[Disclaimer]
Naruto High School DxD/ハイスクールDD Xover
Masashi Kishimoto Ichiei Ishibumi
.
Di suatu ruangan —
Lemari kayu itu digeser terbuka, kemeja putih berjenis sama berjejer tergantung rapi. Satu kemeja diambil.
Pintu lemari bergeser, jejeran kemeja hitam pun tergantung berbaris rapi. Satu jas pun diambil. —Pintu lemari pun ditutup kemudian.
Berjalan ke arah spring bed, melemparkan kemeja dan jas tersebut di atasnya, lalu mengambil satu set pakaian dalam berwarna biru muda dan berenda. —Dengan cekatan, dia memakai CD kemudian Bra.
Sepasang stoking senada dengan kulit tergeletak di atas kasur pun dipakainya.
Dia—, mengambil kembali jas dan kemeja itu, lalu membawanya ke cermin persegi di dekat lemari. Di dekat cermin ada setumpuk aksesoris tertata rapi di atas meja. Ketika bercermin, dia memiringkan kepalanya.
—Rambut biru aqua lurus dan berkilauan, panjang melewati pinggang tergerai bebas, dengan poni terbelah dua dipotong sebatas melewati alis mata, dan dua sisi membingkai wajahnya.
Sepasang mata beriris biru aqua cerah bagai permata, menampakkan kecemerlangan dan disaat yang sama menyembunyikan berbagai misteri.
Wajahnya cantik, kulitnya putih bersih dan mulus tanpa noda. Alis matanya simetris dan bentuknya pun indah dengan ketajaman. Bulu-bulu matanya lentik. Hidungnya mancung namun mungil. Bibirnya tipis nan mungil dengan warna merah muda merona.
Pertama-tama dia mengenakan kemeja putih untuk dalamannya, memasangkan kancing satu persatu. Selesai. Setelah itu, jas hitam pun terlampir pada kedua bahunya, menutupi punggung mungilnya. Kancing pun terpasang sempurna.
Tangan kanannya menjulur, mengambil ikat rambut berpola kupu-kupu bermotif kotak-kotak biru putih yang terletak di atas meja.
Saat hendak memakai pita, terlihat dari cermin, tiba-tiba warna rambutnya berubah dari pangkal sampai ujung, semula berwarna biru aqua menjadi hitam berkilauan. Rambut hitamnya pun tampak lebih pendek dari sebelumnya, panjangnya mencapai punggung. Mata biru aqua menjadi gelap.
Dia pun mengikatkan rambutnya ala ponytail rendah dengan pita tersebut.
Melihat lamat-lamat penampilannya sendiri di cermin, ia pun tersenyum kecil. 'Sempurna'. Namun sedetik kemudian senyuman itu pun luntur. Terdiam memikirkan sesuatu.
Sebuah decakan 'Tsk' pelan pun terdengar.
"Aku lupa pakai bawahan lagi."
.
Specter of Death : DxD-Verse!
Present by @Mizkevna
Chapter 03: They Are Not Normal Girls! DxD First Confrontation!
.
.
Pagi-pagi sekali…
Jembatan yang dibangun di atas lembah dan satu-satunya jalan penghubung antara dua bukit itu menjadi satu-satunya yang tetap utuh.
Mata biru pria itu memandang 'keajaiban' di depan matanya. —Daratan luas yang hancur lebur perlahan-lahan mulai kembali ke bentuk awal. Proses itu berlangsung cukup lama, setidaknya butuh waktu dua jam lebih untuk kembali seperti semula.
Dia sudah berdiri disana selama beberapa jam tanpa bergeser pun.
Naruto mendengus seraya tersenyum kecil—.
Melihat proses 'keajaiban' itu hampir selesai sepenuhnya, pria berambut pirang tersebut memutar tumit kakinya ke kiri, berjalan pergi meninggalkan tempat itu.
Dia terus berjalan sampai akhirnya keluar melewati penghalang yang diatur oleh salah satu 'pengikut'-nya yang piawai, namun agak serakah.
—Di luar penghalang, melihat ke belakang, seolah-olah tak terjadi apa-apa pada tempat yang semalam menjadi medan pertarungan itu. Semuanya tampak normal—.
Naruto terus berjalan, mendaki bukit, melintasi jalan setapak, dan sesekali melompat ringan menyebrangi sungai-sungai kecil.
Latar di kiri dan kanannya tertutup daun maple orange dan kuning kecoklatan. Musim gugur sudah tiba.
Lokasinya berada saat ini memang terkenal akan keindahannya pada saat musim semi dan musim gugur. —Siapa sangka sisa-sisa Dewa Api, Kagutsuchi, tertinggal disini setelah kejatuhannya.
Arus dunia memang aneh—.
Naruto akhirnya melihat jalan aspal di depan sana. Kalau itu dulu, akses jalan disini cukup buruk. —Dia merasa nostalgia. Kapan terakhir kalinya dia berkunjung kesini. Yang masih dia ingat sekali, dulu dirinya pernah tersesat disini sewaktu masih anak-anak.
Jalan disini lumayan sepi. Bahkan tak satupun ada kendaraan yang melintas.
Mata biru itu melirik sekilas.
Naruto terus berjalan mengikuti jalan, kalau dirinya hitung, dia sudah melewati delapan tikungan. Pemandangan indah dari daun-daunan pohon maple yang memiliki ragam warna, serta daun-daunan mulai menguning dan jatuh lalu tertiup angin.
Hingga akhirnya, sekitar beberapa ratus meter di depan sana, Naruto mulai melihat satu dua rumah. Dia sudah dekat dengan pemukiman warga.
Ia memasukkan tangannya ke dalam saku celana, mantel hitamnya berayun lembut dan lanjut melangkah santai.
Semilir angin musim gugur di pagi hari terasa cukup menyegarkan.
"Mau sampai kapan kamu sembunyi-sembunyi mengikutiku?" Naruto berujar pelan, seakan mengumumkan sesuatu yang sangat jelas baginya.
"Masih ketahuan ya?"
Ia bahkan tak repot-repot untuk menengok ke belakang saat mendengar suara feminim dengan nada monoton namun lembut itu.
Kehampaan di belakang Naruto memunculkan riak. —Seseorang muncul dari sana, melayang, sebelum kemudian turun dan berjalan mengikuti pria itu.
"Kebiasaanmu yang pergi sebelum pekerjaan selesai sepenuhnya memberikan contoh yang tidak baik."
Naruto berhenti, orang di belakangnya pun ikut berhenti. Dia memeriksa tubuhnya untuk sesaat. Kening sedikit mengernyit. Ia pun menengok ke belakang.
"Kamu menandaiku?" ekspresinya tenang, ia tak terlihat peduli. "Apa pekerjaanmu sendiri sudah selesai?"
Wajah cantik berkulit putih mulus dan bersih tak bernoda, iris biru aqua memancarkan kemilau ketenangan seakan mengejek dunia. Rambut a diikat ponytail tinggi, dimana bagian poni depan sebatas alisnya terbelah dua dengan dua juntai rambut masing-masing membingkai wajah cantiknya.
Bulu-bulu matanya yang panjang nan lentik mengerjap, bingung. —Wanita cantik itupun mengangguk kecil.
"Itu selesai seperempat jam lalu. Easy!"
Meski dari kata-kata yang disampaikan oleh wanita itu seperti membanggakan sesuatu tetapi ekspresinya sama sekali tidak berubah.
Naruto mengangkat alis heran. "Jadi setelah itu kamu mengikutiku?"
"Aku tidak mengikutimu. Aku hanya ingin tahu kemana kamu pergi." jawabnya singkat.
Ekspresi Naruto tidak banyak berubah meski dia baru saja mendengar sanggahan yang konyol.
"Kamu tak perlu mengendap-endap seperti tikus." Naruto kembali melangkah, tak peduli wajah seperti apa yang ditunjukkan wanita itu saat ini. "Aku ingin melihat kenalan lama. Karena kebetulan tempatnya di dekat sini."
Wanita itu samar-samar terlihat senang, dia tidak terlalu memikirkan ucapan pria itu yang menganggap sikapnya tadi seperti tikus. Jadi, dia pun sedikit mempercepat langkahnya, lalu dengan tegas merangkul tangan sang pria setelah mereka berjalan beriringan.
