"Kami memang memaksamu, tetapi kau sendiri yang memilihnya, Gaara! Kau yang telah memilih Yamanaka Ino! Kau dengan pemikiranmu itu untuk desa ini!" balas Kankurou dengan nada tingginya, bahkan melebihi suara lawan bicaranya itu.

"Cukup diam dan rahasiakan ini dari gadis itu! Beri dia cintamu, dengan begitu dia tidak akan mencurigai kita lagi! Dia tak lebih dari gadis lugu yang haus akan cinta! Lihat bagaimana dia masih mencintai nukenin itu? Gadis itu mudah ditaklukkan dan kau tidak perlu berurusan dengan Shikamaru!" lanjut Kankurou mencecar adiknya sendiri.

Mendengar cecaran dari kakak laki-lakinya itu, Gaara kembali tersulut emosi. Entah apa yang terjadi dengan kakak laki-lakinya itu, Kankurou seperti bukan dirinya yang dulu lagi. Daripada membelanya, sekarang Kankurou lebih memihak kepada para petinggi di desanya. Meskipun alasannya demi desa, sifat Kankurou tidak bisa diterima oleh Gaara. Gaara seperti kehilangan sisi Kankurou yang ia kenal.

Sret!

"Gaara!" pekik Temari saat ia melihat Gaara kembali mencengkeram dan menarik kerah baju Kankurou.

"Aku tidak mungkin memilihnya jika kalian tidak menipuku! Kau memanfaatkan kelemahanku hanya demi ambisimu! Siapa lagi yang bisa aku percaya jika keluargaku sendiri tidak bisa mengerti?" Gaara tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Kankurou.

Saat ini pemuda bertato 'Ai' itu sedang menarik kerah Kankurou hingga kakak laki-lakinya itu kian mendekat ke arahnya.

Setelah Gaara membalas omongannya, Kankurou bungkam, tetapi sorot matanya sama sekali tidak menunjukkan penyesalan.

Sama halnya seperti pemuda ahli kugutsu itu, kini Temari juga ikut terdiam. Ia sedikit mengerti kekhawatiran Gaara soal Ino.

Gaara tidak tahu bagaimana caranya berhadapan dengan Shikamaru jika suatu saat nanti pemuda berambut nanas itu mengetahui semuanya.

Shikamaru dan Ino sudah saling mengenal sejak lama. Mereka berdua sudah berteman sejak kecil, bahkan sebelum mereka lahir karena clan Nara dan Yamanaka memiliki sebuah tradisi bersama clan Akimichi. Ketiga clan itu bersahabat dari generasi ke generasi.

Jika seseorang berani menyakiti Ino, maka Shikamaru tidak akan tinggal diam. Setelah Inoichi tidak ada, Shikamaru termasuk salah satu dari laki-laki yang berperan sebagai garda terdepan Ino –satu lagi Chouji tentunya. Lihat bagaimana Shikamaru membalaskan dendamnya kepada Hidan karena pemuda pemuja Jashin itu berani membunuh gurunya?

"Kalau begitu... apa kau berani membatalkan rencana pernikahan ini seorang diri? Bisakah kau menentang para petinggi desa?" tantang Kankurou.

"Dengan artian aku akan menjadi alasan utama Ino dalam bahaya?" balas Gaara bersamaan dengan cengkeraman tangannya yang kian melonggar.

Sesuai dengan permintaan para petinggi desa, Gaara harus menikah dengan Ino Yamanaka. Semuanya telah diatur oleh mereka dan Gaara tidak ikut andil di dalamnya. Tugasnya cukup mudah, salah satunya Gaara hanya perlu mengucap janji sehidup semati dengan Ino di kuil suci. Cukup mudah secara teoritis, tetapi tidak bagi Gaara.

Sekuat apapun Gaara berpikir jika ini tidak akan sulit dan menyakitkan, ia semakin sadar jika penderitaan itu tidak akan ia rasakan. Semuanya akan ditanggung oleh Ino, sementara Gaara hanya perlu menanggung kebohongan itu.

"Kau jelas sudah tahu risikonya, Gaara. Kalau kau benar-benar ingin mencoba, jadilah seorang bajingan, dengan begitu Ino akan membencimu. Buat citra kazekage yang buruk. Hancurkan reputasi dan desamu ini!" amuk Kankurou.

Sepenuhnya cengkeraman tangan Gaara pada kerah baju Kankurou terlepas. Ia sedikit mengambil jarak dan memahami perkataan Kankurou. Saat ini emosinya perlahan mereda.

Namun...

Brak! –pintu ruangan Kazekage didobrak.

"Gaara! Jadi, kabar kematian itu hanya rekayasamu?!" tanya salah satu petinggi desa yang tadi mendobrak pintu ruangan Kazekage dengan lancang.

Gaara, Kankurou, dan Temari langsung menoleh ke sumber suara. Temari dan Kankurou terlihat sangat terkejut, sementara Gaara masih dengan wajah datar tanpa ekspresi yang pasti.

"Itu artinya Nona Hakuto adalah pengganggu di rencana ini?" tanya petinggi desa itu.

Saat ketiga bersaudara itu sedang berdebat, tanpa mereka sadari beberapa petinggi desa sedang menguping. Awalnya mereka tidak bermaksud demikian. Mereka hanya ingin mencari Gaara karena acara perjamuan sudah siap dan mereka ingin segera membahas rencana pernikahan dengan Gaara dan Ino. Akan tetapi, obrolan si bungsu dan anak tengah sangat disayangkan untuk dilupakan. Para petinggi itu menguping di depan pintu dan menunggu waktu yang tepat untuk keluar.

