Rikudo
Disclamer : Bukan mili Yuki
Warning : Typo, Update tidak menentu
Sinopsis : Pada awalnya dia hanya pecahan dari seorang dewa, yang menunggu waktu untuk memudar saat manusia semakin melupakan 'Nama' dan 'Legenda' tentang dirinya.
Namun saat Gadis Iblis itu datang membuat sebuah permohonan. Membuat penantiannya menjadi kacau dengan masalah yang datang setelah permohonan aneh itu.
"Bisakah kau lindungi aku?"
Chapter 3 : Hex
Sirzechs membuka mata untuk menemukan bahwa dia sudah tidak sendiri lagi, dalam ruangan… sebuah dua lingkaran sihir bersinar di dalam gelap. Tekanan yang terpancara dari sana, sebuah simbol asing bukan milik Iblis manapun yang dapat dia ingat… keluar dari sana dua sosok yang tenang bagaikan air yang dalam. Sebuah keberadaan yang tidak akan terdeteksi oleh mahluk manapun kecuali yang sekelas dengan dirinya. Dua wajah yang keluar dari lingkaran itu… dua ekspresi santai yang sama di antara wajah-wajah tua itu.
Dan Sirzechs tersenyum, memberi penghormatan untuk dua eksistensi berbeda yang bahkan jauh lebih superior di banding dirinya.
Penguasa Olympus saat ini, Zeus.
Penguasa Eropa Utara, Odin.
"Selamat datang," Sirzechs berdiri dan terenyum sopan. "Untuk Underworld, memungkinkan dapat mengundang dua Dewa utama dari dua Mitologi Kuat merupakan sebuah penghargaan besar."
Sirzechs tidak menunggu lebih saat dua kursi sederhana muncul di depan mejanya. Dia menatap netral pada dua Dewa di depan sebelum tersenyum saat dua sosok itu memilih duduk.
Namun tidak menunggu lama sebelum tiga ligkaran sihir lainnya tercipta dan dengan aura yang sama seperti dirinya tiga sosok itu muncul perlahan dan duduk di sisi yang sama dengan dirinya. Dua pria dan seorang wanita.
Matanya menatap diam, melihat dua Dewa yang mulai menunjukkan gelagat mereka. Untuk sebuah mahluk yang sombong di bawa langit, meski dengan semakin menurunnya kepercayaan manusia untuk mereka… keangkuhan itu tidak akan pernah lepas dari darah mereka.
"Oh, lihat apa ini?" Suara datang dari sisi yang berlawanan. "Apa kalian empat serangga mencoba membunuh kami… seperti yang coba kalian lakukan pada Tuhan kalian?"
Sebuah provokasi, sudah seperti yang ia kira. Meskipun tidak mengharapkan itu, namun Sirzechs dan dua pria lainnya memilih mengabaikan perkataan itu walau bagaimanapun kesampingkan wanita yang berpakaian penyihir kecil yang sudah akan siap untuk meledak… semua kondisi masih dalam kendalinya… setidaknya walau bagaimanapun dua mahluk abnormal di depannya tidak menunjukkan tanda melemah saat menurunnya kepercayaan untuk mereka.
Bahkan jika mereka melemah, Sirzechs ragu untuk bergerak dengan niatnya sendiri.
"Tentu saja kami tidak mampu melakukan itu, meski tidak semua yang ada mengetahui kebenaran itu… namun kita yang ada di sini tau kebenaran di balik insiden itu." Suara lain membalas tenang, itu datang dari sudut yang lain….. Sirzechs melirik sejenak sebelum kembali mengabaikan… Falbium.
"Jadi katanlah, apa yang kalian ingin bicarakan sampai harus memanggil kami." Odin menaruh dagunya di tangan, mulut yang berbicara namun tatapannya hanya terfokus pada wanita yang satu-satunya berada di sini.
Sebuah tawa aneh yang terdengar setelahnya.
"Sebuah keanehan.." Sirzechs menjawab dan mengabaikan raut bejad dari salah satu di antara mereka. Menyadari bahwa sang objek tatapan itu bahkan tidak menyadari sedikitpun membuat dia sedikit lega. "Sebuah Kuil pemujaan muncul di wilayah kami, mengingat betapa kunonya Kuil tersebut kami tidak memiliki informasi lebih tentang tempat itu."
"Bajingan kecil, hanya untuk ini kalian memanggil kami?" Zeus mendengus kasar sebelum menatap empat anak muda di depannya. "Jika bukan untuk penghormatan kami kepada Tuhan dalam Al-Kitab…. Lupakan semua ini. Kalian Iblis dan dua suku kecil lainnya sudah tidak akan memiliki tempat untuk dunia ini."
Sebuah kesombongan, benar-benar sebuah kesombongan.
"Kau.." Serafall berdiri dan menunjuk Zeus, dia memberi tatapan tajam untuk sebuah niat membunuh. "Meski kau adalah pemimpin Dewa sekalipun… aku… aku…"
"Jangan mencoba terlalu jauh nak…" Zeus mendengus dingin. "Bahkan melawan kalian berempat sekaligus. Aku Zeus sanggup melakukannya dengan tangan terikat dan mata tertutup."
Sirzechs memilih diam dan mulai menilai situasi kedepan, membiarkan Serafall yang terdiam dengan wajah penuh emosi oleh kemarahan. Meski apa yang di katakan Zeus terdengar sangat sombong dan arogan… namun bahkan sebagai Lucifer dia harus mengakui pahit bahwa apa yang dikatakan Zeus adalah kebenaran.
