Ino melebarkan kedua matanya saat ia merasakan bibir Gaara. Meskipun tinggal di desa beriklim panas seperti Suna, bibir pemuda itu masih terasa lembut dan tidak kering. Ini adalah ciuman pertama Ino dan Gaara telah mengambilnya tanpa meminta persetujuan dari Ino. Ino tahu jika insiden itu terjadi bukan atas kemauan keduanya, tetapi kenapa Gaara tidak cepat-cepat mengalihkan wajahnya agar bibir mereka tidak saling bertemu?

Cukup lama Ino dan Gaara berada di posisi itu. Ino tidak segera beranjak dari posisinya sebab tangan dan kakinya seolah seperti membeku. Gadis itu tidak bisa mengendalikan tubuhnya sehingga ia hanya terpaku di posisi yang intim seperti sekarang ini. Ia bisa memastikan jika saat ini wajahnya sudah bersemu merah padam seperti kepiting rebus. Gadis itu bahkan tidak berani bernapas dengan lepas. Tunggu! Kenapa sikap Ino berlainan dengan otaknya? Gadis itu seperti menginginkan mereka melakukan ciuman itu lebih lama lagi.

Sama halnya seperti Ino, Gaara juga sama malunya. Semburat kemerahan terlukis samar-samar di kedua pipi pemuda bertato 'Ai' itu. Ini juga kali pertamanya Gaara mencium seorang gadis. Ternyata bibir gadis di atasnya itu sangat lembut dan memiliki rasa stroberi. Sebenarnya Gaara lebih menyukai rasa asin daripada manis, tetapi kali ini ia menyukai rasa itu karena bibir Ino. Tidak dapat dipungkiri jika Gaara… cukup menyukai rasa dan lembutnya bibir gadis itu.

Tiba-tiba saja pemuda itu… sedikit melumat kecil bibir bawah Ino karena penasaran. Ia hanya tahu hal semacam ini dari bacaan saja. Diam-diam pemuda itu ikut membaca buku Icha Icha Paradise sesuai saran Kankurou. Kata Kankurou, buku itu cocok untuk laki-laki yang ingin tahu soal asmara lebih dalam. Ketika Gaara dihadapkan dengan situasi yang mirip seperti yang ada di dalam buku itu, tiba-tiba saja ia menginginkan lebih dari sekedar menempelkan bibir. Ia ingin merasakan lebih bibir lembut itu.

"Emph!" Ino terkejut dengan tindakan Gaara yang sangat berani itu.

Setelah Gaara makin berani menciumnya, kesadaran Ino perlahan terkumpul. Ino menggunakan kedua tangannya untuk memukul dada Gaara, lalu ia menggunakannya lagi untuk membantunya bangun dari posisi itu. Ia menekan dada Gaara dengan kuat hingga akhirnya ia bisa bangun dari atas tubuh Gaara. Ino bisa mendengar ringisan pelan pemuda di bawahnya itu.

Ketika Ino sudah kembali berdiri dengan kedua kakinya sendiri, Ino langsung menutupi bibirnya dengan tangan kanannya –meskipun tidak benar-benar menempelkannya. Ia tidak bermaksud menghina Gaara, tetapi ia tidak tahu harus bagaimana. Seolah ia ingin menghilang dari tempat itu segera. Ditelan bumi hidup-hidup juga tidak masalah. Ino salah tingkah karena lembutnya bibir Gaara seolah masih terasa di bibirnya.

"Sial, kenapa jadi begini…," batin Ino.

Ino tidak sanggup melihat Gaara. Gadis itu langsung membelakangi Gaara yang masih setia dengan posisinya.

"Bibir itu… Aish! Kami-sama!" Ino menggerutu sambil memukuli kepalanya pelan.

Gaara tidak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Sejak pertama kali mereka berciuman, sepasang mata Gaara setia memperhatikan netra Ino. Hingga saat keduanya tidak lagi sedekat tadi, mata Gaara selalu mengikuti ke mana Ino pergi. Sekali pun Ino hanya memperlihatkan punggungnya saja, Gaara tetap mengunci pandangannya itu.

Sang Kazekage segera bangun dari posisinya. Setelah menyadari tindakannya itu sedikit kurang ajar, Gaara merasa malu sendiri. Ia buruk dalam hal percintaan, tetapi ia mengakui jika ia penasaran dengan sensasi yang ia rasakan setelah mencium bibir gadis lain. Seolah-olah bibir Ino berhasil membuatnya kecanduan. Ia ingin menciumnya lagi.

Buru-buru Gaara menyingkirkan pikirannya itu. Mengingat insiden beberapa detik yang lalu hanya akan membuatnya malu.

"Ino," panggil Gaara.

Gaara menghampiri gadis itu. Perlahan ia meraih pundak Ino dan membalikkan tubuh gadis itu agar menghadap ke arahnya. Gadis Bunga itu tidak menolak saat Gaara memintanya berbalik. Namun, untuk menyembunyikan wajah merahnya, Ino sengaja menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kini keduanya saling berhadapan, tetapi Ino lebih suka memandangi kedua kakinya. Ia menghindari tatapan mata Gaara.

"Apa kau marah?" tanya Gaara.

