Chapter 5: Who's the Real Pervert Here?
Tidak ada satu pun yang berbicara lagi. Obrolan terakhir mereka adalah saat Draco meminta alamat Harry dan ia menjawabnya dengan malas. Setelah itu Harry hanya sibuk dengan ponselnya. Ia begitu sibuk mengirimkan pesan-pesan yang masih belum dibaca satu pun oleh sang penerima. Sudah biasa bagi Harry jika Cedric lama membalas pesannya, tapi pacarnya itu sekarang sedang terluka. Harry tidak akan sekesal ini kalau tidak sedang khawatir.
Draco yang duduk di samping Harry tentu menangkap kegelisahan di wajahnya. Draco juga tidak perlu bertanya-tanya siapa yang dari tadi sibuk dikirimi pesan oleh Harry. Itulah kenapa Draco lebih banyak diam dari biasanya. Melihat Harry yang khawatir pada orang yang bahkan tidak peduli padanya membuat Draco kesal. Kalau Draco bicara sekali saja, entah apa yang akan ia katakan. Ia muak melihat Harry yang begitu khawatir, tapi akan lebih muak lagi jika perkataannya akan membuat Harry memintanya berhenti dan turun di tengah hujan begini.
Tak terasa, mobil Draco sudah terparkir di depan apartemen Harry. Ia sedikit berlama-lama memarkirkan mobilnya, dengan alasan ingin menemukan tempat yang teduh sehingga Harry tidak perlu kehujanan saat turun nanti. Tentu saja alasan sebenarnya karena Draco hanya ingin sedikit lebih lama lagi bersama Harry.
"Well, kau bisa segera pergi sekarang," ucap Harry dan segera membuka pintu. Namun sebelum ia benar-benar membuka pintu, Draco menahannya. Hampir sama ketika hujan mulai turun, saat ia berusaha untuk pergi meninggalkan Draco, lalu pemuda itu menahannya. Hanya saja kali ini Draco menahannya untuk tetap di mobil.
Harry menghela napas malas. "Apa lagi?" Harry bicara dengan nada yang dibuat seketus mungkin.
"Kau harus naik mobilmu sendiri jika mau mendapatkan tumpangan gratis."
Harry sungguh dibuat tertawa oleh perkataan Draco. "Tentu saja aku akan membayar kalau aku yang memintamu mengantarkanku," balasnya kesal. "Lagi pula, kenapa orang kaya sepertimu yang bahkan punya lebih banyak uang dariku malah meminta bayaran?"
Draco mendengus. Ia memajukan sedikit tubuhnya mendekati Harry. "Aku tidak bicara soal uang, bodoh." Draco semakin mendekat setelah ia selesai bicara. Sekarang jarak antara dirinya dan Harry hanya tinggal sejengkal.
Harry bohong jika bilang bahwa ia tidak gugup. Ini bukan yang pertama kali Draco menatapnya seperti itu dan Harry tahu artinya. Beruntung Harry berpikir lebih cepat sebelum Draco sempat bertindak. Ia langsung mendorong Draco menjauh dan tidak lupa untuk mencubit lengannya membuat pemuda Malfoy itu kesakitan. "Sialan! Sudah kubilang untuk tidak melakukan hal yang aneh-aneh atau aku akan membunuhmu!"
Draco meringis sambil mengusap lengannya yang dicubit Harry. Tapi Draco tidak balas berteriak, ia malah menyengir. "Katakan itu pada orang yang melemparkan dirinya padaku dan menginginkan penisku dari malam hingga pagi."
Tanpa basa-basi, Harry langsung menendang Draco. Tubuhnya terasa panas, Harry yakin jika wajahnya sudah semerah kepiting rebus. Ia sangat malu hingga ingin sekali berteriak menyangkal perkataan Draco. Tapi sebelum Harry sempat membuka mulutnya, ia malah makin merasa malu. Harry tidak akan lupa bahwa memang benar jika ialah yang menyerahkan tubuhnya begitu saja pada Draco. Akan sangat menyedihkan bila Harry menyangkal fakta tersebut.