Meski dia telah mengantikan tempat dan merebut nama Lucifer yang terdahulu, namun kesadaran akan perbedaan antara dia dan Lucifer original begitu terasa sangat jauh. Meski pada awalnya tidak menyadari, tapi pada akhirnya semua akan terasa saat kau mencoba mengambil nama itu meski kau bukan keturunan asli… Gremory dan Lucifer…. Itu bahkan perbedaan yang terlalu jauh.
"Hahahaha…" suara tawa datang dari Odin, matanya berair dan mulai menatap Zeus dengan ekspresi lucu. "Tenang Iblis kecil, bahkan jika si bajingan tua Zeus ini mulai memiliki keinginan untuk memusnakan suku kecil kalian… biarkan Yggdrasil menjadi pelarian kalian." Satu mata milik Odin mulai berkeliaran menatap nafsu tubuh iblis betina di depannya.
"Di mulai dari kau gadis muda," Ekspresi bejat mulai muncul di wajahnya. "Kau mulai hari ini bisa menjadi peliharaan orang tua ini, tentu saja aku akan merawatmu penuh kasih sayang."
Dan Serafall menatap Odin dengan ekspressi jijik ketara.
"Kau masih menyebut dirimu Pimpinan Dewa Utara bahkan dengan sifatmu?"
"Bukankah kau juga sama Zeus?" Odin tertawa pelan, dia menatap pria yang terlihat tua itu. Melirik bahkan sebenarnya dia sendiri jauh lebih tua. "Kau yang mengaku sebagai sebuah kebijak sanaan, padahal hanya sebuah kebangkaan kosong setelah kau membunuh ayahmu. Mengikuti jejak leluhurmu yang tercela dengan memakakan keturunanmu… dan memperkosa wanita manusia, hingga meninggalkan mereka mahluk kotor setengah Dewa membuat kekacauan di Dunia manusia, dan memaksa istri tercinta mu Hera untuk menyelesaikan malapetaka yang kau ciptakan sendiri Olympus….
Dan setelah itu semua kau masih berani mencela sifatku? Ketahui tempatmu! Aku bahkan tidak pernah memperkosa wanita manusia."
Tidak ada balasan, Zeus hanya mengeluarkan ekspresi sengit.
Sirzechs mendesah dalam untuk pembicaraan yang telah menyimpang jauh ini, dia mendesah pelan. Sebuah rumor mengatakan bahwa dewa dari berbagai mitologi saling berpandang bak serigala lapar satu sama lain… dan sepertinya rumor ini benar. "Sebentar, bukan hanya kuil…."
"Bukan hanya Kuil yang kami temukan." Seseorang memotong ucapannya kembali, tepat di sebelahnya dan itu Ajuka dengan ekspresi yang dingin. "Namun juga sebuah eksistensi kuno yang bahkan mungkin jauh melebihi kalian."
Odin terdiam mendengar.
Dan Zeus melebarkan matanya sebelum berbicara. "Apa kebohongan ini, tidakkah kalian tau kami adalah salah satu eksistensi Kuno yang bertahan hingga saat ini di antara runtuhnya ratusan mitologi lain?"
"Kalian berdua boleh tidak percaya, namun dia ada dan hidup hingga saat ini."
Zeus diam matanya bersinar dengan ketidak percayaan di sana.
Dan Odin juga sama diamnya, namun di sisi yang lain dia sudah kehilangan wajah mesum yang dia miliki…. Sebuah ekspresi serius tercetak lurus disana, sesuatu yang sangat jarang dia keluarkan bahkan saat Ragnarok sekalipun.
"Zeus.." untuk pertama kalinya Odin mengeluarkan nada berbeda dari biasanya. Sebuah ucapan tenang namun segera menyadarkan perhatian yang lain akan dirinya. Dan apa yang mereka lihat saat ini bukanlah seorang tua bangkan yang kelewat mesum…. Tetapi seorang pimpinan dewa yang benar.
"Mungkin kau telah lama untuk menjadi lupa, tapi aku tau pasti apa yang mereka ucapkan."
"Odin, jangan berani." Zeus mendesis pelan, menatap dalam pimpinan Dewa Utara itu.
Empat Maou tidak membalas lebih.
"Untuk mengetahui hal ini, kau haruslah Dewa yang sebanding dengan ku, atau mengetahui cerita ini dari mahluk manapun yang setingkat denganku dan Zeus." Odin melirik Zeus, meski menemukan ketidak setujuan dalam mata Dewa itu, namun ia memilih untuk tidak peduli. Menatap tiap mata Iblis muda ia tergelak samar dan melanjutkan. "Benci mengatakan namun jika dia benar-benar bertahan seperti apa yang kalian katakan, maka kemungkinan besar dia adalah mahluk yang terlahir sebelum [Karma] tiba."
Semua yang ada di ruangan ini terdiam tidak mengetahui.
"Zeus, kau pasti pernah mendengar [Karma] bukan?"
"Tentu saja aku mengetahui itu, bahkan sebelum kematiannya Kronos mengutuk begitu dalam mereka semua." Aku Sang Dewa.
Untuk sejenak Sirzechs menjadi ragu, Ia memang mengenal Zeus…. Tetapi siapa Kronos?
