XoXo-XoXo-XoXo
Ethereal Space © Kiriya Arecia
XoXo-XoXo-XoXo
.
.
.
VI
Shiki pernah mengajukan pertanyaan di saat semua orang terlarut pada pemikiran masing-masing tentang situasi dunia.
"Apa hanya Shun saja yang bisa menemukan sang Ratu?"
Shun menggeleng, "Aku bisa mencari keberadaan Ratu, tapi siapa saja bisa menemukannya lebih dulu. Itupun jika mereka dapat mengenali wujud ratu."
Shun tidak menambahkan kemungkinan terbesar bahwa; sebelum sampai pada posisi terdekat pada ratu, mereka tentunya akan mati lebih dahulu karena menghadapi prajurit zerg yang berjaga. Meskipun begitu, ketika Shun mengedarkan pandangan, orang-orang di sekitarnya bukanlah orang biasa saja. Terutama Hajime.
"Karena itu, setidaknya kita harus mengetahui ciri milik sang ratu." Hajime menggoyangkan tangannya yang memegang berkas berisikan informasi tentang Ratu.
Semua mata menatap dengan penuh antusias sebelum berkas dibagikan.
"Ia masih dalam dalam kepompong putih yang besar. Pastinya banyak zerg penjaga di sekitarnya. Aku meyakini kalau penjaganya adalah zerg sejenis lebah."
"Jika musuh yang kita temui adalah jenis lebah, kemungkinan kita dekat dengan sarang ratu lebih besar."
"Sayangnya ada berapa ratus spesies zerg tipe lebah? Berapa planet yang harus didatangi? Waktu kita kurang dari 5 bulan."
"Kupikir ... walau siapapun memiliki kesempatan menemukannya. Aku akan menjadi orang pertama yang berhadapan dengan Ratu."
"Aku tidak akan menyerah untuk menjadi orang yang duluan melihat dan membunuhnya, Shun-san."
"Oh~ semangat itu, aku menyukainya Arata."
XoXo-XoXo-XoXo
Keheningan mendominasi ruangan, tapi tidak dengan isi kepala. Suasana itu memberikan kesan bahwa Shun terlihat bermalas-malasan duduk di sofa. Kendati, Shun memang layak untuk menikmati waktu santainya. Rapat bersama sudah selesai satu jam yang lalu. Jadi semua orang kembali sibuk dengan tugasnya masing-masing, terkecuali beberapa orang.
"Bagaimana keadaanmu?"
Haru sebenarnya memikirkan banyak kata yang harus ia ucapkan saat matanya bertemu pandang dengan Shun. Tapi hanya kalimat itu yang meluncur begitu saja dari bibirnya.
"Aku bisa saja tidur terus-menerus dalam waktu lama. Seperti putri tidur."
"Itu bisa jadi gejala penyakit Narkolepsi, mungkin juga African Trypanosomiasis atau Kleine-Levin Syndrome."
"Haru menanggapinya dengan begitu serius."
Shun tertawa ringan. Ia enggan menanggapi ucapannya terlalu serius. Jika tidak, mungkin Haru akan menjelaskan sejarah dan ciri-ciri gejala penyakit itu.
"Tidakkah kamu menggunakan kekuatanmu secara gegabah, Shun-san?" Yoru jelas khawatir padanya.
"Aku?" Shun memberikan jeda sejenak sebelum melontarkan jawaban, "tidak."
Ia menyesap tehnya pada detik berikutnya.
"Sejujurnya, akan bagus jika aku mampu menggunakannya secara maksimal. Tapi tubuh ini tidak mendukungnya. Jika aku memiliki fisik alpha seperti Hajime atau Kai, tentu hasilnya lebih baik. Makanya aku masih membutuhkan alat bantu dari Matsuri-chan."
"Tentang kekuatan spiritual, kemampuan Hajime-san sangat tinggi. Kai-san cukup bagus, Haru-san dan aku juga lumayan. Apa kami tidak bisa?" Aoi turut bertanya.
