Chapter 7 : [Samsara]
Di dalam malam, saat di mana cahaya bulan tidak bisa menembus tebalnya awan. Di bawah kegelapan yang tak berujung dia ada. Langkah kaki kecil yang gadis itu ambil seakan tidak mengenal jarak…. Terlihat sangat lambat, namun di saat dia berada dalam kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata manusia. Dia. Ophis tidak melangkah dalam normal, sesekali dia mengambil lompatan kecil menghindari lubang dan ranting yang ada di jalan. Sesekali bersenandung kecil dengan nada yang riang, mata yang tertutup sejenak ….. namun saat terbuka mata itu menampilkan gelap yang melahap segalanya.
Dia melompati sebuah genangan air sebelum berhenti, di bawah sebuah tiang listrik. Tepat pada sebuah cahaya satu-satunya di tempat itu ….. mata hitam yang melihat dia. Seorang Pemuda dengan rambut merah bagaikan darah yang jatuh. Tubuh yang terlihat bagaikan mayat yang mati, dan tatapan itu …. Tidak bisa dikatakan kosong, tidak pula bisa dikatan berekspresi, melihat wajah pemuda itu … selalu akan berbeda. Dalam kedipan mata, setiap detik wajah pemuda itu akan menampilkan seribu hal yang berbeda.
Ophis, menatap pemuda itu. penuh dengan pengharapan, penuh dengan kekaguman yang tak kira …. Bukan untuk pemuda itu, namun untuk asal keberadaan dari dia. Untuk dia Dewa yang tersisa dari [Senja], sebuah anomali yang tak seharusnya ada lagi di Dunia ini. Sebuah kesalahan kecil yang menjadi riak dari semua ini. Penyebab kekacauan dan malapetakan atas semua insiden ini.
Sasori, Putra dari Jah'ad.
Darah lansung dari Ayah.
"Ophis ku telat." Sasori tersenyum dengan ceria, pemuda itu berlari kecil menymbut Ophis dengan wajah yang bahagia. Itu wajah damai yang tidak berdosa. Namun saat Naga itu berkedip, wajah itu kembali berubah seperti tidak dia kenal lagi. "Apa yang membuat mu menjadi terlambat …. Kehendak Ayah?"
Melihat wajah itu, meski ucapan itu terdengar seperti sapaan teman lama. Mata yang sekarang menghianati semuanya.
"Jangan pandang seperti itu ok, ini memang ada sejak aku lahir." Air mata jatuh dari mata Sasori, pemuda itu tersenyum walau air mata itu menghianatinya …. Dia terlihat menyedihkan.
"Sasori, aku tidak mengerti …. Meski kau mewarisi [Samsara] dari darah ayah." Ophis menatap kosong setiap perubahan pada wajah Sasori. "Tidak seperti Naruto dengan [Karma] nya. Kau tidak memiliki kuasa penuh atas [Samsara]."
Ophis tidak pernah sadar bagaimana air mata itu telah berhenti mengalir ….. raut wajah Sasori menunjukkan ketakutan seperti melihat kematiannya sendiri saat menatap dan berbicara padanya sekarang. "Jangan sama kan aku dengan bajingan Ōtsutsuki yang jahat itu ok …. Tidak menyenangkan sekali, kehendak Jah'ad."
Mendengar nama Ōtsutsuki ….. kembali mengingatkan Ophis akan Naruto dan Kuoh. "Itu menyenangkan, saat melihat dia yang menjadi tidak berdaya. Tidak ada dalam ingatan ku saat itu dia yang sekarang sangat berbeda dengan dia yang dahulu telah memengal kepala ayah."
"Arrrk! Sangat jahat ….. mengapa kau mengatakan hal yang jahat itu Kehendak Ayah!" nada itu terdengar marah, namun sesaat setelahnya tawa mulai terdengar dari mulut Sasori.
Pemuda itu mulai bertepuk tangan …. Wajahnya menjadi datar tidak berekspresi kembali.
"Tujuan kita adalah niat dari Jah'ad." Ophis berucap datar…. Dia menatap Sasori acuh tak acuh. "Realm of the Gods adalah final dari semua."
Suara tangis kembali terdengar dari Sasori. "Untuk itu kita harus membunuh si jahat Naruto bukan? Huuuhh~"
Ophis kembali diam, bahkan saat ini sejak pertemuan pertama mereka setelah [Senja] dia sama sekali tidak bisa membaca wajah Sasori yang selalu berubah itu. terpengaruh oleh [Samsara] Sasori tidak pernah memiliki wajah yang tetap di sana. Naga itu melihat jari jemarinya sendiri, di celah antar jari jemarinya ada sebuah luka di sana …. Luka itu seperti korosi yang menelannya secara perlahan, seperti memaksanya untuk pudar dari dunia ini …. Dia tidak mengambil jauh, namun melihat ini seperti tidak bisa kembali mengenang masa-masa itu …. Luka itu, akibat [Karma].