Bagaimana Ino harus menjawabnya? Bukankah seharusnya ia marah, tetapi kenapa sikapnya malah aneh? Bohong jika ia tidak menyukai sentuhan Gaara.

"Ish! Apa yang kau pikirkan, Ino?!" batin Ino.

"Aku—." Sebelum Gaara menyelesaikan ucapannya, Ino lebih dulu meletakkan telapak tangannya di depan wajah pemuda itu. Itu adalah sebuah isyarat agar Gaara tak lagi bicara.

"A-Aku ingin kembali ke p-penginapan. A-Aku pergi!" Tanpa menunggu persetujuan dari Gaara, Ino langsung membalikkan badannya dan berlari meninggalkan Sang Kazekage. Sekarang Ino mirip seperti Hinata yang sering bicara terbata-bata saat bertemu dengan Naruto.

Ino berlari dengan cepat selayaknya seorang ninja ketika menjalankan misi. Gadis itu ingin cepat kembali ke penginapan dan menenggelamkan wajahnya di bantal. Pokoknya ia harus menjauh dari Gaara sesegera mungkin. Ino bahkan meninggalkan sepatu ninjanya begitu saja.

Gaara menatap kepergian Ino sejenak sebelum ia memungut sepatu hak tinggi milik si gadis. Baru setelah itu ia bergegas meninggalkan oasis untuk kembali ke desa. Lebih tepatnya ia ingin memastikan Ino pulang dengan selamat. Gaara bisa saja sampai duluan, tetapi pemuda itu memilih untuk mengikuti Ino dari jarak yang lumayan aman. Artinya Gaara tidak benar-benar menyusul, melainkan mengikuti Ino dari belakang. Gaara mengikuti jejak kaki Ino yang tercetak di atas gurun pasir dan pemuda itu tidak menggunakan pasirnya untuk terbang.

Sesampainya di kamar penginapan, Ino langsung menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur. Ia menenggelamkan wajahnya di bantal sebelum ia menjerit dengan keras. Berteriak serasa tak ada gunanya karena sensasi saat ia berciuman dengan Gaara masih sangat membekas. Ino terus berguling-guling di tempat tidurnya sampai pagi. Ketika Ino mencoba untuk menutup mata, ia malah teringat dengan wajah Gaara.

"Baka! Kenapa otakku tidak berhenti memikirkannya," rengek Ino.

Ino merasa frustasi dan salah tingkah. Ia berusaha mengalihkan pikirannya itu dengan cara menjambak rambutnya terus-menerus, tetapi usahanya itu berujung kegagalan.

Ino seolah seperti sedang bergelut dengan pikirannya sendiri sampai tak terasa jam weker yang ia bawa dari Konoha berbunyi dengan nyaring. Semalaman ia tidak tidur karena memikirkan ciuman pertamanya itu.

"Berhenti, Ino! Kau tidak boleh jatuh ke pesona laki-laki itu. Kau, 'kan tidak tahu apa yang dirahasiakan oleh laki-laki itu." Ino bermonolog pada dirinya sendiri.

Jangan sampai termakan dengan pesona Gaara. Ino berulang kali menyadarkan dirinya sendiri dengan kalimat itu. Ia harus mempunyai pendirian untuk tidak terpikat dengan Sang Kazekage hanya karena sebuah insiden ciuman yang tak sengaja.

"Ya, seharusnya kau marah karena kelancangannya. Dia tidak seharusnya melakukan itu, 'kan? Memangnya kau perempuan apaan? Kage seharusnya tidak begitu." Ino lagi-lagi berbicara dengan dirinya sendiri.

Saat Ino hendak turun dari tempat tidurnya, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya itu. Tubuh Ino langsung menegang, ia bahkan tidak jadi turun dari tempat tidurnya itu. Ia menggunakan kemampuan sensoriknya untuk mengidentifikasi orang tersebut. Cakra orang itu cukup besar. Bisa dipastikan jika tamunya itu bukan Matsuri karena Ino sudah mengenali cakra gadis genin itu saat tiba di Suna kemarin.

"Jangan-jangan itu..." Ino mulai menebak-nebak.

Namun, suara seorang perempuan tiba-tiba terdengar.

"Ino!" panggil Temari.

Ino langsung menghela napasnya dengan lega. Gadis itu sempat berpikir jika yang datang adalah Gaara karena cakra yang dimilikinya cukup besar. Gadis itu segera turun dari tempat tidur dan ia berlari menghampiri pintu kamarnya. Tak ingin membuat Temari menunggu lama, Ino segera membukakan pintu.

"Temari-san!" seru Ino.

Temari terlihat melambaikan tangan kanannya sekilas untuk membalas sapaan itu. Kedua alis Temari mengernyit heran. Ini pertama kalinya Temari melihat penampilan Ino yang berantakan. Ada lingkaran hitam yang samar mengelilingi kedua mata Ino.

"Ino, kau tidak apa-apa? Kau tidak tidur semalaman, ya?" tanya Temari.

Ino mengibaskan tangan kanannya berulang kali sambil menjawab, "Tidak. Tidurku nyenyak, kok. Ngomong-ngomong, ada apa?" Ia berbohong lagi.