Netra lime Shun menatapnya tanpa berkedip, lalu ia menujukan pandangan pada cangkir teh yang tidak lagi penuh, "Bukan masalah sebesar apa kekuatannya, tetapi ini tentang gelombang yang sama dengan ratu."
Bahkan jika memiliki kekuatan spiritual yang besar, kalau tidak berada di tempat dan tingkat yang sama dengan ratu. Mereka tidak akan terhubung.
"Itu terdengar rumit."
"Sebagai contoh, jika ratu memiliki frekuensi pada angka 55678,92. Menurutmu, ada berapa orang di semesta yang memiliki spiritual tinggi pada angka persis sama seperti itu? Bisa saja ada yang memiliki 55678,91. Atau, 55678,94. Hajime mungkin saja juga memiliki spiritual yang sangat tinggi. tapi di angka berapa dia berada? 55678,91? 55678,95? 6000000? Berbeda satu angka saja, berarti tidak akan pernah terhubung. Tetapi aku, sejak awal berada pada poin yang sama dengan ratu."
"Wahh, bukankah itu artinya Shun-san juga seperti ratu bagi kita?!"
"Aku pangeran bulan yang memesona~ Tapi menjadi ratu juga terdengar hebat~"
"Angka itu hanya sebagai contoh, ya. Karena pada saat penelitian, tingkat kekuatan spiritual ratu masih tidak dapat diperhitungkan." Tsukishiro muncul tepat di belakang kursi Shun duduk. Tangannya memegang bahu Shun.
"OMG—"
"Tsukishiro-san! Jangan muncul tiba-tiba seperti itu!"
Tsukishiro tersenyum, "Aku tidak muncul tiba-tiba. Hanya saja kalian terlalu serius hingga tidak menyadari kalau aku turut serta mendengarkan pembicaraan kalian sedari tadi."
Tsukishiro biasanya berada di ruang penelitian kapal induk satu, jarang muncul di tempat ramai untuk sekedar bersantai. Kehadirannya di ruang istirahat membuat kejutan.
"Sesuatu terjadi?" Shun bertanya serius.
"Shun-kun, apakah aku hanya harus muncul di saat genting dan berbahaya?"
Mendengar nada playful dari Tsukishiro, Shun menanggapi lebih santai, "Yaa~ karena biasanya di saat genting seperti itu kau menampakkan diri."
Tsukishiro mengangguk, "Oh, aku hanya sekedar berjalan-jalan. Kau tahu situasi ruangan lab, bukan? Kadang aku ingin menjernihkan pikiranku."
Jika diingat lagi, pertemuan pertama mereka saat insiden Mars. Ilmuwan bumi yang ikut dalam misi ini, juga merupakan sosok paling banyak mengetahui situasi mereka saat ini. Bisa juga dikatakan, ia paling mengetahui bagaimana keadaan Shun sebenarnya.
Tsukishiro telah melakukan banyak hal untuknya, dia begitu berpengalaman mungkin karena ia salah satu ilmuwan terpandai dari bumi, kepribadiannya ramah dengan sifat baik dan penuh senyuman. Tentu saja, omega yang memesona seperti itu sudah ada pemiliknya.
Ahh ... memiliki pasangan terdengar menyenangkan.
Shun menopang dagunya sambil menghela napas.
XoXo-XoXo-XoXo
Tidak sebagus hasil dari bumi, namun kebun botani di koloni Mars cukup mengagumkan. Setiap flora, baik helai daun maupun hasilnya, sangat dihargai. Perkebunan itu di dominasi oleh kentang, tomat dan gandum di rumah kaca yang sangat luas. Beberapa insinyur terlihat mengumpulkan bongkahan kentang yang telah waktunya untuk dipanen.
"Aku suka kentang ketika sudah jadi makanan. Rasanya enak."
"Apakah yang kamu bicarakan adalah fried potato, atau Placki ziemniaczane? Atau mungkin malah Gratin Dauphinois dan Hete bliksem?" Dengan pose berkacak pinggang, Kurotsuki menanggapi Shun yang memperhatikan kegiatan sibuk para insinyur dan perwira.
