Rikudo

Disclamer : Bukan mili Yuki


Warning : Typo, Update tidak menentu


Sinopsis : Pada awalnya dia hanya pecahan dari seorang dewa, yang menunggu waktu untuk memudar saat manusia semakin melupakan 'Nama' dan 'Legenda' tentang dirinya.

Namun saat Gadis Iblis itu datang membuat sebuah permohonan. Membuat penantiannya menjadi kacau dengan masalah yang datang setelah permohonan aneh itu.

"Bisakah kau lindungi aku?"


Chapter 5 : Uchiha Sasuke.

Issei membuka mata dan menemukan dirinya di tempat yang berbeda, sinar matahari yang masuk di tempat yang berbeda, suasa yang berbeda dari tempat yang biasanya, dan segala yang tidak di kenalnya lagi. Itu benar ini adalah Kyoto di pagi hari.

"Hmm, dialek kansai … bahasa akan sedikit masalah yang berbeda berbeda."

Dia menatap jam weaker butut yang berbunyi keras sebelum air mata jantan mulai mengalir dari matanya. "Sialan aku bahkan tidak bisa menyelamatkanmu."

Jangan pikirkan, dia hanya menangisi jam weaker hentainya.

Suara ibu datang dari luar sana membuat Issei tersadar, bangun dan membuka pintu dia kembali menemukan suasana yang tidak seperti biasanya…. Sebuah apartemen kecil dengan ruang keluarga, ruang makan dan dapur semua yang di satukan. Tidak secara keseluruhan ini tidak terlalu kecil, ini cukup nyaman untuk di tinggali oleh mereka berempat.

Ini adalah satu dari sekian apartemen yang di sediakan oleh pemerintah jepang bagi korban bencana Kuoh.

Tapi untuk menyediakan tempat ini bagi hampir sesmua penduduk kota Kuoh hal ini perlu di syukuri.

Secara keseluruhan keuangan pemerintahan Jepang juga terbatas.

Issei duduk di atas bangku menantikan sarapan miliknya, suara televise terdengar jelas di sudut sana. Tidak ada hal lain yang menarik untuk di dengar selain pembahasan tentang bencana misterius yang membalikkan kota Kuoh secara tidak masuk akal.

"Pemerintah Jepang telah mengambil langkah serius atas musibah yang terjadi di Kota Kuoh pekan lalu."

"Kita harus mengambil lang kah lanjut untuk mengembalikan kondisi mental para anak-anak korban bencana."

Dan suara dentingan meja menyadarkan lamunannya, Ibu telah duduk di depannya… di depan, di samping ayah dan menatapnya sebelum kembali terdiam membaca Koran yang bosan. Ibunya terlihat lebih tua dari biasanya, wajahnya terlihat frstasi dan memiliki kecemasan berlebihan.

Issei tersenyum, dia hanya bisa bermain bodoh… begitu dan selalu akan begitu. "Ibu, apakah ada sarapan lain? Kenapa hanya ini?"

"Kau anak bodoh, cukup habisakan sarapan mu dan segera pergi!"

Issei terdiam sejenak dan tersenyum bodoh untuk semua. "Baik, baik aku akan pergi.."

Dia berdiri dan berlari pergi.

Untuk sebuah alasan, sebuah senyum tidak biasa hadir di wajahnya.


Issei berdiri di depan gedung sederhana di tengah Kota Kyoto, dia menarik nafas dalam. Tepat di depan sana dia melihat banyak anak yang putus asa…. Mata yang terliha tidak tahu harus kemana. Sebuah senyum yang tak dapat menyelamatkan, kata-kata yang tidak akan pernah sampai kepada mereka yang tenggelam.

Dia berjalan serasa tiap langka menjadi hilang, Issei merasa hilang… semua menjadi tumpul. Apa dan kenapa semua terjadi, semua alasan yang seharusnya tidak pernah ada mulai bermunculan dalam dirinya. Menanyakan apa yang benar… benarkan, apa alasan harus berada di sini.

