Rikudo

Disclaimer : Bukan milik Yuki.


Warning : Typo, Update tidak menentu, Cerita ini memiliki Genre yang gado-gado (mungkin)


Sinopsis: Pada awalnya dia hanya pecahan dari seorang Dewa, yang menunggu waktu untuk memudar saat manusia semakin melupakan 'Nama' dan 'Legenda' tentang saat Gadis Iblis itu datang membuat sebuah permohonan. Membuat penantiannya menjadi kacau dengan masalah yang datang setelah permohonan aneh itu.

"Bisakah kau lindungi aku?"


Chapter 1 : Neliering


"Kau harus cepat menemukan dan menceritakan 'Mitos' ku. Harus cepat, sebelum aku menghilang di telan waktu." Naruto mengungkapkan kosong, jari tangannya bergerak kecil memerintahkan pasir memudar dan mengambil bentuk lain untuk melindungi diriya dan gadis itu.

Dan ledakkan terjadi setelah itu.

Naruto merasa seperti akan memudar sejenak, namun panas api yang datang cepat menyadarkannya. Jarinya kembali bergerak kecil, pasir kembali mengambil wujud kepala sosok rakun dan menelan bola api panas itu dengan cepat. Naruto memandang, berdiri di depannya adalah seorang Iblis-terlihat tampan, tapi ada banyak celah yang terlihat pada dirinya. Dia memakai pakaian pengantin berwarna putih yang indah dengan penuh ornamen, dengan cepat dia tahu bahwa pemuda itu adalah tunangan dari gadis di sampingnya ini.

"Raiser!" Rias berteriak keras, Naruto memandang tidak mengerti... mengapa Gadis itu berteriak begitu, kenapa gadis itu begitu membenci pemuda itu. Jika melihat Naruto tau bahwa pemuda Iblis itu cukup untuk membuat gadis manapun jatuh cinta dengan sekali lihat. Sekilas tataan rambut Iblis Api itu-Raiser namanya, mengingatkan dia akan sesesorang.

Tapi siapa?

"Rias, kau cukup pintar untuk kabur setelah aku mengalahkan Sekiryuute untuk kedua kalinya." Naruto mendengar suara Raiser mengandung kemarahan, nafasnya berat seperti sangat ingin seperti memburu, dan wajahnya menjadi jelek setelah melihat Naruto yang berdiri di samping Rias. "Siapa kau?"

"Aku... " Naruto kembali menunjuk dirinya dengan telunjuk, mulut yang terbuka ingin menyampaikan apa yang terlintas di benaknya. Namun tertahan setelah memikirkan kejadian sebelumnya. "Untuk saat ini alat indra mahluk manapun tidak akan mampu merespon namaku, kau boleh memanggilku sesuka mu."

"Huh.. " Raiser mendengus kecil, melihat siapa yang berada di depannya, melihat bagaimana dan apa hubungan yang mereka miliki. Raiser menatap lurus, meski di dalam hidup, dia di kenal sebagai pribadi yang arogan... dia jelas bukan sebuah idiot besar yang cukup bodoh untuk maju membabibuta tanpa melihat sekitar. Cukup serangan awal yang dia lancarkan, cukup membuatnya yakin jika mahluk rendah di depannya mempunya kemampuan di balik lengan bajunya. "Bagaimana jika aku memanggil mu Bajingan, ha!"

Itu cukup untuk pemancing.

Alis Naruto terdiam tidak mengereti mendengar jawaban itu, meski sebagai jenis yang jelas berada di atas kelas Iblis itu sendiri. Namun Naruto hanya bisa diam dengan wajah tidak ambil peduli, saat mengingat dia mengatakan Raiser boleh menyebutnya sebagai siapapun. Dan panggilan Bajingan itu bukan salah Iblis Api itu. "Terserah, bukankah sudah ku katakan, bahwa kau boleh memanggil ku sesuka mu."

Raiser tersentak mendengar pernyataan seorang seperti idiot besar, seperti mahluk rendah di depannya. "Dasar rendah.."

Dan Naruto hanya diam tidak membalas.

Dan setelah itu bola api melesat dalam panas yang tinggi seperti bisa melelehkan materi apapun. Naruto yang melihat, segera memeluk Rias dan melompat mundur tidak sampai di situ pasir mulai bergerak bagaikan mereka hidup membentuk sebuah tiang sebelum sedikit bertebaran setelah tendangan dari Raiser.

