Yaya melangkahkan kakinya memasuki sebuah rumah besar bertingkat dengan perkarangannya yang luas. Bermacam-macam merek mobil terparkir dengan asal di perkarangan tersebut. Yaya dapat membayangkan betapa berisiknya suara klakson mobil yang akan berbunyi sahut-sahutan ketika pesta tersebut usai.
Suara musik yang berdentum keras memenuhi indera pendengar Yaya, membuat perempuan itu heran dan bertanya-tanya apakah warga yang berada di sekitar rumah ini tidak mempersalahkannya atau marah-marah? Atau mereka sudah lelah marah karena sang pemilik rumah ini tidak mendengarkan mereka?
Berhenti memikirkan hal tersebut, Yaya kembali berjalan memasuki setiap sudut rumah tersebut. Sebenarnya Yaya benci dengan pesta, apalagi jika di pesta itu ada minuman alkohol. Namun karena ada hal penting yang harus ia lakukan di sini, ia terpaksa datang ke pesta semacam ini. Bagaimanapun Yaya harus mendapatkan foto seorang Gentar yang sedang bercumbu bersama wanita lain di pesta malam ini, sebagai bukti bahwa laki-laki yang akan dijodohkan ayahnya padanya itu bukanlah laki-laki dengan image yang sempurna seperti apa yang dipikirkan oleh ayahnya.
Bukan tanpa alasan Yaya melakukan itu, ia melakukan hal ini karena menolak untuk dijodohkan demi kepentingan bisnis dan politik ayahnya dengan keluarga dari lelaki yang Yaya yakini menganut free sex.
Wajah Yaya berkerut jijik saat ia melewati beberapa pasangan yang sedang berciuman seperti sedang melahap wajah satu sama lain. Bau alkohol yang sangat menyengat memenuhi hidung Yaya, membuat perutnya mual dan rasanya ia ingin muntah.
Setelah mengelilingi ruang tengah tetapi Yaya tetap sama sekali tidak menemukan si Gentar, padahal ia sangat yakin Gentar pasti datang ke pesta ulang tahun Mimy, perempuan yang kebetulan satu prodi dengannya walaupun mereka berbeda kelas dan tidak saling mengenal.
"Eh, ada Yaya di sini. Tumben lo mau datang ke acara ginian, biasanya juga kalo diundang sama anak yang lain lo cuma melengos aja terus pergi ke perpustakaan."
"Lepasin. Jangan pegang-pegang!" Yaya menepis kasar tangan laki-laki yang tidak dia kenal itu karena mencoba memegang lengannya. Matanya memicing menatap sinis lelaki itu. Yaya tahu bahwa laki-laki tersebut dalam kondisi setengah sadar karena pengaruh alkohol. Ia bisa mencium aroma alkohol menyengat di tubuh lelaki itu.
Tidak menyerah karena tak menemukan Gentar di ruang tengah, langkah Yaya mulai menuju ke taman belakang. Suasana rumah Mimy benar-benar menjadi tidak karuan, orang-orang tersebar di seluruh sudut ruangan. Yaya bahkan harus membuang muka saat melihat ada beberapa pasangan yang sudah half naked dan saling bercumbu ria.
Saat berjalan lebih dalam menuju taman belakang rumah Mimy, Yaya dikejutkan oleh sebuah lengan yang tiba-tiba melingkar di pinggangnya. Belum sempat Yaya sadar dari rasa terkejutnya, tubuhnya kini dengan santai digendong bak seperti memanggul beras. Tubuhnya memberontak namun apalah daya kekuatannya tak sebanding dengan pria tak
dikenal yang tiba-tiba menggendongnya dan memasukkannya ke dalam sebuah kamar yang ada di ruang tengah rumah milik Mimy.
The Second You Sleep
Boboiboy/ Boboiboy Galaxy crossover Ejen Ali belongs to (c) Monsta Wau Animation
warning(s) : AU! BOBOIBOY SOPAN X YAYA! kinda ooc, adult chara, terkadang non-baku.
Sopan mengerjapkan mata biru kekuningannya saat seberkas sinar mentari memantul di jendela yang masih tertutup tirai. Ketika ia mencoba untuk duduk, rasa pusing luar biasa menyergap kepalanya. Pemuda bersurai hitam dengan sejumput helai putih pada poninya tersebut berdiam diri selama beberapa detik untuk menetralkan pusingnya, dan juga mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi.
"the fuck!" umpat Sopan begitu ia menyadari keadaan tubuhnya yang hanya dilapisi oleh sebuah selimut. Pantasan ia merasa tubuhnya terasa dingin dari biasanya.
Mengedarkan pandangannya ke sebuah ruangan yang ia duga bahwa dirinya masih di kamar tamu milik Rizka, mata Sopan menemukan seonggok bajunya yang ia pakai tadi malam. Kemeja hitam dengan jeans biru navy robek-robek itu tergeletak asal-asalan saja di atas lantai di dekat pintu sana, dan sialnya celana dalamnya juga ada di sana. Berarti saat ini ia benar-benar full naked.
