ikudo

Disclamer : Bukan mili Yuki


Warning : Typo, Update tidak menentu


Sinopsis : Pada awalnya dia hanya pecahan dari seorang dewa, yang menunggu waktu untuk memudar saat manusia semakin melupakan 'Nama' dan 'Legenda' tentang dirinya.

Namun saat Gadis Iblis itu datang membuat sebuah permohonan. Membuat penantiannya menjadi kacau dengan masalah yang datang setelah permohonan aneh itu.

"Bisakah kau lindungi aku?"


Chapter 4 : Erugu Ykaz Aslas

Ōtsutsuki.

Itu sebuah tembat tak bertanah yang tenang, tidak juga memiliki langit dan penuh warna seperti kelideskop yang indah. Mahluk kolosal itu mengambang dengan tenangnya. Mata itu tertutup menyembunyikan segalanya, tanpa melihat sesekali ia menghindari beberapa bangunan yang mengambang melayang, yang menuju kearahnya.

Tidak peduli itu sisa bangunan, sisa patung yang tidak lagi utuh dan apapun yang tidak berbentuk di sana ia hindari tanpa ingin mengubah posisi yang ada. Tidak ingin menambah kerusakan yang telah terjadi, mahluk itu mengambang dengan tenang, bergerak acak tak tentu arah. Mengambang menuju ujung tak bertepi dunia ini.

Terkadang ia melihat bongkahan tanah raksasa sebesar sebuah pulau mengambang penuh dengan kerusakkan. Terkadang ia melihat bebetuan yang berbaris menyusun bentuk suatu jembatan.

"Tuan ku.." Seruan lembut sebuah suara, matanya menatap ratusan Dewa berdiri di atas batuan itu menatap kosong ke depan. "Kami mengikuti Li, meski Ōtsutsuki menghancurkan tempat ini…. Kami percaya engkau akan kembali dan memenggal kepala mereka."

Ia mendengus pelan asap keluar dari hidungnya. Sayap penuh sisik itu mengembang dan mengepak pelan, ia tak pernah berfikir itu akan terjadi. "Para Dewa Palsu"

Ia mengingat semua itu seperti baru terjadi seperti kemarin, setiap hari di tempat ini selalu terjadi seperti baru kemarin. Mereka awalnya adalah Manusia, menjadi Dewa setelah mengikuti seorang Dewa tertinggi dari salah satu Mitologi Purba. Meski mereka hanyalah Dewa Palsu, keabadian Dewa tetap menjadi milik mereka. Dan mereka percaya untuk hari keruntuhan bagi Ōtsutsuki, walau waktu telah berlalu begitu lama sejak saat itu…. Keyakinan mereka tidak pernah musnah. Hingga ketika mereka benar-benar di hapus oleh Karma, hanya sisa-sisa frakmen kecil dari harapan itu.

Pertanda bahwa mereka benar pernah ada.

Sebuah harapan yang bahkan Karma tidak sanggup menghapus itu.

Ia melewati tempat itu, melayang tak menentu. Hingga akhirnya ia mendengar sebuah bisikan samar…. Dan ratusan tahun hingga ia tidak pernah mendengar nama itu lagi. "….Ōtsutsuki"

Dan matanya melebar hingga sebuah celah dimensi retak dan muncul di hadapannya.


Itu sebuah kenangan yang buruk, ia tidak mengerti terlalu jauh bagaimana para Dewa yang lain begitu jauh mengutuk dirinya dalam.

Sebuah langit yang indah penuh dengan warna yang menyatu, dimana jutaan daratan rusak dan mengambang. Para Dewa dan Dewa Palsu mati berterbangan bagaikan debu awan.

"Tuanku, kami percaya Anda akan memenggal kepala Otsutsuki sebagaimana Anda memenggal Li jutaan tahun yang lalu. Tetapi mengapa, mengapa Anda pada akhirnya runtuh"

"Dia hanya setengah Dewa, mengapa begitu kuat? Kami menerima dia, namun mengapa membenci kaumnya sendiri?"

Menggema, itu bukan sebuah suara dari mahluk manapun. Bukan kutukan dari para Dewa dan Dewa Palsu, melainkan sebuah kehendak yang bahkan Karma tidak memiliki kesanggupan untuk menghapusnya. Sebuah kehendak kuat yang tidak akan terhapus bagaimanapun lama berjalannya waktu.

Sebuah kehendak... Yang sangat sangat buruk.