Dia melangkah memasuki gedung itu, mendengar suara yang penuh semangat hilang dalam pendengarannya. Dia mencemaskan semuanya, dan tepat saat itu sebuah kehangatan menyentuhnya di bawah langit beku miliknya.

Dia… orang yang mungkin dia cintai di dunia ini.

"Bochou.." dia melihat wanita itu, tersenyum… untuk hari ini, untuk hari esok.

"Issei, kami telah lama menunggu mu." Gadis itu tertawa indah, selalu dan akan selalu begitu dalam pandangnya.

Merah, merah murni…. Merah yang jatuh.

Menatap jauh kebelakang, melihat semua… sebuah perasaan lain muncul, tidak ada jawaban pasti… karna dia bodoh, tapi dia yakin ini baik.

"Teman-teman.."

"Issei-san maafkan aku… kamu, etto Kaa-san menyuruhku untuk pergi lebih dahulu.." Asia menghampirinya dan menyampaikan sesuatu dengan tangisan.

"Tidak apa-apa.." Issei menyengir, dia tidak ingin berfikir buruk untuk semua orang. "Aku senang kalian untuk kalian semua."

Teman-temannya diam menatap dia yang tidak biasa, namun tidak ada yang menyela kasar untuk ini… tidak ada yang mengatakan perkatan yang biasa terjadi. Hanya ada senyum dan mata yang lelah pada mereka semua.

Ada alasan… ada alasan untuk semua.

"Oni-sama, tengah mengurus hal ini." Rias berbisik pelan, seperti takut orang mendengar apa yang akan dia katakana.

Issei mendengar namun tidak mengutarakan apapun, apapun itu dia tidak akan bisa menguti… dia lebih memilih menjadi pendegar untuk ini. Bahkan idiotpun terkadang akan tahu dimana tempat mereka berdiri, dan Issei juga seperti itu.

"Fufufu…. Itu bagus, setelah selesai dengan sedikit suntikan dana dari Lucifer-sama, bukankah Kuoh akan menjadi kota yang baru." Akeno tertawa dengan cara menyimpang yang biasa. Gadis itu menatap jauh memperhatikan kosong tiap orang-orang Kyoto yang melihat mereka, memperhatikan lebih jauh dan lebih dalam… hingga tidak menjadi jelas lagi.

"Itu bagus, apa mereka akan membangun Kuoh menjadi seperti Dubai?"

"Issei-senpai, tolong hentikan itu…. terkadang kebodohan juga harus ada batasnya." Suara sinis yang sama dengan nada yang datar. Itu Koneko.

"Uh, aku minta maaf.."

Dan suasana itu kembali mengalir lancar.

"Mari bergegas, Sona sudah pasti telah menunggu lama untuk kita." Rias tersenyum menenangkan, membimbing semua orang menuju tempat rehabilitasi mental mereka.

Mungkin tidak berpegaruh banyak bagi mereka, tapi bagi anak Manusia mereka tidak akan bisah dengan mudah melupakan trauma itu. dan sebagai Iblis, sebagai dia yang membaur dengan Manusia lainnya… mereka juga memiliki kewajiban untuk mengikuti.

"Itu bagus, aku tidak sabar untuk ke sana dan bertemu Saji." Issei tertawa bodoh untuk hal ini saat memikirkan saingannya itu. "Dan juga Naruto."

Semua seperti biasa dengan itu, mulai melangkah pelan menuju tempat selanjutnya bagi mereka.

"Dengar Rias, yang menghancurkan Kuoh adalah Naruto."

Namun senyum itu cepat pudar di wajah Rias saat berjalan lambat di belakang yang lain. 'Naruto sejauh mana aku harus mendengar, setelah ini kemana aku harus pergi…"

"Aku hanya tidak menyukai, bukan membenci apa yang kalian lakukan."

"Jangan terlalu diambil serius, bagimu…. Ini tidak ada hubungannya dengan apapun, semua mungkin hanya sebuah perasaan milikku yang tak mampu mengikuti berubahnya waktu."