"Fried potato? Apakah kentang yang hanya digoreng biasa rasanya juga enak?" Alis Shun berkerut. Pandangan penuh tanya sempat tertuju pada Hajime yang juga berada di perkebunan.
Seharusnya Kurotsuki tahu, mana mungkin pangeran muda ini pernah memakan sesuatu yang sederhana seperti cemilan rakyat jelata ini.
Tsukishiro tertawa geli, memang menduga akan seperti ini tanggapan dari Shun. Namun tentu saja ia juga cukup ingin tahu mengenai tanggapan Hajime. Seseorang seperti Hajime Mutsuki, apakah pernah memakan kentang goreng?
Lirikan matanya dan Kurotsuki segera tertuju pada pemuda tegap berseragam hitam itu.
Hajime ke perkebunan bersama mereka tidak hanya sekadar berjalan-jalan. Namun juga untuk memeriksa bahan-bahan mentah yang akan mereka bawa dalam perjalanan. Ya, mungkin hanya Shun saja yang sekadar berjalan-jalan menemani mereka.
Hajime yang mendapatkan tatapan dari kedua orang itu tidak memiliki banyak perubahan ekspresi.
"Baik itu hanya digoreng atau direbus, rasanya cukup enak. Akan lebih lezat jika memakai bumbu."
"Hajime pernah memakannya? Benarkah?"
"Apakah itu terdengar aneh? Paket nutrisi cukup umum digunakan untuk bertahan hidup. Ketika kami terjebak di perbatasan hutan daratan Asia saat menghadapi zerg, kami bertahan hidup dari tanaman apa saja yang ada di sana. Salah satunya kentang."
Jelas pemikiran Tsukishiro adalah apakah Hajime pernah memakan kentang goreng di cafe, bukannya di hutan karena makanan yang terbatas, dan hampir mati kelaparan.
Pembayangan mengenai Hajime dengan pakaian kasual berjaket hitam duduk di cafe langsung tergantikan dengan seragam militer serta wajah yang penuh dengan debu, membakar kentang di antara kayu api unggun yang membara dalam hutan gelap di malam hari.
Tetap terlihat tampan tentu saja.
"Tidak semua tanaman benar-benar rusak di bumi karena pengaruh dunia yang telah menjadi seperti ini merupakan kabar bagus." Tsukishiro berujar, kebanyakannya tanaman tidak mudah untuk bertahan hidup di bumi lantaran radiasi.
"Kau tahu Shun, dulu kentang goreng adalah salah satu cemilan yang paling digemari para orang bumi." Tsukishiro menambahkan.
"Oh, mungkin aku bisa mencoba kentang goreng buatan Hajime? Hehe ..."
Hajime tidak langsung menjawab. Ia melihat kentang-kentang yang dimasukkan ke dalam karung untuk diangkut nantinya. Hajime mengangkat beberapa karung besar berisi kentang dan meletakkan ke bahunya.
"Kita punya banyak kentang untuk persediaan. Mengenai kentang goreng, kamu mungkin bisa mencobanya nanti," Ia melangkah sambil membawa beban itu diiringi oleh perwira lainnya yang turut bekerja untuk mengangkut ke bagian logistik.
"?!"
Ekspresi Shun sedikit terkejut, dan itu membuat raut wajahnya terlihat lucu beberapa detik. Namun nuansa ceria kembali menghiasi penampilan elegannya.
"Sungguh? Aku akan sangat menantikannya!"
Masih mengekori Hajime, Shun mengikuti dengan kedua tangan bertaut di belakang punggung. Tampaknya tidak ada memiliki niat untuk membantu kegiatan itu. Ia berbicara panjang lebar, sementara Hajime sibuk dengan bawaannya.
Tapi itu terlihat seperti interaksi yang harmonis.
"Jiwa muda yang bersemangat." Tsukishiro bergumam pelan sambil melihat mereka dari kejauhan.