Harry berdecak kesal dan langsung keluar dari mobil Draco. Ia sama sekali tidak peduli jika tendangannya tadi benar-benar sangat kuat hingga membuat Draco tidak sanggup bergerak untuk mencegatnya.
"Hei, setidaknya kau harus bilang terima kasih," teriak Draco pada Harry yang berlari menaiki tangga.
Deretan umpatan dan sumpah serapah menjadi balasan yang diterima oleh Draco. Tapi ia tidak membalas dengan kata-kata kasar juga, Draco malah tersenyum. Sebenarnya ia tidak perlu mendengar terima kasih dari Harry—walaupun hal itu akan sangat bagus. Setidaknya untuk sekarang Draco sudah puas menghabiskan waktu bersama Harry.
Sementara itu, Harry yang terus berlari menuju apartemennya tidak pernah menoleh ke belakang. Ia langsung membuka pintu, masuk, dan melemparkan tubuhnya ke atas sofa. Harry seharusnya berteriak kesal dan memukul segala barang dengan membayangkan wajah sialan Draco. Tapi Harry bahkan tidak mau menggerakkan kakinya. Ia terlalu lelah bahkan untuk sekadar duduk.
Diam tanpa melakukan apa-apa selama beberapa waktu, Harry pun merasa bosan. Ia membuka ponselnya dan langsung menuju media sosial. Postingan terbaru dari Ron adalah yang pertama muncul.
Sebuah foto dua cangkir coklat panas dengan latar jendela yang basah karena hujan. Tanpa perlu bertanya di kolom komentar pun Harry tahu cangkir yang satu lagi itu milik siapa. Ron dan Hermione pasti sedang saling berbagi kehangatan dibalik selimut.
Harry tidak cemburu. Setidaknya itulah yang ia percaya. Kenyataannya, Harry sangat cemburu. Ia begitu iri. Mereka sama-sama punya pacar, tapi kenapa hubungan Harry sangat berbeda? Harry bahkan tidak bisa mengharapkan kekasihnya untuk menghabiskan waktu bersama. Harry bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia dan Cedric berpelukan tanpa ada urusan pribadi yang mengganggu. Ciuman panas mereka pun seingat Harry adalah tiga minggu yang lalu. Itupun Harry yang memulai duluan.
Tapi tiba-tiba Harry teringat. Ciuman terakhirnya bukanlah tiga minggu yang lalu, tapi tiga hari yang lalu. Namun ciuman itu bukan ia lakukan dengan kekasihnya. Melainkan Draco Malfoy. Harry berciuman begitu panas bahkan lebih dari apa yang sudah ia lakukan bersama Cedric.
Lebih. Mereka bahkan melakukan lebih dari sekadar ciuman. Dua minggu yang lalu Harry memberikan kali pertamanya pada Draco. Harry melakukan seks pertamanya dengan orang yang paling ia benci. Dan yang lebih parah, Harry punya pacar.
Harry mengakui betapa berengsek dirinya. Meskipun saat itu Harry dalam keadaan mabuk, tetap saja ia tidak seharusnya bertindak gila begitu. Harry tidak seharusnya menikmati setiap sentuhan Draco pada tubuhnya. Harry tidak seharusnya menyukai setiap kali suara Draco memanggil namamya. Harry tidak seharusnya menahan Draco yang ingin berhenti. Harry tidak seharusnya menginginkannya lagi dan lagi. Ia juga tidak seharusnya terangsang saat mengingat malamnya bersama Draco.
"Oh, shit," desah Harry saat tangannya menyentuh kejantanannya yang mengeras. Ia terus mendesah sambil memanjakan miliknya. Dadanya naik turun karena napasnya yang memburu. Salah satu tangan Harry juga bergerak ke balik bajunya. Ia menyentuh setiap titik yang sebelumnya telah disentuh Draco. Memikirkan jemari dingin itu menyentuh kulitnya membuat Harry semakin gila.