"Aku mendengar ini dari Ayahku Borr sebagai mahluk awal setelah [Karma]. "Manusia mengetahui Kami sebagai Dewata Kuno dan awal sebuah mitologi… [Nama] dan [Legenda] tentang diri kita bertahan hingga saat ini adalah karena [Karma]. Namun sesungguhnya itu salah Aku bukanlah sebuah awal dari Nordik… Aku hanyalah sebuah keturunan dari para Dewata Purba….. tidakkah dirimu mengetahui betapa menyedihkannya Aku? Nama Ayahku, nama Leluhurku… di kutuk oleh mereka untuk tidak pernah lagi di sebutkan… di kutuk oleh mereka Ōtsutsuki.
Tidak ada yang mengingat bahwa mereka ada, bahkan ketika aku memaksa menyebut nama mereka, aku tidak bisa mengeluarkan satu katapun tentang mereka. Mengetahui bahwa kau pernah di lahirkan, tetapi tidak pernah mengetahui siapa mereka membuatku sakit. Aku membenci mereka… aku menolak ikut mengutuk nama leluhurku…. Dan aku menolak Langit baru yang di bentangkan oleh mereka Ōtsutsuki!"
Zeus menyentuh telinganya, merasakan ada sebuah cariran yang terperangkap di sana, tidak sulit untuk mengatakan itu apa. Dia tau itu jelas sebuah kutukan saat dia mendengar nama Ōtsutsuki untuk pertama kalinya dia merasa telinganya seperti robek menyakitkan, setelah ucapan kedua dia merasa darah mengenang dan terangkap di dalam sana.
Namun dia mengabaikan, melirik empat iblis lainnya dia tau keadaan mereka jauh lebih menyedihkan. Telingan mereka semua mengeluarkan darah, meski hanya sebuah aliran kecil namun sudah cukup untuk memberi tau betapa mengerikannya kutukan yang di tinggalkan oleh mereka Ōtsutsuki.
"Apa… Nama tadi.."
"Ini adalah kebenaran penganti Lucifer," Odin menatap Sirzechs lurus.. "Mereka telah mengutuk semua Dewa sebelum [Karma] dan memaksa untuk menghapus setiap [Nama] dan [Legenda] tentang mereka. Menolak Dunia yang dibentangkan Oleh mereka, itulah hal yang di ketahui di dalam hati oleh setiap Dewa setelah [Karma].
Namun semua memudar, dan setiap keinginan hilang dari mata para Dewa untuk setiap bergantinya Generasi."
"Pembicaraan kita berhenti di sini," Odin berdiri memandang empat Iblis lainnya. "Ini bukan sesuatu yang kalian dapat untuk mengurus…. Kami Dewa berbeda dengan kalian, bahkan Jika Tuhan dalam Al-Kitab masih ada… ini bukan sesuatu yang perlu untuk dia selesaikan."
Sirzechs teridiam dia tidak mengerti, namun saat ingin menanyakan dia telah menyadari bahwa dua Dewa Kuno itu telah menghilang dari hadapan mereka.
"Mereka menolak begitu saja?" Serefall tidak dapat menahan marah lagi, dia mengelus telinganya yang masih terasa sakit.
"Yahhh walau mereka menolak bekerja sama dan bahkan mamaksa kita untuk menyerah setidaknya kita mendapatkan beberapa… tentang apa itu mereka… para Dewa."
Sirzechs setuju dengan apa yang dikatakan Falbium, meski kesepakatan gagal mereka mendapatkan beberapa hal sebagai gantinya.
Borr dan Kronos
[Karma]
Eksistensi Dewa Purba
Dan Kutukan dari mereka Ōtsutsuki.
"Meski mereka melarang, kita harus melenjutkan pencarian untuk menguak ini. Tidak mungkin untuk mengajak Dewa lainnya…. Hanya dengan melihat mereka aku yakin sikap para Dewa lainnya akan sama." Ajuka menatap lurus kedepan, dia mendesah pelan dan mulai bersandari di kursi… wajahnya jelas menunjukkan dia sangat kelelahan. "Tapi aku yakin saat kita berhasil menguak siapa Naruto… secara tidak lansung kita akan mengetahui sejarah Dewa lainnya.
Dan saat itu tiba mungkin kita bisa berdiri sejajar berhadapan dengan mereka… para Dewa."
Azazel berdiri di depan dinding kuil di mana Naruto pertama kali membuka mata, mata milik pimpinan malaikat jatuh yang menatap setiap goresan gambar yang berusaha menceritakan ke jadian di masa lalu…. Meski dia tau sebagian dari kisah itu tidak memiliki kebenaran di dalamnya tentang apa yang membuat semua terjadi, para Dewa… bagaimana mereka ada dan untuk apa… setiap penciptaan yang terbuang hanya untuk mereka.
Di dalam rellif.
Dia melihat betapa banyak orang yang berdiri jauh darinya… seseorang yang berdiri sendiri tidak ada yang menemani, mungkin itu Naruto, dewa baru yang di bicarakan itu? Dia tidak tau… Azazel tidak memiliki kepercayaan apapun dalam hidupnya, meski terlahir dari jenis yang sama seperti saudaranya yang di atas… namun kepercayaan itu perlahan hilang memudar saat perlahan gelap menjadikannya mahluk suci yang jatuh.