Ino penasaran dengan alasan kedatangan Temari ke kamar penginapannya itu. Saat pertama kali Ino membukakan pintu, ia dikejutkan dengan sosok Temari yang sedang memeluk paper bag berwarna cokelat dengan satu tangannya. Sejujurnya ia penasaran dengan benda itu, tetapi ia memilih untuk tidak menanyakannya. Ia tidak mau dicap sebagai gadis yang ingin tahu urusan orang lain. Mungkin itu isinya belanjaan atau yang lainnya.

"Kau lupa, ya? Shikamaru dan rombongannya akan segera kembali ke Konoha. Aku menjemputmu karena kau tidak datang-datang," balas Temari.

"Shikamaru mencarimu," lanjut Temari.

Ino refleks menepuk dahinya sendiri. Ia lupa. Seperti yang sudah dikatakan oleh Shikamaru, pemuda itu dan rombongannya akan kembali ke Konoha sesegera mungkin. Karena insiden di oasis, Ino melupakan semuanya.

"Oh! Maaf, aku benar-benar lupa. Kalau begitu aku bersiap-siap terlebih dahulu. Tolong beritahu mereka untuk menungguku. Aku ingin mengucapkan selamat tinggal pada Shikamaru dan yang lainnya," kata Ino.

Sebelum Ino masuk ke kamarnya lagi, Temari lebih dulu mencegahnya.

"Tidak ada waktu, Ino. Mereka sudah menunggu di gerbang dan akan segera pergi. Kau ikut mengantar mereka atau tidak? Jika tidak aku bisa memberitahu mereka," kata Temari.

"Aku ikut! Aku ingin mengucapkan selamat tinggal," balas Ino.

"Kalau begitu kita pergi sekarang. Tak usah berdandan. Kau selalu cantik di mata Gaara." Temari memuji Ino tanpa sadar.

Mendengar nama Gaara disebut, tiba-tiba saja jantung Ino berdegup lebih cepat dari biasanya.

"Gaara menitipkan ini padaku. Ini hadiah untukmu," lanjut Temari sambil menyodorkan paper bag yang tadi ia bawa ke arah Ino.

"Ada sepatumu juga. Gaara bilang kau meninggalkan sepatumu saat kalian kencan semalam," imbuh Temari.

Wajah Ino yang semula terlihat baik-baik saja kini berubah menjadi merona hebat. Ia tidak menyangka jika Gaara akan menceritakan soal kencan mereka semalam. Rasanya sangat malu karena ia kembali teringat dengan insiden saat di oasis.

"O... Begitu, ya. A—ah ya! Terima kasih, Temari!" Lagi-lagi Ino gelagapan saat berbicara.

Dengan kondisi jantung yang berdegup kencang, ia menerima paper bag itu dari tangan Temari.

"Kau tampak seperti gadis yang sedang berbunga-bunga. Apa Gaara berhasil membuatmu jatuh cinta?" tanya Temari.

Sejak dulu, Temari adalah orang yang paling peduli dengan Gaara. Saat Rasa –ayahnya– membenci Gaara karena menganggap laki-laki itu adalah penyebab istrinya meninggal, Temari menjadi sosok kakak perempuan yang selalu mempedulikan Gaara meskipun secara diam-diam. Sampai detik ini, Temari masih peduli dan mengkhawatirkan Gaara meskipun adik bungsunya itu sudah bukan anak kecil lagi. Jadi, ketika Temari melihat Ino malu-malu, ia langsung menyimpulkan jika gadis Yamanaka itu mulai menyukai Gaara. Temari merasa lega karena rencana pernikahan itu tidak akan terlalu buruk jika Ino mulai mencintai adik bungsunya. Semua akan semakin mudah jika Ino mencintai Gaara, dengan begitu gadis itu tidak akan mencurigai pihaknya lagi. Bisa disimpulkan bahwa pernikahan itu bukan sekedar desakan dari pihak Suna, tetapi memang benar-benar karena salah satunya menginginkan itu.

Ino langsung mengibas-ibaskan kedua tangannya dengan cepat. Ia harus mengelak sebelum Temari salah paham.

"Tidak apa-apa jika kau belum mengakuinya, Ino. Kalau begitu, ayo pergi karena Shikamaru tidak bisa menunggu lebih lama lagi," ajak Temari.

"Maaf, tetapi berikan aku waktu 5 menit untuk membasuh wajah dan mengenakan sepatu," pinta Ino.

Temari mengiakan, tetapi ia kembali mengingatkan Ino untuk melakukannya dengan cepat.

Blam!

Setelah mendapatkan izin dari Temari, Ino kembali masuk ke kamarnya. Ia membanting pintu kamarnya dengan sangat kuat menggunakan kakinya. Ia tidak sadar melakukan itu karena jujur saja jantungnya masih belum bisa dikondisikan.

"Tidak mungkin, 'kan, laki-laki se-tenang itu bisa menjadi lembut dan tahu caranya bersikap romantis?" Ino bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

Ino awalnya penasaran dengan isi dari paper bag itu. Akan tetapi, setelah ia tahu jika Gaara-lah yang mengirimkan itu kepadanya, Ino memutuskan untuk mengabaikannya. Ia hanya mengambil sepatu hak tingginya saja sebelum meletakkan paper bag itu di sudut kamarnya. Lalu, gadis itu bergegas ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan membasuh wajahnya. Sebelum keluar dri kamar mandi, Ino memastikan jika setelan ninjanya itu tidak begitu buruk saat dikenakan.

