"Lihat, Kazekage-sama! Orang ini terus-terusan menyuruhku kembali ke penginapan. Dia tidak percaya jika aku ingin pergi denganmu." Ino mengadukan perbuatan salah satu shinobi itu langsung kepada Gaara.

Ketika Gaara sudah tiba di dekat Ino, Ino langsung berlari ke samping Sang Kazekage dan sedikit mencengkeram lengan kemeja merah tua milik pemuda itu. Dari ekor mata Gaara, pemuda itu bisa melihat jika saat ini Ino sedang mengembungkan pipinya karena kesal. Sangat kekanak-kanakkan –pikir pemuda itu. Image Ino saat ini sangat berbeda dari yang ia tunjukkan sebelumnya atau dari yang biasanya gadis itu perlihatkan ketika menyampaikan pendapatnya selama pertemuan kage.

Meskipun saat ini Ino sedang berpegangan pada lengan kemejanya, Gaara sama sekali tidak keberatan. Ia membiarkan gadis itu berpegangan padanya, sementara ia menatap ke arah salah satu ninja bawahannya.

"A— M-Maafkan saya, Kazekage-sama! Saya benar-benar tidak tahu jika Ino-sama ingin pergi dengan anda," ucap shinobi itu sambil membungkukkan badannya ke arah Sang Kazekage.

Ino mendengus di samping Gaara. Perlahan cengkeraman pada lengan kemeja Gaara terlepas. Ia melangkah ke depan lalu berkacak pinggang di depan shinobi yang sedang membungkuk itu.

"Kau bukannya tidak tahu, tetapi kau berlagak tidak mau tahu dan menempatkanku sebagai seorang penjahat yang ingin kabur dari penjara. Kau bosan jadi shinobi, heh? Aku bisa membuat calon suamiku memecatmu sekarang juga," ancam Ino.

Gadis Bunga itu sepenuhnya sadar dengan sikapnya. Biarkan saja Gaara melihat sifat angkuh dan semena-menanya itu. Sekarang ini tidaklah penting apakah Ino memperlihatkan sifatnya yang sebenarnya atau tidak. Siapa tahu jika ia berlagak sombong seperti itu, Gaara tidak jadi menikahinya. Siapa juga pemimpin di dunia ini yang menginginkan pendamping sombong seperti dirinya?

Bersandiwara itu melelahkan –batin Ino. Akan tetapi, hal seperti ini bukan yang pertama. Beberapa kali Ino mendapatkan misi untuk menyamar, jadi ia biasa memerankan karakter apapun demi mengorek informasi dari musuhnya. Hanya saja yang kali ini sedikit berbeda karena image dan harga diri Ino adalah taruhannya. Rumor tentang sifat buruknya ini pasti akan tersebar dengan cepat. Setelah ini Ino harus berusaha keras untuk memperbaiki citra baik dirinya.

"M-Maafkan saya, Ino-sama!" Awalnya shinobi itu hanya membungkuk, tetapi kini ia bersujud di depan Ino.

Shinobi itu memohon di depan ini. Ia terlalu serius menanggapi ancaman Ino, padahal Ino hanya bersandiwara. Ia tidak benar-benar ingin menakut-nakuti shinobi itu.

"Eh?!" Ino sangat panik.

Karena semua hanya sebuah sandiwara, Ino refleks berjongkok lalu membantu shinobi itu untuk bangun. Ino hanya akan membiarkan musuhnya berlutut di depannya, tetapi tidak dengan orang lain yang tidak memiliki salah apapun.

Shinobi itu ikut bangun dengan bantuan Ino. Ia terlihat kebingungan karena orang yang baru saja mengancamnya tadi malah membantunya. Ino juga terlihat canggung begitu keduanya sama-sama berdiri.

"Bodoh! Kenapa jadi begini, sih?!" batin Ino menjerit kesal.

"Aish! Kazekage-sama, ayo kita pergi sekarang. Aku tidak mau membuang banyak waktu. Ayo, kita berkencan!" seru Ino salah tingkah.

Ino tidak mau berlama-lama di depan gerbang Suna, ia langsung menggenggam tangan Gaara dan menggandengnya keluar dari kawasan yang mendapatkan julukan sebagai desa tersembunyi di balik pasir itu.

