200%

A GojoHime Fanfiction

Jujutsu Kaisen by Akutami Gege

WARN : typo, OOC, OOT, sedikit kasar, author's headcanon. Mohon dimaafkan apabila ada perbedaan dengan cerita aslinya.


2 November, 2018.

Rasa perih akibat luka terbuka yang diberi antiseptik tak membuat Utahime bahkan meringis. Ia melamun tanpa jeda, membiarkan Shoko membersihkan lukanya sembari mengaplikasikan teknik kutukan pembalik agar membaik.

Tidak ada waktu untuk berdiam diri. Murid dan temannya terancam mati. Bahkan beberapa sudah pergi. Tapi di sinilah Utahime, tak berdaya, dengan luka sayatan yang cukup besar di sekitar dada dan tangannya. Utahime memang bukan penyihir yang dapat menimbulkan kerusakan/bertarung langsung, ia akan lebih bersinar ketika dapat memberi support kepada penyihir lain, wajar jika ia lebih mudah terluka.

"Kau tak dapat turun ke medan lagi, setidaknya, untuk beberapa waktu. Energi kutukanmu terkuras habis,"

Utahime tak menjawab.

"Kak Utahime?"

Ia baru menoleh, "Ah, ya. Aku mengerti. Tapi..."

"Kau banyak kehilangan energi, kalau aku boleh mengulangi kalimatku,"

Wanita itu tak membalas lagi. Ia menarik nafas, dan menghembuskannya perlahan.

Pikirannya kalut.

Bagaimana tidak, Utahime baru menyandang nama keluarga Gojo selama beberapa minggu- salah satu keluarga penyihir terkuat di Jepang, dan sekarang, suaminya yang satu-satunya anggota keluarga Gojo itu malah disegel. Ditambah lagi, segel itu akan bisa dibuka jika orang yang disegel bunuh diri. Ini adalah sebuah garis kematian baik untuk Gojo maupun Utahime.

Kalaupun ia keluar dari alam penjara itu, apa yang akan ia katakan?

Sementara rekan terdekat dan anak murid kesayangannya sudah tiada, ia mungkin bukan tipe yang akan menyalahkan dirinya sendiri atas apapun yang terjadi, namun Utahime mengerti jauh dalam lubuk hatinya, ia pasti menyesalinya.

Jika ini saat yang kau maksud memintaku untuk meminjamkan kekuatanku, saat ini juga kukerahkan segalanya demi membawamu keluar dari sana, Gojo.

"Suamimu merepotkan, bukan?"

Utahime terkekeh sedikit, "Ditinggal sendirian sebentar malah disegel," ujarnya.

Shoko bernafas lega. Setidaknya Utahime tak terlalu berlarut dalam kegelisahannya. "Tak apa, kak. Aku percaya ia baik saja," ujar Shoko.

"Ia harus baik saja," kata Utahime, memberesi bajunya setelah lukanya diobati. "Harus, karena aku takkan memaafkannya kalau ia mati tanpa perpisahan denganku,"

"Ia akan kembali, Kak,"

Shoko bangkit dari duduknya dan tersenyum,

"Karena kalau tidak, dia akan sangat menyesal,"


4 November, 2018.

Aku harap semua orang yang sedang bertarung bisa selamat,

Aku harap semua kutukan yang melanda negeri ini bisa menghilang,

Aku harap suamiku baik-baik saja.

Karena lukanya cukup berat, Utahime kembali ke Kyoto dan diperintahkan untuk menyelenggarakan penyucian secara resmi di kuil. Meski ia sudah tak menyandang lagi status gadis kuil karena pernikahannya, ia menjadi mentor untuk gadis kuil muda yang baru direkrut dan tetap melakukan tarian Kagura dalam penyucian.

Setiap hari. Siang dan malam. Pagi juga sore. Ia datang dan berdoa akan hal yang sama. Semoga anak-anak muridnya selamat, semoga teman kerjanya selamat, semoga suaminya bisa keluar. Gojo masih menyimpan jimat yang diberikan ayah Utahime, ia percaya, setidaknya jika sekarang ia disegel, Utahime yakin bahwa Gojo akan baik-baik saja.

Ia merindukannya, jika Utahime harus jujur.

Hari ini, kepalanya agak pusing. Asumsinya bahwa lukanya masih belum terlalu pulih, dan dia sudah membantu banyak kegiatan di kuil. Nyonya Iori menyuruhnya untuk libur dan beristirahat, tapi bagi Utahime, mungkin ini satu-satunya cara untuk mengalihkan perhatian dan kesedihannya.

