Tempat orang itu bukan di rumah sakit, apalagi di luar. Seharusnya ia –pemuda itu– sedang duduk di depan meja luasnya sambil memeriksa berkas seperti yang sudah dikatakannya sendiri. Lagipula, jika pemuda itu ingin bertemu dengannya, ia tinggal memerintah orang lain untuk memberitahunya, jadi Ino bisa segera pergi ke gedung kage. Pemuda itu tidak usah repot berdiri di bawah terik matahari yang tingginya sudah tepat di atas kepala manusia.

"Apa yang kau lakukan di sini? Mengapa berdiri di luar? Kau sudah selesai dengan urusanmu, Kazekage-sama?" tanya Ino kebingungan.

Setelah mendengar tentang Gaara dari mulut orang lain, rasanya aneh ketika Ino harus memanggil kazekage itu dengan nama kecilnya. Tampaknya Ino harus memikirkan ulang jika ia sama sekali belum mengenal banyak soal Gaara. Apalagi setelah ia mengetahui tindakan Gaara yang terbilang 'mengerikan' untuk seorang pemimpin desa di era baru seperti sekarang.

"Kazekage-sama?" panggil Ino karena tidak ada respons dari Gaara atas pertanyaannya barusan.

Ino heran ketika ia melihat Gaara sedang berdiri dan bersandar di dinding dekat pintu utama rumah sakit. Selain itu, Ino semakin bingung ketika Gaara seperti sedang menyalahkan keputusannya untuk membantu melakukan operasi Takeo. Bukankah seharusnya Gaara bisa berterima kasih kepadanya karena ia sedikit membantu menyelesaikan kekacauan yang dibuat pemuda itu?

"Dan tadi kau bilang jika aku seharusnya tidak membantu Takeo-san, begitu? Mengapa?" tanya ulang Ino.

Gaara berjalan selangkah ke depan. Pemuda itu tidak lagi bersandar dan kini ia menghadap ke arah Ino sepenuhnya. Meskipun jarak keduanya tidak terlalu dekat, Gaara menatap lekat ke arah gadis itu.

"Apa yang orang itu katakan kepadamu?" tanya Gaara.

Bukannya menjawab pertanyaan dari Ino, Gaara malah mengajukan pertanyaan lain yang membuat Ino kebingungan.

Gadis Bunga itu mengernyitkan alisnya, kemudian ia mengedikkan kedua bahunya dengan asal sambil melirik ke arah lain. Ia sengaja menghindari tatapan mata Sang Kazekage. Setelah apa yang mereka lakukan sebelumnya, Ino menjadi sedikit malu menatap mata turquoise itu .

"Jangan bertindak tanpa se-pengetahuanku. Saat kau ingin melakukan sesuatu, bertanyalah terlebih dahulu apakah aku mengizinkanmu atau tidak," putus Gaara.

Mendengar itu, Ino kembali memusatkan perhatiannya kepada Gaara dengan dahi yang berkerut jelas. Ia menatap Gaara dengan tatapan tak percaya dan penuh tanda tanya.

"Kenapa begitu?" tanya Ino.

Keputusan sepihak itu sangat mengejutkan Ino. Selama 19 tahun ini, semua jalan hidup yang ia pilih didasari atas kemauannya. Ya, mungkin sesekali kedua orang tuanya juga ikut andil, hanya saja tidak sepenuhnya karena Ino yang lebih banyak memutuskan, sedangkan kedua orang tuanya hanya sebagai pemberi masukan dan nasihat saja. Bahkan keputusannya untuk menjadi iryō-nin itu murni atas keinginannya sendiri. Inoichi sama sekali tidak tahu jika ia kabur selama latihan hiden ninjutsu itu untuk menemui Tsunade dan berlatih ninjutsu medis di bawah bimbingannya langsung.

"Jangan banyak bertanya. Cukup lakukan perintahku. Satu lagi, jauhi semua shinobi di sini, terutama laki-laki. Kau hanya boleh berinteraksi dengan Matsuri atau Temari," jawab Gaara.

