Rikudo

Disclamer : Bukan mili Yuki


Warning : Typo, Update tidak menentu


Sinopsis : Pada awalnya dia hanya pecahan dari seorang dewa, yang menunggu waktu untuk memudar saat manusia semakin melupakan 'Nama' dan 'Legenda' tentang dirinya.

Namun saat Gadis Iblis itu datang membuat sebuah permohonan. Membuat penantiannya menjadi kacau dengan masalah yang datang setelah permohonan aneh itu.

"Bisakah kau lindungi aku?"


Chapter 6 : Xer

Naruto kembali membuka mata, menatap wanita itu dalam-dalam, matanya bergetar sejenak. Namun dengan cepat kembali menjadi normal seketika. Dalam diam ia kembali mengalihkan perhatiannya tidak peduli kembali dengan sekitar.

Ingatan tentang Uchiha Sasuke dan Jah'ad yang tiba-tiba datang kembali itu menganggu.

"Jadi harus bagaimana sekarang." Naruto berbicara datar, tidak menatap wanita itu sedikit pun. "Apakah kau dendam dengan ku, membenci, dan mengutuk diri ku?"

Ia bertanya seperti biasa, nada yang biasa tidak mengandung maksud apapun di dalamnya …. Tidak ada hanya ada kekosongan di sana.

"Tentu sebagai mereka yang lahir setelah [Senja] kami semua membenci mu." Amaterasu menjawab, wanita itu tidak menyembunyikan apapun saat ini. Menatap Naruto, berbagai macam ekspresi berada di dalam pemikirannya sendiri. "Bahkan sampai saat ini kami membenci mu, dan akan tetap mewariskan kebencian yang sama pada generasi selanjutnya."

Tidak terlalu berharap untuk itu, tidak terlalu berharap untuk respon baik dari mereka semua. Naruto tersenyum, mentap Dewa pecahan dari Saudaranya itu. "Tidak apa-apa, silahkan membenci ku ….. pada akhirnya memang aku lah yang menghancurkan Realm of the Gods."

Amaterasu masih berdiri diam di sana, dalam ingatan yang ada setelah kelahirannya ….. hanya sedikit dan tidak banyak yang dia ketahui dari Realm of the Gods. Seperti apakah bentuknya dan apa itu dia sama sekali tidak tau.

"Sudahkah anda mengingat siapa Anda?" dia bertanya dengan pertnyaan yang lain.

Naruto menatap wanita itu, namun kembali terlihat tidak peduli. "Mengapa diri mu peduli?"

Namun dia diam, tidak segera bisa menjawab pertanyaan itu. mengapa? Mengapa harus peduli juga lagian. Meski terlahir dan membawa darah Ōtsutsuki di dalam tubuh mereka ….. bagi Shinto yang selama ini menyembunyikan siapa leluhur mereka dari dewata lainnya hanya untuk peduli saat ini adalah suatu tindakkan bodoh.

Mengapa harus peduli.

Naruto mengunggu jawaban tapi tidak kunjung datang. Dia melihat wanita itu tidak bisa tidak tersenyum lelah saat menatap wajah yang memiliki kemiripan dengan seseorang yang dia kenal.

"Meski tidak berasal lansung dari ku." Naruto menatap wanita itu. untuk seorang Dewi yang terlahir dari garis keturunan yang menjadi musuh dunia ini. Untuk dia yang ia kenali. "Kau bisa di katakana adalah bagian dari diri ku….. " ucapan Naruto terhenti sejenak. "Ada beberapa ingatan, apa yang kau inginkan."

"Siapa Anda sebenarnya?" Amaterasu menarik kerah baju itu, mata wanita itu yang menjadi merah darah menatap Naruto dalam.

"Mahluk pada masa yang sekarang tidak akan bisa mendengar nama-ku."

"Justru itulah kami para Dewa setelah [Senja] tidak mengerti …. Apa Anda sebenarnya. Bagaimana Anda ada."

"Aku ada …. Mengapa?" Naruto balik bertanya. "Tidak begitu," Naruto menatap wajah Dewi itu penuh kesedihan.

"Mengapa ingin mengetahui semua itu. Pada akhirnya kalian sama dengan leluhur kalian yang tidak pernah merasa cukup. Ketahui lah …. Dewa itu maha tahu, tetapi tidak maha kuasa."

Amaterasu terdiam, entah bagaimana gengaman tangan itu menjadi lemah seketika. Menatap Naruto, tatapan wanita itu menjadi bergetar.

