Diterima menjadi karyawan perusahaan swasta ternama bukanlah perkara yang sulit untuk seorang Akashi Seijuro.

Tidak, ini bahkan sudah masuk ke dalam prediksinya yang absolut.

Beradaptasi juga hanyalah batu lompatan yang mudah. Melakukan apapun untuk menjaga posisinya dan nama baik adalah prinsip yang sudah tertanam di kepala Akashi sejak dia tumbuh dengan aturan keluarganya yang strict. Keras dan tegas. Akashi terbiasa melihat dan menjalankan segala sesuatu dengan sempurna. Dia adalah epitome kesempurnaan itu sendiri.

Hanya dalam waktu dua minggu, kinerja Akashi sudah berhasil mencuri perhatian para petinggi di tempatnya bekerja. Saat ini sedang ada sebuah proyek membuat business plan untuk produk terbaru di perusahaan. Akashi tentu saja menjadi kandidat utama yang dipilih dari divisinya. Ekspresi pria berambut merah itu bahkan tidak berubah sedikitpun saat namanya disebut di antara pesaing-pesaing yang tegang menunggu keputusan. Seperti itu memang yang sudah seharusnya.

Akashi memejamkan kedua matanya saat dia berdiri dan membungkukkan tubuhnya sebagai bentuk penghormatan dan terima kasih pada seluruh orang yang bertepuk tangan memberi selamat untuknya. Walau begitu, dia tidak mengantisipasi pemberitahuan lanjutan saat dia masih berdiri di posisinya.

"Kami juga memilih perwakilan dari divisi YY yang akan bekerja sama dengan Akashi-san sebagaimana hasil diskusi sebelumnya. Untuk Aomine Daiki-san, kami persilahkan berdiri."

Pria pemilik nama itu berdiri dan melakukan hal yang sama seperti Akashi. Memberi penghormatan pada orang-orang di sekeliling mereka sebelum akhirnya kedua iris berwarna biru tua itu bertemu dengan kedua iris mata merah yang sedari tadi memperhatikannya dalam diam. Meja keduanya terpisah sekitar beberapa meter, bahkan ada dua hingga tiga meja di antara mereka.

Sekian detik mereka hanya diam dan bertatapan, namun saat Aomine mencoba tersenyum, Akashi langsung memejamkan kedua matanya dan kembali duduk tanpa membalas apapun. Senyuman di wajah Aomine menghilang sebelum dia memutuskan untuk ikut duduk seolah tidak ada yang terjadi dan kembali berbicara dengan rekan kerja di sebelahnya.

Acara berakhir dan satu persatu tamu meninggalkan ruangan. Akashi tidak tertarik bersosialisasi di luar jam kerja dan tentu saja dia sudah langsung melesat begitu pintu keluar terbuka, mengabaikan sepasang mata yang dia rasakan terus mengawasinya. Akashi hampir menghentikan satu taxi saat dia baru teringat dengan data-data yang dia perlu pelajari sebelum meeting besok dengan rekan barunya.

"Merepotkan sekali…" keluhnya pelan–lebih kepada dirinya sendiri. Akashi menghela napas dan mengarahkan kakinya pada bar terdekat di seberang gedung kantornya, "…kuharap orang itu sudah pulang." Gumamnya malas dengan kedua tangan di dalam saku saat berjalan.

Akashi tahu seharusnya dia tidak perlu sengaja kembali untuk mengambil data-data yang bisa dipelajari dalam satu menit. Hanya saja, ada sesuatu yang ingin dia pastikan dan mengeceknya di apartemen. Sekaligus mengumpulkan strategi-strategi yang mungkin bisa digunakan nanti. Tidak ada salahnya juga mengambil satu langkah di depan dari partner asingnya. Dia tidak boleh terlihat bingung dan memberikan celah.

Ada atau tidak ada rekan, hasilnya akan sama saja.

Akashi sudah tahu ide siapa yang akan digunakan.

Mungkin sekitar satu setengah jam Akashi menunggu, sampai akhirnya dia meletakkan gelas kosong dan bayaran di meja lalu turun dari kursinya. Dia melihat daerah gedung kantornya yang sudah sepi dan tinggal beberapa orang saja yang melewati pintu. Akashi hanya fokus dengan tujuannya, menaiki lift yang dengan cepat menghilangkannya dari pandangan.

Beberapa orang yang masih di kantor hanya menyapa Akashi sekilas atau terlalu segan untuk mendekat. Tidak butuh waktu lama menemukan tumpukan dokumen di atas meja kerjanya. Seseorang pasti meletakkannya di sana untuk dia cek besok saat jam kerja kembali dimulai. Akashi membereskan kertas-kertas itu dan memisahkan mana yang bisa dia tinggal atau copy terlebih dahulu untuk dibawanya ke apartemen. Begitu selesai, Akashi segera membawa dokumen-dokumen itu ke ruang photocopy.

Sampai sini tidak ada masalah yang signifikan. Timnya, para atasan, hingga rekan biasa yang dia kenal sudah pulang semua. Minimal Akashi bisa menghindari omongan basa-basi yang tidak perlu. Setelah selesai meng-copy kertas, dia tinggal pulang. Setidaknya itu yang dia harapkan sampai membuka pintu dan mendapati seseorang berdiri menyandar pada tembok sembari menghisap vape-nya.

Baik Aomine dan Akashi sama-sama terkejut. Kedua mata mereka melebar kaget, bahkan tangan Aomine yang sedang memegang vape itu berhenti tepat di depan mulutnya. Memang benar Akashi sering mendengar ruang photocopy yang terletak di ujung ini sering dijadikan tempat pegawai menghisap vape, sedikit lebih aman dari rokok namun asap wanginya–tergantung rasa liquid–masih cukup mengganggu di ruang kerja. Hanya saja seharusnya itu tidak berlaku hari ini ketika semua orang sudah pulang cepat dan mereka bisa lebih bebas di rumah masing-masing.

Dan lagi, dari semua kemungkinan yang ada, kenapa harus Aomine!?

Akashi menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan. Dia tetap diam dan berlaku seolah tidak terjadi apa-apa dan melanjutkan niatnya mendekati mesin photocopy. Suasana di sekitar mereka terasa hening seketika, Aomine masih memperhatikan punggung Akashi yang sedang mengoperasikan mesinnya. Menunggu saat yang tepat sambil memutar-mutar vape di tangannya lalu berjalan mendekati Akashi dengan dua tangan masuk ke dalam saku.

"Akashi Seijuro… betul, 'kan?" Akashi mengangkat alis. Mengapa harus bertanya jika pria itu bisa melihat dengan jelas id card yang menggantung di lehernya? Lagipula setelah pertemuan di acara sebelumnya, pertanyaan itu sangat tidak berguna, "Senang berkenalan denganmu."

Akashi sempat berhenti merapikan tumpukan kertas yang baru keluar dari mesin dan melihat tangan Aomine yang terjulur untuk bersalaman dengannya. Dia menahan diri untuk tidak menghela napas dan menjabat tangan Aomine. Cukup sekali, Akashi langsung menarik tangannya dan melanjutkan pekerjaannya. Yang perlu dilakukan sudah selesai, tanpa basa-basi lagi Akashi berjalan keluar ruangan.

Aomine masih mengamati kepergian Akashi. Punggung pria yang sedikit lebih pendek darinya itu terlihat menarik, ujung rambut di belakang tengkuknya terlihat mengunci fokusnya. Aomine kembali menggigit ujung vape dan menghisapnya, mengeluarkan gumpalan asap yang kemudian tertiup AC hingga menghilang. Tanpa ada yang melihat, dia tersenyum penuh arti.

"Aku harap kita dapat menjalin kerja sama dengan baik."

Satu hari berlalu dan akhirnya waktu mereka untuk diskusi berdua tiba. Tidak ada yang memulai pembicaraan, mereka masih menyusun kertas-kertas sesuai data yang mereka butuhkan. Akashi tidak bodoh. Dia bisa merasakan panas di punggungnya setiap Aomine yang duduk dengan satu kaki di atas kaki lain di belakangnya itu menatapnya dengan tajam, bahkan terus-menerus seakan dia tidak peduli Akashi menyadarinya atau tidak. Kedua alisnya mengernyit dalam dan dia menoleh kesal.

"Kau bisa mulai membantu, Aomine-san." Tuturnya sinis. Menunjuk Aomine dengan ujung kertas yang dia pegang, Akashi mendengus, "Kau tidak membawa apapun ke dalam ruangan ini, meskipun hanya laptop. Apa yang sebenarnya mau kau lakukan sekarang?"

Aomine tidak langsung menjawab, dia tertawa pelan, "Oh, kupikir aku hanya akan menjadi pemeran pembantu saja. Kudengar kau tidak pernah menerima masukan, jadi untuk apa aku repot-repot melakukan hal yang pasti akan ditolak?"

Sesuatu menekan tombol Akashi yang langsung mendelik, "Aomine–"

"Aku bercanda. Aku ambil laptop dulu," Aomine masih tertawa saat dia berdiri dan berjalan melewati Akashi yang masih memasang ekspresi seriusnya. Akashi masih menahan emosinya meski rahangnya jelas terlihat mengeras, apalagi ketika Aomine tiba-tiba memegang bahunya, "relax, Akashi. Kau terlalu tegang, ayo nikmati ini dan kita bisa berteman. Hm?" gumam Aomine pelan, nyaris berbisik.

Akashi mungkin akan mengabaikannya seperti biasa sampai jari Aomine di atas bahunya bergerak mengenai bagian belakang lehernya. Ujung jarinya terlihat bermain dengan rambutnya dan menggesek kulitnya. Kedua mata Akashi terbelalak, dengan cepat dia menampik tangan Aomine dan mengubah posisi menjadi bertahan. Dia menatap Aomine marah sembari memegang belakang lehernya dan napasnya tercekat.

Mungkin Akashi akan berteriak marah seandainya Aomine yang tidak kalah kagetnya juga mengangkat kedua tangannya sebagai bentuk mundur, "Ups, maaf maaf." Aomine langsung berjalan cepat keluar ruangan dan memberi senyuman bisnis terbaiknya, "Aku segera kembali."

Ruangan yang mereka tempati itu memiliki sisi dengan dinding kaca. Tidak mungkin ada yang bisa berbuat macam-macam di dalam sana karena semua orang masih bisa menyaksikan mereka. Aomine sendiri sebenarnya tidak memiliki niat jelek selain menjahili karyawan muda yang terkenal akan sikap kakunya itu. Hanya saja responnya yang di luar dugaan membuat Aomine mau tidak mau kembali berpikir. Semua orang tidak akan menyukai sentuhan pada bagian paling sensitif tanpa seizinnya, tapi reaksi yang Akashi tunjukkan itu…

Saat Aomine sudah agak menjauh, dia kembali melihat ke belakang. Mendapati Akashi yang tidak menyadarinya masih memegang belakang lehernya, kepalanya agak menunduk, namun yang membuat kedua mata Aomine semakin melebar adalah warna merah di kedua pipi Akashi.

