Rikudo

Disclamer : Bukan mili Yuki


Warning : Typo, Update tidak menentu


Sinopsis : Pada awalnya dia hanya pecahan dari seorang dewa, yang menunggu waktu untuk memudar saat manusia semakin melupakan 'Nama' dan 'Legenda' tentang dirinya.

Namun saat Gadis Iblis itu datang membuat sebuah permohonan. Membuat penantiannya menjadi kacau dengan masalah yang datang setelah permohonan aneh itu.

"Bisakah kau lindungi aku?


Slide Story : Ra


Sasori duduk di atas ayunan, mengerakkan dalam diam di bawah matahari senja yang mulai terbenam. Anak-anak sekitar sana telah lama berlalu, sore di Kyoto yang mulai sepi… dan malam yang makin mendekat. Dia duduk dalam ayunan yang bergerak. Namun meski begitu, matanya tetap tidak beralih dari hal di depannya. Mata yang menatap seorang wanita tua yang makin sekarat seiring datangnya malam.

"Ra, kau terlihat menyedihkan." Suara Sasori hilang dalam hiruk pikuk Kyoto, namun dia memilih untuk tidak mengulang perkataan itu.

"Anak Jahad…" Ra membuka mata tuanya, perubahan kulit yang semakin menua dalam datangnya malam. "Malam semakin datang, dan wanita tua ini semakin rapuh dan sekarat."

Sasori tertawa walau itu bukan maksudnya, dia menatap wanita tua itu dalam kesenangan.

Ra tau itu adalah keanehan [Samsara], jadi dia memilih untuk diam tidak tersinggung. "Tahun itu ketika Ōtsutsuki mengecewakan ku dalam perang besar. Aku sadar akan selamanya terkurung dalam penjara reengkarnasi yang tiada habisnya ini."

Sasori menatap wanita itu .Untuk dia yang pernah menjadi puncak dalam Kedewaan Mitologi Mesir dan ikut dalam perang besar dalam melengserkan Jahad dari tahtanya. Namun pada akhirnya Kaisar baru Ōtsutsuki menghianati semuanya…. Baik musuh maupun sekutunya.

"Aku pernah menjadi puncak dari jenis ku." Suara wanita itu makin lemah dan lemah beriringan dengan tenggelamnya matahari. "Namun untuk menghindari [Karma], aku terpaksa harus bersembunyi di dalam penjara reengkarnasi ini. Hidup di pagi hari dan mati menjelang malam, semua itu untuk apa?"

Sasori menatap wanita itu, wajahnya menagis meski itu bukan yang ingin dia ungkapkan saat ini.

"Semua hanya untuk hari ini, tahun-tahun yang terlewat. Dan kematian yang tak terhitung yang ku telah lewatkan….. semua hanya untuk hari ini. Putra Jahad." Wanita itu tersenyum, namun dia semakin terlihat tua dan lemah. Matanya menatap matahari yang mulai membayang di antara gedung tinggi d Kyoto.

Nafas yang makin berat, namun matanya tetap kokoh menatap Sasori yang tidak jauh di depannya.

"Sejak aku ada dan menjadi satu-satunya Dewa Kuno yang selamat dalam pembantaian [Karma]. Aku terus bersembunyi hingga Naruto memilih tidur menunggu kematiannya. Ōtsutsuki itu menunggu untuk mati bersama dengan kami, aku tidak tau apa yang ada di dalam otaknya pada masa itu. he he he…"

Sasori diam memilih untuk tidak menyela, ikut tertawa bersama dangan Ra mendengat itu.

Ra tidak mempedulikan.. "Namun dia pasti menyadari bahwa dia tidak bisa menghilang, dia harus mulai sadar apa yang sebenarnya terjadi. Namun dia, Ōtsutsuki sekali lagi terlalu angkuh dan memilih untuk menunggu masalah itu muncul dengan sendiri, hingga dia tidak menyadari apa yang di lewatkan, hingga dia tidak mengetahui bahwa kesalahan kecil yang dia perbuat adalah kesempatan bagi kita.

Aku terbangun, terlahir sebagai anak gadis di pagi hari, seorang wanita muda yang indah di siang hari, dan menjadi tua dan mati di malam hari.

Aku berkelana dan mulai mengacaukan peletakkan [Karma] di seluruh Dunia. Meski [Karma] berhasil menyegel bahasa, sejarah masa Lalu, dan Nama Dewa-Dewi terdahulu celah itu masih tetap ada. Dan Aku adalah celah yang nyata itu.