Namun Naruto tersenyum, dia menatap wanita itu lurus. Untuk semua, sebagian ingatan itu telah kembali seperti parasit di dalam tubuhnya. Melihat keanehan ini semua yang bergerak tidak sesuai dengan kehendakknya membuatnya mengetahui.

Harus ada mereka, mereka yang selamat dari pemusnahan [Senja].

"Kau mengetahuinya bukan, kau bisa mengetahui segalanya. Tetapi tidak bisa berkuasa atas segalanya." Naruto diam menunggu reaksi wanita itu. "Terikat dengan [Nama] dan [Legenda] …. Pada akhirnya kehidupan abadipun hanya akan membusuk seiring berjalannya waktu. Kebadian yang semu, ilusi yang tidak akan bertahan selamanya."

Naruto diam sejenak, menatap mata wanita itu. menatap dalam sangat dalam, kembali tidak mengerti saat menyaksikan tatapan mata wanita itu tidak menerima semua apa yang dia ucapkan.

"Aku mengetahui bahwa diri mu tidak mengerti. Tidak Kamu hanya tidak ingin menerima." Naruto, kembali berbicara seperti tidak peduli. "Apa Dewa itu, mengapa kita bisa ada di Dunia ini. Tidakkah kamu mengerti …. Bagaimana kita ada dari sebuah ketiadaan, hanya untuk apa semua itu.

Tidakkah diri mu mengerti, ini bukanlah masalah kalian para dewa setelah [Senja]. Biarkan hal ini terkubur bersama dengan debu dari waktu. Jangan pernah menggali lagi …. Sebab apa yang ada di balik saja sungguh tidak baik bagi kalian."

Amaterasu ingin berbicara lebih, namun saat menatap wajah yang terlihat lelah itu, wanita itu dengan cepat mengurungkan niatnya.

"Realm of the Gods tidak seperti yang pernah kalian bayangkan."

Naruto bisa mengetahui bahwa wanita itu telah terdiam, untuk sejenak. Namun sekali lagi ia tidak peduli akan semua.

Bahkan saat mengetahi bahwa Dewi itu telah pergi meninggalkannya sendiri, ia maish tidak peduli dan diam menatap kosong.

"Jangan terlalu mengharapkan sesuatu yang tidak pernah ada… " dalam kesendirian Naruto berguman pelan. "Meski Realm of the Gods telah lama berlalu, terkubur di dalam aliran waktu. Kenapa mesti berharap kembali untuk barang celaka itu….

… awal dari semuanya, awal dari semua kesengnsaraan ini. Semua yang di mulai oleh Li sejak mengusir Malam dari tahtanya."


Sirzechs dan para petinggi dari mahluk supranatural lainnya terdiam menyaksikan sebuah layar lebar di depan matanya. Tatapannya focus pada sebuah adegan pertarungan keras antara Dewa mati yang dia kenali dengan sang ketidak terbatasan, Ophis.

Itu bukan hanya sebuah pertarungan sebanding, itu tidak lebih dari sebuah pembantaian sepihak.

Dalam adengan itu di mana Ophis kembali berulang kali menghancurkan kelapa Naruto pecah lagi dan lagi, dalam adengan yang terus sama berulang hingga darah akhirnya mengenang dan mengubah tanah di sekitarnya menjadi merah. Namun seperti abadi dan tidak akan musnah tidak peduli bagaimana pun Dewi Naga itu menghancurkan, kepala Dewa itu tetap kembali dan utuh bagaimanapun.

Namun hal yang tak terduga terjadi, sebuah tekanan mengubah segalanya. Api biru yang menyala dari ketiadaan. Dalam adengan itu kembali ia melihat bahwa sang ketidak terbatasan melompat mundur menjauh saat tubuh pemuda itu terbakar di dalam api biru. Naruto meraung keras menghempaskan semua yang ada di sekitarnya, tanah-tanah di bawah kakinya retak. Api biru tidak hanya membakar dirinya namun juga apa yang ada di sekitarnya.

Dua ekor muncul dari balik sana, seperti hewan, Naruto mulai melangkah dengan empat kaki. Dan Naruto berteriak keras sebelum menghilang. Sirzechs bisa melihat di sana bagaimana Ophis bisa tertegun untuk sejenak sebelum terbang menghantam bangunan Kuoh Akademi keras. Meruntuhkan dan menghancur bangunan itu.

Tidak membiarkan berlalu, Naruto melesat masuk ke dalam bangunan runtuh itu. meledakkan semua kakinya yang terbakar menginjak kepala Ophis... mulut yang terbuka secara tidak wajar meneriakkan nyanyian jahat.