"Dewa….." Malaikat jatuh itu berbisik pelan, meski keheningan tidak membalas… dia tidak meminta, pernyataan itu hanya untuk dirinya sendiri. "Untuk dirimu yang baru terbangun dari tidur yang panjang, apa cerita yang engkau miliki…. Apa yang tersembunyi di dalam sana, sehingga tidak peduli sebanyak apa waktu berlalu… kehendak itu tidak pernah musnah.."
Gambar lain menunjukkan cerita yang berbeda, Azazel tidak bias memahami apa yang terjadi saat ini… mulutnya terbuka berbicara hanya untuk dirinya sendiri.
Dia berjalan kecil ketempat yang lain, dan melihat sebuah ruangan seperti tempat bekas pertarungan yang baru saja berlalu di tempat itu. Hampir semua rungan itu rusak seperti baru saja habis terbakar, beberapa bagian yang lain menghilang seperti terkikis sesuatu. Azazel mengedipkan matanya saat merasakan pasir memasuki matanya… meski itu tidak akan membutakan untuk mahluk sekelas dirinya tapi jujur itu cukup menganggu.
"Coba ku liat." Sebuah catatan kecil muncul entah dari mana. "Ini adalah tempat pertemuan Putri Gremory dengan Dewa tersebut… oh~ apa ini juga ada pertarungan antara seorang dari keluarga Phenex dengan Dewa tersebut… ah, dasar Iblis."
Meski tempat itu terlihat telah rusak parah, namun bagi Azazel ini adalah tempat yang ideal untuk memulai segalanya. Gubernur itu tersenyum dan mulai mengambil langkah kecil untuk mulai berputar memperhatikan ruangan.. "Dia terbangun di sini."
Matanya mulai meyusuri setiap gambar yang terpahat di dinding, cukup banyak yang terpahat di dinding ini…. "Ah… lihat bagaimana ini." Azazel berjalan mendekat, melihat dengan jelas seseorang yang berdiri di depan beberapa mahluk raksasa… beberapa dari mereka terlihat familiar dalam ingantannya meski dia tidak mengenal yang lain. Dan setelah semua terlihat bagaimana pahatan itu menjelaskan bahwa orang itulah yang memimpin para raksasa itu.
"Tidak mungkin mereka tidak ada bukan.." Azazel tertawa pelan, ini cukup menarik… hampir sama semenarik bagaimana Sacred Gear bekerja.
Dia kembali berputar, namun saat itu tubuhnya menengan untuk suatu alasan… bukan karena ketahuan oleh Iblis lainnya… untuk mahluk sekelas dirinya bahkan dia sebanding dengan Lucifer original… jadi itu bukan alasan… untuk sebuah ketakutan
Tapi.. matanya bergetar… sebuah relif terpahat di sana memperlihatkan segalanya. Itu hitam sebuah kehitaman pekat yang lebih gelap dari pada malam. Meski gambar itu telah rusak dan tidak memperlihatkan dengan jelas apa itu, namun Azazel masih mengingat dengan jelas itu… ketakutan yang pernah dia rasakan bahkan sampai ke dalam jiwanya… mahluk itu adalah alasan kenapa semua sistem menjadi kacau saat itu…
"Hampir semua orang tidak mengetahui akan wafatnya Tuhan dalam Al-Kitab… sebagian yang lain mengetahui Tuhan dalam Al-Kitab wafat akibat Naga pembawa petaka Trihexa. Namun setelah semua hanya kita berdua yang mengetahui dengan benar apa yang sesungguhnya terjadi pada hari itu Azazel."
Azazel melirik kebelakang, matanya menyipit untuk seseorang yang bersembunyi di balik bayang gelap.
Dia… sosok yang sangat ia kenali..
"Pada hari itu… yang akan di segel oleh ayah bukanlah Trihexa… tapi sesuatu yang lebih jahat dari pada itu… meski mengetahui bahwa Ia akan ikut tersegel bersamaan dengan mahluk itu. Ayah tetap memilih menyegelnya hingga ke tepi Dunia ini. Aku masih mengingat mahluk itu…" tatapan sosok itu tidak menatap Azazel, namun menatap gambar rusak yang terpahat dalam dinding dimana Naruto bangkit dari sana.
"…. Mengingat bahwa itu masih mengutuk Dunia hingga saat ini."
"Rias.." Naruto menatap ragu gadis di depannya untuk sejenak. "Apa ini?"
"ini?" Rias meletakkan tumpukan buku itu di atas meja. "Lihat aku membawa beberapa buku yang berhubungan dengan Mitologi."
Naruto berkedip dan melirik tumpukan buku di atas meja itu kosong. Dia menatap Rias dalam diam sebelum berbalik kembali menatap sebuah kotak kaca yang baru di berikan oleh issei, di sana dia bisa melihat dua seorang manusia yang ingin melakukan hal-hal aneh… Naruto menatap kotak kecil itu dengan tatapan kosong, walaupun kehilangan ingatan… dia tau apa hal aneh itu.
Tapi dia tidak mengerti, mengapa manusia itu melakukan hal aneh itu bisa di lihat melaui kotak kecil ini?
"Naruto, kamu tidak memperhatikan lagi?" Rias menutup buku tebal miliknya dan menatap Naruto yang di sudut sana sibuk menatap smartphone milik Issei, dengan menghela nafas gadis itu mendekati Naruto yang terlihat bingung, Rias tertawa kecil saat melihat bagaimana wajah itu begitu kosong dalam ekspresi…. Namun iblis itu tau itu hanya sebuah keluguan murni.