Naruto meliriknya, dia seakan melihat cahaya terang di belakang perempuan itu.
"Orang seperti apa yang mau kamu temui?"
"Hanya pak tua biasa, yah… Aku tidak yakin. Mungkin saja dia sudah tiada."
"Kamu tidak mau orang itu mati?"
"Ucapanmu kasar sekali. —Tidak. Dia hanya pak tua yang sudah bosan hidup."
"Jadi begitu. Darinya kamu mewarisi sifat itu, huh."
"Bukan begitu—"
"Aku harus memukulnya setidaknya satu kali. Tunggu saja."
"Sebaiknya jangan gegabah."
"Tunggu! Haruskah aku memukul dua kali?"
("….…"›‹))
"Meh heh heh. Aku jadi tidak sabar."
'Dia tidak mendengarkanku!' Naruto sweatdrop. Dia bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau wanita ini melakukan apa yang dikatakannya tadi. Pak tua yang dia maksud pasti akan langsung mati!
"Dia hanya seorang pak tua biasa. Jangan dipukul."
Wanita berambut biru itu ber-"Heeee" pelan, nada suaranya terdengar tidak puas.
Naruto mengabaikannya, terus berjalan dan telah melewati beberapa rumah penduduk sekitar. Jalanan cukup sepi, hanya ada beberapa orang yang terlihat berlalu lalang, atau keluar masuk toko. Hampir tidak ada anak-anak yang terlihat.
—Wanita itu merasa ada yang aneh. Tapi, melirik ke Naruto yang terlihat acuh tak acuh, dia pun mengabaikan hal itu….
Hingga akhirnya Naruto berjalan serta merta membawa perempuan yang merangkulnya ke sebuah rumah kayu tua yang terlihat cukup besar. —Pada saat dia berhenti di sana beberapa pasang mata menatapnya dengan tatapan curiga.
("…‹…"!))
Sayup-sayup suara bisikan pun terdengar.
"Kenapa mereka mengawasi kita?" wanita itu bertanya pelan, ada sedikit keraguan dalam suaranya. —Ia tidak merasakan sesuatu yang spesial dari orang-orang yang mengawasinya dan Naruto, itulah yang membuatnya sedikit bingung.
"O-Orang itu datang lagi!?"
"Sepertinya, Kuroda-san…"
"Ssstt! Berhenti bicara omong kosong! Sebaiknya jangan ikut campur kalau tidak ingin berakhir sial!"
Wanita itu mengernyit, bahkan jika jarak orang-orang yang berbisik itu jauh, dia masih bisa mendengar suara merdeka dengan jelas.
"Naruto. Apa maksud mereka?" ia menatap pria disampingnya meminta penjelasan. Dia tahu pria itu juga mendengar bisikan orang-orang itu.
"Ini kali keempat aku datang kesini." Naruto tersenyum tipis, kemudian berjalan menuju pintu rumah tua tersebut.
Wanita itu pun mengikutinya, tak membiarkan rangkulannya terlepas barang sedetikpun.
"Hei, Pak tua. Aku datang lagi nih." Naruto bersuara setelah mengetuk pintu empat kali. Hal itu menarik perhatian wanita di sampingnya.
"….….…Siapa kau?" Ada jeda sejenak sebelum suara serak dan berat terdengar dari balik pintu rumah tersebut.
Naruto mendengus. "Jangan pura-pura 'deh."
"Sialan!" pintu terbuka, menampakkan wajah dari seorang pria tua yang mana rambutnya hampir memutih semua. Wajahnya yang keriput tampak tegas, matanya yang dalam memiliki tatapan tajam. Bahkan meski ia sudah tua, ia berperawakan cukup tinggi dan berotot terlihat dari bisepnya yang menonjol.
"Kau mengetuk pintuku empat kali[1]! Kau sudah jadi hantu sungguhan 'kan.—Brat!?"
Naruto tersenyum dengan mata tertutup, dia menghindari beradu tatapan dengan mata tajam pak tua itu.
"Kau 'kan masih hidup, Pak Tua."
"Sial!"
.
Pada saat yang sama, di atas bukit dipenuhi pohon maple.
Itu masih tempat yang sama dengan tempat bekas pertempuran antara 'Kagutsuchi' melawan Tama. Tempat itu sudah dipulihkan seperti semula.
Ada sekumpulan orang-orang, kebanyakan dari mereka adalah anak-anak muda bahkan ada beberapa yang masih mengenakan seragam sekolah. Entah apakah itu laki-laki ataukah perempuan, penampilan mereka tampak kasual.
Ekspresi yang mereka miliki cukup beragam.
Diantara anak-anak muda atau remaja yang memakai seragam sekolah, ada satu orang yang tidak bisa dikatakan muda secara usia. —Dia adalah Raynare.
Karin Nanase pergi entah kemana mengikuti Tama, meninggalkan mantan malaikat jatuh itu disini, di antara sekumpulan orang-orang yang tak dikenalnya.
Sementara diantara kumpulan anak muda itu ada satu orang yang paling menonjol. Mata semua orang tertuju padanya.
Itu adalah seorang gadis, yang terlihat paling muda di antara semua orang.
Dia memiliki rambut merah menyala sebahu yang dikuncir kembar menggunakan pita hitam kupu-kupu. Dia mengenakan dress merah cukup ketat tanpa lengan, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang mungil, terhubung dengan skirt hitam setengah paha, dan stoking jala di atas lutut membalut kakinya yang panjang serta boot hitam ber-hak tinggi. Gadis itu terlihat seksi, bahkan walaupun dia terlihat masih di bawah umur.
Di samping kanannya, ada 'benda' besar yang tertancap di tanah dan memancarkan aura menyeramkan. —Itu sebuah pedang, dari bilah sampai gagangnya berwarna merah darah menyala. Desainnya cukup unik karena pada saat yang sama terlihat seperti gunting dengan dua gagang dan hanya ada satu mata pisau. Pada bagian 'pivot point' permukaanya rata seperti tongkat, sementara pada gagangnya yang terhubung dengan 'pivot point' terdapat 'eye ring' bergerigi, dan kait bagai mata sabit bersebelahan dengan gagang[2]!
Meski ujungnya tertancap ke dalam tanah akan tetapi panjangnya ukuran pedang itu hampir dua kali lebih tinggi dibanding gadis berambut merah tersebut.
"Ka-kha kha! Bagaimana tontonan semalam, cukup seru bukan!? Tayangan eksklusif dari Tama-yaa yang pasif berubah menjadi gila! Ingat-ingatlah perasaan itu!"
Tawanya terdengar 'aneh' untuk seorang gadis yang dari penampilannya terlihat seperti remaja baru berusia 15-an tahun.
Mata merahnya tampak bercahaya, bibirnya yang merah muda merona menyeringai miring, menampakkan gigi-giginya yang putih bak porselen.
"Aku yakin kalian menikmatinya. Untuk acara selanjutnya yang akan datang, agar kalian dapat berpartisipasi, jadilah lebih kuat. Okay!?"
Kedua tangan gadis tersebut tertutup sarung tangan hitam mencapai siku, dia berkacak pinggang dengan wajah congkak.
""Baik!!""
Kecuali Raynare, semua orang serempak menjawab tegas kata-kata si gadis berambut merah. Kebanyakan dari mereka tampak gugup.
Raynare berbisik pada seseorang terdekat. Ia sedikit tersentak sebenarnya, karena semua orang tampaknya menghormati gadis merah itu.
"Hei. Aku anak baru. Siapa gadis itu? Pedang apa yang ada di sampingnya?"
Orang yang ditanyai menundukkan wajahnya dan menjawab dengan suara yang sangat pelan.
"Dia satu-satunya murid 'Tuan'. The Slayer Singing Slain.—Nona Édith Ardant!"
'Julukan macam apa ituu!?'
"Aku tidak tahu nama pedang itu. Tapi katanya, itu bisa memotong Dewa. Sebaiknya kamu menjaga sikap saat di depan Nona Édith. Beliau orang yang tegas!"