"Pada awalnya Realm of the Gods itu bukan milik siapapun." Ophis mengalihkan pandangannya, dia mendapati wajah Sasori yang terlihat serius di sana. "Itu milik Malam …. Milik [Kehendak] dari Malam."
"Apa maksud mu dengan mengatakan itu." Ophis tidak pernah mengerti dengan Sasori, baik wajah dan pemikiran Dewa di depannya dia tidak mengerti. "Tidak ada gunanya mengatakn semuanya, sebagai yang selamat atas pembantaian Naruto, aku mengerti semua."
"Itu sejatinya milik Malam, dan Li hanya merebut itu semua." Namun anak Jah'ad itu masih melanjutkan. Sasori penuh ketakutan saat menceritakan semua itu. "Begitu dengan ayah kita Jah'ad dan Ōtsutsuki yang jahat."
Malam itu angin berhembus mengeser awan, sinar buram jatuh menutup bumi memperlihatkan semuanya. Saat Ophis menyadari entah bagaimana kegelapan pekat yang lain telah ada di bawah kakinya. Matanya melebar sejenak, itu sama pada saat itu …. Kegelapan itu berasar dari Sasori, itu kegelapan yang sama yang di gunakan Jah'ad untuk melawan Ōtsutsuki Naruto.
"Meski Ōtsutsuki telah memusnakan Realm of the Gods …. Itu tidak sepenuhnya musnah Ophis.." Sasori tersenyum riang, seperti buta untuk tidak mempedulikan kegelapan pekat yang melata di bawah kakinya. "[Karma] milik Ōtsutsuki, tidak sekuat [Kehendak] milik Malam …. Karna tidak seperti yang lain …. Hanya Malam lah satu-satunya Dewa Purba yang tidak membutuhkan [Nama] dan [Legenda] untuk di ceritakan Manusia agar tetap hidup."
Ophis kembali tertegun, dia menatap Sasori yang membuat ekspresi idiot di sana. "Itu berarti masih ada kesempatan bagi Ayah?"
"Benar…" Sasori membalas cepat. "Masih ada kesempatan bagi Realm of the Gods untuk kembali ada ….. masih ada kesempatan bagi Ayah untuk kembali ada di Dunia ini."
Naga itu kembali teringat kejadian di hari itu. Saat Ōtsutsuki membunuh Jah'ad, saat dia Dewa Ōtsutsuki itu membengkokkan ruang di sekitarnya dan menyedot paksa segalanya kedalam pusaran Hukum sebab akibat untuk musnah bersama.
Masih ada kesempatan untuk kembali pada hari sebelum itu.
"Namun Kita harus cepat Ophis." Sasori berujar kembali. "Dia Ōtsutsuki Naruto adalah Kaisar ke empat saat itu maupun saat ini yang di akui lansung oleh Realm of the Gods, dalam waktu dia bahkan mulai kembali secara perlahan …. [Karma] terkutuk itu …. Semakin kita membicarakan dia dan apapun yang terkait dengan keberadaannya walau sekecil apapun.
Maka akan semakin berkembang apa yang dia miliki, hingga mungkin akan kembali pada saat puncaknya."
Namun bagaimanapun Ophis tidak terlalu ambil peduli degan semua. "Tidak peduli bagaimanapun dia, masih ada kebencian dari para Dewa setelah [Senja] kepada dirinya. Bahkan di dalam Realm of the Gods sendiri jiwa para Dewa palsu masih bertahan atas [Kehendak] yang bahkan [Karma] tidak mampu membinasakan itu."
"Tolong jangan lupakan Great Red …." Sasori, menepuk kepala naga itu. "Bagaimanapun bahkan setelah di hancurkn oleh tuan mereka sendiri. Anjing-anjing dari Liga Iblis itu masih memiliki kesetiaan kepada Ōtsutsuki."
Namun Ophis merasa beku seketika, pandangannya kosong saat menatap Sasori. Pemuda itu kembali mengeluarkan ekspresi celaka seperti seseorang telah membunuh ayahnya dan mencuri istrinya. Sasori, mengambil langkah mundur sejenak ….. menatap Ophis, bahkan dalam pandangan matanya Naga itu bisa melihat dengan jelas perubahan wajah paksa Sasori secara nyata.
"Jangan coba untuk kabur …. Oh, siapapun diri mu." Sasori tidak berbicara padanya, detik berikutnya pemuda itu mengambil lompatan jauh. Melesat tinggi meninggalkannya sendiri di dalam gelap kembali.
Awal kembali menutup cahaya buran dari bulan, di bawah sinar lampu yang kabur … Ophis hanya menatap kosong gelap malam yang berada di depannya. Tanpa rasa takut, tanpa rasa apapun di dalam hati … dia kembali melangkah kecil, bersenandung riang memasuki malam yang gelap.