Tubuh Naruto tidak bergerak sama sekali, Raiser yang tiba-tiba muncul di sampingnya tidaklah menarik minat dari dirinya. Setelah semua tatapannya jatuh pada semua Iblis yang berada di belakang Iblis api ini, dia menatap semua dan mereka memberikan wajah yang berbeda-beda saat melihatnya. Ia mengabaikan semua, tapi satu di antara mereka, dia yang berdiri paling belakang di antara mereka semua mampu menarik minatnya... keturunan, dia mempuyai sesuatu yang sama seperti Iblis yang berada dalam pelukannya, dan meski sudah menekan kekuatan hingga titik terendah Naruto masih bisa merasakannya... ia masih bisa merasakan kengerian macam apa yang tersembunyi di balik tubuh yang terlihat sengaja menunjukkan banyak celah itu.

Sejenak Naruto menatap lurus, saat wajah itu tersenyum padanya.

Naruto tidak mengerti, tapi ia tidak akan mencoba untuk mengaggu Iblis itu.

Setidaknya dia yang saat ini belum mampu untuk melawannya.

Pilar pasir itu meledak setelahnya, Riaser mengabil tumpuan sebelum melesat meninggalkan jejak api di sekitarnya. Naruto tidak bereaksi, namun pasir-pasir yang berada di sekitarnya segera bergerak menuju Raiser berusaha menenggelamkannya, dan sebagian pasirnya berubah menjadi cambukkan untuk menarik Raiser untuk tenggelam. Merasakan bahaya Raiser menghindar saat cambukkan pasir berniat menghantamnya, dia menghindar namun sesaat masih sempat menembakkan dua bola api menuju Naruto yang diam.

Naruto tidak memilih bereaksi untuk mengindar, dia seakan tidak peduli. Namun pasir dengan cepat terbentuk dan kembali mengambil wujud Kepalaa Rakun menelan api itu. Beberapa pasir tersebar dan mulai mengambil bentuk pedang dan tombak, mengambang puluhan senjata itu segera melesat menghujani Raiser yang masih berusaha menghindari cambukkan pesirnya.

Raiser menyadari hal itu, menendang cambuk pasir itu keras. Dia mulai memunculkan nyala api muruni di kedua tangannya, dan mengumpat untuk sampah ini begitu menyusahkan dengan pasir-pasir yang dia kendalikan. Raiser meraung, dia melompat dan mulai menedang sebuah tombak pasir yang melesat ke arah dirinya sampai hancur, tubuhnya meliuk berusaha menghindari sebuah pedang yang datang setelah tombak tersebut hancur. Dan mengambil sebuah tombak pasir yang tertancap untuk menghancurkan senjata-senjata pasir yang datang berikutnya. Pasir-pasir itu menyatu dengan begitu keras seakan mereka adalah batu.

Lesatan selanjutnya datang dengan gila, Raiser mengkonsentrasikan nyala api di tangan sebelum menembakkannya dengan skala besar menuju lesatan senjata pasir. Beberapa hancur namun sebagian masih bisa menembus apinya, dan Raiser segera berlari dengan cepat. Mengambil sebuah pedang pasir yang tertancap di tanah dia melesat menuju Naruto yang diam.

Sebuah tebasan pedang di lakukan, namun sebuah tombak pasir dengan ukiran segel kuno berwarna biru dengan cepat muncul untuk menghadang. Serangan Raiser memantul, menyebabkan dia goyah. Namun dengan cepat kembali menebas untuk menghalangi serangan tusukan tombak dari Naruto.

"Raiser.. berhenti apa yang kau lakukan. Berhenti!"

Suara Rias menggema di tengah benturan senjata, tidak ada yang akan mendengarnya saat ini. Naruto memeluk gadis Iblis itu erat seraya menatap lawannya dengan kosong, memengang ujung dari panjang tombak Naruto menusuk tiap sisi yang kosong dari pertahan Raiser, hanya bunyi benturan yang terdengar beberapa serpihan pasir bertebaran seperti tidak mampu mempertahankan bentuknya. Raiser menepis tiap tusukan itu, beberapa tusukan datang lagi namun dia segera cekatan menepis semua. Setelah semua, selama permainan pedang dia adalah yang terbaik di antara Pewaris Keluarga Phenex. Membuat dia cukup yakin dengan kemampuan berpedanganya.