"Ke mana arahnya?" tanya Ino seraya melepaskan genggaman tangannya dari Gaara.

Ketika mereka sudah melangkah cukup jauh dari gerbang Suna, Ino langsung mengambil jarak dari Sang Kazekage. Tadi mereka terlihat cukup dekat, tetapi sekarang keduanya seperti orang asing yang diharuskan berinteraksi karena keadaan.

"Cukup jauh, kita akan menggunakan pasirku," kata Gaara.

Mendengar ide dari Gaara, Ino langsung mengalihkan pandangannya. Itu artinya mereka akan terbang dan Ino membenci itu. Ia tidak terlalu suka ketika ia harus mengambang di udara. Jika Gaara menggunakan pasirnya lagi sebagai transportasi, haruskah Ino melingkarkan kedua tangannya lagi di pinggang Gaara?

"Yang bena—A!" teriak Ino.

Tanpa aba-aba, pasir Gaara sudah mengumpul di bawah kakinya dan langsung mengangkat mereka terbang ke udara. Ino hampir saja terjatuh ke depan, tetapi tangan Gaara sigap memeluk pinggang Ino dan menarik gadis itu mendekat ke tubuhnya. Mau tidak mau Ino menempel erat di tubuh Gaara.

Gaara adalah laki-laki kedua setelah Shikamaru yang melakukan kontak langsung sedekat ini. Berbeda dari tubuh Shikamaru yang beraroma tembakau dan kayu manis, tubuh Gaara memiliki aroma lembut dan maskulin yang dihasilkan dari wangi ekstrak bergamot, white cedarwood, serta cypress. Ino bisa mencium aroma yang menenangkan serta bernuansa alam dari tubuh Gaara. Wangi itu sangat menggambarkan cuaca panas seperti di Sunagakure.

Seperti saat pertama kali Ino melakukan perjalanan bersama dengan Gaara, Ino lebih banyak diam. Bahkan bisa dibilang Ino diam saja sejak kaki mereka tidak lagi menapak di bumi. Ino juga tidak banyak melakukan gerakan yang tak perlu karena ia tidak ingin membuat Gaara risih.

Sebenarnya Ino harus mengucap banyak syukur. Berkat pasir Gaara, mereka bisa tiba dengan cepat tanpa membuang banyak waktu dan tenaga dengan percuma.

"Kita sudah sampai," ucap Gaara.

Ino mengerjapkan kedua matanya beberapa kali karena ia kagum dengan apa yang baru saja ia lihat. Ino melihat sebuah oasis yang cukup luas di depan matanya. Di bawah sinar rembulan yang terang, mata air di oasis itu terlihat seperti memantulkan cahaya. Selain itu, keindahannya semakin bertambah berkat kunang-kunang yang terbang mengelilinginya. Jumlahnya memang tidak banyak, tetapi cukup membuat Ino terpukau karena keberadaan makhluk-makhluk kecil itu menambah estetika bagi daerah paling subur di gurun tersebut.

Perlahan pasir Gaara membawa keduanya turun. Ino kembali merasakan kedua kakinya menapak di bumi. Gaara sengaja menurunkan Ino tepat di dekat sumber air di oasis itu.

"Ini sangat indah! Aku sudah tahu jika di gurun ada oasis, tetapi ini pertama kalinya aku pergi ke tempat ini!" seru Ino senang.

Ino sedikit berjongkok untuk melepaskan sepatu hak tingginya. Tanpa meminta izin, gadis itu langsung berlari ke arah sumber air dan mencelupkan kedua kakinya di sana. Ia bahkan tidak mempedulikan rok panjangnya basah terkena air di oasis itu.

"Dingin," kata Ino.

Meskipun ketika siang gurun itu sangat panas, tetapi ketika malam suhunya bisa sangat berbeda. Air di oasis itu sangat dingin seolah mampu membekukan kedua kakinya.

"Setelan ninjamu itu, tidak cocok dipakai ketika malam," kata Gaara tiba-tiba.