Rias berhenti sejenak seperti mengingat perkatan itu. dia berkedip menatap yang lain yang seperti menjauh. Saat angin berhembus menerbangkan rambutnya, gadis itu berbalik seakan mendengar sebuah bisikan halus. 'Meski kakak telah melarang, haruskan kita tetap bertemu… ini hanya membingungkan, kenapa semua begitu rumit'

"Bochou ada apa?" Issei berteriak dari jauh.

Rias berbalik melihat Issei yang melambaikan tangannya dan semua teman yang menatapnya bingung.

"Aku ingin melihat wajah bodoh Naruto nanti."

"Issei-senpai, ku rasa kau lebih tepat dikatakan sebagai kebodohan."

"Apa! Bagaimana aku adalah orang mesum, Ero yang terbuka… Koneko-chan pelu—Akkrrr!"

Dan hanya ada tawa yang terdengar setelahnya, di sertai suara tragis asia untuk Issei.

Dan Rias berjalan mendekat, menuju mereka yang berhenti demi peduli padanya.

'Aku hanya ingin bertemu denganmu, meski salah. Aku hanya tidak bisa melupakan semua… aku tidak bisa melupakan bagaimana saya, Rias bersandar pada punggung mu waktu itu.'


Suara tangis terdengar di dalam ingatan, ia melihat mimpi dalam bayang-bayang. Tangannya terulur mengampai kosong, seakan ia melihat semua ingatannya pergi berterbangan ke langit luas. Di tengah dingin yang bahkan ia tidak pernah peduli, Naruto tidak mengeluarkan tangis, tidak ada selain kekosongan… seakan lupa dengan semua, lupa untuk bagaimana menunjukkan keinginan… tidak pernah untuk apapun.

Tangannya menyerah pada akhirnya, dia menatap kosong dinding baru yang membatasi. Mencoba membayangkan apapun, apa saja…. Ke inginan dia tidak memmilikinya, lalu kenapa berusaha mengabulkan, mengapa ingin menatap hari esok.

Apa yang terjadi.

Dirinya yang sebenarnya, apakah memiliki keinginan.

Di tengah malam yang jatuh, bulan bersinar dan tubuhnya semakin dingin membeku. Seperti mulai membusuk, tidak mampu melawan untuk melewati malam. Dia menatap tidak berkedip, mencoba mengingat… sedikit… hanya sedikit keinginan untuk melihat dirinya yang dulu.

Mencoba mengingat keinginan diri di masa lalu yang tersembuyi…. Lelah akan ingatan acak yang bagi mimpi tak berujung ini.

"Anda harus percaya, saya adalah teman terbaik Anda."

"Siapa yang akan dapat memahami Anda setelah Saya mati? Siapa lagi yang akan maju ke depa nuntuk berdiridi sisi Anda? Naruto-sama ... ketika Saya berpikir bahwa Anda akan hidup sendirian untuk selanjutnya, Saya tidak bisa berhenti meneteskan air mata ... "

"Naruto-sama, Saya menutuk mu.."

Naruto menarik nafas dengan mulutnya rakus, dalam kebingungan ingatan bahkan kenyatan tidak bisa untuk dia lihat. Menatap dinding batu yang kasar, merasakan dinginnya malam…

Menatap dirinya yang mulai luntur perlahan.

Menatap jauh ke dalam ingatan yang pecah, melihat semua yang memudar…. Bergelombang berlumpur di dalam pikirannya. Ia hanya ingin tau, melihat semua memudar dan luntur… 'Apa yang kau rasakan saat itu… teman ku…. Teman terbaikku.'

Dan cahaya datang setelahnya, seseorang masuk… namun ia tidak peduli.

Dia wanita dengan kecantikan tertentu, keindahan yang menonjol di antara semua jenis yang lain. Lebih indah, dan hanya sekedar itu… dia indah dan hanya sekedar itu.

Tidak ada perasaan lain bagi Naruto untuk merasakan.