Naruto bergetar sejenak merasakan sesuatu begitu dalam menusuk kepalanya, ia tidak mencoba untuk mengerang di depan gadis itu, namun rasa sakit itu nyata adanya.

"Merasakan sesuatu Naruto?" Gadis itu berujar pelan, sebuah nada yang kosong dengan ketidak pedulian di sana. Menatap Dewa itu, dia yang terlihat begitu sekarat.

Dan Naruto berdiri, tubuh yang sedikit goyah seakan bisa jatuh kapanpun. Rasa sakit itu masih tersisa ada di sana, namun ia tidak menunjukkannya tidak ingin memperlihatkannya... Hanya sebuah kekosongan menutupi begitu rapat apa yang ia rasakan.

"Siapa dirimu?" Naruto berujar pelan, tidak pernah menatap... Tidak ada keinginan untuk itu. "Bagaimana bisa kau mengetahuinya."

Dia hanya tidak mengerti, sungguh tidak mengerti bagaimana gadis kecil itu tahu. Seharusnya tidak seperti itu. Sesuatu yang tidak akan ada lagi seharusnya tidak ada lagi, tidak peduli bagaimana usaha untuk mencarinya. Karna Karma telah mengubah langit para Dewa, menghapus [Nama] dan [Legenda] tentang mereka... Mereka semua.

Termasuk dirinya.

Tidak ada yang tersisa dari semua itu.

Tetapi seharusnya memang seperti itu.

"Aku ada sebagaimana kau ada menjadi sebuah kelainan. Bukan hanya aku, begitu juga dengan mereka berdua ... Adalah ada karena alasan yang sama." Gadis itu berucap kosong, menatap Naruto. Dia mengambil langkah kecil mendekat, beberapa kali melompat untuk melangkahi siswa Kuoh yang jatuh.

"Jika kau mampu memecahkan mengapa Karma tidak sanggup menghapus keberadannmu yang menyedihkan, dan membiarkan Dunia mendengarkan namamu (Naruto) yang jahat, maka kau akan mengetahui mengapa kami mampu untuk mendengar [Nama] dan mengetahui [Legenda] tentang dirimu."

Naruto hanya menunjukkan kekosongan tidak berarti saat mendengar kalimat itu. Menatap gadis itu yang telah berada di depannya, menatap dia yang tidak ia kenali sama sekali lagi. "Seberapa jauh yang kau ketahui."

"Tidak banyak, hanya beberapa serpihan kecil dari keseluruhan."

Saat tatapan mereka bertemu untuk pertama kalinya dia tau bahwa Dewa yang berada di hadapannya sangat berbeda dengan apa yang dia dengar.

"Mereka bilang kalian (kau) adalah mahluk yang tidak berperasaan." Gadis kecil itu berhenti saat merasakan perbedaan di sekitarnya, menyadari bagaimana munculnya tumbuhan secara tidak normal di setiap permukaan, melihat bagaimana tanaman itu mulai menyelimuti setiap Manusia yang tumbang, tidak itu menyelimuti setiap mahluk yang tumbang setelah kutukan itu. Dia tertawa hambar, menatap mata biru itu, yang mempunyai sifat yang sama dengannya. Penuh dengan kekosongan.

"Lalu mengapa kau yang harusnya dahulu berada di tingkat tertinggi memiliki perasaan. Mengapa? Bahkan setelah menduduki tahta tertinggi, kau memutuskan untuk mengakhiri semua. Mengapa begitu membenci jenis mu sendiri? Mengapa begitu jahat?"

Naruto menatap gadis itu, ia hanya menatap terdiam. Sebuah serpihan [Nama] telah di ucapakan, dan sebuah potongan [Legenda] telah di ceritakan. Namun ia masih tidak mengingat apa-apa, hanya serpihan, hanya potongan-potongan ingatan yang menghampirinya.

"Aku tidak bisa menjawab itu." Naruto berbisik lirih, namun ia yakin siapapun gadis ini, dia bisa mendengarnya. "Bahkan jika diri mu membawa serpihan itu, tidak akan ada yang berubah. Bahkan jika aku memang seperti yang kau katakan, aku yang sekarang tidak akan bisa menjawab."

Gadis itu menatap Naruto diam seperti peduli untuk mengerti. Dia hanya diam menatap pemuda kurus di depan ya. "Bahkan jika ingatan itu telah hilang, tidakkah bisa kau merasakannya? Setiap kesedihan dari mereka, setiap kutukan yang mereka ucapkan hanya untuk mu?"

"Tidak."

