Para tetua yang ada di ruangan itu sama sekali tidak menggubris kedatangan Gaara. Orang-orang itu memang sempat terkejut, tetapi sedetik kemudian masing-masing dari mereka malah menyesap teh hangat dengan nikmatnya. Seolah tak lagi takut dan segan dengan Gaara. Mereka bersikap acuh terhadap orang nomor satu di Sunagakure dan semuanya seperti sedang mempermainkannya.

"Dengar dan jawab aku!" teriak Gaara penuh amarah.

Perlahan pasir milik Gaara keluar dari dalam labu kecil yang terikat di sisi kirinya. Kali ini Gaara benar-benar kehilangan kesabaran. Para tetua itu sudah keterlaluan. Mereka telah menculik Hakuto yang jelas-jelas sudah hidup bahagia di Konoha bersama dengan suaminya –Shigezane. Gadis itu rela menanggalkan nama clan-nya hanya demi menikahi laki-laki yang ia cintai dan hidup damai di negara lain. Semua tampak baik-baik saja saat clan Nara bersedia menampung dua orang itu. Mereka hidup bahagia dan sekarang keduanya sedang bersuka cita menyambut kelahiran anak pertamanya. Namun, para tetua Suna telah merenggut kebahagiaan kedua insan yang tak bersalah itu.

"Aku sudah menjadi brengsek karena kalian! Sekarang katakan di mana kalian menyembunyikan Hakuto!" bentak Gaara.

Kini pasir pelindung Gaara benar-benar sudah mengelilingi pemuda itu. Kapan saja pasir Gaara bisa meremukkan tulang semua tetua yang ada di sana. Meskipun Gaara terlihat mengerikan, pemandangan itu sama sekali bukan ancaman bagi para tetua. Telinga mereka menangkap semua bentakan dari Sang Pemimpin Suna itu, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang menanggapinya.

"Gaara!" panggil Temari yang muncul tiba-tiba di balik punggung Sang Adik.

Tadi Temari melihat Gaara berlari tergesa-gesa memasuki gedung Kage, jadi gadis itu segera menyusul adiknya karena ia tidak mau sesuatu hal buruk terjadi di sana. Ia tidak mau melihat pertumpahan darah lagi seperti saat Gaara masih dianggap sebagai monster oleh semua orang di desanya itu.

"Gaara, tenangkan dirimu," pinta Temari seraya menepuk pundak Gaara dengan lembut.

Tepukan dan permintaan Temari tidak digubris oleh Gaara. Pasir-pasir itu masih setia mengelilingi Gaara dan kini tangan pemuda itu sudah terulur ke depan –tepatnya ke arah salah satu tetua yang sedang duduk mengelilingi meja persegi panjang di ruangan itu.

"Gaara, kumohon! Jangan bertindak gegabah!" Akhirnya Temari meninggikan suaranya dan kini gadis itu tengah berdiri sejajar dengan Gaara sambil mencengkeram pundak pemuda itu.

"Kau pikir aku akan diam saja ketika orang lain dalam bahaya?" tanya Gaara sambil melirik ke arah Temari.

Aura mematikan Gaara sama sekali tidak membuat para tetua itu takut. Mereka merasa telah memiliki kartu AS yang bisa digunakan untuk mengancam Gaara. Mereka tahu kelemahan Gaara dan menggunakannya untuk memilihkan jalan hidup pemuda itu. Kartu AS itu adalah Hakuto. Mereka memiliki Hakuto dan gadis itu menjadi alat bagi mereka untuk memanfaatkan Gaara.

Semua itu dilakukan demi kemajuan Desa Suna setelah perang usai. Bagi para tetua, Negara Angin harus lebih unggul dibanding negara lain. Tentu saja keinginan itu tidak pernah diungkapkan secara gamblang kepada orang-orang, karena semua negara telah sepakat jika tidak akan ada lagi persaingan di antara mereka. Namun, kenyataannya para tetua Suna masih menginginkan desanya lebih baik di atas segalanya. Ada sedikit hasrat untuk menguasai negara lain dan meneruskan pandangan yang sesuai dengan prinsip mereka sejak dulu. Mereka ingin mempertahankannya sampai sekarang dan menjadikan dunia shinobi sesuai dengan keinginan orang-orang itu.