"Saya Amaterasu, Anda mungkin tidak mengenal saya," wanita itu berujar pelan dan hati-hati. "Namun saya memengang garis keturunan dari anda."

Dan Naruto menatap, melihat wanita itu… diam menatap, menunggu apa yang akan dia ucapakan.

"Saat Anda menghancurkan Relm of the Gods, nenek moyang kami satu dari empat cabang clan turun dari Relm of the Gods tingkat ke dua dan menetap di dunia ini hingga sepuluh ribu tahun dalam usaha untuk memperbaiki apa yang rusak." Wanita itu berbicara seperti mengenang masa lalu.

Dia menatap Naruto seperti menatap orang tuanya sendiri.

"Namun dia sadar bahwa kekuatan anda terlalu kuat. [Karma] mulai menyentuh dirinya terlalu jauh dan membuatnya hilang secara perlahan." Sebuah suara yang biasa terdengar darinya. "Namun sebelum pergi untuk selamanya, dia memecah dirinya dan melahirkan kami semua.."

Dan pandangan yang saling bertemu, mata merah darah yang menatap pada dewa yang sekarat itu.

"Ayah kami semua, Uchiha Sasuke…. Tidakkah anda mengenalnya?"

.

.

.

.

Masa lalu Naruto.

Bumi pada masa Jah'ad masih memerintah Realm of the Gods

Itu adalah hari yang sama di mana sebuah tempat yang tidak lagi asing baginya. segala sesuatu yang ada tidak berubah di sana, bahkan di dalam kenangan terakhir juga begitu.

Bagi Naruto, manusia itu akhirnya sama. Meski ia hanyalah kelahiran setengah Dewa, memahami bagaimana perasaan manusia itu bekerja terlalu rumit seperti menyelam di dalam lumpur yang pekat. Melihat bagaimana manusia itu berjalan dalam diam, berfikir apa yang mereka rasakan

untuk setiap hati yang berbeda... tidak ada bahkan untuk Li dan Malam yang di kenal tidak ambil peduli dengan Dunia. Manusia itu satu.

Mereka rumit sejak awal penciptaan.

Sejak perang terakhir 500 juta tahun yang lalu... atau telah berlalu lama hingga ia tidak bisa menghitung hari lagi. Sejak Jah'ad memenggal kepala Kaisar Li dari tantangan, sekali lagi tataan dalam Realm of the Gods mengalami perubahan yang besar.

Seperti pada masa itu saat Lord Li memerintah tataan baru setelah mengusir Malam dari tahta. Dia memotong langit milik para Dewa, menyebabkan banyak dari mereka binasa dengan sendiri pada akhirnya. Itu masa yang kelam bagi Dewa.

Namun setelah waktu berjalan, posisi itu kembali bergeser dengan Jah'ad mengambil tempat yang sama dan menjadi Kaisar berikutnya. Ada harapan bagi para Dewa agar dia memperbaiki apa yang rusak, tapi sebagaimana pendahulunya. Jah'ad melakukan hal yang sama.

Dia membagi langit para Dewa, menyebabkan penderitaan yang lebih dan lebih.

Pada saat itu, ada terlintas sesuatu dalam benak Naruto. Apa yang sebenarnya terjadi di atas sana?

Waktu kembali berlalu dan musim berganti. dedaunan muda hijau bernilai perlahan mulai tua jatuh dan berkerut. Hingga waktu tak dapat kembali di hitung. Sebagaimana Dunia berputar dan tak bisa di hentikan. Pada akhirnya banyak Dewa yang jatuh setelah Lord Jah'ad membagi langit yang sama.

Dan sejak itu pula sistem peradaban Manusia mulai mengalami perubahan nyata.

Dan adalah cakra. Sebuah elemen baru dalam kekacauan ini yang menyebabkan Manusia pada akhirnya mampu menyamai para Dewa.

Sebuah sistem baru yang mengcampuradukkan para Dewa dan mereka Manusia dalam kasta yang sama.

Menyebabkan Manusia semakin kuat dan tak terkendali.