Oh?

Aomine tidak banyak bicara setelah itu. Akashi memberi jarak yang cukup jauh, entah dia menyadarinya atau tidak. Dia masih bersikap profesional dengan menjelaskan data-data dari divisinya sendiri yang nantinya perlu digabungkan dengan informasi yang dibawa oleh Aomine. Akhirnya giliran Aomine untuk presentasi datang. Berganti posisi dengan Akashi, kini dia berdiri dan menunjukkan slide demi slide pada layar proyektor sembari menjelaskan.

Terlepas apa yang telah terjadi, Akashi benar-benar serius melakukan pekerjaannya. Dia memperhatikan presentasi Aomine dan memberi komentar hingga tambahan data yang sesuai untuk melengkapi daftar business plan mereka. Aomine juga menanggapinya dengan cukup santai dan mencatat setiap saran Akashi, mengerucutkan gabungan data mereka menjadi rencana yang diharapkan untuk kemajuan perusahaan.

Dua jam berlalu, Aomine melirik Akashi yang kini duduk di sebelahnya, mengetik perkembangan data di laptopnya sendiri. Aomine harus memberi Akashi pujian atas sikap tenang dan profesional untuk seseorang yang lebih muda darinya. Aomine menopang dagunya dengan seringai tipis, memperhatikan wajah Akashi lebih lekat. Mengagumi setiap garis wajah tegas tanpa celah, kedua mata berwarna merah maroon menatap layar mengikuti gerak tulisan yang diketik pada layar, hingga bibir tipis yang tertutup rapat.

Pria yang tampan–

"Bisakah kau berhenti menatapku dengan tatapan menjijikkan itu, Aomine-san?"

–seandainya mulut tajam itu tidak mengeluarkan suara.

Kedua mata Aomine terpejam dan dia tertawa santai, "Kau berlebihan, aku hanya sedang mengagumimu."

Akashi mendengus malas, "Tidak ada yang perlu dikagumi."

"Hahaha, terserah kau saja."

Suara ketikan Akashi semakin menggema. Aomine masih belum menghilangkan senyumannya. Dia bangkit dari kursi, mencondongkan tubuhnya ke depan, memegang sandaran kursi di belakang Akashi untuk menahan berat tubuhnya. Akashi menahan diri untuk tidak melirik risih dan tetap fokus mengetik sampai Aomine berbisik pelan di dekat telinganya.

"Kau gay 'kan, Akashi?"

CTAK

Akashi menekan tombol Enter terlalu keras. Meski hanya sekilas, Aomine bisa melihat kedua mata Akashi melebar walau tatapannya masih lurus ke layar. Hanya butuh sepersekian detik untuk Akashi terlepas dari sesuatu yang seperti mengekangnya, kemudian tanpa alasan yang pasti dia mengetik lebih cepat.

Aomine tahu dia tidak perlu mengharapkan jawaban apapun. Dengan seringai sombongnya yang meyakinkan bahwa dirinya telah menang, Aomine berdiri tegak. Dia menarik dasinya lebih longgar lalu berjalan keluar ruangan, melambaikan tangannya.

"Kuanggap diam-mu berarti iya."

.

.

.

Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi

Prompt © Kazu

Story © Kira Desuke

Main Pair: AoAka (Aomine Daiki x Akashi Seijuro)

.

Fanfic Commission for Kazu

.

.

.

TIGHT-LIPPED

.

.

.

Apakah ini mimpi buruk?

Jika iya, Akashi rela menampar dirinya sendiri berulang kali sekarang sampai terbangun–tidak peduli jika itu akan meninggalkan bekas yang menyedihkan di wajahnya.

Akashi menepuk wajahnya dengan kedua tangan penuh air yang dia kumpulkan dari keran. Dinginnya air dan rasa sakit di wajahnya berkat tepukan yang keras membuat Akashi mendengus keras dan menghela napas berat, "…Sial."

Menyadari dia masih bangun di dunia nyata tidak membuat segalanya menjadi lebih baik.

Aneh sekali, kenapa lidahnya membeku saat Aomine mempertanyakan hal tabu itu!? Kenapa dia tidak bisa menjawab atau berkelit dengan mudah seperti biasanya? Apa karena dia tidak mengira Aomine akan langsung menebak setepat itu di pertemuan pertama mereka? …Yah, memang bukan benar-benar yang pertama juga sih, tapi mereka memang baru berbicara satu sama lain dengan intens hari ini. Seharusnya Aomine tidak bisa menebaknya semudah itu hanya dengan bertukar dua-tiga kalimat dengannya.

Akashi selalu berhasil berperilaku baik yang membuat orang-orang baru menyadari orientasi seksualnya paling tidak setelah setahun mengenalnya, itupun dengan catatan Akashi ceroboh memperlihatkan bukti yang tidak bisa dibantah. Atau mungkinkah Aomine bukan menebak, tapi hanya mempermainkannya saja dengan candaan jeleknya seperti biasa?

Kecuali…

Dua kemungkinan, Akashi telah kehilangan kemampuannya sehingga mudah terbaca dengan jelas atau Aomine–

Suara hp yang berbunyi memecahkan lamunan Akashi. Dia mengambil gadget itu dari dalam saku dan melihat layarnya yang bercahaya karena ada seseorang menelepon. Nomor tidak dikenal. Akashi mendecak pelan dan langsung mematikannya. Dia meletakkan hp untuk cuci tangan lalu mengeringkan tangannya saat hp kembali berdering.

"Apa-apaan…" masih nomor yang sama, Akashi menggerutu kesal dan segera mematikannya. Namun nomor itu kembali menelepon dan akhirnya Akashi mengangkatnya malas, "…halo?"

["Ah, akhirnya kau terima juga."] Akashi tertegun, lidahnya kembali kelu saat pria di seberang telepon melanjutkan ucapannya, ["Aku hampir mengira kau tidak mau angkat telepon karena sudah tahu ini nomorku. Mungkin aku akan menyerah dan menghampirimu besok kalau itu terjadi hahaha."] lanjutnya santai.

Suara ini… Akashi tidak sengaja menahan napas, "Aomine?"

["Bingo."] Aomine tertawa pelan dan suara beratnya terdengar lembut namun hati-hati, ["Kau masih di kantor, 'kan? Segeralah turun. Aku tunggu di basement ya."]

Tanpa menunggu jawaban apapun, Aomine langsung memutuskan telepon mereka secara sepihak. Akashi masih tertegun di posisinya dan dia menatap layarnya yang telah mati dengan syok. Dia menggertakkan giginya kesal dan segera keluar dari kamar mandi, membereskan barang-barangnya lalu turun ke bawah.

Selama di dalam lift, kaki Akashi bergerak menghentakkan ujung sepatunya tidak tenang. Pandangan di sekelilingnya tidak dia hiraukan, masa bodoh dengan mereka yang bisa menebak emosinya. Satu persatu dari mereka turun meninggalkan Akashi seorang diri karena tujuannya yang terakhir. Saat bunyi terdengar dan pintu lift terbuka, Akashi langsung berlari cepat mencari sosok yang membuat darahnya mendidih.

Kedua tangan terkepal dan langkah kaki tegas menggema di atas aspal semen. Hanya tinggal beberapa mobil terparkir di sana, sebagian besar memang mobil cadangan yang biasanya menginap. Itulah sebabnya mengapa Akashi dengan mudah menemukan satu mobil yang tidak biasanya berada di sana. Apalagi dengan posisi Aomine yang sedang menyandar di depan pintu mobilnya sembari melihat waktu di jam tangannya. Masih dengan jas dan kemeja kantor yang dia kenakan saat berpisah dengan Akashi tadi siang.

Suara langkah cepat yang mendekat membuat Aomine mengangkat kepalanya. Kedua tangannya kembali masuk ke dalam saku celana saat dia tersenyum lebar, "Ah, Akashi–"

"Apa maumu?"

To the point, tentu saja. Akashi tidak mau menghabiskan waktu terlalu lama dengan pria yang selalu memancing emosinya itu. Bahkan meskipun mereka belum sampai bertemu lebih dari lima kali. Akashi cukup percaya diri pada intuisinya untuk tidak terlalu dekat dengan Aomine demi kedamaian hidupnya.

Dan dia selalu benar.

Aomine mengerjapkan kedua matanya sebelum tertawa pelan, dia menunjuk ke suatu arah tanpa menghilangkan seringai liciknya. Akashi menoleh dan menyadari itu adalah CCTV yang terpasang tepat mengarah ke posisi mereka. Sepertinya Aomine sadar apa yang mungkin Akashi lakukan dalam kondisi tersulut emosi. Terlebih lagi jika terjadi sesuatu di luar keinginan mereka, maka rekaman kedua pria yang seharusnya tidak dekat di luar urusan pekerjaan itu akan menimbulkan tanda tanya. Apapun kemungkinannya, semua akan jauh lebih memberatkan nama baik Akashi dibanding pria di depannya.

Akashi mengepal kedua tangannya semakin erat dan mendecih pelan. Dia menatap tajam Aomine yang kini telah membukakan pintu penumpang untuknya, "Hari sudah semakin gelap, bagaimana jika kuantar pulang, Akashi-san?"

"Jangan tiba-tiba berlaku sopan sekarang, bodoh." Ketus Akashi. Dia menghela napas dan masuk ke dalam mobil, membiarkan Aomine menutup pintu mobil di sampingnya. Akashi menunggu Aomine masuk dengan sabar, dia melipat kedua tangannya di depan dada dan meletakkan kaki kanannya di atas kaki kiri.

Begitu Aomine masuk dan duduk, Akashi langsung mengeluarkan suara, "Katakan saja apa maumu dan aku akan langsung keluar."

Aomine masih belum merubah ekspresi santainya saat dia memasang sabuk pengaman, "Jangan buru-buru, lagipula…" Aomine menyalakan mesin mobilnya dan mengedipkan sebelah matanya yang membuat Akashi bergidik, "…bukankah kau yang justru ingin bertanya padaku?"

"Sulit mengatakannya setelah kau memanggilku lebih dulu."

"Hahahaha, kau serius sekali."

Akashi masih mendengus malas sampai tangan Aomine tiba-tiba melewati wajahnya untuk mengambil sabuk pengaman di kursinya. Akashi nyaris menahan napas saat Aomine menariknya hingga sabuk pengaman itu terpasang. Akashi langsung menoleh dan mendapati wajah Aomine tepat di hadapannya, hembusan napas yang keluar dari hidung pria itu menyapu wajahnya yang mungkin sedikit lagi akan mengeluarkan semburat merah tipis.