Gaara ingat betul jika ia bersedia mengajak Ino setelah gadis itu mengganti kimono-nya dengan pakaian yang lebih nyaman. Akan tetapi, ia tidak menyangka jika Ino akan mengenakan setelah ninja berwarna ungunya itu. Setelan itu kurang pas dipakai karena di gurun akan sangat dingin ketika malam.

Ino mengurungkan niatannya untuk bermain air. Gadis itu menoleh sambil berkacak pinggang saat menatap Gaara.

"Apa aku tidak salah dengar? Seorang kazekage baru saja mengomentari pakaianku," Ino menghela napasnya sesaat sebelum ia kembali melanjutkan perkataannya, "Kalau begitu, besok pagi luangkan waktumu untukku."

Ino memang menyelesaikan ucapannya, tetapi masih terdengar ambigu di telinga Gaara. Pemuda itu hanya diam karena ia pikir Ino akan melanjutkan perkataannya lagi. Namun, gadis itu juga ikut diam.

"Untuk apa?" akhirnya Gaara bertanya karena ia… cukup penasaran dengan maksud Ino.

"Membeli pakaian agar aku terlihat cocok di matamu," jawab Ino menanggapi Gaara.

Gaara tidak merespons apapun. Pemuda itu berjalan mendekati salah satu batu besar di pinggir sumber air lalu mendudukkan dirinya di sana.

Ino merasa diabaikan oleh Gaara. Jika seperti ini terus, Gaara tidak mungkin percaya dengannya, jadi akan sangat sulit untuk meletakkan telapak tangannya secara cuma-cuma di kepala pemuda itu. Rencananya untuk membaca pikiran Gaara bisa berujung kegagalan.

"Sepertinya aku harus benar-benar menyingkirkan rasa maluku lebih dahulu, tapi… bagaimana jika Gaara seperti Neji?" batin Ino.

Ingat, 'kan, bagaimana dulu Neji menolak Ino mentah-mentah saat gadis itu bermaksud untuk menggodanya demi sebuah gulungan? Ino berakhir dengan rasa malu yang amat besar sampai-sampai ia menghindarinya selama beberapa minggu. Itu semua karena Ino malu dan merasa gagal sebagai perempuan cantik.

"Sampai kapan kau akan berdiri di sana?" tanya Gaara.

Gaara mulai sedikit mengkhawatirkan Ino karena gadis itu hanya berdiri diam di sumber air tanpa melakukan apapun. Tubuh gadis itu seperti membeku di tempat. Yang Gaara pikirkan, ada sesuatu yang tidak beres dari Ino, sekaligus ia tidak tahu jika gadis itu sedang melamunkan sesuatu.

Ino tersadar dan ia langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia ketahuan sedang melamun.

"Gaara-kun," panggil Ino.

Gaara terkejut sampai kedua matanya sedikit melebar. Namun, pemuda itu berusaha bersikap biasa-biasa saja. Jujur saja, Gaara sedikit tak siap dengan panggilan itu karena sebelumnya hal seperti itu tidak pernah ada dibayangannya. Ia tidak menyangka jika Ino akan memanggilnya dengan nama kecilnya itu.

Ino berlari kecil menghampiri Gaara. Gadis itu mengambil tempat duduk di samping kanan Gaara.

"Boleh aku panggil seperti itu?" tanya Ino sambil menolehkan kepalanya untuk melihat Gaara.

Gaara pun ikut menoleh. Ia melihat Ino sedang tersenyum ke arahnya. Gadis itu sedikit memakai riasaan di wajahnya –sangat berbeda dari Hakuto. Pertemuan pertamanya dengan Hakuto, gadis itu berani menunjukkan wajah tanpa riasannya di depan seorang kazekage. Menurut Temari, wanita tidak akan menunjukan wajahnya tanpa riasan kepada seorang pria, kecuali wanita itu ingin menikahinya. Saat itulah hati Gaara mulai terbuka dan tertarik dengan gadis dari clan Houki itu.

"Gaara-kun?" panggil Ino sambil mengibaskan tangan kanannya di depan wajah Gaara.

Ino memang bermaksud ingin mendekati Gaara demi rencananya. Ia tidak sabar untuk melancarkan jurus pembaca pikirannya. Ia tak sabar ingin mengetahui alasan dari pernikahan itu langsung dari otak Sang Kazekage.