Raynare bisa melihat kegugupan pada wajah orang tersebut. Ia pun mengangguk paham, walau tidak terlalu paham dengan julukan itu, keringat dingin pun merembes di pelipisnya.
"Kalian berdua ngomongin apa? Sepertinya seru. Boleh aku ikutan?"
Keduanya seketika mematung—! Gadis yang baru saja mereka bicarakan tiba-tiba muncul tepat di sebelah Raynare, dan mengalungkan pedang yang ukurannya hampir dua kali lebih besar dari tubuhnya dengan satu tangan di leher mereka berdua.
Sial! Aura yang memancar dari pedang itu benar-benar menyeramkan!
"Kecuali dua bajingan kecil ini. Yang lainnya boleh pergi. Kalau kalian mau ikut 'bermain' juga dengan senang hati akan aku sambut!"
Dalam sekejap mata, sekumpulan anak-anak muda disana menghilang begitu saja. Sudah jelas, mereka tidak mau ikut 'bermain'!
"Ka-kha kha! Dasar sekumpulan pengecut!"
.
Di dalam rumah tua berlantai kayu.
Dinding kayu dalam rumah tersebut dipenuhi oleh lukisan dan kaligrafi, diantaranya ada beberapa lukisan lukisan 'unik' yang terlihat menyeramkan.
Ruangan itu sendiri cukup luas. Ada empat meja bundar dan bangku yang terbuat dari kayu, dan stan counter (bar table/konter) melingkar di sisi kiri ruangan, ada barisan bangu di dekatnya.
Naruto berdiam diri di depan counter tanpa bersuara. Satu langkah di belakangnya, ada wanita cantik berambut biru yang tenggelam dalam kesunyian.
Suara-suara bergeruduk terdengar, lalu kepala penuh rambut putih menyembul dari bawah, —seorang pria tua muncul dari balik counter.
"Kau beruntung karena aku masih hidup."
Pria tua itu berbicara dengan nada berat, ada sesuatu yang dia pegang dengan kedua tangannya. Matanya yang dalam menatap pemuda pirang di depannya.
Naruto hanya melemparkan senyum remeh.
Pria tua mendengus. "Hmph. Dasar bocah sialan. Kau memintaku untuk menjaga 'itu' seenaknya dan tanpa memberitahu apa-apa tentang 'ini'."
Pria tua meletakkan benda di tangannya di atas meja. Itu sebuah gulungan kertas warna coklat yang diikat menggunakan pita merah.
"Kau bicara apa, pak tua?" Naruto tersenyum mengejek, dia maju lebih dekat. "Bukankah kau sudah menjaga 'itu' selama ini bahkan sebelum aku memintamu melakukannya?"
Saat Naruto hendak menyentuh gulungan itu pria tua itu menariknya. Senyum di wajahnya luntur, sementara pria tua itu menatapnya dengan wajah serius.
Suasana dalam ruangan sedikit menegang.
"Kenapa terburu-buru, nak. Kau bahkan tidak mengenalkan kekasihmu padaku. Licik sekali. Terakhir kali kesini kau membawa kecantikan misterius, lalu kau membawa kecantikan tak manusiawi saat ini. Huh, berapa banyak wanita-wanita yang kau simpan?"
Sang wanita mengangkat alis, tertarik. Tetapi tidak dapat dipungkiri, samar-samar dia bisa merasakan perubahan suasana dari pria pirang. Jadi, dia tidak berniat ikut campur, setidaknya untuk saat ini.
"Old Kuroda[3]. Kau sudah berjanji akan memberikan 'itu' kepadaku."
"Kenapa tidak duduk dulu?"
Naruto diam tak berekspresi, menatap wajah pria tua, yang dipanggilnya Old Kuroda, yang terlihat sangat serius. Untuk beberapa saat keheningan menyelimuti ruangan.
Tak berselang lama, Naruto menghela nafas pelan kemudian berbalik, dan berjalan keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Sementara pria tua itu terkejut, wanita cantik yang sejak awal hanya diam mendengarkan, menyusul keluar setelah meninggalkan sepenggal kalimat.
"Kau setumpuk tulang menyedihkan berani sekali bernegosiasi dengan suamiku."
#—#—#
Di luar, karena tidak melakukan apa-apa dan tidak mendapatkan hasil yang diinginkan, Naruto menyalakan pemantik api, sebatang rokok terselip diantara mulutnya.
Menghembus nafas pelan, kepulan asap menyeruak, bau tembakau yang khas memanjakan indra penciumannya.
Berdiri di sampingnya, wanita berambut biru menutupi hidungnya, mencegah udara tidak baik memasuki saluran pernapasannya.
Melihatnya, rokok di tangan Naruto langsung musnah terbakar tanpa menyisakan abu pun.
"Aku tidak akan mempertanyakan keputusan yang kamu buat. Takkan pernah."
Mendengar itu, Naruto menoleh. "Aku tidak mengatakan apa-apa, kan?"
Wanita itu hanya membalas dengan seulas senyum kecil. Dia tidak berniat mencari tahu, karena dia percaya pada akhirnya pria pirang itu akan mengatakannya sendiri.
Naruto mengerti keinginan wanita itu, diapun menghela nafas geli.
Namanya —Shangguan Yan.
Dia wanita yang sulit dihadapi. Sikapnya yang angkuh, memandang rendah semua orang, sombong dan dingin, membuat orang-orang menjaga jarak darinya.
Mungkin hanya Tama yang bisa mengajak ngobrol wanita satu ini. Bagi Naruto sendiri, wanita berambut biru ini sangat merepotkan.
"Pertama kali aku kesini, saat itu aku masih anak-anak. Lebih dari dua puluh tahun lalu, aku ditemukan dan dibawa kesini oleh seorang 'Paman[4]' pensiunan tentara."
Naruto termenung sejenak; dia ingat Paman itu sangat berisik. Setiap kali bicara suaranya selalu keras. Paman itu jugalah orang yang telah mendaftarkan Naruto masuk ke sekolah menengah pertama.
Sayangnya—
"Pak tua Kuroda, dia orang pertama yang mentraktirku makan. Yah, itu ramen." Naruto tertawa pelan. Dia ingat bagaimana pak tua Kuroda —yang sebenarnya takut, jijik, dan waspada padanya masih mempunyai hati yang lembut dan mau memberinya makanan.
"Tapi aku lebih sering bicara dengan asistennya. Walaupun dia orang dewasa yang menyedihkan, Takashi-san[5] orang yang baik."
Shangguan Yan tersenyum simpul.
"Jadi itu alasan kamu melarang memukul tulang tua itu? Karena dia orang yang pernah menolong dirimu di masa lalu. Menggelikan."
Naruto sweatdrop. "Bahkan kalau dia tidak pernah menolongku, kamu tetap tidak boleh asal memukul orang."
"Bukankah itu jadi lebih mudah?" Shangguan Yan mengangkat bahu acuh. Ia menoleh, menatap pintu. "Kalau dia tidak pernah menolongmu, Aku, Shangguan Yan, akan memukulinya sampai mati saat kamu tidak ada, lalu mengambil apa yang kamu inginkan kemudian memberikannya kepadamu."
'Apa otaknya sudah mati!?' Naruto facepalm. Meski dia mengerti tujuan ucapan wanita itu, tapi dia tidak yakin apakah Shangguan Yan benar-benar akan melakukannya atau tidak. Dia bisa melihat kilatan berbahaya di mata biru aqua itu.
Dan, suara 'sesuatu' terjatuh pun terdengar dari balik pintu—.
Naruto melirik Shangguan Yan, wanita itu balas menatapnya disertai seringai tipis dan menirukan suara "miao~" kucing. Naruto sweatdrop. 'Dia benar-benar menakuti pak tua itu.'
Tak berselang lama kemudian, pintu terbuka. Wajah keriput pak tua pun muncul, ada keringat dingin di dahinya.
Itu Pak tua Kuroda. Tangannya yang memegang 'gulungan' menjulur keluar. Dia bahkan tidak terlihat ingin keluar dari rumahnya. Tangannya gemetar pelan.
"T-Tolong jangan memukulku, Nona. Aku akan memberikan 'itu'. —Aku hanya kakek-kakek yang menunggu ajalnya. Kuharap kau berbaik hati."