"Aku rasa ini tidak terlalu jelek," kata Ino saat setelan ninja ungu kebanggaannya itu tidak lusuh.

Hanya saja... riasan tipis di wajah Ino benar-benar hilang. Ini pertama kalinya Ino tidak mengenakan riasan sama sekali saat usianya menginjak 19 tahun.

"Demi apapun, kalau ini sih buruk!" rengek Ino.

Ino memang merasa dirinya sudah cantik, bahkan sejak kecil. Akan tetapi, riasan tipis di wajahnya membuat ia semakin percaya diri. Jadi, ketika wajahnya polos seperti saat usianya 17 tahun, Ino merasa ada yang kurang. Seperti bukan dirinya yang baru. Ino yang beranjak dewasa senang memakai riasan wajah, apalagi lipbalm beraroma stroberi ataupun lipstik peach-nya.

"Ino! Cepat!"

Temari berteriak dari luar. Gadis itu tidak bisa menunggu Ino lebih lama lagi. Sebab tak mau Temari mengamuk menggunakan kipasnya, Ino segera berlari keluar kamar.

Setibanya di depan kamar, Ino terlebih dulu harus menerima omelan dari Temari. Baru setelah itu, mereka bergegas menuju gerbang Suna.

"Temari-sama, Ino-sama! Nara-san dan Akimichi-san sudah lebih dulu pergi." Seorang shinobi penjaga gerbang memberitahu informasi jika Shikamaru dan Chouji sudah lebih dulu pergi.

Shikamaru mendapatkan pesan dari Konoha jika Kakashi membutuhkannya, sedangkan Chouji sudah berjanji akan tiba di Kumo pagi ini. Mereka berdua tidak bisa menunggu Ino meskipun sebenarnya Shikamaru dan Chouji sangat ingin mengucapkan selamat tinggal kepada sahabatnya itu.

"Yo, Ino!" sapa Naruto.

Ino hanya memamerkan senyum canggungnya. Ia tidak bisa bersikap selepas seperti biasanya karena di sekitar gerbang itu ada dua orang yang sangat Ino hindari. Yang pertama adalah Sasuke dan kedua adalah Gaara.

Sebagai kazekage tentu saja Gaara harus mengantarkan tamunya itu. Ia berdiri di dekat Sasuke dan Naruto. Tadinya ketiga pemuda itu saling berhadapan, tetapi fokus mereka berubah saat nama Ino disebut.

"Kalau saja aku tahu jika Shikamaru dan Chouji sudah pergi, aku tidak akan datang," sesal Ino.

Mau tidak mau Ino harus mengikuti langkah kaki Temari. Kedua gadis itu tiba di dekat Gaara. Untung saja Ino berada di sisi paling kanan, jadi ia tidak harus berdekatan dengan Gaara yang posisinya sedang berdiri di samping kiri Temari. Ada Temari yang memisahkan keduanya.

"Terima kasih sudah memenuhi undangan kami. Sebagai desa yang bersahabat dengan Konoha, kami akan selalu menyambut kedatangan shinobi dari desa kalian," ujar Temari.

Temari mengulurkan tangan kirinya ke arah Naruto. Pemuda berambut jabrik itu membalasnya. Mereka saling berjabat tangan meskipun tak lama. Tidak lupa Temari juga menjabat tangan Sasuke setelah melakukannya dengan Naruto.

"Meski tidak dengan Naruto, kau bebas singgah di sini selama perjalanan penebusan dosamu itu, Uchiha-san." Kini giliran Gaara yang berbicara.

Sasuke menanggapi perkataan Gaara dengan anggukkan kepala singkat.

"Ino, kami harus pergi. Shikamaru sangat ingin bertemu denganmu tadi, tetapi Kakashi-sensei membutuhkan bantuannya," ujar Naruto.

Ino dapat bernapas lega. Akhirnya ada Naruto yang mengajaknya berbicara lebih dulu.

"Sampaikan rasa rinduku kepada Shikamaru dan Chouji ketika kau bertemu dengan mereka lagi. Suruh mereka berkunjung ke sini lagi jika ada waktu," balas Ino seraya mengulurkan tangan kirinya ke arah Naruto.

Naruto tersenyum hingga deret gigi putihnya terlihat. Ia tertawa renyah dan mengiakan permintaan Ino itu.

"Kami pasti akan datang lagi ke sini saat acara pernikahanmu berlangsung," kata Naruto setelah selesai berjabat tangan dengan Ino.

Ino mendengus. Lagi-lagi orang lain menyinggung soal pernikahannya dengan Gaara. Saat ini ia tidak mau membahas itu.

"Sudah sana, cepat pergi!" usir Ino.

Sekarang Ino kesal dengan Naruto dan ia sedang menahan diri untuk tidak memukul kepala pemuda berambut jabrik itu.

"Ya, ya, kami akan pergi," balas Naruto sambil tersenyum tanpa dosa.