Ophis bergetar, tangannya mengenggam kaki Naruto sebelum meremukkannya erat. Naruto berteriak gila, namun Ophis menebas udara kosong... membelah udara, membelah awan dan atmosfir di sana. Membelah Naruto menjadi dua. Dewi Naga itu perlahan kembali berdiri, menatap mayat itu dingin dan tidak peduli... karna dia tau, Dewa itu tidak akan mati.

Dia di kutuk untuk tidak mati.

Sirzechs tidak terlalu mengerti, namun apa yang dia lihat selanjutnya telah jauh di atas logika Dunia ini. Bahkan saat tubuh Naruto telah terbelah dua, mata biru kusam itu masih berkedip bingung tidak mengerti... secara sesat, tubuh terbelah itu kembali bergerak sendiri mencari pasangannya untuk menyatu kembali.

Namun Ophis tidak membiarkan hal itu terjadi, menjentikkan jari... energi hitam mulai hadir di sekitar dirinya, ular-ular hitam melata menelan setiap tubuh Dewa itu. Tidak hanya itu, ular-ular Ophis juga melata di sekitar dirinya menelan dan menghancurkan apa saja yang di laluinya tak berbekas. Hingga terasa lama, Dewi itu berhenti... melihat semua yang hilang tak berbekas.

Dan dia bersiap untuk pergi, tepat sebelum sebuah tangan mengenggam kakinya. Ophis melihat, dia menunjukkan wajah tidak percaya di sana... dan bukan hanya dia. Sirzechs dan semua mahluk Supranatural yang ada di sini juga menunjukkan reaksi yang sama. Di sana, Naruto mucul di bawah tanah yang membakar merah. Tatapannya kosong, namun empat ekor di belakang punggungnya melambai penuh dengan bahaya.

"Mau kemana kau.."

Ophis menjerit celaka, saat Naruto meremukkan kakinya... bukan hanya itu Lahar panas juga ikut membakar kulitnya, membakar terlalu dalam hingga ikut mencelakakan jiwanya. Naruto menarik Dewi Naga itu, perlahan bangkit dan memukul kepala gadis itu dengan keras.

Ophis bahkan tidak sempat bereaksi saat sebuah pukulan lain datang menghantam kepalanya.

"Bajingan!" energi hitam berkumpul di sekitarnya... dan suara retakkan terdengan dari tangan Naruto yang hancur memukul dinding pelindung itu.

Namun Naruto seperti telah gila dan tidak pedulu, pemuda itu memaksa untuk merobek semua yang ada... Naruto berteriak seperti setan, memukul dan merobek pelindung itu... mengabaikan semuanya, mengabaikan tubuhnya yang rusak akibat gaya balik itu.

Ophis sendiri kembali menjadi diam saat menatap semua itu. Naga itu diam saat melihat Naruto yang tidak lagi bergerak. Namun dengan cepat dia melompat saat menyadari semburan larva muncul tepat di bawah kakinya.

Dia melompat, dan menyadari itu adalah kesalahan saat Naruto telah memberikan tendangan kerasa tepat di dadanya. Tidak menunggu ada kesempatan baginya, Naruto terlihat kembali mengejar Ophis kedalam bangunan itu. dan sebuah lemparan Ophis terlempar ke bangunan lain di luar academy, Naruto masih setia mengejar Naga itu keras.

Sirzechs terdiam sebentar, menatap para mahluk supranatural lain yang terlihat focus pada adengan ini. Tatapannya lebih menuju pada para dewa-dewa yang terlihat tertegun, sesekali marah dan sedih. Namun apa yang sering ia lihat adalah kemarahan, ketidak puasan dan penderintaan saat melihat adengan itu.

Tidak, ekspresi itu hanya ada saat menlihat Naruto …. Ōtsutsuki.

Kembali di sana, Naruto membanting Opshi di tengah jalan besar. Banyak Manusia berada di sana pingsan tak sadarkan diri, tapi tidak peduli bagaimanapun. Beberapa tumbuhan telah bergerak aneh melindungi mereka semua.

Sebuah benturan besar ada di sana, terlihat Naruto keras menginjak Opshi yang dalam bentuk manusia. Bahkan di balik layar ini bisa Sirzechs rasakan tatapan ketidak percayaan dari Naga Ketidak terbatasan itu.

Namun Naruto yang akan kembali menginjak dada Ophis itu tiba-tiba terjatuh. Sebuah darah, merah melayang di antara udara. Naruto kembali berteriak keras saat merasakan kakinya telah hilang dan menjadi ilusi seketika. Namun tidak jatuh, Naruto mencengkram kedua bahu Ophis keras …. Mulutnya terbuka sangat lebar secara tidak wajar.