Shangguan Yan tertarik. Tak lantas mengambil gulungan di tangan Pak tua Kuroda.
"Jadi begitu." ucapnya seraya mengangguk pelan seolah memahami sesuatu. "Kamu terlalu pecundang. Aku tahu. Bukan darimu Naruto mewarisi sifat 'hidup segan mati pun tidak bisa'—nya itu."
Naruto facepalm.
"T-Tentu saja! Suamimu sudah seperti itu sejak dulu!" Pak tua Kuroda mengangguk lalu menggeleng cepat, dia sama sekali tidak memahami perkataan wanita cantik di depannya, dia melakukannya secara alami karena takut menyinggung wanita itu.
Naruto sendiri keheranan, sejak kapan dia jadi suami Shangguan Yan? Pak tua itu masih saja mudah dibohongi.
"Dulu pun aku juga ragu apa dia anak-anak sungguhan? Dia sama sekali tidak normal! Dan sekarang, penampilannya seperti tak terlihat berubah sama sekali!" Pak tua Kuroda menatap Naruto dari atas sampai bawah. Ekspresi wajahnya tampak heran dan iri bercampur jadi satu. "Hei, bocah! Kau 'kan sudah kepala empat. Kenapa kau tak menua dan masih terlihat seperti pemuda dua puluh tahun!?"
"Hah? Kau ngajakin ribut, Pak tua!? Keluar sini biar aku pukul wajah menyebalkan itu!"
"Apa!? Kau anak muda sombong! Beraninya melawan orang tua sepertiku!"
"Memang kenapa kalau kau orang tua!? Kenapa juga aku harus menjadi tua dan menyedihkan sepertimu!?"
"Kau juga menghinaku! Sialan! Mulutmu masih sialan!"
"Kau duluan yang mengataiku tidak normal! Maju sini kau pak tua sialan!"
Mereka berdua benar-benar beradu mulut penuh semangat. —Shangguan Yan merasa terhibur melihat mereka. Pak tua yang tadi terlihat takut-takut seperti melupakan sudah rasa takutnya, meskipun seorang pria tua tapi semangatnya masih menggebu-gebu. Selain itu, Shangguan Yan juga melihat Naruto yang berbeda dari biasanya. Pada saat ini, pria pirang itu terlihat seperti manusia normal pada umumnya.
Naruto cukup jarang menunjukkan wajah seperti itu, itu cukup lucu, juga menarik di mata Shangguan Yan. 'Sepertinya dia benar-benar menghargai tulang tua ini.'
"Heh hehe." Shangguan Yan tertawa lembut, tawanya agak aneh. Seketika kedua laki-laki itu berhenti adu mulut, lalu berdehem disaat yang sama.
"Tulang tua. Bisa kau beritahu aku, wanita seperti apa yang diajak Naruto kesini sebelumnya?" Shangguan Yan bertanya pada pak tua Kuroda dengan sebelah alisnya yang terangkat.
Pak tua itu sejenak terlihat bingung, tetapi sesaat itu juga dia menyeringai dan memberi tatapan mengejek kearah Naruto.
Naruto sweatdrop, perasaannya tidak enak.
"Bajingan ini pertama kali membawa wanita dingin yang tidak mengatakan apa-apa. Dia seperti boneka hidup. Duduk saja tidak mau."
Ekspresi Shangguan Yan samar-samar berubah. Melihat itu, dan melihat keringat dingin mulai merembes di dahi Naruto, seringai di wajah Pak tua Kuroda semakin tampak.
"Dia membawa wanita itu dua kali! Dua kali!"
'Pak tua sialan ini beneran sialan!' Naruto tak tahan ingin memukul wajah menyebalkan Pak tua Kuroda, akan tetapi dia tidak akan melakukannya. Dia melihat Shangguan Yan yang kehilangan kehidupan di mata biru aquanya.
"Terakhir kali, bocah bajingan ini membawa wanita lain. Aku tidak bisa melihat wajahnya. Tapi aku yakin dia wanita cantik lainnya. Dia juga tinggi dan berpakaian aneh. Suamimu bahkan menggendongnya pulang karena wanita bermasker itu tidur tiga hari penuh." Seringai licik Pak tua Kuroda tercampur raut muka iri yang kentara. Dia juga terlihat kesal.
"Sialan! Aku curiga kalau kau menggunakan obat-obatan tertentu pada wanita itu!"
"Kau hanya menyemburkan omong kosong, Pak tua!"
"Omong kosong apa! Kau menyimpan wanita lain sementara kau sudah beristri!"
"Sudah cukup."
Pak tua Kuroda dan Naruto yang hendak adu mulut lagi pun segera menutup mulut mereka. Suara dingin tak bernada Shangguan Yan menghentikan keduanya dan membuat punggung mereka merasakan hawa dingin mulai merayapi.
Shangguan Yan menutup matanya, seulas senyum dingin terlukis di wajah cantiknya.
"Tulang tua. Aku berterima kasih atas niat baikmu. Aku, Shangguan Yan, akan menerima kebaikan hatimu kalau kamu menyerahkan gulungan[6] itu. Saat. Ini. Juga."
Pak tua Kuroda bercucuran keringat dingin. Dia bisa merasakan ancaman serius dari setiap kata yang meluncur dari mulut wanita itu. Ia pun mengangguk tergesa-gesa lalu menyerahkan gulungan itu dengan kedua tangannya.
"B-Baik. Ini. Nona."
Shangguan Yan membuka mata, mengambil gulungan dari tangan Pak tua itu, kemudian tersenyum dingin.
"Terimakasih, tulang tua." segera setelah mengucapkan itu, Shangguan Yan pun berbalik dan kemudian melenggang pergi begitu saja.
Tak ada yang berani menghentikannya. Baik itu Pak tua Kuroda ataupun Naruto, mereka sama-sama berbagi pemikiran 'akan bahaya ' kalau menghentikan wanita itu.
"Dia wanita yang menyeramkan. Tapi sialan, dari mana kau menemukan Istri secantik itu, Brat!?" Pak tua Kuroda menggerutu setelah melihat siluet Shangguan Yan semakin jauh. Dia mengusap dahinya yang bercucuran keringat.
"Kau masih berani memikirkan itu? Selamat! Kau hampir saja membuat perang besar terjadi." Naruto mendengus mengejek, lalu menghela nafas pendek.
"Itu salahmu karena mempunyai terlalu banyak wanita!" Pak tua Kuroda membantah, bersedekap dada, dia tidak menyesali perbuatannya sama sekali.
"Itu bukan urusanmu. Gah, sial. Mengambil 'itu' darinya ribuan kali lebih sulit daripada mencuri uang di Bank." Naruto mengacak-acak rambutnya kesal.
"Aku sungguh penasaran. Sebenarnya apa yang Kau temukan dari 'itu'?" Pak tua Kuroda berubah menjadi serius.
Naruto menghela nafas sekali lagi. "Kau akan menyesal kalau mengetahuinya."
"Tidak, tidak. Tak lama lagi aku akan mati. Jadi katakan saja, Naruto."
Naruto termenung sejenak, dia sama sekali tidak meragukan keseriusan pak tua itu. Lalu—.
"Itu berisi 'sesuatu' yang terkait dengan beberapa hal terkutuk. Ada sedikit kutukan pada 'itu' sendiri."
"Ah, uh? Apa-apaan kau ini!?"
.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Setidaknya di dalam ruangan itu ada empat orang yang semuanya adalah perempuan.
Seorang wanita berambut silver gelap sebahu, berpakaian ala French maid berdiri di dekat meja, kedua tangannya saling bertautan di depan.
Satu lagi, gadis berambut hitam memakai setelan seragam sekolah yang berdiri dengan kedua tangan saling bertautan. Iris magentanya tampak gelisah. —Dia Raynare, yang tidak tahu harus berbuat apa. Dia kembali ke ruangan ini lagi.
Di samping Raynare, seorang perempuan cantik yang berdiri sambil menyilangkan kedua tangan rampingnya di dada.