!-

"Memang..." Gadis itu diam, menatap Naruto lama namun tak mendapat jawaban apapun. "Selalu seperti itu, Otsutsuki kalian (kau) memang selalu seperti itu."

Bagaikan racun, kutukan busuk yang mencemari Dunia saat nama itu terdengar.

Membunuh perlahan setiap mahluk yang berada di sekitar dirinya perlahan.

"Hentika menyebut nama itu." Naruto berucap pelan, matanya melihat kebelakang gadis itu, menatap setiap murid Kuoh yang terlindung di dalam rimbunan tanaman itu. "Tidakkah kau mengetahui, bahwa nama itu seharusnya tidak ada lagi di dunia ini."

Gadis itu menatap bingung, terlihat seperti berfikir sejenak. "Aku tidak mengerti, mengapa aku harus berhenti menyebut apa yang aku ketahui?"

!-

Dan sebuah tangan bergerak cepat hampir menusuk mulus gadis itu.

Naruto tidak merasakan apapun saat tangan kanannya meledak merah, matanya tajam menatap gadis itu... menatap mulut yang terbuka itu.

"Betapa menyedihkannya..." Gadis itu tertawa pelan... "Kau menyedihkan Dewa!"

Dan Naruto meledak hebat di hadapan gadis itu, pot tanaman yang berada dalam genggamannya jatuh dan pecah berdarah merah tertutupi darah yang jatuh. Dia tidak peduli bahkan saat merahnya darah mengenai wajahnya dia tidak peduli sama sekali. Karana dia tau, dia tau itu tidak cukup untuk menghapus keberadaan Naruto, sedikit jauh dia tau bahwa debu mulai berkumpul dan menyatu membentuk tubuh seorang pemuda.

Kekelan, seperti bunga yang tak dapat di hancurkan. Selama Dewa masih memiliki hartanya meskipun hanya serpihan, mereka kecil kemungkinan akan selalu eksis.

Walau tidak mungkin dilakukan Dewa yang sekarang, tapi bagi mereka ... Dewa sebelum Karma, mereka memang eksistensi yang berbeda di luar Dunia ini.

Membuatnya semakin menginginkan.

"Iblis itu mencari [Nama] dan [Legenda] tentang dirimu meski itu tidak akan mungkin." Gadis itu berbicara pelan, menatap lapangan kosong. "Bahkan meski itu tidak mungkin, dia tetap melakukannya hanya karna kau memintanya."

Namun dia tidak mendengar jawaban, hanya kekosongan yang membalas suara itu.

"Mengabulkan ke inginannya... bahkan dia tidak memiliki keinginan untuk di ucapkan. Ini lucu Naruto, bahkan jika kau kehilangan ingatan kau tidak bisa menjadi sebodoh itu... Jadi apa yang kau cari? apa yang sangat kau harapkan dari Iblis kecil itu?

Apa yang kau cari? Mengapa memilih bertahan?

Apakah semua hanya sebuah lelucon bagimu, Dewa yang busuk."

"Dan apa yang kau inginkan?" Naruto tidak menjawab itu, pemuda itu balik bertanya.

"Realm of the gods"

Naruto terdiam dan menghembuskan nafas lelah setelahnya. "Itu telah lama hancur."

Gadis itu tersenyum, dia hilang sejenak sebelum muncul di hadapan Naruto, mengambang dan kedua tangan yang membingkai wajah kurus pucat itu. "Bahkan jika itu runtuh, keberadaan mereka masih menjadi sesuatu yang tidak dapat di jangkau oleh mahluk saat ini."

"Tidak ada yang tersisa dari tempat itu, sudah tidak ada lagi yang terisisa." Naruto berucap kosong tidak ada nada apapun di sana. "Bahkan jika itu ada, tidak ada yang di izinkan untuk pergi ke sana..." Mata yang menatap gadis itu.

"Takutlah pada Karma mu."

"Aku tidak takut dengan hal yang seperti itu." Tangan gadis itu menyentuh perut Naruto pelan, menekan dan menusuk dengan pelan... Tersenyum. "Setidaknya dengan kau yang sekarang, aku tidak perlu takut dengan Karma milikmu."

"Terlalu angkuh." Tangan Naruto kembali mengengam sebah tombak, dengan gerakkan cepat ujung tombaka itu bergerak cepat menusuk dada gadis itu.

Namun kembali ia merasakan tangannya menjadi ilusi dan hilang saat ingin menusuk dada gadis di depannya. Tatapannya menunjukkan hening, menyadari bagaimana mahluk ini terlalu kuat untuk jenis diantara mereka.