Ino melongo dibuatnya setelah mendengar jawaban itu. Apa-apaan itu? Gaara baru saja menyuruhnya menjadi seorang antisosial. Bagaimana bisa Gaara melarangnya untuk berinteraksi dengan orang-orang di sana?

Sangat bukan Ino. Ino adalah seorang ekstrovet yang senang mendapatkan teman baru. Ia tidak mungkin diam saja selama di Suna. Lagipula sampai kapan ia harus menghindari kontak langsung dengan orang lain?

"Jika ingin menyuruhku, setidaknya katakan alasannya. Kenapa? Jika kau tidak mengatakan alasannya, aku tidak akan melakukan perintah itu," tolak Ino dengan berani.

Jika Ino menolak, sama saja ia bersikap kurang ajar terhadap seorang kage.

"Kau aneh, Kazekage-sama. Aku pikir aku sudah cukup baik mengenal dirimu, tetapi aku salah. Semua tindakanmu itu tidak bisa diprediksi dan amat sangat mengejutkan. Aku–"

"Aku memang aneh. Meskipun Shukaku tidak ada lagi di dalam tubuhku, aku tetaplah monster. Kau boleh menilaiku seperti itu, tetapi aku mohon padamu... Katakan semua yang kau lihat dan rasakan. Aku ingin tahu semua yang akan kau lakukan agar aku bisa merasa tenang," potong Gaara.

Perkataan Gaara membuat Ino tertegun. Ia pernah menduduki peringkat atas di Akademi, jadi bisa dibilang Ino adalah salah satu kunoichi yang pandai. Akan tetapi, kali ini ia tidak mengerti dengan maksud Gaara. Sejauh ini, yang Ino tangkap adalah Gaara mengkhawatirkan dirinya seolah akan ada bahaya yang mengancam nyawanya.

"Kemasi barangmu dan segera pindah ke rumahku," perintah Gaara.

Tanpa menunggu tanggapan dari Ino, Gaara langsung berbalik dan meninggalkan gadis itu.

Tadi sebelum Gaara menemui Ino, pemuda itu lebih dulu bertemu dengan Kankurou dan Temari. Gaara meminta kedua saudaranya untuk meninggalkan kediaman clan Kazekage karena sekarang rumah itu hanya akan ditinggali Ino dan dirinya jika pekerjaannya telah selesai –meskipun Gaara tak tahu apakah saat itu akan ada.

Biasanya Gaara tidak pernah pulang. Pemuda itu selalu tinggal di ruangannya yang ada di gedung kage. Ia menunggu hari berganti dengan mengurus semua berkas-berkas penting miliknya. Ketika Shukaku masih ada di tubuhnya, Gaara mengidap insomnia karena Jinchūriki Shukaku selalu mengajak Gaara untuk berbicara dan bintang berekor satu itu ingin mengambil kendali tubuhnya. Itulah kenapa Gaara terbiasa terjaga semalaman. Jika Gaara tertidur, maka tubuh Gaara akan menjadi milik Shukaku sepenuhnya. Jadi Gaara tidak punya pilihan untuk terus terbangun sampai pagi menjelang. Begitu seterusnya sampai Shukaku direnggut darinya. Ketika ia tidak lagi menjadi seorang Jinchūriki, kebiasaan itu terus berlanjut. Sampai sekarang ia masih mengalami masalah tidur yang membuat area sekitar matanya dikelilingi lingkaran hitam mirip seperti panda.

Ino tertegun. Meskipun mulutnya tadi berucap jika ia tidak akan menuruti perintah Gaara, gadis itu tetap melakukan apa yang diinginkan oleh pemuda itu. Ino sendiri tidak tahu kenapa hatinya tiba-tiba berubah. Ia malah menuruti kemauan Gaara untuk tinggal di kediaman pemuda itu. Mungkin... tindakan alami itu didasari rasa penyesalannya karena ia tega menyebut Gaara aneh.