Ino mengalihkan pandangannya dari Naruto saat ia menyadari jika Sasuke sejak tadi memperhatikan dirinya.

"Sampai jumpa lagi, Sasuke-kun," ucap Ino.

Ino sedikit ragu untuk mengulurkan tangan kanannya. Ia takut mendapatkan penolakan dari pemuda Uchiha itu. Namun, akhirnya ia melakukan itu. Untung saja Sasuke mau membalas jabatan tangan Ino.

"Jika kau bertemu dengan Sakura... tolong sampaikan protesku kepadanya karena dia berani menyembunyikan kabar soal pernikahannya denganmu," pesan Ino.

Setelah mempertimbangkannya, akhirnya Ino berani menyinggung soal kabar pernikahan Sakura dan Sasuke. Mumpung ada kesempatan. Barangkali Sasuke akan mengonfirmasikannya secara langsung, jadi Ino tidak perlu menerka-nerka kebenaran kabar itu.

Alis Sasuke sedikit mengernyit. Pemuda itu tidak mengatakan apapun.

Tanpa pikir panjang gadis itu langsung menarik tangannya. Ia tidak mau berlama-lama menggenggam tangan itu setelah omongannya sama sekali tidak digubris oleh pemuda Uchiha itu. Ia memilih untuk melihat Naruto dibanding menatap pemuda pemilik mata rinnegan itu.

Tak lama Naruto segera berpamitan dengan Gaara, Temari dan Ino –begitu juga dengan Sasuke. Punggung keduanya semakin menjauh dari hadapan Ino. Sekarang Ino merasa sendirian lagi karena hanya dia satu-satunya shinobi Konoha di desa gersang itu.

"Kenapa jadi canggung seperti ini?" Tiba-tiba Temari bertanya karena tidak ada seorang pun dari mereka yang memulai.

"Gaara, bukankah kau ingin mengajak Ino? Kenapa tidak sekarang saja?" Pandangan Temari beralih ke Gaara.

Ino yang mendengarnya langsung melotot. Refleks ia menolehkan kepalanya ke arah Temari seolah meminta penjelasan lebih soal pertanyaan itu.

"Dan lagi... Ino, kau belum sarapan juga, 'kan?" tanya Temari sambil menoleh ke arah Ino.

"Kalau begitu sekalian ajak Gaara makan di luar sebelum kalian pergi, atau kau ke rumah kami untuk memasakkannya. Tadi aku tidak sempat memasak dan Gaara pergi pagi-pagi sekali ke gedung," lanjut Temari.

Pipi Ino kembali merona. Kira-kira ke mana Gaara ingin mengajaknya pergi dan kenapa ia harus sarapan dengan pemuda itu? Ia tidak bisa memutuskan mana yang akan ia pilih. Mengajak Gaara sarapan di luar yang artinya ia harus bertemu dengan banyak penduduk desa, atau pergi ke rumah Gaara dan membuatkannya menu.

"Ino?" panggil Temari karena tidak ada sahutan dari Gadis Bunga itu.

"Maaf, Temari-san, sepertinya aku tidak bisa menemani Kazekage-sama untuk sarapan. Aku..."

Ino memutar otaknya untuk mencari alasan yang tepat dan masuk akal.

"... sedang diet," lanjut Ino.

Itu tidak sepenuhnya berbohong. Jika Ino sarapan, maka pilihannya hanya sepotong roti dan segelas susu rendah lemak.

"Kalau begitu, temani saja dia, Ino. Kau tidak perlu ikut sarapan. Gaara selalu melupakan waktu makannya." Tiba-tiba seseorang ikut menanggapi perkataan Ino.

Orang itu adalah Kankurou. Pemuda itu datang lalu menghampiri ketiganya.

Saat melihat Kankurou, Ino kembali teringat dengan tindakan pemuda itu yang berlawanan dengan sisi kemanusiaan. Ino hampir saja terlena dengan Gaara dan melupakan tujuan utamanya untuk mengulik soal latar belakang rencana pernikahan itu serta identitas dari pria misterius yang pernah ia temui.

"Baiklah. Aku bisa membuat menu sarapan spesial untuk Kazekage-sama," putus Ino.

Kankurou menyeringai senang. Akhirnya Ino berpamitan dengan kedua orang itu –Temari dan Kankurou. Ino memilih untuk membuatkan sarapan untuk Gaara menggunakan fasilitas rumah clan Kazekage itu. Pikir Ino, mereka bisa mengobrol lebih intens di dalam rumah dibanding makan di luar.

"Aku minta maaf soal insiden semalam."

Saat dalam perjalanan, tiba-tiba Gaara membuka obrolan. Ino sedikit senang karena mereka tidak saling diam. Namun, topik obrolan itu tidak terlalu disukai Ino. Degup jantung Ino kembali cepat dan pipinya bersemu merah samar.

"Tenangkan dirimu, Ino! Kau tidak seharusnya seperti ini!" batin Ino.

"Kazekage-sama, kau telah mencuri ciuman pertamaku," balas Ino.