"Tentu, dunia yang sekarang mengenal ku dengan ketidak terbataskan...-" namun ucapan itu terhenti saat dia merasakan sebuah tombak yang lain telah menembus lehernya. Dia menatap pemuda di depannya dan tersenyum.

Tidak mengambil tindakkan lebih bahkan saat tombak itu telah menusuk lehernya dari belakang.

"Kau bisa memanggilku Ophis."

Dan setelah itu baik Naruto maupun Ophis menghilang.

Suara benturan terdengar..

Tanah lapangan olahraga Kuoh retak dan berhamburan terbang.

Tanah retak dan mengambang terbang akibat benturan, di atas kepingan tanah Naruto dan Ophis saling berdiri dan saling menatap diam.

Sebuah bisikan pelan… "…"

Dan kembali bergerak meninggalkan kepingan tanah yang pecah halus akibat daya dorong.


Issei membuka mata dan menemukan kedua orang tuanya menangis begitu sedih di sana. Begitu cepat dan tidak dapat untuk dia mengerti….. Dan dalam kebingunan dia mendapati begitu cepat Ibu memeluknya dengan penuh rasa syukur menucapkan setiap nama Dewa yang dia ketahui dengan nada yang penuh dengan getaran. Melihat Ibu yang selama ini selalu mengomeli dirinyanya untuk setiap kelakuan melenceng yang ada, mengetahui bahwa beliau akan memberikan ini membuat dirinya tidak menjadi siap.

Ada yang salah di sini.

"Issei, syukurlah.."

Dia kembali mendengar nada ibunya menunjukkan syukur yang dalam. Wanita itu… ibunya memeluknya erat menempatkan kepalanya di atas dada ibunya.

Dia bisa mendengar detak jantung yang tidak teratur…. Detak jantung yang penuh dengan ketakutan yang dalam.

"Ibu…" Issei menolak pelukan itu pada akhirnya, dia manatap wajah wanita itu… menemukan Ibunya terlihat lebih tua dari yang seharusnya. Kecantikan yang wanita itu miliki telah hilang untuk saat ini. "Apa yang terjadi padamu….."

Dia melihat ke sekitar dan menemukan sesuatu yang tak dapat dia terima, sekolah… apapun sejauh dia memandang hancur dengan tanah. Tidak ada yang tersisa, bangunan hilang dan hancur. Daratan seperti di robek tepisah…. Retakan itu terlalu dalam untuk di ketahui…. Bumi seperti di lipat secara paksa oleh sebuah kekuatan yang berada di luar nalarnya.

Namun balasan Ibunya tidak pernah datang, hanya tangis yang dia dengar dari wanita itu…. Ibunya yang kuat terlihat lemah sekarang, untuk pertama kalinya…. Setelah sekian lama Ibu menangis untuk dirinya ini.

Membuatnya tidak tahu harus bagaimana, dia hanya tidak siap untuk ini.

"Issei.." Issei mendengar, itu suara ayahnya. "Kuoh telah rata dengan tanah."

Apa!?

"…. Apa?"

"Itu benar." Ayahnya juga tidak memiliki penampilan yang baik. "Sebuah bencana yang tidak di ketahui terjadi… itu seperti mimpi buruk saat melihat bagaimana daratan berterbangan dan terbalik… melihat tanah ini seperti di lipat."

"A-Ayah.." Issei tidak mampu untuk mengucapkan lebih jauh. Dia termenung dalam pelukan sedih ibunya untuk waktu yang cukup lama.

Bagaimana mungkin?

Bagaimana mungkin sesuatu seperti ini bisa terjadi….. ini jelas tidak perbuatan Manusia, ini jelas bukan perbuatan Manusia.

Pelukan ibunya semakin erat saat tubuhnya bergetar keras. Meyakini ini bukan perbuatan mantan kaumnya, terror yang merayap di dalam hati.

Ini jelas adalah perbuatan mahluk supranatural, tapi mengapa? Mengapa harus disini dan seperti ini.

Namun seperti mendapat sebuah tamparan di wajah, Issei tiba-tiba berhenti bergetar….. walau matanya masih menunjukkan ketakutan, dia berusaha sekuat tenaga berhenti bergetar. Rias… Naruto… teman-teman… "A-Ayah.."

Dan dia mendapati pria tua itu menatap dirnya.

"B-bagaimana… menga-pa a-aku…. Ti-tidak bagaimana dengan teman-teman ku." Issei mendengar suara keras dia melihat beberapa orang mencoba menebang sebuah pohon. "A-aku maksudku… Rias Bochou dan yang lainnya."