"Kau bilang apa tadi? Kau sudah melakukan tugasmu?" Akhirnya salah satu tetua angkat bicara.

Yang berbicara dengan Gaara saat ini adalah seorang pria tua yang memiliki kedudukan paling tinggi di antara tetua lainnya yang sedang duduk di sana. Ia paling dihormati di Suna dan segala ucapannya menjadi pertimbangan dalam mengambil keputusan.

"Tugas yang mana? Yang kami inginkan adalah kau merayu dan membujuk gadis itu agar pernikahan dipercepat. Sebelum pernikahan dilangsungkan, kami tidak akan membebaskan Hakuto. Lagipula... kami telah melakukan hal gila lainnya. Kali ini kau tidak mungkin menolaknya," kata pemimpin tetua itu, Takeo namanya.

Perkataan itu sedikit mengejutkan Gaara. Hal gila seperti apa yang telah dilakukan orang-orang licik dan egois seperti mereka?

"Jika kau tidak segera menikahi gadis Yamanaka itu, maka nyawa Hakuto dalam bahaya. Kalaupun Hakuto mati, Konoha tidak mendapatkan kerugian apapun. Jadi bagaimana dengan keputusanmu? Kau lebih memilih Hakuto atau desa yang sangat dicintai oleh ibumu?" tanya Takeo seraya mendekat ke arah Gaara tanpa keraguan sedikitpun.

"Jika kau lebih memilih Hakuto dan mengabaikan kepentingan desa, itu artinya kau tidak pernah menyayangi dan menghormati ibumu sendiri. Apa artinya tato Ai di dahimu itu? Selain itu, kami terpaksa harus membunuh Ino, karena jika bukan Suna yang memiliki gadis itu, maka tidak pula dengan Konoha sekali pun dia berasal dari sana. Jika gadis Yamanaka itu yang mati, desa Konoha akan menarik diri dari kita. Urusan diplomasi kita akan kacau, Gaara. Sudahkah kau putuskan apa yang ingin kau ambil?" lanjut Takeo.

Kini pasir Gaara tak lagi mengelilingi dirinya sendiri, melainkan beralih mendekati Takeo. Pasir-pasir itu seperti tali yang mengikat renggang tubuh Takeo. Kapan saja Gaara bisa mengepalkan tangan kirinya dan pasir-pasir itu bisa langsung meremukkan tubuh tetua itu.

"Kalian selalu punya cara kotor untuk mendesakku. Kalian menyuruhku untuk memilih, tetapi pada kenyataannya tidak ada yang bisa aku pilih," balas Gaara.

Perlahan tangan kiri Gaara yang terulur ke depan seperti ingin ia kepalkan. Pasir-pasir yang mengelilingi Takeo dengan renggang perlahan mulai mengerat. Meskipun Takeo sama sekali tidak terlihat takut, tetapi gelagatnya samar-samar memperlihatkan jika pria itu sedang tidak nyaman dan mulai merasakan sesak karena pasir milik Gaara itu.

"Hentikan, Gaara! Aku mohon! Takeo-san! Kita bicarakan ini baik-baik! Anda bisa mati!" teriak Temari dengan panik.

Tak hanya Temari saja yang panik, tetapi satu per satu tetua yang ada di ruangan itu mulai bangun dari posisi duduknya. Mereka mulai mengkhawatirkan Takeo yang nyawanya hampir di ujung tanduk.

Tidak ada yang bisa menghentikan Gaara jika pemuda itu sudah memutuskan ingin membunuh atau tidak. Semua berada dikendali pemuda itu.