"Hm, pria mu ini juga memiliki semangat yang tidak kalah." Kurotsuki juga tampak dari belakang sedang mengangkut beberapa karung kentang. Terlihat gagah dan percaya diri.
Tertawa ringan, Tsukishiro memberikan petugas militer itu anggukan. "Tentu saja itu benar. Kalau begitu, jangan biarkan pasukan penyelamat kita kekurangan pangan, pria ku!"
XoXo-XoXo-XoXo
Dapur di kapal terbang militer mereka biasanya sepi. Mereka lebih memilih pergi ke bagian cafetaria yang disediakan untuk para perwira menikmati waktu makan. Jenis makanan yang disediakan bervariasi meskipun terbatas setiap menunya. Ini jauh lebih bagus dibanding saat di medan tempur yang hanya memiliki persediaan paket nutrisi. Tentu saja mereka harus memiliki pencapaian untuk bisa memiliki kenyamanan yang lebih baik. Walau akhir-akhir ini Yoru sering menggunakan fasilitas yang tersedia di lantai tempat mereka tinggal. Selebihnya tempat itu selalu sepi. Terkecuali jika mereka ingin membuat minuman sendiri dibandingkan membuang poin di kartu kredit demi minuman kaleng dari vending machine.
Lantas Haru tercengang mendapati adegan domestik begitu ia memasuki dapur. Bukankah ini benar-benar perkembangan yang tidak terduga?
Hajime baru saja selesai membuat kentang goreng simpel, masih ada spatula di tangannya. Sementara itu Shun menyodorkan sepotong kentang tipis ke arahnya.
Jika ia tidak muncul, mungkin adegan memberikan suapan akan terjadi dalam hitungan detik. Sekarang kedua pandangan itu teralih padanya.
Haru merasa terjebak pada situasi yang tidak menguntungkan, "Uhm yaa, kau tahu. Kopi ada di sini. Tapi maaf sudah mengganggu—"
"Haru, aku ingin kopi hit—"
Duagh!
Buk!
Ia bermaksud beranjak pergi karena telah mengganggu moment yang langka. Namun segera menghantam dagu seseorang. Refleks mundur, kepalanya terantuk dinding.
Adegan itu terjadi dengan cepat. Sementara tak peduli, sepotong kentang tipis yang disodorkan telah dinikmati oleh Hajime.
Tangan kiri Shun menumpu dagu, "Tidak ada yang terganggu. Lihat, Hajime sedang membuat kentang goreng, apa kalian ingin mencobanya?"
Masih mengaduh pelan karena hantaman tidak terduga. Haru merasakan helai blonde-nya mendapat elusan ringan yang dimaksudkan untuk mengurangi sakit karena benturan. Ketika mendongak, ia melihat jelas Kai menatapnya dengan ekspresi lembut.
"..."
Oh, ayolah. Mereka bahkan pernah keracunan, tertusuk tanduk monster dan sekarat karena pertarungan. Hanya hantaman ringan seperti ini bukan masalah!
Kenapa senyum itu malah membuat wajah dan hati memanas?
Haru merasa ini adegan yang tidak perlu terjadi antara ia dan Kai. Ia mengeluarkan batuk pelan untuk menghentikan suasana awkward yang hanya ia rasakan sendiri.
"Buatan Hajime? Tentu saja kami ingin mencobanya." Kai segera memberi tanggapan. Tangannya melingkari bahu Haru dengan nyaman. Mengajaknya tanpa kata mendekati dua orang yang terlihat seperti sepasang sejoli.
"Apakah itu boleh?" Kai bertanya pada Hajime.
"Hm. Kalian duduklah."
"Hei Haru, bisakah kau menyuapiku juga?" Kai meminta lebih banyak hal.
Haru kehilangan kata beberapa saat, "Kenapa kau meminta hal semacam itu ..."
"Karena itu terlihat menyenangkan. Atau aku saja yang menyuapimu?"
"Aku akan menyuapimu, buka mulutmu." Hajime menawarkan sepotong kentang dengan ekspresi kalem. Telah terarah dengan sengaja pada Kai.