Bahkan meski bukan Dewa sejati dari Asgard Loki tetaplah salah satu Dewa yang telah di ceritakan oleh Manusia dalam [Legenda] nya. Meski terlahir dalam darah Jotun dan putra dari Fárbauti, dia tetaplah Dewa yang di angkat oleh Odin itu sendiri menjadi saudara dari anaknya Thor. Dan [Nama] yang tetap masih ada terucap dalam mulut Manusia hingga detik ini.
Dengan sebuah lingkaran sihir tercipta di bawah kakinya, Loki melesat terbang melintasi malam dalam ketakutan lengkap. Dia tidak pernah menjadi seperti ini dalam hidupnya, bahkan dalam kenangan tidak pernah menjadi seperti ini ….. tidak ada terlintas bahkan di dalam pemikirannya perasaan ini akan muncul. Sebuah perasaan yang mereyap jauh di dalam dasar hatinya yang dalam, sebuah kegelapan yang meraba bagaikan parasit sesat yang tidak terkendali meraba di sana.
Sebuah perasaan ketakutan …. Takut. Akan kematian.
Tubuhnya merinding seketika, sebuah sensasi dingin seperti membelai wajahnya. Dengan cepat Dewa itu membalik badannya dan menciptakan lingkaran sihir dari ruang kosong. Tidak membutuhkan waktu atau mantara apapun, ledakkan energy seketika memenuhi semua. Meledakkan tempat itu hancur kan tak berbekas.
Namun Loki sama sekali tidak merasa tenang di dalam jiwanya. Jantugnya berdetak sangat keras, seperti akan meledak setiap saat di dalam ketakutan, dengan itu semua Dewa itu kembali meledakkan daerah di sekitarnya senbelum berbalik kabur dengan sekuat tenaga.
Tapi di dalam kegelapan malam sesuatu muncul. Loki sesaat merasakan waktu menjadi lambat, sebuah tangan putih dan kurus menyerupai tangan seorang wanita meluncur dan mencengkram lehernya. Loki bereaksi terlambat, berteriak tercekik keras sebelum kesarannya melayang …. Menyadari telah kepalanya terbentur kerasas di atas aspal jalan yang kotor.
Sasori menangis keras denga air mata di sana sebelum kakinya kembali terangkat dan mengingjak kepala Loki keras. Terjadi retakkan di sekitar mereka yang bertambah panjang, namun anak dari Jah'ad itu bahkan tidak ambil peduli sebelum kembali menginjak kepala Loki dengan cara yang sama.
Loki berteriak keras dalam campuran kemarahan dan ketakutan. Sebuah lingkaran sihir hadir di bawah tubuhnya yang terngkurap sebelum meledak di dalam keindahan yang menghancurkan.
"Aku tidak mengerti kenapa bisa begitu ….. kau bukanlah keturunan dari Audhumbla." Sasori bertanya dingin dan sini, menghianati wajahnya yang bercaya menyenangkan di sana. "Kenapa Asgard bisa-bisanya menjadikan mu salah satu dari Kedewaan Nordik."
"Arrkkk! Fenrir!." Loki berteriak nyaring mengabaikan semua, bahkan jauh di dalam hati dia sangat ketutan oleh sosok yang bahkan tidak tergores sedikitpun atas serangannya tadi.
Tidak sedikitpun untuk peduli. Sasori tetap diam menunggu jawaban yang akan datang. Bahkan di saat di dalam kegelapan seekor serigala besar datang dari gelap mengerkam dan mengigit lehernya dalam. Bahkan dengan taring yang di katakana mampu membunuh Tuhan dalam Al-kitab ….. pemuda itu masih biasa-biasa saja dengan semua itu.
Loki berteriak keras kembali sesaat dia merasakan tangan Sasori setajam pijau saat mulai menusuk punggungnya secara perlahan.
Mengabaikan teriakkan Loki, mengabaikan bagaimana darah mengalir deras dari lehernya oleh Fenrir yang mengoyak. Pemuda itu menunjukkan sebuah ekspresi bodoh di sana. "Jadi inikah taring yang sangat terkenal itu. Yang sangat di takuti oleh Odin, anak dari Borr? Taring yang di omong kosongkan mampu membunuh Tuhan dalam Al-Kitab dan Dewa?
Betapa menyedihkannya, metapa menghina semuanya. Kalian Dewa yang sekarang yang begitu lemah. Kalian Dewa sekarang yang rendah …. Mengangkat seekor Jotun untuk menjadi Dewa telah menunjukkan betapa jatuhnya Asgard."
"SIALAN! SIAPA KAU BERENGSEK!." Loki berteriak kembali di dalam kesakitan, tubuhnya bergetar, bergerak kasar begitu kesakitan saat tangan Sasori telah jauh menembuh tulang punggungnya. Air mata membuatnya ingin menangis dan mengeluarkan segalanya ….. namun rasa sakit sialan ini membutakan pemikiran.