"Bunuh aku, Kazekage-sama!" teriak Takeo dengan lantang hingga suaranya menggema di seluruh penjuru ruangan itu.

"Jika aku mati, Hakuto juga akan mati karena tidak ada satu pun dari anak buahku yang tahu keberadaannya. Kau benar, memang tidak ada pilihan. Kau harus melakukan apa yang kami inginkan, dengan begitu Hakuto akan selamat," ujar Takeo.

Mendengar ancaman itu, pendirian Gaara mulai goyah. Ia menahan diri untuk tidak menghabisi Takeo karena nyawa Hakuto dalam bahaya. Meskipun demikian, ia tidak menyingkirkan pasir-pasir itu dari tubuh Takeo. Biarkan Takeo merasakan sedikit 'hukuman' darinya.

"Beraninya kau!" Gaara menatap Takeo dengan kilat penuh amarah.

Kalau bukan karena Gaara takut nyawa Hakuto dalam bahaya, pemuda itu pasti sudah menghabisi Takeo sejak tadi. Tak peduli jika kabar kematian pemimpin tetua itu akan tersebar dan menghebohkan seluruh penjuru negara. Sayangnya... untuk saat ini itu tidak akan terjadi. Gaara sepertinya harus menahan diri untuk tidak membunuh tetua itu.

"Jika dalam waktu 5 hari kau gagal menikahi gadis Yamanaka itu, maka bawahanku akan meracuni Hakuto hingga tewas," Takeo menyeringai lebar sebelum ia melanjutkan ucapannya, "Atau sebaliknya, jika kau memilih Hakuto lagi, kami harus melenyapkan gadis Yamanaka itu dengan alasan yang sama saat kau mencoba memalsukan kematian Hakuto waktu itu," lanjutnya.

"Kau bermaksud membunuh gadis yang tak bersalah?" balas Gaara tak percaya.

"Untuk mewujudkan hasratmu itu, kau tidak harus melibatkan Hakuto ataupun Ino! Aku bisa melatih semua shinobi Suna agar mereka bisa lebih kuat dari desa lainnya!" murka Gaara.

Gaara melangkah mendekat hingga kini pemuda itu saling berhadapan dengan Takeo.

"Semua lebih efektif jika seorang shinobi lahir dari garis keturunan yang jelas, Gaara. Clan Kazekage dan Yamanaka adalah perpaduan yang sempurna. Kami mengagumi hiden ninjutsu clan Yamanaka saat perang dunia shinobi berlangsung. Kami mendengar cerita heroik dari gadis itu setelah kematian Inoichi-san," ujar Takeo.

Takeo sudah menjelaskan alasan itu saat pertama kali rencana pernikahan Gaara diputuskan. Kali ini ia mengatakannya lagi karena tetua itu kesal dengan Gaara yang mulai goyah.

"Kenapa hatimu jadi goyah seperti ini? Setelah Shukaku direnggut darimu, kami mulai risau! Konoha masih memiliki seorang Jinchūriki dan beberapa clan kuat, salah satunya adalah Yamanaka. Itulah sebabnya kami merencanakan pernikahan ini! Untukmu dan desamu sendiri, Kazekage Gaara!" teriak Takeo.

"Secara tidak langsung, kau ingin memperalat anakku kelak, begitu? Kau pikir aku akan mengizinkannya? Sudah cukup aku menjadi laki-laki brengsek dan aku tidak ingin menjawab ayah yang gagal seperti ayahku!" Gaara kembali meninggikan suaranya.

"Ya, Kami-sama... rasa-rasanya sulit sekali memintamu untuk menikah dengan gadis Yamanaka itu. Berapa kali aku harus mengatakannya jika ini semua dilakukan demi kemajuan desa. Maksud kami baik. Kami ingin membantumu menjadikan Sunagakure sebagai desa paling kuat setelah perang dunia. Clan Kazekage dan Yamanaka akan melahirkan keturunan dengan kemampuan hiden ninjutsu yang luar biasa. Lagipula anak itu akan lahir dengan status bangsawan yang akan membuatnya disegani banyak orang. Yang seharusnya amat bersyukur dengan pernikahan ini adalah gadis itu. Tidak akan ada yang dirugikan dari pernikahan ini, percayalah!" balas Takeo.