"Engh... That jerk is really... Ahh!" Harry semakin mempercepat tangannya saat mengingat bagaimana Draco menciumnya. Ciuman itu sungguh berbeda dengan ciuman lain. Ciuman itu membuat Harry tidak bisa menarik dirinya menjauh. Apalagi saat ciuman Draco turun ke leher hingga dadanya. Rasanya sedikit sakit saat Draco menggigit dan memberikan tanda kemerahan di tubuhnya. Tapi hal itu membuat Harry jadi semakin bersemangat. Tubuhnya semakin memanas.
Semakin Harry memikirkan malam panjangnya bersama Draco, semakin gila lagi tubuhnya. Tangannya bergerak semakin cepat karena merasakan sesuatu segera datang. Hingga sebuah desahan panjang lolos dari bibirnya. Bersamaan dengan cairan putih yang kini mengotori tangannya, sebuah bukti betapa gila dirinya. "Bloody hell. Apa yang baru saja aku lakukan sambil memikirkan si sialan itu? Sial, aku benar-benar seorang bajingan mesum."
.
Sangat memalukan jika harus mengingatnya kembali. Setiap kali Harry melihat Draco atau mendengar namanya, Harry akan langsung tersentak dan mencoba untuk kabur. Ia merasa malu meskipun Draco tidak tahu apa yang ia lakukan kemarin. Tapi Harry benar-benar tidak bisa bersikap biasa saja.
"Kau aneh sekali. Siapa sih yang kau hindari?" Hermione yang sedari tadi berjalan bersama Harry, kebingungan. Mereka sudah berkali-kali pindah tempat duduk dan bahkan pindah jalur berjalan begitu tiba-tiba. Ia jadi ikut-ikutan memperhatikan sekeliling meskipun tidak tahu apa yang dihindari oleh sahabatnya itu dari tadi.
Harry menggeleng. "Aku tidak menghindari siapa-siapa kok," balasnya yang jelas berbohong.
Hermione tentu saja tidak akan membiarkan Harry lolos begitu saja. Tapi untuk saat ini ia akan melupakan dulu siapa orang yang dihindari Harry. Sekarang ia ingin bertanya hal yang dari kemarin mengganggunya. "Harry, apa kau kemarin bersama Malfoy?"
Harry hampir tersandung di jalan yang rata. Ia menatap Hermione tidak percaya. Apa sahabatnya itu tahu sesuatu? "Apa maksudmu?" Harry mencoba bersikap biasa saja.
"Kemarin," Hermione menjelaskan, "temanku bilang dia melihatmu dengan Malfoy bersama. Katanya kau masuk ke mobilnya karena hujan. Sebenarnya dia tidak yakin apa itu benar-benar kau karena kedua orang itu tampak terlalu dekat untuk menjadi Harry Potter dan Draco Malfoy."
Harry sungguh bingung harus bilang apa. Tentu saja orang yang dilihat teman Hermione itu benar. Tapi mustahil Harry mengakuinya. "Y-ya, temanmu pasti hanya salah lihat. Mana mungkin aku dan sialan itu berada di dalam satu mobil yang sama. Kalau pun aku memang harus, aku tidak akan segan-segan untuk menabrakkan mobilnya ke pohon."
Hermione mengangguk ringan. Ia tampak percaya dengan perkataan Harry namun tidak sepenuhnya menerima. Hermione pun kembali ingin bertanya, tapi kemudian ia mengurungkan niatnya. "Hm, ya sudah. Kalau begitu aku ke kelas duluan," ucapnya dan melambai meninggalkan Harry.
Harry membalas lambaian Hermione dengan sebuah senyum canggung. Ia menghembuskan napas lega setelah Hermione hilang dari pandangannya. Sebelum ia sempat mengutuk Draco (padahal yang melihat semua itu adalah teman Hermione) ponsel Harry berdering. Ia tersenyum saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Mum!" sapa Harry dengan ceria.
"Harry," sapa ibunya dari seberang telepon. "Bagaimana kabarmu?"
Harry mengangguk meskipun tahu bahwa ibunya tidak akan bisa melhat. "Hm, aku baik. Bagaimana dengan Mum?"