"Loki, kau binatang kotor." Sasori berhenti, mengeluarkan tangannya dari peunggung Loki. Pemuda itu beralih mengambil tangan Loki dan membengkokannya kearah yang lain. "Bahkan saat Ayah mengajarkan cakra kepada Manusia, mereka tidak pernah mengakui diri mereka adalah Dewa yang setara dengan kami yang asli …. Karna mereka hanyalah Dewa Palsu."
Suara tulang yang patah dan teriakkan Loki kembali. Tidak hanya itu, pemuda dengan rambut merah itu membuka mulut Loki kasar sebelum menarik dan memotong lidahnya.
Dan terdiam tidak ada suara lagi dari semua itu. tergeletak di bawah sana, hanya tubuh Loki yang penuh lubang, dan kedua tangan dan kaki yang berputar pada posisi yang tidak seharusnya.
Menyelesaikan semua, Sasori berdiri di sampingnya tubuh yang sekarat itu. "Baiklah Jotun, sepertinya kau masih sadar …. Seperti yang di harapkan dari kalian Binatang Kotor.." Sasori berteput tangan dengan semangat, dia sedikit tertawa kecil melihat betapa buruknya Loki.
"Aku tidak tau siapa yang menyuruh mu." Sasori berjongkok dan menyodok pipi Loki berulang kali dengan jarinya. "Atau ini hanyalah kesialan mu yang tidak sengaja di sini Jotun."
"Namun apapun itu izikan aku mencoba sedikit [Samsara] kepada mu. Bangalah Keturunan Jotun."
Dan lebih gelap dari pada malam di sekitarnya. Sebuah kegelapan pekat keluar dari bawah kaki Sasori, merayap dan memenuhi semua dan apa-apa di sekitarnya dengan kegelapan yang merayap pelan. Tubuh Loki kembali bergetar hebat di dalam ketakutan, horror jelas ada di dalam raut wajahnya …. Tidak seperti Sasori telah mematahkan setiap tulang di dalam tubuhnya.
Jiwanya jauh merasakan ketakutan pada hitam yang melata itu, jauh di dalam sana di dalam kehitaman pekat itu ….. dia merasakan banyak jiwa di sana, terlalu banyak suara di dalam sana ….. terlalu banyak tidak peduli suara kesenangan, kesedihan, kemarahan …. Tidak peduli apapun semua ada dan bercampur di sana.
Tubuh Loki berusaha bergerak dengan usaha terakhir saat kegelapan itu melata perlahan menuju dirinya. Loki bergetar ingin berteriak saat kegelapan itu masuk pada setiap lubang di dalam tubuhnya. Ingin beteriak namun mulutnya penuh dengan kegelapan dan lidahnya telah menjadi ilusi. Ingin mengontak batin Fenrir untuk menyelamatkannya, namun dia hanya menemukan anaknya telah mati dengan cara yang sama.
Loki berteriak tanpa suara …. Hanya ada angin yang keluar dari mulutnya yang bisu.
Matanya bergertar, mulutnya terbuka berusaha untuk membuat suara dalam usaha terakhir. Namun semua sia-sia mengetahui bahwa orang yang tersenyum di sisinya telah memotong lidahnya lama.
Hingga dia tidak tau lagi, hingga begitu lama di dalam kesakitan yang menenggelamkan tiba-tiba Loki jatuh di dalam dirinya sendiri. Berada di sana, dia terjebak, melihat banyak tanyangan dan adengan di mana dia hidup secara berbeda dengan kehidupan yang berbeda.
Terkadang dia menjalani hidup dengan tetap sebagai Jotun. Ada di dalam kehidupan yang lain dia memenangkan ragnarok dan menjadi dewa tertinggi di Asgard. Di dalam kehidupan yang lain dia hidup di dunia manusia dan menikah dengan seorang wanita dari Manusia. Tersadar di dalam kehidupan lain bahwa ia kalah dalam perang dan mati di tangan saudara angkatnya sendiri Thor.
Berubah, dan selalu berubah …. Setelah menyelesikan satu kehidupan, dia harus menjalankan kehidupan yang lain. Hingga akhirnya Loki semakin tenggelam dalam dan semakin dalalm …. Matanya yang muli kehilangan warna kehidupan …. Semua yang dia rasakan di dalam kehidupan yang berbeda.
.
.
.
Sasori melihat karyanya dengan senang. Dia menangis sedih saat kegelapan masuk ke dalam mulut dan setiap lubang dan celah di dalam tubuh Loki, pemuda itu semakin menangis dengan sedihnya saat tubuh Loki bergetar dan Jotun itu berteriak tanpan suara meminta pertolongan entah kepada siapa.
Hingga begitu lama, saat rasa sakit yang luar biasa tiba-tiba menyerang tubuhnya. Terdiam sejenak, dan melihat degan jelas. Tepat pada tubuhnya …. Berada pada celah antara jari telunjuk dan tengah …. Sebuah luka kecil yang amat sangat buruk tiba-tiba ada di sana.