Dunia terombang ambing, begitu juga dirinya.

"Mungkin asam lambung? Kau telat makan, sudah ibu bilang kau harusnya istirahat saja, kenapa malah sibuk kerja?"

Omelan ibunya saat membaluri minyak terapi di punggung Utahime yang hangat. Ia baru merasa demam di pagi hari dan mengaku tak enak badan di pagi hari. Rasanya sekujur badannya sakit, belakang kepalanya cenat-cenut, mual parah dan nyeri pinggang.

"Mau ke dokter? Ibu temani," kata Nyonya Iori.

"Boleh, tapi aku merasa baik saja sampai semalam..." kata Utahime.

Nyonya Iori menghela nafas dan menutup baju Utahime yang tersibak karena diolesi minyak hangat. "Kau sungguh baik saja?"

Aku baik saja? Tentu tidak.

Utahime tak menjawab. Ia menundukkan kepalanya, mempertanyakan kondisi dirinya sendiri.

Ibunya memeluk Utahime dari belakang. Utahime mulai meneteskan air matanya, menangis terisak-isak tanpa jeda. Ibunya mengusap-usap tubuhnya, memberikan kasih sayang dan rasa empati sebisa mungkin seperti yang biasa ia lakukan.

"Ssh, tenanglah, Utahime,"

Utahime masih mengerang. Rasanya ia mengeluarkan semua emosi selama ini yang sudah ia tahan. Tidak adil, ini semua rasanya omong kosong. Bilang bahwa ia akan baik saja, Utahime juga tidak ingin munafik bahwa Gojo Satoru tidak pernah sesempurna itu.

"Satoru akan kembali,"

"Kalau nyatanya tidak, bagaimana?!"

"Ibu percaya ia takkan meninggalkanmu begitu saja, Ibu dan Ayah percaya padanya,"

Utahime masih menangis, Ibunya masih memeluknya. Batinnya terasa remuk, Sekujur tubuhnya sangat sakit. Kepalanya tambah pusing.

Bukan soal percaya atau tidaknya. Utahime adalah istri yang tahu kemampuan suaminya. Ia hanya marah pada takdir dan takut akan apa yang terjadi di masa mendatang. Semakin ia memikirkannya, rasanya isi perutnya naik ke lambung dan ingin muntah. Utahime tak pernah seemosional ini, ia takut malah jadi melahirkan kutukan, jadi ia sibukkan dirinya ke pekerjaan dan kegiatan kuil yang penuh.

"Kau akan baik saja, kau dan Gojo akan baik saja,"

Aku dan Gojo baik-baik saja.


Karena Shoko jauh di Tokyo, Utahime terpaksa pergi ke rumah sakit sendirian. Tadinya Ibunya menawarkan untuk menemani Utahime, namun ia bersikeras untuk pergi sendirian.

"Nyonya Iori,"

Utahime duduk di hadapan dokter dengan tenang. Melihat dokter tersenyum manis, berusaha untuk menjelaskan apa yang dialami Utahime.

"Banyak luka yang tidak saya mengerti, anda bisa jelaskan? Sepertinya anda terluka cukup parah,"

Utahime tertawa kecil, "Ah, ya... ada kecelakaan kecil.."

Jelas bukan kecelakaan kecil. Dokternya memang sedikit bingung, karena ia bukan dokter seperti Shoko.

"Luka-luka ini sudah mengering, tapi saya rasa dapat memberi efek kepada sakit yang anda alami sekarang, kemudian.."

Dokter itu menulis resep obat di secarik kertas khusus.

"Apakah Nyonya Iori sudah menikah?"

Mendengarnya, Utahime agak terkejut.

"Sudah,"

Dokter kembali menulis resep.

"Saya harap Nyonya dapat kontrol kesehatan nyonya secara berkala, mungkin kembali lagi sekitar tanggal 23 atau 24 Desember?" Ujarnya, "Saya akan berikan obat yang bagus untuk kondisi Nyonya sekarang, dan juga," ia memberikan resep itu,

"Saya ingin memastikan sesuatu, karena saya belum terlalu yakin. Luka di tubuh Nyonya memberikan efek yang.. mungkin agak berbahaya untuk kedepannya, jadi saya harap Nyonya datang dengan suami nyonya untuk penjelasan lebih lanjut,"


TBC