Dia memiliki sepasang mata yang agak sipit, yang menyembunyikan sepasang manik rubi indah dibalik sana. Fitur wajahnya yang berbentuk hati (heart face) serta kulit putihnya yang mulus bak porselen. Dan juga, dia seorang perempuan yang memiliki kesan tegas dari raut mukanya. Dengan surai hitam serta beberapa fringe warna merah panjang sebahu yang dibiarkan tergerai. Menambah kesan nakal. Dia wanita yang sangat cantik dengan pesona yang unik. Tegas, kuat, liar namun bermartabat.
Gadis tersebut bersama dengan Raynare adalah dua orang yang 'terciduk' oleh satu-satunya muridnya Tuan ketika sedang membicarakannya.
Sementara orang yang dimaksud sedang rebahan di sofa, menjadikan sandaran tangan sebagai bantalan untuk kepala berambut merah menyala yang kuncir dua-nya. Sesekali kakinya naik turun mengudara secara bergiliran, sedangkan tangan kirinya mencomot makanan ringan di atas meja dan memasukkannya ke dalam mulut. Dia seperti gadis muda yang liar.
Hal itu sudah berlangsung cukup lama.
"—Lalu, aku kepikiran untuk membuat julukan untuk diriku sendiri. Apakah 'SSS' terdengar keren!?" gadis itu bertanya antusias, suaranya benar-benar… bersemangat[7].
"Kamu ingin membuat titel atau tier karakter seperti di game?"
"Eh? Bukannya yang biasa di game itu 'SSR' yah?"
"SSR dan SSS itu berbeda, tapi sama-sama istilah yang digunakan di game."
"Heee. Kupikir SSS terdengar keren."
"Apa artinya?"
"Slayer Singing Slain!!"
Raynare dan gadis beriris ruby itu facepalm mendengar percakapan tidak jelas di antara kedua orang itu, mereka membicarakan hal tersebut selama hampir setengah jam. Yang satu tampak antusias, yang satu lagi menanggapi dengan tenang.
Raynare melirik gadis di sebelahnya, gadis itu membuang muka, keringat dingin terlihat bercucur di dahinya. Seperti seorang pencuri yang kepergok saat melancarkan aksinya.
"Édith. Kamu akan membuat Tuan menangis saat mendengar kamu menggunakan julukan itu."
Gadis berambut merah menyala dikuncir dua itu duduk seketika, wajahnya tampak terkejut setelah mendengar perkataan sang maid tadi.
"Apa karena terlalu jelek!?"
Sang maid hanya menggeleng pelan. —Édith, gadis itu terlihat masih tak percaya, bertanya sekali lagi.
"Skill[8] milikku, [Northstar Death Sword] adalah turunan dari Skill milik Master-ku[9]! Madam. Menurutmu, nama apa yang cocok untukku?" raut wajahnya penuh harap saat menatap kearah maid cantik tersebut.
"Kamu tidak boleh asal-asalan menjuluki dirimu karena itu akan berpengaruh pada apa yang 'akan datang dan menjadikan siapa dirimu' kepadamu kelak."
Édith diam dengan wajah tampak polos, tidak mengerti sama sekali apa yang dimaksud dari kata-kata yang diucapkan maid tersebut.
Bukan Édith saja. Raynare dan gadis beriris ruby itu juga tidak paham sama sekali, lagian sejak awal mereka berdua memang tidak ada yang paham apa yang dibicarakan dua orang tersebut.
Sang maid memejamkan mata. "Itu yang pernah dikatakan oleh Tuan."
Édith tiba-tiba menepuk pahanya dengan kedua tangannya. Gadis itu tiba-tiba berdiri.
"Whoaaa! Master mengatakan itu? Aku mengerti sekarang!" ia mencubit dagunya, ekspresi wajahnya cerah seolah-olah telah berhasil memecahkan sesuatu yang rumit. "Kekuatan menarik kekuatan lain. Jika aku asal-asalan menjuluki diriku, itu akan berakhir pada 'sebab dan akibat' yang sering kali sulit dielakkan."
Gadis itu mulai bergumam sendiri dan sesekali akan mengangguk, sorot matanya menerawang jauh, sesekali pula ekspresinya akan berubah-ubah. Dia tenggelam dalam dunianya sendiri.
"Édith gadis yang jenius." sang maid berkata tiba-tiba, dan berjalan lalu berhenti saat sudah berada di depan Raynare dan gadis beriris ruby itu. Édith berdiri tepat di samping kanannya.
Iris biru gelapnya tenang, ketenangan yang mampu menenggelamkan siapapun yang berani menatapnya.
"Jangan menggodanya seperti itu lagi. Kalian takkan sanggup menerima amarahnya kalau gadis ini lepas kendali."
Nada suara sang maid sangat tenang, tetapi peringatan yang disampaikannya tidak main-main. Gadis bermata ruby dan Raynare sadar akan hal itu, keduanya mengangguk paham. Terutama, gadis beriris ruby itu memasang wajah yang terlihat menyesal.
Sang maid menoleh, menatap wajah kosong gadis berambut merah menyala yang mana pikirannya sedang mengembara entah pergi kemana.
"Saat ini, Édith, sedang tenggelam ke dalam pemahaman yang dikembangkannya sendiri. Setelah selesai, gadis ini akan jadi lebih kuat lagi." Ia kembali meluruskan tatapannya kepada Raynare, lalu berhenti saat menatap gadis bermata ruby.
"Kamu urutan pertama pada [Event] kemarin, benar?"
Gadis bermata ruby pun mengangguk gugup ketika ditatap oleh sang maid. Ketenangan yang ia tampilkan di awal pun menghilang.
Dia baru menyadarinya—.
"Itu benar saya, Madam. Maaf terlambat menyapa anda." ia menunduk dalam-dalam.
"Tidak perlu untuk itu. Sebaiknya kamu pergi selagi Édith kecil masih dalam mode 'belajar.' Superior Beauty[8] juga akan memarahimu kalau sampai dia mendengar kamu diseret gadis kecil ini. Anggap saja tak pernah terjadi apa-apa."
"S-Sensei!?" Gadis itu tersentak, ada setitik rasa takut yang muncul di wajahnya.
"Ada baiknya bersiap-siap sebelum [Event] selanjutnya dimulai. —Kalau sempat, jelaskan jugalah pada Nona Raynare tentang [Game]. Dia harus berpartisipasi di [Event] nanti."
"Saya mengerti, Madam. Kalau begitu, kami mohon pamit undur diri."
Sang maid mengangguk sunyi.
Dan, kedua gadis itu pun pergi dengan Raynare yang, lagi-lagi, diseret melalui tangannya.
Setelah kepergian keduanya, tak berselang lama ruang hampa di dekat sang maid pun beriak. —Seseorang muncul.
Rambut biru aqua lurus nan lembut bagaikan sutra panjang melewati pinggang tergerai bebas, dengan poni terbelah dua dipotong sebatas melewati alis mata, dan dua sisi membingkai wajahnya. Tubuhnya tinggi semampai 5'6ft. Sepasang mata beriris biru aqua cerah bagai permata, menampakkan kecemerlangan, menunjukkan kepada dunia betapa briliannya mutiara itu.
("……"))
("—"?))
Dua pasang mata biru saling beradu tatap, namun tidak ada yang bertanya, atau sekedar menyapa satu sama lain. Dua wanita yang memakai pakaian berbeda, satu setelan pekerja kantoran serba hitam, satu berpakaian ala maid hitam putih, diam-diam memiliki pemikiran masing-masing di kepalanya.
Mata biru aqua berisi semacam persaingan menatap tajam mata biru gelap, sementara sebaliknya, mata biru gelap menatap mata biru aqua itu penuh tanda tanya.
Dua wajah cantik itu datar tanpa ekspresi, ketenangan yang mereka pancarkan benar-benar membuat ruangan terasa sunyi dan mematikan!
Lalu…
"—Shangguanyan[10] diam-diam menguping?"
"—Nima[11]. Cepat buatkan aku teh terbaik."
…Mereka berbicara pada saat yang sama. Menyindir dan menghina satu sama lain secara bersamaan. Keheningan pun kembali mengisi ruangan.
"Ka-kha kha hahaha!!"