Sopan mencoba bangkit dari posisinya untuk mengamankan pakaiannya, namun suara pergerakan di sampingnya membuat pria itu menoleh. Matanya membulat sempurna saat ia melihat seorang perempuan dengan keadaan yang begitu berantakan dan mengenaskan sedang memasang bajunya sambil meringkuk menyembunyikan wajahnya yang memerah dan matanya yang membengkak.
"Ya, Yaya..." Sopan menyebut nama perempuan itu dengan terbata-bata. Suara pemuda itu terdengar parau.
Wanita yang dipanggil namanya tersebut memicingkan matanya. Manik cokelatnya menatap nyalang Sopan sambil terus mengancingkan kemejanya.
"Jangan berani-beraninya lo nyebut nama gue dengan mulut sialan lo itu. Gue bahkan gak kenal lo siapa."
Dada Sopan mencelos, rasanya bagai dihimpit sebongkah batu besar. Membuatnya sesak. Bukan karena ucapan dingin Yaya, tapi karena suara serak perempuan itu dan bengkak di matanya. How much she screamed? batin Sopan bertanya perih.
"Ya, I was..."
"Stop. Fuck you and your excuse! Lo beruntung gue gak akan buat laporan karena gue gak mau reputasi keluarga gue hancur."
"Ya, gue minta maaf. Gue..."
"Permintaan maaf lo gak akan pernah gue terima."
Yaya mengambil tasnya setelah ia memasang kembali pashimanya seperti semula. Tanpa menoleh ke arah Sopan yang menatapnya dengan tatapan menyesal, perempuan itu melangkahkan kakinya keluar dari kamar terkutuk itu.
Sopan ingin menahan Yaya, tapi kondisinya yang hanya dilapisi oleh selimut itu benar-benar tidak memungkinkan dirinya untuk melakukannya. Jadi, dirinya hanya bisa menatap kepergian Yaya dengan wajah sangat menyesal.
"Anjing!" umpat Sopan kasar, ia mengacak rambutnya asal menyalurkan rasa frustasinya. Begitu kepalanya menoleh ke bawah, sesaat Sopan terdiam. Suara jantungnya bergemuruh.
Ada darah di atas alas kasur.
"Biadab, gue benar-benar berengsek. Bangsat! Demi Tuhan, apa yang udah gue lakuin..."
Sopan mengusap wajahnya kasar. Ia benar-benar harus menemui Yaya lagi. Bagaimana bisa ia melanjutkan hidupnya begitu saja? Dia baru saja merusak hidup seorang gadis! Dia merampas dengan paksa satu-satunya hal berharga yang akan diberikan oleh gadis itu kepada suaminya di masa depan!
Lo benar-benar berengsek. Lo udah gila Sopan Vinamra!
Begitu sampai di apartemennya, semua yang Yaya tahan dari tadi akhirnya luruh juga. Perempuan itu berlari ke kamar mandinya dan menangis sekencang-kencangnya di bawah guyuran shower yang sengaja ia nyalakan. Yaya mencakar-cakar bagian tubuhnya yang dipenuhi oleh tanda dari pria bajingan itu, membuat ada beberapa kulit di tubuhnya terkelupas dan mengeluarkan darah. Yaya merasa jijik pada dirinya, seluruh tubuhnya dipenuhi oleh kissmark pria bajingan itu. Ia merasa kotor, ia merasa dilumuri dosa.
Hilang sudah apa yang telah ia jaga selama ini, hilang dikarenakan oleh pria yang bahkan tidak dikenalnya. Nada dering dari gawainya yang terdengar dari kamarnya membuat perhatiannya teralih. Yaya dengan cepat memakai jubah mandinya sembari berjalan gontai menuju kamarnya. Ponselnya masih berbunyi, kali ini dering yang ketiga. Begitu sampai di depan ponselnya, tangis Yaya semakin keras saat nama ayahnya tertera di sana. Yaya sengaja mengabaikan panggilan dari ayahnya, sangat tidak mungkin untuk dirinya berbicara pada sosok keras kepala itu dalam kondisinya yang seperti sekarang.
Saat suara dering gawainya berhenti, tangis Yaya juga semakin menjadi. Perempuan itu mengadahkan kepalanya, entah kenapa beberapa memori perjalanan hidupnya terlintas di
kepala. Hidupnya tidak pernah mudah sejak ia kecil, ia dituntut sempurna oleh ayahnya. Apalagi begitu usianya menginjak tujuh belas tahun, ia seolah-olah telah disiapkan untuk menggantikan sosok almarhumah kakak perempuannya yang maha sempurna di mata kedua orang tua mereka.
