Awalnya Ino hanya membalas sapaan itu dengan senyuman kaku, tetapi saat melihat temannya itu tersenyum lebar hingga deret gigi putihnya terlihat, Gadis Bunga itu memutuskan untuk membalasnya dengan sebuah lambaian tangan singkat. Ia senang melihat teman se-angkatannya datang, tetapi lain cerita jika ia harus bertemu dengan pemuda berpakaian serba hitam itu. Yang lainnya boleh, tetapi jika pemuda itu yang datang, Ino sepertinya belum sanggup. Ino mengambil keputusan untuk tidak melakukan kontak mata dengan tamu tak biasanya itu. Pandangannya hanya terfokus pada pemuda Jinchuuriki yang sedang duduk di samping pemuda itu.
"Kenapa orang itu harus ikut? Kupikir ini hanya acara khusus orang-orang Suna, tapi kenapa mereka mengundang teman-temanku juga? " batin Ino bertanya-tanya.
Saat Ino sedang asyik bergelut dengan batinnya sendiri, tiba-tiba Gaara mengeratkan pelukan tangan kirinya di pinggang Ino. Gadis itu merasa sedikit canggung dan tegang di waktu yang bersamaan, tetapi ia memilih untuk bersikap profesional daripada menolaknya. Meskipun ia enggan, ia tidak mau mempermalukan seorang kazekage di depan umum, apalagi di hadapan teman-temannya –setidaknya saat ini tidak ada niatan buruk untuk membuat Gaara malu. Ia hanya berusaha terlihat sopan seperti apa yang diajarkan oleh ibunya.
"Terima kasih, Gaara, kau telah mengundangku ke acara ini bersama dengan Sasuke dan lainnya," kata Naruto yang tadi baru saja menyapa Ino.
"Lainnya? Itu artinya bukan hanya mereka berdua yang datang, tetapi siapa lagi? Apa jangan-jangan Sakura juga di sini?" batin Ino menerka siapa saja shinobi Konoha yang diundang oleh Gaara untuk menghadiri acara perjamuan itu.
"Senang bertemu denganmu lagi, Naruto," balas Gaara.
Naruto sempat berdiri untuk menyambut kedatangan Gaara dan Ino. Pemuda berambut jabrik itu mengulurkan tangan kirinya ke arah Gaara. Lalu, keduanya saling berjabat tangan dan sama-sama tersenyum. Bedanya Naruto tersenyum lebar, sedangkan Gaara hanya memamerkan senyum tipisnya. Tidak lama setelah itu, Naruto melepaskan jabatan tangannya. Saat Naruto hendak mengulurkan tangan kirinya ke arah Ino, pergerakan pemuda jabrik itu terhenti karena omelan si gadis.
"Naruto, kau kabur atau bagaimana? Apa Tsunade-sama sudah memberimu izin untuk datang ke sini? Kau tahu, 'kan, jarak Konoha ke Suna itu tidaklah dekat? Jika kau ke sini, bagaimana dengan operasinya? Kau tidak boleh pergi-pergi dulu!" Bukannya menyambut tamunya itu, fokus Ino malah tertuju ke arah tangan kanan Naruto.
Setelah pertarungan terakhirnya di Shuumatsu no Tani atau Lembah Akhir, Naruto kehilangan tangan kanannya. Begitu pula dengan Sasuke yang kehilangan tangan kirinya. Setelah itu, Tsunade mempunyai sebuah ide untuk menyambung tangan mereka dengan sel Hashirama. Naruto menerima usulan itu, tetapi Sasuke tidak. Sasuke menganggapnya sebagai balasan atas dosa yang telah ia lakukan.
"Maa, mendokusai... Ino, ini bukan saatnya mengkhawatirkan Naruto," sahut seseorang yang tiba-tiba datang dari samping kiri Ino.
Ino langsung menoleh karena ia merasa sangat familiar dengan suara itu. Seharusnya tanpa melihat pun, Ino akan tahu siapa yang sedang berbicara dengannya.
"Shikamaru?" Ino menatap tak percaya saat melihat Shikamaru tiba-tiba datang bersama dengan Chouji. Kedua rekan sekaligus sahabatnya itu berjalan mendekat ke arah meja perjamuan.
Kedatangan Naruto dan kedua sahabatnya itu sangat mengejutkan. Ia sampai mengabaikan Sasuke yang sejak tadi berdiri di samping Naruto dan secara tidak langsung ikut menyambut kedatangannya.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Ino keheranan.
"Kami datang untuk memenuhi undangan Gaara," balas Shikamaru.