Menyebabkan para Dewa menjadi lemah akibat hilangnya harta mereka dari Manusia.

Dan masih berdiri di atas jalan yang sama, para waktu di mana Matahari bersinar tepat di atas langit. Naruto bergabung dengan kerumunan para warga yang menyaksikan sebuah pertarungan pengguna cakra di tengah jalan besar.

Mereka dua orang yang berbeda, bertarung dengan elemen yang berlawanan. Naruto menyaksikan salah satu di antara mereka, seorang pemuda yang mengenakan pakaian berwarna merah merapalkan segel tangan sebelum menghembuskan sebuah bola api. Pemuda yang lain yang menjadi lawannya berteriak Dotton sebelum dinding tanah muncul untuk melindunginya.

Api itu menabrak dinding tanah. Para warga berteriak ketakutan menghindari material yang terpilih dari dinding tanah itu. Namun Naruto tidak demikian, ia hanya diam dalam kekosongan melihat bagaimana pertarungan itu kembali berlanjut. Pemuda berbaju merah itu tidak melewatkan kesempatan yang ada, dia berlari menuju lawannya. Berputar sebelum melakukan sebuah tendangan melingkar.

Namun, pemuda itu terlihat terkejut saat menyaksikan bagaimana lawannya berubah menjadi bongkahan kayu dalam kepulan asap.

Dan lesatan kunai datang dari arah yang lain secara tiba-tiba, terdengar teriakan dari salah satu mereka. Di dalam teriakan emosi, salah satu dari mereka maju dan kembali menerapkan segel tangan yang berbeda. Dia menghentikan kaki ke tanah, sebuah keajaiban cakra kembali terjadi saat sebuah bongkahan batu besar naik melawan gravitasi dan melesat menuju pemuda berbaju merah.

Yang lain berusaha menghindari, tanpa merapalkan segel tangan. Pemuda berbaju merah itu melesat maju meninggalkan tempatnya. Di dalam mata, Naruto mampu merasakan bahwa konsentrasi cakra terhadap cukup di bawah telapak kaki manusia itu.

Dengan gerakan sederhana sebuah pisau kecil keluar dari balik tangannya. Pemuda itu menghunuskan kurus, sebuah serangan sederhana yang tepat menuju leher yang lain.

Pertarungan it uterus berlanjut cukup lama setelah kemenangan pemuda dengan baju merah itu, sedangkan untuk lawan yang satunya dia sudah mati dan tidak ada yang peduli sedikitpun padanya. Di dalam diam, bahkan setelah melihat pertarungan yang berlangsung itu, sampai saat ini Naruto masih diam dan tidak bergerak pada posisinya.

Pemuda berpakaian merah itu sempat memperhtikannya sekilas, namun dia hanya mendesih dan mulai pergi menjauh di dalam kerumunan.

"Kau memperhatikan itu?" sebuah suara di dalam kerumunan Manusia yang lewat kembali menyapanya.

Tidak membalas suara itu, Naruto melompat tinggi menjahui jalanan sebelum mendarat di atas atap sebuah bangunan. Memperhatikan jalanan kembali, memperhatikan Manusia-manusia itu. Ia merasakan bahwa pemilik suara tadi telah duduk tepat di sampingnya.

Naruto memperhatinya sebelum tersenyum pada orang itu.

Dia seorang pemuda dengan rambut hitam yang indah, seorang pria dengan mata tajam bagaikan elang. Seorang pemuda tampan yang berasal dari keturunan utama Dewa di Realm of the Gods.

Ōtsutsuki. Dari garis cabang Uchiha. Sasuke. Uchiha Sasuke.

"Saudara ku, Sasuke."

"Bisakah kau menghentikan ucapan tidak berguna itu." Sasuke mendengus kecil menatap Dewa di sampingnya. Mendengar kata-kata itu membuatnya muak, mengetahui lawan bicara adalah orang yang tidak ambil peduli dengan sekitar … saat mendengar kepedulian itu. adalah palsu.

Dia mungkin akan merespon setiap pujian yang datang, tapi tidak pujian dari mulut Naruto.