Serangan Naruto memantul, tubuhnya goyah namun dengan cepat melesat mundur menyadari senjatanya telah terkikis hebat. Raiser tidak membiarkan, melempar pedang pasir yang rusak, dia mengambil pedang lain yang tertancap segera melesat maju.

Naruto berhenti menyadari Raiser entah bagaiaman muncul di depannya, tapi dia tidak bereaksi apa-apa. Bahkan setelah merasakan kepalanya jatuh di tanah. Dan hanya suara jeritan Rias yang terdengar setelah itu.


Sirzechs menatap dalam diam hal yang terjadi di depannya, meski melipat tangannya dan bersandar di dinding Kuil kuno ini seperti tidak peduli dengan sekitar. Namun matanya tetap tenang mengawasi setiap apa yang terjadi di depan matanya. Menatap, kemudian menemukan tatapan lain yang membalas dirinya, tatapan yang tidak memiliki emosi begitu murni namun di saat yang sama memiliki kemunafikkan tentang Dunia. Tatapan yang dia dapatkan dari anak pirang yang beridiri di sebelah Rias.

Dia mengendalikan pasir seakan mereka hidup, dia melihat bahwa pemuda itu tidak beraasal dari golongan Iblis manapun. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia mewarisi salah satu dari daarah Iblis, mungkin dia adalah etinitas dari mahluk suci. Tapi dia tidak menemukan apapun, mencoba merasakan lebih dalam namun dia hanya menemukan sesuatu yang tanpa batasan berada dalam diri pemuda itu, namun begitu tipis hingga hampir seperti menghilang.

Dia kembali tersenyum tanpa ada yang menyadari, sepertinya Rias telah menemukan sesuatu yang sangat menarik selain Red Dragon Emeror. Dan sepertinya pertunangan ini harus dibatalkan. Dan bagaimanapun juga dia sedikit tertarik untuk melihat butiran pasir halus yang berkumpul dan menyatu membentuk kembali kepala Naruto.


"Ap-Apa?" Rias tidak bisa menyembunyikan apa yang dia rasakan, setelah sebelumnya tebasan cepat dari Raiser yang tiba-tiba muncul di belakang mereka berhasil memutuskan kepala Dewa sekarat itu. Namun bahkan setelah semua itu dia masih sadar dan belum mati.

Dia bahkan melopat lebih jauh untuk menghindari serangan kejutan selanjutnya. dia-Naruto bahkan jika memiliki 'Nama' dan 'Legenda' yang tak lengkap bisa memiliki vitalitas sebaik ini. Bagaimana dia kembali mendapatkan 'Nama' dan 'Legenda' lengkapnya.

"Mahluk macam apa kau ini?" Raiser menatap dengan horor, seakan tidak percaya dengan apa yang telah dia lihat. Mahluk redah itu bahkan tidak mengungkapkan apa-apa saat kepalanya di tebas, abaikan semua meski dia adalah Phenex sebuah tebasan di kepala tetap bisa membuatnya meraung sakit bahkan mengakibatkan kematian... sekalipun Phenex adalah imortal.

Naruto tidak menjawab, membentuk tombak baru ia mengacungkan ujung tombak itu kepada Raiser. Seperti tidak memperhatikan, namun ia tetap mengawasi para Iblis yang lain yang berjaga jarak jauh dengannya dan Raiser. Memeluk gadis Iblis yang membuat permohonan dengannya semakin erat, ia mengambil langkah awal.

Raiser merasa merinding, pupil matanya melebar saat mendapati ujung tombak pasir dengan penuh ukiran kuno sudah berada hampir menusuk matanya. Dia membungkukkan badannya menghindari tusukan yang datang, menyadari bahkan mahluk itu tidak menatapnya saat akan menusuknya. "Breng-" sebuah umpatan terdengar, bahkan sebelum selesai, satu tendangan keras telah mendarat di dadanya. Darah keluar dari mulutnya, tubuhnya melesat jauh membentur dinding Kuil. Raiser mencoba bangkit api perlahan muncul di tubuhnya menyembuhkan luka.

Matanya merah menatap Naruto, penuh dengan kemarahan yang teratanam di sana. Namun bukan itu saja, semua ini, semua penghinaan ini bukan hanya berasal dari mahluk brengsek ini... Rias, dia juga penyebab penghinaan ini. Gadis itu setelah semua ini selesai dia akan mendapatkan balasan atas penghinaan ini, dia bersumpah.