Ino menanggapi Shikamaru dengan menganggukkan kepalanya berulang kali dan membentuk huruf 'O' dengan mulutnya. Ia tidak tahu jika Gaara akan mengundang teman se-angkatannya. Atau sebenarnya pemuda itu ingin memberitahu Ino, hanya saja Ino malah mengajaknya berdebat saat di penginapan tadi, jadi pemuda itu tidak ada waktu untuk sekedar mengatakan informasi itu.
"Selamat datang, shinobi Konoha," sambut Gaara.
Gaara memberi sebuah isyarat agar keempat tamunya itu duduk. Shikamaru dan Chouji segera mengambil tempat duduk di deretan yang sama dengan Naruto dan Sasuke. Mereka berenam duduk bersimpuh di meja panjang itu. Chouji, Shikamaru, Sasuke, dan Naruto duduk di deteran yang sama, sedangkan Ino dan Gaara ada di seberang mereka. Gaara menghadap langsung ke arah Naruto, sedangkan Ino dengan Sasuke.
Seharusnya ini bukan situasi yang sulit. Ino biasa makan bersama dengan Shikamaru dan Chouji, tetapi saat personilnya bertambah tiga orang, Ino serasa mati gaya apalagi ia perempuan satu-satunya di sana.
"Kau bisa mengobrol bersama dengan temanmu selagi menunggu para petinggi desa datang," kata Gaara.
Ino menutupi keterkejutannya dengan sebuah senyuman canggung. Ia bersikap seolah tersanjung dengan perlakuan Gaara yang memberikannya kejutan dengan mendatangkan dua sahabat dan dua teman se-angkatannya. Ternyata beberapa petinggi desa yang ada di sana belum lengkap semuanya. Ada yang belum datang, jadi Gaara menggunakan kesempatan itu untuk Ino agar ia bisa menghabiskan waktu dengan teman-temannya.
"Menikmati waktu bagaimana? Kau bahkan tidak mengundang teman-teman perempuanku. Shikamaru dan Chouji sih okay, tapi Naruto dan Sasuke-kun?" batin Ino sedikit jengkel.
Lain di hati Ino memilih untuk menganggukkan kepalanya. Ia berpura-pura senang, padahal sejujurnya tidak begitu. Ia tidak suka berhadapan dengan Sasuke untuk saat ini.
Gaara tidak mengatakan apapun, tetapi pemuda itu langsung berdiri dan meninggalkan Ino dengan keempat teman laki-lakinya. Keberadaan Shikamaru dan Chouji tidak mengganggu Ino, tetapi sosok Sasuke cukup membuatnya tak nyaman, apalagi pemuda itu duduk tepat di hadapannya. Ino jadi kesulitan untuk mengalihkan pandangannya dari pemilik mata rinnegan itu.
"Aku masih tidak percaya jika kau akan segera menikah, Ino. Terlebih dengan Gaara, temanku," ucap Naruto memecah keheningan.
Untung ada Naruto yang memulai pembicaraan, jadi Ino tidak perlu lagi bersikap aneh.
"Kau tidak jauh berbeda, 'kan? Kau dan Hinata lebih dulu menjalin hubungan. Jadi, kapan?" serang balik Ino.
Di balik ucapan Naruto, tak ada maksud sedikit pun untuk menyinggung Ino. Akan tetapi, gadis itu merasa sedikit tak terima, jadi nada bicaranya terdengar sedikit sengit.
"Kami sudah memikirkannya, tetapi untuk saat ini belum. Kami sedang menikmati waktu bersama-ttebayo!" seru Naruto sambil tersenyum lebar dan memamerkan gigi putihnya.
"Tadi siang Naruto kabur untuk berkencan dengan Hinata, Ino," kata Chouji.
Ino mendengus kesal. Entah kenapa Ino merasa sedikit cemburu dengan Hinata. Putri Hyuuga itu mendapatkan cinta pertama masa kecilnya. Sudah bukan rahasia lagi. Banyak teman se-angkatannya yang tahu jika Hinata menyukai Naruto sejak masih akademi.
"Kau dan Gaara akan menjadi pasangan yang serasi," kata Naruto sambil mengacungkan jempol tangan kirinya.
Lagi-lagi Ino mendengus kesal sebelum ia menanggapi perkataan pemuda berambut jabrik itu.
"Aku tidak percaya dengan semua ucapanmu, Naruto. Dasar pembual," ledek Ino.
Kalau saja jarak mereka tidak terhalang, Ino pasti akan menjewer telinga Naruto. Tahu dari mana pujian manis itu? Pasti karena Naruto banyak bergaul dengan Sai yang suka membaca buku.