Sikap Gaara yang mau menerima penilaian buruknya tadi membuat Ino seakan-akan menjadi seorang tokoh antagonis di kehidupan pemuda itu. Seharusnya ia tidak mengatakan kalimat menyakitkan seperti tadi. Sekarang Ino bimbang. Ia menyesal dan ingin meminta maaf. Akan tetapi , Ino juga ingin mendengar alasan jujur dari pemuda itu. Kejadian ini malah memperjelas jika Gaara sedang menyembunyikan sesuatu dari Ino.

Saat memikirkan itu, Ino jadi teringat dengan pria misterius yang sempat menyebutnya bodoh. Beberapa kali Ino ingin menanyakannya kepada Gaara, tetapi pemuda itu selalu berhasil mengalihkan fokusnya. Entah dengan perlakuan manis ataupun pembicaraan yang selalu dialihkan tanpa Ino sadari.

Setelah ini Ino perlu memikirkan matang-matang apakah ia harus meminta maaf atau tidak. Selain itu, Ino ingin mencari tahu soal pria misterius itu lagi. Kali ini Ino tidak boleh lupa.

"Suna jauh lebih menyeramkan dan misterius dari yang aku bayangkan," gumam Ino bermonolog.

Selama perjalanan menuju penginapan, Ino tak henti-hentinya menggerutu, bergumam, dan bermonolog ria. Sejak tadi Ino memikirkan Gaara dan keputusan apa yang harus ia ambil. Ino tidak dinilai bersalah ketika ia ingin tahu alasan pemuda itu bersikap overprotective, tetapi ia jelas salah saat menilai Gaara sebagai orang yang aneh.

Selesai berkemas-kemas, Ino bergegas ke kediaman Gaara. Ketika di perjalanan, Ino bertemu dengan Temari dan sulung Kazekage itu menawarkan diri untuk membantunya.

"Ne, Temari-san," panggil Ino.

Temari menoleh.

"Boleh aku tahu, seperti apa kehidupan Gaara? Apakah semasa kecil, Gaara tidak pernah merasakan yang namanya bahagia?" tanya Ino.

Langkah kaki Temari memelan saat Ino menanyakan topik pembicaraan yang selalu ingin ia hindari. Membahas masa kecil Gaara membuat hati Temari sakit karena ia merasa gagal menjadi seorang kakak yang baik bagi adik bungsunya itu. Saat ayahnya melarang untuk bermain dengan Gaara, seharusnya ia bisa lebih berani untuk melawan perintah itu. Sayangnya waktu itu Temari tidak bisa melakukan apapun. Tak ada kenangan yang cukup membahagiakan bagi Gaara, bahkan ketiganya jarang menghabiskan waktu bersama. Setiap kali Rasa –Ayah Gaara– melihat Temari dan Kankurou bermain dengan Gaara, pria itu langsung melarang dan menyuruh mereka menjauh.

"Soal itu kau bisa tanyakan sendiri kepada Gaara, tapi jika kau penasaran, aku akan menceritakannya sedikit. Dulu… Gaara selalu sendirian meskipun kami ada. Jika kau ingin tahu siapa orang yang paling membenci Gaara, maka jawabannya adalah ayah kami. Tou-sama menganggap kelahiran Gaara sebagai kutukan. Gaara-lah yang menyebabkan ibu kami meninggal. Itu yang selalu dipikirkan oleh ayah kami. Bahkan… tou-sama menyuruh orang lain untuk membunuh Gaara dan memprovokasinya jika ibu kami tidak pernah menyayanginya," tutur Temari.

Ino tertegun. Rasa penyesalannya seolah semakin besar setelah ia mengetahui jika Gaara tumbuh dari kenangan yang menyakitkan. Pemuda itu telah lama menanggung banyak penderitaan dan rasa sakit, tetapi memilih untuk bertahan di jalan yang tepat. Itupun tak lepas dari pengaruh Naruto. Sebagai sabahat Sakura, Ino tahu sedikit tentang kisah Naruto dan Gaara. Ya, hanya sebatas tahu jika kedua pemuda itu telah lama menjalin persahabatan sejak misi penyelamatan Godaime Kazekage yang diculik oleh Akatsuki beberapatahun yang lalu.

"Tapi tenang saja, Ino," lanjut Temari sambil menepuk bahu Ino dengan pelan.