Dia mendekat dan mengambil smartphone itu dengan santai, bisa merasakan tidak ada perlawanan dari Naruto saat Rias melakukan itu. Dia menatap layar pada smartphone itu namun ekspresinya berubah seketika saat melihat apa yang ada di dalam sana…. Itu…. Itu…. Dia berkedip dan kembali menatap Naruto yang balas memandangnya tidak peduli.
"Naruto, apa ini?"
Naruto dia sebentar, dan berfikir. "Itu kotak ajaib….." Dewa itu terlihat ragu sejenak, seperti menyadari bahwa ada sesuatu yang salah. "Itu yang dikatakan Issei.."
Rias batuk sejenak, mengabaikan jawaban itu. Gadis itu kembali menatap apa yang ada di dalam smartphone itu sebelum mengeluarkan ekspresi jijik. "Maksudku dengan ini." Rias menunjuk tayangan dua orang berbeda gender yang sedang melakukan hal-hal aneh.
Naruto berkedip, dia menatap Rias seperti mengisyaratkan bahwa iblis kecil itu aneh.
Dan entah kenapa Rias bisa mengartikan tatapan itu… "Jawab, Naruto!"
"Mereka melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan…" Naruto menjawab void, matanya menatap kembali pada kotak kaca itu dan menatap Rias. "Mereka melakukan itu untuk melestarikan ras mereka, kau bukan juga akan melakukan itu suatu saat Rias."
"Ka-Ka-Kamu.." Rias menundukkan wajahnya yang merah padam, bagaimana Dewa ini bisa begitu lugu…. Tidak dia tidak lugu sama sekali Naruto ini idiot besar. "Kamu mengatakan itu dengan santainya?"
Naruto diam tidak menanggapi, dia diam menatap wajah Rias yang merah padam. Naruto ingin mengatakan, seperti mengapa gadis itu marah pada hal sejenis ini…. Namun pada akhirnya ia memilih diam.
"Lupakan," Rias menup tayangan itu dan menatap Naruto, mencoba mengambil kembali ketenangan yang hilang. "Mengapa kamu menyaksikan tayangan ini?"
"Itu adalah Surga di Dunia ini…" Naruto menjawab datar… sebagaimana ia yang biasa. "Itu yang di katakana Issei… ku kira hal itu dapat di benarkan karena Jiwanya telah di tolak oleh Surga, sehingga dia mencari Surga yang lain bagi dirinya meskipun itu palsu. Tapi hal yang tidak aku mengerti adalah bagaimana adengan itu bisa ada di dalam kota kecil itu."
"Di dalam ini?" Rias memperlihatkan benda itu. "Ini smartphone… dan apa yang tadi kamu lihat adalah apa yang tidak boleh di lihat… itu buruk."
"Tapi itu adalah Surga menurut Issei."
"Tidak ini adalah hal yang buruk." Rias tidak tau harus bagaimana meyakinkan Naruto.
"Jika itu buruk, kenapa Issei mengatakan itu adalah Surga."
"Ini bukan seperti itu, Surga itu jauh di atas sana." Rias spontan menunjuk langit-langit, mengisyaratkan bahwa Surga berada di atas langit.
Dan Naruto terdiam, cukup lama untuk diam menatap Rias.
Rias menghela nafas, terkadang menyaksikan kelakuan penuh nafsu dari Issei cukup membuatnya lelah. Meski Issei adaalah sesuatu yang lucu dalam pandangannya, namun hawa nafsunya cukup menyamai bagaimana semua ketidak normalan tercipta. Dan terkadang Rias juga setuju menganggap Issei adalah kumpulan hawa nafsu yang hidup.
Ah~ Rias merasa jahat terhadap Issei, Issei adalah Issei… itu yang penting.
"Dia tidak akan bisa kesana bukan?"
"Eh?" Rias tersadar, dia melihat Naruto yang menatapnya diam… terlihat dingin, terlihat seperti ada sesuatu yang salah dari pandangan itu.
"Rias, aku mungkin buta tentang dunia… tapi aku tidak terlalu bodoh untuk mengetahui bagaimana Dunia ini berputar saat ini. Issei dari kisahnya manusia itu dahulunya adalah pemeluk Kristen… meski bukan pemeluk yang taat, tapi mungkin ia masih meyakini apa yang berada di dalam hatinya." Naruto menatap Rias, namun pandangannya memutuskan untuk menatap buku-buku tebal yang menumpuk di meja. "…. Hingga saat ini."
Rias terkejut mendengar ini, emosi yang tiba-tiba berubah dari pemuda di depannya yang tidak dapat gadis itu pahami. Menatap Naruto, seperti ada penolakkan sakit yang terlihat jelas dari wajahnya.
"Bahkan ketika ia menjadi Iblis… keinginan untuk memiliki Surga mungkin akan tetap ada." Dewa itu berhenti sejenak, menatap Rias dengan dalam untuk segala yang tidak ia mengerti. "Tidakkah kamu mengetaui, Langit para Dewa telah menolak jiwanya. Dan Surga yang ia impikan dalam kepercayaanya juga ikut mengutuknya dalam. Bahkan neraka sendiri bukan tempat bagi Issei untuk kembali, meski memiliki usia yang panjang….. namun setelah itu tidak ada jalan baginya untuk pulang. Hanya kehampaan yang berada di ujung jalannya. Tidak. Di ujung jalan mereka semua… hanya kehampaan yang ada."
