[Disclaimer]


Naruto x High School DxD/ハイスクールDD Xover

Masashi Kishimoto x Ichiei Ishibumi


Specter of Death : DxD-Verse!

@Mizkevna


.

.

Lingkaran sihir berwarna putih bersinar terang.

Vali dan rekan-rekannya tiba di suatu tempat, pinggiran sungai yang terletak di tengah-tengah hutan terbesar di dunia manusia, Amazon.

Belum lama ini, Vali dan yang lain baru saja melarikan diri dengan bantuan sihir transportasi Kuroka. Untuk menghapus jejak, mereka melompati ruang dengan cara merobek dimensi dengan bantuan kekuatan pedang Arthur. Setelahnya, Vali mengambil alih lalu mengirim dirinya beserta kelompoknya ke pinggiran sungai di tengah-tengah hutan belantara.

Alasan kenapa mereka melarikan diri karena mereka membawa kabur [God-devouring Wolf] yang legendaris, Fenrir, setelah menangkapnya semalam.

Serigala raksasa —Fenrir, diikat menggunakan rantai sihir dari Norse, Gleipnir. Itu karena Fenrir terlalu kuat dan berbahaya. Sekali kena gigitannya bisa mengancam nyawa. Bahkan makhluk sekelas Dewa bisa meregang nyawa.

Namun, Vali dan yang lainnya terkejut.

Sudah ada orang lain di sana.

Seorang pria memakai kemeja putih, celana hitam dan mantel hitam, duduk bersila, sementara seorang gadis bertumpu pada kedua lututnya sedang memijat bahu sang pria.

Tatapan mereka beradu—

Vali agak bingung. Dia melihat pria pirang itu menatap mereka heran, sementara gadis berambut merah sebahu yang memijat pundak pria itu memandang mereka aneh.

—Kenapa ada manusia di tempat ini?

«Tidak, Vali. Berhati-hatilah, aku merasakan sesuatu yang tidak biasa.»

Vali sedikit tertarik setelah mendengar itu. Memang benar, tidak mungkin ada orang biasa yang bisa sampai ke tempat ini, dilihat dari penampilan keduanya yang cukup kasual dan tidak cocok dengan kondisi hutan ini, bisa dipastikan kalau mereka bukanlah manusia normal.

Selain itu—

Hening melanda untuk beberapa saat.

"Master. Aku tidak mau berurusan dengan orang-orang aneh ini."

"Teruslah memijat kalau begitu."

"Oke!"

Kedua manusia berambut kontras itu pun lalu mengabaikan kehadiran Vali dan kawanannya.

Keduanya bisa tetap tenang di situasi yang tidak terduga, bahkan tidak meletakkan mata pada Fenrir yang memiliki aura pemangsa nan ganas.

'Menarik!' pikir Vali, tangannya mengarah ke kedua orang tersebut, ingin melepaskan demonic power dan aura naga yang disembunyikannya pada saat yang sama.

——!!

"Kita tidak saling tahu menahu. Kenapa repot-repot mencari perselisihan?"

Vali berhenti. Bukan karena lirikan dan ucapan pria pirang itu saja—

«Kau memang rusuh, Vali. Aku yakin orang itu kuat. Kau masih kelelahan setelah bertarung beberapa waktu tadi. Sebaiknya jangan gegabah.»

—Vali justru tersenyum tidak kenal takut setelah mendengar itu, mata birunya berkilat senang. Dia jadi semakin tertarik!

"Kau orang yang kuat, kan?"

Tidak ada balasan, hanya pengabaian nyata dari keduanya. Anehnya, Vali malah tersenyum lebar.

"Bertarunglah denganku!"

Vali mengangkat auranya sekali lagi. Dia berniat memulai serangan sekalipun pria pirang itu terlihat tidak ingin bertarung dengannya, dia hanya perlu menggunakan paksaan.

Pria pirang itu menoleh. Tatapan mereka beradu. Iris biru beku itu menatap Vali dari mata ke mata.

Vali merasakan kepalanya berdenyut sakit.

"Seharusnya kau mendengarkan sarannya. Kalau begitu, kita lihat siapa disana[1]!"

Do-kun!

«Vali——!!»

Ia mendengar seruan partnernya untuk terakhir kalinya sebelum Vali kehilangan kesadarannya.


Chapter 04: Aku Tidak Tahu Cara Orang-Orang Berpikir!


POV:

Naga———

Naga adalah makhluk gaib yang kuat, dianggap yang terkuat selain para Dewa itu sendiri, dikagumi, dihormati, dan ditakuti tidak peduli di jaman apa pun.

Naga adalah makhluk yang sedari lahir membawa kekuatan besar.

Naga bertindak berdasarkan keinginan murni. Pikiran Naga yang murni, menjadikan pribadi mereka simpel, ketika mereka menginginkan 'sesuatu', mereka akan mengabdikan diri untuk melakukan apa saja sekalipun menyebabkan kehancuran bagi dirinya.

Naga adalah makhluk yang bertindak bebas, suka-suka mereka. Kepedulian dan ketidakpedulian sama tipisnya. Terhadap hal-hal yang tak ada kaitannya dengannya, Naga bisa sangat apatis namun lain cerita ketika mereka tertarik akan hal-hal yang bahkan tidak ada kaitannya dengannya, mereka akan menjadi sangat keras kepala. Disitulah letak keegoisan Naga sering muncul.

Setidaknya itulah yang Aku pahami mengenai "Sifat Umum Naga" setelah pengamatan dari tahun ke tahun pada beberapa Naga yang telah aku temui.

Dalam Suku Naga sendiri terdapat beberapa perbedaan serta klasifikasi. Setiap warna juga bisa mewakili dari Suku Naga mana mereka berasal, meskipun ada juga yang tidak termasuk didalamnya.

Naga Kelas Bawah.

Naga Kelas Menengah.

Naga Kelas Atas.

Naga Kelas Raja - [Dragon King].

Naga Kelas Teratas – yang memiliki kekuatan melampaui Dragon King.

Terakhir, Naga Kelas Dewa – [Dragon-God].

Selain Dewa Naga —eksistensi terkuat di dunia ini– pada dasarnya semua suku Naga sama saja, hanya saja ada pula yang membedakan antara Naga dan 'Jahat'. Jika membicarakan Naga, dalam berbagai catatan sejarah yang ada di dunia, Naga adalah makhluk jahat. Akan tetapi, di dalam Suku Naga, mereka sendiri membedakan antara diri mereka yang dianggap jahat oleh orang-orang selain bangsa Naga dengan Naga-naga yang benar-benar 'Jahat' di antara para Naga.

Mereka —Naga yang benar-benar jahat disebut [Evil Dragon].

Bagi Suku Naga sendiri, Evil Dragon Benar-benar tidak masuk akal. Mereka adalah perwujudan dari kejahatan, kerusakan dan kehancuran itu sendiri. Semasa hidup mereka, Evil Dragon sangat amat menikmati perannya sebagai 'Evil.'

Naga adalah makhluk yang jujur akan perasaan yang mereka miliki.

Walaupun ada juga Evil Dragon yang sangat licik seperti contohnya Ethereal Devouring Mad Dragon – Yamata no Orochi: Tama!

Satu-satunya Naga yang selalu berada disisiku yang juga menjadi salah satu pengikutku itu liciknya minta ampun. Karena dia tidak berani berhadapan langsung denganku, kalau Aku lengah sedikit saja, setiap ada kesempatan, dia pasti akan 'menghisapku' sebanyak mungkin.

'Gadis' itu sudah tak tertolong lagi.

Saat ini. Aku. ———Sesuatu yang tampak besar berdiri dengan empat kaki bersisik putih berkilau, sepasang sayap seputih salju setengah terbuka dan setengah terbentang. Mata besarnya yang keemasan bersinar mematikan.

Aku tak bisa menahan senyum kagum melihat sosok besar di depanku itu.

"Jadi kau [White Dragon Emperor]-Dono? Suatu kehormatan bagiku bisa bertemu langsung dengan [Heavenly Dragon] yang legendaris."

Itu benar.

Sosok besar bersayap bulu-bulu seputih salju nan murni namun tajam itu adalah seekor naga legendaris. Naga yang terekam dalam legenda. Salah satu entitas superior yang disegani bahkan ditakuti oleh orang-orang.

White Dragon Emperor , Vanishing Dragon, atau White Dragon yang legendaris dan dikenal sebagai Naga Langit bersama rival abadinya, Red Dragon Emperor, kini ada di depanku. Naga Kelas Teratas yang melampaui naga kelas Dragon King. Walaupun yang ada di depanku saat ini adalah jiwa yang bersemayam di dalam lautan kesadaran sang host, tersegel oleh suatu 'sistem' rumit yang disebut Sacred Gear, aura keagungan sang Naga Putih masihlah luar biasa.

Jika dibandingkan dengan Tama, wanita naga licik, pemalas, ahli skema ulung, keji dan brutal kalau sudah tidak ada jalan keluar itu, itu tidak sepadan.

Hakuryuukou sangat keren!

Akan tetapi… Jika harus memilih, meski ada beberapa naga kuat tertentu yang sudah ditemuinya, tentu saja! Aku akan dengan penuh kepastian dan keyakinan akan memilih Tama sebagai satu-satunya Naga favorit dan 'the Best Dragon in the World' di hatiku.

Itu hanya omong kosong!