"Tapi, jangan sampai lupa memasang sabuk pengaman."

Tangan Akashi secara reflek langsung mendorong Aomine, terlalu keras hingga tubuh Aomine menabrak sisi kursi dan pintu di belakangnya. Membuat mobil ini terlihat bergoyang sekilas dari luar. Napas Akashi memburu saat dia menatap kedua mata Aomine dengan tajam. Tangannya masih menahan bahu Aomine di posisi yang sama bahkan mencengkeramnya hingga jas itu semakin kusut.

"Cepat… katakan." Akashi menggeram berbahaya. Dia menarik jas Aomine dan menggertakkan giginya, "Apa maksudmu? Jika kau hanya bercanda, aku akan memaafkanmu dan melupakan semuanya. Tapi, bagiku kau tidak–"

"Tentang menebakmu seorang gay?" tangan Akashi sempat berjengit mendengar kata itu, namun Aomine hanya tersenyum dan memegang tangan Akashi di jasnya, "Bukan tebakan, mungkin lebih tepatnya disebut sapaan."

Akashi mengedipkan kedua matanya bingung, "…Hah?"

Seandainya Akashi mendapat kesempatan untuk melanjutkan kalimatnya, dia akan mengatakan bahwa Aomine tidak seperti menebak. Melainkan… seakan dia sudah tahu semuanya, tanpa jawaban yang jelas, dia sudah memiliki kenyataan. Terlebih perasaan ini, firasat ini… reaksi tubuhnya sendiri. Tatapan Aomine seakan mengikatnya secara sepihak, ataukah justru dia yang membiarkan tubuhnya sendiri terdiam untuk menantikan apa yang Aomine lakukan?

Seperti sekarang.

Tubuh Akashi terasa membeku saat jari Aomine mengusap punggung tangannya sementara tangan Aomine yang lain meraih pinggangnya dan menariknya. Dia tidak bergerak ketika Aomine maju dan memiringkan kepalanya, mempertemukan bibir mereka untuk pertama kalinya.

Apa… ini?

Dua kemungkinan, Akashi telah kehilangan kemampuannya sehingga mudah terbaca dengan jelas atau Aomine–

juga sama seperti dirinya.

Akashi masih mematung ketika Aomine mulai memagut bibirnya. Dia berniat mundur dan menarik tangannya namun Aomine masih menahannya. Tanpa sadar mulutnya ikut terbuka dan ciuman mereka semakin dalam. Akashi memberi pagutan sekali sebelum dia menggunakan kekuatan penuh untuk melepaskan ciuman di luar keinginannya.

Berat mengakuinya, tapi dia tidak mengira Aomine memiliki kemampuan berciuman seperti itu. Dia berusaha menarik tubuhnya lebih jauh seandainya tangan Aomine tidak menguncinya. Mengabaikan kedua pipi yang memerah karena panas, Akashi membuka mulutnya, "Lepaskan, brengsek."

Aomine masih diam sampai tangannya memegang sisi wajah Akashi, "…Menarik sekali," dia menahan Akashi untuk tidak menjauh. Tertawa kosong walau pandangan mereka tetap terkunci pada satu sama lain, "sudah lama aku tidak merasa berdebar seperti ini dengan laki-laki lain sejak menikah." Bisiknya dengan suara berat yang berbahaya.

Menikah!?

Akashi sadar dia tidak berada di posisi untuk bisa menilai mana yang baik dan buruk. Sejak mengetahui bahwa dia berbeda, Akashi berhenti mencari kesalahan orang lain dan cukup fokus pada dirinya sendiri. Semua orang memiliki keunikan masing-masing, baik atau buruk.

Hanya saja, satu fakta yang baru saja keluar dari mulut Aomine terlalu sakral untuk Akashi yang masih enggan melewati batas, "Kau–"

"Tenang saja." Aomine tertawa santai dan melepaskan pegangannya. Tentu saja Akashi langsung mengambil kesempatan dengan mundur sejauh mungkin, "Rahasia kita berdua aman denganku."

"Tidak ada rahasia," Akashi mendesis tanpa menyembunyikan ekspresi jijiknya sembari mengusap kasar bibirnya seolah menghapus bekas-bekas ciuman Aomine dengan tangannya sendiri, "aku tidak pernah setuju berhubungan denganmu."

Aomine sempat kehilangan senyumannya namun dia kembali mendengus dan mengangkat bahunya tidak peduli, "Begitukah? Sayang sekali," kedua tangan Aomine mendarat di atas setir lalu dia menyandarkan dagu di atasnya, "ini artinya aku harus berusaha lebih keras, 'kan?" tanyanya dengan kepala yang sedikit dimiringkan untuk melihat Akashi lebih jelas, seringai belum juga hilang dari wajahnya.

Pandangan menggoda itu langsung diabaikan Akashi, "Bajingan."

Kata kasar yang dilontarkan Akashi rasanya tidak memiliki pengaruh apapun. Aomine masih tertawa kecil dan menurunkan handle rem mobilnya, "Jika kau berpikir aku kelewatan, maka aku akan berhenti mengganggumu." Menginjak gas untuk keluar dari tempat parkir, Aomine menyetir dengan lihai dan mengedipkan sebelah matanya sekali pada Akashi, "Until then, shall we play this game?"

Tidak.

Akashi yang masih melipat kedua tangannya di depan dada itu mulai meremas lengannya sendiri, "Kau sudah cukup menggangguku."

Tidak ada kesempatan kedua.

Berjanji seperti itu dalam hati meskipun saat ini dia sedang membiarkan Aomine membawanya entah kemana. Tidak banyak yang mereka perbincangkan, hampir sembilan puluh persen hanya Aomine yang berbicara dan Akashi mendengarkan tanpa merubah ekspresi datarnya. Setidaknya sampai Aomine menanyakan alamat saat mereka sampai di wilayah apartemen Akashi kemudian pria berambut merah tersebut menunjukkan jalannya.

Akashi meminta Aomine berhenti di ujung gang, sengaja agar dia bisa jalan sedikit dan pria itu tidak benar-benar tahu dimana tempat tinggalnya. Aomine tidak merasa keberatan sama sekali dan masih melambaikan tangannya gembira pada Akashi yang bahkan tidak membalikkan tubuhnya untuk membalas lambaian tangan itu. Entah dia memang polos atau benar-benar tidak peduli dengan kenyataan bahwa Akashi jelas menolaknya. Hanya dua patah kata 'terima kasih' dan Akashi merasa urusan mereka sudah selesai.

Sekali saja. Hanya sekali. Hubungan mereka hanya sebatas rekan kantor.

Seharusnya begitu.

"Hei, Akashi," mendengar namanya dipanggil oleh suara yang sangat dikenal dan tentu saja mengganggunya membuat Akashi menahan napas sebelum mengeluarkannya lebih panjang, "hari ini aku bisa pulang lebih cepat, kau bagaimana?" Aomine bertanya tanpa menyadari mood Akashi yang baru saja diubah olehnya. Meskipun dia tahu juga, Akashi sangsi Aomine akan peduli.

"Bagaimana apanya? Pulang saja duluan."

"Oh ayolah, biarkan aku mengantarmu pulang lagi," Aomine langsung merangkul bahu Akashi yang membuat pemiliknya bergidik. Akashi mungkin akan langsung menampiknya keras seandainya dia tidak melihat ada beberapa orang berjalan melewati mereka. Akashi diam menunggu dengan kesal sementara Aomine kembali melanjutkan, "hanya itu saja, bukan masalah besar, 'kan?"

Akashi mendecih pelan, "Aku kagum kau masih bisa mengatakan ini setelah menyerangku kemarin."

"Ah, benar juga. Maaf, aku memang kelewatan," nada bicara Aomine berubah seolah dia benar-benar menyesal. Tapi, Akashi tidak bisa ditipu semudah itu, "aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, aku tidak akan macam-macam tanpa izinmu." Volume suara Aomine menurun, nyaris berbisik untuk menghindari kecurigaan dari orang-orang sekitar akan topik yang sedang mereka bicarakan.

Aomine semakin menundukkan kepalanya, menyetarakan tinggi bibirnya dengan telinga Akashi. Pegangan pada bahu yang menguat adalah bentuk ancaman tak kasat mata yang hanya terlihat sebagai kedekatan fana.

"Lagipula, hitung-hitung jadikan aku supirmu sebagai permintaan maaf, bagaimana?"

Apakah perlu untuk seorang Akashi mengabaikan rahangnya yang mengeras dan tidak menunjukkan taringnya?

Pertanyaan itu hanya menguap di udara begitu Aomine langsung melepaskan tangannya dan membalas sapaan orang lain yang mendekati mereka. Sebagaimana rekan kerja teladan, senyuman Aomine merekah seakan tidak terjadi apapun sebelumnya. Saat orang yang tidak tahu apa-apa itu mempertanyakan kedekatan mereka, Aomine langsung mengalihkan topiknya dengan cepat dan membawa mereka entah kemana, meninggalkan Akashi sendiri untuk menentukan nasibnya dimulai dari sekarang.

Punggung Akashi kembali dingin setelah kepergian Aomine dan seketika kesepian terasa begitu menyengat. Akashi menundukkan kepalanya dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda sebelum berbalik pergi. Tanpa dia sadari, sepasang mata memperhatikannya dalam diam. Pria berambut biru muda itu berniat menghampiri Akashi namun dia lebih dulu menghilang di tengah lautan manusia pada koridor.

Tangan pemuda itu tertahan di udara sebelum dia menariknya kembali dan memegang punggung tangannya sendiri, "Akashi-kun…"

Sejak itu, dua bulan berjalan dimana kedekatan Aomine dan Akashi semakin terlihat dan lambat laun menjadi hal biasa yang tidak perlu lagi dibicarakan. Pada dasarnya orang-orang mengira kedekatan mereka diawali oleh hubungan kerja sama masing-masing tim yang diwakilkan kemudian kecocokan hobi sebagai sesama mantan pemain basket mulai diangkat sebagai cover pertemanan yang erat.

Akashi yang awalnya memiliki aura sulit dijangkau oleh siapapun itu mulai terlihat mudah didekati. Aomine membuat pertemanannya dengan Akashi seperti menyenangkan hingga membuat beberapa orang tertarik untuk mencari tahu tentang Akashi lebih jauh. Orang-orang yang berpapasan dengan mereka selalu menyadari Aomine yang lebih banyak bicara dan Akashi selalu diam seperti mengabaikannya. Tapi Aomine seakan tidak pernah menyerah. Menyeret Akashi ke kantin bersama, merangkul bahu Akashi tiba-tiba tanpa terkena sikutan maut, dan pulang bersama dengan mobil atau motor yang selalu Aomine bawa.