"Semua kebohongan dari rencana ini tidak akan menyakitinya jika kau bisa menyembunyikannya dengan baik. Mudah, 'kan? Tetapi mengapa kau tetap tidak mau melakukannya?" tanya pemimpin tetua itu.

Takeo menyeringai tipis sebelum ia kembali melanjutkan perkataannya.

"Tentukan sekarang, nyawa Hakuto atau gadis Yamanaka itu?" Takeo kembali bertanya.

"Brengsek!" teriak Gaara.

Dengan kendali Gaara, pasir yang semula mengelilingi tubuh Takeo perlahan turun dengan cepat menuju kaki kanan tetua itu. Tanpa memikirkannya lagi, Gaara mengepalkan tangan kiri sambil mengucapkan jutsu-nya.

"Sabaku Sōsō!"

"ARGH!" Takeo menjerit kesakitan.

Gaara baru saja mengendalikan pasirnya untuk membungkus kaki kanan Takeo dan menekannya dari segala arah. Kepalan tangan yang tidak terlalu erat menandakan jika tingkat kontraksi pasir-pasir itu dapat dikatakan sedang. Ini memungkinkan pengguna tidak sampai menghancurkan target, tetapi ia hanya memberikan cidera dengan tingkat luka sedang ke berat. Beruntung Gaara tidak sampai meremukkan kaki kanan Takeo. Pemuda itu hanya mematahkan tulang fibula dan tibia-nya saja. Namun, sakitnya tetap saja luar biasa. Takeo langsung jatuh tersungkur dengan kondisi kaki yang cukup mengenaskan. Seketika ruangan itu tidak se-hening sebelumnya. Beberapa orang di ruangan itu langsung menghampiri Takeo dan sisanya memanggil ninja medis agar luka tetua itu segera ditangani.

Setelah melukai pemimpin tetua Suna, Gaara segera berbalik dan meninggalkan ruangan itu tanpa merasa bersalah sedikit pun. Temari hanya bisa menggelengkan kepalanya. Gadis berkuncir dua itu tidak langsung menyusul Gaara meskipun ia ingin. Ada masalah penting yang harus ia tangani lebih dulu. Ia perlu membantu Takeo sekaligus meminta maaf atas nama Gaara agar tetua itu tidak semakin menjadi-jadi.

"Adikmu itu... benar-benar tidak bisa diberitahu! Bunuh Hakuto sekarang!" teriak Takeo.

Sambil menahan rasa sakit di kaki kanannya, Takeo memerintahkan anak buahnya untuk menemui Hakuto dan membunuh gadis itu. Sayangnya, Temari langsung mencegah keinginan itu.

"Takeo-san! Ini melanggar pilihan yang sudah anda buat dengan Gaara! Jika Gaara tahu anda bertindak di luar kesepakatan, dia akan melakukan lebih dari sekedar mematahkan kaki anda," cegah Temari.

Tak ada pilihan lain, akhirnya Takeo tidak jadi memerintahkan bawahannya untuk membunuh Hakuto. Ia hanya perlu menahan keinginannya itu untuk beberapa waktu ke depan.

"Kalau begitu... panggil gadis Yamanaka sekarang juga! Aku ingin dia melihat apa yang dilakukan oleh seorang kazekage!" perintah Takeo.