"Melalui Edo Tensei, Gaara bisa bertemu dengan tou-sama. Dia sudah mengetahui kebenarannya jika ibu kami begitu menyayanginya dan pasir yang selalu mengelilingi Gaara adalah wujud kasih sayang dari ibu kami, Karura," imbuh gadis berkuncir dua itu.

Ino menoleh ke arah Temari. Ekspresinya menunjukkan jika ia sedang gelisah dan merasa tak enak hati.

"Jadi... Kazekage-sama sudah baik-baik saja sekarang?" tanya Ino.

"Aku rasa begitu. Gaara pernah bilang jika dia tidak lagi membenci ayah kami. Terima kasih sudah mengkhawatirkan adikku, Ino. Gaara beruntung memilikimu. Kau gadis yang baik, ya. Apakah di Konoha kau mempunyai banyak penggemar?" tanya Temari.

Ino buru-buru menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Apa artinya memiliki banyak penggemar jika kau sendiri tidak bisa menggapai cinta pertamamu?" Ino tersenyum miris.

Cinta pertama memang sulit dilupakan. Hanya memikirkannya saja membuat dada Ino terasa sesak. Tidak ada momen kebersamaan yang berarti di antara mereka, tetapi Ino tetap tidak bisa menghentikan perasaannya itu. Ketika Ino mendengar nama Sasuske, gadis itu teringat semua alasan yang membuatnya jatuh hati dengan pemuda Uchiha itu.

Awalnya Ino menyukai Sasuke karena laki-laki itu memiliki wajah yang tampan. Bagi Ino, Sasuke adalah murid yang paling tampan di angkatannya. Lalu, perasaan itu berkembang menjadi kekaguman. Tanpa disadari, Ino dan Sasuke pernah bersaing untuk menduduki peringat pertama di Akademi. Tadinya Ino ingin melampaui Sasuke, tetapi keinginan itu berubah menjadi rasa ingin berjalan sejajar dengan laki-laki itu. Bukankah keren jika Ino bisa menikah dengan Sasuke?

Ino pikir perasaannya akan hilang saat pemuda itu memutuskan untuk menjadi ninja pelarian. Namun, ia salah. Justru perasaan Ino semakin dalam. Ia begitu peduli dengan Sasuke dan ingin membantu pemuda itu, sayangnya ia tidak mampu melakukannya. Jadi Ino hanya memperhatikan Sasuke dari kejauhan setelah pemuda itu terbebas dari hukuman mati.

"Sasuke, ya?" tebak Temari.

Ino sedikit terperanjat. Ia hanya diam. Tidak ada keinginan untuk menanggapi tebakan Temari yang 100% benar itu.

"Aku rasa semua akan setuju dengan pendapatku. Gaara tidak kalah tampan dan hebat dengan Sasuke. Dia bahkan adalah seorang kazekage, Ino. Aku pastikan dia tidak akan pernah membuatmu bersedih, jadi kumohon jangan ragu kepadanya. Aku sendiri yang akan mengingatkannya untuk terus bersikap baik kepadamu." Temari menepuk pundak Ino beberapa kali sebelum ia melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda itu.

"Kazekage-sama memang hebat," gumam Ino pelan.

Ino pun setuju dengan ucapan Temari. Gaara juga sama hebatnya dengan Sasuke, bahkan sekarang pemuda itu menjadi orang nomor satu di Suna. Sungguh pencapaian yang luar biasa, 'kan?

"Aku harap Kazekage-sama tidak akan pernah menyakiti perasaanku, tapi... entahlah," batin Ino.

Rona merah muda yang samar menghiasi kedua pipi Ino. Gadis itu menyusul Temari dengan berlari kecil.

Keduanya kembali melanjutkan perjalanan menuju kediaman clan Kazekage. Sejujurnya selama sisa perjalanan, Temari merasa amat sangat bersalah setelah mengatakan bualan tadi. Ia tidak bisa menjamin omongannya sendiri, karena pada dasarnya pernikahan itu hanyalah untuk kepentingan politik dan negaranya. Namun, ia sendiri yang akan mengingatkan Gaara untuk tidak menyakiti Ino. Ia pastikan Gaara akan memperlakukan Ino dengan lembut dan manis meskipun itu semua hanyalah kebohongan.