Gaara dan Ino sama-sama berbicara tanpa menoleh ke arah satu sama lain. Keduanya terfokus pada jalanan di depan. Entah kenapa Gaara merasa ada yang berbeda ketika Ino tidak lagi memanggilnya dengan nama kecil. Benar, 'kan, tebakannya? Rupanya selama di oasis, gadis itu tidak benar-benar ingin mengenalnya. Gadis itu punya rencana dan kemarin semua hanyalah sebuah sandiwara. Kenapa rasanya sakit ketika ditipu seperti ini? –pikir Gaara.

"Seharusnya untuk siapa?" Gaara kembali bertanya.

Ino mengedikkan bahunya dengan asal-asalan.

"Entahlah. Aku tidak mengharapkan siapapun," jawab Ino.

"Pemuda Uchiha itu..."

Saat Gaara menyinggung soal Sasuke, bahu Ino seketika menegang.

"... Kau masih menyukainya?" lanjut Gaara.

Ino refleks menghentikan langkah kakinya. Ia menoleh dan menatap Gaara dengan alis yang mengernyit heran.

"Masih?" ulang Ino.

"Kenapa berpikiran seperti itu?" lanjutnya.

Gaara ikut menghentikan langkah kakinya. Pemuda itu memutar tubuhnya ke arah Ino agar ia sepenuhnya bisa menghadap si gadis.

"Kau bertengkar dengan Sakura saat ujian chuunin karena laki-laki itu," jawab Gaara.

Jawaban Gaara membuat Ino tertegun. Ia tak menyangka jika pertengkaran konyolnya waktu kecil mampu menarik perhatian Gaara yang notabennya dingin seperti Sasuke.

"Tidak. Aku tidak menyukainya!" bantah Ino.

Gaara bukan sahabatnya, jadi Ino tidak wajib berkata jujur dan menceritakan semua perasaannya. Bahkan dengan Shikamaru pun, Ino tidak menceritakan soal Sasuke lagi. Pembicaraan tentang pemuda Uchiha itu sudah berhenti sejak perang dunia shinobi berakhir.

"Cepat tunjukkan di mana rumahmu." Ino kesal, jadi ia meninggalkan Gaara terlebih dahulu.

Akhirnya Gaara menyudai pembicaraan mereka hingga sampailah keduanya di rumah paling besar dan mewah di Sunagakure. Rumah itu kini ditinggali oleh Gaara dan dua saudaranya.

"Tadaima," ucap Gaara pelan saat ia masuk ke dalam rumahnya itu.

Ino mengekor di belakang Gaara. Ia sedikit takjub dengan rumah itu. Saat Gaara menuntun arah menuju dapur yang bersatu dengan ruang makan, Ino melihat-lihat ke sekeliling.

Saat keduanya tiba di ruang tengah, pandangan mata Ino tertarik pada beberapa objek berbentuk persegi panjang yang tersusun rapi di meja ruangan itu. Objek itu adalah deretan foto Gaara dan keluarganya.

Kaki Ino bergerak ke arah meja itu. Tanpa meminta izin, Ino meraih salah satu bingkai foto dan mengamatinya. Pilihannya jatuh kepada foto Gaara saat masih kecil.

"Ternyata dia menggemaskan juga. Mata turquoise-nya besar, tetapi... tidak ada senyuman di sini," ucap Ino bermonolog.

"Dia terlihat sangat sedih," lanjut Ino.

"Karena saat itu aku dibenci oleh semua penduduk desa."

Suara bariton Gaara mengejutkan Ino. Ia berdiri di belakang Ino dan berbicara tepat di samping telinga gadis itu. Saking dekatnya, Ino bisa merasakan hembusan napas hangat pemuda itu menerpa daun telinganya.

"Astaga!"

Ino terkejut dan ia hampir saja menjatuhkan pigura itu. Dengan tergesa-gesa Ino mengembalikan pigura itu ke tempat semula. Namun, karena terburu-buru, Ino menjadi ceroboh. Ia menjatuhkan deretan pigura lainnya.

"Aduh, maaf," ucap Ino sambil mengembalikan pigura itu ke posisi semula.

Melihat Ino kerepotan dan panik, Gaara ikut membantu gadis itu. Kini keduanya sama-sama memperbaiki posisi pigura hingga tertata rapi seperti semula.

"Aku berpikir, mungkin kau tidak mau menikah denganku karena masa laluku," ucap Gaara.

"Eh?" Pergerakan tangan Ino terhenti saat Gaara mengatakan itu.

Ino menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Entah kenapa Ino jadi mellow saat Gaara mengatakan pemikirannya itu. Ada perasaan bersalah karena telah membuat Gaara berpikiran seperti itu. Bukan itu alasannya, tetapi wanita memang tidak bisa menikah dengan pria asing yang tidak dikenal. Ino hanya tidak mau menyesali pernikahannya kelak.

"Bukan begitu... tapi aku..." Ino tidak melanjutkan omongannya.

Setelah menata pigura terakhir yang tadi ia pegang, Gaara kembali menegakkan tubuhnya. Pemuda itu menghadap ke arah Ino. Ia menunggu Ino menyelesaikan perkataannya.

"Aku takut menikah dengan orang asing karena setiap laki-laki dan perempuan yang akan menikah harus saling mencintai terlebih dahulu. Sebuah hubungan tidak bisa dimulai dari kebohongan. Percuma kita menikah jika tidak ada cinta di antara kita."