"Bagaimana semua orang."

"Mereka selamat." Ayahnya berujar pelan. "Tidak ada korban jiwa."

"Syukurlah…" Issei merasakan aliran air jatuh dari matanya, tubuhnya kembali bergetar. "Syukurlah…"

Mereka semua selamat, dia tidak peduli bagaimana dengan yang lainnya… dia hanya peduli dengan mereka… Rias, Matsuda dan Motohama, teman-teman di klub penelitian ilmu gaib dan osis…. Naruto. Pada mereka yang menerimanya, mengetahui mereka semua selamat… Issei tidak bisa untuk tidak menangis.

"Terimakasih…" dia berbisik pelan… "Terimakasih Tuhan.."

Dan Issei tertawa kecil dalam tangisnya, rasa sakit di kepalanya seperti ingin merobeknya terpisah, namun dia tidak mempedulikannya…. Dia hanya tersenyum diantara takut dan tangis. Kegilaan yang terjadi hari ini cukup banyak untuk memaksa otak bodohnya mengerti.

Dia tidak ingin bertanya bagaimana mereka selamat.

Dia adalah bodoh dan dia tidak menyangkal, dan maka dari itu dia hanya berikir sederha… cukup semua orang yang berharga baginya selamat, itu cukup.

Dan dia sangat bersyukur…. Meski itu akan membunuhnya pada akhirnya.

Dia tidak akan menyesal.


Azazel mengambang di udara membaur di atas awan, matanya menatap kebawah… lebih tepatnya pada kuoh yang telah rata dengan tanah. "Shit, bahkan itu sama sekali tidak bisa dikatakan rata dengan tanah."

"Bagaimana kedepan, haruskan kita ikut dalam masalah ini?" sebuah suara tepat berada di belakangnya.

"Tidak perlu." Azazel mejawab singkat, matanya melihat bagaiaman beberapa orang menarik sebauh sulur tanaman yang mencuat dari dalam tanah. Tersimpan di sana seorang Manusia yang hidup dan selamat. "Cukup biarkan para Maou muda itu yang menangani masalah ini, wilayah ini adalah pertanggung jawaban mereka."

"Ini mengangumkan bukan," Suara di belakangnya kembali berucap. "Dia telah kehilangan hartanya. Namun masih sanggup bertanding sebanding dengan Ophis."

"Ophis tidak menghadapinya dalam kekuatan penuh….. bahkan mungkin Naga sial itu hanya bermain-main dengannya." Azazel menyipit dari jauh dia bisa melihat beberapa heli datang dan mendarat di tanah kuoh yang hancur.

"Jadi bagaimana menurutmu, kerusakkan macam apa yang akan terjadi jika Dewa itu datang dengan kekuatan lengkapnaya."

"Jangan bertanya itu padaku." Azazel kembali melirik orang itu, melirik surai perak yang sangat mirip dengan saudaranya dahulu. "Aku tidak dapat membayangkannya…

Tidak ingin membayangkannya."

"Oh.. Kau-" Namun dia sosok itu tidak dapat melanjutkan perkataannya.

Mereka berdua, Azazel dan sosok itu melihat jauh ke atas langit. Disana, pada ketinggian yang tak mampu untuk di lihat oleh mata Manusia. Disana sebuah robekan terjadi di udara kosong, mahluk itu keluar dan mengambang dengan tenang seakan tidak peduli dengan apapun. Mengambang dengan tenang di udara, menyisakan Azazel dan sosok itu yang bergetar hebat hingga ketulang.

"Mengapa mahluk itu bisa ada di sini?" Azazel berteriak tertahan, tangannya secara tidak sadar munjuk mahluk kolosal itu sebelum cepat menariknya kembali. "Kegilaan apa yang sebenarnya terjadi pada hari ini?"

Azazel tidak dapat mengetahui bagaimana setelah semua, dia hanya melihat bagaimana mahluk itu kembali masuk ke dalam celah dimensi tersebut. Azazel melihat bagaimana mahluk itu masuk kedalam celah dimensi tersebut.

Ada keinginan untuk pergi kesana, namun itu tidak mungkin. Dia hanya menghela nafas dan menatap ruang kosong itu penuh dengan rindu. "Apa yang ada di dalam sana?"

"Aku tidak tau…" sosok itu membalas bebas pertanyaan itu. "Seorang pria tua memberi tau padaku di sana adalah tempat untuk berbagai rahasia dunia ini."