"Kalian berdua.." suara Raiser terdengar bagaikan geraman. Naruto mendengar kosong, dia tidak peduli, namun Rias berteriak meminta dia untuk menghentikan aksinya.

Raiser mulai berlari.

Jari tangan Naruto bergerak.

Geombang pasir memadat dan membentuk sebuah sulur melesat cepat menuju Raiser. Pemuda Iblis itu melihatnya, namun dia tetap berlari dan menebas sulur pasir itu dengan tangannya yang terkonsentrasi api tingkat tinggi. Sebuah sulur lain datang mendorong Raiser untuk menjauh, Iblis itu meraung dan memecah sulur itu dengan ledakan apinya. "Bajingan!" teriakkan kemarahan jelas terdengar darinya, tubuhnya berasap panas menimbulkan fatamorga di sekitarnya. Membenci... dia membeci mereka berdua begitu dalam, atas penghinaan ini.

Naruto menatap tanpa ekspresi apa-apa melihat perubahan yang terjadi pada Raiser, ia hanya tidak peduli bahkan melihat panas yang terasa di sekitar Iblis itu ia tetap tidak peduli... dia hanya tidak mengerti untuk apa Raiser menjadi marah, dia dan gadis dalam pelukannya adalah tunangan... mereka seharusnya bahagia. Lalu mengapa gadis itu meminta perlindungan darinya... mengapa Raiser menampilkan wajah yang jahat.

Mungkinkah Raiser sering menyiksa tunangannya?

Oleh sebab itu Gadis ini menjadi tidak suka?

Ia hanya tidak mengerti, tapi karena kesadaran telah merespon permohonan Gadis itu. Ia akan melakukan sebagai apa ia tercipta.

Jari-jari Naruto bergerak pelan, pasir mulai mengalir dan berkumpul bergelombang menuju Raiser dengan cepat. Merentangkan jarinya pasir mulai bergerak menenggelamkan Raiser, pemuda Iblis itu meronta meraung mengibas pasir yang mulai menenggelamkannya. Namun percuma, pasir itu datang bagaikan sebuah air bah yang tanpa henti mulai berkumpul kembali menenggelamkannya, pasir mulai berputar seperti pusaran dengan Raiser yang telah tenggelam. Pasir-pasir itu mengeras dan mulai bergetar membentuk sebuah kerucut dengan melilit Raiser di dalamnya seakan ingin meremukkan.

"Saba-"

Ucapan Naruto terhenti ketika merasakan gemuruh dari dalam pasirnya. Dia Raiser berubah, api meledak hebat dari tubuhnya. Bagaikan matahari itu sendiri panas yang dia miliki segera menyingkirkan segala hal yang tidak di inginkan. Pasir-pasir Naruto pecah sebelum terkikis hebat oleh angin panas yang berasar dari keturunan Phenex itu. Naruto tidak mengerti, mengapa dia begitu bernafsu untuk melenyapkan... jika gadis ini adalah tunangannya, kenapa menggunakan kekerasan?

Jari naruto dengan cepat bergerak dengan pola yang aneh, tapi terlepas dari itu semua semua pasir yang berada di sekitarnya merespon gerakan itu dan mulai maju bagaikan air bah menuju Raiser yang berada di depannya. Ia mengambangkan jari di tangannya, pasir menyebar dan mulai mendorong Raiser, menenggelamkannya dalam lautan pasir dan memaksa Iblis itu menjauh dan menabrak dinding Kuil kembali.

Namun Raiser memberontak hebat, nyala api dalam tubuhnya membakar lebih liar di sekitar tubuhnya berusaha menahan pasir itu walau terdorong pada akhirnya. "Arkkkkk... Sial.. sial... sialan!" Raiser meraung putus asa, namun pasir itu tidak mendengarnya dan terus mendorongnya. Beberapa pasir naik kepermukaan melawan hukum alam dan melesat menuju dirinya, melilit tubuhnya... pasir itu berubah menjadi wujud seorang wanita dan memeluknya dari belakang.

Namun Raiser berteriak kesakitan, mencoba meronta namun pasir itu makin keras menekannya... beberapa suara tulang retak terdengar. Raungan menyedihkan itu masih terdengar sebelum padam oleh sebuah energi berkonsentrasi tinggi yang mengikis hasbis pasir miliknya.