Yamata no Orochi digambarkan sebagai 'Ular' atau naga berkepala delapan, benar. Tapi wujud Yamata no Orochi yang asli cukup sulit untuk dijelaskan. Bagaimana dengan ekornya? Apa dia juga memiliki delapan ekor atau hanya satu ekor saja, atau dia sama sekali tidak memiliki ekor? Tubuhnya seperti apa? Nah, kakinya juga. Kalau begitu, apa dia memiliki sayap? Atau mungkin seperti rumput, yang daun-daunnya tumbuh mencuat ke atas namun tidak terlihat akarnya karena tersembunyi di dalam tanah?

Lalu bagaimana kalau Yamata no Orochi ternyata memiliki delapan kepala, delapan ekor, empat kaki atau lebih, dan sepasang atau lebih dari sepasang sayap?

Itu pertanyaan absurd, dan sekacau itulah bagaimana harus menjelaskan wujud Yamata no Orochi yang asli.

Tama tidak cukup hanya dengan digolongkan dengan jenis seperti 'Naga Timur' atau 'Naga Barat' belaka.

Stahp! Aku bahkan tidak sering melihat bentuknya yang asli. Walaupun diklasifikasikan sebagai Evil Dragon, Tama yang licik dan pemalas itu sebenarnya seorang yang cukup pemalu. Tapi berkat kelicikannya itulah dia berhasil hidup sampai detik ini, kalau tidak, mungkin dia sudah dimusnahkan sejak jaman dahulu seperti Evil Dragon lainnya.

Aku bisa bilang, daripada Naga dia lebih mirip alien yang menyerupai Naga.

«———Siapa kau, apa maumu?»

Aha!

"Aku tidak yakin."

Aku sampai lupa menahan tawa mengingat hal konyol itu, andai saja makhluk putih besar di depanku tidak mewaspadai ku.

Melihat-lihat sekeliling——

Aku penasaran. Bagaimana kalau Hakuryuukou yang bahkan ditakuti para Dewa di masa lalu, dan berada di masa kejayaannya, bertarung melawan Tama si Evil Dragon yang berhasil selamat dari pemusnahan Evil Dragon dan terus bertambah semakin kuat setiap waktunya.

Kudengar, di masa lalu dia berhasil meracuni Sekiryuutei[2] yang sedang dalam masa-masa primanya.

Yah, Aku sedikit ragu tentang itu. Bisa saja dia hanya membual, kan?

"Tempat yang sangat murni. Hmm, tidak buruk. Kalau begitu, ayo mengobrol sejenak."

«Enyahlah! Kau tidak diterima disini!»

Itu cukup keras. Ajakanku ditolak begitu saja. Naga Langit memang sesuai namanya. Dia cukup angkuh.

"Lucu sekali. Padahal aku tidak berniat meladeni kau dan wielder-mu. Tapi tidak masalah. Aku hanya ingin melihat-lihat sebentar."

.

.

POV END!

.

.

Tatapannya tajam dan waspada, tertuju pada sosok seorang pria yang datang tak diundang entah dari mana seolah-olah ia muncul dari udara tipis begitu saja.

Ia melirik ke kiri bawah. —Seorang pemuda berambut silver berdiri di sana sedang memasang sikap siaga, siap tempur.

«Vali. Tahan dirimu.»

Suaranya yang berat dan monstrous pun terdengar menggema ke seluruh penjuru ruangan serba putih dan tidak terbatas itu.

"Aku tahu! Albion!"

Vali mengerti betul maksud peringatan partnernya. Hanya saja—

Sosok itu berjalan mendekat mereka. Di wajahnya, ada senyuman senang. Rambut pirang, mata berwarna ungu dan berpupil emas vertikal. Mantel hitamnya berayun pelan setiap kali ia melangkahkan kakinya ke depan.

—Vali benar-benar tak menyangka, kalau orang yang ditemuinya di luar sana dapat menembus dan masuk kedalam kesadaran spiritual yang ia bagi dengan partnernya, Albion.

Vali, tahu kalau pria pirang itu bukanlah orang sembarangan. Dia mengerti konsekuensi kalau berbuat kekerasan disini akan berakibat buruk, jadilah ia menahan diri. Dia merasa aneh, sadar atau tidak, pria itu memiliki aura yang agak unik. Ia tidak bisa menganggap orang di depannya sebagai manusia.

—!!

Bahkan setelah masuk kedalam kesadaran spiritual, Vali merasa tatapan pria pirang itu seperti menembus lebih jauh ke dalam jiwanya.

Pria pirang itu mengernyit, perubahan ekspresi wajahnya cukup jelas dan hal itu tertangkap jelas oleh Vali, dan Albion.

"Begitu ya. Huh, ini agak menarik."

«Vali—! Orang ini membaca ingatanmu!»

Albion memberitahu, Vali pun terbelalak.

Ekspresi Vali seketika mengeras. Tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, kalau ada seseorang yang memiliki kemampuan aneh seperti pria pirang di depannya.

Itu tidak masalah, sebenarnya dia akan lebih tertarik pada lawan yang seperti itu, akan tetapi dia tidak bisa mentolerir orang yang membuka rahasia pribadinya yang ia 'kunci' rapat-rapat.

"Berhenti!!" Vali berteriak marah, seperti akan meledak kapan saja. Tidak. Dia hampir tidak bisa menahan dirinya.

Pria itu memandang Vali, senyum tertarik muncul di wajahnya.

"Mana yang kau suka?"

Vali diam tidak peduli, meski dia sedikit bingung akan pertanyaan tiba-tiba itu, dia tidak akan membiarkan orang ini—

"Varian mana yang kau suka?" pria itu bertanya sekali lagi.

"Apa maksudmu?"

"Tentu saja. —Ramen"

——!? Vali speechless, amarahnya mereda, sikapnya berubah jadi linglung.

"Beberapa tahun lalu ramen begitu populer. Popularitas yang berkembang di atas krisis ekonomi. 'Makanan Orang Miskin'."

Iris ungu berpupil vertikal keemasan itu tampak menerawang jauh, seolah-olah mengingat kenangan lama. Pria pirang itu tidak seperti sedang berbohong.

Melihat pria pirang itu—

"Varian kuah yang sedikit pedas." Vali menjawab sedikit ragu-ragu.

Dia mengangguk antusias, dan bergumam panjang lebar. "Begitu. Menurutku semuanya enak. Tapi, kupikir varian kuah pedas level max juga enak. Rasa pedasnya yang kuat mengingatkanku kalau diriku masih hidup."

Kening Vali mengerut. "Ada sesuatu seperti itu?"

"Yah. Kau harus mencobanya."

"Begitu." Vali mengangguk, sangat pelan.

Percakapan kedua laki-laki itu sudah melenceng jauh. Tidak. Sejak awal mereka asal bicara saja tanpa konteks. Pria pirang, pengunjung tak diundang itu hanya datang dan menyapa lalu mulai membicarakan—ramen.

«Kalian…! Bajingan!» Albion, yang terabaikan sejak percakapan ramen dimulai, tak tahu harus bilang apa. Dia sedikit jengkel, walaupun ekspresi atau wajah seekor Naga sulit untuk dibaca.

Akhirnya Vali tersadar kembali, berkat Albion, wajahnya pun muram. Sementara pria pirang itu terkekeh.

Sejak awal pria itu memang tidak memiliki niat untuk bermusuhan. Bahkan setelah merangsek masuk ke dalam kesadaran spiritual Vali dan Albion——. Itu akan menjadi kerugian sebelah pihak, kalau pria itu memutuskan untuk bertarung dengan mereka, Vali dan Albion lah yang akan paling dirugikan. Karena itulah, Vali dan Albion menahan diri, sebab, jika mereka bertarung dan membuat kesadaran spiritual Vali yang dibaginya dengan Albion sampai bergejolak, konsekuensinya sangat fatal. Vali bisa-bisa kehilangan akal sehatnya, atau lebih jauh bisa menyebabkan kematian instan.

Kesadaran Spiritual —bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng. Itu adalah sebuah 'tempat' dimana segala sesuatu tentang dirimu berada!

Dan, pria pirang itu bisa masuk ke dalam kesadaran spiritual mereka seolah bukan apa-apa, setidaknya, menurut Vali, pria itu bukan sesederhana orang kuat saja.

Kesadaran Spiritual miliknya bukanlah hal biasa. Ini juga berkaitan dengan Sacred Gear. —Sesuatu yang memiliki kerumitan luar biasa, yang tidak mungkin bisa diterobos begitu saja!

Tapi, pria itu——!!

Juga, pria itu telah membaca ingatan Vali yang membuatnya marah. Hanya saja apa yang tak diduga-duga, pria itu malah memilih membicarakan tentang ramen daripada membicarakan kelemahannya.

—Tidak!

Dia sudah melakukan itu sejak bisa masuk ke dalam kesadaran spiritualnya——!!

'Siapa sebenarnya orang ini?' Vali tidak habis pikir. Ia tidak pernah mendengar ada seseorang yang seperti itu. Berpikir tentang kata-kata yang telah diucapkan pria itu, Vali mulai menghubungkan satu persatu, itu tidak terlalu sulit karena yang mereka bicarakan tidak lebih dari omong kosong, dan ramen.

"Naga?"

«Bukan Naga biasa. Naga Jahat. Tapi…» Albion menanggapi. Ia menyadari hal itu sejak orang itu berbicara terakhir kali sebelum menembus kedalam sini.