Kai yang tidak menduga tawaran itu, "... terima kasih."
Haru menghela napas setelah mencicipi satu kentang goreng yang Shun suapkan padanya, "Mengingatkanku pada kejadian di hutan waktu itu, bertahan dengan kentang rebus selama beberapa hari ..."
Haru mengenang masa lalu yang cukup buruk jika diingat. Tidak ingin kejadian seperti itu terulang lagi.
Hajime masih sibuk menjadi koki dadakan, "Bersyukur saja bisa menemukan makanan layak di tempat penuh radiasi."
"Pengalaman tentang kelaparan?" Kai berusaha mengimbangi obrolan yang dimulai. "Rasanya tim ku pernah terdampar di pulau tengah laut tidak berpenghuni di bumi. Syukurnya ada banyak ikan di sana. Haha."
"Sepertinya tidak mustahil juga kalau kalian menangkap ikan hiu di sana."
Shun yang tidak pernah mengalami hal semacam itu, "..."
Tentu saja tidak sesuai baginya untuk ikut membahas makanan dengan alur seperti itu. Meskipun kemampuan koki di mansionnya patut dipuji.
Satu persatu kentang memasuki mulutnya seraya mendengarkan. Namun kemudian tangannya ditahan.
"Yang ini masih panas. Tunggu sebentar dulu." Hajime mengingatkan.
"Hm ... aku akan menunggu."
Suasana seperti ini, tidak buruk juga. Pandangan Shun seakan menerawang jauh.
Andai kebersamaan seperti ini dapat bertahan untuk waktu yang lama.
Andai saja.
XoXo-XoXo-XoXo
Alam semesta yang begitu luas, tanpa batas dan hanya sedikit informasi, benar-benar kondisi yang layak disebut bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami.
Tapi dalam luasnya jagat raya, mereka telah menyebar wantariksa, sang Ratu tidak mungkin bisa pergi tanpa meninggalkan jejak selama dia berada dalam Milky Way. Hanya jika ada worm hole, yang membuat situasi perlu dicemaskan.
Seperti bumi yang menghadapi banyak bencana, angkasa juga memiliki banyak perubahan. Termasuk munculnya beberapa planet katai yang masih dicoba untuk di identifikasi. Planet itupun tentu memiliki kemungkinan untuk dijadikan Ratu untuk bersembunyi.
Selain Shun yang paling utama diandalkan, mereka juga mengawasi setiap wantariksa yang telah di lepas ke segala penjuru galaksi, semua staff yang bertugas tidak akan berani mengabaikan informasi sekecil apapun dari wantariksa.
Pencarian masih berlanjut hingga menyentuh bulan ke tiga ekspedisi.
Tidak banyak penghuni kapal angkasa yang menikmati waktu santai seperti Shun, masing-masing memiliki kesibukannya sendiri.
Yoru yang terbiasa dengan obrolan dari Shun mendapati bahwa semenjak mereka semakin jauh dari Mars, Shun tidak banyak berbicara seperti biasanya. Bukan hanya kecemasannya sendiri, Shun hari ini terlihat cukup aneh. Namun percobaan terakhir yang menyebabkan alat ciptaan Matsuri rusak, bukanlah alasannya. Hasil pemeriksaan terakhir dari Shirotsuki mengatakan bahwa tidak ada after effect berbahaya setelah ia menggunakannya. Jikapun ada efek samping, itu hanya kelelahan yang bisa diatasi dengan istirahat yang cukup. Seperti ibaratnya istirahat setelah lelah bekerja.
"Shun-san, raut wajahmu terlihat tidak baik hari ini." Yoru mengutarakan pendapat.
Shun yang duduk di sofa menoleh padanya sejenak. Suasana ruangan selalu dingin sesuai keinginannya, namun seperti ada keringat dingin di pelipis pemuda yang diam sedari tadi.
Shun menyentuh pelipisnya, tersenyum tipis, "Aku memang merasa tidak cukup baik."