Luka celaka dari sesuatu yang sangat amat di kenalinya, sebuah luka yang tidak meninggalkan apapun selain korosi untuk kehancuran.
"Sepertinya [Karma] juga telah menyentuh mu Putra Jah'ad." Ophis datang entah dari mana …. Melihat Sasori sejenak sebelum mengabaikan pemuda itu dan melihat kegelapan pekat yang berada di bawah kakinya.
Menatap lebih jauh tubuh Loki yang bergetar di sana.
"Melihat ini, apa kau terlalu bodoh atau hanya terlalu angkuh untuk berani-beraninya mengunakan [Samsara]?" Ophis menunjuk tubuh Loki, sebelum kembali menatap Sasori. "Tidakkah kau mengetaui bahwa dia juga ada di sini. Tidakkah kau sadar begitu kau menggunakan [Samsara], Naruto dan [Karma]nya akan segera merasakan diri mu itu Sasori."
"Kenapa aku harus takut kehendak Ayah." Sasori menangis tersedu-sedu sebelum kembali berujar dengan suara yang sembab. "Biarkan dia tau bahwa saya masih ada, biarkan dia ketakutan oleh [Samsara] kembali… bukankah itu lucu."
Namun Ophis hanya menatap aneh pemuda itu dengan tidak mengerti. "Apa yang lucu, dia yang mengalahkan Jah'ad saat masih menjadi Kaisar. Bagaimana kau yang hanya mewarisi tidak setengah dari kekutan Jah'ad akan mengalahkannya."
Namun Ophis tidak segera meminta jawaban itu. tatapannya segera beralih pada tubuh Loki yang tiba-tiba bergetar hebat di sana. Menatap lebih jatuh dari dalam mulut Dewa itu tiba-tiba keluar sebuah tangan lain yang mucul entah dari mana, dalam air mata dan darah tangan itu merobek mulut dewa Loki terpisah, sesuatu mucul selain tangan itu… itu terlihat seperti Loki itu sendiri yang keluar dari tubuh lamanya. Namun tidak sampai mencapai bentuk sempurnanya …. Tubuh yang baru kembali bergetar, dan mati dengan cara yang sama tubuh baru selalu keluar dari tubuh yang lama … darah dan ledir yang mengenang di sana selain kegelapan Sasori.
"Tchi…"
Sasori berdecak kesal saat Ophis telah menghancurkan tubuh Loki sepenuhnya hanya dengan satu kali tekanan jari. Mengabaikan bau dari darah dan kencing yang berputar di sekitar mereka, Sasori menatap Naga di depannya diam.
"Naruto akan segera merasakan ini …. Meski dia tidak mungkin akan kembali seperti dia yang dahulu dalam waktu sesingkat ini. Kekuatan yang akan kembali padanya saat menyadari ini mungkin akan setara dengan mu." Ophis menatap Sasori tanpa emosi bearti. "Entah dia yang kembali menghancurkan Realm of the Gods … atau diri mu yang akan mengantikan dia menjadi Kaisar ke lima dan membangkitkan Jah'ad …. Aku tidak peduli. Saat ini aku cukup sibuk dengan Great Red dan Liga Iblis di belakangnya. Jangan tambah beban ku."
"Mengapa harus menjadi khawatir, dia tidak akan sekuat yang dahulu. Dan saya akan cukup yakin untuk memenggal kepalanya saat kami bertemu." Sasori membalas dengan nada kosong di sana.
Ophis tidak membalas lebih jauh. Atau lebih tepatnya dia tidak pernah bisa membalas kata-kata itu. Wajah miliknya yang kosong tanpa ekspresi apapun di sana, tidak bereaksi akan hal yang terjadi di sekitarnya dengan penuh ketidak pedulian. Bahkan di saat Sasori tertelan oleh kegelapan hitam yang melata dan hilang, dia masih setia berdiri di sana dalam keheningan itu.
Naruto, tidakkah kau meresakan kenapa kau tidak hancur di dalam waktu. Bahkan saat [Nama] dan [Legenda] milik mu tidak lagi di kenal oleh Manusia, tidakkah pernah terlintas di dalam pemikiran itu kenapa kau tidak hancur.
Bahkan di dalam kebangkitan kembali, kau tidak pernah tau jawabannya meski itu telah ada di depan mata mu yang menyedihkan. Untuk mahluk setengah Dewa yang tidak pernah menginginkan tahta tersebut …. Sebuah ironi kotor yang berlansung di depan mata.
Kau bahkan tidak pernah sadar degan saya, sisa-sisa kehendak Jah'ad yang bertahan dalam waktu. Bertahan hanya untuk semua ini." Ophis tersenyum, namun di dalam waktu yang sama Naga itu perlahan mulai memudar.