Saat terjadi kegaduhan di gedung Kage, Ino baru saja selesai membuat bekal makan siang untuk Gaara. Entah kenapa tiba-tiba saja Ino ingin memasak sesuatu dan membawakannya untuk Gaara. Anggap saja ini bentuk balasan dari Ino karena Gaara sudah memperlakukannya dengan baik selama ia tinggal di Suna. Selain itu... Ino merasa tersanjung dengan sisi romantis Gaara dan ia ingin membalasnya dengan hal yang manis juga seperti sebuah kejutan kecil, salah satunya dengan membuatkan Gaara makan siang. Tidak salah, 'kan?

"Aku harap dia suka dan tentunya aku harus minta maaf karena berani mengacaukan dapur rumahnya," ucap Ino bermonolog.

Ino baru saja ingin memasukkan masakannya ke kotak makan, tetapi pergerakannya terhenti karena suara ketukan pintu yang sedikit samar.

"Eh?"

Ino terpaksa mengabaikan masakannya. Ia berjalan ke ruang tamu lalu membuka pintu utama di rumah besar itu.

"Ino-sama, tolong bantu kami," ucap seorang shinobi berseragam jounin Suna.

Setelah mendengar penjelasan dari shinobi itu, Ino langsung bergegas pergi meninggalkan kediaman Gaara. Keduanya berlari menuju rumah sakit Suna yang terletak di dekat gedung kage. Shinobi itu baru saja memberitahu Ino jika seorang tetua Suna terluka akibat ulah Gaara.

Ino sangat terkejut dan ingin meminta penjelasan dari shinobi itu, tetapi pertanyaannya ditolak.

"Anda akan mendengarnya langsung dari Takeo-sama," katanya.

Dengan terpaksa Ino harus menahan rasa penasarannya untuk saat ini. Nanti setelah Ino melihat kondisi tetua itu, ia akan menemui Gaara dan menanyakan alasannya secara langsung dari mulut pemuda itu.

"Sebelumnya aku tidak pernah melakukan operasi seorang diri. Biasanya Shizune-san atau ninja medis lain yang memimpin operasi. Aku tidak bisa melakukannya," tolak Ino saat ninja medis Suna meminta bantuannya.

"Kami selalu kekurangan ninja medis yang berpengalaman. Lagipula ini perintah langsung dari Takeo-sama," kata ninja medis itu.

"Aku akan membantumu, tetapi tidak untuk memimpin operasi besar seperti ini." Akhirnya Ino mengiakan, tetapi ia hanya akan membantu sebagai asisten saja, bukan yang memberi intruksi seperti yang biasa dilakukan Tsunade ataupun Sakura.

Ino segera mengenakan seragam scrub dan masuk ke ruang operasi setelahnya. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan operasi sekitar 2,5 jam. Seharusnya Ino bisa langsung pergi dari sana, tetapi salah satu ninja medis yang melakukan operasi dengannya berpesan jika Takeo ingin segera menemui Ino ketika ia sadar. Jadi Ino memutuskan untuk menunggu di ruang rawat Takeo. Rasanya sangat aneh ketika ia harus menunggu pasien yang tidak ia kenal dengan baik.

Setelah 30 menit berlalu, akhirnya Takeo membuka mata. Meskipun pengaruh anestesi belum hilang sepenuhnya, Takeo sudah menoleh dan menatap Ino dengan lekat. Ino hanya diam dan menunggu sampai Takeo sadar sepenuhnya. Setelah cukup lama menunggu dan ditatap lekat oleh Takeo, akhirnya pria tua itu mengucapkan sesuatu.

"Nona Ino," panggil Takeo.

Ino mengangguk pelan sambil tersenyum tipis yang dipaksakan. Ia masih diam dan menunggu Takeo melanjutkan ucapannya.

"Terima kasih sudah bersedia menangani lukaku," lanjut Takeo.

Takeo hendak duduk, jadi Ino langsung melarangnya karena belum saatnya bagi pasien untuk banyak bergerak. Ino membantu menaikkan bagian kepala ranjang yang digunakan Takeo.

"Aku hanya sedikit membantu. Untuk perkembangan cidera anda akan disampaikan oleh Suiko-san," ucap Ino.

"Sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa Kazekage-sama bisa melakukan semua ini?" tanya Ino.

Ino tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Ia penasaran dengan alasan Gaara melukai Takeo, jadi ia menggunakan kesempatan ini untuk menanyakannya secara langsung.

"Ah, itu... Sebenarnya aku ingin bertemu denganmu karena aku ingin meminta maaf secara langsung. Sepertinya ucapan yang keluar dari mulutku tentangmu terdengar kurang ajar di telinga Kazekage. Itu yang membuatnya tega melakukan ini kepada pria tua sepertiku," jawab Takeo.

Ino mengernyitkan dahinya sebelum ia membalas perkataan Takeo, "Maksudnya? Anda menghina saya? Sepertinya... itu bukan masalah besar. Lagipula kita memang tidak bisa mengontrol mulut orang lain untuk selalu berkata baik tentang diri kita. Tidak perlu membesarkan masalah ini, lagipula anda juga belum mengenal banyak tentang saya," katanya.

"Wajar saja jika anda memiliki pikiran yang tidak terlalu baik," lanjut Ino.

"Meskipun begitu, Kazekage tidak ingin orang lain berbicara buruk tentang calon istrinya," ucap Takeo sebelum ia tertawa renyah.

Ino terdiam. Ia tidak terlalu percaya dengan ucapan Takeo. Tidak mungkin Gaara melukai orang lain hanya karena ia menghina Ino. Gaara tidak mungkin se-pemarah itu hanya karena Ino. Kalau itu Shikamaru atau Chouji, mungkin Ino bisa lebih percaya karena kedua pemuda itu telah mengenal Ino sejak ia lahir. Jadi wajar-wajar saja jika kedua pemuda itu marah dan langsung memberi pelajaran kepada orang lain yang berani menyakiti Ino. Kalau Gaara? Tidak mungkin!

"Sepertinya dia sangat menyukaimu, Nona Ino. Sebagai orang tua, aku ingin kau menerimanya. Kazekage sudah banyak melalui masa-masa kelam. Mungkin saja... emosi kacaunya itu disebabkan oleh trauma masa lalu akibat dibenci oleh semua penduduk desa, termasuk ayahnya. Selama ini Kazekage tidak memiliki orang lain yang bisa dijadikan tempat bercerita. Dia tidak begitu dekat dengan kedua saudara kandungnya, jadi aku maklum jika dia menjadi sensitif dan terlalu gegabah seperti ini. Wajar saja, usianya juga masih sangat muda, tetapi dia sudah memikul beban yang berat sebagai seorang kazekage," tutur Takeo.

Menjual cerita sedih adalah hal yang mudah bagi semua orang dan itulah yang sedang dilakukan oleh Takeo. Ia ingin mempengaruhi emosi Ino, dengan begitu rencananya bisa lebih mudah terwujud. Cukup buat Ino merasa iba kepada Gaara. Setelah itu... Ino akan jatuh cinta dan pernikahan bisa diselenggarakan tanpa harus repot-repot memaksa Gaara.

"Bagaimana, Nona Ino? Apa anda bersedia menemani Gaara dan membantunya lepas dari trauma itu. kami mengkhawatirkannya, tetapi kami tidak tahu obat apa yang bisa menyembuhkan luka batinnya itu," lanjur Takeo.

Ino menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Kali ini ia percaya. Sama halnya seperti Sasuke, kedua pemuda itu memiliki kesamaan tentang trauma masa kecil. Inilah yang melatarbelakangi Ino dan Sakura ingin mendirikan klinik kesehatan bagi anak-anak untuk mengatasi trauma setelah perang. Mungkin, jika Ino tidak dikelilingi oleh orang-orang baik, ia akan mengalami trauma yang sama setelah kepergian ayahnya. Ia bisa mengatasi kesedihannya itu berkat Shikamaru, Chouji, dan ibunya.