Tiba-tiba suara tawa melengking bergema memenuhi ruangan. Tawa itu berasal dari seorang gadis. Gadis berambut merah menyala yang baru saja kembali dari dunianya sendiri. Tangannya berkacak pinggang, mulutnya tersenyum congkak.
"Empat! Dua puluh! Sembilan belas[12]! Édith Minette Judith Ardant! Retour!"
("….….…"›‹!))
Gadis itu meneriakkan sesuatu yang tidak jelas, dia tidak menyadari kelakuannya telah membuat jengkel dua wanita yang sedang perang mental. Menghancurkan suasana hening yang gawat nan mematikan itu!
.
Di halaman depan rumah berlantai dua, seorang pria pirang duduk menghadap meja bundar terbuat dari batu granit warna putih.
Naruto menyangga dagu.
Sebenarnya dia sudah sampai di rumahnya beberapa saat lalu, akan tetapi dia tidak ingin masuk kedalam rumahnya sendiri. Firasatnya mengatakan sesuatu yang tidak baik-baik saja akan terjadi seandainya dia masuk.
Selain itu dia juga menyaksikan dua orang gadis keluar dari dalam rumah dan pergi tergesa-gesa tanpa menoleh sedikitpun. Melihat hal itu semakin menguatkan firasatnya.
Walaupun seperti yang dikatakan Shangguan Yan saat masih berada di desa tempat tinggal Pak tua Kuroda, hidup segan mati pun tidak bisa, bukan berarti dirinya benar-benar tidak menikmati kehidupannya.
Kalau itu sekitar dua dekade lalu, mungkin saja dia akan memilih lebih baik mati daripada hidup tersiksa tanpa akhir—. Sejak beberapa tahun lalu, dia mulai berpikir hidupnya bukan untuk dirinya seorang. Dari berbagai tempat dan dari waktu ke waktu, satu persatu dirinya bertemu dengan orang-orang yang anehnya mulai mengikutinya.
Beberapa orang menjadi fans fanatiknya, beberapa orang menjadi gila karena jatuh cinta padanya, beberapa orang pun mulai memujanya seolah-olah dia adalah Dewa di mata mereka. Disamping itu, masih ada beberapa jenis pengikut aneh lainnya yang memikirkannya saja membuatnya merasa ngeri sendiri.
'Kalian bertanya apa tujuan hidupku?'
Tidak seperti pahlawan yang ingin menyelamatkan dunia, tidak pula seperti penjahat yang berbuat kerusakan dimana-mana, ideologi-ideologi mereka terlalu berlebihan untuknya.
Dia hanya punya satu tujuan pasti, dan yang dia inginkan hanyalah 'Menghancurkan Sesuatu!'
Dia sudah memikirkannya berkali-kali, bisa dipastikan kalau satu keinginan yang menjadi tujuannya akan bertabrakan dengan ideologi-ideologi milik Pahlawan dan Penjahat! Atau bahkan seluruh dunia!
Itu bodoh dan ceroboh. Dia tidak mempunyai kemampuan untuk menantang seluruh dunia seorang diri! Paling tinggi, kekuatan yang dimilikinya setidaknya hanya pada tingkat sedemikian.
Hidup segan mati pun tidak bisa —itu fakta!
Dia benar-benar enggan hidup ketika memikirkan tujuannya terasa sangat amatlah jauh untuk bisa digapai.
Dia tidak benar-benar tak bisa mati, karena begitu dia mati, pada akhirnya dia akan tiba-tiba muncul kembali.
Sebenarnya, dirinya tidak hidup namun tidak mati pula. Dia berdiri persis di ambang keduanya. Keberadaan yang rapuh namun kuat disaat yang sama.
—Itulah dirinya.
BANG!!
Pada saat itu, dinding rumah tiba-tiba jebol dari lantai dua!
Sesuatu, atau sesosok berwarna merah terbang bagai rudal melesat ke arahnya. —Naruto menarik tangannya yang digunakan untuk menyangga dagu dari atas permukaan meja.
BRAKKH!!
Meja di depannya hancur berkeping-keping! Momen itu tak terduga. Tetapi dengan kejadian tersebut, firasatnya sudah sangat tepat! Ada yang tidak beres disini!
"Ma-Master…! Selamatkan… A-Aku!"
Seorang gadis berambut merah menyala terkubur puing-puing meja, tanah di belakangnya berlubang dan retak menciptakan sebuah kawah kecil. Wajah gadis berlumuran darah, hidungnya mimisan, pipi kirinya bengkak dan ada darah segar mengalir dari sudut mulutnya.
"Édith—!?"
#—#—#—#
Di hutan belantara, tepat di tepian sungai, terjadi robekan ruang. —Seorang pria pirang muncul sembari membopong tubuh ringkih seorang gadis berambut merah dengan kedua tangannya.
"Kamu benar-benar tidak beruntung."
Naruto facepalm. Setelah mendengar penjelasan dari gadis merah tersebut, dia bingung harus apa.
Awalnya dia pikir sesuatu yang gawat telah terjadi, faktanya bukan. Ia bahkan harus merobek ruang untuk membawa pergi dan menyelamatkan muridnya ke tempat yang sangat jauh. Selama dalam perjalanan di dalam ruang, gadis itu menjelaskan kalau tiba-tiba saja dirinya dipukul tepat di wajah dan perutnya ditendang pada saat yang sama oleh pelayan pribadinya, tak lama setelah tersadar dari 'pemahamannya.'
Ternyata, itu sesuatu yang lebih merepotkan!
"Aku akan menyembuhkan luka-lukamu dulu." Naruto pun menurunkan tubuh gadis merah tersebut, merebahkan dan merendamkan tubuhnya ke dalam air sungai kecuali kepalanya.
"Terimakasih, Master!"
Bahkan sekalipun wajahnya berlumuran darah dan bengkak, gadis itu masih bisa tersenyum sumringah.
Naruto menghela nafas tak berdaya melihat antusiasme di wajah muridnya. —Dalam posisi berjongkok, ia pun menyentuh dahi gadis merah dengan ujung jari tengah dan telunjuknya.
Gadis merah tersebut tampak bercahaya. Kepalanya yang dipenuhi helaian merah menyala semakin berkilauan, bahkan anggota tubuhnya yang direndam di dalam air sungai bersinar.
"Umm, rasanya sangat manis." Édith bergumam senang saat menikmati perasaan hangat berdesir melewati setiap sel-sel tubuhnya.
Tak butuh waktu lama, luka lebam di kedua pipinya pun pulih, darah di wajahnya pun luntur lalu memudar bagaikan tak pernah ada sebelumnya.
"Apanya yang manis, bodoh." Naruto menjitak pelan dahi gadis tersebut. Menghela nafas sekali lagi, kemudian berdiri. "Kamu harusnya ingat untuk tidak memprovokasi dia lagi."
"Aku tidak melakukan itu! Madam yang tiba-tiba memukulku tanpa alasan. Aku hanya terlalu senang memikirkan sesuatu yang berguna untuk kemajuan Skill-ku! Hmph!" Édith menyangkal, mendengus tak terima, memukul-mukul permukaan air dengan perasaan kesal.
Naruto, tiba-tiba tersenyum, melihat tingkah lucu si gadis merah mengingatkannya akan kenangan lama yang hampir ia lupakan. Meski begitu, dia tidak membiarkan dirinya terlarut dalam pikirannya.
"Berhenti beralasan. Aku ingin melihat seperti apa kemajuan yang kamu ocehkan itu."
Tujuan awalnya hanya untuk 'menyelamatkan' gadis itu dari duo wanita 'berbahaya' yang ada di rumahnya, namun dia berubah pikiran setelah mendengar penjelasan Édith. Pada akhirnya dia benar-benar merobek ruang demi ruang untuk menghapus jejak, dan pergi ke tempat yang jauh untuk melihat hasil dari 'pemahaman' muridnya.
"Aku tidak mau, Master!"
Naruto agak syok, jawaban Édith diluar harapannya. Gadis itu justru semakin liar memukuli permukaan air sungai. Padahal biasanya Édith selalu menuruti kata-katanya, sekalipun menolak biasanya karena ada urusan mendesak atau karena jadwal yang bertabrakan dengan hobinya, atau…. Melihat dari tingkahnya…
"Apa yang membuatmu kesal?"