"Begitukah.." Azazel tersenyum kecil. "Sayang kita tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk pergi ke sana."

Dia mennyadari bahwa dia tidak akan mungkin untuk pergi kesana, tidak akan pernah. Karna dalam dunia ini hanya ada empat mahluk yang sanggup untuk bertahan di sana. Hanya ada empat tidak lebih dari pada itu.


Di tengah tanah retak yang dalam dan daratan yang teripat parah di tanah Kuoh. Jauh di dalam reruntuhan bangunan. Celah matahari masuk dan menerangi celah-celah gelapnya ruang. Bergotang diterpa angin, sebuah rumput….. helaian rumput tumbuh rapuh tegas seakan menantang dunia.

Seperti keberadaan kecil yang menolak tunduk untuk dunia, bahkan jika itu langit… dia akan menulak tunduk dan menentangnya.

Menjadi bebas, besar di tempat kumuh dan terabaikan… bebas, riang dan tak terkendali.

Angin bertiup pelan, menerbangkan debu halus ringan di sekitarnya. Dan helaian rumput itu bergoyang pelan, seperti menyambut debu itu…. Seperti menyambut kehadiran lain di balik hembusan debu ringan itu.

Mulai menyambut tangan kurus yang tercipta dari hembusan debu yang berkumpul, menyambut tubuh ringkih itu, menyambut dia Dewa yang pernah memimpin Relm of the Gods pada zaman dahulu kala…. Menyambut dia kembali.

Dia yang berdosa jahat pada jenisnya sendiri.

"Bagaimana bisa…?" di tengah reruntuhan itu, tubuh itu menunjukkan wujudnya yang sesungguhnya. Tubuh itu begitu kurus menyedihkan, dalam kekosongan ekspresi air matanya jatuh membasahi rumput itu. Kepada siapa dan untuk siapa dia tidak tahu harus bersedih. "Bagaimana bisa dari semua orang itu harus dirimu….."

Dia tidak merasakan sedih, tidak merasakan sakit pada dadanya, tetapi kenapa air mata ini jatuh.

"Bukankah kau adalah teman baikku? Lalu kenapa…" Naruto bertaya dalam kekosongan, meski tidak ada yang akan membalas dirinya. Dia hanya bisa bertanya. "Kenapa kau melakukan itu? Kenapa begitu jahat kepadaku….

Bukankah kau selalu mendukungku? Lalu mengapa kau berdiri di sana…. Kenapa saat aku mengingatmu kembali… KENAPA BERDIRI DI SANA! KENAPA KAU IKUT MENGUTUKKU BERSAMA DENGAN MEREKA! BUKANKAH KAU ADALAH TEMAN BAIKKU!? KENAPA!

KENAPA! KENAPA!"

Dan daratan itu kembali berguncang parah, bagunan rusak itu pada akhirnya tidak dapat mempertahankan bentukkan dan runtuh. Meski tau dirinya akan terkubur, Naruto hanya diam dan tidak peduli dengan sekitar. Meski beberapa besi tajam jatuh dan menusuk punggungnya, dia tidak peduli. Dia hanya diam memiliki ekspresi kosong setelah semua.

Untuk dia yang mendapatkan kembali serpihan kenangan setelah kekalahan pertarungan dengan gadis naga itu.

Tentang dia itu…. tentang dia… teman baiknya.

"Anda harus percaya, saya adalah teman terbaik anda."

Ketika Li memotong langit para Dewa, semua adalah awal dari tragedy ini.

Dan Naruto tidak bergerak, dalam celah yang tersisa dalam ambruknya bangunan ini dia menatap rumput rapuh yang berada di sana. Lama melihat, bagaimana dia tau bahwa serpihan keberadaan remeh kecil ini terlihat begitu kuat.

Mengingatkannya kepada dia…. Kepada dia, teman baiknya…. Satu-satunya teman baik yang dia miliki di dunia ini.

BLAR!

"Aku mencarimu kemana-mana ternyata kau disini!"

Sebuah hempasan angin menerbangkan reruntuhan bangunan yang telah jatuh ini. Bagian-bagian bangunan itu terbang berhamburan, namun sebelum menyentuh tanah… semua telah lenyap di telan oleh energy pemusnah merah darah.

Namun Naruto hanya diam tidak mengambil minat untuk membalas ucapan itu, bahkan hanya untuk sekedar melihat sosok tersebut.