"Kankurou, kirim anbu untuk membunuh Nona Hakuto dan Shigezane!" perintah petinggi desa itu.

"Baik," balas Kankurou.

Gaara menoleh ke arah Kankurou dan langsung menahannya, "Berhenti! Kau hanya menerima perintah dari seorang kazekage!"

Kankurou menggelengkan kepalanya sejenak.

"Maaf, Gaara," ucap Kankurou.

Kankurou hendak melangkah melewati Gaara, tetapi pasir Gaara lebih dulu mengikat kedua kakinya.

"!" Kankurou mendelik saat tubuhnya seketika kaku di tempat.

"Tidak ada yang boleh menyakiti Hakuto," putus Gaara sambil menatap tajam ke arah para petinggi yang sedang berdiri di dekat pintu.

"Kau punya pilihan, Gaara. Kami tidak akan mengusik kehidupan Nona Hakuto jika kau bersedia mendukung rencana ini dengan menikahi gadis Yamanaka itu," putus petinggi desa itu.

Kedua tangan Gaara mengepal kuat. Ingin sekali rasanya ia meremas orang-orang itu dengan pasirnya. Namun, ia bukan monster seperti dulu.

Perlahan pasir Gaara tidak lagi mengikat kaki Kankurou. Saat Kankurou kembali bebas mengendalikan tubuhnya, Gaara memilih untuk melengos pergi meninggalkan ruangannya itu.

Di saat perdebatan itu terjadi, Ino sedang asik memandangi pantulan tubuhnya di cermin.

"Pilihannya tidak buruk dan ini kelihatannya sangat mahal," ucap Ino mengomentari kimono pemberian Gaara.

Sejujurnya Ino tidak begitu nyaman menggunakan pakaiannya itu. Untuk acara perjamuan bersama tokoh penting, ini sedikit berlebihan. Seharusnya Gaara tidak memintanya mengenakan kimono. Jika ia bebas memilih pakaiannya sendiri, Ino akan mengenakan yukata yang ia bawa dari Konoha.

"Aku harap malam ini tidak akan buruk," ucap Ino setelah ia menyudahi kegiatan bercerminnya.

Ino segera bergegas meninggalkan penginapan menuju tempat perjamuan dengan para petinggi desa. Acara makan itu diadakan di hall yang biasa digunakan untuk acara-acara penting di Sunagakure. Tempat itu menyatu dengan gedung utama, sama seperti gedung Konoha yang menjadi bangunan serba fungsi sebab sebagian besar divisi ada di sana.

"Selamat malam, Ino-sama," ucap salah satu petinggi desa yang sudah hadir di acara itu.

Ino menelan ludahnya seketika. Bukan karena ia takjub dengan interior mewah di acara itu, tetapi karena ia terkejut saat melihat salah satu tamu yang duduk di salah satu meja makan.

"Kenapa... orang itu ada di sini?" gumam Ino.

Ino berhenti tepat di depan pintu hall itu. Ia bahkan mengabaikan sapaan dari orang lain karena fokusnya hanya pada tamu tak biasa itu.

"Eh?!" pekik Ino kaget.

Ino sedang asyik dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba saja sebuah tangan besar melingkar tepat di pinggangnya. Refleks Ino langsung menoleh dan mendapati Gaara sedang menatapnya.

"Orang-orang sudah menunggu," ucap Gaara sebagai satu isyarat untuk mengajak Ino menghampiri meja persegi panjang yang menjadi tempat berbagai menu disajikan.

"Yo, Ino!" sapa teman dari tamu tak biasa itu. Ia duduk di sampingnya sambil mengangkat tangan kirinya ke atas untuk menyapa Ino.

-to be continued-

Halo, hai, ketemu lagi! Jangan bosen-bosen ya sama penname PhiruFi yang nongol terus di fanfiction ahahaha~ Sesuai janji, khusus hari Kamis ini muncul chapter baru. So, di sini aku mau menjelaskan jika karakter petinggi desa itu sama tingkahnya seperti Daimyou. Jadi, mereka ada di atas kage tingkatannya. Makanya rada songong gitu deh. Dah, dah. Nanti malah panjang ceritanya di sini *peace.

Lagi dan lagi aku ucapkan terima kasih karena kalian masih mau menunggu dan membaca cerita ini.

~Sesi ngobrol~

megumi darling: Terima kasih banyak atas semangatnya!

BngJy: Ada alasan kenapa Ino yang dipilih, nanti aku ceritakan di chapter selanjutnya. Semoga Kakak enggak kecewa ya karena Ino-nya belum banyak muncul lagi. Maaf, ya! Tapi, terima kasih, Kak, sudah mau menunggu.

Azzura yamanaka: Terima kasih sudah mampir lagi~

zielavienaz96: Wah, boleh tuh! Tapi aku enggak mau spoiler soal Shikamaru deh eheheh!

Inzaghi: Aduh, semoga enggak kecewa, ya. Di chapter ini mau fokusin perselisihan Kankurou sama Gaara dulu soalnya. Ino-nya masih malu-malu meong buat nongol *peace. Oh, drakor... Kalau drakor aku enggak banyak tahu sih, cuma suka aja tapi enggak banget xD. Aku usahakan ya, Kak. Semoga bisa sampai tamat. Terima kasih!

See you next chapter~