Dan sebuah Bola Hitam dengan intensitas penghancuran besar keluar dari sana.

Sirzechs melebarkan matanya saat itu. bukan hanya dia, namun hampir semua mahluk supranatural juga melakukan hal yang sama. Dalam ledakkan putih itu, dia bisa merasakan semua yang ada di sekitarnya hancur tertelan di dalam cahaya.

Namun hal yang lebih mengejutkan lain adalah teriakkan tidak wajar dari Ophis yang meraung. Membuatnya dan hampir semua yang ada di dalam ruangan ini merinding.

Itu tidak raungan yang biasa, itu adalah raungan Naga yang marah.

Di dalam ledakkan cahaya itu, ular hitam hadir tiba-tiba di sana. Ular hitam besar yang gelap tidak berbatas yang menehan sebagian dari cahaya itu. Dan tidak hanya itu bersamaan dengan sesuatu yang tidak dapat di jelaskan berada di sana. Tiba-tiba dalam sebuah ketiadaan, pilar hitam yang tidak di ketahui dari mana berasal muncul dan membelah ledakkan cahaya itu seketika.

Sirzechs terdiam, dalam pikiran ia tau bahwa kekuatan Ketidak terbatasan lebih dari ini. Sebagai pemuncak dari sepuluh kekuatan utama saat ini, Ophis sehrusnya lebih dari ini.

Namun saat ini entah kenapa pemikiran itu tertahan di sana, melihat pemuda itu. melihat dia yang sekarat berjuang melawan Ophis hingga seperti itu. membuatnya merinding… "Apa yang akan terjadi jika ia berada di dalam performa penuh miliknya."

Ledakan telah lama berlalu di sana, di tengah kawah yang dalam. Ophis masih mengambang di sana tidak peduli. Pakaiannya bersih, bahkan tidak ada sedikitpun noda di sana ….. tatapannya tidak berekspresi sebagaimana biasa, mata hitam yang menatap kedalam kawah itu. Mata hitam yang menatap mayat rusak yang tak lengkap itu.

Namun seperti tidak mengenal akhir, mayat itu kembali berkedur, bergetar hebat menggungcang sekitar. Lahar batu merah kembali menyala membara terang membakar semuanya. Naruto kembali bangki perlahan ….. kaki dan semua anggota tubuh mulai kembali tumbuh pada dirinya.

Dia menatap Ophis, sama seperti saat pemuda itu menatap Sirzech dan yang lainnya. Tatapan yang sama, tatapan yang tidak peduli pada apapun yang berada di sekitarnya. Tatapan yang tetap kosong, acuh tak acuh kepada Dunia ….. tidak peduli bahkan raut wajah yang mungkin tidak akan berubah bahkan jika Dunia ini binasa.

Namun tiba-tiba suara retak seperti kaca yang pecah terdengar tipis menggema kesetiap sudut kota. Di dalam rekaman itu, Ophis baik Naruto sama-sama terdiam saat mendengar suara itu. Dan bukan hanya mereka bahkan Sirzechs dan para pimpinan Supranatural yang lainpun juga ikut terdiam mendengar itu. Suara itu begitu lembut seperti sebuah bisikan, namun begitu dalam hingga tenggelam di dalam setiap akal mereka.

Bersamaan dengan itu suara Naga mengaum marah terdengar memecah kesunyian yang tiba-tiba datang, menenggelamkan suara lainnya tidak berbekas. Namun tepat di sana, Sirzechs dapat melihat dengan jelas bagaimana Ophis menatap jauh ke atas langit dengan tatapan penuh kerinduan… dan raut marah yang datang setelahnya.

"Red…. Liga Iblis."

Sirzechs dan yang lainnya tidak mengetahui apa yang di tatap oleh Ophis, namun dari apa yang Naga itu katanya….. satu-satunya mahluk terkuat yang ada di jajaran atas selain sang ketidak terbatasan adalah Great Red, mimpi dan ilusi.

Ophis tidak mengucapkan sepatah katapun, dia lansung melesat lurus ke atas langit. Kembali di sana Sirzechs melihat tidak hanya dia namun Naruto juga ikut melesat ke atas sana.

"Apa itu…" secara tidak sadar dia berucap lirih, meski mengetahui ada hal luar biasa di atas sana. Namun dari sudut ini, sudut di mana dia menyaksikan video ini…. Dia tidak dapat melihat hal apapun.