Pria penyendiri itu semakin sering terlihat berdiri di tengah beberapa orang yang ingin bertanya lebih jauh tentang ilmu-ilmu yang dimilikinya. Entah ini efek yang positif atau negatif untuk Akashi, tidak pernah ada yang benar-benar tahu selain Akashi sendiri. Tapi, ada saat-saat tertentu seperti–

"Baiklah, aku duluan ya semuanya! Sampai nanti juga, Sei."

–ah.

Seandainya saja mereka sadar ketika Aomine meremas pelan pantat Akashi sekilas sebelum benar-benar pergi.

Akashi mendelik kaget namun tidak melakukan apapun selain reflek meremas kertas di tangannya hingga kusut. Aomine pergi begitu saja tanpa menoleh ke belakang, bahkan tertawa dengan rekan satu divisinya yang lain. Karyawan lain di dekat Akashi juga hanya menertawakan Aomine dan mengajak bicara mengenai hal lain yang tidak terdengar. Memang benar sampai hari ini Aomine tidak melakukan apapun yang membahayakan, tapi Akashi sadar momen itu hanya tinggal menunggu waktu.

Aomine pasti tidak akan melewatkan celah saat Akashi lengah dan dia telah satu langkah di depan sejak menyimpan rahasia terbesar Akashi Seijuro dibalik kesempurnaannya. Membiarkan dirinya jatuh di atas telapak tangan Aomine bukanlah pilihan bagus maupun yang terbaik. Akashi tahu itu. Sangat tahu sampai terasa menyakitkan melihat kebodohannya sendiri.

Kenyataan bahwa dia tidak pernah benar-benar menghindar sejak awal bukankah jawaban yang lebih dari cukup?

Dia… terhadap Aomine…

Lalu tibalah di hari ini. Setelah kejadian tadi siang, mereka tetap akan pulang bersama seperti biasa. Akashi menjaga jarak sejauh mungkin dari Aomine yang sedang bersenandung ria sambil memutar-mutar kunci mobil di jarinya. Aomine segera menyadari Akashi lebih diam dari biasanya, dia memutar balik tubuhnya dan berhenti.

"Ada masalah, Sei?"

Menghela napas cepat, Akashi membalas ketus, "Sudah kubilang jangan memanggil nama depanku."

Aomine tertawa pelan, "Kau masih membahas itu?" tanpa peduli dengan kemungkinan adanya orang di sekitar, Aomine langsung meraih tangan Akashi dan menariknya mendekat. Tentu saja Akashi masih menahan diri namun tetap tertarik juga sampai tangannya mendarat di atas dada Aomine agar masih ada jarak di antara mereka, "Panggilan bukan hal paling penting di dunia ini yang perlu kau pusingkan, Sei. Bukankah aku sudah membuktikan ketulusan niatku selama… umm… dua bulan ini?"

Tangan Aomine hampir memegang bagian belakang pinggang Akashi yang langsung ditampik cepat, "Ketulusan? Aku tidak merasakan apapun selain ancaman." Sinisnya.

"Itu karena kau terlalu waspada, relax, terima perasaanmu apa adanya." Suara Aomine yang dalam dan serak basah itu terdengar begitu berbahaya, begitu nyaman terdengar tanpa seizinnya, "Bagaimana jika aku beritahu apa yang paling penting untukku sekarang, Sei?"

"Aku tidak mau tahu."

"Meskipun itu adalah dirimu?"

"Aku tidak tertarik mendengar omong kosong."

"Jahat sekali," Aomine tertawa lirih seolah dia tersakiti mendengar kata-kata pedas Akashi. Dia kembali menarik pinggang Akashi, kali ini tenaganya lebih kuat hingga perut mereka bersentuhan, "aku sedang mengerahkan seluruh keberanian untuk menyatakan perasaanku dan seperti ini saja balasanmu?"

"Aomine–"

"Sudah lama aku tidak se-frustasi ini bahkan pada istriku sendiri."

"Lepaskan aku, bodoh! Bagaimana jika ada–"

"–Yang melihat?" kali ini pria berambut biru tua itu melanjutkan kalimat Akashi tanpa senyum di wajahnya. Ekspresi serius Aomine yang jarang terlihat membuat Akashi sempat mematung, "Biarkan saja."

Napas Akashi kembali tercekat begitu Aomine langsung maju dan mencium bibirnya. Mereka masih di basement, meskipun posisi mereka cukup tersembunyi di antara mobil Aomine dan tembok yang mengarah ke pintu lift, tetap saja itu tidak bisa dijadikan jaminan. Akashi bisa merasakan degup jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Di sisi lain dia sadar harus secepatnya menghentikan ciuman ini, namun ada sisi yang menginginkannya untuk membalas ciuman Aomine lebih agresif karena enggan membiarkan pria itu merasa menang lebih jauh lagi.

Kalau saja lokasi mereka berbeda, mungkin hal yang terjadi akan jauh lebih tidak terkendali dan Akashi tahu dia akan menyesalinya di akhir nanti. Walau begitu, menit demi menit berlalu, ciuman itu tidak berhenti dan justru semakin panas. Perasaan jijik, benci, dan amarah justru menjadi bahan bakar untuk semua ini. Dari sisa-sisa kesadarannya yang belum terlarut, Akashi membuka kedua matanya perlahan tanpa memisahkan bibir mereka. Saat itulah dia melihat sosok yang tidak asing berdiri tidak jauh dari tembok yang menghadap mereka.

Kuroko Tetsuya tidak sengaja berada di situasinya sekarang. Dia hampir tidak pernah berada di basement terlalu lama, sampai akhirnya hari ini atasannya meminta bantuan Kuroko untuk mengambil sample merchandise di gudang. Seharusnya memang benar Kuroko mengambilnya tadi siang, namun kesibukan membuat dia lupa waktu sampai jam pulang pun tiba. Kuroko sempat mempertimbangkan untuk melakukan tugas ini besok–apalagi statusnya tidak darurat–tapi khawatir lupa lagi seperti hari ini, dia akhirnya memaksakan diri untuk turun dan mengambilnya sekarang.

Untuk kesekian kalinya, Akashi seperti lupa bagaimana caranya bernapas. Dia bahkan tidak bergeming lagi merespon apapun yang Aomine lakukan padanya saat ini. Kedua pupil merahnya terkunci dengan kedua pupil biru muda itu. Setidaknya sampai Kuroko mengedip lebih dulu dan langsung mengalihkan pandangannya, dia berbalik pergi, nyaris berlari memasuki pintu lift. Tidak butuh waktu lama sampai dia menghilang.

Merasakan Akashi sudah tidak meresponnya, Aomine berhenti, "Sei?"

Tidak ada jawaban. Akashi hanya bisa menundukkan kepalanya dengan wajah memucat. Aomine terus mencoba memanggilnya berulang kali namun nihil. Tanpa jawaban yang pasti, mereka tetap memilih diam menunggu sampai salah satu dari mereka mau bicara. Sepanjang perjalanan pulang, Akashi tidak bisa berpikir fokus dan berulang kali menggigit bibir bawahnya.

Hancur sudah.

Apakah waktunya untuk pergi dari kantor ini telah tiba?

Jujur saja, Akashi kesulitan tidur semalaman. Wajah orang-orang di kantor yang telah mengetahui orientasi seksualnya terus menghantui mimpi buruknya. Jika itu benar terjadi, Akashi sudah menyiapkan surat resign-nya untuk kemungkinan terburuk. Diusir secara tidak terhormat tidak boleh masuk ke dalam riwayat hidupnya.

Pagi berikutnya, Akashi dengan cepat melangkah melewati orang-orang yang sekedar menyapanya atau mencoba memanggilnya. Sejauh ini belum ada yang memberinya pandangan-pandangan menilai seperti yang dulu selalu dia terima dari orang-orang yang 'merasa' telah mengetahui segalanya. Walau begitu, Akashi tetap berjalan cepat sampai dia melihat Kuroko yang sedang masuk ke dalam ruang photocopy.

Kesempatan bagus. Akashi langsung menyusul Kuroko dan mengunci pintu di belakangnya. Suara kunci itu membuat Kuroko cukup kaget dan menoleh cepat. Melihat ekspresi Akashi yang sedikit berantakan dan terengah setelah berlari membuat Kuroko memiringkan kepalanya bingung, "Ada apa, Akashi-kun?"

Akashi menggertakkan giginya lalu membungkuk sembilan puluh derajat dengan cepat di depan Kuroko, "Maaf, Kuroko!" permintaan maaf dari seorang Akashi adalah hal yan tidak akan pernah terbesit di kepala Kuroko meski hanya sekilas, "Maaf… kau jadi harus melihat hal yang menjijikkan kemarin."

Kuroko mengerjapkan kedua matanya, "Menjijikkan? Kenapa Akashi-kun berkata demikian?" sepertinya Kuroko masih belum paham sampai dia mencoba memikirkannya pelan-pelan dan tersadar, "Oh, apakah ini tentang kau dan Aomine-kun ber… uh…"

Akashi tahu Kuroko tidak mungkin melanjutkannya jadi dia hanya mengangguk, "Iya, itu… menjijikkan, bukan?" Akashi mendengus pelan dengan tawa miring yang terlihat dipaksakan, "Karena kami… sesama pria."

Kuroko terdiam untuk beberapa saat. Memeluk tumpukan kertas di atas dadanya semakin erat, Kuroko merapatkan bibirnya dan menunduk sedikit. Dia melihat ke bawah, menilai setiap lantai di dekat kakinya sebelum pupilnya bergerak ke atas untuk mencari kedua mata Akashi. Kedua mata dengan pandangan tajam dan tegas, namun memiliki kelembutan tersendiri di baliknya. Kedua mata yang mungkin tidak akan pernah melihatnya sampai dia memintanya.

Karena begitulah apa adanya.

Kuroko sadar mungkin dia akan selamanya berdiri di pinggir jalan. Mengesampingkan kenyataan bahwa Kuroko sudah cukup mengenali Akashi yang selalu datang di bar langganannya. Sayangnya, Akashi memang tidak jauh berbeda dengan yang lain. Pria itu juga tidak benar-benar menyadari kehadirannya. Kuroko tidak lebih dari sekedar rekan kerja yang hanya lewat sekilas dalam buku catatan hidup Akashi.

Walau begitu, ada yang membedakan Akashi di mata Kuroko sehingga membuatnya tidak bisa segampang itu mengalihkan pandangannya. Kuroko sudah tahu dia akan kalah tanpa perlu mencoba mendekatinya. Dia sudah yakin bahwa Akashi Seijuro yang kharismatik itu pasti memiliki tipenya sendiri. Baik wanita maupun pria. Siapapun yang Akashi pilih tidak masalah, selama Akashi bahagia. Tidak ada yang menjijikkan. Kuroko tidak pernah berpikir sejauh itu.

Tidak ketika dirinya… tidak jauh berbeda.