Yoru segera menghampirinya, "Apakah itu heat?"
Shun menggeleng, "Itu seharusnya belum."
Ia tidak melemparkan basa basi seperti biasa, lalu bangkit dari duduknya, "Aku akan istirahat di kamarku."
"Aku akan mengantarmu."
Langkah tercipta, dua orang berjalan melewati koridor. Langkah Shun terhenti, dia bersandar di dinding.
"Shun-san?" sejenak jantung Yoru berdetak lebih cepat. Ada tekanan spiritual yang menghampirinya.
Tiba-tiba penerangan di tempat mereka berada berkedip, bunyi listrik yang memperdengarkan terjadinya konslet. Alarm keamanan berdering, pesawat mereka berada bergetar seperti ada gempa yang terjadi. Namun itu tidak mungkin terjadi, karena mereka melayang di outer space.
Kejadian ini terasa begitu cepat. Tanpa jeda.
Raut wajah Shun semakin memburuk, dan situasi di pesawat tidak terlihat baik. Yoru segera mengaktifkan alat panggil hologramnya yang menampilkan layar tidak stabil karena gangguan frekuensi. Namun ia tetap menanyakan situasi kapal dan memberitahukan kondisi mereka pada ruang komando utama tempat Hajime berada.
Ia meraih bahu Shun yang memegang kedua pelipisnya. Keadaan ruangan kacau, alarm masih terdengar karena gangguan frekuensi.
Ini ... mungkin karena Shun.
Yoru mengeratkan pegangan jemari pada bahu Shun. Meskipun ini turut mempengaruhi Yoru, ia masih berusaha mempertahankan kesadaran dirinya.
"Shun-san, kamu bisa mendengarku?
"Maaf Yoru ... seperti aku sedang kesulitan sekarang."
Ada berbagai suara berdengung di pendengaran Shun. Beberapa terdengar seperti suara panggilan. Lainnya seperti teriakan yang memekikkan telinga. Shun menutup telinga, namun tiada guna ia melakukan hal itu. Suara-suara itu tetap memenuhi kepala, masuk tanpa ada yang bisa menahannya.
Ia tidak bisa lagi menahan diri untuk berdiri. Ia menutup matanya dengan erat. Berusaha mengendalikan kekuatan spiritualnya yang menjadi tidak stabil. Bahkan bagi Yoru, tekanan itu membuatnya berkeringat dingin dan tubuhnya terasa berat. Membuatnya merasa ingin jatuh, menyerah dalam kekacauan.
Pikiran Shun melayang, dulu hal seperti ini pernah terjadi.
Saat pertemuan pertamanya dengan sang Ratu.
Tapi penyebab sakit yang ia dera kali ini, ia tahu ini bukan karena mereka dekat dengan Ratu.
Ada banyak suara yang memanggilnya.
Begitu banyak.
Sangat mengganggu.
Tidak, mereka bukan memanggilnya.
Ini seharusnya panggilan yang ditujukan untuk Ratu.
"Shun-san, bertahanlah. Hajime-san dan Shirotsuki-san akan segera kemari. Mereka pasti bisa melakukan sesuatu."
Entah sejak kapan, Shun telah berada dalam dekapan Yoru. Jelas ini adalah posisi yang aman dan nyaman. Tapi gangguan yang dirasakannya belum berkurang. Semua dengungan membuatnya pusing.
"Shun-kun!" Shirotsuki datang lebih dulu dibanding Hajime yang muncul beberapa saat kemudian.
Ada kotak peralatan yang ia bawa, membuat Yoru diam memperhatikan apa yang dilakukan. Satu alat dipasang di dekat pelipisnya.
"Hajime-kun, kamu memiliki kompatibel feromon yang tinggi dengan Shun-kun. Tolong gunakan untuk membuatnya merasa lebih tenang."
Dalam sekejap, Shun beralih ke pelukan Hajime, dilakukan dengan begitu alami sehingga Yoru yang tadinya mendekap Shun tertegun. Tetapi setelah menahan pengaruh tekanan spiritual yang mengenainya, Yoru tersandar di dinding koridor, seketika rasa pusing menyapanya.