Naruto duduk di sana menatap kosong semua yang menatapnya. Bahkan saat dirinya sadar akan di ekstrak menjadi energy oleh Dewa lainnya, tidak ada perasaan apapun di dalam hatinya. Tidak ada ketakutan, penyesalan…. Apapun, tidak ada apapun di dalam sana. Hanya sebuah kekosongan semu yang menemaninya yang sekarat.
Ia sadar bahwa Dunia telah berputar, bukan hanya temannya…. Semua bahkan Dunia ini telah lama mengutuknya begitu jahat. Untuk semua Manusia yang ia bantu tanpa pandang bulu, untuk semua niat baik Manusia yang ia bantu….. dan untuk segala niat jahat dari Manusia yang ia kabulkan.
Kembali ia memikirkan pada saat Li memotong langit, dan menyebabkan semua Dewa kehilangan ke abadian mereka.
Kembali ia memikirkan saat Jah'ad membagi langit yang sama, dan menyebabkan kekuatan Dewa menjadi terpecah dan menghasilkan Dewa-dewa kecil lainnya yang mereka sebut anak para Dewa.
Dan memikirkan perbuatannya yang menghancurkan langit para Dewa…. Menyebabkan [Senja] dan memusnakan hampir semua eksistensi Dewa yang ada. Meski mereka pada akhirnya berkembang dan menerapkan hukum Jah'ad.
Dan pada saat itu, apa yang ia pikirkan.
Naruto melihat banyak Dewa di depannya, melihat banyak mahluk Supranatural dan Mitologi di depannya.
"Kau mengenal Pan Gu?" seekor kera berbicara di sampingnya.
Naruto meliriknya, menatap Kera itu yang sedang mengikat segel penahan padanya. Naruto masih memperhatikannya, matanya melamun mencoba mengingat "Aku mengenalnya… dia Dewa besar yang suka memengang kapak raksasa…. Atau seperti itu."
"Itu menyenangkan, kami bahkan tidak lagi pernah mengingatnya." Kera tua itu mendesah sedih, namun detik kemudian wajah tua itu tersenyum padanya. "Bisa kah kau menceritakan beberapa saja pada orang tua ini?"
Naruto menatap kera itu tidak mengerti…. "Tidak ada lagi yang aku ingat tentang dirinya, selain kapak besar itu tidak ada lagi… ah mungkin ia bertarung bersama ku saat itu untuk mengalahkan Jah'ad... mungkin teetapi aku tidak yakin, hal yang hilang tidak akan kembali…" Naruto berucap, mengalihkan tatapannya dari kera tua itu. "Selain itu aku jauh lebih tua dari mu."
Kenapa kera itu bisa mengenal nama Pan Gu?
Sun Wukong tersenyum, kera tua itu tidak lagi berbicara banyak saat memasangkan segala segel terhadap Dewa itu.
Berbagai bunyi dan suara asing terdengar masuk ke dalam telinganya, Naruto hanya diam… bahkan saat rasa gatal di kala Rune-rune eneh itu mulai melata di atas tubuhnya Naruto tidak peduli, bahkan ia hanya menatap dengan penasaran terhadap berbagai lambang dan rune yang melekat pada dirinya.
Sun wukong memperhatikan semua itu, kera tua itu tidak bisa menjadi heran melihat ke anehan di depan matanya sendiri. 'Setidaknya Anda bisa merasa takut saat kemusnahan Anda bukan?'
"Tidakkah anda merasa takut.." Sun Wukong mencoba kembali membuka percakapan, namun ia hanya terhenti di saat Dewa di depannya bahkan tidak melihat wajahnya.
"Aku tidak takut…." Naruto membalas lirih, matanya lurus menatap ke depan…. Melihat semua mahluk yang ada di sana. "Hanya sudah terlalu lama, sudah sangat terlalu lama…. Tidak ada lagi harapan, tidak ada lagi keinginan untuk di wujudkan. Di dalam waktu yang beku bagiku… semua orang pergi menjauh…"
Semua sangat jahat..
Sun wukong kembali diam, bahkan dia tidak tau harus bagaimana membalas semua itu. "Selama kebangkitan tidakkah Anda terlihat lebih bahagia…"
"Aku…" Naruto menatap Kera itu sejenak dan mengelengkan kepalanya. "Tidak tau…"
Setelah lama semua segel dan pengekang itu telah terpasang sepenuhnya…. Itu terlalu banyak, segel dan pengekang itu terdiri dari semua segel yang ada dari berbagai Mitologi di Dunia ini. Sun wukong melangkah mundur beberapa langkah, matanya menatap Naruto…. Menyadari pemuda itu bahkan masih menatapnya lurus, dan kosong seperti boneka porselen.
"Bolehkah aku bertanya…" Naruto bertanya untuk kesekian kalinya…
"Silahkan.."
"Saat kau membuka mata, apa yang kau rasakan?" Naruto tersenyum, menatap kera tua itu.