Keheningan yang cukup lama membuat Akashi mengernyitkan kedua alisnya. Sampai Kuroko membuka mulutnya, "Kenapa Akashi-kun mencium Aomine-kun?"

Akashi tidak tahu harus menjawab apa selain, "Aku sungguh-sungguh minta maaf… lain kali aku tidak akan melakukannya di lingkungan kantor. Aku juga akan memberitahu si bo–Aomine."

Bukan itu yang Kuroko maksud.

Kuroko masih diam sehingga Akashi melanjutkan, "Kuroko? Apakah kau sekarang membenciku? Apa kau sekarang jijik padaku?" raut wajah Akashi terlihat sedih, tapi dengan cepat dia menyembunyikannya, "tidak apa-apa, aku mengerti–"

Sudahlah.

"Aku tidak membencimu."

Akashi tertegun dengan nada suara Kuroko yang tiba-tiba meninggi. Terlebih lagi mulut Kuroko masih terbuka seakan dia ingin melanjutkan kata-katanya namun sesuatu menahannya. Kuroko sedikit terbata sampai akhirnya dia memilih menutup mulutnya.

Tidak mungkin aku bisa membencimu.

Akashi menaikkan sebelah alisnya saat Kuroko menarik napas lalu mengeluarkannya perlahan. Dia tersenyum tipis dan menjulurkan tangannya.

"Rahasiamu aman bersamaku, Akashi-kun."

Tidak, dia tidak mendukung siapapun.

"Mulutku terkunci rapat, jadi kau bisa menceritakan semuanya padaku."

Tidak dirinya atau bahkan Aomine Daiki.

#

.

.

.

.

.

#

Waktu demi waktu berjalan, dengan kehidupan baru dimana Akashi memutuskan untuk tinggal lebih lama di tengah lingkungan normal bersama dua orang yang mengetahui rahasia kecilnya. Surat resign yang sudah ditulis entah sejak kapan itu masih tersegel rapat di lapisan paling bawah dalam lacinya.

Akashi tahu seharusnya tidak ada yang berubah. Dia sendiri yang memutuskan itu meskipun tidak pernah terucap. Tanpa menghindar, Akashi melayani keinginan Aomine. Menjalankan hubungan sepihak tanpa mendorong lebih jauh. Karena mereka sama-sama tahu, hanya tinggal menunggu waktu penentuan siapa yang akan menarik diri lebih dulu di antara mereka berdua.

Sebagaimana permainan pada umumnya, ada kalah, ada menang.

Sudah sepantasnya Akashi menyiapkan posisinya sebagai pemenang. Akashi yakin Aomine bukan tipe yang akan menetap terlalu lama. Apalagi dengan statusnya di dalam pernikahan dengan seorang wanita. Akashi tidak tahu dan tidak mau tahu apa yang terjadi di rumah tangga Aomine hingga dia ingin bermain api. Pria biseksual itu menghargai dirinya terlalu tinggi membuat Akashi muak. Kapan Aomine akan mendapatkan ganjaran dari perbuatannya? Akashi sungguh tidak sabar.

"Begitu, 'kah? Apa boleh buat," Akashi sedang mengetik di atas keyboard laptopnya ketika dia mendengar sebagian percakapan salah satu atasan dengan bawahannya. Saat dia tidak sengaja melirik dan menyadari itu adalah Aomine dengan bosnya, tiba-tiba pendengarannya terasa menajam, "Ya sudah, titip salam ke istrimu. Semoga lekas sembuh."

Kata-kata itu membuat tangan Akashi berhenti sekilas. Dia melihat ekspresi Aomine dari samping yang terlihat begitu serius tanpa seringai di wajahnya. Tidak ada sosok yang sangat menyukai permainan terlihat di sana, hanya pria yang mendekati umur paruh baya benar-benar merasa khawatir akan kondisi istrinya yang sedang sakit. Pria itu mengangguk pada atasannya lalu dengan cepat berbalik pergi tanpa melihat kemanapun.

Termasuk Akashi.

Kapan terakhir kali Akashi merasa angin yang disebabkan oleh seseorang melewatinya terasa sedingin ini? Apa yang baru saja terjadi adalah hal wajar, Akashi tidak melihat kesalahan sedikitpun dari adegan yang baru saja terjadi di hadapannya. Seorang suami mengkhawatirkan istrinya, bukankah itu sangat indah? Masih di jalur sebagaimana mestinya.

Apa yang perlu diharapkan?

Sejak awal, dia bukan yang pertama.

Siang berganti malam, Akashi memutuskan pergi ke salah satu bar yang cukup ramai namun beda dari yang biasa dia kunjungi. Dengan dalih mencari pemandangan baru setelah sekian lama, Akashi menghibur dirinya sendiri. Sudah lama tidak ke bar ini, terletak di tengah kota dengan berani, menyimpan identitas sensitif tak kasat mata. Tempat yang cocok untuk seorang Akashi mencari teman yang senasib dengannya.

Menggoyangkan gelas berisi es di tangannya, Akashi tertawa kecil, "Ha, bodoh sekali." Meneguk sisa wine sampai habis kemudian menjatuhkannya sedikit kasar, "Dasar brengsek… tukang selingkuh… low fucking scum." Gerutu Akashi untuk yang kesekian kalinya. Sebelah tangan sudah menjambak rambutnya sendiri hingga berantakan.

Minuman ini belum dari botol yang ketiga tapi Akashi sudah merasa lelah. Ekspresi Aomine yang jarang terlihat itu masih memenuhi pikirannya. Pertanyaan bodoh seperti apakah Aomine pernah memikirkannya dengan ekspresi itu tiba-tiba hadir begitu saja. Akashi kesal, dia membenci Aomine itu benar, lantas kenapa rasanya ada sesuatu yang jauh lebih menyebalkan dan mengganjal di balik dadanya?

Akashi masih berpikir keras di perbatasan antara sadar dan tidak sadar ketika secangkir minuman diberikan di depan Akashi. Bartender di depannya tersenyum tipis dan menggunakan isyarat mata untuk menunjukkan siapa pria lancang yang telah memesan minuman untuknya. Akashi menoleh dan mendapati seseorang berambut pirang tersenyum manis. Melihat Akashi menyadari keberadaannya membuat pria itu berdiri dan datang mendekat.

"Hey," mengundang dirinya sendiri melakukan champagne dengan gelas yang Akashi pegang kemudian duduk di sampingnya, "bad mood, birdie? How have you been?"

Akashi mendengus malas, "Kenapa kau ada di sini, Kise?" dia tetap mengambil gelas pemberian Kise Ryouta dan meminumnya sampai habis, "Bukankah seharusnya kau sedang pemotretan?"

Kise tidak berusaha menutupi aksinya yang gencar menggerayangi tubuh Akashi, tangan dia rangkulkan pada bahu Akashi yang bergerak risih tapi tidak mengusirnya, "Model tidak harus pemotretan setiap hari, 'kan? Kami juga butuh istirahat hahaha." Menarik tubuh Akashi semakin dekat, Kise mencium wangirambutAkashi yang tentu saja membuat papan menu melayang di wajahnya, "Hm, vanilla mint? Kau mengganti shampoo-mu, Akashi–ouch!?"

Akashi menghela napas dan reflex menjawab, "Jangan seenaknya menciumku. Ini bukan shampoo-ku tapi–" suara Akashi terhenti begitu menyadari dia hampir kelepasan bicara. Dia berniat meminta Kise melupakannya, walau tahu it percuma. Tentu saja Kise yang memiliki pekerjaan rangkap sebagai informan itu tidak akan membiarkannya lolos.

"Tapi?"

Kise adalah seorang model iklan yang dielu-elukan para wanita sejauh mata memandang. Tampan, berbakat, kharismatik, dan social butterfly. Tampak luar, Kise adalah pria yang sempurna. Sayangnya, para wanita di luar sana kemungkinan tidak akan pernah mengetahui bahwa sosok yang mereka kagumi ini adalah seorang gay. Saat Kise sedang tidak sibuk dengan profesi model-nya, ia terkadang membantu perusahaan keluarga sekaligus menjadi informan yang suka menyelidiki saingan perusahaannya.

Akashi tadinya adalah target Kise untuk mengeruk informasi sampai dia resign dari kantor sebelumnya. Lambat laun mereka menjadi teman minumdan semakin dekat. Walau tentu saja akan selalu ada udang di balik batu. Akashi tahu apa alasan utama Kise mendekatinya sebagaimana Kise juga tahu mengapa Akashi mau menerimanya dengan cuma-cuma.

Semua di dunia ini… ada bayarannya.

Akashi tidak tahu sejak kapan prinsip ini melekat begitu erat di hidupnya.

"Jika tidak mau jawab tidak apa-apa," Kise tertawa lembut dan mengusap bahu Akashi penuh pengertian, "tapi kau tahu aku akan selalu siap untuk menjadi tempatmu bersandar 'kan?"

Ya.

Bukankah sejak awal ini adalah tujuannya?

Kise sudah kembali di posisinya sendiri sembari menuangkan isi botol ke dalam gelasnya. Dia bersenandung riang dan sesekali mengajak bartender berbicara. Akashi masih menundukkan kepalanya, menatap cairan di dalam gelasnya yang masih beriak menunggu diminum. Bayangan wajahnya sedikit terpantul dan dia kembali tersadar. Di saat yang sama, Akashi juga mengambil hp yang bergetar kemudian melihat pesan dari fitur notifikasi.

Seluruh perasaan mengerikan ketika Aomine tidak melihatnya…

['Apa kau masih bangun?']

…iri dengki akan ketidakmampuan untuk memiliki.

Akashi terdiam sebelum mematikan layar hp dan meletakkannya di nakas. Tangannya tiba-tiba meraih bahu Kise yang sedang asyik mengobrol dengan bartender, memaksa kepalanya menoleh, hingga ujung hidung mereka bertemu. Kise sedikit terkejut, tapi setelah kedua matanya mengerjap, dia kembali tenang dan tersenyum lebar.

Ekspresi datar Akashi masih belum berubah, bahkan meskipun mulutnya bergerak mengucapkan sebaris kalimat pamungkas yang menentukan kemana puncak acara mereka malam ini. Tangan Akashi di bahu Kise mencengkeram semakin erat dan Kise tahu dia cukup meresponnya dengan menarik pinggang ramping itu hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka.

Pesan Aomine malam itu tidak terbalas.

#

.

.

.

#

Di dalam kesempurnaan hidupnya, Akashi belum menemukan jawaban atas satu pertanyaannya.

Apa dia bisa memilih siapa yang dia cintai?

Jika perasaan bisa dikendalikan semudah itu, tebak berapa banyak perang yang bisa dihindari di dunia ini.