Rias menatap Naruto diam, saat menyadari tatapan mereka bertemu gadis itu menjauhkan tatapannya. Ada perasaan yang salah di dalam hatinya saat Naruto menegatakan itu. "Mengapa kamu mengatakan ini?"
Naruto memutuskan untuk tidak menatap gadis itu. Rias bertanya kenapa ia mengatakan itu, ia bingung mengapa tiba-tiba ia mengatakannya…. Mengapa..?
Tapi..
Mengapa? Mengapa ia begitu jahat… mengapa mengatakan hal tersebut? Bahkan jika rasa sakit ada saat melihat kenyataan, bagaimana mungkin ia menyeret orang lain dan memaksa mereka merasakan rasa sakit yang ia rasakan. Tidak seharusnya seperti itu.
"Aku tidak tau mengapa…" Naruto menjawab kosong, tatapan yang tidak menyembunyikan apapaun. "Aku tidak pernah mengerti. Saat aku melihat Issei, saat aku melihat mahluk yang kalian reengkarnasi entah mengapa sesuatu di dalam diriku meresa sakit.
Meski Lucifer mengatakan Iblis telah berubah, meski Dunia ini sangat berbeda dari yang aku kenal. Entah mengapa beberapa perubahan menyebabkan hatiku sakit."
Rias POV
"Aku tidak tau mengapa.." Aku mendengar Naruto menjawab kosong, dan tatapan yang tidak menyembunyikan apapaun, saat mata kami bertemu. "Aku tidak pernah mengerti. Saat aku melihat Issei, saat aku melihat mahluk yang kalian reengkarnasi entah mengapa sesuatu di dalam diriku meresa sakit.
Meski Lucifer mengatakan Iblis telah berubah, meski Dunia ini sangat berbeda dari yang aku kenal. Entah mengapa beberapa perubahan menyebabkan hatiku sakit."
Seharusnya tidak perlu bertanya. Karna, sejak awal pertemuan kami aku harusnya telah mengetahui semua ini.
Dari awal kami bertemu, dan hingga saat ini aku tidak pernah mengerti bagaimana cara Naruto memandang Dunia yang sekarang. Aku terdiam menatap dirinya yang kosong melihat jauh kearah jendela sana.
Kadang aku berfikir bagaimana cara agar dia mulai mendapatkan kembali ingatannya, kadang aku berfikir bagaimana cara agar dia mulai menjadi nyaman hidup di Dunia yang sekarang meski dengan segala ketidak tahuannya. Dan dari itu semua terkadang aku mungkin merasa menyesal pernah bertemu dengannya.
Dan terburuk….. aku merasa takut.
Perbedaan padangan kami, hal-hal yang selalu saling bertolak belakang. Dan cara kami menatap Dunia, Naruto dan aku tidak pernah sejalan. Meski kami sering bersama, namun kami tidak pernah berada dalam satu garis pemikiran yang sama untuk setiap hal. Untuk hal-hal yang terjadi kami selalu berbeda cara pandangan.
Dunia berubah, itu yang kami katakan kepada Naruto.
Pada saat awal mengatakan hal itu, semua dapat melihat tatapan kosong itu menatap tidak mengerti untuk setiap hal. Seiring berjalan waktu, Naruto mulai belajar untuk hal-hal yang ada di Dunia yang sekarang. Kadang dia tidak mengerti untuk satu-dua tempat, kadang dia tidak mengerti apapun…. Mata lugu yang menatap kosong Dunia.
Walau demikian kami semua tetap membantunya, tetap terseyum untuknya yang tidak tahu akan hal apapun. Meski aku tahu betul apa yang ada di dalam sana.
Meski terlihat kosong, aku bisa merasakan penolakkan dari Naruto untuk Dunia yang sekarang. Menolak kenyataan yang ada, rasa sakit saat mengetahui Dunia telah berubah menjadi sesuatu yang asing bagi diri sendiri. Rasa sakit mengetaui Dunia tidak lagi seperti yang dulu engkau kenal lagi. Dan rasa sakit saat ketika harus menerima kenyataan yang tidak akan pernah berjalan sesuai lagi dengan apa yang kau harapkan.
Karna Dunia sudah lama berputar untuk sebuah perubahan.
Dan Naruto tahu akan hal itu, bahkan jika ia mencoba menolak ia harus tahu akan hal itu.
Bahkan jika ia membangun pembatas tipis antara dia dan Dunia…. Pada akhirnya Naruto harus menerima semua kenyataan itu.
"Maafkan aku.." Tatapan kami bertemu saat Naruto bersuara untuk meminta maaf. Aku menatapnya, menatap dia yang bahkan masih memiliki kekosongan ekspresi saat mengucapkan permintaan itu. "Itu menyakitimu, aku tau itu sangat dalam menyakitimu. Untuk berbagai hal, hal-hal yang baru dalam pandangaku dan hal-hal yang tak dapat aku terima itu berbeda. Semua pada akhirnya akan menuju perubahan itu sendiri, bahkan hal-hal yang tak seharusnya terjadi akan terjadi."
Naruto menatapku, tangannya bergerak menyentuh tangannku dan meremasnya lemah.