Gerakan Naruto terhenti saat seorang Iblis berambut merah muncul menghentikan semuanya. Naruto hanya diam menatap semua, dia segera memeluk erat Gadis Iblis yang telah lama pingsan dengan waspada menatap semua. Dia akan melindungi, dia akan melindungi semua yang berada di sekitarnya... dia akan melindungi semua orang.. dia akan melindungi, meski ia akan dilupankan pada akhirnya dia akan melakukannya.

Naruto, melangkah mundur... melihat Iblis itu. Pasir mulai mengambil wujud sebuah tangan monster berusaha mencakar Iblis merah itu, namun semua berubah menjadi debu saat menyentuh energi merah yang penuh dengan kepadatan tinggi yang muncul melindungi Iblis Merah itu. Naruto tidak berhenti, ia mengangkat tangannya dan pasir mulai bergetar di sekitar Sirzechs. Membentuk sebuah rakun raksasa setengah tubuh dan meraung keras.

Beberapa Iblis yang di sekitar mereka segera menjaga jarak dan membuat perisai pertahan dari energi sihir yang dipadatkan. Gigi mereka saling bergesek mengutuk mahluk pirang di depan mereka... yang memiliki kemampuan di luar akan sehat.

Sirzechs tersenyum menatap rakun itu, meski pasir raksasa itu berwujud tubuh setengah raksasa dia tidak merasakan ancaman nyata darinya. Sebuah ayunan tangan mulai datang padanya, namun bahkan sebelum menyentuh tubuhnya tangan pasir itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan kecil. Sirzechs bahkan tidak perlu melihat arah serangan itu dan hanya menatap Naruto dengan senyuman di wajah.

Naruto menatap kosong, bahkan setelah ayunan selanjutnya dan keseluruhan raksasa pasirnya hilang oleh energi penghancur milik Iblis merah itu.

Langkah Sirzechs berhenti, dia menatap pemuda itu yang memeluk adiknya erat seperti begitu melindungi. Situasi yang tidak dia harapkan dan membuatnya bingung. Rencana awal adalah menggunakan kemampuan Issei kembali untuk mengalahkan Raiser pada saat pertunangan, namun rencana itu gagal. Issei kalah dan tidak ada alasan baginya untuk membatalkan pernikahan ini, tapi Rias melarikan diri sangat jauh sebelum pengucappan sumpah di lakukan.

Sirzechs tidak tau apa yang terjadi setelahnya, dia melihat pemuda itu begitu melindungi adik kecilnya seakan itu adalah sesuatu yang berharga. Dia jelas bukan Iblis, bukan mahluk Suci atau mahluk manapun, dia terasa seperti alam itu sendiri, tapi begitu lemah... sangat lemah seakan dia bisa memudar kapan saja. Siapa dia? Mengapa begitu melindungi adiknya hingga sejauh itu?

"Siapa kamu?" Sirzechs berbicara, memberikan tatapan lurus pada Naruto yang diam tidak menjawab.

Beberapa Iblis di sekitarnya berteriak mencemooh namun Sirzechs segera mengangkat tangan untuk menghentikan mereka.

"Ma-" Naruto segera menghentikan ucapannya, ia menatap Iblis merah itu dengan tatapan tidak mengerti. "Kenapa aku harus mengulangi hal yang sama? Bukankah aku telah menjelaskan pada kalian?"

Sirzechs tersenyum kecil. "Nama ku Sirzechs Lucifer, aku adalah Maou saat ini. Meski kau mengatakan bahwa tidak ada satupun mahluk yang tidak bisa mendengar nama mu boleh kah aku mencoba?"

"******* *-" Naruto mencoba sedikit, namun melihat suara yang di hasilkan seperti kaset rusak ia segera menghentikannya. "Sudah mengerti?"

Sirzechs tersenyum masam mendengar suara itu, beberapa Iblis merasa sakit di telinga saat mendengarnya. Namun beberapa di antara mereka mampu menahan rasa tajam itu menyembunyikannya dalam-dalam.

"Kenapa begitu waspada?" Sirzechs bisa merasakan bahwa meski sosok yang berada di depannya begitu menampilkan banyak wajah kosong, namun dia masih bisa menangkap ada kewaspadaan besar terhadap dirinya. "Tidak perlu seperti itu, setidaknya di depan kakak seorang adik yang sedang kau peluk."