Di tengah perjalanan keluar dari gang apartemennya, Akashi sedang menepuk-nepuk bahunya yang pegal sembari memutarkan sendinya beberapa kali. Dia baru berhenti ketika mendapati bentuk motor yang dikenalnya dari kejauhan. Kedua tangan Akashi turun dan perlahan tapi pasti dia mendongak untuk melihat pria yang juga sudah menyadari keberadaannya. Aomine masih duduk mengenakan helmnya sementara ada satu helm lagi digantungkan di spion motor.

Akashi masih berjalan mendekat dan berhenti tepat di depan Aomine yang langsung turun, memberikan helm ke arahnya, "Ada apa ini? Tumben sekali kau menjemput."

Kedua mata yang terlihat dari balik kaca helm itu masih menatapnya lurus, "Kau tidak ada kabar semalaman." Kembali menyodorkan helm hingga Akashi terpaksa menerimanya, baru Aomine menarik tangannya, "Aku pusing jika terus khawatir sendiri. Lebih baik datang ke sini dan memastikan kau akan berangkat ke kantor." Ketusnya, terdengar sedikit nada marah atau kecewa di sana.

"Kau… khawatir?"

Suasana begitu hening sampai Aomine memutar handle gas, "Cepatlah naik, aku tidak mau terlambat."

Akashi menatap punggung Aomine yang membelakanginya lalu helm di kedua tangannya. Apa yang harus dikatakan di situasi ini? Apa jawaban yang Aomine harapkan? Membingungkan sekali. Akashi menghela napas panjang, sesuatu di dalam tubuhnya kembali memintanya untuk mengalah. Dia menaiki kursi penumpang dan mengenakan helmnya. Mengalihkan pandangannya setiap Aomine memperhatikannya dari kaca spion.

Akashi tahu bahkan sampai detik ini dia masih membenci Aomine. Tidak ada moral baik yang bisa dia ambil dari pria ini, tidak juga dengan kenyataan bahwa Aomine masih mempedulikannya. Bukan hanya itu, lambat laun permainan yang selalu Aomine katakan mulai kehilangan arti yang sesungguhnya. Baik Akashi maupun Aomine menyadarinya tanpa bisa mengeluarkannya dari balik bibir yang terkatup rapat.

Ini semua semakin terasa sulit.

Mungkin Aomine juga tahu pada akhirnya mereka bukanlah yang pertama di kehidupan masing-masing. Tidak ada yang sehat dalam hubungan ini. Percuma untuk tetap melanjutkannya. Walau begitu, Aomine tetap datang mendekati pria yang mungkin tidak akan pernah benar-benar melihatnya. Tersenyum lebar seolah tidak ada beban yang mereka pikul setiap tubuh mereka bersentuhan satu sama lain atau hanya berdiri sebelahan dengan tangan kaku yang menahan diri untuk tidak saling meraih.

"Apa kau tahu kenapa cinta dan benci tidak bisa dilihat oleh kasat mata?"

Hanya saja…

"Karena mereka tidak memiliki bentuk pasti, bisa berubah kapan saja sesuai keinginan mereka."

…meskipun tali merah akan menipis, kedua pria bodoh itu masih ingin memegangnya sampai akhir.

"Bebas dari aturan dan tidak bisa disentuh. Bahkan oleh manusia yang seharusnya menjadi pemilik mutlak mereka."

Tidak perlu khawatir.

Apapun yang terjadi bukanlah sepenuhnya salah pendosa seperti mereka.

Akashi membuka kedua matanya dan melihat Aomine yang baru saja dari kamar mandi, dia duduk di tepi kasur membereskan barangnya sebelum ikut berbaring di samping Akashi. Aomine sedikit terkejut melihat kedua mata Akashi yang masih terbuka sebelum tertawa pelan, "Kukira kau sudah tidur.

Tidak langsung menjawab, Akashi mendengus pelan, "Bukankah istrimu ada di rumah? Berani sekali kau tidak pulang."

"Oh, aku belum bilang ya? Dia sedang tugas keluar kota selama dua minggu." Jawab Aomine santai, "Lagipula dia tidak akan peduli aku kemana jika dia sendiri sudah bersenang-senang."

Rasanya kalimat itu begitu ambigu dan menyimpan arti tersendiri. Akashi melirik ke bawah seperti berpikir saat tangan Aomine meraih sisi wajahnya, memainkan rambutnya. Tidak lama sampai dia menarik tubuh Akashi ke dalam pelukan eratnya, menenggelamkan hidungnya di antara helai-helai berwarna merah alami itu. Mencium aroma yang hanya dimiliki Akashi Seijuro.

"Apa yang sedang kau pikirkan?"

"Tentang istrimu…" Akashi masih belum melihat ekspresi Aomine, "…kenapa kau mengkhianatinya?"

Sesungguhnya Akashi sendiri merasa itu pertanyaan bodoh. Apa gunanya menanyakan keadaan korban yang telah dia bunuh sendiri? Tapi, hal yang wajar pula untuk Akashi ingin menanyakan langsung dari orang terdekat sekaligus senjata yang digunakannya. Aomine masih belum menjawab seolah dia berpikir kata-kata yang tepat kemudian terdengar helaan napas.

"Mungkin aku ingin balas dendam?" jawaban yang diakhiri pertanyaan itu sangat ambigu namun Akashi tidak bisa menghentikan tubuhnya menegang, "Jika dia bisa, kenapa aku tidak. Jika dia punya kebebasan, kenapa aku tidak. Aku sudah memutuskan untuk kembali ke jalan yang lurus di saat aku mengucapkan sumpah pernikahan kami, tapi ternyata tetap tidak ada artinya."

Akashi masih diam mendengarkan. Tangan Aomine tetap aktif mengusap bagian belakang kepalanya.

"Pada akhirnya aku ingin punya hak untuk memilih. Aku ingin mencintai dengan benar, terlepas itu normal di mata orang lain atau tidak. Aku sudah terlalu lelah untuk peduli. Hidup hanya sekali jadi lebih baik kita melakukan yang kita inginkan hahaha."

Tawa Aomine membuat Akashi mendengus kesal, namun dia tersenyum kecil, "Egois sekali."

"Kau juga, 'kan?"

Akashi tidak mengelak dan mereka tertawa bersama. Aomine menurunkan kedua tangannya untuk kembali menangkup wajah Akashi dan mendongakkannya. Mereka berciuman cukup lama, Aomine bergerak ke pipi, tulang hidung, dan terus turun melewati dagu sampai leher Akashi. Tubuh Akashi sudah kembali terpancing dan Aomine merengkuhnya erat, menenggelamkan wajahnya di tengkuk pria yang dia pilih itu.

"Kita akan terus bersama 'kan, Sei?"

Akashi menggigit bibir bawahnya menahan segala hasrat yang sedikit lagi membuncah. Membuka kedua matanya pelan, dia menatap langit-langit kamar hotel. Mempertimbangkan satu-dua hal dan bibirnya yang biasa terkunci itu bergetar. Dalam keraguan sebelum akhirnya ia menjawab lirih.

"…Ya."

Tidak lama setelah pengakuan itu, atasan kembali memanggil mereka berdua ke ruangan. Untuk pertama kali setelah sekian lama, mereka berada di dalam satu ruangan bersama orang penting membuat lirikan maut tidak terelakkan. Sempat tegang karena mengira ini berhubungan dengan hubungan mereka di balik layar, namun ternyata tidak. Dibuka dari basa-basi pembukaan hingga akhirnya diakhiri dengan senyum lebar dari salah satu direktur perusahaan tersebut.

"Dari hasil voting pada rapat besar seluruh cabang kemarin, kami memutuskan untuk melanjutkan project dengan proposal kalian tempo hari." Aomine dan Akashi tidak bisa menyembunyikan ekspresi kaget mereka, "Kami akan meminta bantuan kalian untuk melengkapi proposal ini dan presentasi pada rapat besar mendatang, apakah kalian mau menerimanya?"

Kedua pria itu saling menatap dan menganggukkan kepala mereka nyaris bersamaan.

"Tentu saja bukan tanpa imbalan," pria tua itu mengambil secarik kertas dan menunjukkannya kepada mereka. Sebuah surat rekomendasi promosi jabatan. Dia menunjuk pada barisan 'pengusung rekomendasi', "aku sudah siap menuliskan namaku di sini."

Tentu saja jawabannya sudah jelas.

Seperti bernostalgia dengan pertemuan pertama mereka di awal, keduanya kembali sering berdua di dalam ruangan. Mendiskusikan hal kecil hingga besar, menyusun strategi yang dapat dituliskan pada presentasi jangka panjang. Keduanya sangat profesional di bidangnya masing-masing, terlepas sentuhan-sentuhan jahil yang selalu Aomine lakukan di setiap kesempatan.

"Bisakah kau menjaga tanganmu untuk tetap diam, Aomine-san?"

"Hm?" Aomine masih belum melepaskan tangannya dari pantat Akashi, meremas gumpalan daging itu berulang kali seolah mengingat bagaimana rasanya meskipun sudah sering memegangnya di luar jam kerja, "Perasaanku saja atau terasa semakin tebal–aduh!"

Akashi yang sedang menggerakkan tangannya di atas layar tablet itu sengaja memundurkan tubuhnya sehingga tangan Aomine terjepit di antara tubuhnya dan tepi meja yang keras. Aomine langsung merintih kesakitan dan protes saat berhasil menarik tangannya, "Hei! Hati-hati! Bagaimana kalau tanganku patah!?"

"Oh?" Akashi menoleh tanpa merasa bersalah, "Aku pikir kau sengaja meletakkannya di sana untuk melindungiku dari tepi meja yang bisa melukai tungkai ekorku." Balas Akashi dengan seringai mengejek.

"Kau ini…" Aomine bisa merasakan otot wajahnya tertarik karena kesal, dia berlari ke arah Akashi dan mengangkat tubuh ramping itu dengan mudah. Mengabaikan teriakan kaget Akashi, Aomine langsung meletakkan Akashi duduk di atas tubuhnya sementara dia memeluk perut Akashi dari belakang dan menyandarkan dagunya di atas bahu Akashi, "…lihat, ini yang namanya melindungimu, kau suka?"

Akashi menggertakkan giginya, kalah telak di hadapan pemilik seringai sombong yang sudah tahu kali ini dia menang. Akashi sadar dia tidak akan bisa menghindar karena kedua tangan Aomine menguncinya. Lagipula meskipun ruang rapat mereka kali ini tertutup dan posisi keduanya berada di titik buta kamera pengawas, seharusnya Aomine bisa bersikap lebih hati-hati. Akashi mungkin akan memarahinya sampai Aomine tiba-tiba mendorong kepalanya sehingga dia merasakan geli di lehernya dan tertawa.