"Aku tidak tau harus bagaimana…. Saat melihat kalian para Iblis mulai mengubah manusia dan mahluk lainnya menjadi jenis dari kaum kalian, aku merasa tidak pernah bisa menerimanya. Untuk beberapa alasan, kalian mengubah mereka dari yang mati….. beberapa alasan kalian mengubah mereka dari kondisi asal mereka.
Aku hanya tidak dapat menerima itu semua, bahkan jika dasar itu semua adalah kebaikkan dalam kata kalian….. semua tidak lebih hanya sebuah keegoisan dalam pandanganku."
Aku meremas tangan kurus itu keras dan bergetar, mendengar bagaimana Naruto mengucapakan itu. Merasakan sebuah sakit saat mendengarnya… kenapa Naruto, apa sebegitu dalam kamu membenci Iblis yang bahkan setelah kehilang dalam ingatan rasa benci itu masih tersisa ada. "Apa sebegitu dalam kamu membenci kami?"
Aku tau Naruto terdiam cukup lama setelahnya, dia tersenyum kosong. "Aku tidak membenci kaum kalian, bahkan jika aku kembali memiliki apa yang ada seperti dahulu… kebencian itu mungkin tidak pernah ada. Kalian lahir dari tangan Tuhan dalam Al-Kitab, tidak pernah terhubung dengan hukum dan kehendak Kedewaan kami."
"Tidak ada alasan untuk membenci kalian sedikitpun. Mungkin ini hanya karena ketidak terimaanku saja di dalam hati, mungkin ini karna keadaan bahkan jika aku hidup lebih lama dengan mempertahankan harta ku semua kegelisahan ini tidak akan terjadi. Atau mungkin ini karena…"
Aku terdiam menunggu ucapan dari Naruto namun itu tidak pernah datang. Aku melihat Naruto, mata pemuda itu bergetar untuk pertama kalinya aku melihat ada kegelisaan di dalam tatapan yang kosong itu. Aku bergeser lebih dekat, meremas tangan kurus itu berusaha menenangkan. "Naruto… apa yang terjadi."
"Karma"
Dan aku hanya terdiam.
"Mungkin semua ini terjadi karena Karma.."
Karma? Aku menatap pemuda itu binggung apa yag terjadi.
Namun Naruto ku lihat hanya menatap telapak tangannya sendiri, dia masih tersenyum dengan kosong. Dan mengalihkan hingga tatapan kami bertemu, ia menatap ku cukup lama hingga kembali tersenyum. "Mungkin itu karena Karma.."
"Apa maksudmu Naruto?"
"Aku mengingat sesuatu Rias.." Aku terkejut, menatap Naruto aku melihat tidak ada alasan baginya untuk berbohong. "Seseorang menyebut namaku, meski itu bukan di tujukan untuk ku. Namun itu secara garis besar masih berkaitan dengaku."
"A-Apa yang kamu ingat." Aku berseru tanpa sadar. "Sejauh mana yang kamu ingat."
Aku melihatnya berusaha berfikir keras. "Tidak terlalu, tetapi itu sesuatu seperti Kutukan….. Karma."
"Begitukah?" Sona membetulkan letak kaca matanya saat mendengar hal tersebut. Gadis itu terdiam sesaat dan memandang Rias yang duduk di depannya sebelum menghela nafas lelah. "Dari apa yang aku dengar, jika memang seperti itu kemungkinan besar Naruto bukanlah seorang Dewa malapetaka."
"Aku juga sempat berfikiran begitu." Rias menjawab yakin, namun segera menjadi ragu saat itu juga.
Sona melihat keganjilan dari teman baiknya itu dan mulai menutup buku yang dia baca, meletakkan buku itu di atas tumpukkan buku lainnya. "Dari sifatnya terlihat jika ia sangat mencintai Manusia dan berbagai mahluk lainnya yang tidak kita tau. Bahkan dalam ketidak terimaannya masih tidak ada kemarahan dalam dirinya saat mengetahui kenyataan Evel piece para Iblis."
Menghentikan ucapannya, gadis itu melirik seorang pemuda masuk dan menyerahkan buku yang lain. "Ini, Kaichou."
"Terimakasih."
Sona memandang buku tersebut, sebelum memandang Rias. "Tetapi… mengapa harus kutukan karma?"
"Setelah itu Naruto mengatakan dia tidak ingat apa-apa lagi." Rias membalas cepat, wajah gadis itu masih muram bahkan setelah menyampaikan ini kepada Sona. Meski berlalu dan dengan permintamaafan dari Naruto, rasa sakit masih tersisa di hati untuk setiap perkataan itu.
"Kau harus bisa mengabaikan rasa sakitmu, Rias." Sona menatap gadis itu sesaat, dia memandang biasa walau gadis itu mengetahui mengapa Rias seperti ini. "Mungkin Naruto hanya tidak bisa menerima Dunia yang sekarang. Atau mungkin Iblis… Leluhur kita mungkin memang seburuk yang tertulis dalam Al-Kitab."
"…" Rias tidak memeri jawaban untuk itu, tatapannya bergeser pada tiap tumpukkan buku yang berada di atas meja Sona.
"Tapi bagaimanapun-"
!?
Sona tidak pernah menyelesaikan ucapannya, matanya bergetar saat menatap Rias. Gadis itu menatapnya kosong seperti mengalami shok berat, dapat ia rasakan darah meletus keluar dari telinga teman baiknya itu.