Vali tersentak mendengarnya, tetapi dia masih tidak yakin akan hal itu. Kebanyakan Naga yang diklasifikasikan sebagai 'Evil' sudah dimusnahkan sejak dulu. Pada dasarnya Naga adalah makhluk yang buas, brutal dan egois. Bahkan Albion sang Kaisar Naga Putih sekaligus satu dari dua Naga Langit pun berakhir tersegel di dalam Sacred Gear karena sikap mereka yang angkuh dan sombong.

Pria itu ber-"heh" ria tiba-tiba, seakan mengerti apa yang sedang dipikirkan Vali, dan Albion.

"Kalian bisa menganggapnya seperti itu. Yah, aku sudah puas ngobrol. Tapi aku ingin mengatakan sesuatu sebelum pergi."

Vali dan Albion diam tak menjawab, tidak menutup kemungkinan kalau keduanya juga penasaran apa yang ingin dikatakan pria itu.

Dia tersenyum miring, menatap ke arah Vali.

"Aku tidak akan menghentikan muridku kalau dia kuberitahu sesuatu yang cukup menarik tentangmu. Jadi, mari lupakan saja masalah yang terjadi di luar."

Vali mendelik. "Kau mengancamku?"

Pria itu mengangkat bahu acuh.

"Tidak. Aku hanya memberitahumu. Dia gadis yang 'pemalu' dan energik."

Albion menurunkan kepalanya, menatap pria itu, mencari celah dari setiap kata-kata yang diucapkannya.

Tatapannya pun bergeser ke arah Naga Putih di depannya itu. Senyuman ramah yang ditunjukkan di awal telah kembali.

"Kuharap kalian mau bekerjasama dalam hal ini denganku."

«Tidak buruk. Akan kuingat itu.»

Vali mengangkat alisnya heran, nada bicara yang digunakan Albion terdengar seperti tertarik akan sesuatu. Sebelumnya Albion bahkan merengek seperti anak kecil gara-gara dipanggil Ketsuryuukou oleh Ketua Dewa dari Utara, dan sulit diajak bicara. Tetapi dia memilih diam, cepat atau lambat dia akan tahu pada akhirnya.

Senyum ramahnya berubah miring, pria itu sekali lagi mengalihkan atensinya ke arah Vali.

"Hm, ngomong-ngomong, kalau kau ingin mencari… sesuatu, dan kesulitan, kau bisa datang menemuiku. —Yah. 'Si Anjing' itu seperti ngengat, akhir-akhir ini dia jadi semakin serius mengganggu orang-orang di bawahku."

'Si Anjing—?' Vali menatapnya serius.

Sosok pria pirang itu memudar mulai dari tubuh bagian kanannya, bagai debu ditiup angin. —Vali bisa melihat tatapan pria itu mengarah ke Albion, dan mendengar kata terakhirnya yang tidak bisa ia mengerti.

"Bimbinglah dia agar menjadi lebih kuat. Saat itu tiba, mungkin, aku akan tertarik untuk bertarung dengan kalian."

Dengan begitu, keberadaannya telah hilang sepenuhnya dari lautan kesadaran spiritual Vali.

Saat itu juga, Vali menatap partnernya penuh tanda tanya. Hembusan nafas berat Albion pun bergemuruh.

«Kau yang sekarang masih kelelahan. Dia tidak tertarik bertarung dengan kondisimu saat ini.»

"Begitukah?"

Albion melirik, meski nadanya tenang, Albion yang berbagi sebagian kesadaran dengan Vali tahu kalau partnernya saat ini berusaha mati-matian memendam gejolak amarahnya.


Ketegangan yang sempat terjadi tadi pun mulai mereda, saat sekelompok orang itu melihat pemimpin kelompok mereka, Vali, kembali setelah kehilangan kesadarannya untuk beberapa detik lalu——.

"Master. Apa yang kamu temukan?"

Disisi lain, Édith bertanya kepada Naruto setelah melihat Masternya normal kembali. Naruto tersenyum miring.

"Sesuatu yang cukup menarik."

"Iya. Tapi apa?"

Kening Naruto berkerut, menyadari sesuatu. Dia menengok ke belakang menatap muridnya curiga.

"Kamu memanfaatkanku?"

"Eh, apa? Aku tidak melakukan apa-apa 'kok. Master bisa tanyakan pada mereka." Édith menjawab dengan wajah polos seraya menunjuk ke arah kelompok Vali.

Kelompok Vali yang dimaksud, kecuali Vali sendiri, terlihat agak bingung karena tiba-tiba dikaitkan begitu saja. Tapi Naruto tidak percaya. Dia bisa sedikit merasakan getaran di jari jemari tangan kiri Édith yang masih memegangi bahunya. Dan juga——.

——!! Édith yang merasakan firasat buruk, lari secepat kilat saat melihat senyum jahat muncul di wajah Naruto. —Dalam sekejap mata dia sudah bersembunyi di belakang wanita bertelinga kucing dari kelompok Vali, yang tidak dikenalnya sama sekali.

Dia berhasil menyembunyikan tubuhnya karena dia lebih kecil dari wanita kucing itu, andai saja dia tidak menyembulkan kepalanya ke samping.

"Master! Oh, Masterku yang baik hati! Aku tidak melakukan apapun! Aku bersumpah dan tidak berani berbohong padamu!"

Naruto sweatdrop, senyuman di wajahnya hilang seketika, karena, meski kata-kata gadis itu terdengar sangat serius tetapi nyatanya Édith melemparkan senyuman licik kepadanya.

'Dia melakukan 'itu' lagi?' Naruto menghela nafas pendek.

Wanita bertelinga kucing yang baru-baru ini Naruto ketahui mamanya Kuroka, raut wajahnya menjelaskan situasinya. Kelompok Vali benar-benar terkejut tak sempat bereaksi pada kecepatan yang ditunjukkan Édith, itu hampir tak dapat ditangkap oleh mata mereka.

"H-Hei! Menyingkir dariku!"

Kuroka, terbelalak ngeri, berkata dengan nada kasar. Dia marah, tapi dia tidak berani bertindak gegabah, karena Édith sedang memegangi kedua ekornya.

Sebilah pedang terhunus, serta sebuah tongkat didorong. Jarak antara bilah pedang dan leher Édith hanya terpaut beberapa milimeter. Begitupun dengan ujung tongkat yang siap dihantamkan ke wajah gadis berambut merah menyala tersebut.

"Lepaskan."

"Atau wajahmu hancur!"

Laki-laki pirang dikepang berpakaian ala bangsawan terhormat dan laki-laki yang berpakaian bagai prajurit jaman dulu itu berbicara bergiliran dengan nada dingin.

Kuroka, menyeringai puas.

Vali…? Hakuryuukou diam saja, fokusnya tidak teralihkan, menatap laki-laki pirang yang beberapa waktu lalu masuk kedalam kesadaran spiritualnya.

Naruto berdiri, ekspresinya tampak acuh tak acuh walaupun dia melihat muridnya dalam posisi yang tidak diuntungkan.

Édith terlihat tenang, seakan-akan tidak takut atau merasa terancam sama sekali. Dia masih tetap memegangi ekor Kuroka, bahkan setelah ia diancam, perhatiannya malah teralihkan oleh bilah pedang yang siap menggores lehernya.

"Bung! Kau punya pedang yang luar biasa! Aku jadi ingin mencobanya!?" Édith mundur sedikit, matanya terpaku pada bilah pedang.

Gadis merah itu sampai melihatnya dari jarak yang sangat dekat, sangat fokus, juga sangat teliti. Mata merahnya berbinar takjub. Ia menegakkan tubuhnya, melepas ekor kembar Kuroka, memutar kepalanya, menatap antusias laki-laki pirang elegan berkacamata.

Sikapnya yang lugas dan tidak kenal takut membuat orang-orang yang mengancam dirinya barusan merasakan perasaan aneh.

"Aku, Édith Ardant. Tuan Ksatria Pedang. Dimana kamu mendapatkan pedang kelas tertinggi seperti ini!?"

Naruto menutupi mukanya dengan telapak tangan. Édith sudah tidak bisa dihentikan! Gadis merah itu sudah terlanjur tertarik pada pedang di tangan pria bangsawan terhormat berambut pirang. Daripada [Swordsman] dia lebih cocok disebut 'penggila pedang!'

"Nona. Itu tidak pantas."

Benar——!! Itu memalukan! Menanyakan asal-usul 'pedang' orang lain seperti menanyakan tempat membeli kacang, sebagai seorang pendekar pedang, perilaku semacam itu sangat tidak terpuji!

"Eh? Ah! Maafkan aku." Édith tidak secara tulus meminta maaf, dia begitu karena merasakan aura suram masternya. "Cukup tentang itu. Tuan Ksatria Pedang, biarkan aku merasakan pedang milikmu. Ayo kita bertanding!"

Sekali lagi, Édith sama sekali tidak merasa bersalah, dia hanya peduli kesan masternya padanya. Tapi dia juga menyukai pedang. Jadi, dia menantang Ksatria Pedang elegan berambut pirang dan berkacamata itu.

Pedang pemuda pirang itu luar biasa! Nah, Édith pernah melihat pedang yang luar biasa seperti itu hanya sekali dimiliki seseorang. ——Sejak dirinya mulai tergila-gila dengan pedangnya, orang itu tidak pernah mau menunjukkan pedangnya lagi di depannya!

'Master sangat peliittt!!'

Ekspresi pemuda pirang berkacamata itu tampak agak rumit, namun ketenangannya sangat menakjubkan. Dia tetap tenang saat seorang gadis menantangnya, sekalipun dia enggan mendengar ucapannya yang tidak sopan.