Naruto diam memiringkan kepalanya tidak mengerti, ia menatap Sirzechs sebentar kemudian balik menatap Gadis Iblis itu sebelum kembali menatap Sirzechs lagi. Memang benar, mereka berdua memiliki kesaman yang tinggi. "Siapapun dirimu, jangan melangkah lebih dari ini."

Namun walau semua, keadaan tidak akan semudah itu.

Naruto memperigatkan, tidak hanya itu pasir di sekitanya mulai menyatu dan membentuk wujud ratusan senjata.

Sirzechs mengangkat tangan dan tersenyum. "Mengapa kita tidak menunggu adik kecil ku bangun dan biarkan dia menjelaskan semua ini?"


Naruto duduk menatap tertarik pada langit ungu di atas sana, meski tidak jelas dalam ingatan ia setidaknya tau bahwa langit tidak pernah berwarna seperti ini. Bulan terang bersinar tapi seperti tidak seperti nyata... Naruto duduk sendiri, menatap semua di balik jendela.

Mengingat sebelumnya, Gadis Iblis itu pada akhirnya sadar dan mulai memeluk Iblis merah-Kakaknya dengan sangat erat. Untuk sejenak ia seperti terlupakan setelah semua, melihat kedekatan yang seperti bukan untuknya membuat sebuah langkah mundur tercipta atas tindakkannya. Namun sebelum untuk mencoba kembali menghilang ke dalam kehapaan, Gadis itu mengenggam tangannya dan menarik kuat seperti tidak seharusnya. Ia mengikuti uluran tangan itu, berhenti di depan Iblis merah-Srizechs yang membuat dia menatap semua dengan tidak mengerti.

Apa yang salah?

Kenapa begini... seharusnya setelah semua mereka tidak akan mengingat dirinya lagi, setelah semua semua mahluk yang pernah dia jumpai akan segera melupakannya setelah keinginan terwujud, dan bahkan menyalahkannya saat keinginan mereka bahkan tercapai. Tapi kenapa dia yang bahkan bukan Manusia mengingatnya, awalnya bahkan ia menyangka bahwa ia akan di salahkan.

Tapi tidak ada yang terjadi setelahnya.

Membuat Naruto bingung, seperti tidak seharusnya... sebuah keanehan yang terjadi tepat di depan matanya tanpa dia bisa mengerti.

Naruto merasa aneh yang tidak biasa, sebuah keanehan yang mengundang ke anehan yang lain pada akhirnya. Dia membeku menatap bulan palsu yang bersinar terang di langit, Sirzechs mengatakan bahwa bulan itu adalah ciptaan dari temannya. Tiruan dari yang asli.

Palsu.

"Apa yang salah?" Naruto mendengar suara, seorang pria tetapi ia tidak mengalihkan wajahnya. Tatapan yang terpaku menatap bulan palsu di atasnya.

"Tidak ada... tidak ada yang salah."

Dan sunyi setelah itu.

Sirzechs duduk di samping Naruto dan turut memandang bulan buatan itu. Tatapannya tidak teralihkan, tetapi dia merasa tenang untuk sejenak. "Bulan yang indah.."

"Ya... namun sayang sebagus apapun dia... hanya sebuah bedan palsu."

Sirzechs melirik Naruto sejenak dan meringis kecil. "Kau tau, jika Ajuka mendengar ini dia mungkin akan menangis."

Naruto melirik Sirzechs sejenak, memandang dengan kosong. "Aku tidak mengerti, yang palsu tidak akan pernah bisa menyamai yang asli sebanyak apapun dia mencoba." ia terdiam sejenak. "Lagi pula, siapa itu Ajuka?"

"Lupakan dia.." Sirzechs tidak bisa berkata-kata. "Rias dari tadi terus menanyakan keadaan mu, tapi aku melarangnya menemui diri mu saat ini."

Naruto berfikir sejenak, ia menatap Sirzechs... memberikan tatapan lurus pada Iblis di depannya. "Siapa Rias?"

Sirzechs berkedip tidak percaya, dia mengorek telinganya dan menatap Naruto dengan tidak mengerti. "Dia adik ku yang kau peluk dengan erat.. tunggu bagaimana bisa kau memeluk seseorang yang bahkan belum kau ketahui namanya?"