"Apa yang membuat dirimu kemari?" Naruto menatap dalam diam, pemuda di depannya adalah seseorang dengan masa depan yang cerah. Pada ahirnya dia mungkin memiliki kesempatan yang paling tinggi untuk mengantikan posisi petinggi Dewa-Dewa Uchiha setelahnya.

"Aku ingin member tahu mu bahwa semua sudah sepakat." Sasuke berbicara datar, menatap kerumunan Manusia di bawahnya dengan jijik.

Melihat hal itu, melihat tatapan Sasuke tidak bisa untuk tidak membuat Naruto mengambil nafas berat. Untuk dia yang mencintai Manusia, perubahan Sasuke ini.

"Bukankah ini akan berbahaya, Sasuke." Naruto kemudian menatap hal yang sama, dia berbicara tidak menatap Sasuke. "Bagi kami para Dewa, setiap tindakkan luar biasa yang akan kita ambil. Semua akan mempengaruhi mahluk lainnya. Meski itu terjadi di dimensi yang berbeda, tanah ini juga akan menerima dampak itu pada akhirnya."

"Lalu kau akan tetap membiarkan kaum kita mati pada akhirnya?"

"Bukan seperti itu," ucapan Naruto terhenti sejenak. "Bagi ku ini cukup, tahta di atas sana ….. apa semua ini perlu?"

Naruto berharap Sasuke untuk mengerti, ia menatap Dewa di sampingnya dengan pandangan memohon. Namun ia kecewa saat menatap mata pemuda itu. "Bagi mu mungkin begitu, Uzumaki Naruto ….. bagi mu mungkin begitu. Untuk mu yang bahkan di tolak oleh Manusia maupun Dewa. Kau mungkin tidak ingin peduli dengan nasib kami."

Naruto masih diam kosong menatap Sasuke, ia terlihat kecewa dengan Dewa itu. ia melihat Sasuke berdiri dan mata itu masih menatapnya. "Untuk mu yang tidak peduli dengan semua, apa kau masih menganggap ku sebagai saudara mu? Apa kau ini Dewa atau Manusia *******!"

Suara itu bernada tenang, namun terdapat ketegasan lurus bagaikan sebuah pedang di dalamnya. Lurus dan menusuk.

"Aku adalah saudara mu, dan aku peduli dengan semua ini." Naruto membalas, namun ia tidak pernah menatap wajah Sasuke sekalipun. Naruto ia hanya mentap Manusia-manusia itu sekali lagi. "Di dalam tubuh ku, ada darah Dewa dan Manusia. Meski Ayah ku adalah Manusia, Ibu ku adalah Dewa dan aku juga ikut peduli dengn nasib kaum ibu ku sebagaimana aku adalah salah satu dari mereka…

Meski cacat dan tidak sempurna."

"Dan sebagai bagian dari kami, kau akan membiarkan itu semua terjadi di depan mata mu? Membiarkan dia memecah kaum kita?" nada Sasuke mengeras, rahangnya saling beradu kesal. Menatap pemuda di depannya sedikit marah atas ketidak pedulian ini.

Namun Naruto tidak segera membalas, ia menatap langit yang jauh di atas sana…. Lebih jauh menatap sebuah tanah melayang di ujung sana. "Itu sama yang terjadi pada saat itu. Saat Li mengusir malam dari tahtanya, dan hal yang sama juga terjadi saat Jah'ad membunuh Li. Tidakkah kamu saudaraku berfikir ada yang salah di sana."

"Tidak ada yang salah Naruto, mereka hanya orang-orang gila yang ketakutan setengah mati untuk tahta yang mereka miliki hingga menciptakan autran itu." Sasuke mendengus pelan. "Kita sudah cukup menderita sudah cukup saat Li memotong Realm of the Gods. Kita para Dewa tidak akan dapat menanggung [Samsara] dari Jah'ad lebih dari ini

Bahkan jika tidak atas penghianatan Momoshiki Ōtsutsuki pada saat itu. Yang menguasai langit para Dewa tidak akan jadi Jah'ad tetapi kita Ōtsutsuki."