Pemuda itu bisa melihatnya tadi, gadis itu memiliki kecepatan tinggi. Dia bisa saja menerima tantangan gadis itu, tetapi kecepatan saja tak cukup untuk membuat dirinya menarik pedangnya.

"Heh?" Édith mendengus geli, sadar apa yang dipikirkan sang ksatria pedang. Gadis itu menyibak rambut merahnya, lalu, ada sesuatu yang muncul ketika dia menarik tangannya.

Itu adalah— sebuah pedang besar. Pedang tapi mirip gunting, satu mata gunting dan satu gagang tapi pada bagian pivot point ada sabit dengan dua mata sabit luar dalam yang terlihat mirip gagang gunting. Keseluruhan warna pedang itu merah berdarah-darah, ukuran panjangnya dua kali lebih dari tubuhnya. Lengkungan pelindung tangan bergerigi, aura yang terpancar pun sangat mencekam dan menyeramkan.

Édith tersenyum miring, dia mengangkat pedang besarnya dengan satu tangan. Ketika Édith mengayunkan pedangnya, kelompok Vali segera melompat mundur beberapa langkah.

Mereka terkejut melihatnya, terutama Vali yang paling terpengaruh karena aura yang terpancar dari pedang itu membuatnya merinding.

Tidak salah lagi.

"——Dragon Slayer!?"

Édith tersenyum dan tertawa kecil. "Tidak. Kau salah. Ini———. Yah. Dragon Slayer."

Lagi, kelompok Vali tercengang merasakan aura pedang merah itu berubah. Perasaan menindas dan jahat. Dan sekali lagi— aura pedang bagai gunting besar itu berubah, kali ini memancarkan tekanan suci yang luar biasa.

Édith mengacungkan pedang besar merah menyala itu, cahaya redup warna merah berdarah-darah menyelimuti. Mengangkat pedang yang ukurannya dua kali lebih besar dari tubuhnya seperti tak ada masalah, seolah-olah pedang itu seringan bulu.

"Ini——[Glissefolle]. Aku mencurahkan isi pikiran, hati, jiwa dan darahku pada [Pedang]."

Édith tersenyum. Ekspresinya berubah menjadi serius. Tatapannya terkunci, dengan ketenangan luar biasa, mengharap jawaban dari pemuda pirang pendekar pedang dari kelompok Vali.

"Tuan Ksatria Pedang. Maukah kau menjawab panggilan [Pedang]–ku?"

Édith begitu tegas, lugas dan mantap saat meminta pendapat kepada lawan bicaranya.

Tak ada lagi kesembronoan, tak ada lagi kesombongan, tidak pula kenakalan dan penghinaan. Ekspresi congkak di wajahnya hilang sepenuhnya. Dia seperti berubah menjadi orang yang berbeda.

Saat kelompok Vali tertegun terhadap perubahan suasana Édith —sebilah pedang tiba-tiba bergetar, tak tanggung-tanggung, bahkan sedikit terdengar suara dengungan halus darinya.

——! Pemuda berambut pirang panjang dikepang sempat terhanyut dalam pikiran, tidak ia sangka, pedang di tangannya telah menanggapi panggilan pedang sang gadis berambut merah. Tidak.—!

Dia tersenyum tipis, tampak elegan. Untuk sejenak Ia memandangi pedang di tangannya, lalu berbicara.

"Jadi kamu juga ingin menantang [Pedang] disana."

Iris biru di balik frame itu beralih menatap ke arah gadis dengan pedang merah besar, tenang.

"Maafkan atas kekasaran dan keraguanku, Nona. —Aku, Arthur Pendragon."

"Pendragon!?" Édith mengangkat alis kaget setelah mendengar pemuda pirang itu memperkenalan diri. "Pendragon yang itu?"

"Benar." sang pemuda, Arthur Pendragon, mengangguk pelan, kemudian memegang pedang dengan kedua tangannya, lalu dia berjalan mendekati Édith.

Setelah jarak di antara mereka terpaut tiga kaki, Arthur Pendragon berhenti, setelah itu dia berkata.

"Yang di tanganku, [Holy King]—— yang dikenal juga dengan nama [Caliburn]."

"Wow! Holy Sword Terkuat saat ini ada di depanku!? Ini mengejutkan! Aku selalu bermimpi untuk bisa melihatnya!"

Dikatakan bahwa Dewa sekalipun tidak mungkin bisa menggores pedang tersebut. Itu tidak bisa dihancurkan.

Mata merah Édith bercahaya merah terpikat. Tidak ada kebohongan dalam kata-katanya. Benar-benar takjub! Dan dia dia jadi lebih serius setelah mengetahui pedang lawannya adalah pedang legendaris!

Ini sangat menarik, pikirnya. Walaupun ia sedikit berharap kalau pedang itu sebuah pedang luar biasa, pada awalnya, tetapi dia tidak menyangka kalau pedang itu bukan sekedar pedang luar biasa saja! Itu pedang dalam legenda!

Pedang Suci Terkuat! King Collbrande[3]!

Édith memegang Glissefoll dengan kedua tangan, itu menjadi pemandangan yang cukup unik karena saat dia melakukan itu, bilah Glissefoll menjadi miring diagonal. Bagaimanapun, Glissefoll memiliki bentuk gagang yang cukup besar dan rumit. Kalau dirinya memaksakan memegangi Glissefoll dengan cara normal, lingkaran pelindung bergerigi akan mengenai dada, disisi lain, kalau membalikkan posisinya, ujung mata sabit akan mengenai bagian bawah rahangnya.

Itu benar-benar pemandangan yang menarik untuk dilihat.

Édith maju setengah langkah, mendekatkan bilah Glissefoll yang besar ke bilah Holy Sword Caliburn, tidak sampai bersentuhan, hanya menyisakan jarak beberapa sentimeter.

Merah dan biru beradu. Keseriusan hening mengunci kedua muda mudi yang hendak beraksi.

Tiba-tiba—

"Aku sudah bilang berkali-kali, kalau kamu harus mengganti bentuknya."

Édith sempat menegang sesaat mendengar hal itu. Tapi kemudian berujar kesal.

"——Ayolah! Master bisa tidak diam dulu!?"

Naruto tertawa pelan di tempatnya berdiri. —Tak memperdulikan tatapan-tatapan heran mereka. Dia hanya ingin membalas 'keisengan' yang dilakukan muridnya saat dirinya menyelinap ke dalam lautan kesadaran Vali.

"Baiklah, baiklah. Hanya, jangan berlebihan. Oke?"

Naruto kemudian melompat, gerakannya seringan bulu, mendarat dan duduk di dahan pohon belasan meter tak jauh dari sana.

Kecuali Arthur dan Édith yang terkunci dalam posisi siap tempur, yang lain memperhatikan gerak-geriknya. —Setelah dia duduk, Naruto pun mengangkat tangan kirinya lalu sebuah kubus tiga dimensi kecil berwarna ungu muncul di atasnya.

Naruto meremasnya sampai hancur!

Tidak lama kemudian area seluas tiga hektar persegi, dari setiap arah, langit dan bumi tertutup barrier.

Langit hitam dini hari menjadi keunguan dari dalam, —karena perbedaan zona waktu di Jepang dan di hutan ini. Yang mereka pijak bukan lagi tanah melainkan lantai ungu tipis transparan yang terbuat dari barrier. Semua orang saat ini berada di dalam barrier berbentuk kubus, dengan mereka berada di pusatnya.

Dirasa saja, barrier yang mereka pijak tampak simpel namun benar-benar keras!

Naruto mencari posisi yang paling cocok untuk melihat pertunjukan. Yah, dia tidak begitu tertarik akan berakhir seperti apa pertandingan antara muridnya, Édith melawan pemuda yang memiliki bloodline Raja Britania. —Arthur Pendragon.

Dia bersandar pada batang pohon besar, melipat kedua tangannya di dada.

Dan… Pertarungan dua Pendekar Pedang pun dimulai!

——!! Édith dan Arthur menghilang dalam sekejap mata!

Trankk!!

Percikan api berkilat di tempat dua pendekar pedang berdiri sebelumnya. —Gelombang kejut yang kuat pun sampai terasa ke tempat Naruto, juga memaksa mundur anggota Kelompok Vali yang tidak berpindah tempat sepertinya.

Dan, bamm!! Seseorang terlihat dipaksa mundur. Kedua kakinya yang tertanam kedalam tanah beberapa inci pun terseret hingga menciptakan jalur berbekas—.

Arthur terdorong dalam percobaan pertama. Tangannya yang memegang Caliburn sedikit terguncang! Édith tidak terlihat. —Arthur pun menghilang sekali lagi!

Trank trank trank trankk!!!

Suara-suara cepat dari logam yang saling beradu pun menggema—.

Percikan-percikan bunga api dan siluet-siluet berkelebatan dengan sangat cepat! Seperti ratusan bayangan dari ratusan orang yang bergerak cepat sekaligus! Kedua pendekar pedang itu saling tebas! Tusuk! Tebas! Dan sesekali menangkis! Kecepatan keduanya sangat cepat! Bayangan mereka tampak tertinggal bahkan, hilang sama sekali!

Naruto melihatnya[4].

Tidak seperti yang kalian bayangkan!

Itu adalah pertarungan pedang yang murni dan tanpa ledakan-ledakan aura yang luar biasa! Seolah kedua pendekar pedang itu memiliki pemikiran yang sama dan membuat kesepakatan diam-diam.