"Aku tidak pernah lebih baik jika sudah mendengar suaramu," balas ibunya. "Ah, apa kau senggang malam ini? Bagaimana jika kau mampir ke rumah dan kita berdua makan malam bersama?"
Harry tersenyum mendengar tawaran ibunya. Ia senang, sangat senang. Namun perasaan Harry tetap campur aduk seperti biasanya. "Aku akan sangat menyukainya."
"Baguslah kalau begitu Mum akan menunggumu."
Setelah berpamitan, panggilan pun terputus. Harry masih tersenyum karena memikirkan makan malam bersama ibunya. Saat itulah ia menyadari jika ternyata ada pesan yang masuk dari tadi. Pesan itu ternyata dari Cedric. Sebuah pesan singkat yang mengatakan kalau dia baik-baik saja. Harry sangat bingung menerima pesan itu. Setelah membaca pesan-pesan yang ia kirim sebelumnya, barulah Harry mengerti.
"Ah, gawat. Aku lupa kalau Cedric sedang terluka." Pertama kalinya dalam hubungan mereka, Harry melupakan Cedric. Sepertinya memikirkan Draco saat masturbasi kemarin membuat Harry terus teringat akan surai pirang dan manik birunya, hingga lupa bahwa ia punya pacar yang sedang sakit.
Teringat pada Draco membuat Harry kembali merasa malu pada dirinya sendiri. Saat itulah kewaspadaan Harry melemah dan ia tidak sengaja berjalan ke arah Draco. Ia hampir saja menabrak pemuda itu kalau saja gagal berhenti.
"Oh lihat siapa ini. Penumpang yang kemarin kabur tanpa membayar." Draco, seperti biasa memasang seringai di wajahnya.
Harry mendecih. Nasib sialnya benar-benar membuatnya muak. Mendapati Draco berdiri di depannya membuat Harry bingung. Tangannya gatal ingin memukul wajah Draco. Mulutnya terasa pahit karena kata-kata umpatan yang ingin ia ucapkan. Dan jantungnya sudah gila karena berdebar begitu kencang.
"Hm? Kenapa tidak bicara?" tanya Draco dengan nada suara yang ia buat semenyebalkan mungkin. Ia tahu jika Harry akan membalasnya jika ia bertingkah makin menyebalkan.
Kalau saja bukan karena rasa malunya karena telah masturbasi sambil memikirkan Draco, Harry sudah menendangnya dari tadi.
Keterdiaman Harry hanya membuat seringai Draco semakin lebar. Ia mendekatkan wajahnya pada Harry. Ia puas melihat wajah yang menatapnya tajam itu mundur dengan rasa gugup. Namun saat Draco mencoba untuk mengambil satu langkah lagi, seseorang menginterupsi.
"Harry, ini penamu yang kupinjam tadi..." Hermione yang datang tiba-tiba langsung berhenti. Ia bingung mendapati Harry yang ternyata sedang bersama Draco. "Malfoy?" Hermione hanya ingin memastikan kalau orang yang di depan Harry benar-benar Draco.
"A-Oh! Y-yeah, thanks," ucap Harry sambil mengambil penanya yang dipegang Hermione. "Apa lagi yang kau lakukan di sini? Bukankah kau harus ke kelas?" Harry mendesak Hermione untuk segera pergi.
"Ya, aku akan pergi. Tapi apa yang dia lakukan di sini?" tanya Hermione dengan penuh rasa penasaran.
Harry menggeleng. "Entahlah. Dia datang begitu saja untuk mengganggu. Sudahlah, lupakan saja." Harry langsung mendorong Hermione menjauh. Ia memastikan jika Hermione segera pergi.
Saat Hermione sudah pergi—dengan penuh kebingungan, Harry kembali menghadap Draco yang masih menyeringai. Tanpa membuang waktu lagi, Harry segera pergi menjauhi Draco. Kakinya berlari secepat jantungnya yang berdebar tidak karuan.
.
.
TBC
.
.
.