Sebenarnya Ino malu mengatakan itu, tetapi ia ingin menegaskan kepada Gaara soal pendapatnya itu. Sama seperti yang ia katakan kepada Kankurou, Ino hanya ingin Gaara sadar jika pernikahan yang Ino inginkan adalah pernikahan dengan cinta, bukan karena alasan lain. Apalagi alasan lain itu tidak diketahui oleh Ino. Sulit bagi Ino untuk menerima lamaran dari kazekage yang begitu mendadak itu.

"Aku tidak begitu pandai soal cinta, jadi aku tidak bisa menggambarkan perasaanku saat ini. Kau ingin tahu mengapa aku memilihmu?" tanya Gaara.

Inilah saat-saat yang paling mendebarkan bagi Ino. Karena terlalu hening, Ino seolah bisa mendengar degup jantungnya yang memburu. Sejak tadi ia belum melepaskan pigura terakhirnya. Ia malah mengeratkan pegangannya pada pigura kayu itu. Saat gugup, Ino membutuhkan sesuatu untuk ia pegang.

"Apa?" tanya Ino.

Bohong jika Ino tidak penasaran. Ia ingin tahu alasan Gaara memilihnya. Dari sekian banyak wanita di dunia ini, mengapa harus Ino dan bukan Sakura, Tenten, ataupun lainnya?

"Aku kagum dan menyukaimu sejak perang usai. Sebelum hari ini, aku bertanya tentangmu dari Sakura. Dan sekarang aku ingin tahu lebih darimu langsung. Segalanya, apapun itu, bahkan soal siapa yang kau cintai saat ini."

Ini adalah perkataan Gaara yang cukup panjang di luar urusan politik. Untuk pertama kalinya Ino baru melihat sisi lain dari Gaara yang dingin dan irit bicara itu.

"Jadi, yang dikatakan Kankurou-san itu benar?" batin Ino.

Ino terdiam. Mendengar pengakuan itu, jantung Ino semakin tak karuan berdetak kencang. Pipinya kembali bersemu merah seperti tomat. Ia seolah lupa caranya bernapas. Untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya, Ino sedikit menundukkan kepalanya. Ia tak mau menatap Gaara dijarak sedekat itu.

"Haruskah aku mempercayai ini?" gumam Ino.

Seseorang baru saja mengungkapkan perasaannya di depan Ino. Gadis itu cukup tersanjung, tetapi ia bingung untuk mempercayainya atau tidak. Ini pertama kali bagi Ino, ada seorang laki-laki yang menyatakan kekagumannya secara langsung dan empat mata seperti ini.

Gaara mendekati Ino. Setelah jarak keduanya semakin dekat, Gaara meraih dagu Ino dan menuntut gadis itu untuk menatapnya. Saat melihat mata Ino, ia seperti melihat warna matanya sendiri. Namun, Gaara mencoba untuk lebih menyukai warna mata Ino yang mirip seperti batu berwarna sea blue itu.

"Maukah kau menikah denganku, Ino Yamanaka?" tanya Gaara sebelum ia menghapus jarak di antara keduanya.

Tidak seperti semalam, kali ini Gaara mencium bibir Ino atas kemauannya sendiri.

Prank!

Tindakan itu membuat tangan Ino berhenti menggenggam sisi pigura milik Gaara. Alhasil pigura kayu itu terjatuh dan mengena kaki Gaara.

Meskipun kakinya terluka karena serpihan kaca piguranya sendiri, Gaara tak mau melepaskan ciumannya itu. Pemuda itu bahkan mencegah Ino yang hendak memundurkan tubuhnya. Tak salah lagi, gadis itu ingin membereskan kekacauan yang ia buat sendiri. Gaara menahan Ino dengan mencengkeram pergelangan tangan kanan gadis itu, sementara tangan kanannya ia letakkan di belakang tengkuk si gadis. Perlahan Gaara mendorong tengkuk itu agar ciuman mereka semakin dalam.

"Umph."

Jangan tanya bagaimana reaksi Ino sekarang. Wajah gadis itu sepenuhnya merona hebat sampai ke telinga. Diawal Ino sempat melebarkan matanya, tetapi saat Gaara memperdalam ciuman, Ino memejamkan kedua netranya itu dengan erat.

Pemuda itu menempelkan bibirnya tanpa ragu di bibir Ino. Ia kembali merasakan lembut dan manisnya bibir gadis itu dengan sedikit melumatnya pelan.

Sampai beberapa detik Ino tidak membalas ciuman itu. Akan tetapi, Gaara tidak mau menyudahinya dulu. Jika semula Gaara mencium dengan lembut, kini ciuman itu berubah menjadi sedikit menuntut. Lumatan yang semula kecil dan ragu berubah menjadi agak agresif dan terburu-buru. Ciuman kedua mereka hanya Gaara saja yang mendominasi karena gadis Yamanaka itu masih sangat terkejut dan malu untuk membalasnya.

Kalau saja pasokan oksigen keduanya tidak menipis, Gaara masih betah mencium bibir Ino. Gaara melepaskan ciumannya, tetapi ia tidak menyingkirkan tangannya dari tengkuk Ino.