Pipinya menggembung sebal, Édith berhenti memukul-mukul air. Dia mengangkat tubuhnya lalu mengubah posisinya menjadi duduk.
"Aku ingin punya nama panggung."
"Apa itu penting?"
"Masteeeerrr!" Édith merengek, matanya berkaca-kaca saat menatap wajah Masternya, mukanya memerah. Seperti anak kecil yang akan menangis karena mainannya direbut.
Naruto sweatdrop, heran dengan mood gadis itu yang bisa berubah-ubah dalam waktu singkat.
"Kamu bukan anak kecil lagi, Édith. Jangan menangisi sesuatu yang—"
"Aku tidak peduli! Aku akan menangis saja! Kamu jahat! Aku ingin punya nama yang keren seperti orang-orang kuat lainnya! Kenapa aku tidak boleh menangis hanya karena itu sesuatu yang tidak penting menurut orang lain!? Apa hanya anak kecil yang boleh menangis sedangkan orang-orang dewasa dilarang untuk menangis!? Itu curang! Itu penting untukku!"
'Rengekannya benar-benar berisik!' Naruto menghela nafas enggan. Ia sadar sudah salah bicara. Mau tak mau ia pun menjelaskan.
"Ayolah. Nama bukan sesuatu yang bisa kita buat sendiri. Itu diberikan orang-orang kepada kita. Siapa yang akan peduli pada nama yang kamu buat sendiri? Bukankah akan memalukan saat kamu menyombongkan diri tetapi tidak ada seorangpun yang pernah mendengar tentang nama panggungmu?"
Édith seperti ditampar kenyataan. Ekspresi kaget terukir di wajahnya, pun seketika dia berhenti merengek. Ekspresinya berubah seketika, memikirkan kata-kata Masternya dengan wajah serius.
"Ka kha-kha! Akulah Édith the Girl with One Name! —'Eh, siapa? Nggak pernah dengar tuh!' —ya kan?"
Pikiran Édith buyar seketika, mendengar Masternya bicara menirukan dirinya dan menjawabnya sendiri dengan nada orang heran, membuat mukanya memerah.
Byurr!
Naruto tersenyum miring melihat si gadis merah menceburkan dirinya ke sungai.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, sudah sepuluh tahun lebih gadis itu berada di bawah naungannya. Melihat Édith seperti halnya melihat dirinya di masa lalu. Hanya saja, gadis itu sulit menahan diri.
Gadis kecil itu sudah besar. Yah, walaupun Naruto agak bingung kenapa Édith ikut-ikutan trend seperti yang lainnya. Tidak hanya itu, gadis merah itu bahkan mempertahankan penampilan remajanya dibandingkan menggunakan wujud dewasanya.
'Sebenarnya 'adaptasi' apa yang mereka bicarakan?' Naruto sweatdrop saat mengingat trend yang sedang berlangsung di antara orang-orangnya saat ini.
Gelembung-gelembung air pecah, lalu kepala yang dipenuhi helaian merah menyembul keluar ke permukaan air sungai. Kunciran rambutnya lepas, rambut merahnya tergerai bebas.
"Master!"
"Hm?"
Édith berenang ke tepian sungai, gerakannya terlihat selicin belut.
"Aku selalu mengingat kalau Master sering mengajakku pergi ke sungai setelah berlatih. —Apakah air sungai dapat membantu meningkatkan efektifitas teknik penyembuhan?"
Naruto terdiam sejenak, berpikir dan menimbang-nimbang jawaban seperti apa yang harus ia berikan pada gadis yang raut wajahnya terlihat penasaran itu.
"Bukan begitu. Aku sedikit menyukai suara aliran air sungai."
Édith ber-"hee" pelan. Gadis itu meletakkan tangannya di belakang telinga, mencoba menemukan 'suara' yang disukai Masternya dari aliran air sungai.
Kening Édith mengernyit bingung. Dia tidak bisa menemukan kesenangan dari mendengarkan aliran air sungai.
"Master?" Ia tatap sang Master menuntut penjelasan. Sedangkan Naruto tersenyum main-main.
"Itu rahasia."
Tentu saja! Mana mungkin dia bilang kalau 'suara' yang dia dengar sebenarnya bukanlah suara aliran air sungai melainkan suara 'Panggilan dari Kehampaan[13].
Itu benar-benar menjadi cerita yang tidak bisa dikatakan pada siapapun, apalagi kepada Édith. Kalau gadis merah itu sampai mengetahuinya hal itu akan menjadi pengaruh buruk. Gadis itu selalu penasaran pada apapun yang Naruto lakukan.
Sayangnya dia tak bisa menyembunyikan hal itu dari Tama, dan juga pelayan pribadinya.
Édith berdiri lalu keluar dari air, ia tak melepaskan tatapan menuntutnya dari Naruto. —Angin berhembus dari tubuhnya. Bajunya yang basah kuyup, rambut merahnya yang lepek, seketika langsung kering.
"Master memiliki terlalu banyak rahasia. Sungguh kamu tidak akan mengatakannya padaku?"
Saat ia berdiri satu langkah didepan Naruto, tingginya hanya sebatas dada pria pirang itu.
"Kenapa kamu sangat penasaran? Aku tak akan bilang apapun, oke? Tidak akan."
Melihat Naruto yang tak mau mengubah pendiriannya, Édith pun mengangguk lalu berkata.
"Itu pasti hal yang memalukan. Murid ini mengerti!"
'Intuisinya selalu tajam!' Naruto tidak akan heran kalau Édith bisa menebak satu dua hal hanya berdasarkan sebuah petunjuk kecil saja. —Selain karena memalukan, mana mungkin dia akan menceritakan kalau dirinya di masa lalu telah berupaya menenggelamkan diri ke sungai beberapa kali untuk mengakhiri hidupnya, kepada muridnya.
Naruto terkekeh pelan, lalu mengacak-acak rambut merah menyala itu sebentar.
Édith tampak senang akan perlakuan yang diberikan Masternya. Sudah lama sekali Masternya tidak memanjakannya. Karena dirinya sudah besar! —Itulah alasan mengapa dia mempertahankan penampilan remajanya.
Hanya saja—
Tiba-tiba wajah imutnya mencebik kesal. Édith menatap Masternya, dia mendapati sebuah anggukan kecil dari Naruto.
"Sepertinya akan ada tamu tak diundang. Pergi atau tunggu?"
"Tendang lalu usir!"
Naruto tertawa geli mendengar jawaban Édith yang begitu lugas. 'Dia pasti kesal' pikirnya. —Sejujurnya, satu-satunya orang yang sering ia manjakan hanyalah Édith. Lagipula, ketika membawa Édith dulu, gadis ini tak ubahnya seorang gadis kecil yang baru lulus sekolah dasar.
Gadis kecil yang malang.
"Kita lihat dulu. Pukul saja kalau aku suruh."
"Oke! Master!"
Dua orang berambut kontras itu menoleh ke satu titik. Menunggu kedatangan tamu tidak diundang yang tiba-tiba jadi diharapkan.
Itu tidak begitu penting. Naruto bisa saja mengabaikan hal itu. Dia bisa tidak peduli pada sesuatu yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya, sama halnya dengan bagaimana sesuatu telah terjadi pada orang-orang yang pernah ia temui. Entah mereka menderita karena sesuatu atau bahkan beberapa meninggal karena usia atau kecelakaan. Dia tidak peduli, meski tak menutup kemungkinan kalau dirinya bisa sedikit berempati.
Hanya saja… Édith adalah gadis lucu dan juga muridnya yang luar biasa, ketika melihat sang gadis tidak senang karena suatu hal, hal itu membuat Naruto tidak bisa mengedepankan ketidakpeduliannya dan lalu membuang sikap apatis yang biasa dipertahankannya.
Akan tetapi—
"Aku hanya akan menonton saja, oke?."
"Eeehh? Baiklah." Édith bergumam tak puas. Ia tersenyum cerah saat tiba-tiba mendapat ide bagus. "Master. Duduklah, biarkan aku memijit pundakmu."
