membuat Harry bingung. Apa yang ia maksud? Ya, sebenarnya Harry tidak terlalu bodoh untuk mengatakan bahwa Draco menyuruhnya masuk ke mobil. Tapi untuk apa?
"Aku tidak mau—"
"Masuk saja, kuantar kau pulang."
Draco sudah melepaskan tangannya. Ia juga tidak terdengar memaksa, bahkan nada suaranya tidak meninggi sama sekali. Sungguh aneh, dan mungkin karena itulah Harry dengan ragu-ragu membuka pintu mobil, namun pada akhirnya ia tetap masuk juga. Harry tidak lupa memastikan bahwa tak apa bagi Draco jika ia akan sedikit membasahi mobilnya. Lalu Draco melajukan mobilnya.
Harry melirik Draco yang perhatiannya terpusat ke jalan. "Jangan coba-coba untuk ambil kesempatan." Harry bicara dengan nada mengancam. Ia menatap tajam Draco yang menatapnya bingung. "Kubunuh kau jika melakukan hal yang aneh-aneh."
Draco tentu tidak mengerti dengan perkataan Harry, awalnya. Namun saat melihat pemuda berkacamata itu duduk sedikit menjauh darinya, Draco pun mengerti. Ia mendengus dan menyeringai. "Aku memang selalu bertindak semauku, tapi aku bukan orang mesum yang akan melakukan hal itu di tempat sempit begini."
Membuang muka, Harry memilih untuk tidak menatap Draco. Mungkin pilihannya untuk masuk ke mobil adalah kesalahan besar. Ia harus menahan diri untuk tidak memukul wajah menyebalkan yang sialan tampan itu.
.
.
TBC
.
.
.