Betapa nikmatnya. Ketika lupa menjadi suatu berkah yang tidak ternilai. Akashi tidak ingat lagi dengan sumpah serapah dia di awal, seolah semuanya hangus ditelan api yang semakin membara. Dia terus tertawa sampai menangis dan memohon Aomine untuk berhenti. Aomine menurutinya namun tidak mengganti posisinya. Akhirnya Akashi menyerah dan lanjut menulis di atas tablet, membiarkan Aomine berlaku sesuka hatinya.

Sayang sekali.

Sesuatu yang indah di atas darah kotor tidak pernah bertahan lama.

Sampai suatu hari, Akashi menjadi lebih sibuk dari biasanya. Ada pekerjaan lain yang menunggu untuk diselesaikan hari ini. Akashi sedang sibuk dengan laptopnya ketika Aomine berdiri di samping meja, "Sei, aku akan keluar sebentar," kedua mata Akashi masih lurus menatap layar sementara Aomine memegang hpnya sedikit gelisah, "nanti aku akan kembali menjemputmu, jangan pulang duluan ya."

Akashi hanya mengangguk cepat, "Ya ya, pergi sana."

Aomine tersenyum dan langsung pergi tanpa menunggu jawaban lainnya. Seharusnya tidak ada yang aneh, hari ini akan berjalan seperti biasa. Namun sampai jam pulang tiba, Akashi tidak melihat Aomine kembali ke mejanya. Tiga puluh menit berlalu sejak jam pulang dan belum ada juga kabar dari Aomine. Akashi mulai berpikir Aomine tidak akan menepati janjinya dan mungkin kali ini dia akan pulang sendiri.

Suara hp berdering menghentikan langkah Akashi. Nama dan nomor Aomine terpampang di layar membuat Akashi tanpa sadar menghela napas lega, "Halo?"

["Hei, uh…"] Aomine terlihat ragu di seberang telepon tapi kemudian dia tertawa, ["…apakah pekerjaanmu sudah selesai?"]

Akashi memutar bola matanya, "Apa kau tidak lihat jam sekarang?" tapi di sisi lain, pertanyaan Aomine tidak salah juga. Mengingat Akashi seharusnya lembur walau ternyata dia bisa pulang tepat waktu, "Sedikit lagi, kau dimana?" jawab Akashi pada akhirnya.

["Sei… ada yang harus kusampaikan, jangan marah ya."]

Nada bicara itu membuat firasat Akashi tidak enak.

["Istriku tiba-tiba saja pulang lebih awal. Aku harus menjemputnya sekarang ke stasiun."]

Oh.

Benar.

"Haha."

Benar juga.

"Bodoh sekali."

["Maafkan aku. Ini benar-benar di luar perkiraanku–Sei?"]

Akashi memutus teleponnya. Tidak bisa pulang bersama bukanlah masalah utama. Tapi dalam waktu sesingkat ini, Akashi pikir dia telah mendapatkan yang dia mau. Ketika dia menerima perhatian Aomine sepenuhnya, dia lupa akan daratan. Dia telah gagal melewati batas karena terlena dengan perasaan yang tidak bisa dikendalikan. Akashi nyaris melupakan hukum dasar pada aturan absolutnya. Saat Akashi ingin kembali, semuanya sudah terlambat. Dia sudah melangkah terlalu jauh.

Semua yang dia inginkan harus menjadi miliknya seutuhnya. Itulah kehidupan yang sempurna.

Sesuatu yang tidak akan pernah bisa dia dapatkan dari Aomine Daiki… karena dia harus berbagi.

Bagaimana bisa dadanya terasa lebih sakit dari yang dia kira?

#

.

.

.

.

.

#

Menghindari panggilan telepon, tidak membalas pesan, berangkat lebih pagi, dan pulang lebih cepat dari biasanya. Akashi bahkan menolak ajakan diskusi di ruang rapat dengan Aomine dan memilih menyelesaikan proposal project itu di meja kerjanya sendiri. Sebenarnya bisa saja Aomine keras kepala dan ikut duduk di samping meja Akashi, tapi nyaris percuma karena Akashi lebih memilih bicara dengan Kuroko yang mejanya tidak jauh dengannya. Akashi dengan sengaja menghindari Aomine dan itu terlihat.

"Kau jelas-jelas menghindariku."

Suara Aomine bergema ketika menyandar pada tembok di dekat Akashi yang sedang membuat kopi sendirian di pantry.

"Apa aku ada salah? Apa karena masalah yang waktu itu?"

Akashi diam menatap kopi di tangannya lalu menjawab, "Aku tidak bermaksud menghindar, hanya sedikit lebih sibuk."

"Benarkah?" Aomine tidak yakin dan ekspresinya terlihat kesal, "Kalau begitu tidak ada alasan untukmu menolak ajakan pulang bersama hari ini, 'kan?"

"Kalau itu tidak bisa. Aku berniat pulang sangat malam dan aku tidak mau kau menunggu terlalu lama." Aomine mungkin akan protes lagi seandainya Akashi tidak memberinya kecupan singkat untuk membuatnya diam, "Tolong mengerti ya, Daiki?"

Suara Akashi yang memanggil nama depannya membuat Aomine tertegun kaget. Tapi akhirnya dia luluh juga dan mengangguk patuh. Akashi masih berekspresi datar kemudian pergi begitu saja.

Awalnya Akashi mengira Aomine akan menelan mentah-mentah kebohongannya. Tidak peduli meski mereka berdua sama-sama tahu kebenarannya. Pada sore hari setelah Akashi menyelesaikan lemburnya, dia menghela napas panjang. Handphone Akashi kembali bergetar dan kali ini ada buah pesan masuk dari Aomine. Pesan yang cukup panjang.

'Aku tahu kau menghindariku. Aku minta maaf jika aku tidak ada di setiap waktu untukmu. Mungkin kita tidak bisa berhubungan selayaknya orang lain karena beberapa hal.'

Akashi bisa merasakan genggaman tangannya menguat.

'Tapi aku ingin kamu tahu satu hal, bahwa sayangku utuh padamu. Kuharap kau bisa memahami ini dan menerimanya.'

Siapa membohongi siapa?

Kenyataan yang sudah tidak relevan.

Kuroko mendapati Akashi kembali melamun untuk kesekian kalinya, "Tanganmu berhenti mengetik lho." Suara yang tiba-tiba muncul itu membuat Akashi tersentak dan dia dengan buru-buru kembali mengetik. Kuroko tersenyum tipis, "Kau bisa menceritakan keluh kesahmu padaku, Akashi-kun." Dia mengingatkan.

"Tidak perlu, Tetsuya. Aku–"

"Aomine-kun, 'kan?"

Lagi-lagi Akashi berhenti. Dia masih menatap layar seolah benda mati itu yang memiliki masalah dengannya. Kuroko masih sabar menunggu sampai Akashi menghela napas dan tersenyum lelah.

"Mungkin suatu saat," Akashi masih belum menoleh tapi tangannya kembali bergerak mengetik kata demi kata dengan pikiran entah kemana, "jika hati orang bodoh ini sudah tenang."

Dan entah kapan itu akan terjadi.

Hari yang dinanti telah tiba. Sesuai kesepakatan, Akashi akan mempresentasikan proposal yang dirancangnya bersama Aomine pada rapat besar yang dihadiri oleh para atasan dari seluruh cabang. Aomine duduk di kursi yang telah disediakan bersama para petinggi perusahaan. Mereka datang memuji hasil proposal sebelumnya yang baru sekedar dibagikan dalam bentuk dokumen. Bukan hal yang aneh mengingat Aomine pernah menjadi karyawan terbaik di sini dan Akashi diisukan sebagai penerus jejaknya.

Akashi melihat Aomine yang sedang berinteraksi dengan banyak orang di tempat duduknya. Dia sendiri masih berdiri di belakang layar, mempersiapkan tampilan presentasinya ketika salah satu operator menegurnya, "Akashi-san, sepertinya ada kesalahan di bagian ini–"

"Tidak." Akashi menahannya dan memejamkan kedua matanya atas keputusan besar yang akan dia ambil sebelum naik panggung, "Biarkan apa adanya."

Setiap langkah terasa berat dan sulit. Walau begitu, Akashi tetap melangkah hingga dia berdiri di tengah panggung, "Selamat pagi, para bapak dan ibu sekalian." Memberi sambutan pembukaan sebelum masuk ke inti presentasinya, Akashi membungkuk hormat yang direspon dengan tepuk tangan oleh semua orang di sana termasuk Aomine.

Tidak ada yang aneh, sepanjang acara berjalan dengan lancar sebagaimana mestinya. Akashi dapat menjawab seluruh pertanyaan yang dilontarkan dan menjelaskan runut strateginya dengan baik. Tentu saja hal seperti ini bukan perkara yang sulit untuknya, tapi Aomine tidak bisa berhenti mengagumi setiap gerakan dan bahasa yang Akashi keluarkan. Dia bangga akan kekasihnya, dia selalu tahu itu.

Tapi–

"Dengan demikian, izin saya mengakhiri presentasi ini."

–Aomine kehilangan senyumannya perlahan tapi pasti.

"Saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada teman sekaligus rekan saya dalam menyelesaikan proposal yang pastinya tidak mudah ini. Kami bekerja sama sepenuh hati demi perusahaan tercinta untuk hasil yang maksimal."

Senyuman berubah ke ekspresi kaget lalu kecewa.

"Terima kasih, Kuroko-kun."

Tepat setelah mengatakan itu, terlihat di layar credit orang-orang yang terlibat yaitu Akashi Seijuro dan Kuroko Tetsuya.

Dari semua kemungkinan yang bisa Akashi lakukan untuk menyakiti Aomine, dia memilih untuk menghilangkan nama pria itu dari hasil kerjanya sendiri. Suatu hal paling fatal yang seharusnya tidak termaafkan dan Akashi justru memilihnya karena alasan yang sama. Semua orang yang tidak mengerti itu bertepuk tangan namun sebagian menatap Aomine bingung, bahkan ada yang bertanya mengapa namanya tidak ada di atas sana.

Mereka para atasan yang hanya ingin menerima hasil juga bertanya siapa itu Kuroko, sampai Akashi memanggil Kuroko yang kikuk untuk berdiri di atas panggung bersamanya. Tidak tahan lagi dengan rasa panas yang gila menggerogoti tubuhnya, Aomine berdiri dari kursinya. Di tengah hiruk pikuk suara tepuk tangan, Aomine menatap Akashi dengan tatapan tidak percaya dan hanya dibalas dengan tatapan dingin. Seolah hanya ada mereka berdua di ruangan sebesar ini.

Presentasi berakhir tanpa ada nama Aomine disebut sekalipun di sana.

Tentu saja Aomine langsung berlari menghampiri Akashi dan Kuroko yang baru saja turun dari atas panggung, "Apa-apaan ini, Sei?" dia menatap Kuroko galak dan tanpa ragu menunjuknya, "APA YANG DIA LAKUKAN PADAMU SAMPAI KAU HARUS MENGKHIANATIKU SEPERTI INI?"