Sun wukong terdiam sejenak sebelum menjawab. "Kebingungan, atas ketidak tauan apa-apa. Kesedihan saat mendapatkan kenyataan itu. Dan kemarahan yang tiba-tiba datang... kemarahan yang tidak tau harus di arahkan kepada siapa."
"Kemarahan di dalam kebutaan, sampai kami mengenalnya."
"Apa kau membenci ku?" Naruto bertanya sekali lagi.
Namun hanya kekosongan sebagai jawaban yang ia dapatkan, Naruto terdiam…. Ia sudah mengerti. Ia mulai meluruskan dudukkannya, dan akan menutup mata sebelum suara dari Sun wukong kembali berbicara padanya.
"Mengapa?"
-!?
"Mengapa pada saat itu Anda menghancurkan Tanah suci kita?" Sun wukong bertanya putus asa, menatap Dewa di depannya… dia menunggu.
Namun tidak ada jawaban….
"Aku tidak pernah mengingat siapa Ayah ku…." Dari jauh Zeus menatap pemuda kurus yang terukir dengan banyak segel itu. "Dari awal sejak membuka mata pertama kali du Dunia ini, semua hanya kegelapan kosong dan membuat ku bertanya… "Siapa saya?"
Zeus menatap kedepan, matanya lurus saat meliha dari balik kaca tipis ini... melihat bagaimana Dewa sekarat di depannya telah mulai memudar dengan cepat. Akan menghilang dengan pasti... ini alat yang di gunakan mereka bukan di ciptakan oleh mereka Dewa dan mahluk Mitologi yang ada di sini. Semua alat yang memaksa Dewa menjadi energi di ciptakan oleh teman mereka...
Dia yang menyampaikan kabar di dalam kemarahan buta mereka Ra.
"Tidak lama lagi kita akan kembali ke sana.." Di sebelahnya Indra berucap dingin. "Hal yang pernah hilang pada akhirnya akan kembali…. Realm of the Gods dan semua jawaban atas siapa kita akan menjadi jelas di sana."
"Apapun kita…"
Tidak hanya mereka, semua Dewa dari berbagai Mitologi juga saling berbagi pendapat mereka sendiri atas kejadian ini. Namun jauh di antara mereka, tersembunyi di antara yang lain… Amaterasu menatap semua ini dengan kesedihan. Mata merahnya lurus menatap pemuda yang tak berdaya di depan sana, berbagai gejolak emosi berputar di dalam dadanya…. Melihat itu, melihat betapa tidak berdayanya dia.
Dewa tidak maha kuasa…
'Naruto… bisakah saya bertanya kepada Anda? Pada saat itu, saat anda menghancurkan Realm of the Gods. Sebenarnya apa yang anda rasakan….. saat anda tau akan akibat dari semua ini, apa yang anda rasakan? Bagaimana Anda bertahan selama ini?
Bagaimana rasanya saat membunuh orang-orang yang anda cintai, membunuh orang-orang yang selama ini percaya pada anda….. bagaimana rasanya saat membunuh orang-orang yang selama ini mengantungkan semua harapannya kepada Anda…
Apa yang anda rasakan saat semua orang mulai meninggalkan anda?
Apa yang anda rasakan saat Dunia mulai mengutuk Anda… dan bagaimana Anda bisa bertahan dari semua ini?'
Dia tidak pernah mengerti, Amaterasu tidak pernah mengeti jalan pemikiran Dewa yang berada di depannya….. bahkan saat mereka pertama kali bertemu. Dia tetap tidak pernah mengerti.
Cahaya bersinar mengelilinginya, di dalam sana Naruto dapat merasakan ia mulai terkikir secara perlahan-lahan…. Rasanya begitu sakit, seperti orang yang menguliti tubuhmu dengan silet berkarat. Namun ia tetap diam, menatap semua Dewa yang tersenyum senang di depannya…. Menatap mahluk Mitologi lain seperti Iblis dan Malaikat jatuh yang menatapnya mengambil keuntungan… lebih jauh ia menatap Amaterasu yang bersedih atas dirinya.
Membuatnya bingung…
Mengapa bersedih?
Namun saat ia mempertanyakan itu, Naruto kembali mengingat hal-hal yang terlewat tidak lama ini. Kebangkitan, dan warna merah yang mengalir di depan matanya…. Tentang seekor Iblis yang bersedih akan pernikahannya…. Iblis kecil yang menarik perhatiannya… Iblis beserta peruahan dari Dunia itu sendiri… Dunia yang tidak dapat ia ikuti lagi…. Menyenangkan merah, begitu berwarna…. Begitu menyenangkan.
Jika saja, bisa sedikit lebih lama lagi…
Tentang permintaan, tidak ada permintaan… hanya ada ia yang memaksakan kehendak. Saat tatapan mereka pertama kali bertemu, Naruto sadar… bahwa Rias tidak memiliki keinginan apapun untuk di kabulkan… tentang ia dan gadis itu… dan semua hal yang terjadi.