"Terima kasih, Naruto."
Tiba-tiba suara bariton di belakangnya membuat Ino terkejut. Suara itu milik Gaara dan Ino tidak menyadarinya.
"Kenapa dia harus menanggapi omongan Naruto?" batin Ino kesal.
Gaara mengambil tempat duduk di samping Ino seperti sebelumnya.
"Ya, jangan lupa mengundangku lagi saat pernikahan dilangsungkan, Gaara," pesan Naruto.
Ino tidak terlalu menyukai topik bahasan soal pernikahannya itu, jadi ia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
"Ngomong-ngomong, berapa hari kalian akan tinggal di sini?" tanya Ino sambil mengedarkan pandangan ke arah lawan bicaranya secara bergantian, kecuali pemuda berambut raven itu. Ino sengaja melewati Sasuke.
Sampai kapan pun Ino tidak bisa menatap mata Sasuke. Rasanya aneh apalagi setelah Ino mendengar kabar jika pemuda Uchiha itu ingin menikahi sahabat pink-nya. Sulit sekali untuk berlagak baik-baik saja saat mengetahui cinta pertamanya akan menikah dengan yang lain.
"Besok pagi kami sudah kembali. Chouji harus segera kembali ke Kumogakure untuk menjalankan misi dan aku harus membantu Rokudaime," balas pemuda berambut nanas itu.
"Dan Naruto harus tiba sebelum Tsunade-sama datang ke kamar inapnya," sahut Chouji.
Naruto langsung menggaruk kepala bagian belakangnya karena salah tingkah.
"Nah, 'kan! Kau kabur dari rumah sakit! Bagaimana jika Sakura tahu? Dia pasti akan marah besar, Naruto no Baka!" omel Ino tanpa sadar.
Mengomel tampaknya sudah melekat pada diri Ino, ia tanpa sadar memarahi Naruto padahal itu adalah tugas Sakura.
"O—!" Ino langsung tersadar jika ia baru saja menunjukkan ekspresi secara lepas di depan Sasuke.
"Ish! Apa-apaan sih. Jaga image, Ino," batin Ino penuh sesal.
Ino langsung menundukkan kepala sambil menautkan kedua tangannya dengan malu-malu. Untung saja Shikamaru langsung mengalihkan pembicaraan. Pemuda berambut nanas itu langsung mengangkat topik politik desa seperti saat rapat.
Topik bahasan itu berhasil menarik perhatian Gaara dan Naruto, bahkan Sasuke ikut bicara meskipun tidak banyak. Saat rasa gugup Ino sudah hilang, ia ikut bergabung dengan obrolan itu. Bahasan soal desa termasuk bidangnya karena setiap kali diadakan rapat, Ino sesekali ikut sebagai perwakilan shinobi atas perintah Kakashi.
Mereka menghabiskan waktu sekitar 30 menit untuk mengobrol. Tadinya Gaara berniat untuk memberikan waktu bagi Ino agar gadis itu bisa sedikit lebih rileks, sayangnya Shikamaru malah membahas soal desa dan mereka ikut larut dalam obrolan itu. Shikamaru, Chouji, Sasuke, dan Naruto pamit lebih dulu karena sekarang saatnya Gaara dan Ino bertemu dengan para petinggi desa.
Setelah Ino menghabiskan waktunya yang berharga dengan penuh keterpaksaan dan rasa jengkel yang tertahan, akhirnya acara perjamuan itu selesai. Ino lega karena ia tidak harus berinteraksi dengan para petinggi desa yang menyebalkan itu. Sekarang Ino mempunyai stereotip jika semua petinggi desa itu menyebalkan dan suka bersikap semaunya sendiri.
"Geh!" Ino hampir saja mengumpat.
Untung saja Ino bisa menahan diri untuk tidak mengumpat di samping Kazekage. Ia langsung memasang wajah kesalnya begitu ia keluar dari ruangan yang menjadi tempat perjamuan tadi.
Memasng sih, beberapa petinggi Desa Suna menyambut dan memperlakukan Ino dengan baik. Sebagian cukup ramah, tetapi sisanya sangat menjengkelkan. Selama acara perjamuan, Ino merasa tidak nyaman karena mereka terlihat mencoba untuk menggali kehidupan Ino. Kesalnya lagi saat seorang pemimpin dari petinggi desa itu mulai menyinggung soal kematian ayahnya. Sejak kejadian tragis itu, Ino jarang mengungkit pembahasan soal ayah dan pamannya, bahkan dengan ibunya sekali pun. Bukannya ia belum bisa menerima takdir, hanya saja ia masih sering menangis jika mengingat mendiang ayahnya.