Setibanya di kediaman Gaara, Temari membantu Ino membereskan barang bawaannya. Di rumah besar itu ada 5 kamar tidur. Satu kamar utama yang dulu ditempati orang tua Gaara, tiga kamar tidur biasa yang masing-masing ditempati Temari, Gaara, dan Kankurou, serta satu kamar tidur khusus untuk tamu yang jarang digunakan.

"Kau bisa menggunakan kamarku," kata Temari.

"Maaf, aku banyak merepotkanmu, Temari-san," ucap Ino seraya membungkukkan badannya untuk meminta maaf.

"Ini permintaan Gaara, lagipula sebentar lagi rumah ini juga akan menjadi milik kalian. Tidak usah meminta maaf," balas Temari.

"Selain itu, tempat tinggalku dan Kankurou sudah diatur oleh para tetua. Kami mendapatkan rumah baru di dekat sini juga. Tenang saja," lanjutnya.

Setelah selesai membantu Ino, Temari pamit pergi. Sebelum Temari benar-benar pergi dari rumah itu, Ino lebih dulu mencegahnya. Gadis itu ingin meminta tolong kepada Temari.

"Temari-san, jika kau bertemu dengan Kazekage-sama... tolong sampaikan pesanku kepadanya. Aku ingin bertemu dengannya malam ini." Itu pesan Ino yang ia sampaikan kepada Temari untuk Gaara.

"Baiklah, aku akan menyuruhnya pulang malam ini. Jaa ne, Ino," ucap Temari sebelum ia meninggalkan Ino sendirian di rumah besar itu.

Sambil menunggu Gaara pulang, Ino memutuskan untuk memasak makan malam karena kebetulan di kulkas ada banyak bahan makanan. Selain itu, Ino ingin mengganti bekal makan siang yang terbuang sia-sia tadi. Pikirnya Gaara pasti akan lapar saat pulang nanti. Tidak ada salahnya membuatkan makan malam untuk Gaara, karena setelah ini Ino juga ingin meminta maaf kepada pemuda itu.

Setelah selesai memasak, Ino menyibukkan dirinya dengan menulis sebuah surat. Surat itu akan ia kirim ke ibunya yang tinggal di Konoha. Melalui surat itu, Ino ingin memberitahu soal rencana pernikahannya dengan Gaara. Melalui surat itu juga Ino ingin meminta pendapat ibunya agar ia tidak salah dalam mengambil keputusan. Ino juga menuliskan pesan jika setelah ini ia akan kembali ke Konoha sesegera mungkin untuk menemui ibunya lagi. Baru beberapa hari tinggal di Suna, Ino sudah merindukan ibunya.

Setelah menulis surat, Ino tidak segera beranjak dari tempatnya. Ia masih duduk di lantai ruang tamu sambil melipat kedua tangannya di atas meja. Menunggu Gaara pulang sangatlah membosankan. Ini sudah lewat tengah malam, tetapi pemuda bertato 'Ai' itu masih belum tampak batang hidungnya.

"Apa yang bisa aku harapkan dari seorang kazekage? Dia pasti sangat sibuk dan tidak akan pulang. Lagipula kenapa ia harus menemuiku? Siapa aku? Mungkin aku tidak penting baginya. Geh, dia pasti berpikir jika aku hanya membuang waktunya saja" gerutu Ino.

Karena terlalu lama, akhirnya Ino jatuh tertidur dengan posisi kepala yang diletakkan di atas kedua tangannya yang terlipat.

Setelah 30 menit berlalu sejak Ino tertidur, akhirnya Gaara tiba di rumah. Saat pemuda itu membuka pintu rumahnya, ia terkejut. Ia belum terbiasa melihat pemandangan di depan matanya itu.

"Tadaima," ucap Gaara dengan suara rendahnya sebelum ia kembali menutup pintu.