Kepergian Hanna, kakak perempuan yang satu-satunya menyayanginya di rumah besar mereka itu masih sering terbayang-bayang di kepala Yaya. Satu-satunya orang yang tidak pernah menuntutnya apa-apa pergi dipanggil Tuhan terlebih dahulu di usia dua puluh dua tahun, dan itu bertepatan di saat perempuan itu sedang dalam perjalanan membawakannya kue untuk merayakan ulangtahunnya. Ya, Hanna meninggal karena sebuah kecelakaan lalu lintas. Andai saja saat itu ia bisa mencegah kakaknya untuk tidak berangkat dulu, mungkin saat ini ada tempat bersandar untuk Yaya menceritakan keluh kesahnya. Atau mereka bisa saling curhat seperti dulu.
Sejak kecelakaan itu, hidup Yaya tidak pernah mudah, ia merasa hidupnya menjadi semakin sulit. Belum lagi rasa bersalah semakin menumpuk di dirinya mengingat kematian Hanna juga dikarenakan hari ulang tahunnya. Karena mereka selalu merayakan ulang tahun mereka bersama-sama, hanya berdua. Yaya kira ujian hidupnya hanya sampai di situ saja, namun ia salah. Tuhan rupanya masih ingin menguji batas kewarasannya.
Dia diperkosa. Oleh pria yang tidak ia kenal.
Mengingat kejadian kemarin malam saat ia digagahi oleh pria berengsek itu membuat Yaya tidak bisa berhenti menangis. Dia benar-benar sudah kotor.
"Yah, trophy child ayah udah rusak," gumam Yaya di tengah isakannya.
"Uwow! Ternyata memang benar Yaya dan Sopan keluar dari kamar yang sama." Suara yang terdengar menyebalkan di telinganya membuat Sopan yang baru keluar dari kamar tamu milik Mimy bersama Gopal menoleh menatap si empu punya suara.
Di depannya, ada sosok pria dengan wajah yang sama sepertinya tersenyum menyebalkan. Gentar Adidan, saudara kembarnya kini berjalan mengelilinginya. Pria itu memutarinya sambil mengendus-endus tubuhnya.
"Jadi, lo benar-benar naksir banget sama Yaya nih? Ternyata selera kembaran gue nih yang galak-galak dan diam-diam menghanyutkan rupanya. Eh, lo juga sama sih, diam-diam menghanyutkan. Cocok deh kalian berdua. Jadi, main berapa ronde lo kemarin bareng dia? Goyangan dia mantap gak?" ucapan Gentar hampir membuat Sopan melayangkan tinjunya, namun Gopal yang sedari tadi bersamanya segera menahannya.
"Kalem, Pan," ucap Gopal seraya menahan bahu sahabatnya.
"Tadinya ayah bakal jodohin gue sama dia, dan gue nggak keberatan sih. But, setelah kejadian ini, kayaknya gue bakal menolak perjodohan sialan itu. Masa iya gue dapat bekas lo Pan, rugi dong gue dapat lubang yang udah longgar..." Gentar tersenyum manis. Kali ini
satu pukulan lolos menghantam hidung milik Gentar, membuat pemuda bermata amber itu jatuh tersungkur.
"Anjing ya lo!"
Sopan yang dikatain begitu hanya diam tak peduli. Mata pemuda itu menatap dingin saudara kembarnya yang kini mencoba bangkit dan ingin membalas tinjuannya.
"Ucap orang yang lebih anjing dari gue. Oh ya, gue cuma mau bilang bagus lah kalo lo gak mau sama Yaya, itu artinya dia bakal selamat dari penularan virus HIV yang lo edarin. Gue takut kalo dia jadi istri lo, bukan hanya penyakit hati yang bakal lo kasih ke dia, penyakit HIV juga,"
Kemudian yang terjadi selanjutnya adalah kedua saudara kembar itu saling beradu tinju ke wajah masing-masing. Dan Gopal berusaha mati-matian menghentikan adu jotos mereka.
to be continued _
Boboiboy Sopan as Sopan Vinamra
Boboiboy Gentar as Gentar Adidan
Boboiboy Frostfire as Lathief Basyar Frostfire
Yaya as Zenda(ya) Catal(ya)
Ying as Lee Ying'er (Ying)
Fang as Orlando Fang
Gopal as Adanu Gopal
Ejen Ali as Ali Shawqi Zaidy
Ejen Alicia as Allysia (Alicia) Praya
Ejen Kim as Kimberly (Kim) Cattrall
Ejen Iman as Yasira Imanina
Ejen Rudy as Rudy Reinaldy Harianja
Ejen Rizka as Rizka Alhanizah
Ejen Ridzwan as Ridzwan Shadiq (Ayah Yaya dan Hanna)
Doz as Doz Rosalin (Ibu Yaya dan Hanna)
Hanna as Hanna Huzaifah Shadiq (Kakak Yaya yang sudah berpulang)
Amato as Mechamato Shuwan Pradipto (Ayah Frostfire, Gentar, Sopan)
Mara as Tamara Sari Widiyanti