"Apa sebuah kesombongan?" sosok itu berguman rendah sebelum menciptakan lingkaran sihir dan menembakkan Destruction lurus kepada Naruto.

Meski pasir tercipta untuk menghalangi, namun semua sia-sia setelah semua. Dan Naruto melihat bolah merah itu, menatap lebih jauh pemuda merah yang di kenalnya baru-baru ini. Kakak dari gadis yang terikat dengannya…. Sirzechs Lucifer.

"Ah~ itu terlalu jauh penganti Lucifer."

Namun sebelum energi padat itu mencapat dirinya, sebuah tebasan tipis terlihat di sudut ruang kosong dalam udara. Retak dan memunculkan ratusan kepala ular yang melesat menuju energy tersebut dan menelannya rakus.

Sirzechs diam dan tidak menanggapi.

Namun mana Naruto melebar saat melihat teknik tersebut. Dan tanpa sadar mulut yang terbuka pelan menyebut satu kata.. "Ōtsutsuki."

Tapi bagaimana mungkin, bagaimana Ōtsutsuki bisa ada di dunia ini. Bukankah Karma telah menghapus semua?

"Ah~ maafkan aku Naruto-sama, meski itu adalah teknik dari Ōtsutsuki dari salah satu empat garis cabang. Saya tidak bisa di katakana sebagai Ōtsutsuki itu sendiri, meski darah yang mengalir dalam tubuh ini memang berasal dari kalian." Sosok lain, seorang pemuda dengan yukata biru muncul di samping Sirzechs. Membungkuk dan tersenyum hormat untuk Naruto.

Namun melihat Naruto yang diam pemuda itu tidak ambil masalah. Dia melirik Sirzechs dan tersenyum simpul. "Aku tau kau sedikit marah melihat Kuoh menjadi rata dengan tanah seperti saat ini. Tapi percayalah, Naruto-sama tidak bermaksud demikian…. Hanya Ketidakterbatasan yang mendorongnya terlalu jauh."

"Kuoh adalah wilayahku." Sirzechs melirik pemuda itu dingin. "Apa kau bisa berfikir aku harus menutup mata untuk ini?"

"Bahkan jika mitologi Shinto, kau adalah Dewa Lautan itu sendiri…"

"Simpan ucapanmu itu Lucifer." Namun pemuda itu hanya melirik meremehkan. "Minta pertanggung jawaban pada Ophis jikau memiliki nyali pecundang….. kau baru bau susu ibumu telah berani begitu jauh terhadap kami.

Perlu kau ketahui nak, selain Tuhan dalam Al-Kitab bahkan leluhurmu sendiri tidak memiliki klasifikasi untuk memandang rendah kepada kami. Dan kau baru saja berani melakukan itu? ketahui tempatmu!"

"Jadi apa? Kalian akan lepas tanggung jawab dari bencana seperti ini?" Sirzechs melirik sinis tidak mengenal takut. "Oh~ benar-benar seperti dewa."

Namun pemuda itu hanya menatap lucu pada Iblis di sampingnya. "Bagaimana lucu ketika Iblis mencoba terlihat baik…. Begitu munafik."

Untuk selanjutnya pemuda itu mendarat di depan Naruto dan berdiri di sana. "Bersyukurlah, bahkan saat mengetahui dia tidak akan pernah menang. Naruto-sama masih berusaha melindungi semua penduduk kota Kuoh ini." Dan pemuda itu melihat Naruto, menatap bingung bahwa Dewa itu tidak menatapnya…. Namun jauh menatap Iblis di belakangnya.

"Naruto-sama dengan kekacauan seperti ini, kita tidak dapat lagi menutup mata para mahluk spranatural lainnya." Pemuda itu berujar dengan sopan. "Kami cukup senang untuk menyambut salah satu dari Ōtsutsuki seperti dirimu…. Tapi saya takut tidak dengan Dewa dari mitologi lainnya."

"Terserah, lakukan sekukamu."

"Saya tidak bisa memastikan, tapi demi keselamatan anda. Akan lebih baik bagi anda untuk segera berada di Kyoto."

Namun Naruto masih diam, dia tidak melihat Dewa yang berada tepat di depannya. Matanya kosong dengan ekspresi menatap jauh Sirzechs yang berada di belakang sana, menatap pria itu… mengigatkannya dengan Rias.

Bahkan setelah semua gadis itu tidak punya keinginan untuk di ungkapkan padamu.

"Seperti yang aku bilang, lakukan sesukamu.." Naruto tidak menatap siapun lagi, dia hanya menatap helaian rumput kecil yang masih berdiri di sana. "Tetapi aku tidak bisa pergi.."