"Dan tetap saja, Kita adalah yang kalah pada akhirnya."

"Kamu, Naruto. Tidakkah kamu peduli. Kekacauan ini, para Dewa Palsu yang sekarang sudah berani megninjak-injak kita." Sasuke menatap dalam pemuda yang duduk itu. "Tidakkah kamu peduli dengan kaummu sendiri, *******?"

"Lalu apa yang bisa kita lakukan Sasuke, saudara ku?" Naruto berujar pelan. Menatap mata pemuda itu yang telah lama berganti menjadi merahnya darah. "Tidak peduli betapapun, Jah'ad yang sekarang sudah terlalu kuat."

Itu benar sistem cakra yang di ciptakan Jah'ad untuk Manusia, mampu membuat Manusia menjadi kuat dan abadi menandingin Dewa-dewa itu sendiri.

"Apa yang bisa kita perbuat."


Rias dan yang lain masuk, menemuka Sona yang bersandar di sudut ruangan… terlihat menyendiri di antara kumpulan remaja lain yang hilang mendengarkan motifasi dari orang dewasa. Mendengar dalam keheningan, menutup mata seperti akan tertidur namun bukan demikian, melipat kedua tangan mendengar dalam keheningan.

Gadis itu membuka mata, melirik Rias dan yang lain mendekat… tidak menyapa dan kembali menutup mata mendengarkan berbagai motifasi dalam diam.

Namun saat akan mendekat seketika Rias dan yang lain merasakan riak dari keheningan, seperti terlepas dari sesuatu… mereka seperti hilang dari ruangan… keheningan yang melanda dan menyadari bahwa mereka sudah tidak ada lagi bersama dengan manusia. Rias dan yang lainnya memperhatikan para peerage dari Sona muncul entah dari mana di depannya… wakil dari temannya yang menatapnya datar seperti biasa.

"Tsubaki…" Rias menyapa seperti biasa, melirik kebelakang gadis itu… menyadari Sona bahkan tidak ada di sana.

Namun tidak perlu untuk menunggu waktu yang lama bagi Rias, saat Sona juga ikut muncul dari ketiadaan. Mata yang tenang, menatap teman baiknya itu dan seluruh budak miliknya.

"Rias.."

"Sona.." Rias sedikit tertahan, merasa tidak suka dengan atmosfir saat ini, "Apa maksudnya ini."

Tetapi Sona tidak menanggapi lansung, ia menatap para budak Rias yang terlihat bingung sebelum menatap kembali teman baiknya itu. "Apa kau sudah member tahu mereka kebenaran itu?"

"Kebenara? Bochou, apa maksudnya itu." Issei bertanya.

Seperti Issei, yang lain juga bingung ikut menunggu.

Sona yang mendengar itu lansung mengerti. "Jadi begitu Rias,"

Dalam diamnya Rias, dia bisa merasakan bahwa semuanya sudah tidak terkendari…. "Jangan coba-coba Sona."

"Mengapa? Tidakkah kau member tahu mereka bahwa Naruto lah yang telah menghancurkan Kuoh."

Itu seperti bom dalam telinga Issei dan yang lainnya, perkataan itu …. Kenyataan itu membuat Issei dan yang lainnya bergetar hebat di dalam ruang dimensi ini. Mata yang melebar, dan hati yang seketika tertutup oleh amarah yang datang. Membuat Issei mengeram kesal.

"Naruto…."

Oooooooooo

Pojok Author.

Yah, dngan ini Yuuki kembali dengan fic ini lagi.

Ada yang sedikit kurang ajar saat para dewa Shinto menyebut Sasuke sebagai ayah dari mereka semua. Ukrh dan ini juga penentuan bagaimana Fic ini akan berjalan ke depan... ya soalnya ini menyangkut keykinan sih.

Jika kalian mereasa tidak masalh ini akan lanjut.

Itu saja ... terima kasih banyak.