Begitu baik, begitu cantik… seperti teman terbaik saya…
Hingga belum betul-betul untuk musnah dari Dunia ini, Naruto seperti tersadar… sekakan sebuah perasaan mucul di dalam perasaan yang lain, membingungkan hinggan membuat dia tidak tau siapa ia yang sebenarnya. Seribu begitu banyak dari mereka, membuat Naruto kaget, ekspresi ketakutan yang jelas ada di dalam wajahnya. Bahkan saat waktu mulai membusuk di sisinya, saat Dunia mulai melangkah meninggalkan ia yang berhenti ia tidak akan pernah melupakan perasaan yang membingungkan jiwa ini… dan pada saat itu sebuah [Nama] melintas di dalam pemikirannya. Sebuah ingatan yang datang beserta nama yang tak ingin ia ingat lagi Jah'ad [Samsara].
Dan perlahan sebuah goresan tipis muncul di keningnya… berdarah dan terbuka memunculkan mata yang seharusnya tidak ada lagi di Dunia ini…
Rambut putih yang jatuh bagaikan air, dan dua tanduk yang berbunyi retak dan memaksa tumbuh di atas keningnya…. Dan sebuah nada amat sangat jahat dan penuh amarah yang keluar dari mulutnya "Jah'ad!"
Ini adalah chapter terbaru… bersisa 2 atau 4 chapter lagi sebelum tamat. Terimakasih telah membaca… jangan lupa Fav, Foll dan Review nya ^^
Untuk cerita yang satunya blom akan aku update… nanti saja updatenya kalo Rikudo nya tersendat lagi.
Satu lagi bagi yang bingung bacanya, silahkan tunggu saja sampai tamat. Karna fic ini mengambil alur bolak balik, bukan alur lurus monoton.
Jadi buat yang nanya kenapa Naruto bisa dengan Amaterasu dan Dewa-dewa. Sabar yah, akan di jelaskan d chapter2 berikutnya.
Mungkin saat ini pembahasannya buat bingung karnan nanggung, namun setengah pembahasan lagi ada di capter depan. Maaf gaya saya memang seperti ini.
Seperti pertarungan Ophis dan Naruto yang d skip d chapter sebelumnya dan di hadirkan di chapter lain dengan sudut pandang yang berbeda.
Tambahan:
Amaterasu tidak akan pernah melupakan ketakutan ini, matanya melebar saat sebuah kekuatan yang di luar Logikanya meluap dan menyala tepat di depan matanya. Itu putih, sebuah putih yang murni menghanyutkan… membuatnya terlena, membuatnya diam menatap pemuda yang tidak lagi sama di depan matanya.
Saat tatapan mereka betemu, saat ia menatap mata ungu berpola riak air itu tidak bisa membuatnya untuk tidak merinding ketakutan.
Amaterasu menyaksikan bagaimana Zeus muncul di samping pemuda itu dan melepaskan pukulan kuat, aliran kekuatan mengema dari dalam tubuh Dewa Olympus itu, baut petir meledak deras membutakan semuanya. Namun apa yang membuat mereka semua terkejut adalah fakta bahwa Zeus tidak mampu memukulnya.
Zeus berhenti tepat di depannya, ekspresinya kaku dan keras, baut petir makin liar melata di sekitar tubuhnya. Namun Dewa itu masih tidak mampu melakukan pulukan itu.
Begitu tipis, sangat begitu tipis sebuah jarak yang membatasi mereka…. Sebuah jarak setipis kertas yang tidak sanggup di lalui Zeus untuk meletakkan pukulannya ke pada Dewa yang terbangun itu.
Amaterasu melihat bagai mana Naruto dan mata ke tiganya melihat Zeus, dan itu sangat menakutkan… dapat ia rasakan bahwa dia tidak lagi mengenal Dewa di depannya itu… "Generasi Ke-tiga… anak-anak Chaos…"
Zeus melebarkan matanya terkejut, namun tidak berlansung lama sebelum nyala petir melata lebih terang di banding sebelumnya.
Tidak hanya itu, penganti Lucifer juga ikut di dalam bagian itu…. salah satu dari 10 mahluk terkuat telah mengambil bentuk senpurnanya dan melesat dengan cepat.
Namun sama seperti yang lain, Amaterasu hanya mendengar sebuah bisikan dalam bahasa yang tidak dia kenali sebelum energy penghancur merah milih Lucufer terhisap ke dalam telapak tangan Naruto…
Naruto menatap kosong, Iblis di depannya… suara berbicara terdengar amat kosong dan menakutkan.. "Keturunan mereka yang di kutuk jahat di dalam Al-Kitab…"
Namun lebih dari itu semua Amaterasu membeku saat Naruto menatap dirinya… "Uchiha…" dan mata itu berkedip beberapa kali… "Aku mengingat semua, semua, semua….. Jah'ad… Ra…. Mengapa?"
Dan tanpa mereka sadari Naruto telah hilang dari hadapan mereka.