Naruto berkedip untuk beberapa saat, jari tangan yang menunjuk dirinya sendiri. "Jadi aku salah?"

"Tentu saja salah..."

"Maaf.."

"Lupakan... jadi bagaimana?"

"Aku tidak mengerti, dia Gadis itu... maksud ku Rias datang ke tempat di mana aku akan berakhir." Sirzechs bisa melihat wajah Naruto yang mengarah padanya, namun dia bisa merasakan bahwa pemuda itu tidak menatapnya. "Ada sesuatu yang begitu berharga yang sangat ingin di lindunginya, untuk saat itu... aku tidak tau apa yang sangat ingin dia lindungi.. bahkan sampai sekarang aku tidak pernah tau."

Tangan Naruto terlujur seperti mencoba untuk mengambil bulan yang ada di langit. Sirzechs mengikuti gerakan itu. "Dia tidak pernah mengucapkan apa harapannya, namun anehnya kesadaran milik ku tergerak begitu besar untuk meresponnya. Ini aneh... sungguh aneh, aku begitu tidak mengerti dengan semua ini... bahkan selah aku datang meminta harapan itu.. dia tidak pernah mengatakannya."

"Aku tidak mengerti, bagaimana Iblis bisa seperti itu..?"

Sirzechs menutup matanya dan tersenyum, baginya dia melihat Naruto bagaikan seorang anak kecil dengan kemampuan super yang tidak mengerti apapun tentang Dunia. Seperti seorang yang telah di kurung selama sisa hidupnya, meski Rias telah mengatakan bahwa Naruto adalah seorang Dewa yang telah lama sekali tertidur dan meminta gadis itu untuk mencari tentang 'Nama' dan 'Legenda'nya. Namun Sirzechs percaya semua tidak sesederhana itu.

"Kau hanya tidak mengerti, kami Iblis sudah mencoba untuk berubah."

"Berubah?" Naruto menunjukkan ekspresi kosong. "Bagaimana mungkin kalian berubah, mencoba menghianati hakikat penciptaan kalian sendiri."

"Kau lah yang tidak mengerti, semua telah berubah banyak pada akhirnya... aku mendengar dari Rias bahwa kau telah tertidur cukup lama wajar jika kau tidak mengerti. Namun Dunia yang saat ini, mungkin tidak sama dengan Dunia yang dulu kau kenal."

"Mungkin... mungkin seperti itu." Naruto menatap Sirzechs sebelum memejamkan mata. "Beberapa Iblis mencoba untuk mendekati Surga dimana tempat Leluhur kalian dahulu hidup, mencoba untuk menjadi baik, mencoba untuk menghianati sebab bagaimana kalian tercipta. Aku hanya tidak mengerti, bagaimana reaksi Tuhan dalam Al-kitab menyaksikan hal ini... bagaimana reaksi Dewa lainnya?"

Sirzechs mengerti bagaimana Naruto tidak tau tentang kematian Tuhan dalam Al-Kitab. Meski dia mengetahui tentang Great War yang terjadi pada kubu Akhirat, ia hanya mendengar informasi itu dari mulut Rias yang tidak mengerti terlalu dalam selain hal yang diajarkan pada mereka. Kematian Tuhan dalam Al-Kitab adalah rahasia besar yang tidak boleh di ketahui oleh siapapun. Bahkan dalam Dunia Supranatural, hanya segelintir dari beberapa petinggi setiap fraksi yang mengetahui kenyataan ini. Kekacauan yang terjadi setelah hal ini tersebar, dan semua yang ingin di hindari harus di hindari.

Sirzechs tersenyum dan menatap Naruto dengan tatapan tertarik, seperti menemukan hal yang baru. "Tentu kami mengetahui batasan-batasan kami, meski mencoba untuk berubah... Surga bukanlah sesuatu yang dapat kami jangkau. Kami Iblis yang sekarang cukup tau diri dan cukup puas dengan Neraka yang ada saat ini."

"Palsu.."

Sirzechs menaikkan alisnya mendengar ucapan itu, namun tentu dia tidak akan terlalu mempermasalahkannya. Naruto, meski adalah seorang yang telah tertidur menunggu untuk memudar selama ribuan tahun. Tapi di matanya pemuda itu hanya anak kecil yang tidak tau apa-apa... buta akan Dunia, dan berfikir atas idalismenya sendiri yang lemah.