"Maaf telah membuatmu tidak nyaman," ucap Gaara.
Saat ini Gaara dan Ino berjalan bersama meninggalkan gedung utama Suna. Setelah acara perjamuan, Gaara bermaksud untuk mengantarkan Ino kembali ke penginapan. Awalnya Ino menolak, tetapi Gaara sedikit memaksa. Gaara beralasan jika Ino belum cukup familiar dengan desanya itu, jadi akan lebih baik jika Ino kembali ke penginapan bersama dengannya. Karena tidak ada pilihan lain, dengan terpaksa Ino harus menerima tawaran itu.
Sekarang mereka sedang menikmati angin Suna di malam hari dengan berjalan santai di tengah desa. Itu adalah jalan utama di desa Suna. Namun, tidak seperti di Konoha yang akan selalu ramai, desa Suna sangat sepi ketika malam. Selain itu, suhu di desa itu sangat panas ketika siang hari, tetapi ketika malam tiba, suhunya menjadi turun drastis. Untung saja Ino mengenakan kimono mahal yang kainnya cukup tebal dan nyaman, jadi ia tidak merasa kedinginan –ya, mungkin hanya sedikit dingin. Sekarang Ino mengerti kenapa Gaara kukuh dengan keinginannya karena Sunagakure memang tampak lebih seram dan asing saat malam hari.
"Sebenarnya aku tidak terlalu terkejut. Di Konoha juga ada orang-orang seperti itu," balas Ino sambil menerawang menatap jalanan di depannya, "Bedanya aku tidak harus berurusan langsung dengan mereka karena aku bukan orang penting seperti seorang kage," lanjutnya.
Setelah perkataan itu, tidak ada lagi yang mulai berbicara. Gaara juga tidak menanggapi perkataan Ino karena ia bukan pemuda konyol seperti Naruto yang bisa mengobrol apa saja secara random.
"Nee... Kazekage-sama…," panggil Ino.
Tiba-tiba Ino berhenti di tengah jalan. Mau tidak mau Gaara pun ikut menghentikan langkah kakinya.
"Ya?" respons singkat Gaara.
Saat ini tubuh Ino sedikit ia serongkan, dengan begitu Ino bisa melihat ke arah Gaara.
"Mood-ku sudah hancur karena orang-orangmu, Kazekage-sama. Kau tidak berniat untuk menghiburku? Mungkin kau bisa mengajakku ke suatu tempat yang bagus di sini. Bukankah desa ini akan menjadi tempat tinggalku yang baru? Sudah seharusnya aku berkeliling, 'kan?" tanya Ino.
Gaara tampak keheranan. Ini pertama kalinya pemuda itu mendapatkan permintaan langsung dari seorang gadis untuk mengajaknya berkeliling desa. Gaara lalu berpikir, 'Apakah Ino baru saja mengajaknya berkencan?' begitu pikir Gaara. Sama seperti yang dilakukan Shikamaru kepada Temari, pemuda dari clan Nara itu juga pernah mengajak Temari berkencan setelah pulang misi.
"Di Suna sangat dingin ketika malam. Lagipula, di sini tidak ada tempat menarik seperti di Konoha," balas Gaara.
Ino terlihat menghela napasnya dengan kasar. Sepertinya setelah Sasuke, Gaara adalah pemuda lain yang berani menolaknya.
"Sepertinya kau tidak mau. Baiklah. Cukup sampai di sini saja, aku bisa pulang sendiri. Terima kasih," ketus Ino.
Ino memang sengaja menunjukkan kekecewaannya dengan berbicara ketus. Barangkali dengan begitu Gaara bisa berubah pikiran. Ia sudah rela menahan malu dan menurunkan harga dirinya saat mengajak Gaara berkencan, tetapi pemuda itu malah menolak ajakannya.
"Kalau bukan karena aku ingin mencari tahu rahasiamu. Aku tidak akan pernah mengajakmu lebih dulu. Dasar tidak tahu diri," batin Ino kesal.
"Kita bisa pergi ke satu-satunya oasis di sini, tetapi setelah kita mengganti pakaian yang lebih nyaman," kata Gaara saat Ino sudah mulai berbalik badan dan menjauh beberapa langkah.
Ino mematung seketika, tetapi detik berikutnya ia kembali membalikkan badan dan langsung berlari mendekati Gaara.
"Benarkah?!" seru Ino senang.