Aku mulai menyebarkan apa yang terjadi pada masa lalu, menenggelamkan mereka para Dewa yang sekarang bahwa betapa menyedihkannya mereka. Menanamkan Delusi bahwa mereka harus merebut Realm of the Gods dari tangan Ōtsutsuki yang jahat. Menceritakan kisah-kisah masa lalu, menyebabkan retaknya pengekangan [Karma] pada Dunia ini. Retakkan kecil yang semakin besar dan besar, hingga aku bertemu dengan mu anak Jahad… dan celah itu makin ada dan lebar."

Air mata Sasori jatuh, namun ayunan itu tetap tidak berhenti. "Aku dan Ophis adalah niat Jahad, meski pada awal kebangkitan tidak ada lagi keinginan akan tahta dari Jahad dalam diri kami. Untuk Ayah kami, kami ingin menduduki tahta itu. tidakkah kau Ra yang agung peduli dengan itu."

"Aku tidak peduli, meski berjuang kau tidak akan mampu mengalahkan Ōtsutsuki."

Sasori diam tidak membalas hal itu. Karna itu dia sangat ingin membukan kembali Dunia itu, meski Ra telah mengatakan Dunia itu hancur binasa, harapan itu tetap ada... memaksakan untuk percaya bahwa Jahad masih ada di sana... membeku di dalam waktu.

"Yang ku inginkan hanyalah membuka pintu gerbang Realm of the Gods…. Apa yang ku inginkan ada di Dunia itu. Yang ku inginkan hanya anak-anak ku Tefnut dan Shu.

Kebencian ku, bukan hanya saat Ōtsutsuki menghianati ku. Tapi juga saat dia membunuh dua anak ku."

Dan pada saat itu dari kehampaan, sebuah ular kobra hitam muncul dan melata di antara mereka, ular itu mengelilingi mereka sebelum mulai melata mendekat ke kaki Ra. Melata hingga mulai berdiri di atas kepala Ra. Ikut memperhatikan Sasori dan mendesis memperingatkan.

"Iaret.." Ra berguman lirih.

"Saat kau menceritakan kisah masa lalu, semua dewa di generasi ini dan aku termakan dendam." Sasori melihat mata Ra yang mulai sayu dan tertutup. Tubuh yang semakin lemah dan kehangatan yang hilang dari dalam sana. "Meski selebihnya hanyalah kenyataan dan selebihnya adalah kebohongan, namun tidak ada di antara kami yang memiliki dendam yang lebih dalam terhadap Ōtsutsuki di banding dengan diri mu.

Untuk kedua anak mu yang telah mati. Kau memilih terjebak di dalam penjara reengkarnasi yang tak berujung. Memaksakan dirimu terlahir dalam bentuk yang baru melalui Nut cucu mu. Seolah-olah Nut adalah ibu mu bukan cucu mu, memutar balikkan urutan dan mengacaukan waktu. Tapi semua berhasil, hanya dengan itu kau terlepas dari tekanan [Karma]"

Matahari akhirnya tenggelam dan malampun datang. Sasori menyaksikan bagaimana wanita dan ular itu hidup hingga tetes terakhir dari kehidupan mereka. Menatap mayat dingin itu, yang perlahan mulai bersinar dan terurai hingga tidak bersisa selain dirinya di sana.

"Namun pada saat kita melemahkan pengekangan [Karma] terhadap Dunia ini. Semakin mengembalikn apa yang hilang dari Naruto. Sederhananya, semakin kita melanjutkan ini, semakin kuat Ōtsutsuki itu.

Dia memang menunggu masalah itu muncul, namun sepertinya dia tidak bodoh untuk tidak mempersiapkan antisipasi pada masa itu."

Dan malampun datang begitu gelap bertabur dengan bintang.


Kisah di ambil dari mitologi mesir Ra dan awal penciptaan Dunia menurut sejarah mitologi Mesir Kuno. Kecuali hampir semua Mitologi itu di rombak dan di susun ulang untuk jalan cerita ini, meski tetap mengambil referensi yang sama.

ah~ Ra di sini cewek... (maaf utk penggemar mitologi Mesir dan orang2 Mesir)

ini cuma slide strory, chap selanjutnya akan menyusul dalam waktu dekat...

dan maaf ngk update2 dan janji2 yg tidak bisa di tepati. bulan belkangan ini Yuki cukup sibuk dengan kehidupan nyata dan melupakan tempat kecil tercinta kita ffn huehehehe.