Trannkkk!!!

Dua pendekar pedang mundur, menjaga jarak sesaat setelah bertukar serangan. Arthur memutar posisi Caliburn ke kiri, kemudian siluetnya menghilang. Dalam sekejap mata ia muncul di depan Édith bersiap menusuk lehernya.

Sangat cepat!

Édith dengan kecepatan tinggi memposisikan bilah Glissefoll di depannya dengan ujung mengarah ke bawah, memanfaatkan bagian pipihnya untuk menepis ujung tajam Caliburn, lalu memutarnya, membuat tusukan yang dilakukan Arthur bergeser arah.

Pada detik itu pula, Édith melakukan tebasan vertikal dari bawah ke atas, bertujuan membelah dua lawannya. Namun Arthur, dengan refleks yang sangat tinggi segera melompat mundur tiga langkah. Ujung tajam Glissefoll hanya berjarak beberapa inci saja dan itu terlihat seperti hampir mengenainya.

—Panjang bilah Glissefoll saja hampir mencapai dua meter! Jika dihitung bersamaan gagangnya, kira-kira, panjang Glissefoll mencapai dua meter setengah!

Keduanya berhenti, saling memandang dari mata ke mata dengan tatapan serius nan dingin.

Naruto kagum akan pergerakan Arthur, itu elegan dan tepat. Dia mampu beradaptasi melawan lawan yang agresif seperti Édith hanya dari beberapa kali beradu.

'Tapi…'

Arthur memasang kuda-kuda, dia sedikit menekuk lutut dan tumit kaki kirinya.

Begitupun, Édith memindahkan posisi pegangannya ke pivot Glissefoll, memegang pedang besarnya dengan tangan kanan dan menyentuh ujung gagang menggunakan telapak tangan kiri, menyeret kaki kanannya sedikit ke belakang.

Mereka siap menerjang lawan sekali lagi!

Swift! Swift!

Keduanya sekali lagi bergerak dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari sebelumnya.

Dan, trannkkk!

Percikan bunga api sekali lagi mekar, tidak sampai disitu, kilatan dua logam yang saling bertabrakan menyebar kemana-mana.

Pertarungan dua pendekar pedang itu berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain.

Bunga api memercik dimana-mana.

Posisi keduanya semakin jauh dari semula. Banyak pohon-pohon yang tumbang satu persatu bahkan tumbang sekaligus, menjadi korban dari dampak pertarungan keduanya.

Arthur menebas horizontal ke kiri 180 derajat, mengincar pinggang lawan—! Namun, Édith membungkuk ke depan, memposisikan ujung pedangnya di belakang. —Tebasan Arthur hanya mengenai udara, dan sebatang pohon berdiameter dua meter pun terpotong dengan halus, menjadi kambing hitam dari ketajaman Caliburn yang tidak mengenai target aslinya—!

Saat itu juga, Édith yang membungkuk ke depan, melesat cepat, mengambil dua langkah ke depan menggunakan satu kakinya sebagai pegas! Dia bertujuan menggores perut lawannya menggunakan mata sabit bagian luar di gagang Glissefoll.

Melihat itu, Arthur segera melenturkan tubuh, dan bergeser menyamping. Tusukan Sabit tidak kena. Tapi, Arthur merasakan bahaya lain—!

Édith memutar Glissefoll sembari memutar tubuhnya ke kanan, memegang gagang dengan tangan kanan posisi terbalik, sementara tangan kiri memegang pivot membantu membuat tekanan dorong lebih kuat, dan menebas diagonal, mengarah tulang rusuk lawan!

———!! Arthur bergerak cepat. Memutar, kemudian, memposisikan Caliburn di balik punggungnya. Dia membungkuk, dengan cepat menjatuhkan diri, lutut kiri bertekuk, sementara lutut kanan dijadikan tumpuan di tanah.

Trrraankkk!!!

Tebasan diagonal Édith berhasil ditahan di detik-detik terakhir, dan terus mengenai udara kosong.

Sayangnya, walaupun dia berhasil menangkisnya, tekanan dari tebasan Édith sangat kuat, Arthur pun terdorong dan berguling-guling di tanah ke depan sebanyak tiga kali. Ia menancapkan ujung Caliburn ke tanah guna menghentikan lajunya.

—Sebuah pohon besar tumbang dan jatuh ke tanah tak jauh di belakang Arthur.

Debu halus beterbangan.

Keduanya pun terdiam di posisi masing-masing. Wajah yang mereka tampilkan memiliki suatu kesamaan.

Ekspresi mereka tampak rumit.

Naruto tersenyum miring, menjentikkan jarinya pelan. 'Hasil yang mengecewakan, huh?' pikirnya. —Barrier yang dirinya buat pun memudar dan tak berselang lama kemudian menghilang.

Pertarungan selesai begitu cepat bahkan belum sampai sepuluh menit.

Naruto pun menghilang, dalam sekejap ia muncul lagi di dekat Édith yang berwajah rumit. Kemunculannya pun menginterupsi ketegangan di antara dua pendekar pedang tersebut.

"Master!?" Édith kembali bersemangat, tapi saat melihat Naruto yang tampak sedikit serius ia pun menyadari sesuatu, membuat wajah masam, menunduk.

"Yah, itu perkembangan yang bagus."

Édith terbelalak, mengangkat wajahnya dan menatap Masternya yang memberikan sebuah senyum bangga.

"Tapi—"

"Eh! Ada tapinya!?" Édith berseru dengan wajah tak percaya.

'Gadis ini.' Naruto sweatdrop. Tidak habis pikir. Édith akan selalu bersemangat ketika dia memuji, sekalipun hanya sedikit pujian. Tapi akan terkejut dan sedih ketika sedikit saja memiliki celah.

Naruto mendengus lemah. "Setidaknya itu cukup bagus, masih layak untuk dijadikan tontonan."

Seketika Édith bermuram durja.

Naruto melanjutkan.

"Dari empat ratus ribu tujuh puluh tiga benturan, empat puluh satu serangan terhitung miss. Itu cukup bagus. Point minusnya kamu telah menghindari lima belas serangan, tiga diantaranya berhasil sebagai pembukaan celah, sisanya terbuang sia-sia."

[Death Sword] adalah aliran pedang Full Offensive. Agresif, tipuan, tajam, akurat, cepat, kuat, berat, dan yang paling penting adalah 'kau mati atau aku mati'. —Édith tidak pernah sekalipun melupakan hal-hal tersebut. Teknik pedang yang diajarkan kepadanya adalah teknik pembunuhan. Dia hanya tidak menyangka kalau masternya sampai menghitung berapa banyak gerakan yang dia lakukan.

Dengan kata lain, masternya tidak mentoleransi gerakannya yang sia-sia.

Menghindari serangan adalah hal yang wajar, tapi sepertinya masternya memiliki cara berpikir yang tidak beres. Dengan kata lain, masternya ingin melihatnya dilukai, kan?

Sialan!

"Maaf telah menunjukkan penampilan yang buruk. Tapi Master. Apa kamu se-gabut itu?"

Naruto tidak menjawab. Dia enggan meladeni perilaku Édith yang kekanakan, dia juga tidak akan menyangkal kalau Édith sudah melakukan pekerjaan bagus. —Tatapannya beralih ke Arthur Pendragon, pemuda itu masih memiliki sisa kerumitan di matanya.

Caliburn telah disarungkan kembali.

Dibandingkan Édith, teknik berpedang pemuda itu tampak tajam, mematikan, akurat, elegan, cepat, dan halus. Itu perpaduan teknik luar biasa, yang di mata Naruto cukup disayangkan karena penyelesaiannya selalu berakhir terlalu lembut.

'Andai dia membalikkan posisi dari 'tajam›halus' menjadi 'halus›tajam', itu akan menjadi lebih sempurna.'

Naruto setidaknya tahu, sebagai pengguna pedang selama bertahun-tahun, di matanya, teknik berpedang Arthur terlihat terlalu baku dan terlalu fokus terhadap citranya sebagai swordsmanship yang sesuai moralnya. Atau mungkin itulah swordsmanship idealnya.

Memang gerakan yang kuat dengan finishing yang halus berguna di banyak situasi, namun jika lawan berpedangnya adalah Swordsman seperti Édith, yang hanya bergerak cepat tanpa berpikir akan tumbang, atau memikirkan terbukanya celah, dan tidak takut terluka, itu akan jadi kerugian besar—

Arthur Pendragon adalah pemuda dengan bakat luar biasa satu banding satu juta, tetapi dia belum beruntung kali ini, karena lawannya adalah murid Naruto satu-satunya dan kesayangannya.

Édith Si Zombie Gila! Tuan Putri Merah Berdarah-darah!

Arthur yang merasa ditatap, menunduk memberi hormat kepada Naruto. Master Édith yang baru saja menjadi lawan tandingnya. Menyarungkan kembali Pedangnya.

Naruto mengangguk kecil.

Teman-temannya sudah mengerubungi di sisinya, pengecualian serigala abu-abu besar yang masih terikat dan terdiam di tempatnya.

'Mereka orang-orang dengan potensi besar.' Naruto berpikir jujur, bisa sedikit mengira-ngira jika suatu hari mereka akan menjadi tokoh-tokoh besar dan terkenal.

Itupun kalau mereka masih hidup sampai saat itu.

"Kalian berpetualang mencari lawan-lawan kuat?"

Selain itu, pikir Naruto, aku juga bisa mencium jejak-jejak Limitless[5] dari mereka.