Perlahan Ino membuka matanya. Yang pertama kali Ino lihat adalah wajah Gaara. Pemuda itu masih berada di dekat Ino, bahkan ia masih setiap menatap sepasang mata aquamarine milik gadis itu hingga waktu yang cukup lama. Sampai akhirnya Gaara kembali membuka mulutnya.

"Aku menunggu jawabanmu, Ino," ucap Gaara.

Ino tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Gaara karena pemuda itu masih memegangi leher bagian belakangnya.

"Kazekage-sama..."

Ino masih tidak percaya. Baru saja Gaara melamarnya secara personal setelah sebelumnya pemuda itu meminta izin kepada Kakashi yang berperan sebagai wali Ino.

"Gaara. Panggil aku sama seperti saat kita di oasis kemarin," pinta Gaara.

Ino menanggapi permintaan itu dengan anggukkan singkat.

"G-Gaara-kun, bukankah kita harus sarapan?"

Ino mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. Sayangnya Gaara tak menggubris itu.

Ketika sedang malu, Ino menjadi sangat gugup dan salah tingkah. Ia meletakkan tangan kirinya di depan dada pemuda itu dan bermaksud ingin mendorongnya seperti tadi malam saat di oasis.

"Kau ingin memukul dadaku lagi seperti semalam?" tanya Gaara.

Setelah mendengar itu, Ino langsung teringat dengan kaki Gaara yang tadi terkena serpihan kaca pigura.

"Oh, kakimu, Gaara-kun! Aku bisa mengobatinya," kata Ino.

Gaara mendengarkan Ino, tetapi ia tidak mau melepaskan gadisnya itu.

"Jawab aku dulu," pinta Gaara.

Gaara menarik Ino ke dalam pelukannya. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Ino lalu menempelkan dahinya di dahi gadis itu.

"G-Gaara-kun..." Ino semakin salah tingkah ketika napas hangat Gaara menerpa kulit wajahnya.

Ino sangat dekat dengan Gaara. Gadis itu bisa melihat wajah tampan Gaara dan mulai mengaguminya. Dibanding dengan Sasuke, Gaara lebih lembut dan pemuda itu tahu yang namanya romantis. Ino tidak tahu darimana pemuda itu belajar. Sosok Gaara yang sekarang seperti sosok yang ia idamkan untuk dijadikan suami.

"Kau bisa menjawabnya nanti sore," ucap Gaara.

Perlahan Gaara menjauh dari wajah Ino. Sebelum pelukan itu terlepas, Gaara lebih dulu menyingkirkan poni panjang Ino lalu ia mendaratkan kecupan singkat di sana.

"Maaf, aku tidak jadi mengajakmu pergi pagi ini. Aku baru ingat jika ada beberapa berkas penting yang harus diselesaikan siang ini. Istirahatlah di sini karena sebentar lagi rumah ini akan menjadi milikmu, Nyonya Kazekage," tutur Gaara.

"Dan kau tidak perlu membereskan kekacauan itu. Aku akan menyuruh orang lain untuk membersihkannya," lanjut pemuda itu.

Gaara akhirnya meninggalkan Ino yang masih mematung di tempatnya. Gadis itu sesekali mengerjapkan kedua matanya. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Seorang Gaara... bisa bersikap se-manis dan romantis seperti itu. Belum lagi dengan semua omongan yang keluar dari mulut Gaara. Mengapa bisa semanis itu? –batin Ino.

"Ini mimpi, 'kan?" Ino menyentuh dahinya yang tadi dikecup oleh Gaara.

Sementara itu...

Gaara berlari menuju gedung kage. Setibanya di sana, tujuan Gaara bukan ke ruangannya untuk mengerjakan berkas yang tadi ia katakan kepada Ino. Melainkan pemuda itu menuju ke ruangan yang biasa digunakan para tetua berkumpul.

Brak!

Gaara membuka pintu ruangan itu dengan kasar.

"Aku sudah melakukan apa mau kalian! Sekarang katakan di mana kalian menculik Hakuto!" bentak Gaara.

n-to be continued-

Aduh, maaf banget, ya! Ini terlambat dari jadwal update yang biasanya. Gomen ne~ Semoga penantian kalian tidak sia-sia. Aku harap kalian suka chapter ini.

~Sesi ngobrol~

The Counting Reviewer: Thank you!

Zielavienaz96: Aku juga suka! Apa lebih baik aku mengganti rate-nya jadi M, ya? Tulisanku tidak terlalu detail, 'kan, kalau soal skinship?

Evil Smirk of the Black Swan: Siap, terima kasih, ya!

Azzura yamanaka: Tau nih, drama banget, 'kan? Gaara sih sebenernya yang curi-curi kesempatan xD. Maaf ya, chapter yang ini malah telat sehari TwT. Ada nih, udah mulai nakal Gaara-nya ahahaha~

BngJy: Aku yang nulis aja sambil gelindingan karena salting sendiri TwT Aduh, maaf sekali ya chapter kali ini terlambat sehari. Terima kasih semangatnya!

Ai Moriuchi: Terima kasih atas apresiasinya! Semoga suka chapter kali ini, ya.

Nobita: Terima kasih sudah bersedia membaca.

See you next chapter~