"Sepertinya kita sudah melenceng terlalu jauh, kau tau..." Sirzechs mulai berdiri dan menatap Naruto yang duduk namun tidak memperhatikannya, dia tidak mempermasalahkannya. "Apa yang akan kau lakukan setelah ini? Pihak Iblis terutama dari Keluarga Phenex tidak akan menyukai perbuatan yang kau lakukan."

Sirzechs tersenyum, meski yang dia katakan bukanlah kebenaran... sebab dia dan keluarga Phenex sudah menyepakati untuk membatalkan pertunangan ini. Namun dia ingin mendengar jawaban Dewa ini atas ucapannya.

"Aku..." Naruto menatap Sirzechs, namun ekspresi tidak peduli terlihat jelas di wajahnya yang bosan. "Tidak peduli bagaimana kedepan setelah semua ini, sudah jelas aku akan berada di dekatnya... sebagaimana aku telah menjanjikan perlindungan kepadanya, sampai dia tidak membutuhkannya lagi... atau sampai dia tidak-" ucapan itu terputus, Naruto menampilkan ekspresi rumit... namun hanya sejenak kembali menjadi kosong.

Perubahan ekspresi yang sejenak itu tidak mungkin untuk lepas dari tangkapan matanya, namun Sirzechs memilih diam dan tidak mempertanyakan itu. Setelah semua dia tersenyum dalam diam saat mendengar jawaban dari Dewa misterius ini. Dengan menahannya di sini ini jelas tidak akan mungkin, namun jawaban yang dia berikan Sirzechs tau setidaknya Dewa ini akan selalu berada di sekitar Rias karena janjinya. Dan karena itu juga dia bisa mengawasinya.

Sinar merah muncul di bawah kakinya, mungkin tidak sekarang. Tapi dengan begini mereka memiliki waktu untuk mencari tau asal usul tentang Dewa misterius ini... Sirzechs berencana untuk mengontak Dewa Utara Odin, dan Pimpinan tertinggi Olympus Zeus mengenai masalah ini. Bahkan jika itu tidak cukup untuk mengetahui sejarah tentang Naruto dia akan mengontak Dewa setiap fraksi supranatural untuk membahas ini.

Bagaimanapun seorang Dewa yang tertidur selama ribuan tahun dan masih memiliki kekuatan yang kuat bahkan setelah kehilangan 'Nama' dan 'Legenda'nya. Bukanlah sebuah eksistensi yang bisa kau abaikan... selagi ada kesempatan dia akan berfokus pada masalah ini sejenak. Dan jika diketahui bahwa Naruto adalah seorang Dewa bencana... dia akan segera melenyapkannya.

Dan itu pasti.

"Kau tau, Aku sangat senang mendengarnya."

Sirzechs tersenyum dan menghilang di telan lingkaran teleportasi. Meninggalkan Naruto yang terdiam sendiri sebelum kembali diam menatap langit ungu dengan bulan buatan yang berada di atasnya.

Dia hanya tidak mengerti, bagaimana Bulan paslsu itu bisa begitu indah hingga mendekati yang asli.


Pojok Author :

Errr... pertama-tama Yuki ingin mengingatkan bahwa genre ffn ini mengandung Humor, jadi jangan terlalu serius dengan chapter ini karena masih chap pertama XD.

untuk kesannya Yuki ingin para pembaca sendiri yang menilai bagaimana Sikap Naruto ini.. Hohohohoho..

dan di PM untuk yang menanyakan Yuki ini cewek atau cowok... silahkan di cari tau sendiri.. hihihihihi...

untuk yang membuat pertanyaan pada prolog kemarin Yuki minta maaf bangat ngk bisa balas... tugas kuliah Yuki numpuk... padahal hanya seorang maba XD... ini nyuri-nyui waktu nulisnya. ini aja belulm di periksa betul2 apa ada typo yg nyempil atau kagak, karena pengerjaannya yang lewat dari jadwal Yuki yang harusnya post minggu pagi T-T

maaf semua... T-Ta

jadi untuk pertanyaanya akan Yuki jawab... besok mudah-mudahan.. semua pertanyaan dari prologue dan chapter satu ini ^^b

akhir kata Yuki tunggu reviewnya... baik itu kritik dan saran ^^''b

Sampai jumpa di chapter selanjutnya ^^/