"Itu——benar."

Itu Vali yang menjawab dengan keragu-raguan sesaat. Lalu, gadis kucing di sebelahnya menambahi dengan nada riang.

"Kami berpetualang untuk seru-seruan–nyan. Menguak misteri, mencari tempat-tempat misterius, mencatat legenda, dan peradaban yang hilang."

"Sepertinya seru." Naruto mengangkat alis tertarik, mereka orang-orang yang bebas, pikirnya. "Édith. Apa kamu tertarik pergi dan melakukan hal-hal seru bersama mereka?"

Édith tersentak dan menatap Naruto seolah melihat orang gila.

"Kenapa tiba-tiba? Lagian, kalau aku pergi dengan mereka, kelompok Hakuryuukou, aku akan dicap sebagai teroris."

Naruto menatap gadis itu heran. "Kamu sudah tahu siapa mereka?"

"Aku baru menyadarinya tadi. –Pengguna [Holy King] adalah anggota kelompok Hakuryuukou yang berafiliasi dengan organisasi teroris [Khaos Brigade]–. Itulah informasi yang tercatat di dalam data. Ka-kha! Aku yakin Master cukup sibuk sampai-sampai tidak sempat membaca informasi terbaru."

Naruto diam saja meski dia mendengar nada mengejek di akhiran ucapan Édith. Ia tidak terlalu peduli juga. Dia memang sedikit sibuk karena harus mengurusi hal-hal yang terkait dengan urusan 'rumah tangga'. Dia lebih memperhatikan sikap Hakuryuukou serta kawan-kawannya yang saat ini jadi sedikit waspada saat ini.

"Teroris hanya label, kan. Kamu bisa kabur kapan saja kalau situasinya mendesak."

"Kalau cuma bicara sih enak. Bukankah sebelumnya Master juga menolaknya saat diajak bergabung? Aku tidak mau kalau Master juga tidak mau."

"Itu hal yang berbeda."

Tentu saja apa yang Édith katakan itu benar. Dia sudah pernah lebih dari sekali diajak bergabung dengan Khaos Brigade. Tapi dia tetap menolaknya. Kalau bukan karena banyak orang-orang merepotkan yang harus diurusi, mungkin saja dirinya akan dengan senang hati bergabung dan bersenang-senang atas nama Khaos Brigade. Selain itu——.

"Itu tidak ada bedanya bagiku." Glissefoll hilang, Édith menempatkan pedangnya di ruang teritorial pribadinya. Lalu, ekspresi gadis itu berubah cerah. "Master. Aku permisi. Aku bisa terlambat beberapa menit kalau disini terus."

"Sudah mau pergi?"

Édith mengangguk kemudian menunduk hormat.

Inginnya Naruto bertanya kemana gadis itu akan pergi, tetapi setelah melihat Édith sudah merubah penampilan dan mengikat twintails rambutnya lagi, mengganti dress-nya dengan Jersey merah putih diagonal dari sebuah klub sepakbola, Naruto pun langsung mengerti.

"Sampai jumpa lagi, Master!"

Dan begitu saja, Édith menghilang menjadi sekelebat kilatan merah sambil meninggalkan 'Ka-kha kha!' dengan suara melengking dan terdengar antusias.

"Anak nakal itu…"

Naruto sweatdrop tak tahu harus berkata apa. Dia agak curiga. Bisa-bisanya gadis itu pergi begitu saja setelah hal-hal merepotkan yang dia perbuat beberapa waktu lalu seolah-olah telah melupakannya. Naruto mengerti, dia tidak bisa mengganggu gugat kalau sudah berurusan dengan salah satu hobi gadis itu.

Yah, bagaimanapun setiap orang memiliki hobinya masing-masing.

Hanya saja, dalam waktu berdekatan Édith sudah berani membalikkan kata-katanya sebanyak dua kali. Gadis itu sepertinya mulai menggunakan otaknya. Atau mungkin dia hanya terlalu kesal karena tidak mempunyai julukan keren seperti yang diinginkannya.

'Dia sudah banyak berubah dibanding pertama kali.'


Naruto mendekati kelompok Vali, sikap mereka pun jadi semakin waspada. Naruto tersenyum tak peduli. Dia tidak memiliki niat jahat selain ingin mengurusi 'sesuatu' yang ditinggalkan Édith, dan mungkin saja dia bisa mendapatkan sesuatu?

"Nona Kuroka, benar?"

Stray Devil.

Youkai Nekomata. Spesies paling langka di antara Nekomata. Nekoshou.

"Nya-Nyan?"

Naruto tersenyum tipis, melihat kebingungan dan kegugupan di wajah gadis kucing, meski begitu Kuroka berusaha membuat senyum nakal sambil mundur perlahan-lahan.

"Tolong jangan menjauh."

"Ku-kuhaha! A-Aku tidak tahu-nyan apa maksudmu." Kuroka tertawa patah-patah dan berpura-pura tidak mengerti, dia sama sekali tidak bisa menyembunyikan kegugupannya.

Naruto sweatdrop. Tak hanya dirinya, Vali dan yang lainnya juga melihat gelagat Kuroka aneh. Gadis kucing itu tampak mulai berkeringat dan kulit wajahnya sedikit demi sedikit terlihat mulai pucat.

"Ada sesuatu yang sedikit berbahaya di dirimu."

Kuroka tidak mengerti perkataan laki-laki itu, hanya saja—.

Sebenarnya Naruto tidak ingin mengungkapkannya akan tetapi melihat reaksi Kuroka mau tak mau dia harus berterus terang.

"Aku tahu. Saat ini kau mulai merasa gelisah ketika melihatku, dan jadi bingung karena tidak tahu apa penyebabnya."

"Bagaimana kau…!?" Kuroka kaget, itu tepat sasaran. Seperti yang dikatakan laki-laki pirang itu, dia merasa ada yang salah pada dirinya. Saat ini, tanpa alasan yang jelas dia merasa gelisah, bulu kuduknya berdiri, telinga dan ekor kucingnya pun menegang.

Melihat hal itu Naruto pun mengambil satu langkah ke depan, namun Kuroka justru mundur dua langkah.

Sekali lagi Naruto maju satu langkah, Kuroka pun mundur dua langkah lagi.

Kuroka terbelalak. —Dia benar-benar tidak sadar melakukan itu. Tubuhnya bergerak sendiri seakan tidak ingin dekat-dekat dengan pria itu.

Vali, Arthur dan pria ber zirah prajurit kuno memandang adegan tersebut pun memasang wajah heran, seolah mengatakan 'Apa yang dilakukan kucing bodoh ini?'.

Naruto menghela nafas pendek, tersenyum tak berdaya.

Lalu, seolah waktu berhenti berdetak, mereka dikejutkan dengan adegan yang tidak bisa diungkapkan. Tidak. Lebih tepatnya, mereka bahkan tidak sempat bereaksi sama sekali.

Kuroka tercengang. Satu detik kemudian wajah cantiknya memerah. Ia bisa merasakan lengan kekar yang melingkar di pinggang rampingnya, memaksa dirinya diam membisu tak berdaya. Ia juga merasakan sensasi sentuhan lembut di sudut bibirnya, membuatnya membuka kecil mulutnya yang mungil.

Saat tangan itu menjauh dari wajahnya, sesuatu yang menyerupai hewan berwarna merah darah pekat lolos begitu saja dari mulut Kuroka.

'Itu' adalah aura merah berdarah-darah yang mengambil bentuk miniatur naga timur, ukuran panjangnya sekitar 12 cm dan memiliki delapan kaki, jumlah yang tergolong cukup banyak.

"Ini——. Inilah yang ditinggalkan anak nakal itu."

'Itu' terlihat menggeliat-geliatkan tubuhnya dan meraung-raung tanpa suara, seakan-akan 'itu' marah di atas telapak tangan Naruto. Tapi, begitu Naruto menatap 'itu' seketika pula 'itu' langsung melingkar dan meringkuk. Naruto berpikir, apa yang dilakukan Édith kali ini agak keterlaluan untuk menempatkan 'itu' kepada orang yang memiliki resistensi lemah seperti Kuroka. Tentu saja dia tahu kalau Kuroka itu lemah. Kalau tidak, bagaimana mungkin benda yang ditinggalkan Édith, yang seharusnya/biasanya menyerupai 'cacing jelek', hanya dalam beberapa menit saja telah berubah menyerupai naga?

Tidak hanya itu, dia memikirkan kemungkinan lain kalau Édith telah menjadi semakin kuat.

"Sekarang sudah tidak apa-apa."

Naruto melepaskan rangkulannya dari Kuroka dan menatap gadis kucing tersebut tanpa ekspresi. Kuroka yang kebingungan pun kini sudah mulai memiliki rona cerah kembali di wajahnya m

"Semakin lama 'ini' dibiarkan, reaksi yang ditimbulkan akan semakin ekstrim. Awalnya itu mengacaukan emosimu; gelisah jadi takut, takut jadi putus asa. Pada akhirnya, 'ini' akan bersarang lalu menggerogoti jiwamu."

"A-Ap…Apa…!?"

Sementara Kuroka tercengang ngeri, Naruto pun menghilangkan teknik yang digunakan Édith pada Kuroka beserta 'sesuatu' yang dia sembunyikan dan diambil dari gadis kucing itu secara diam-diam. Namun, dia juga diam-diam telah meninggalkan kekuatannya kepada Kuroka untuk menutupi aksinya. Dengan begitu, dia bisa menutupi kekurangan dan menghindari dampak yang akan ditimbulkan.