Tidak pernah ada di bayangan Gaara sebelumnya jika ia akan melihat gadis selain kakaknya tidur di rumahnya itu. Apalagi gadis itu kini sedang tidur dengan posisi yang kurang nyaman di ruang tamunya.

Gaara tidak mau membangunkan Ino, jadi ia berjalan mendekati gadis itu dengan hati-hati. Sesampainya di dekat Ino, Gaara menangkap objek yang menarik di atas meja ruang tamunya. Ada pena, sebuah surat, dan satu kunai tergeletak di dekat gadis itu.

Dahi Gaara berkerut saat ia melihat ada senjata tajam di dekat gadis itu. Ia penasaran apakah Ino meletakkan kunai itu dengan sengaja atau tidak. Pikiran Gaara mulai ke mana-mana. Ia sempat berpikir jika ada penyusup lain yang berani masuk ke rumahnya untuk melukai Ino.

Sejak ancaman dari Takeo tadi siang, Gaara menjadi overprotective dengan Ino. Ia sengaja melarang Ino berinteraksi dengan shinobi Suna karena tidak ada satu pun orang yang ia percaya lagi di sana. Meskipun Gaara masih menyimpan rasa dengan Hakuto, ia sendiri tidak mau jika Ino harus menjadi korban dari masalahnya itu. Kalau bisa... tidak ada di antara dua gadis itu yang harus mati. Tidak ada di antara Ino ataupun Hakuto yang harus menanggung beban dari masalahnya dengan tetua. Selagi ia memikirkan cara untuk membebaskan Hakuto, Gaara hanya perlu memastikan Ino aman dari orang-orang yang bermaksud jahat.

Selain kunai, Gaara tiba-tiba penasaran dengan surat itu. Dengan lancang Gaara mengambil sepucuk surat itu dan membacanya.

Awalnya tidak ada yang menarik dari surat itu. Surat itu hanya berisi curhatan seorang gadis yang merindukan kampung halamannya. Sampai akhirnya Gaara tiba di pertengahan surat yang cukup menarik perhatiannya. Melalui surat itu, Ino membahas dirinya dan rencana pernikahan mereka.

Dahi Gaara terus berkerut saat pemuda itu melanjutkan untuk membaca surat Ino di dalam hatinya.

'... Kaa-san, aku tahu ini gila, tetapi aku ingin membantu Kazekage. Bagaimana jika aku menerima lamaran ini?'

-to be continued-

Selamat hari Selasa! Setelah beberapa hari hiatus, ternyata masih banyak yang penasaran sama kelanjutan fanfiksi ini. Aku jadi terharu, deh. Padahal cuma iseng buat cerita ini, tetapi banyak yang menunggu sampai tamat pula, ahahahah. Oh ya, mau bilang juga kalau jadwal update-nya masih sama, kok. Masih hari Selasa dan Sabtu. Masih dua kali update dalam seminggu. Kalau aku enggak sakit, aku pasti bakalan update, kok.

Terima kasih, ya. Pokoknya sayang banget sama kalian yang selalu mendukung dan memberiku semangat. Udah, ya. Selamat membaca~

~Sesi ngobrol~

Kchi: Masih, kok.

Sayumi takahashi: Terima kasih banyak, ya~

BngJy: Aduh, ini gara-gara aku lama update, nih. Maaf-maaf. Oh, sayangnya bukan Sasuke TwT. Masih sama ya jadwal update-nya. Enggak lagi ngilang, deh. Besok kalau mau hiatus bakalan bilang duluan ehehehe.

Mikalunchan: Terima kasih, ya!

zielavienaz96: Bukan TwT. Nanti tunggu saja, ya. Kira-kira bakalan ada momen cemburunya atau tidak ahahahah~

Bebe: Aku suka bikin Ino menderita, nih *peace. Aku enggak bisa janji bisa penuhin request-an Kakak, ya. Gomen~

Azzura yamanaka: Siap! Terima kasih, ya.

Nobita: Iya, 'kan? Harusnya Gaara bersyukur dapat Ino nanti. Tau, nih. Kayaknya mata Gaara kelilipan pasir xD.

See you next chapter~