Kuroko tersentak kaget dan menunduk pasrah. Mereka mengabaikan orang-orang yang bingung atau bahkan tidak peduli dengan apapun yang terjadi pada proses proposal itu, "Kau ini memang bodoh ya?" Aomine kembali tertegun di posisinya mendengar Akashi yang tidak gentar sedikitpun di hadapannya, "Kau hanya akan menjadi beban nanti setelah project ini diterima dan direalisasikan. Apalagi jika melihat fakta selama sebulan ini kau terus mangkir dengan alasan mengurus istrimu. Kau pikir pekerjaan ini main-main?"

"Mangkir? Aku masih membantumu meskipun tidak berada di kantor! Bahkan sebagian besar ide yang kau pamerkan tadi di atas sana diambil dari landasanku! Aku selalu berusaha hadir setiap kau memanggilku, aku tidak pernah menolak meskipun permintaanmu aneh, semua aku lakukan demi hari ini! DEMI KAMU, SEIi!"

Meski hanya sekilas, Kuroko bisa merasakan Akashi mencengkram tangannya.

"Jujur saja padaku, apa maksudmu?" Aomine mencoba kembali tenang dan berkepala dingin, "Tergantung jawabanmu, mungkin aku akan memaafkanmu dan kita bisa memperbaiki ini."

Seandainya bisa semudah itu.

Akashi masih diam dan menggeleng, "Kuroko-kun lebih membantuku dalam mengembangkan ide. Jangan salahkan dia, aku yang menyeretnya sampai sejauh ini dan sudah mendapat persetujuan dari atasan yang sudah membaca laporanku."

Kuroko melirik sudut bibir Akashi yang bergetar.

"Menyerah saja, Aomine-san."

Tapi, tentu saja. Bibir itu akan kembali terkatup rapat.

"Kau sendiri yang bilang padaku, 'kan? Untuk apa repot-repot melakukan hal yang pasti akan ditolak?"

Aomine menatap Akashi terluka tanpa berniat menyembunyikan apapun. Dari sekian banyak orang di perusahaan ini, kenapa harus Akashi yang berkhianat padanya? Di dalam ruang rapat yang besar itu kini tertinggal mereka bertiga. Aomine masih mencoba menunggu, begitu pula Akashi. Menunggu harapan kosong bahwa akan ada yang berubah, akan ada sesuatu yang menghentikan mereka, secercah permohonan untuk kembali seperti sediakala.

Tapi, nihil.

Semua harus berakhir seperti ini.

Aomine mengepal kedua tangannya erat. Urat-urat emosi terlihat jelas di balik kulit tan-nya. Dia ingin sekali meninju wajah Akashi, membuatnya babak belur, meneriakinya untuk sadar diri. Tapi, saat dia melihat wajahnya sekali lagi, Aomine kembali teringat… inilah wajah pria yang dicintainya dan tenaganya menguap seketika. Mana bisa dia menyakiti wajah seseorang yang paling disayanginya? Meskipun dia sedang diinjak-injak sampai kehilangan emosinya.

"Brengsek."

Melelahkan sekali.

"Memang seharusnya tidak ada 'kita' sejak awal."

Perasaan bodoh bernama 'cinta' ini.

Pada akhirnya dengan segala kesabaran yang tersisa, Aomine kemudian pergi ke pintu keluar lalu dengan sengaja membanting pintu sekeras mungkin. Kuroko tersentak dan hendak berlari mengejarnya, "Aomine-kun–"

Namun, Akashi menarik tangan Kuroko. Dia menggelengkan kepalanya pelan, "Ini adalah kesempatan terakhirku untuk pergi." Akashi sempat ingin mengatakan hal lain tapi dia terdiam lagi dan mengucapkan hal lain yang sepertinya tidak berasal dari pemikiran awalnya, "Kalau sekarang kau mengejarnya dan menjelaskan kesalahpahaman ini, aku tidak akan pernah bisa kembali lagi."

"Tapi, Akashi-kun…"

Kuroko kehilangan kata-kata selanjutnya ketika dia merasakan tangan Akashi yang memegangnya bergetar. Mengesampingkan ekspresi datar yang dipertahankannya, Akashi sedikit menunduk dan napasnya tercekat. Kelima jarinya menarik lengan jas Kuroko hingga kusut.

Kuroko sepenuhnya sadar bukan dia yang seharusnya berada di sini, walaupun dia masih berharap jauh dari lubuk hatinya yang terdalam. Andaikan saja Kuroko berani mengungkapkan perasaannya pada hari itu, apakah hubungan mereka akan ada yang berubah?

"Tetsuya, menurutmu apakah aku harus kembali? Bukan karena ini semua terasa sulit, aku sudah terbiasa, aku tahu itu. Tapi, tidak ada lagi yang bisa kupercayakan dengan perasaan ini."

Tidak. Bibirnya juga tertutup rapat. Mereka semua sama saja.

"Aku adalah sahabatmu. Apapun keputusan yang Akashi-kun pilih, aku akan selalu berada di pihakmu."

Semua yang mengetahui cerita ini termasuk Kuroko pasti tahu. Akashi membutuhkan Aomine, begitu pula sebaliknya. Tapi, pencipta mereka tidak pernah mengizinkan. Entah dari sudut norma atau kewajiban, mereka tetap tidak boleh bahagia. Sesungguhnya kesalahan mereka hanyalah bertemu di tempat dan waktu yang tidak tepat.

"Tolong mengertilah…"

Inilah akhir dari kisah dua orang pendosa.

"…sakit sekali… Tetsuya."

Benang merah itu telah sepenuhnya hilang menjadi abu.

#

.

.

.

.

#

Pada suatu malam, Akashi sedang menunggu bus di halte. Sebuah pesan masuk datang di hp-nya. Tapi, bukan dari pria yang selama ini menanyakan kabar atau keberadaannya. Melainkan dari seseorang yang jarang sekali menghubunginya.

'Bagaimana kabarmu? Apa kau sudah sehat?'

Akashi membalas pesan itu dengan singkat, 'Aku selalu sehat.' Dia berniat memasukkan hp tersebut ke dalam sakunya, namun balasannya datang terlalu cepat.

'Seijuro, jika di luar sana terlalu sulit untukmu, rumah ini bisa menjadi tempatmu pulang kapanpun kau mau.'

Akashi mulai mengernyitkan kedua alisnya.

'Aku akan pulang jika kau berhenti bertanya tentang sehat atau tidak.'

'Seijuro, kau seharusnya tahu aku hanya mengkhawatirkanmu, masa depanmu.'

'Sekarang aku sudah di masa depan itu sendiri.'

'Tidak, masa depanmu masih panjang dan aku tidak akan membiarkanmu menghancurkannya bersama penyakit itu.'

'Pilihanku bukan penyakit.'

'MENYUKAI SESAMA JENIS ADALAH PENYAKIT, KAU HARUS MENGERTI, SEIJURO!'

Ah. Here we go, again.

Akashi menarik napas dan menahannya untuk beberapa saat sebelum mengeluarkannya perlahan. Mencoba sabar dan tidak membanting hpnya ke atas aspal sampai hancur. Akhirnya Akashi mengangkat kepalanya. Pemandangan pasangan lelaki dan wanita yang sedang bergurau menarik perhatiannya. Andaikan semua orang dapat memahami seksualitas yang dipegangnya tanpa perlu menghakimi sebelah mata, mungkin meraih kehidupan yang sempurna tidak perlu sesulit ini.

'Terserah katamu saja, ayah.'

Keesokan harinya, setelah Akashi meminta Aomine pulang lebih dulu lagi dan dia tinggal berdua dengan Kuroko, Akashi menceritakan salah satu kegundahan yang mungkin akan menghantuinya seumur hidup ini. Berbeda dengan Aomine dimana Akashi bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus menceritakan apapun, dia justru merasa lebih terbuka dengan Kuroko mengenai keluarga dan masa lalunya.

Akashi bisa menjadi dirinya sendiri bersama mereka dengan perlakuan khususnya masing-masing.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dua minggu kemudian, Akashi Seijuro mengundurkan diri dari perusahaan tersebut.

Terlalu mendadak, bahkan tidak ada one month notice. Akashi mengajukan surat resign yang tersegel rapi di dalam amplop, meletakkannya di atas meja atasan lalu menghilang begitu saja. Dia meninggalkan kantor dalam keadaan telah menyelesaikan seluruh pekerjaannya tanpa kecuali. Hanya satu tugas yang dia tinggalkan yaitu mengajari pengganti posisinya kelak. Tapi, tidak masalah. Pasti ada yang bisa melakukan tugasnya jauh lebih baik.

Lalu catatan lainnya adalah, Akashi juga tidak memberi kabar kepada Aomine Daiki atau Kuroko Tetsuya. Berniat penuh menghapus eksistensi dirinya dari sejarah kehidupan keduanya. Mereka sudah marah dan kecewa lebih dulu dengannya, tidak ada alasan untuk berpisah baik-baik setelah semua yang terjadi.

Seperti prinsip hidupnya, absolut dan sempurna.

Rasa benci seutuhnya itu adalah miliknya seorang dan Akashi tidak akan membaginya kepada siapapun.

Akashi berdiri di atas atap gedung untuk menikmati angin sepoi di jam istirahat siangnya. Gedung yang merupakan perusahaan baru tempatnya bekerja sekarang. Cukup jauh dari perusahaan sebelumnya dan seharusnya cukup untuk melanjutkan hidup dengan arah yang lebih baik.

"Akashicchi? Sedang apa kau di sini?"

Tapi, hukuman atas kesalahan yang pernah dilakukannya di masa lalu akan selalu datang mengejarnya. Akashi tahu dia tidak akan bisa lari semudah itu, oleh karenanya dia mencoba meminimalisir ganjaran yang harus dia terima. Dia tahu dia akan menang. Meskipun dengan atau tidak bersama 'cinta' yang konon dibutuhkan setiap manusia di bumi ini.

Harus selalu siap, Akashi sudah belajar terlalu banyak. Dia membalikkan tubuhnya dan melihat salah satu pria yang sesekali menemani malam-malam sebelumnya. Perlahan tapi pasti menghapus bayangan Aomine dan menggantikan wajahnya dengan wajah pria berambut pirang di hadapannya. Waktunya mencoba perasaan baru di hatinya.

Akashi mengulurkan tangan dengan senyum profesional pada atasan barunya.

"Salam kenal, Kise Ryouta-kun. Aku Akashi Seijuro, karyawan baru di perusahaan ini."

.

.

.

To be honest, I knew

I knew it was gonna be hopeless, but still

Everything that slips through these hands looks like love

.

The words I made sure of take shape, only wavering

- Natori (Overdose)

.

FIN

.

.

.