Dia pun menoleh, menatap ke arah Vali dengan senyum penuh arti.

Vali merasakan keengganan. Jangankan dirinya, Kuroka yang terkena teknik misterius itu sendiri bahkan tidak menyadari kalau dirinya telah ditanami sesuatu.

"Selain kemampuan bertarungnya yang hebat, anak nakal itu paling pandai mengintimidasi dan meneror orang-orang."

'Yah, bagaimanapun dia itu muridku.'

Édith selalu ingin menirunya, walaupun cara yang digunakan agak berbeda, mulai dari yang unik sampai yang paling ekstrim.

Lupakan. Naruto tertawa kecil saat memikirkan sosok Evil-Dragon legendaris juga sampai dibuat frustasi dan tidak mau lagi berurusan dengan Édith. Bukan karena takut, akan lebih tepat kalau disebut sudah muak menghadapi kekeras kepalaan dan kegigihan serta kegilaan Édith yang terus menerus berusaha untuk mempengaruhi sang Evil-Dragon legendaris supaya tunduk padanya.

'Benar-benar konyol.'

Naruto melirik ke arah serigala abu-abu besar. Dia tersenyum tipis melihat sesuatu seperti itu bahkan mampu mereka tangkap.

[God-devouring Wolf — Fenrir]!

Monster buas sesuai namanya yang dalam sejarah dikatakan itu diciptakan oleh seorang Dewa dari Utara.

Loki.

Dikenal sebagai Dewa Jahat dari dunia Norse, sepertinya ingin membuat onar di wilayah orang lain guna mencegah tercapainya suatu kesepakatan awal antara dua dunia. Sayangnya dia tidak berhasil karena upayanya telah digagalkan oleh sekelompok anak-anak muda dengan bimbingan beberapa orang tua.

Bahkan dengan membawa God-devouring Wolf, yang dikatakan kalau taring dan cakarnya sangat berbahaya, itu takkan banyak merubah situasinya. Loki pergi tanpa mempertimbangkan apa-apa, seolah-olah semua ada dalam genggamannya. Sebaliknya, justru Loki dapat dikalahkan, juga, Fenrir pun sampai ditangkap dan dibawa lari oleh sekelompok orang-orang liar——.

Yah, walaupun Dewa yang mereka lawan tidak begitu kuat baginya, tetapi itu cukup menghibur untuk didengar..

——Itulah informasi yang dirinya dengar dari informannya.

Selain itu, Naruto setidaknya bisa menebaknya walau hanya sedikit. Sikap Loki yang ceroboh, bukan, sombong dan angkuh seperti itu cukup mudah untuk ditangani jika dipikirkan sedikit saja. Apalagi, sesiapa yang ingin diganggu Loki bukanlah orang-orang biasa sama sekali. Mereka adalah perwakilan dari masing-masing faksinya.

Itu benar-benar bodoh.

Yah, di dunia supranatural, sekuat apapun dirimu kau tidak boleh sesumbar dan melemparkan omong kosong seenaknya. Ada banyak penangkal, serangan balik, atau sesuatu yang khusus diperuntukkan untuk menangani sesuatu. Bahkan, di dunia ini, Dewa dan Buddha saja bisa dibunuh. Karenanya tidak benar menjadi terlalu jumawa kecuali memang tidak takut akan apapun atau otakmu sudah tidak waras.

"Aku menantikan aksi kalian selanjutnya. Tapi… Yah. Kupikir kalian harus jadi sedikit lebih kuat untuk tetap menikmati kesenangan."

'Mungkin selanjutnya—. Hmm, bagaimanapun, sepertinya ini jadi mulai menarik.'

"Ada banyak orang-orang aneh di dunia. Di mata mereka, melihat kalian saat ini seperti halnya melihat anak-anak yang sedang bermain lumpur."

"Apa katamu!?"

"Jika kami 'bermain lumpur ', maka kau pasti masih berbau kencur!" Bikou, pemuda berzirah prajurit kuno tertawa congkak, caranya tertawa tawa agak mirip Édith.

Naruto tersenyum miring, mengabaikan wajah kesal mereka yang tidak terima mendengar kata-katanya. Dia pun ikut tertawa, tidak marah, atau tersinggung sama sekali, atau bagaimana, justru sebaliknya.

"Itu kata-kata yang menarik." Naruto tersenyum.

Dok-kun!!

Vali, Arthur, Kuroka, dan Bikou, tiba-tiba dibuat merinding merasakan tekanan mencekam dan tak berdasar datang dari pria itu.

Beberapa jam yang lalu mereka merasakan hal yang sama saat hendak menghadapi Fenrir. Tetapi jika dibandingkan dengan Fenrir yang memiliki aura yang ganas dan mengerikan, saat pria itu tiba-tiba melepaskan hawa keberadaannya, mereka merasakan kesuraman yang menyeramkan yang membuat mereka merasa takut tanpa alasan.

Fenrir juga menakutkan karena serigala itu bisa meremukkan bahkan Dewa.

Tetapi, orang di depan mereka sepertinya lebih menakutkan lagi daripada Fenrir.

Hanya dengan melepaskan kehadirannya saja, bau kematian seketika tercium menyengat.

Tekanan abnormal itu memang bukan yang pertama kali mereka rasakan, tapi mereka hanya pernah merasakan hal seperti itu ketika bertemu dengan eksistensi 'Terkuat' di dunia.

Dragon-God!!

Atau sesuatu yang mendekati itu.

Naruto menatap lucu wajah tegang mereka. Dia tertawa seolah-olah ingin mencairkan suasana.

"Aku cukup berpengalaman menangani relik suci, pedang legendaris, dan Longinus. Tapi santai saja. Aku tidak akan memakan kalian."

Naruto menatap mereka satu persatu, kemudian tatapannya berhenti pada kedua Youkai, Kuroka dan Bikou.

"Dan—Lagian, kalian berdua bisa dianggap salah satu bagian dari Specter[6]."

Yōkai juga disebut Specter atau Spectre dalam bahasa lain. Yōkai memiliki seni tempur unik yang disebut Yōjutsu: kekuatan sihir eksklusif untuk para Yōkai dimana penggunaan energinya adalah Ki – Youki. Yōjutsu juga dianggap sebagai [Black Magic] karena penggunaan dan penggunanya.

Selain Yōjutsu, ada sebagian kecil Yōkai yang mampu menggunakan seni transendental yang melampaui Yōjutsu, dan itu disebut —Senjutsu.

Sedangkan, Senjutsu berbeda dengan Yōjutsu, karena Senjutsu adalah suatu bentuk kemampuan yang berhubungan dengan atau mempengaruhi hal-hal internal dan eksternal. Pengguna Senjutsu dapat membuat sekitar terpengaruh, dan sebaliknya, dipengaruhi oleh sekitar, bisa juga membuat mereka lebih kuat menggunakan jiwa spiritualnya.

Mereka adalah Superhuman dari bangsa Youkai yang memiliki tingkat kepekaan tertinggi, tubuh yang kuat, kekuatan yang hebat.

Selain Yōjutsu dan Senjutsu, ada juga kemampuan lainnya yang tidak jauh berbeda dengan kedua hal tersebut, yang bisa digunakan manusia, di negara-negara timur, sebagai practitioner-nya.

Hojutsu, Taoïsme, Zen–Buddhism, Onmyodo, Mahoujutsu alias Sihir Timur —[Sorcerous Arts] dan masih banyak lagi, termasuk salah satunya yang paling merepotkan adalah Hijutsu atau [Esoterica] dalam bahasa lainnya.

[Esoterica] atau Hijutsu juga disebut [Secret Arts] karena itu keterampilan unik dan hanya segelintir orang yang benar-benar mampu yang dapat menggunakan [Esoterica].

Bisa dibilang, [Esoterica] adalah keterampilan tertinggi di antara keterampilan magis lainnya. Untuk menciptakan suatu Esoterica dibutuhkan pemahaman mendalam tentang berbagai skill-skill magis lain dan digunakan sebagai pondasinya.

Jika diumpamakan seperti di dalam game, maka [Esoterica] merupakan Ultimate-Skill.

Tentu saja, itu artinya [Esoterica] keterampilan luar biasa yang sangat jarang ditemui karena itu merupakan Kartu As dan tersembunyi.

Naruto menggeleng pelan. Orang-orang mungkin jarang melihat Esoterica, tapi baginya sudah tidak asing lagi.

Dia menarik dan menyembunyikan kembali hawa kehadirannya.

'Aku terlalu lama disini. Akan jadi merepotkan kalau 'Limitless' merasakan keberadaanku lalu datang kesini.'

Tatapannya beralih ke arah Vali.

"Sebenarnya aku ingin mendengar lebih banyak lagi cerita menarik dari kalian, tapi mungkin lain kali saja?"

Kelompok Vali yang sudah terdiam cukup lama akhirnya bisa sedikit rileks dan bernafas lega. Ada buliran keringat dingin di wajah mereka.

Entah disebut beruntung atau bukan, karena pria misterius dengan tekanan anehnya yang menindas itu menarik kembali hawa kehadirannya, untuk saat ini tidak ada satupun dari mereka yang mau bertarung.

Setelah dipikirkan lagi, dihadapkan tekanan aneh pria itu saja, keinginan mereka untuk bertarung turun drastis.

Itu tidak seperti biasanya!