"Mengapa.."

"Aku mempunyai sebuah janji…. Dengan seorang Iblis."

"Jangan membawa adikku." Dibelakang sana, suara dingin dari Sirzechs terdengar mengancam.

Namun Naruto seperti tidak peduli akan apapun menatap pria yang sangat mirip dengan Iblis yang berjanji dengannya. "Aku telah berjanji kepadanya, berjanji untuknya sampai dia tidak membutuhkan ku lagi."

Itu sebuah bisikan, namun mampu di dengar oleh mahluk manapun saat itu. membuat kedua mahluk itu terdiam dan menatap tubuh ringkih dewa sekarat itu. itu hanya sebuah janji, sebuah permintaan…. Sesuatu yang bahkan sejak awal tidak pernah di minta oleh gadis itu.

Naruto diam menatap keduanya…. Sejenak matanya kusam penuh dengan kekosongan. Mengapa bisa menjadi tidak terkendali untuk sejenak? Mengapa memaksakan kehendak? Apakah ini kebodohan…

Atau hanya sebuah lelucon Dewa yang busuk.

Sirzechs diam begitu pula dengan Dewa di samping Naruto.

"Aku… bagaimanapun ketika Ophis menyerang, kau melindungi semuanya." Dia mendesah, dan melihat ini bisa menjadi skala bencana nasional bagi Jepang… Kuoh mungkin sudah tidak ada lagi. "Ku rasa semuanya hanya tergantung kepada keputusan Rias…

Jika dia menolak bersamamu, tidak peduli apapun akhirnya aku akan menjauhkan kalian."

.

.

.

Itu sebuah ingatan, di atas batu putih yang kasar… helaian rambut putih itu jatuh menyentuh tanah. Sebuah tangan lain yang mengengam tangan miliknya, sebuah kehangatan yang bukan miliknya…. Menatap mata riak itu dengan sebuah senyum di wajah.

Seperti senyuman seorang ibu kepada anaknya, dan seperti senyuman seorang kekasih yang di cintai.

Untuk dia yang di ciptakan, dia yang hanya sebuah boneka kotor…. Dan dia yang di cintai.

"Naruto-sama, Saya mengutuk mu….."


Dan bersambung… itulah kelanjutan dari Fic Rikudo chapter kali ini.

Aduh gimana yah, sebenarnya Yuki harus minta maaf… karena telah berjanji untuk update selama masa liburan kemarin… tapi huuuu, ada beberapa event penting yang terjadi kemarin-kemarin.

Kedua adik Yuki lulus dan di terima di Universitas Negeri pilihan mereka ^^

Selamat buat mereka, dan jadi kami sibuk mempersiapkan segala keperluan mereka, mulai dari mencari kos dan lain-lain. Yahhh semua hanya alasan sih.

Lainnya chapter kali ini adalah merupakan chapter yang cukup sulit buat Yuki, dan khusus untuk chapter ini Yuki memiliki tiga alur yang berbeda. Dan salah satunya ini, kuoh harus di hancurkan dan sepertinya tim dari osis dan penelitian ilmu gaib akan memulai debut mereka dari awal di Kyoto. Yeahh~

Berarti ini NonCanon dong? Tidak juga silahkan lihat kedepan bagaimana ini terjadi.

Dan terlebih lamanya update kali ini adalah, selain pemilihan juga ketakutan chap kali ini tidak memuaskan kalian semua… mengingat bagusnya respon dari sebelumnya takut juga chapter kali ini membuat kalian kecewa… huehehe..

Ah~ gimana juga yah, mungkin ini hal yang wajar… tapi mungkin tidak wajar juga untuk membuat tiga versi yang berbeda untuk satu chapter.

..

Dan yang terpenting, dalam chapter kali ini jika kalian lebih jeli maka Yuki rasa kalian akan sedikit mengerti dengan Alur dan Misteri yang ada dalam Fic ini.

Dan lagi, sekedar info tambahan ^^

10 Top Tingkat kekuatan dalam Fic Rikudo sebelum Tragedi yang di mulai oleh Li.

1. Malam

2. Li

3. Liga pembunuh iblis

4. Ōtsutsuki

5. Jaha'd

6. Chaos

7. Ra

8. Audhumla

9. Eiocha

10. Aun Umbra

Segitu saja untuk kali ini, maaf atas ketidaknyaman ini..

Silahkan di baca dan di review untuk kesan chapter kali ini, terimakasih. ^^