Ino tidak benar-benar senang, tetapi ia hanya bersandiwara agar rencananya berhasil. Ino hanya ingin mengelabuhi Gaara agar ia bisa membaca pikiran pemuda itu. Saat Gaara mulai sedikit lebih hangat dan merasa akrab dengan Ino, gadis itu bisa langsung melancarkan jurusnya. Ketika itu terjadi, semuanya rahasia pemuda itu akan terbongkar dan ia bisa menghentikan semua kebusukan orang-orang Suna –kalaupun kekhawatirannya itu benar.
"Kau mau tahu, aku hampir saja kecewa saat kau menolakku," kata Ino sambil menunjukkan wajah cemberutnya.
Gaara memperhatikan Ino. Kebetulan sekali Gaara dan Ino berhenti tepat di bawah lampu jalan, jadi pemuda itu bisa melihat wajah Ino dengan jelas. Gadis Bunga itu sangat bertolak belakang dengan Hakuto. Hakuto sedikit malu-malu saat berbicara ataupun ketika sedang berada di dekatnya. Akan tetapi, Ino terlihat lebih apa adanya. Diam-diam Gaara memperhatikan Ino saat gadis itu mengobrol dengan teman-temannya tadi. Saat Ino tertawa lepas, gadis itu makin mirip seperti matahari. Cerah dan hangat.
"Kalau begitu, aku akan bersiap-siap. Kita berpisah di sini saja. Kau tidak perlu mengantarku sampai ke penginapan. Aku tidak mau waktu kita terbuang banyak. Nanti kita langsung bertemu di gerbang Suna saja. Jaa,Kazekage-sama!" Tanpa menunggu tanggapan dari Gaara, Ino langsung berbalik dan berlari pelan meninggalkan Gaara seorang diri.
Gaara tidak sedikit pun bergerak dari tempatnya. Pemuda itu memperhatikan sosok Ino yang makin lama semakin menjauh dari tempatnya berdiri. Tanpa sadar pemuda itu tersenyum tipis ketika melihat Ino berlari dengan kimono-nya. Gadis itu terlihat sangat lucu dan semakin mungil di matanya. Karena perawakan Ino tidak jauh berbeda dari Hakuto, Gaara sempat teringat sosok Hakuto saat melihat gadis itu berlari. Namun, satu detik kemudian Gaara langsung menggelengkan kepalanya. Ia membuang jauh pikiran itu.
Seperti yang sudah disepakati keduanya tadi, Gaara benar-benar pergi ke gerbang desa untuk menemui Ino. Dari kejauhan Gaara bisa melihat Ino sedang berbincang dengan salah satu shinobi yang bertugas menjaga gerbang utama. Ketika sudah dekat, Gaara baru menyadari jika Ino tidak sedang berbincang dengan shinobi itu, tetapi Ino sedang marah-marah dengannya.
"Lihat! Aku berkata jujur, 'kan? Aku memang ingin pergi dengan Kazekage. Kenapa kau tidak percaya dan menuduhku jika aku ingin kabur dari sini?" gerutu Ino.
-to be continued-
Selamat bermalam minggu! Aku cuma mau mengucapkan terima kasih untuk teman-teman yang masih setia mengikuti kelanjutan fanfiksi ini. Maaf jika aku banyak mengecewakan, terutama bagian alur yang terkesan lambat sekali. Ini sebenarnya kelemahan aku, sih. Aku terlalu mencintai setiap detail yang kecil sampai bikin alurnya jadi lambat. Sekali lagi aku minta maaf, ya. Tolong jangan berharap banyak sama aku, aku takut mengecewakan karena jujur saja, aku menulis karena ingin berekspresi melalui tulisan. Dan beginilah ciri khas penulisanku. Maaf, ya.
~Sesi ngobrol~
BngJy: Sudah terjawab, ya. Tamu tidak biasanya nanti bakalan muncul di chapter selanjutnya. Cuma ini belum aja. Maaf, ya. Terima kasih sudah mau bersabar dan selalu menyemangatiku. Terima kasih, kamu juga semangat, ya!
zielavienaz96: Sakura di-keep buat nanti-nanti, ya ehehehe~
Males ngasi nama: Maaf. Kamu bisa berhenti baca jika tidak suka dengan penggambaran tokohku. Maaf jika aku tidak mengenal Ino Yamanaka seperti kamu. Sekali lagi maaf, ya.
Azzura yamanaka: Terima kasih banyak!
Inzaghi: Terima kasih sudah meninggalkan jejak lagi.
See you next chapter~