Tidak lupa pada Yoru, Shirotsuki segera memasangkan item yang mirip dengan milik Shun pada Yoru. Sesaat semua indranya yang tadi terasa kacau dan tertekan menjadi tumpul, namun perlahan membuatnya merasa nyaman kembali.
Ada aroma feromon yang memenuhi koridor.
Pada dasarnya feromon akan bekerja pada para omega, namun tidak berpengaruh bagi anggota keluarga atau omega yang telah memiliki mark dari partner. Sebab orang yang berpasangan telah terikat dengan feromon milik pasangannya sendiri. Tetapi Yoru harus mengakui bahwa feromon milik Hajime sangat luar biasa.
"Yoru-kun memiliki pengendalian spiritual yang bagus." Shirotsuki masih fokus pada kondisi Shun, namun ia memecah keheningan yang ada. Keadaan pesawat menjadi tenang tanpa ia sadari kapan itu terjadi.
"Jika tidak, mungkin sebelum sempat menghubungi kami. Kau akan pingsan lebih duluan."
Yoru yang mengingat bahwa baru saja dihantam kekuatan spiritual yang kacau menahan napas sejenak. Pandangannya tertuju pada Shun.
"Shun-san tentu menahannya agar tidak menyerangku begitu banyak."
Berapa detik waktu berlalu, tak terhitung. Koridor telah beralih dari kondisi berbahaya menjadi tenang dan senyap. Hajime menyingkirkan poni yang menutupi wajah Shun. Namun sosok itu tidak memiliki reaksi, ia berada dalam kondisi setengah sadar.
"Ke ruang perawatan?" Hajime membawanya dalam bridal style. Ia menoleh pada Shirotsuki.
"Kamarnya saja. Aku sudah membawa peralatan yang diperlukan." Shirotsuki menunjuk kotak medis yang dibawanya.
Ia kemudian menatap Yoru, "Untung Yoru-kun segera menghubungi. Jika tidak, mungkin pesawat kita akan kehilangan kendali karena pengaruh spiritual Shun."
Yoru tidak pernah berpikir hal seperti ini disebabkan oleh Shun, karena pengendalian Shun jelas berada pada level yang tinggi. Ia mengikuti dua orang itu dengan kecemasan masih bersarang di hati.
"Jadi, apa yang terjadi pada Shun-san?"
Hajime juga tampaknya tertarik pada hal ini, ia memberikan lirikan pada dua orang di belakangnya, sementara ia menggendong Shun tanpa kata.
"Kita semakin dekat dengan Ceres. Melihat reaksi kekuatan spiritual Shun-san yang menjadi tidak stabil. Kemungkinan ada zerg berlevel sangat tinggi di sana."
"Apakah Ratu?"
Shirotsuki tidak memberikan jawaban pasti hingga mereka sampai di kamar Shun.
Penanganan yang dilakukan oleh Shirotsuki begitu cekatan, untuk Yoru yang tidak mengetahui banyak hal medis. Ia hanya bisa menyaksikan dengan kekaguman.
"Aku memberikan obat penenang dan item pemblokir kekuatan spiritual untuk sementara. Untuk menghindari kekacauan tidak terduga. Gangguan frekuensi kali ini pasti sangat besar hingga membuat Shun seperti ini. Seperti saat di Mars waktu itu."
Hajime paham yang dikatakan Shirotsuki merujuk pada kejadian tragedi di Mars.
Bukankah artinya ... sejak saat itu Shun telah mengalami begitu banyak rasa sakit?
Kenapa kita tidak ditakdirkan bertemu lebih awal?
XoXo-XoXo-XoXo
[Ethereal Space VI - tbc]
XoXo-XoXo-XoXo
a/n: menonton tsukihana kagura dan zanshin membuat motivasi menulisku muncul. :"
thank you for reading this fanfic :)
28/02/2023
-Kirea-