"Itu ….. Realm of the Gods." Seperti tidak menjawab pertanyaanya secara lansung, dia dapat mendengar beberapa Dewa berbisik satu sama lain saat melihat adegan itu.

Di sebelahnya penganti Lucifer itu dapat merasakan bahwa Odin yang tepat duduk di sebelahnya saling meremas pelan kedua tangannya sendiri.

"Apa itu…."

"Harta kami, satu-satunya harta paling berharga yang di tinggalkan oleh nenek moyang kami yang tak dapat kami ingat lagi." Odin berujar pelan namun penuh dengan semangat, mata yang memancarkan kegilaan …. Atas sesuatu yang bahkan mungkin tidak dia ketahui. "Satu-satunya harta kami, harta kami yang di hancurkan oleh mereka yang jahat."

Iblis itu tidak membalas lagi, kembali tatapannya melihat saat bagaimana tiba-tiba Naruto terlempar jatuh ke tanah. Dapat dia lihat dengan jelas bagaimana Dewa itu meraung marah untuk pertama kalinya. Menatap langit dengan tatapan celaka. "Ophis, Kau hina…. Takutlah pada [Karma]!"

Naruto kembali mencoba untuk melesat naik, namun kembali jatuh menabrak tanah saat sebuah pilar hitam jatuh dari langit menghantam dadanya. Teriakkan marah kembali terdengar untuk ke dua kalinya, api biru dan lahar merah dengan cepat menyala dan membakar Kuoh sekitarnya dengan ganas.

Dan sebuah pilar api naik menjulang kelangit, seperti sebuah tangan raksasa yang mencoba memetik bintang …. Dan saat itu suara binatang kolosal terdengar bersamaan dengan dua suara naga yang mengaum marah.

Mengetarkan bangunan di sekitar mereka dan bahkan menghancur kan beberapa. Dalam daratan yang telah retak terbelah, di mana api biru menari keluar dari sana dan lahar itu yang menahannya. Tangan api itu menyusut, semakin memendek terlihat mengenggam sesuatu dari lahar yang meleleh terbakar..

"Naruto…. Kau! Kalian! Ōtsutsuki kalian selalu tidak berperasaan!"

Dan tidak lama, sebuah pilar cahaya jatuh dari langit menimpa Ophis maupun Naruto.

.

.

.

Dan sunyi setelah semua, mereka diam membisu di dalam pemikiran masing-masing. Tidak ada satupun yang berniat untuk memulai sebuah pembicaraan di dalam sana.

Sirzechs dapat dengan pasti merasakan bahwa suasana semakin berat dan berat untuk setiap waktu yang berlalu. Dia menatap kembali layar yang telah kosong itu, setelah pertarungan itu Kuoh bisa di kanyatakan telah menjadi hancur sepenuhnya. Tidak berbekas, hilang semua tak bersisa…. Meninggal tidak ada apapun selain kehancuran.

Namun Lucifer itu masih diam membisu, ketidak tahuannya membuatnya buta akan segala hal yang terjadi di depan matanya. Dia menatap semua Dewa yang ada hari ini, menunggu apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.

Hingga begitu lama, perlahan namun pasti beberapa bisikan mulai terdengar lebih jelas dank eras.

"Itu harta kaum kita.."

"Leluhur dan segala misteri yang ada di sana.."

"Mengapa Great Red berada di dalam Realm of the Gods?"

"Itu mustahil apa yang sebenarnya terjadi…. Apa Dimensional Gap yang kita kenal sebenarnya adalah Realm of the Gods yang kita cari?"

"Siapa dan apa itu Liga Iblis…."

"Tidak mungkin, bahkan Iblis ada di sana?"

Bahkan sebelum benar-benar tenggelam di dalam pemikirannya sendiri Sirzechs mendengar Indra telah berkata keras kepada mereka semua yang hadir… "Musnahkan Dia…. Ekstrak Dewa celaka itu menjadi untaian energy... Hanya dengan itu Realm of the Gods akan menjadi milik kita."

"Dialah kuncinya.."

Dan tidak hanya dia, semua yang hadir pada saat itu terdiam menyetujui.


Selesai untuk saat ini… sedikit pendek, maaf untuk itu. chapter selanjutnya telah siap dan butuh beberapa perbaikan…. Mungkin sekitar 5-6 hari lagi akan di update.

pertarungan Ophis dan Naruto ada di sana.

walau sebenarnya adalah cukup wajar ini pendek, mengingat ini hanyalah tambahan chapter sebelumnya... he he he maaf.

Terimakasih, dan ah musuh utama akan datang... yah fic ini juga akan segera tamat.