"Kau bebas memanggilku dengan apapun," balas Gaara.

Ino tersenyum semakin lebar. Gadis itu langsung melakukan tindakan yang lebih mengejutkan dari sekedar memanggil seorang kazekage dengan nama kecil dan suffix 'kun'. Ino langsung memeluk lengan kanan Gaara dengan erat.

"Nee, Gaara-kun, maafkan aku karena aku telah mendesakmu. Aku tidak bermaksud untuk itu. Kau benar... aku hanya takut kau menipuku. Maksudku... kau tidak benar-benar menyukaiku. Aku pikir ini tidak lebih dari pernikahan politik," ujar Ino.

Kalimat itu memang bagian dari sandiwaranya, tetapi terselip rasa penasarannya yang ingin Ino ketahui. Ia benar-benar tak sabar mengetahuinya langsung dari Gaara.

"Aku bisa mengundur tanggal pernikahan jika kau masih membutuhkan waktu untuk saling mengenal," balas Gaara.

Ino melepas pelukannya pada lengan kanan pemuda itu dan menatapnya tak percaya. Mendengar balasan itu, hati Ino sedikit goyah dan mulai meragukan dirinya sendiri. Apakah ia salah jika terlalu mencurigai Gaara sementara pemuda itu terlihat baik dan meyakinkan?

"Stop, Ino! Siapa saja bisa bersandiwara, termasuk dirimu!" batin Ino meyakinkan diri bahwa apa yang akan ia lakukan adalah keputusan yang benar. Meskipun benar bukan berarti tepat.

Ino menggeser posisi duduknya menyerong ke arah Gaara agar ia bisa sepenuhnya melihat pemuda itu. Selain itu, Ino bisa bergerak bebas ketika ia ingin melancarkan rencananya kapan saja.

"Satu bulan?" tanya Ino.

"Itu terlalu lama," tolak Gaara.

Tadinya Ino merasa sifat Gaara begitu lembut. Namun, ketika pemuda itu menolak usulannya, Ino merasa kesal. Ternyata Gaara tetaplah Gaara. Tak jauh berbeda dari Konoha, ternyata pemimpin di Desa Suna juga diatur oleh petinggi desa. Selayaknya Tsunade-sama yang selalu disetir oleh Homura Mitokado dan Koharu Utatane selaku tetua di desa Konoha.

"Kenapa? Kau tidak sabar menikahiku, ya? Karena aku terlalu cantik, 'kan?" tanya Ino.

Iseng. Tolong garis bawahi jika pertanyaan ini bagian dari kebohongannya. Ino hanya ingin memperlihatkan kepada Gaara jika dirinya bukanlah ancaman bagi pemuda itu. Ino harap, dengan begitu Gaara bisa lebih santai dan pasirnya itu tidak akan menjadi penghalang bagi Ino.

"Jawab aku. Bagaimana kita akan menikah jika kau hanya diam saja saat aku mengajakmu berbicara, hem?" tanya Ino.

Gaara menatap Ino. Keduanya sama-sama diam. Meskipun Ino sudah meminta Gaara untuk membalasnya, pemuda itu tidak juga membalas pertanyaan Ino dan ia malah memandangi wajah si gadis dengan mulut yang terkatup rapat.

"Kalau begitu, jawab aku terlebih dahulu." Akhirnya Gaara merespons Ino meskipun itu bukan ucapan yang diharapkan si gadis.

"Apa?" tanya Ino.

Entah kenapa jantung Ino tiba-tiba berdegup lebih cepat daripada biasanya. Feeling-nya mengatakan akan ada sesuatu yang terjadi. Entah itu tindakan ataupun ucapan Gaara yang mengejutkan. Atau... itu hanya kekhawatiran Ino saja.

"Apa kau akan jatuh cinta denganku?"

Bahu Ino seketika menegang setelah mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan konyol baru saja keluar dari mulut seorang kazekage. Bagaimana Ino harus menjawabnya? Bukankah itu pertanyaan yang tidak bisa dijawab sekarang?