Itu merah, pecah dan merah. Sona tidak dapat berfikir lebih saat merasakan sebuah sensasi sakit serasa merobek kepalanya terpisah, merasa genangan cairan menumpuk dan menembak keluar dari ronga telinganya. Bahkan sebelum kehilangan kesadaran, ia masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Hal terakhir sebelum jatuh dalam ketidaksadaran, hal yang dapat ia ingat di antara rasa sakit dan teriakkan.
Sebuah bisikan, serak dan penuh dengan nada kutukan di dalamnya.
Gadis itu berdiri di sana seorang diri menarik perhatian siswa lainnya untuk sebuah keanehan yang dia miliki. Kuoh Academy, isitirahat siang… hari panas tidak berawan seperti biasanya. Gadis itu berdiri menarik setiap pasang mata untuk menatapnya, untuk setiap helaian rambut hitam yang jatuh seperti tirai malam yang tenang, kulit putih yang lembut, dan mata hitam yang menatap dalam seakan menghisap siapapun. Dan semua tatapan siswa yang tertuju padanya, untuk dia yang memiliki rupa bukan untuk dunia ini.
Sebuah keindahan mustahil yang hampir mencapai titik ilusi.
"Naruto.." setiap pasang mata dapat melihat bagaimana gadis itu menunjuk seorang pemuda. "… Bergabunglah denganku.."
Namun tidak ada yang dia terima selain jawaban bisu dari pemuda itu.
Dan tidak ada kemarahan setelahnya seolah itu adalah hal yang biasa.
"Kau yang terlahir dari rahim wanita itu." Tidak ada perubahan pada wajahnya, nada yang sama tanpa emosi seperti sebelumnya. "Kau yang tidak pernah menjadi sempurna, namun sanggup menduduki tahta tertinggi diantara jenismu."
"Naruto.." seperti suara kaset yang rusak, gadis itu mencoba mengambil kata selanjutnya. Suara yang tidak lagi jelas… darah hitam yang mengalir dari mulut gadis itu, dan sebuah senyum yang penuh kegilaan. "********.."
"…. Ōtsutsuki….. ********…. Naruto." Teriakkan mengema seketika, darah merah melayang di udara seperti meledak. Semua siswa yang berdiri di lapangan jatuh pingsan tak sadarkan diri dengan telinga mereka yang mengeluarkan darah. Gadis itu tersenyum sesaat, tersenyum untuk dunianya…. Tersenyum saat pemuda yang di tatapnya mulai merespon suaranya, tersenyum saat bagaimana tatapan tidak percaya di layangkan oleh pemuda itu.
Dan setelah itu hanya bisikan yang mampu ia dengar. "Apa yang telah kau ucapkan."
.
.
.
Mata Naruto melebar saat mendengar nama itu, bahkan di saat para manusia berjatuhan akibat kutukan itu. Naruto masih menatap dalam gadis yang berdiri di hadapannya.
"Apa yang kau ucapkan.." Ia berbisik pelan.
Hingga terlalu lama sebuah ingatan yang seharusnya menjadi miliknya kembali terlintas seketika.
"Kenapa? Kenapa kalian kembali melakukan kesalahan yang telah di lakukan oleh Malam?"
"Kenapa kalian ingin menyegel langit?"
"Bagaimana bisa kalian membenci kami sedangkan kita berasal dari jenis yang sama!?"
"Manusia tidak akan pernah menjadi Dewa..… kami tidak akan pernah mengakui mereka, para Dewa Palsu! Mereka hanyalah para budak dari kehendak Jah'ad!"
"Untuk kesembilan daratan dan satu lautan… langit seharusnya dimilik Li, tidak seharusnya Jah'ad menabur langit di atas Li."
"Kami menolak hal ini, kami menolak langit baru yang kalian bentangkan Ōtsutsuki."
"Karma!"
"Anda harus percaya bahwa saya adalah teman terbaik Anda."
Dan Yuki kembali, semoga masih ada yang mau mengunggu.
Ujian semester telah selesai dan Libur panjang mulai memasuki babak baru, dan seperti biasa Yuki bisa meluangkan waktu untuk menulis Fic di samping kegiatan Liburan lainnya.
Ok, untuk chapter kali ini nampaknya Fic Rikudo akan mulai masuk kedalam permasalahan yang ada di dalam Fic ini. Mulai itu dari siapa Naruto akan secara bertahap terungkap, dan apa yang terjadi sebenarnya pada Zaman dahulu kalah #ea :v
Ah~ dan untuk kali ini pencampuran antara berbagai keyakinan itu sedikit sulit karna agama itu tema yang berat yah… jadi Yuki mencoba untuk tidak terlalu menitik beratkan untuk masalah ini. Bagaimana ya menjelaskannya…. Intinya Yuki hanya ingin bermain aman :3 #plak.
Dan juga ada adengan dimana Naruto yang udah galau melihat perbedaan Dunia ini. Disini Yuki mau buat Naru secara bertahap untuk menerima Dunia ini bukan lansung sadar lansung ok ok aja dengan keadaan sekitar….. perlu adaptasi secara bertahap.
Walahhh… rasanya cukup panjang untuk curhatan author ini. Intinya Yuki libur = ada update fic untuk kedepan (mudah-mudahan) ^^
Dan untuk pembaca tercinta mohon review chapter kali ini untuk mengetahui bagaimana kwalitasnya masih bagus atau udah menurut. :3
Sampai jumpa di chapter mendatang.