"Sebagai teman yang baik, saya akan berusaha menyembuhkan luka itu. Dan saya juga ingin meminta maaf atas perlakukan buruk Kazekage terhadap anda, Takeo-san," ucap Ino seraya bangun dari tempat duduknya.

"Sebaiknya anda beristirahat. Suiko-san akan melakukan kunjugan sore nanti. Saya permisi," lanjut Ino.

Ino membungkukkan badannya sebentar sebelum ia keluar dari ruangan itu. Gadis itu segera meninggalkan rumah sakit. Pikirannya sedikit kalut karena ia mulai mengkhawatirkan Gaara. Jika Sasuke saja bisa jatuh begitu dalam ke kegelapan, bagaimana dengan Gaara yang menerima banyak kebencian dari orang-orang termasuk ayahnya sendiri?

"Kebencian yang bagaimana? Ayahnya?" gumam Ino saat ia berjalan keluar dari rumah sakit Suna.

"Seharusnya kau tidak membantunya."

Suara yang tiba-tiba itu membuat Ino terperanjat kaget. Itu berasal dari sisi kiri Ino saat gadis itu melewati pintu utama rumah sakit. Langkah kaki Ino terhenti dan ia langsung menoleh ke samping kirinya. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan orang itu di sini.

-to be continued-

Halo hai! Setelah sekian lama akhirnya aku kembali~ Maaf lama enggak update, ya. Semoga kalian masih mau baca kelanjutan fanfiksi ini. Takutnya kelamaan enggak update jadi pada males ehehehe~ Di chapter ini sudah jelas tentang alasan kenapa tiba-tiba Gaara melamar Ino. By the way, sekali lagi terima kasih atas apresiasinya, aku senang sekali. Selamat membaca~

~Sesi ngobrol~

BngJy: Aku pun kalau jadi Ino pastilah baper. Terima kasih banyak, ya. Maaf membuat Kakak menunggu lama.

kchi77327: Cinta pertama itu biasanya susah dilupakan TwT. Spoil dikit nih, nanti bakalan ada momen Ino ketemu Sasuke dan semuanya akan jelas. Sesuai dengan judulnya 'Truth' bakalan banyak kebenaran yang terungkap *cielah. Terima kasih banyak, ya!

jeannetidaklogin: Jadi Ino sakit banget semisal semuanya itu bohong dan ada maksud tertentu. Terima kasih, ya!

zielavienaz96: Silakan digetok kepalanya Gaara karena dia tega xD. Nanti deh, aku pikirkan lagi kalau ada scene agak over yang menjurus ke rate M, bakalan aku ganti buat warning yang enggak suka baca rate M. Sekali lagi terima kasih.

Azzura yamanaka: Aduduh xD, ditunggu saja, ya. Nanti Sasuke nongol lagi ehehehe~ Terima kasih!

Julian Nara: Wah, selamat datang kembali, Kak Julian Nara! Kemarin sempet sakit jadi enggak update-update. Maaf, ya. Silakan digetok ya, Kak, kalau Gaara nakal. Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan pesan.

Evil Smirk of the Black Swan: Kira-kira kenapa, ya. Gaara emang agak nakal, Kak, ahahaha~ Terima kasih sudah bersedia membaca.

Guest (1): Halo, maaf lama update, ya.

Ai Moriuchi: Iya ya. Emang paling bener pulang aja deh ke Konoha. Gaara jahat soalnya nih. Terima kasih untuk semangat dan karena Kakak sudah bersedia membaca.

Mika: Suatu saat nanti Gaara bakalan dapat ganjaran karena udah jahat, kok xD. Cuma belum tampak penderitaannya apa nanti. Terima kasih, ya!

Guest (2): Semoga Ino kuat ya dan Gaara bisa mengatasi masalah ini. Terima kasih sudah bersedia membaca!

Guest (3): Cowok redflag enaknya diapain nih? Nanti bakalan terungkap, ya. Terima kasih atas semangatnya!

See you next chapter~