"Apa yang akan terjadi jika aku jawab tidak? Tentu saja! Sama seperti pernikahan ini, itu tidak akan terjadi!" Ino membatin dengan emosi yang tertahan.

Gaara masih saja menatap Ino. Gadis itu jadi salah tingkah sendiri. Ia sendiri yang menciptakan kondisi itu, tetapi ia juga yang terjebak dan merasa ingin pulang segera. Sekarang Ino menyesali idenya itu. Entah karena Ino yang bodoh, atau Gaara yang memiliki pesona misterius sehingga mampu menarik Ino.

"Stop, Ino! Kau hanya perlu menyentuh dahinya, lalu semua ini akan berakhir! Setelah ini, kau bahkan boleh memarahinya!" Ino memantapkan diri untuk tetap bersikukuh dengan rencana awalnya.

Tidak boleh goyah lagi! Ino hanya perlu mengulurkan tangan disaat waktuya tepat.

"Mungkin iya. Memangnya kau tidak? Bukankah kita akan menikah? Kita harus saling mencintai, 'kan? Dan sepertinya... aku sudah tertarik denganmu. Rupanya kau laki-laki yang lembut, ya," balas Ino, lalu gadis itu tersenyum.

Yuck! Ino menahan diri untuk tidak memperlihatkan ekspresi mualnya. Menjijikkan juga ketika ia harus bersandiwara seperti itu.

"Gaara-kun, ada serangga di kepalamu!" seru Ino bohong.

Saat keduanya sama-sama diam dan saling menatap, Ino menggunakan kesempatan itu untuk melancarkan aksinya. Ino segera bangun dari tempat duduknya. Lalu, gadis itu langsung mengulurkan tangan kanannya ke arah dahi Gaara.

Gaara tidak bodoh. Sejak tadi ia menyadari gelagat aneh Ino, bahkan sejak keduanya masih berada di kawasan Suna. Gaara mencurigai sesuatu jika Ino memang memiliki maksud tertentu karena Ino tidak seperti gadis yang biasa ia jumpai saat rapat ataupun ketika perjamuan tadi. Gadis itu seperti menyembunyikan sesuatu dan sekarang Gaara semakin sadar ketika Ino membohonginya dengan mengatakan ada serangga di kepalanya.

Sensorik Gaara sangat bagus. Itulah kenapa ia menjadi seorang kage diusia mudanya. Tanpa harus Ino memberitahunya, Gaara pasti akan tahu jika ada sesuatu di kepalanya. Sayangnya, serangga yang dibilang Ino itu tidak benar-benar ada. Gadis itu berani menipunya.

"A—Mph!"

Gaara menarik tangan kiri Ino dan sedikit menyentaknya ke depan. Alhasil, tubuh gadis itu kehilangan keseimbangannya dan ia terjatuh ke depan. Gaara terlalu kuat menarik Ino sampai ia harus tertimpa tubuh gadis itu tanpa persiapan. Ini terjadi karena ia meremehkan berat badan Ino. Keduanya sama-sama terjatuh dari atas batu yang tadinya mereka duduki. Gaara jatuh lebih dulu, tetapi bukan ke pasir di bawahnya. Punggung pemuda itu berhasil terselamatkan oleh pasir miliknya sendiri yang bergerak dengan sendirinya setiap kali ia dalam bahaya.

Gadis itu terjatuh di atas Gaara. Seharusnya itu aman-aman saja. Akan tetapi, itu bukan masalah utamanya, melainkan...

Karena insiden itu... bibir keduanya bertemu tanpa sengaja. Sekarang, Gaara dan Ino baru saja berciuman.

-to be continued-

Happy reading! Maaf jika aku masih banyak kekurangan dalam menulis karya ini dan aku mengucapkan banyak terima kasih untuk semuanya yang masih mau membaca dan menungguku melanjutkan karya ini.

~Sesi ngobrol~

Guest: Terima kasih banyak, ya!

BngJy: Happy reading, ya. Maaf kemalaman dan yang ini full GaaIno. Chapter besok juga masih GaaIno *spoiler dikit.

Inzaghi: Kak Inzaghi, terima kasih sudah meninggalkan jejak lagi!

Azzura yamanaka: Terima kasih banyak!

See you next chapter~