Naruto mengangkat alis heran. Serius? Dia harus duduk di tanah lembab saat ini juga?
Édith mengangguk-angguk seperti anak anjing.
Dan begitu saja, Naruto pun menghela nafas pelan, mengikuti kemauan gadis itu.
Seorang pria duduk bersila, sementara seorang gadis bertumpu pada kedua lututnya memijat bahu sang pria.
Naruto facepalm, ia tidak terlalu paham pada apa yang sedang direncanakan Édith. Dia tidak akan percaya begitu saja kalau gadis merah itu sedang melakukan bakti padanya sebagai seorang murid. —Édith sama liciknya dengan gadis-gadis lain yang ada disekelilingnya.
'Kapan aku akan bertemu gadis yang sedikit normal?'
Lamunan Naruto buyar, pergerakan tangan mungil Édith sempat terhenti sejenak.
Sebuah lingkaran sihir berwarna putih yang cukup besar dan cukup untuk mengangkut beberapa orang muncul tidak jauh dari keduanya.
Édith lanjut melakukan pijatan
—!!
Sekelompok orang dengan penampilan yang cukup eksentrik pun muncul setelah cahaya lingkaran sihir menghilang. —Satu orang berpakaian layaknya pemimpin sebuah gangster, seorang pemuda berambut silver. Satu orang berpenampilan layaknya tuan muda dari sebuah keluarga bangsawan, rambut pirang panjangnya dikepang dan sebuah frame bertengger di atas hidungnya, ada dua buah pedang tersarung terkait elegan di pinggangnya. Satu orang lagi berpenampilan layaknya prajurit jaman dulu, rambut hitam gelapnya jabrik, dan ada sebuah tongkat panjang yang dijepit di antara kedua sikunya dan disangga di atas bahunya. Satunya lagi adalah seorang perempuan berambut hitam kelam, memiliki telinga kucing dan sepasang ekor hitam tumbuh di bokongnya, memakai kimono hitam bergaris merah-emas dan menampakkan belahan dada besarnya. Orang terakhir—Tidak. Yang terakhir adalah seekor 'anjing' besar berbulu abu-abu yang mana sebagian tubuhnya dililit rantai hitam.
Naruto sweatdrop, sedangkan Édith benar-benar berhenti memijat dengan wajah melongo.
Ternyata yang muncul adalah sekelompok orang-orang aneh dengan kombinasi yang tak kalah aneh.
Naruto dan Édith beradu tatapan dengan sekelompok empat orang berpakaian nyentrik dan satu 'anjing' besar itu.
Semua orang menunjukkan ekspresi yang berbeda-beda. Heran, bingung, terkejut, tertarik, aneh dan geli. Tak ketinggalan tatapan ganas si 'anjing' besar.
Suasana hening mengunci mereka. Tidak satupun ada yang berinisiatif memecah keheningan. Hanya gemericik air sungai mengalir dan menabrak bebatuan yang menjadi melodi pengiring.
"Master. Aku tidak mau berurusan dengan orang-orang aneh ini." Édith berbisik di telinga si pirang.
'Cepat sekali dia berubah pikiran.' Naruto berpikir tanpa ada perubahan ekspresi di wajahnya. Ia juga melihat sedikit perubahan pada ekspresi kelompok orang aneh, tamu-tamu tidak diundang itu.
"Teruslah memijat kalau begitu." Naruto pun mengalihkan atensinya, menatap aliran sungai. Ia tahu, orang-orang aneh itu juga mendengar apa yang dibisikkan Édith barusan.
Édith mengangguk dan menjawab "Oke!" antusias lalu lanjut memijat pundak Masternya.
Murid dan Master itu mengabaikan sekelompok orang berpenampilan 'tidak kompak' tersebut seolah-olah tidak melihat apa-apa sebelumnya.
———!!
"Kita tidak saling tahu menahu. Kenapa repot-repot mencari perselisihan?"
Naruto berbicara tepat ketika ia melihat dengan lirikan, dimana pemuda berambut silver berpakaian ala ketua gangster itu baru saja mengangkat tangannya.
Pemuda itu berhenti tepat ketika hendak memulai aksinya—
Untuk beberapa saat wajahnya terlihat seperti sedang berpikir, ada kilatan kesenangan di mata birunya. Senyum tak kenal takut pun mengembang.
—Pemuda itu pun bertanya.
"Kau orang yang kuat, kan?"
Pertanyaan tanpa basa-basi, yang berisi obsesi. Cukup tiba-tiba, terlalu pada intinya. Sungguh tidak jelas! Sikap orang-orang yang datang bersama pemuda itu pun menjadi waspada dalam sekejap.
Naruto tak berniat menjawab, Édith tadi sudah memutuskan untuk 'tidak jadi' berurusan dengan orang-orang ini. Omong kosong gadis ini terlalu besar. Jadi, dia diam saja dan menikmati pijatan muridnya —yang sama sekali tidak ada enak-enaknya.
"Bertarunglah denganku!"
Naruto masih diam bahkan ketika dirinya mulai merasakan tekanan pemuda berambut silver itu terangkat, itu… kuat.
Naruto menoleh—
Tatapan iris biru safir itu beku seolah-olah bisa menembus ke dalam jiwa siapapun yang dilihatnya.
"Seharusnya kau mendengarkan sarannya. #$!* 3$!#_ "*$_-_#$*#$*!"
Kalimat terakhir yang diucapkan Naruto terdengar seperti kaset rusak.
Tak satupun ada dari mereka yang mengerti bahasa apa yang digunakan oleh pria berambut pirang keemasan tersebut. Bahkan Édith, murid pria pirang sekalipun.
—Hal yang mengejutkan pun terjadi.
Wajah pemuda berambut silver itu tiba-tiba jadi kosong, sama halnya terlihat dengan mata birunya yang seperti kehilangan warna, tenggelam di kedalaman jiwa. Aura serta energi kehidupannya masih ada, namun yang menarik perhatian adalah pemuda seperti kehilangan kesadarannya.
"—Vali! Apa yang terjadi!?"
.
.
.
—TBC—
Catatan Kaki:
[1]. Manusia mengetuk tiga kali. Hantu mengetuk empat kali. Orang panik main drum!
[2]. Ngebayangin senjata - pedang tapi mirip gunting, satu mata pisau dan satu gagang tapi pada bagiang pivott point ada mata sabit yang kelihatan mirip gagang (gunting) juga. Saya bingung sendiri gimana cara deskripsiin senjata ini.
[3]. Kuroda, [4]. Matsushima [5]. Takashi Takano: adalah karakter-karakter yang muncul di "Manga Pertama Naruto" berupa One-shot —asal muasal atau sebelum dimunculkannya Series Naruto. Tentu saja dengan 'sifat karakter yang sedikit OOC' dan walaupun disini sekilas saja diceritakannya.
[6]. Isinya [symbol] kalau di "Naruto Pilot" yang digambar oleh karakter bernama "Saburo" dan disini ingin saya jadikan sesuatu yang (berbeda dan semoga) menarik.
[7]. Suaranya cempreng:v kenceng gitulah
[8]. Skil. (Kemampuan).
[9]. [10]. "Superior Beauty" diambil arti dari nama Shangguanyan "上官妍" sendiri, dimana "上官" artinya Superior, dan "妍" adalah versi feminim dari "Beautiful". Nama Shangguan Yan, (OC), awalnya terinspirasi dari Shangguan Wan'er—cek Google, dan ternyata ada karakter dari manhwa "Evil Emperor!" #jadi saya menggunakan penampilannya sekalian.
[11]. Nima—yah guys if you know you know :v.
[12]. Maksudnya (4 x 20) 19 = 99. Dalam bahasa Prancis angka 99 begini kira-kira penyebutannya: "quatre(4)-vingt(20)-dix(10)-neuf(9)." Sedangkan disini Édith bukan menggunakan B.Prancis sewaktu ngucapinnya.
[13]. Call from the Void— bisa cek gugel biar lebih jelas.
.
Ps: Chap 1-2 kena revisi setelah chack beberapa kali ada banyak typo dan... anu. Juga, oakan saya supaya sehat selalu dan kuat menghadapi masalah di IRL saat ini.
See yaa!