Mereka benar-benar seperti anak-anak yang masih suka bermain lumpur yang berusaha menghadapi orang dewasa.

"Bagaimana aku harus mencarimu?" Vali bertanya sedikit penasaran. Menjalin relasi dengan pria itu mungkin hal yang bagus, tapi bukan itu yang Vali inginkan. Daripada yang lain, pria itu telah secara pribadi menyusup kedalam kesadaran spiritualnya dan dia ingin melanjutkan obrolan mereka.

Kesan pertama mereka memang tidak bagus. Tapi, karena sepertinya pria misterius dan kuat di depannya itu sangat berpengalaman dalam bidang penelitian 'Ramen', tidak ada salahnya membuat kontak.

Vali ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang ramen!

Naruto menurunkan pandangannya, berpikir sejenak, lalu, "Kau menggunakan ponsel?"

Vali mengangkat alisnya heran, menggeleng kepala tanda bingung. "Ada cara yang lebih mudah selain itu, kan?"

Misalnya meninggalkan jejak berupa tanda sihir untuk saling berbagi koneksi menggunakan sihir komunikasi.

Naruto tersenyum tipis. "Aku mengerti. Tapi itu sedikit 'memalukan' karena ada terlalu banyak penggemar yang mencariku diluar sana."

Naruto merogoh kedalam mantelnya, mengambil sesuatu.

"Ini. Gunakan saja untuk menghubungiku. Akan lebih bagus lagi kalau kau mau bergabung dengan grup kami."

Vali menatap sebuah perangkat seperti ponsel yang ditunjukkan pria itu. Tanpa pikir panjang dia pun menerimanya.

"Aku tidak tertarik."

"Sayang sekali. Orang-orang-ku pasti akan sangat bersemangat memberi 'salam olahraga' kepada Hakuryuukou yang melegenda. Seandainya kau mau, akan aku mencarikan beberapa lawan yang cocok dari orang-orang-ku."

Naruto menyeringai.

Pastinya akan sangat menarik kalau dia bisa membawa Hakuryuukou di sisinya. Dia berbalik, sesaat kemudian dia melangkah, tubuh tegapnya tampak memudar.

"Ayo sama-sama cari ramen yang enak lain kali. Hakuryuukou. Vali Lucifer."

Setelah mengatakan itu, keberadaan Naruto pun hilang seolah menyatu dengan alam pada langkah keduanya.

Vali dan yang lainnya baru benar-benar bisa bernafas lega.

"Bagaimana menurutmu?"

Arthur membetulkan posisi kacamatanya, yang sebenarnya tidak goyah sama sekali, mendengar pertanyaan ketuanya, Vali.

"Aku tidak bisa menilainya. Tapi…."

Ketiganya menunggu untuk mendengarkan kata-kata Arthur selanjutnya.

"Swordsman, Édith Ardant, dia memiliki banyak kesempatan untuk menempatkanku di titik paling rendah, namun dengan kecepatannya yang luar biasa dan kekuatannya yang lebih unggul dariku, memilih membiarkanku agar mengambil peluang untuk mengimbangi kemampuannya. Itu sangat mencerahkan. Kurasa, aku masih memiliki jalan panjang yang harus ditempuh."

Arthur memegang gagang panjang Caliburn, tangannya gemetar antara kesal dan kesenangan. Dia memahatnya dengan jelas dalam benaknya dimana saat-saat banyak sekali celahnya terbuka, yang dengan sengaja tidak dimanfaatkan oleh lawannya.

Lawannya menahan diri, sementara dia berjuang sekuat tenaga menggunakan segenap kemampuan swordsmanship-nya.

Tanpa mengandalkan kekuatan yang tersimpan di dalam Caliburn, Arthur sedikit tercerahkan: dia mulai ketergantungan dengan kekuatan Caliburn sehingga mulai melupakan dasar-dasar swordsmanship-nya yang dipelajarinya sejak kecil.

Édith Ardant. Swordsman yang hebat. Seorang lawan yang layak untuk dia kejar.

"Jika bertemu lain kali, aku harap hasilnya akan berbeda."

Tentu saja kalau Arthur menggunakan kekuatan Caliburn pada pertandingan sebelumnya, hasilnya akan berbeda.

"Begitukah? Itu mengejutkan karena kau tidak seperti biasanya." tentu saja Vali mengakui Arthur sebagai seorang yang sangat kuat, sebagai seorang manusia. Walaupun Vali tidak begitu paham akan hal-hal berhubungan dengan Pendekar Pedang dan jalan pikiran mereka.

"Benar. Dia sangat cepat! Dan kemampuan-nyan anehnya yang, ughh… aku sama sekali tidak sadar."

"Yah, meskipun kau kucing idiot, tapi aku setuju. Bahkan aku tidak dapat mendeteksinya dengan Senjutsu milikku."

"Kau hanya monyet idiot. Senjutsu-mu itu kan lemah!"

Arthur tersenyum tidak berdaya melihat kedua rekan sesama idiot itu mulai beradu mulut. Hanya saja, melihat Vali yang tidak banyak bicara, lebih dari biasanya, hal itu membuatnya jadi penasaran.

Tapi Arthur menahan diri.

Dia tidak berhak menanyakan sesuatu yang tidak ingin dikatakan oleh ketuanya.

"Tapi siapa lelaki kuat itu? Dia sangat menarik."

Benar seperti yang dikatakan Kuroka. Tak satupun dari mereka pernah mendengar seseorang yang memiliki kekuatan tersembunyi seperti itu? Atau mungkin orang itu itu memang ada sejak awal, hanya saja dia sedang menyembunyikan identitasnya.

Jika Édith Ardant —muridnya saja bisa sekuat itu, seperti yang diungkapkan Arthur, maka takkan mengherankan kalau pria itu adalah eksistensi kuat dari suatu golongan yang sedang menyamar.

Namun, ada banyak hal mencurigakan tentang pria itu.

Tiba-tiba——

"Apakah kalian bertemu [Damnlong Slayer]?"

—! Kelompok Vali tersentak melihat kemunculan seorang gadis muda imut dengan rambut hitam panjang sampai pinggul dan mata hitam abu-abu. Telinganya berbeda dari manusia normal karena ujungnya runcing, karena rambut hitam panjangnya menutupi telinganya membuatnya agak sulit untuk diperhatikan. Wajahnya mungil nan cantik namun tanpa ekspresi, mengenakan dress gothic hitam, dan headband merah muda di kepalanya.

Gadis itu duduk melayang di kehampaan. Mata beriris hitam abu-abunya tidak terlihat menunjukkan emosi.

Kelompok Vali awalnya terkejut melihat munculnya gadis itu, tapi mereka jadi lebih terkejut saat mendengar suara gadis itu berubah menjadi maskulin bak seorang pria dewasa.

"Damnlong Slayer. Dimana?"

Dan, kelompok Vali mengenali pemilik suara tersebut. —Orang itu belum lama ini pergi.

"Damnlong Slayer. Apa itu julukannya?"

Gadis itu tak bereaksi, malahan dia menengadah dan menunjuk ke langit, memutar-mutar jarinya.

Ketika dia berbicara lagi, dia tersenyum, dan suara miliknya kembali menjadi suara milik seorang gadis seperti awal kemunculannya.

"Damnlong Slayer. Mengincar [Great Red]. Di belakang."

Kata-kata yang diucapkannya agak menjengkelkan untuk didengar karena cukup sulit untuk dipahami.

Tangan yang semula dimain-mainkan berputar di udara kemudian terkepal. Mata hitamnya tampak sedikit bersinar.

"Di sana kamu. ——Specter."

Sebuah robekan dimensi tiba-tiba muncul tepat di samping gadis tersebut, sementara sebagian tubuh mungilnya sudah tenggelam ke dalamnya.

"Hei. Tunggu, Ophis!"

Vali sedikit berteriak memanggilnya, berusaha menahannya untuk sementara, namun gadis tersebut tak mengindahkan panggilannya, dan masuk ke dalam robekan dimensi tersebut tanpa sepatah katapun yang ditinggalkan.

Robekan dimensi pun tertutup.

Gadis itu menghilang begitu saja, meninggalkan bekas mendalam dalam benak kelompok Vali yang saat ini menjadi sangat penasaran akan kata-kata yang diucapkannya sebelumnya.

Dari kalimatnya yang tak jelas, ternyata ada terlalu banyak informasi.

Damnlong Slayer — apa-apaan itu?

Dan—katanya, Ada Kelompok Teroris yang telah mengacaukan Dunia Bawah [Shinto] – Yomi bertahun-tahun lalu, sampai-sampai tempat itu masih belum bisa dioperasikan lagi hingga saat ini, dan pelakunya adalah 'mereka' yang dijuluki:

"———Specter of Death!?"

"Apa!?"

"Mungkinkah!?"

.

.

.

.

—TBC—


#Footnote:

[1]. Naruto ngomong pakai bahasa Naga.

[2]. Sekiryuutei – Red Dragon Emperor.

[3]. Caliburn juga dikenal dengan nama King Collbrande.

[4]. Pertukaran serangan antara Édith dan Arthur terlihat jelas – lambat di mata Naruto.

[6]. Makhluk Inkorporeal–korporeal, dimana Youkai bisa disebut Spectre dalam bahasa Inggris.

Saya, Mizkevna, baru baikan dari Operasi Gallstones sebulan lalu (눈‸눈) karenanya baru bisa update ch4—dimana alurnya bener-bener ngawur atau seadanya karena kelupaan mau nulis alur awalnya kayak gimana